Breaking News: Christopher Tolkien Mengundurkan Diri dari Tolkien Estate

cwwckrgxgael3fy

Satu informasi tidak terduga yang saya peroleh dari situs Middle-earth milik penulis dan pengamat fiksi fantasi serta budaya pop, Michael Martinez: Christopher Tolkien ternyata sudah mengundurkan diri dari Tolkien Estate sejak akhir Agustus. Mungkin itu sebabnya mengapa beliau bilang bahwa The Lay of Autrou and Itroun serta Beren and Luthien akan menjadi proyek terakhirnya (dan mungkin itu juga sebabnya kenapa Amazon cukup percaya diri dengan kemenangan deal untuk adaptasi serial). Christopher secara resmi meninggalkan Tolkien Estate pada tanggal 4 September.

Informasi lebih rinci bisa ditemukan di situs Tolkien Society Brazil (gunakan alat penerjemah untuk membacanya). Keputusan untuk menerima tawaran adaptasi dari Amazon kemungkinan dibuat oleh anggota Tolkien Estate yang lebih muda, seperti Simon Tolkien, Michael Tolkien, Baillie Tolkien, dan Steven Andrews. Priscilla Tolkien, putri bungsu J.R.R. Tolkien yang saat ini sudah berusia 88 tahun, tidak ikut ambil bagian dalam urusan terkait hak cipta karya-karya ayahnya.

Bukti dari pensiunnya Christopher ada di halaman Tolkien Estate’s List of Officers, dan terlihat bahwa status Christopher memang sudah dinyatakan “Resigned” sejak 31 Agustus 2017. Alasan mengapa kabar ini baru diketahui kemungkinan karena segala hal yang menyangkut Christopher memang cenderung tidak diketahui orang awam, karena pribadinya yang agak tertutup. Setelah pensiunnya Christopher, mungkin “perang hak” dan diskusi tentang adaptasi akan kembali berkobar, termasuk untuk karya-karya lainnya. Tetapi saat ini belum ada informasi rinci tentang itu, dan saya juga tidak mau berspekulasi sampai ada kabar lebih jelas.

Christopher Tolkien akan berusia 93 tahun dalam beberapa hari lagi, jadi kabar pensiun ini tentu wajar. Lepas dari kehebohan yang mungkin akan terjadi, saya memilih mundur dulu sebentar untuk merenungkan semua jasa beliau. Saya sangat berterima kasih atas apa yang sudah beliau lakukan sepanjang karirnya. Berkat beliau, saya dan semua fans Tolkien lain bisa membaca karya-karya yang mungkin hanya akan terkubur sebagai manuskrip setelah kematian Tolkien di tahun 1973. Saya juga senang karena beliau mendapat penghargaan Bodley Medal tahun lalu, atas dedikasinya (dan seperti biasa, Christopher tidak bicara banyak soal itu). Tulisan yang saya buat untuk menyambut ulang tahun Christopher Tolkien yang ke-92 tahun lalu, buat saya, masih sangat relevan.

Christopher Tolkien telah menyunting dan menerbitkan 24 buku yang berasal dari manuskrip ayahnya, dimulai dari Sir Gawain and the Green Knight pada tahun 1975, hingga Beren and Luthien yang terbit tahun ini.

Have a nice retirement, Christopher. Thank you for everything you’ve done. We really appreciate years of your hard work and dedication. Where would we be without you?

Advertisements

Tentang Christopher Tolkien (Merayakan Ulang Tahun Beliau yang ke-92)

cwwckrgxgael3fy

Jujur, saya bukan orang yang terlalu memerhatikan nama seorang penyunting alias editor kalau sedang membaca buku, kecuali kalau namanya ditempel di sampul buku (itu juga nggak akan saya ingat-ingat lagi kecuali kalau editor itu juga seorang penulis yang lumayan ngetop). Makanya, saya sendiri heran kenapa editor yang satu ini begitu berkesan buat saya, sampai saya mau repot-repot mengingat kapan beliau ulang tahun.

Tentu saja, saya bicara soal Christopher Tolkien.  Continue reading “Tentang Christopher Tolkien (Merayakan Ulang Tahun Beliau yang ke-92)”

Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?

The Silmarillion memberi informasi tentang deskripsi tugas para Valar. Banyak dari mereka punya definisi yang cukup jelas: Manwë, penguasa angkasa dan udara. Ulmo, penguasa perairan. Yavanna, personifikasi ibu bumi. Namo/Mandos, aulanya menerima jiwa-jiwa mereka yang terbunuh. Tapi dari dulu sampai sekarang, ada satu nama yang menggelitik rasa penasaran saya: Nienna. Wanita yang menangis. Ayolah, apa tugas Valar yang kemampuan istimewanya adalah menangis?

Sekilas mudah “menuduh” Nienna sebagai perwujudan stereotip perempuan cengeng; wanita yang deskripsi tugasnya adalah “menangis” dan “berduka cita” tentu kalah keren dibanding Valar yang deskripsinya lebih gagah atau mencerminkan kekuasaan dan kekuatan. Tetapi, kalau Anda sudah baca analisis karakter saya terhadap Finarfin si raja dadakan, Anda akan ingat ini: mengobati atau membangun kembali apa yang sudah hancur, membilas luka yang timbul karena kehancuran, semua itu jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Itulah sebabnya Nienna dengan deskripsinya yang sekilas tidak jelas itu memegang peran yang luar biasa.  Continue reading “Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?”

Athrabeth Finrod ah Andreth: Apakah Mereka yang Ingin Abadi Paham Konsekuensinya?

Tanggal 25 Maret, para fans Tolkien di seluruh dunia merayakan Tolkien Reading Day. Saya sudah berpartisipasi tahun lalu dengan artikel bertema Persahabatan. Kini, temanya adalah Kehidupan, Kematian dan Keabadian (Life, Death and Immortality). Untuk saya, tak ada lagi yang lebih pas selain membahas tentang dialog filosofis antar Elf dan Manusia yang mendiskusikan ketiga hal tersebut. Sebagai pencipta dari dunia dan legenda Middle Earth, wajar jika Tolkien juga menginjak ranah pemikiran terkait perbedaan mendasar di antara Elf dan Manusia, sebagai ras yang “dibangkitkan” pertama kali dan selanjutnya.  Continue reading “Athrabeth Finrod ah Andreth: Apakah Mereka yang Ingin Abadi Paham Konsekuensinya?”

Breaking News! Children of Hurin Edisi Indonesia akan Segera Terbit

childrenofhurinindo

Sudah melihat ringkasan Children of Hurin dan ingin membacanya, tapi masih ragu karena belum jago baca dalam bahasa Inggris? Gramedia Pustaka Utama akan segera menerbitkan versi bahasa Indonesia Children of Hurin, salah satu karya Tolkien yang diterbitkan setelah kematian beliau. Tidak seperti The Silmarillion, Children of Hurin adalah satu novel dengan narasi utuh (bukan kumpulan kisah atau diintervensi dengan catatan penyuntingan).  Continue reading “Breaking News! Children of Hurin Edisi Indonesia akan Segera Terbit”

Menyelami Tolkien Setelah Film ‘The Hobbit’ Usai

lotr-books

Film The Hobbit telah resmi usai dengan diputarnya The Battle of Five Armies pada akhir tahun 2014, dan euforianya kini nampak sudah berakhir tergusur Star Wars, Mad MaxDeadpool, A Copy of My Mind, Surat dari Praha, dan segudang film lain dari dalam dan luar negeri. Kecuali mungkin di dalam forum penggemar Tolkien, atau situs-situs terkait Tolkien, saya hampir tak pernah lagi menemukan pembicaraan panjang lebar tentang film The Hobbit. Walaupun The Hobbit jelas adalah adaptasi dari buku yang telah beredar sejak tahun 1937 dan mendapat banyak penghargaan, rasanya seolah buku dan si penulisnya ikut “tenggelam” bersama habisnya euforia filmnya. Atau setidaknya, itu yang saya lihat secara sepintas lalu dalam jejaring sosial dan tren dunia maya.  Continue reading “Menyelami Tolkien Setelah Film ‘The Hobbit’ Usai”

‘Law and Custom of the Eldar’: Tentang Tradisi Pernikahan Bangsa Elf

420px-lc4abga_kc4bcavic586a_-_royal_couple

Royal couple: Finarfin and Eärwen by Līga Kļaviņa

Kalau Anda pecinta bangsa Elf dalam karya-karya Tolkien, mungkin penasaran akan banyak hal, salah satunya adalah “bagaimana mereka menikah?” Banyak pasangan Elf terkenal yang pohon keluarganya digambarkan dengan rinci sampai ke anak cucunya yang kesekian, tetapi rincian tradisi pernikahan itu sendiri cenderung absen dari LOTR, The Hobbit, dan The Silmarillion yang akan segera terbit bulan ini. Rasa penasaran akan aspek-aspek yang lebih terperinci dari kehidupan para Elf ini bahkan dituangkan dalam banyak fan fiction, dimana para penulisnya menciptakan sendiri prosesi pernikahan Elf ala mereka.

Kecuali, tentu saja, kalau Anda sudah membaca Morgoth’s RingContinue reading “‘Law and Custom of the Eldar’: Tentang Tradisi Pernikahan Bangsa Elf”

The Children of Húrin: Ketika Tolkien Merangkai Tragedi Gelap dalam Kisah Heroik

“Setelah The Hobbit, LOTR dan The Silmarillion, apa lagi yang bisa saya baca kalau saya masih nagih?” Nah, bagi yang masih belum puas dengan buku LOTR, The Hobbit dan The Silmarillion, ada banyak sekali buku Tolkien yang bisa dilalap. Tapi, Children of Húrin adalah pilihan terbaik untuk dibaca setelah The Silmarillion.

coh Continue reading “The Children of Húrin: Ketika Tolkien Merangkai Tragedi Gelap dalam Kisah Heroik”

Maaf, The Silmarillion-nya Tolkien Tidak Akan Difilmkan!

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan di forum Indonesian Tolkien Society tempat saya numpang mangkal adalah: “setelah LOTR dan The Hobbit, Peter Jackson mau nggak ya memfilmkan The Silmarillion?” Karya J. R. R. Tolkien yang terkenal memang bukan hanya LOTR dan The Hobbit, melainkan juga yang masih berupa manuskrip dan belum sempat diterbitkan sampai saat kematiannya pada tahun 1973. Karya-karya tersebut kemudian disusun dan diedit oleh putranya, Christopher Tolkien, lalu diterbitkan dengan tetap memakai nama J. R. R. Tolkien (nama Christopher Tolkien nyempil sebagai editor). Selain The Silmarillion, karya-karya semacam ini misalnya adalah 12 edisi History of Middle Earth, Unfinished Tales, Bilbo’s Last Song, The Children of Hurin, dan The History of Hobbit. Kebanyakan karya ini menceritakan kisah-kisah yang terjadi sebelum era The Hobbit dan LOTR, yang menjadi penutup dari semua legenda awal tersebut.  Continue reading “Maaf, The Silmarillion-nya Tolkien Tidak Akan Difilmkan!”