Tragedi dalam Narasi Indah: Ulasan Buku “The Fall of Gondolin”

Ketika Christopher Tolkien secara tak terduga memutuskan untuk menyunting dan menerbitkan The Fall of Gondolin, banyak yang mengira itu lelucon 1 April (termasuk saya). Baru ketika halaman Facebook The Tolkien Society merilis pengumuman resminya, saya dan banyak penggemar Tolkien di seluruh dunia bersorak. The Fall of Gondolin mungkin baru diterbitkan pada tahun 2018, namun akar penciptaannya telah hadir sejak sekitar tahun 1916 hingga 1917.

The Fall of Gondolin edisi hardcover, cetakan pertama (Agustus 2018). Diterbitkan oleh HarperCollins.

The Fall of Gondolin dimulai dari pencarian sesosok bangsa Manusia bernama Tuor terhadap Gondolin, kota kaum Elf yang masih tersembunyi dan aman dari invasi Morgoth, Dark Lord pertama. Ayah Tuor adalah bangsa Manusia yang pernah diterima Turgon, raja Gondolin, sebagai pengungsi perang. Ulmo, Valar yang menguasai lautan, menampakkan diri di depan Tuor dan menyuruhnya pergi ke Gondolin untuk menyampaikan pesan tentang ancaman Morgoth. Ulmo juga meminta Tuor memperingatkan Turgon, untuk menyiapkan diri menghadapi peperangan yang mungkin terjadi.

Ketika Tuor akhirnya berhasil menemukan akses rahasia ke dasar Lembah Tumladen yang menjadi lokasi Gondolin, dia disambut ramah oleh Turgon. Tuor menikahi Idril, putri Turgon, menimbulkan kecemburuan sepupu Idril, Maeglin. Kegelapan hatinya membuka jalan bagi Morgoth untuk akhirnya menemukan Gondolin, dan melancarkan serangan besar-besaran.

Saya telah menanti kehadiran buku yang menggambarkan kejatuhan Gondolin bahkan sebelum pengumuman dari The Tolkien Society tersebut. Pasalnya, kisah kejatuhan Gondolin merupakan salah satu kisah karya Tolkien yang paling tragis, epik, sekaligus tidak lengkap. Berbagai versi dari kisah ini terserak dalam manuskrip dan buku-buku berbeda. Kisah ini hanya disebut sedikit dalam The Silmarillion, Unfinished Tales, serta The Lost Tales jilid 2, sehingga rasanya hanya seperti membaca referensi tidak utuh.

Ada Apa di Dalam The Fall of Gondolin?

The Fall of Gondolin berawal dari sebuah kisah yang ditulis Tolkien menjelang akhir tahun 1916. Saat itu, Tolkien baru saja ditarik dari medan Perang Dunia I di Somme akibat sakit. Tolkien menghabiskan waktu di barak dengan menulis sebuah cerita yang memadukan konsep Middle-earth (yang saat itu baru terbentuk di kepalanya) dengan pengalamannya selama di medan perang. Cerita itu seolah meletupkan ekspresi kreatif Tolkien yang telah berkembang sejak masa sekolah.

Kejatuhan Gondolin dibingkai sebagai sebuah narasi flashback dari karya Tolkien yang kita kenal sekarang, seperti The Silmarillion. Narasi kisah-kisah Abad Kedua (setelah peristiwa kehancuran Gondolin terjadi) menyebut tentang kota tersembunyi kaum Elf yang hancur oleh serangan Morgoth. Beberapa karakter penting seperti Elrond dan Arwen lahir dari para penyintas serangan tersebut. Akan tetapi, semua kisah tersebut tidak pernah hadir dalam versi lengkap, dan hanya selalu diceritakan dengan embel-embel “menurut ceritanya.” Membaca The Fall of Gondolin terasa seperti menguak tabir di balik kisah yang hanya terdengar samar-samar tersebut.

Kisah The Fall of Gondolin pun melalui banyak revisi. Dalam bab The Earliest Text di buku ini, Christopher Tolkien menjelaskan tentang catatan-catatan awal yang dibuat Tolkien.

“Important elements in the early evolution of the history of the Elder Days are my father’s hurried notes. As I have described them elsewhere, these notes were for the most parts pencilled at furious speed, the writing now rubbed and faint in places after long study scarcely decipherable, on slips of paper, disordered and dateless, or in a little notebook; in these, during the years in which he was composing the Lost Tales, he jotted down thoughts and suggestions — many of them being no more than simple sentences, or mere isolated names, serving as reminders of work to be done, stories to be told, or changes to be made.”

Christopher Tolkien in The Fall of Gondolin: The Earliest Text

“Bagian penting dalam evolusi kisah-kisah Zaman Kuno adalah catatan-catatan kasar ayahku. Seperti yang pernah kusampaikan sebelumnya, catatan-catatan ini sebagian besar ditulis terburu-buru dengan pensil, terhapus dan memudar dimana-mana serta sulit dibaca. Mereka ada di lembaran kertas kecil, berantakan dan tidak bertanggal, atau di buku catatan. Selama menggarap The Lost Tales, dia menulis banyak ide di lembar-lembar tersebut — kebanyakan hanya berupa kalimat-kalimat sederhana atau nama-nama, untuk mengingatkannya akan hal-hal yang harus dia tuliskan, cerita yang harus disampaikan, atau perubahan yang harus dilakukan.

Terjemahan bebas

Catatan-catatan inilah yang menjadi modal Christopher Tolkien untuk menyusun The Fall of Gondolin hingga utuh. Pada bagian pertama (setelah pendahuluan), kita akan melihat kisah yang telah disusun secara lengkap. Kisah ini hanya sepanjang 74 halaman, dan jelas terlihat bahwa ini adalah karya dari awal terbentuknya legendarium Middle-earth lewat penggunaan kata “Gnome” untuk menyebut “Elf (bangsa) Noldor.” Halaman-halaman selanjutnya memuat versi-versi awal dari kisah Gondolin, termasuk teks dengan nama-nama pertama yang kemudian diubah Tolkien (nama karakter seperti Isfin, Fingolma, dan Turlin kemudian dihapus dalam revisi). Naskah-naskah awal ini dibarengi dengan catatan mendetail dari Christopher Tolkien. Alan Lee menyumbangkan ilustrasi untuk buku ini, termasuk beberapa lembaran ilustrasi berwarna di kertas tebal.

The King’s Tower Falls (“the tower leap into a flame and in a stab of fire it fell.”) Salah satu ilustrasi berwarna Alan Lee di halaman 96, menggambarkan runtuhnya menara Turgon dan menewaskan sang raja bersamanya.

The Fall of Gondolin, walau singkat, tidak terasa seperti kisah-kisah peperangan lain yang pernah ditulis Tolkien dan tertuang di dalam The Silmarillion atau The Lord of the Rings. Kehancuran Gondolin dideskripsikan dengan sangat rinci. Tolkien menggambarkan bangunan indah yang dimakan api, panas dari kobaran api yang membuat para prajurit banjir keringat di bawah baju besi mereka dan bahkan pingsan, tubuh-tubuh yang hangus, terlempar dari tembok tinggi, tertimpa reruntuhan, atau terinjak ekor dan kaki naga, rumah-rumah yang dijarah saat pasukan musuh memasuki kota, para wanita dan anak-anak yang diculik atau dibantai.

Deskripsi peperangan dalam kisah ini juga secara eksplisit menggambarkan ketakutan dan keputusasaan para penduduk Gondolin. Bagaimana mereka berusaha untuk meyakinkan diri bahwa kehidupan di Gondolin masih aman, walau Turgon yang membaca ancaman Morgoth mulai mengetatkan penjagaan. Deskripsi ini seolah menggambarkan hal-hal yang dipahami Tolkien muda ketika dirinya mulai direkrut sebagai perwira. Mulai dari “kegamangan nasional” terhadap ancaman peperangan yang tidak terelakkan, kekacauan dan kengerian dalam medan perang yang sama sekali tidak digambarkan di dalam ajakan patriotis untuk merekrut para pemuda, hingga keputusasaan dan kesedihan lanjutan saat para penghuni yang selamat menjadi pengungsi.

Uniknya, The Fall of Gondolin menyebut kehadiran “mesin perang” berbentuk naga milik Morgoth yang terbuat dari baja. Tidak ada deskripsi lebih lanjut tentang mekanisme mesin perang ini, namun Tolkien menggambarkannya sebagai semacam kendaraan pengangkut pasukan Orc. Karena tembok pelindung Gondolin sangat tinggi dan licin, Morgoth mengirimkan monster-monster ini untuk mendobrak dinding tersebut sehingga pasukannya bisa masuk. Berbagai analisis tentang kisah ini menyebut bahwa monster tersebut terinspirasi oleh tank-tank tentara Jerman yang dilihat Tolkien di medan perang.

Narasi Awal Middle-earth dalam The Fall of Gondolin

Dalam buku Tolkien and The Great War, John Garth menggambarkan perkembangan kreativitas Tolkien secara rinci, tepatnya sejak dirinya menjadi siswa remaja di King Edward’s School. Saat itu, Tolkien telah mulai mengasah landasan untuk menggarap legendarium Middle-earth. Tolkien terpesona pada aspek misterius dari legenda masa lalu yang berpadu dengan keagungan, tragedi, serta kisah heroik dari syair epik dan mitologi. Dia juga bermimpi menciptakan dunia yang menggunakan bahasa rekaan buatannya. Upayanya menciptakan gambaran sebuah negeri masa lalu yang bayangannya muncul samar-samar dalam memori manusia modern diwujudkan lewat puisi-puisi seperti Kortirion among the Trees dan The Voyage of Éarendel the Evening Star. Puisi yang terakhir bahkan melahirkan istilah “Middle-earth” yang kemudian terus digunakan Tolkien.

Kisah The Fall of Gondolin menjadi upaya pertama Tolkien untuk menciptakan narasi utuh dari dunia yang unsur-unsurnya masih terpecah-belah. Setelah perang selesai, Tolkien terus merevisi naskah tersebut, bahkan sempat membacakannya di dalam pertemuan Exeter College Essay Club pada tahun 1920. Akan tetapi, sama seperti proses pembuatan karakter Galadriel serta konsep Orc, kisah tersebut tetap dianggapnya sebagai “tidak memiliki kesimpulan,” karena dia tidak kunjung puas akan konsepnya (Tolkien tidak berhenti menggarap cerita ini hingga tahun 1950-an). Tolkien juga sempat memasukkan peristiwa keruntuhan Gondolin di dalam puisi panjang, tetapi hanya sampai adegan ketika para naga mulai memasuki Gondolin (puisi super panjang yang memuat adegan ini dapat ditemukan di dalam The Lays of Beleriand, volume ketiga dari seri manuskrip Tolkien, The History of Middle-earth).

Dalam The Fall of Gondolin, heroisme berselang-seling dengan kisah pengkhianatan, harapan dan keputusasaan hadir berdampingan, dan ekspresi keberanian disusul oleh tragedi. Tolkien menggambarkan Rog, pemimpin kaum Elf bertubuh tinggi besar dari House of Hammer of Wrath, yang berlari menyerbu para Orc dan Balrog bersama pasukannya dengan gagah berani sambil menenteng martil perang, hanya untuk menghapus deskripsi gagah mereka dengan hujan panah dan kobaran api yang memusnahkan semua Elf tersebut, sebelum para Orc melangkahi mayat-mayat mereka dan masuk lebih dalam ke tengah kota. Seorang komandan bangsa Elf dibujuk oleh Maeglin untuk berkhianat dan membelot, namun ketika para prajuritnya menolak, sang komandan gagah tersebut berlari pulang dan meringkuk ketakutan di tempat tidurnya. Dalam situasi seperti perang, semua hal hadir secara ekstrem. Hanya versi paling ekstrem dari kepribadian seseorang yang akan muncul, dan Tolkien memahami hal tersebut dengan deskripsi para karakternya.

Gondolin dalam tiga panel, oleh Jian Guo, menggambarkan kisah Gondolin sejak awal hingga kehancurannya.

Sama seperti minat abadi manusia modern terhadap legenda “kota yang tenggelam” seperti Atlantis, versi utuh kisah kehancuran Gondolin telah menjadi hal yang dimimpikan para penggemar Tolkien. Setelah sekian lama hanya bisa menyatukan keping-keping kisah untuk menangkap gambaran utuhnya (itu pun di dalam manuskrip yang terpisah-pisah), penggemar Tolkien bisa membaca kisah versi utuh, lengkap dengan kisah-kisah awal untuk melihat bagaimana cerita ini berevolusi. Dari 304 halaman buku ini, Christopher Tolkien memasukkan cukup banyak catatan sebagai panduan bagi pembaca serius. Membaca buku ini rasanya jelas tidak sama dengan Children of Hurin, misalnya, yang ditulis sebagai novel panjang dengan narasi tak terputus.

Saya pribadi memilih melompati Beren and Luthien, buku berkonsep serupa yang terbit pada tahun 2017, untuk kemudian membeli The Fall of Gondolin. Ini karena saya sudah memiliki hampir semua versi cerita Beren and Luthien yang ada di buku tersebut, walau terpisah-pisah. Selain itu, tidak seperti The Fall of Gondolin, Beren and Luthien telah memiliki banyak rincian, dan kisah tersebut merupakan salah satu cerita terpopuler dalam manuskrip Tolkien. The Fall of Gondolin memikat saya karena misteri di balik kisah kehancurannya. Kehadiran catatan Christopher Tolkien mungkin membuat pembaca umum sedikit kagok, namun tidak masalah untuk saya yang memang menikmati membaca perkembangan manuskrip Tolkien hingga menjadi karya-karya yang kita kenal sekarang.

The Fall of Gondolin mungkin sebuah kisah yang relatif pendek. Akan tetapi, kisah tersebut sukses menjadi pijakan Tolkien dalam pengembangan narasi untuk mulai melengkapi legendarium Middle-earth. Ketika Letnan Dua J. R. R. Tolkien mulai menuangkan kisahnya di buku catatan setelah ditarik dari medan perang, saat itulah tragedi, harapan, dan heroisme dari kisah kehancuran sebuah kota tersembunyi mulai menampakkan wujudnya.

Glory dwelt in that city of Gondolin of the Seven Names, and its ruin was the worst dread of all the sacks of cities upon the face of Earth. Nor Bablon, nor Ninwi, nor the towers of Trui, nor all the many takings of Rum that is the greatest among Men, saw such terror as fell that day upon Amon Gwareth in the kindred of the Gnomes; and this is esteemed the worst work that Melko has yet thought in the world.

Scaling Up: Ulasan Buku “The Dragon: Fear and Power”

Ulasan oleh: Tom Shippey

Buku karya: Martin Arnold

Catatan: tulisan ini adalah terjemahan dari ulasan Tom Shippey untuk buku karya Martin Arnold, The Dragon: Fear and Power, yang dimuat di Literary Review edisi November 2018. Terjemahan ini dibuat dengan izin dari Literary Review. Versi asli yang berbahasa Inggris bisa dibaca di sini.

Terima kasih untuk David Gelber dari editorial Literary Review yang telah memberi saya izin untuk menerjemahkan ulasan ini.  Lanjutkan membaca “Scaling Up: Ulasan Buku “The Dragon: Fear and Power””

Perang yang Melahirkan Imajinasi: Ulasan Buku “Tolkien and the Great War”

tolkien and the great war 2

Sekitar dua bulan yang lalu, saya membeli Tolkien and the Great War: The Threshold of Middle-earth, buku yang sudah lama bertengger di daftar belanja. Karya John Garth ini menjadi incaran saya selain biografi resmi J. R. R. Tolkien oleh Humphrey Carpenter, karena memberi dimensi lebih dalam tentang kaitan antara pengalaman Tolkien dalam Perang Dunia I dengan karya-karya fiksinya, termasuk legendarium Middle-earth. Lanjutkan membaca “Perang yang Melahirkan Imajinasi: Ulasan Buku “Tolkien and the Great War””

Tawa dan Humor dalam Karya Tolkien (Ulasan Buku “Laughter in Middle-earth”)

laughter in middle earth

Terima kasih untuk Becky Dillon yang sudah jauh-jauh mengirimkan buku ini dari Jerman!

“Dalam bukunya Mr. Tolkien tidak banyak yang lucu-lucu.”  Lanjutkan membaca “Tawa dan Humor dalam Karya Tolkien (Ulasan Buku “Laughter in Middle-earth”)”

Keajaiban dan Renungan dalam Letters from Father Christmas (Postingan Selamat Natal dari Saya)

12-16-00712_jrr_tolkien_letters_father_christmas_002

Di akhir tahun yang katanya tahun dengan user review paling nggak enak ini, saya kepingin membuat postingan yang berfungsi sebagai kartu ucapan Natal buat para pembaca yang merayakan. Lanjutkan membaca “Keajaiban dan Renungan dalam Letters from Father Christmas (Postingan Selamat Natal dari Saya)”

A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I”

I have grown from a lanky schoolgirl who watched the first Lord of the Rings movie in an almost-dilapidated local cinema with my mouth gaped in wonder, to a serious book hoarder who read books that I had never imagined I would’ve read, such as The Letters of J. R. R. Tolkien, Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien, and finally this one: Baptism of Fire: the Birth of the Modern British Fantastic in World War I. While I’ll forever envy the likes of Tom Shippey, Dimitra Fimi, Verlyn Flieger and John Garth for having a career that surrounds the works of Tolkien (not to mention the artists like Alan Lee, Ted Nasmith and Jenny Dolfen), I’m really happy to be immersed in Tolkien’s works, along with other books that help improving my understanding toward his modern mythology.  Lanjutkan membaca “A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I””

The Children of Húrin: Ketika Tolkien Merangkai Tragedi Gelap dalam Kisah Heroik

“Setelah The Hobbit, LOTR dan The Silmarillion, apa lagi yang bisa saya baca kalau saya masih nagih?” Nah, bagi yang masih belum puas dengan buku LOTR, The Hobbit dan The Silmarillion, ada banyak sekali buku Tolkien yang bisa dilalap. Tapi, Children of Húrin adalah pilihan terbaik untuk dibaca setelah The Silmarillion.

coh Lanjutkan membaca “The Children of Húrin: Ketika Tolkien Merangkai Tragedi Gelap dalam Kisah Heroik”