Tawa dan Humor dalam Karya Tolkien (Ulasan Buku “Laughter in Middle-earth”)

laughter in middle earth

Terima kasih untuk Becky Dillon yang sudah jauh-jauh mengirimkan buku ini dari Jerman!

“Dalam bukunya Mr. Tolkien tidak banyak yang lucu-lucu.”

Begitu celetukan Matilda, si anak perempuan jenius di buku berjudul sama karya Roald Dahl. Saya harus akui bahwa, walau Matilda diceritakan masih sangat kecil dan imut (tetapi jenius), membaca klaim ini membuat saya agak tertegun. Buku-buku seperti LOTR, The Legend of Sigurd and Gudrun, dan The Silmarillion mungkin bukan tipe yang akan disebut “buku lucu”, tetapi karya-karya Tolkien yang lain menunjukkan cukup banyak humor, tentu dengan gayanya sendiri (gadis kecil jenius ini mungkin belum berkesempatan membaca Tales from the Perilous Realm, dengan cerita-cerita seperti Roverandom dan Farmer Giles of Ham yang sangat kocak. Mr. Bliss dan Letters from Father Christmas sebenarnya juga lucu, tapi hei, Matilda mungkin sudah melahap lebih banyak karya Dickens, Dostoyevski, Tolstoy, Jules Verne, dan Hemingway dari kita semua, jadi mungkin dia tidak tertarik).

Melihat sepintas foto-foto Tolkien mungkin akan membuat Anda membayangkan seorang dosen dan akademisi serius yang kaku, tipe yang tak akan segan-segan melempar penghapus papan tulis ke kepala mahasiswa yang berani bercanda di kelas. Akan tetapi, Tolkien adalah orang yang sangat kocak dan menggemari lelucon serta tawa, bahkan yang kekanak-kanakan. Dia pernah melompat ke atas meja di kelas untuk memulai pembacaan dramatis sajak Beowulf, menakut-nakuti orang dengan kostum, hingga iseng saat kencan bersama calon istrinya, Edith, dengan menjatuhkan kubus-kubus gula dari balkon kedai teh ke topi orang-orang yang lewat. Humphrey Carpenter merangkum ini dalam biografi Tolkien yang digarapnya bersama putra Tolkien, Christopher:

“He (Tolkien) could laugh at anybody, but most of all at himself, and his complete lack of any sense of dignity could and often did make him behave like a riotous schoolboy.”

Humphrey Carpenter – J.R.R. Tolkien: A Biography

Laughter in Middle-earth adalah buku yang mencoba menanggapi argumen bahwa Tolkien adalah penulis serius serta pembenci humor. Diterbitkan pada tahun 2016 oleh Walking Tree Publishers, buku ini berisi sembilan esai panjang yang membedah buku-buku seperti The Hobbit, The Lord of the Rings, The Silmarillion, dan Unfinished Tales, demi menunjukkan makna humor dan tawa dalam interaksi para karakter serta berbagai peristiwa besar maupun kecil di Middle-earth. Mulai dari makna tawa dalam interaksi karakter ketika menghadapi beragam situasi, humor yang menyindir aspek-aspek tertentu dalam kehidupan bermasyarakat, humor linguistik, hingga parodi yang terinspirasi dari karya Tolkien.

Berbagai Fungsi Tawa bagi Karakter Tolkien

Tawa kerap dianggap kurang penting untuk dibahas secara mendalam, karena biasanya terlontar tanpa dipikirkan. Dalam buku Laughter: A Scientific Investigation, Robert Provine dengan telak menukas bahwa tawa “Secara umum cenderung diabaikan dalam penelitian tentang perilaku manusia, karena sudah sifat kita untuk mengabaikan hal-hal yang dianggap biasa.” Sangat disayangkan, karena tawa adalah ekspresi nonverbal yang mampu menyatakan begitu banyak hal walau terlontar secara spontan (kecuali kalau itu tawa dibuat-buat). Tawa mungkin merupakan perilaku spontan, tetapi memiliki tujuan yang sangat kompleks.

Tawa memang biasanya kita kaitkan dengan humor atau lelucon, tetapi secara spesifik, tawa adalah penanda berbagai tema atau ekspresi, mulai dari kegembiraan, agresi, ejekan, rasa malu, pencapaian, hingga kepuasan. Alan Partington, dalam buku The Linguistics of Laughter, bahkan juga menyebut bahwa tawa bisa menjadi “senjata” dalam artian yang tidak konvensional, sama seperti bahasa, tulisan, dan karya seni. Pemahaman ini mungkin yang mendorong Tolkien, seorang pakar bahasa, untuk memasukkan elemen tawa demi mengekspresikan hal-hal tertentu pada karakternya, bukan sekadar sebagai adegan kasual.

Dari sembilan esai yang ada di buku ini, ada dua bab yang secara spesifik membahas tentang tawa: esai Alastair Whyte yang berjudul A Fountain of Mirth: Laughter in Arda, serta tulisan Jennifer Raimundo yang bertajuk The Tenacity of Humour in the Works of J.R.R. Tolkien. Kedua esai ini menggambarkan cara Tolkien menggunakan adegan tawa sebagai simbol khusus dalam perkembangan plot dan karakternya.

Ada beberapa fungsi tawa yang dibahas dalam kedua esai ini, salah satunya adalah sebagai sumber kekuatan. Jika Anda membaca LOTR atau The Silmarillion dan benar-benar menaruh perhatian pada apa yang dilakukan karakternya, Anda mungkin akan heran melihat begitu banyak adegan tertawa bahkan ketika karakter-karakternya hendak mengambil keputusan sulit, atau berada di medan perang. Tawa yang muncul kerap menjadi penanda bahwa si karakter akan mengambil keputusan besar yang tadinya hampir tidak dapat dilakukannya.

Di dalam buku LOTR, ada beberapa adegan di mana karakter yang berbeda-beda memungut atau memegang Cincin Kekuatan, yang dikenal mampu menggoda mereka yang lemah untuk memanfaatkannya. Uniknya, setiap karakter yang “lulus tes” selalu menandainya dengan tawa. Galadriel melepaskan tawa setelah melalui “tes godaan” setelah memegang Cincin Kekuatan yang diserahkan Frodo, menandakan penerimaan akan takdir para Elf yang masanya akan berakhir. Ketika Faramir digambarkan seolah tergoda oleh Cincin yang dibawa Frodo, dia tiba-tiba tertawa dan terduduk di kursinya, seolah memutus mantra godaan yang ditawarkan Cincin Kekuatan. Dan mengingat betapa berat beban Frodo dan Sam ketika mereka terpisah dari rombongan untuk menyelesaikan misi menghancurkan Cincin, agak mengherankan betapa banyak adegan tertawa yang mengiringi perjalanan mereka!

Tawa juga merupakan antitesis kejahatan, sesuatu yang telah ditegaskan sejak Tolkien menciptakan konsep mitologinya dari bab penciptaan. Dalam esai On Fairy Stories, Tolkien mendeskripsikan teori “concept of consolation“, yang berpendapat bahwa bahkan di depan wajah kegelapan yang mengancam, selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk “menyangkal kekalahan sepenuhnya di depan wajah kejahatan”, serta menunjukkan kilasan kecil kebahagiaan lewat adanya harapan. Bukankah lebih dari kebetulan bahwa Tulkas, valar yang kerap diasosiasikan dengan kegarangan dan kekuatan fisik, justru identik dengan tawa? Deskripsi terhadap tokoh Tulkas bahkan menggunakan kata-kata yang kelihatannya berlawanan: “greatest in strength”, “(his anger) passes like mighty wind”, “laughs ever”. Kejahatan dan kengerian adalah sesuatu yang akan selalu ada, tetapi tawa mematahkan kekalahan final yang dibawa keduanya. Tawa membuat kengerian menjadi “absurd”, dan menjadi simbol penolakan terhadap kekalahan total di depan wajah kegelapan.

Humor Etiket

Tema favorit saya yang lainnya di dalam buku ini adalah humor terkait etiket, sesuatu yang sepertinya sangat khas Inggris. Dalam esai bertajuk This Of Course Is the Way to Talk to Dragons, Laura Lee Smith membandingkan berbagai penggunaan konsep etiket dan sopan santun untuk menyampaikan pesan dalam karya sastra. Smith terutama membandingkan The Hobbit (dalam kapasitasnya sebagai buku anak-anak) dengan karya-karya seperti Through the Looking-Glass, The Princess and the Goblin, serta Winnie the Pooh; judul-judul yang kerap disebut sebagai “buku anak-anak subversif” karena memparodikan atau memelesetkan konsep sopan santun dan tata krama sosial untuk membuat pembacanya terhibur atau tertawa.

Pembaca The Hobbit akan mudah menangkap berbagai humor terkait etiket di dalamnya: mulai dari ribetnya respons Gandalf akan ucapan “Selamat pagi” Bilbo yang kelihatannya simpel (permainan semantik cerdas untuk buku anak-anak!), kocaknya sikap Bilbo yang masih berusaha sopan walau frustrasi melihat ada gerombolan Dwarf mendadak nyelonong begitu saja ke rumahnya tanpa membalas sopan santunnya, hingga dialog/adu cerdik antara Bilbo dan Smaug di dalam gua. Lebih jauh, pelesetan konsep sopan santun yang memorakporandakan tuntutan sosial ini bisa dibilang merupakan cara Tolkien untuk, secara tidak langsung, mengajarkan pada anak-anak bahwa kemunafikan dan manipulasi bisa bersembunyi di balik wajah terhormat.

Nonsense, Ilustrasi, dan Parodi

Dua aspek humor unik lain yang dibahas dalam buku ini adalah konsep nonsense serta parodi, yang dibahas dalam Certainly Not Our Sense: Tolkien and Nonsense oleh Maureen F. Mann, serta Strategies of Humour in The Stupid Ring Parody oleh Sherrylyn Branchaw. Humor nonsense dalam karya Tolkien terkait erat dengan aspek bahasa yang menjadi bagian erat dalam novel-novel beliau, di mana nonsense bermakna sederet kata atau kalimat yang kelihatannya tidak memiliki arti apa-apa (sinonim lainnya: claptrap, gibberish, balderdash). Esai ini sekaligus menjelaskan mengapa Elf Rivendell dalam The Hobbit bisa menyanyikan lagu ceria yang terkesan konyol dan penuh dengan deretan kata-kata aneh, jauh beda dengan Elf serba serius yang digambarkan Peter Jackson dalam film-filmnya. Mann juga mengaitkan esai ini dengan humor nonsense yang populer dalam karya-karya fiksi era Victoria.

Menjelang akhir buku, ada bab yang agak ringan dan membahas tentang berbagai ilustrasi terkait karya-karya Tolkien dari seluruh dunia. Esai Davide Martini yang berjudul Humour in Art Depicting Middle-earth menyuguhkan berbagai ilustrasi bertema Middle-earth yang menunjukkan interpretasi beragam dari berbagai seniman, termasuk karya-karya “absurd” seperti ilustrasi Bilbo yang lebih nampak seperti separuh singa dan monyet, Smaug sebagai naga gembul yang berjalan membawa poci teh dengan genit, hingga Gollum yang mirip katak raksasa.

Akhirnya, setiap karya populer pasti memiliki parodi. Sherrylyn Branchaw menengok ke berbagai karya parodi yang berdasarkan The Hobbit dan LOTR. Dalam esai ini, Branchaw menggambarkan bagaimana parodi bekerja dengan menggunakan berbagai karya parodi populer sebagai contoh, baik yang berdasarkan novel maupun adaptasi film oleh Peter Jackson. Branchaw bahkan menggunakan contoh-contoh kontemporer, seperti fanfiksi serta video YouTube macam seri Epic Rap Battles in History (episode J.R.R. Tolkien lawan George R.R. Martin).

Akhir Kata….

Saya ingat pernah berdebat dengan seorang teman saat di sekolah, yang berujung pada kata-kata darinya yang kurang lebih seperti ini: “Kamu kedengarannya seperti akademisi yang mencoba menjelaskan mengapa Mr. Bean itu lucu”. Saya sudah lupa apa akar perdebatan kami, tapi makna kata-katanya saat itu jelas: menganalisis lelucon atau humor akan merusak kesenangan yang diperoleh dari menertawakannya. Seandainya teman saya itu melihat buku apa yang saya baca, mungkin komentarnya akan sama. Mengapa membaca tentang humor kalau kau bisa menertawakannya saja? Apa manfaatnya?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sampai masuk kuliah dan mempelajari psikologi. Saat itu, kami belajar bahwa humor adalah salah satu mekanisme pertahanan diri dari stres, dan bahkan merupakan salah satu “senjata” dalam mengurangi dampak buruk trauma. Anda mungkin akan menganggapnya lebih serius jika tahu bahwa dunia psikologi sudah memiliki kuesioner dan skala pengukuran terkait humor, seperti The Situational Humor Response Questionnaire dan Coping Humor Scale, menunjukkan bahwa humor tidak boleh dianggap enteng.

Membaca buku ini membuat saya menyadari bahwa tidak ada salahnya memelajari soal tawa dan humor. Bukan untuk menghilangkan pesona kelucuannya, melainkan untuk memahami apa maknanya bagi kita. Saat ini, kita hidup di era di mana tertawa sepertinya semakin susah. Semua maunya marah, takut, atau cemas. Jika sudah terbiasa berpikir seperti itu, mungkin rasanya aneh melihat bagaimana Tolkien menggambarkan karakter-karakter yang tertawa atau bercanda di tengah-tengah situasi yang sepertinya tidak lucu (malah cenderung menakutkan). Namun, setelah membaca buku ini, saya akhirnya menyadarinya: tawa dan humor bukan sekadar “selingan” menyenangkan. Mereka adalah bagian dari keunikan manusia. Kemampuan menemukan sesuatu untuk disambut dengan senyum dan tawa, walau di tengah kegelapan, adalah sesuatu yang membuat kita unik sebagai makhluk hidup.

Pada tahun 1944, J.R.R. Tolkien menciptakan kata eucatastrophe. Definisi singkatnya adalah “kebahagiaan yang datang tiba-tiba”, tetapi jika diartikan lebih luas, kata ini lebih tepat mengacu ke “kebahagiaan yang datang secara tak terduga di tengah situasi yang kelihatannya tanpa harapan, ketika benak akhirnya berhasil merangkai keabsurdan dunia dan menangkap ‘humor semesta’ yang baru nampak ketika hidup sudah di ujung tanduk”. Tema “harapan” sangat kental dalam karya-karya terpopuler Tolkien, dan walau kita tidak bisa mencegah datangnya kegelapan, kemampuan kita untuk tertawa itu sendiri adalah salah satu bentuk eucatastrophe.

Membaca buku ini membuat saya bisa lebih mengidentifikasikan diri dengan para karakter dalam buku-buku penulis yang saya kagumi, serta menyadari bahwa: ya, ketika sedang cemas dan ketakutan, atau berada di dalam situasi tanpa harapan, mungkin satu-satunya senjata terakhir yang kita punya memang tawa. Dan Tolkien membuat para karakternya menyadari hal itu, di dalam dunia ciptaannya yang sesungguhnya hanyalah cermin dari dunia kita sendiri.

“It is precisely against the darkness of the world that comedy arises, and it is best when that is not hidden.”

-Tolkien’s reply to Rayner Unwin’s comments upon first reading The Fellowship of the Ring.

Sumber:

Partington, Alan. The Linguistics of Laughter: A Corpus-Assisted Study of Laughter-Talk. New York: Routledge. 2006.

Provine, Robert R. Laughter: A Scientific Investigation. London: Faber and Faber. 2000.

Tolkien, J.R.R. Tales from the Perilous Realm. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins. 2002.

Tolkien: J.R.R. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2002.

Tolkien, JRR. The Fellowship of the Ring. London: HarperCollins. 1991.

Tolkien, J.R.R. The Silmarillion. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins. 1999.

Tolkien, JRR. The Two Towers. London: HarperCollins. 1991.

Laughter in Middle-earth: Humour in and around the Works of J.R.R. Tolkien. Ed. Thomas Honegger and Mauren F. Mann. Zurich: Walking Tree Publishers. 2016.

Túrin Turambar and “Spiritual Burden” behind Javanese Naming Philosophy

strongbow_and_dragonhelm_by_ekukanova-d6jt1kq

Strongbow and Dragonhelm, by Elena Kukanova

When listening to an episode in Prancing Pony Podcast about Of Túrin Turambar chapter in The Silmarillion, I was struck with one particular notion emphasized in the podcast: the fact that Túrin changed his name several times (or bestowed a name by others). Each name reflects different aspect of his life, such as Neithan (“The Wronged”), Gorthol (“The Dread Helm”), Agarwaen, son of Úmarth (“Bloodstained, son of Ill-fate”), Adanedhel (“Man-Elf”), Mormegil (“Black Sword), and the infamous Turambar (“Master of Doom”). These names reflect changes that happened in Túrin’s life.

For example, after accidentally caused Saeros’ death in Doriath due to previous altercation, Túrin fled before he could be either punished or forgiven by Elu Thingol. Afterward, when meeting a band of outlaws in the Forest of Brethil, he introduced himself as “Neithan”. When he ruled the land of Dor-Cúarthol, he became “Gorthol”, due to the dragon helm that he wore. After accidentally caused the death of his best friend, he became “Agarwaen, son of Úmarth”. Finduilas called him “Adanedhel” because she thought he resembled an Elf. Finally, in an act of bravado, he gave himself the name “Turambar”, thinking that he has successfully avoided the curse planted on him and his kin by Morgoth.

The last name is particularly interesting. If you have read Of Túrin Turambar, you knew that Morgoth originally planted curse to his father, Húrin, after the latter was captured in a battle. Morgoth’s curse was to make Húrin see all the tragedies that befell his family during his capture. Indeed, Túrin met tragedy after tragedy during his life, and he changed the way he introduced himself whenever a major life event happened. Túrin called himself “Turambar” in a defiant act toward the curse that always seemed to follow him, which gives the story even more interesting dimension, because we cannot tell whether all those tragedies are caused by curse, or by Turin’s own brass and arrogant acts.

In the end, the name “Turambar” became an irony. In an attempt to convince himself that he finally managed to defeat the curse, Túrin received different fate in the end. He wanted to “master the doom”, yet the doom consumed him instead. Either by Morgoth’s curse or Túrin’s own arrogance and recklessness, the name “Turambar” marked his downfall. Instead of becoming a good omen or even amulet, the name became a spiritual burden that brought his ultimate ill fate.

Speaking about spiritual burden behind names, the story reminds me of something that I often hear in my own cultural background. Despite being born and raised in East Borneo, I’ve always been an East Javanese by heart, even though my family raised me in the city and did not connect too deeply to our root culture. But sometimes certain things came up: my parents talking in Javanese to friends and relatives, folklore books from childhood that featured Javanese heroes and heroines (including the infamous “Kancil” or Mouse-deer, a trickster figure), gamelan melodies that my father enjoys so much as sleep-inducing music, and of course, the philosophy of names.

Sometimes I still hear something like this: Javanese parents gave a really beautiful name to their child, but the child was plagued with sickness when growing up. They decided that the name might be too “burdensome,” and changed it to something they deemed more suitable (usually shorter or less majestic, although it is still something beautiful). This seemed to work, since their child was no longer sickly. Of course, my first reaction when hearing that story was: “What’s the deal with that?”

Skeptics among us can explain such phenomenon with things like power of suggestion and other logical explanations. However, Javanese culture puts serious emphasis in names. Every name given to a child has meaning that the family believes will affect his or her life. Parents may plan for names way before the birth, or simply wait until the child is born to see any signs that will inspire the right name. They may consult with traditional calendar, calculate the time and day of the birth, or talk with a respected elder to get idea. However, no matter what methods they choose, finding beautiful-sounding name is not enough. Javanese parents must be careful not to choose names that will give their children spiritual burden. This is a concept known as kabotan jeneng, which means something like “Burdened by name.”

When a child earns name with high spiritual burden, and the child cannot handle the burden, it might result in various woes in life, from sickness to continuous bad luck. Certain names, such as any names that contain the word Surya (“sun”), Candra (“moon”), Nata (“king” or “leader”), Mangku (something like “to carry”), Jaga (“to guard”), Cakra (“wheel”, “to create”), or Darma (“responsibility”) are considered as having high spiritual burden, as if demanding their owners to live up the names. This might also be explained with the fact that people often judge others through names, including comparing the similarities and differences between the names and the owners.

sifat-pemimpin

“A leader must inherit the characters of the earth, moon, stars, sun, wind, water, fire, and sky.” A cartoon about hasthabrata, or philosophy of leadership. Names taken from hasthabrata concept are usually considered as having high spiritual burden.

(I’m still looking for the name of the original cartoonist)

Of course, this concept is no longer prevalent, especially among new generations of parents. However, when I finished reading Of Túrin Turambar chapter for the first time, the similarities between Turin’s name changes and this Javanese naming philosophy struck me so hard, I sat silently with the book on my lap, with my eyes gazing on the ceiling (at that time, I still was not too deeply immersed in Tolkien’s legendarium).

Name is important, and people pay much attention to name as much as any other aspects when welcoming a new child. As a language expert, and someone whose lifelong passion lied in that particular field, Tolkien understood about powerful aspect behind names. For example, Fëanor’s father named him Curufinwë (“skillful Finwë”), but it was his mother who gave him the name Fëanor (“spirit of fire”), because she saw how much that name suited him; in the end, when he finally died, his fiery spirit turned his body into ashes. The story of Túrin Turambar is a particular reflection on the important connection between names, life, and fates.

That left the important question: does a name determine one’s life journey, or does one live up the name given after birth? By blurring the lines between free will and fate in this story, Tolkien definitely created unique experience in reflecting one of the biggest questions in our existence.

Source:

Kuntjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta. Balai Pustaka

Sedyawati, Edi. 2003. Budaya Jawa dan Masyarakat Modern. Jakarta BPPT

Tolkien, J.R.R. 2007. The Children of Húrin. Christopher Tolkien (ed). New York: Harper Collins.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

What It Means to Read “Roverandom” after My Grandmother’s Death

tales from perilous realm

A week ago, after suffering from years of chronic illness, my grandmother finally passed away.  Continue reading “What It Means to Read “Roverandom” after My Grandmother’s Death”

“The Voyage of Éarendel the Evening Star,” Puisi yang Melahirkan Middle-earth

Tulisan ini dibuat dalam rangka Tolkien Reading Day tahun 2017 yang mengambil tema “Poetry and Songs in Tolkien’s Fictions.”

Ada banyak hal yang terjadi pada tanggal 24 September 1914, dan kebanyakan berkaitan dengan Perang Dunia I. Angkatan Udara Prancis mendirikan skuadron Escadrille 31 di Longvic sebagai persiapan perang. Pasukan Rusia memulai 133 hari pengepungan di Przemyśl. Pasukan Jerman merebut Péronne. Pasukan Inggris tiba di Laoshun untuk membantu pasukan Jepang. Australia menduduki Kota Friedrich Wilhelm di New Guinea.

Dan di sebuah rumah pertanian di pedesaan Nottingham, seorang pemuda berusia 22 tahun menulis puisi berjudul The Voyage of Éarendel the Evening Star.  Continue reading ““The Voyage of Éarendel the Evening Star,” Puisi yang Melahirkan Middle-earth”

Bagaimana J.R.R. Tolkien Merombak Dunia Fiksi Fantasi: Terjemahan Artikel Edisi Khusus Newsweek 2017

Catatan: How J.R.R. Tolkien Redefined Fantasy Stories dikutip dari majalah Newsweek edisi spesial: J.R.R. Tolkien, the Mind of a Genius., yang baru saja terbit. Artikel ini ditulis oleh James Ellis, penyunting edisi istimewa ini.

Artikel asli bisa dibaca di sini.

tolkien-cover-new Continue reading “Bagaimana J.R.R. Tolkien Merombak Dunia Fiksi Fantasi: Terjemahan Artikel Edisi Khusus Newsweek 2017”

Tentang Pertemuan dengan Hewan-Hewan Berwarna Putih dalam Legendarium Tolkien

Dari berbagai jenis hewan yang muncul dalam mitologi dan kisah-kisah fantasi, kemunculan hewan berwarna putih kerap dikaitkan dengan keistimewaan, entah itu terkait pertanda, keajaiban, terbukanya batas antara dunia nyata dan gaib, atau kehadiran penunggang kuda yang istimewa. Dalam legendarium Middle-earth karya J.R.R. Tolkien, pertemuan dengan hewan-hewan berwarna putih kerap menjadi sesuatu yang bermakna khusus, dan hal ini memiliki paralel kuat dengan mitologi serta folklore dunia nyata.  Continue reading “Tentang Pertemuan dengan Hewan-Hewan Berwarna Putih dalam Legendarium Tolkien”

The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi

Shibboleth (noun)

a : a use of language regarded as distinctive of a particular group.
b : a custom or usage regarded as distinguishing one group from others .

Merriam-Webster Online Dictionary

Bahasa adalah hal yang memiliki kekuatan besar; begitu besar sehingga kita mungkin tak merasakannya hanya karena kita menggunakannya setiap hari. Jangankan sepotong kata yang menghilang; perbedaan ejaan yang kedengarannya sepele sekalipun bisa menjadi pemicu untuk berbagai peristiwa penting. J.R.R. Tolkien, seorang filolog yang menekuni bahasa seumur hidupnya, sangat memahami hal ini, sehingga menuangkannya dalam salah satu manuskripnya untuk Middle-earth legendarium, yaitu sebuah esai berjudul The Shibboleth of Fëanor. Tolkien menggambarkan bagaimana perbedaan ejaan atau bunyi yang kedengarannya sepele dapat membuat pihak tertentu merasa terancam, bahkan menggunakannya sebagai upaya membuat klaim politik.  Continue reading “The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi”

Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales

Tulisan ini dimuat di situs Jakarta Beat pada tanggal 6 Februari 2017, dengan penyuntingan.

800px-donato_giancola_-_beren_and_luthien_in_the_court_of_thingol_and_melian

Beren and Lúthien in the Court of Thingol and Melian, oleh Donato Giancola

Kisah Beren dan Lúthien adalah salah satu yang paling berkesan dalam legendarium Middle-earth, serta kerap dikutip dan dikaji. Selain merupakan contoh kisah romansa kepahlawanan dengan karakter berkesan (genre yang tidak pernah mati), kisah ini juga menjadi penentu berbagai peristiwa serta kelahiran tokoh-tokoh penting yang kelak akan ditemui pembaca dalam kisah-kisah selanjutnya, termasuk The Lord of the Rings. Kisah Beren dan Lúthien juga unik karena memorakporandakan stereotip khas romansa kepahlawanan; dalam kisah ini, Tolkien menjadikan Lúthien, sang putri, sebagai penyelamat Beren dan bahkan sosok yang berperan meruntuhkan benteng “si penjahat,” alih-alih sebaliknya.  Continue reading “Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales”

Keajaiban dan Renungan dalam Letters from Father Christmas (Postingan Selamat Natal dari Saya)

12-16-00712_jrr_tolkien_letters_father_christmas_002

Di akhir tahun yang katanya tahun dengan user review paling nggak enak ini, saya kepingin membuat postingan yang berfungsi juga sebagai kartu ucapan Natal buat para pembaca yang merayakan. Continue reading “Keajaiban dan Renungan dalam Letters from Father Christmas (Postingan Selamat Natal dari Saya)”

Tentang Christopher Tolkien (Merayakan Ulang Tahun Beliau yang ke-92)

cwwckrgxgael3fy

Jujur, saya bukan orang yang terlalu memerhatikan nama seorang penyunting alias editor kalau sedang membaca buku, kecuali kalau namanya ditempel di sampul buku (itu juga nggak akan saya ingat-ingat lagi kecuali kalau editor itu juga seorang penulis yang lumayan ngetop). Makanya, saya sendiri heran kenapa editor yang satu ini begitu berkesan buat saya, sampai saya mau repot-repot mengingat kapan beliau ulang tahun.

Tentu saja, saya bicara soal Christopher Tolkien.  Continue reading “Tentang Christopher Tolkien (Merayakan Ulang Tahun Beliau yang ke-92)”