Of Beren and Lúthien: Kisah Cinta Terhebat di The Silmarillion-nya Tolkien


leithian_berenandluthien

Masih belum bosan dengan Tolkien? Bagus. Masih dalam rangka euforia demam Tolkien (yang mudah-mudahan akan terus menyebar), kali ini saya ingin menulis tentang salah satu dari sekian kisah cinta yang diselipkan Tolkien dalam karya-karyanya. Of Beren and Lúthien adalah salah satu bab yang ada di The Silmarillion, yang menceritakan kisah cinta antara Beren putra Barahir, yang adalah bangsa Manusia, dan Lúthien, putri raja Elf Elu Thingol. Dari beberapa kisah cinta di Middle Earth legendarium-nya Tolkien, kisah cinta antar Beren dan Lúthien dipandang istimewa karena beberapa hal: kisah ini merupakan yang pertama dari beberapa cinta beda ras antar Manusia dan Elf, serta memiliki arti istimewa bagi Tolkien sendiri karena terinspirasi dari kisah cintanya di dunia nyata. 

Kisah Beren dan Lúthien

Dalam The Silmarillion, dikisahkan bahwa Beren adalah putra Barahir dari House of Beör, yang tewas bersama sisa-sisa anggota klan mereka setelah dibantai oleh Morgoth, Dark Lord pertama. Setelah pembantaian tersebut, Beren melarikan diri hingga ke wilayah kerajaan Elf Doriath. Di sana, ia bertemu dengan Lúthien yang sedang menari dan menyanyi di tengah hutan, dan langsung jatuh cinta padanya. Keindahan suaranya juga membuat Beren menjulukinya Tinuviel, “burung bulbul.” Lúthien pun kemudian juga jatuh hati pada Beren.

Tolkien, Nasmith, painting, illustration, Lord of the Rings, Silmarillion, Hobbit, Middle-earth

Lúthien oleh Ted Nasmith

Beren pun mulai sering bertemu dengan Lúthien diam-diam, namun rahasia mereka dibongkar oleh Elf bernama Daeron yang juga mencintai Lúthien. Sang raja, yang memandang Beren hina dan tidak menginginkan putrinya menjadi milik kaum Manusia (yang berarti putrinya tak akan lagi abadi), menolaknya. Akan tetapi, keteguhan hati dan kekeraskepalaan Beren serta nasihat bijak sang ratu, Melian, akhirnya membuat Thingol mengeluarkan syarat yang bisa dibilang nyaris mustahil: Beren harus membawakan permata Silmaril yang terpasang pada mahkota Morgoth, musuh lamanya, yang berdiam di Angband yang terkenal sulit ditembus. Beren menerima syarat itu (setelah perang kata-kata yang lumayan dahsyat antara dirinya dan sang raja yang duduk di singgasananya), dan pergi menemui sahabat lama klan ayahnya, raja Elf bernama Finrod Felagund (saudaranya Lady Galadriel, buat yang belum tahu), yang kemudian berangkat bersama sepuluh orang ksatria untuk membantu Beren. Sayangnya, mereka disergap oleh pasukan Sauron (yang statusnya saat itu masih pelayan Morgoth), dan memenjarakan mereka di penjara bawah tanah di menara di Tol-in-Gaurhoth, yang dipenuhi serigala jadi-jadian.

Lúthien yang mendapat kabar itu pun hendak kabur diam-diam, namun dengan keliru, malah meminta tolong kepada Daeron, yang tentu saja langsung membocorkan rahasianya lagi pada sang raja, yang langsung mengurung putrinya di sebuah pondok di atas pohon besar, dijaga oleh para prajurit. Akan tetapi, Lúthien bukanlah tipe putri raja cengeng yang cuma bisa menangis dalam kurungan menanti sang kekasih; dengan sihir gaib yang dikuasainya sebagai putri dari Ratu Melian yang seorang Maiar, Lúthien berhasil melarikan diri untuk menyelamatkan Beren. Lúthien pun berhasil mendapat bantuan dari Huan, anjing pemburu raksasa yang kelak banyak membantunya membebaskan Beren dan bahkan mengusir Sauron dari Tol-in-Gaurhorth, membuat daerah itu indah kembali (PS: setelah kejadian ini, Sauron berubah menjadi kelelawar vampire. Ya, ada vampire di karya Tolkien. Something for everyone, right?).

Lúthien Escapes the Treehouse, by Ted Nasmith

Lúthien Escapes the Tree House oleh Ted Nasmith

Beren dan Lúthien kemudian menyusup ke Angband dengan menyamar menjadi serigala dan kelelawar raksasa, hingga akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam Angband. Lúthien menyanyikan lagu ajaibnya yang membuat Morgoth tertidur, dan Beren diam-diam mencungkil permata dari mahkotanya. Akan tetapi, saat melakukannya, pisau belati Beren patah dan menggores pipi Morgoth, yang terbangun dari pengaruh sihir serta langsung memerintahkan pengejaran terhadap dua sejoli itu. Mereka pun sempat dihadang serigala raksasa Carcharoth, dan Beren mengacungkan permata Silmaril karena berharap cahayanya akan membutakan si serigala. Akan tetapi, Carcharoth menggigit putus tangan Beren, menelan potongannya bersama permata Silmaril. Ini membuat serigala ini gila dan melarikan diri.

Beren dan Lúthien kemudian diselamatkan burung-burung elang Manwë, dan kembali ke hadapan Thingol setelah Lúthien merawat luka Beren. Di hadapan Thingol, Beren menunjukkan lengannya yang terputus dan mengatakan bahwa permata Silmaril telah ditelan oleh Carcharoth. Melihat hal ini, Thingol akhirnya merasa iba dan tersentuh, dan ia akhirnya mengijinkan Beren menikah dengan Lúthien, dan Beren sejak itupun dikenal sebagai Beren Erchamion, alias Beren si Tangan Satu. Apakah ini berarti happy ending? Tidak, karena Beren kemudian bertemu lagi dengan musuh lamanya, serigala Carcharoth yang ternyata lari ke Doriath, dan walau ia berhasil membunuh Carcharoth serta mengambil permata Silmaril dari dalam perutnya, Beren akhirnya meninggal karena luka-lukanya.

TN-Luthien_Tends_Berens_Wound

Lúthien Tends Beren’s Wound oleh Ted Nasmith

Mendengar kabar kematian Beren, Lúthien berduka begitu hebat sehingga jiwanya melayang ke Hall of Mandos, dimana nyanyian ratapan dukanya bahkan mampu menimbulkan iba Mandos yang sejatinya tak pernah goyah oleh ratapan. Mandos pun memberinya pilihan: Lúthien bisa pergi ke Valimar dan menyembuhkan duka serta kenangan pahitnya namun tanpa Beren, atau bisa kembali bersama Beren namun dengan syarat bahwa jiwanya tak lagi abadi, sama seperti Manusia. Lúthien pun memilih yang kedua, dan mereka pun lahir kembali serta menetap di Tol Galen di Ossiriand, serta melahirkan seorang putra bernama Dior Eluchil yang kelak menurunkan tokoh-tokoh yang sudah Anda kenal seperti Elrond dan Arwen.

TN-Tinuviel_Reborn

Tinuviel Reborn oleh Ted Nasmith

Kisah Beren dan Lúthien juga muncul di buku lain selain The Silmarillion. Jika Anda membaca The Book of Lost Tales 1, salah satu dari 12 buku seri History of Middle Earth yang berisi proses kreatif Tolkien menciptakan dunia Middle Earth, Anda akan melihat versi awal kisah Beren dan Lúthien ini yang berjudul The Tale of Tinuviel. Kisah ini juga sempat diceritakan oleh Aragorn dalam buku dan versi film Extended Edition LOTR: The Fellowship of the Ring. Tolkien juga menjadikan kisah ini sebagai model untuk menulis The Tale of Aragorn and Arwen, yang bisa Anda baca di bagian apendiks LOTR (atau di buku The Return of the King, kalau buku LOTR yang Anda punya adalah versi yang dipecah menjadi 3 buku), dimana kisah Aragorn dan Arwen ini sangat mencerminkan kisah Beren dan Lúthien.

Inspirasi Kisah Cinta Beren dan Lúthien

Tolkien sendiri menggambarkan kisah Beren dan Lúthien sebagai kisah cinta terpenting dalam seluruh legendarium Middle Earth-nya. Banyak sarjana sastra yang menunjuk kesamaan tema antara kisah ini dengan Culhwch ac Olwen, sebuah kisah dalam manuskrip Wales dari abad ke-11, Llyfr Coch Hergest (The Red Book of Hergest), dimana tema utamanya adalah kisah cinta beda ras antar Culhwch yang manusia dan Olwen yang putri raja raksasa Ysbaddaden, dimana ayah Olwen memberi berbagai syarat yang nyaris mustahil dipenuhi sebelum Culwhch bisa menikahi putrinya. Adegan perburuan serigala dalam Of Beren and Lúthien juga mirip dengan adegan perburuan babi rusa raksasa dalam Culhwch ac Olwen, dan syarat mengambil permata Silmaril dari mahkota Morgoth juga mirip dengan syarat mengambil tiga helai rambut emas dari kepala raja Iblis dalam kisah Wales ini.

ysbaddaden

Culhwch at Ysbaddaden Court oleh Charles Squire

Akan tetapi, Tolkien sendiri mengungkapkan bahwa kisah Beren dan Lúthien mencerminkan kisah cintanya sendiri dengan sang istri, Edith, yang penuh halangan; mulai dari pihak keluarga yang tak menyetujui, hingga berbagai peristiwa yang harus mereka lalui bersama sebelum bisa bersatu.

Alkisah, Tolkien bertemu dengan Edith Mary Bratt di sebuah rumah sewaan di Duchess Road pada tahun 1908, saat usianya 16 tahun dan Edith 19 tahun. Menurut Humphrey Carpenter, yang menulis biografi Tolkien, keduanya digambarkan cepat akrab karena sama-sama anak yatim piatu yang haus kasih sayang sehingga bisa saling memahami, sekaligus memiliki banyak kecocokan dalam sifat dan kepribadian (Edith dan Tolkien konon sering pergi ke kedai teh di Birmingham dan memilih tempat duduk di balkon lantai dua, dimana mereka sering iseng menjatuhkan kubus-kubus gula dari wadah di meja ke topi orang-orang yang lewat).

Sayangnya, tak ada yang mendukung hubungan mereka. Wali Tolkien, Father Morgan, menentang hubungan Tolkien dengan Edith karena dianggap menghalangi studinya, sekaligus baginya memalukan karena Edith lebih tua dari Tolkien dan juga seorang Protestan, sementara Tolkien Katolik. Dia pun mengancam akan memutus biaya sekolah Tolkien jika ia terus berpacaran dengan Edith.

Tolkien-younghandinpocket1911

Tolkien-Edithportrait

Tolkien dan Edith muda

Tolkien pun dengan berat hati memutuskan untuk menyelesaikan dulu sekolahnya dan melupakan hubungannya dengan Edith untuk sementara, hingga usianya 21 tahun. Pada hari ulang tahunnya yang ke-21, ia memutuskan untuk langsung menulis surat dan melamar Edith. Pada saat yang sama, Edith sebenarnya sudah bertunangan dengan George Field, namun begitu mendapat surat Tolkien, ia langsung memutuskan pertunangan dan mengembalikan cincin ke George. Hal ini menimbulkan kemarahan keluarga Edith, dan teman keluarga Edith, C. H. Jessop, juga langsung menyuruhnya mencari tempat tinggal lain (Edith saat itu menumpang tinggal di rumah Jessop). Keduanya pun memutuskan menikah pada tanggal 22 Maret 1916. Kelak, dalam salah satu suratnya kepada putranya, Michael, Tolkien menyatakan kekagumannya saat itu pada Edith yang berani menerima cinta pria yang tak punya pekerjaan, tak punya uang, dan kemungkinan akan cepat mati dalam perang. Memang pada saat itu, Tolkien sudah direkrut sebagai Second Lieutenant di Lanchashire Fusiliers, dan dirinya serta Edith bahkan mencari pondok yang dekat dengan tempat latihan Tolkien.

Ketika Tolkien akhirnya diberangkatkan ke Prancis bersama kesatuannya, itu adalah siksaan baginya karena harus berpisah dengan Edith. Karena tak ingin membuat istrinya khawatir soal keberadaannya, Tolkien pun mengembangkan sistem kode khusus yang bisa dia selipkan di surat tanpa harus khawatir kena sensor, dimana Edith kemudian bisa menguraikannya untuk mengetahui dimana ia berada dan dimana posisinya saat ditempatkan di Western Front.

Masih ingat kisah pertemuan pertama Beren dan Lúthien? Kisah itu terinspirasi oleh acara jalan-jalannya dengan Edith di sebuah hutan dekat Roos, dimana Tolkien melihat Edith, dengan rambut hitam, mata cerah dan kulit cemerlang, menari dan menyanyi di sebuah padang terbuka. Berikut salah satu kutipannya yang tertuang dalam salah satu suratnya yang dikumpulkan Humphrey Carpenter dalam Letters of J.R.R. Tolkien:

“I never called Edith Luthien – but she was the source of the story that in time became the chief part of the Silmarillion. It was first conceived in a small woodland glade filled with hemlocks at Roos in Yorkshire (where I was for a brief time in command of an outpost of the Humber Garrison in 1917, and she was able to live with me for a while). In those days her hair was raven, her skin clear, her eyes brighter than you have seen them, and she could sing – and dance. But the story has gone crooked, & I am left, and I cannot plead before the inexorable Mandos.”

Banyak aspek dalam kisah cinta Tolkien dan Edith yang tertuang dalam Of Beren and Lúthien. Misalnya, ketika bertemu dengan Edith untuk pertama kali, Tolkien adalah anak yatim piatu yang tidak punya banyak uang, persis Beren yang kehilangan orangtua dan terbuang dari klannya. Tolkien dan Edith juga memiliki perbedaan besar; selain usia Edith yang lebih tua, Tolkien adalah Katolik dan Edith Protestan. Nama “Tolkien” sendiri diambil dari kata bahasa Jerman tollkühn, yang bisa diartikan “berani” atau “nekad,” dan hal itu kemungkinan juga mendasari alasannya menamai tokohnya “Beren,” yang dalam bahasa Sindarin (salah satu bahasa Elf) berarti “berani.”

Pada akhirnya, Tolkien harus ditinggalkan lebih dulu oleh sang istri, yang meninggal pada tahun 1971. Akan tetapi, Tolkien akhirnya menyusul pada tahun 1973. Mereka dimakamkan bersama di Wolvercote Cemetery, dan di batu nisan mereka, diukir nama “Beren” dan “Lúthien,” menyimbolkan kisah cinta mereka yang penuh halangan namun abadi.

tolkiens_grave_inscription

“It is told in the Lay of Leithian that Beren came stumbling into Doriath grey and as with many years of woe, so great had been the torment of the road. But wandering in the summer in the woods in Neldoreth he came upon Lúthien, daughter of Thingol and Melian, at a time of evening under moonrise, as she danced upon the unfading grass in the glades beside Esgalduin. Then all memory of his pain departed from him, and he fell into an enchantment, for Lúthien was the most beautiful of all the Children of Iluvatar.”

The Silmarillion, Chapter 19: Of Beren and Lúthien

Sumber:

Carpenter, Humphrey. 1981. The Letters of J.R.R. Tolkien. London: George Allen & Unwin.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: Harper Collins.

J.R.R. Tolkien: Courtship and Marriage

7 thoughts on “Of Beren and Lúthien: Kisah Cinta Terhebat di The Silmarillion-nya Tolkien

  1. Ren berkata:

    makasiih buat ringkasan ceritanya. cinta beda dunia itu emang tema abadi kayaknya, dibuktikan dengan fenomenal oleh Stephenie Meyer🙂
    nggak sangka kalau ada juga di karya Tolkien selain Aragorn & Arwen. emang hebat banget master Tolkien nih bikin fantasi lengkap dari penciptaan sampai ke keturunan-keturunan paling akhir, apalagi dengan detail tiap karakter

  2. Putri Prihatini berkata:

    Iya, ada beberapa kisah cinta yang cukup spektakuler kok di dalam karya Tolkien. Misalnya, pasangan beda ras lainnya adalah Tuor (Manusia) dan Idril (putri Elf), yang pernikahannya sedikit banyak memicu peristiwa pengkhianatan oleh sepupu Idril dan akhirnya kehancuran kerajaan ayah Idril, Gondolin. Ada juga pernikahan Earendil (anak Tuor dan Idril) dengan Elwing (keturunan Manusia dan Elf), dan mereka ini orangtuanya Elrond. Ada juga kisah cinta yang berakhir ‘spektakuler’ tragisnya, seperti Turin dan Nienor Niniel (yang baru tahu kemudian kalau mereka adik kakak), serta Eol dan Aredhel (yang berakhir dengan Aredhel mati dibunuh Eol secara tidak sengaja dan Eol dieksekusi). Masih ada banyak yang lain yang rugi sekali kalau saya bongkar semua di sini, nanti spoiler🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s