‘Law and Custom of the Eldar’: Tentang Tradisi Pernikahan Bangsa Elf


420px-lc4abga_kc4bcavic586a_-_royal_couple

Royal couple: Finarfin and Eärwen by Līga Kļaviņa

Kalau Anda pecinta bangsa Elf dalam karya-karya Tolkien, mungkin penasaran akan banyak hal, salah satunya adalah “bagaimana mereka menikah?” Banyak pasangan Elf terkenal yang pohon keluarganya digambarkan dengan rinci sampai ke anak cucunya yang kesekian, tetapi rincian tradisi pernikahan itu sendiri cenderung absen dari LOTR, The Hobbit, dan The Silmarillion yang akan segera terbit bulan ini. Rasa penasaran akan aspek-aspek yang lebih terperinci dari kehidupan para Elf ini bahkan dituangkan dalam banyak fan fiction, dimana para penulisnya menciptakan sendiri prosesi pernikahan Elf ala mereka.

Kecuali, tentu saja, kalau Anda sudah membaca Morgoth’s Ring

Buat yang belum tahu, Morgoth’s Ring adalah buku kesepuluh dari 12 buku History of Middle Earth, seri kumpulan manuskrip Tolkien yang dikumpulkan dan disunting oleh sang putra, Christopher Tolkien. Dalam seri ini, kita bisa melihat bagaimana Middle Earth-nya Tolkien perlahan-lahan berkembang, terutama dari berbagai catatan, puisi, dan manuskrip kisah-kisah awal yang kemudian menjadi The Silmarillion dan LOTR. Dalam Morgoth’s Ring, ada satu bagian berjudul Law and Custom of the Eldar, yang berupa kumpulan esai berisi penjelasan beberapa tradisi bangsa Elf, termasuk tentu saja pernikahan.

 

Dalam bab ini, Tolkien menjabarkan tradisi pernikahan Elf secara terperinci, mulai dari pertunangan, acara pernikahan, hingga perbedaan antara pernikahan di waktu-waktu damai dan perang. Buat yang belum berkesempatan membaca Morgoth’s Ring, berikut adalah ringkasannya:

Pertunangan

  • Kebanyakan Elf memilih pasangan atau bertunangan saat masih muda, yaitu 50 hingga 100 tahun (menurut keterangan di buku, 50 hingga 100 tahun adalah masa-masa pubertas kaum Elf hingga setara 25 tahun usia Manusia). Mereka cenderung menikah muda karena menikah terlambat dianggap membawa nasib buruk.
  • Pertunangan antar Elf yang masih sangat muda biasanya melalui proses persetujuan orangtua, kecuali jika keduanya sudah dewasa dan sepakat untuk menikah sesegera mungkin. Jika keduanya sudah sepakat, pertunangan diresmikan dengan saling bertukar cincin perak di depan saksi keluarga.
  • Jangka waktu pertunangan biasanya selama satu tahun, dimana setelah satu tahun mereka menentukan waktu pernikahan. Jika mereka memutuskan untuk tidak menikah, keduanya mengumumkan pembatalan pertunangan di depan saksi, lalu mengembalikan cincin perak masing-masing, dan meleburnya.

800px-lc4abga_kc4bcavic586a_-_love_at_first_sight

Celeborn and Galadriel by Līga Kļaviņa (Deviantart)

Pernikahan

  • Saat pernikahan, pesta diadakan dengan mengundang kedua keluarga.
  • Sumpah pernikahan dilakukan dengan cara pasangan pengantin berdiri berpegangan tangan di tempat dimana semua tamu bisa melihat dan mendengar suara mereka. Ibu sang pengantin wanita dan ayah pengantin pria (atau wali) kemudian maju dan memberkati keduanya. Tolkien menggambarkan isi sumpah pernikahan ini sebagai “rahasia” dan rinciannya tidak diketahui bangsa lain, kecuali bahwa sang ayah menyebut nama Manwë, sang ibu menyebut nama Varda (istri Manwë), dan nama Eru diucapkan. Ibu pengantin wanita secara tradisi memberi perhiasan berupa kalung kepada pengantin pria, dan ayah pengantin pria juga memberi perhiasan pada pengantin wanita.
  • Kedua pasangan saling mengembalikan cincin perak masing-masing, lalu bertukar cincin emas yang diselipkan di jari telunjuk kanan. Cincin perak disimpan sebagai kenang-kenangan.
  • Pernikahan bangsa Elf pada dasarnya dianggap sah setelah sumpah pernikahan diucapkan dan hubungan seks dilakukan untuk pertama kalinya. Jika dua Elf ingin menikah di tengah masa-masa perang, misalnya, mereka tidak perlu mengadakan pesta atau melakukan semua ritual; cukup mengucapkan sumpah pernikahan dengan menyebut nama Eru dan melalui malam pertama.

Seksualitas

Tolkien cenderung memandang seksualitas kaum Elf dalam kacamata yang cukup ideal. Bangsa Elf hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya, dan tidak menikah lagi bahkan setelah pasangannya meninggal (perkecualian Finwë, ayah Fëanor, yang menikah lagi dengan Indis setelah istri pertamanya, Miriel, meninggal). Bangsa Elf juga memandang rendah aktifitas seks di luar nikah atau perselingkuhan. Pernikahan Elf juga harus berdasarkan mau-sama-mau; pernikahan yang diatur orangtua, misalnya, nyaris tak pernah terdengar di kalangan bangsa Elf. Hubungan seks, bagi kaum Elf, dianggap sakral dan membentuk ikatan yang erat dengan pasangannya.

800px-jenny_dolfen_-_cuivic3a9nen

Finwë and Miriel by Jenny Dolfen

Elf biasanya memiliki sedikit anak, dan jika lebih dari satu, jarak di antara anak satu dan lainnya berjauhan (perkecualian Nerdanel dan Fëanor yang punya tujuh anak). Elf biasanya juga punya anak sesegera mungkin. Akan tetapi, jika berada di masa-masa sulit seperti perang, Elf cenderung menunda untuk punya anak, sampai keadaan damai kembali. Setelah beberapa waktu, libido Elf cenderung menurun dan mereka mengabdikan diri pada berbagai aktifitas seperti seni, sejarah, ilmu pengobatan, dan sebagainya. Akan tetapi, Elf menjunjung tinggi cinta sejati, dan memandang aktifitas membesarkan anak sebagai salah satu periode paling bahagia.

Catatan

Ada beberapa perkecualian dari aspek-aspek percintaan ideal yang dijunjung Elf. Misalnya, pernikahan Eöl dan Aredhel berdasarkan paksaan, karena Eöl memaksa Aredhel menikahinya (walau digambarkan bahwa Aredhel punya sedikit rasa sayang pada suaminya, itu tak menghentikannya untuk lari pulang ke kerajaannya bersama putra mereka, Maeglin). Celegorm, salah satu putra Fëanor, juga digambarkan terpikat pada Luthien sedemikian rupa sehingga timbul niat untuk memerkosanya (bahasanya dalam The Silmarillion memang tidak sevulgar ini, tapi percayalah, memang itu maksudnya). Akan tetapi, “kisah cinta” semacam ini tidak menemui akhir yang bahagia dalam buku Tolkien, dan mereka menjadi karakter yang berakhir tragis (kecuali mungkin Luthien).

destiny_by_ekukanova-d78lv7s

Eöl and Aredhel by Elena Kukanova

Walaupun orangtua tidak bisa mengatur dengan siapa anak-anak mereka menikah, mereka tetap bisa mengajukan permintaan atau tuntutan tertentu pada calon pasangan anak mereka (itulah sebabnya Beren membawakan permata Silmaril untuk Thingol, dan Aragorn menjadi raja dulu sebelum bisa meminang Arwen putri Elrond. Oke deh, harus diakui, para ayah ini memang standarnya cenderung ketinggian buat kebanyakan Elf jomblo, tapi dalam hal mereka, kasusnya istimewa). Walaupun si calon bisa saja menolak permintaan ini, hal tersebut akan dianggap kasar. Pernikahan antar anggota keluarga dianggap tabu. Pernikahan antar sepupu tidak dilarang, tetapi masih tetap dianggap kurang ideal.

Bagaimana Kira-kira Sumpah Pernikahan Bangsa Elf?

Sekali lagi, Tolkien tidak menjelaskan secara rinci apa isi sumpah pernikahan bangsa Elf, kecuali rincian kasar seperti yang dijelaskan di atas. Tapi itu tidak menghentikan pecinta Tolkien untuk menebak-nebak isinya (boleh dong). Misalnya, untuk pernikahan standar (dalam pesta pernikahan di masa damai), kedua mempelai akan diberkati dengan kalimat yang mirip seperti ini:

Diucapkan ibu:

May Varda Star-kindler hear (nama mempelai pria) and (nama mempelai wanita) calls, and may Eru bless them all.

Bahasa Vanyarin Quenya: Nai Varda Tintallë hlazuva elloi (mempelai pria) -wa az (mempelai wanita) -wa, az nai Eru Ilúvatar alyuva tet.

Bahasa Noldorin Quenya: Nai Varda Tintallë laruva ellor (mempelai pria) -va ar (mempelai wanita)-va, ar nai Eru Ilúvatar alyuva tet.

Bahasa Sindarin: Lasto iâl (mempelai pria) adh (mempelai wanita), adh elio din Eru.

Diucapkan ayah:

May Manwë Lord of Wind watch over (mempelai pria) and (mempelai wanita), and may Eru the Father of All bless them.

Bahasa Vanyarin Quenya: Nai Manwë Thúlimo tiruva (mempelai pria) az (mempelai wanita), az nai Eru Ilúvatar alyuva tet.

Bahasa Noldorin Quenya: Nai Manwë Súlimo tiruva (mempelai pria) ar (mempelai wanita), ar nai Eru Ilúvatar alyuva tet.

Bahasa Sindarin: Tiro (mempelai pria) adh (mempelai wanita) Aran Einior, adh elio din Eru.

Ini mungkin lho ya, mungkin. Tapi selain itu, silakan membayangkannya dalam set pernikahan imajiner antar pasangan Elf kala Anda membaca The Silmarillion atau membuat fan fiction🙂

Sumber:

J. R. R. Tolkien (1993). Christopher Tolkien, ed. Morgoth’s Ring. Britain: HarperCollins.

4 thoughts on “‘Law and Custom of the Eldar’: Tentang Tradisi Pernikahan Bangsa Elf

  1. gingerbreadandtea berkata:

    Keren2, disini keliatan banget kalo elf emang orang2 yang hmmm ideal?sempurna? Kasta tinggi? Ngga barbar? Kalo di tumblr istilahnya majestic as f***.. hehe, jadi ga sabar baca silmarillion.. oya kalo mau belajar bahasa2 di middle earth ada di buku apa ya kak?

    • Putri Prihatini berkata:

      Hehe, memang kelihatannya begitu ya? Tapi nggak juga sih; kalau di The Hobbit dan LOTR kan digambarkan para elf udah gak begitu banyak, sehingga yang diingat bangsa-bangsa lain hanyalah bahwa mereka itu Fair Folk, bangsa elok, yang sejarahnya udah lama berlalu sehingga sebagian besar jadi kabur dan menyisakan manisnya saja. Padahal di abad pertama dan kedua, elf itu justru kerjaannya perang melulu, bukan cuma dengan bangsa yang dianggap jahat kayak Melkor dan anak buahnya, tapi juga antar bangsa lain dan bahkan antar mereka sendiri. Banyak juga elf yang melakukan perbuatan tidak terpuji, seperti pembantaian besar-besaran yang dilakukan Feanor dan tujuh anaknya (terhadap sesama mereka) demi mempertahankan batu mulia, lalu Eol the Dark Elf yang memaksa Aredhel menikahinya, anak mereka Maeglin yang mengkhianati keluarga ibunya sendiri ke Dark Lord Melkor demi ngedapatin istri junjungannya (oleh Tolkien saja disebut “the wickedest elf of all”) lalu ketika kerajaannya Dior (anak Beren dan Luthien, nenek moyangnya Elrond dan Arwen) diserang oleh anak-anak Feanor, anak-anak Dior yang masih kecil-kecil ditinggal di hutan supaya mati terlantar. Itu sesama elf lho. Tapi, detail-detail renyahnya semua ada di The Silmarillion🙂

    • Putri Prihatini berkata:

      Kalo untuk belajar bahasa-bahasa sih nyari sumber-sumbernya banyak kok di internet, karena Tolkien nggak secara khusus membukukan bahasa-bahasa ciptaannya. Asal tahu aja nama bahasa yang ingin dipelajari (Sindarin atau Dwarvish, misalnya; banyak yang seneng belajar bahasa Dwarf karena selain kedengarannya unik, aksaranya juga keren), tinggal Google, udah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s