The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi

Shibboleth (noun)

a : a use of language regarded as distinctive of a particular group.
b : a custom or usage regarded as distinguishing one group from others .

Merriam-Webster Online Dictionary

Bahasa adalah hal yang memiliki kekuatan besar; begitu besar sehingga kita mungkin tak merasakannya hanya karena kita menggunakannya setiap hari. Jangankan sepotong kata yang menghilang; perbedaan ejaan yang kedengarannya sepele sekalipun bisa menjadi pemicu untuk berbagai peristiwa penting. J.R.R. Tolkien, seorang filolog yang menekuni bahasa seumur hidupnya, sangat memahami hal ini, sehingga menuangkannya dalam salah satu manuskripnya untuk Middle-earth legendarium, yaitu sebuah esai berjudul The Shibboleth of Fëanor. Tolkien menggambarkan bagaimana perbedaan ejaan atau bunyi yang kedengarannya sepele dapat membuat pihak tertentu merasa terancam, bahkan menggunakannya sebagai upaya membuat klaim politik.  Continue reading “The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi”

Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?

The Silmarillion memberi kita informasi tentang deskripsi tugas para Valar. Banyak dari mereka nampaknya punya definisi yang cukup jelas: Manwë, penguasa angkasa dan udara. Ulmo, penguasa perairan. Yavanna, personifikasi ibu bumi. Namo/Mandos, aulanya menerima jiwa-jiwa mereka yang terbunuh. Tapi dari dulu sampai sekarang, ada satu nama yang menggelitik rasa penasaran saya: Nienna. Wanita yang menangis. Ayolah, pikir saya waktu itu. Apa tugas Valar yang kemampuan istimewanya adalah menangis?

Sekilas memang mudah “menuduh” Nienna sebagai perwujudan stereotip perempuan cengeng; wanita yang deskripsi tugasnya adalah “menangis” dan “berdukacita” tentu kalah keren dibanding para Valar yang deskripsinya terdengar lebih gagah, atau mencerminkan kekuasaan dan kekuatan. Tetapi, kalau Anda sudah baca analisis karakter saya terhadap Finarfin si raja dadakan, Anda akan ingat ini: mengobati atau membangun kembali apa yang sudah hancur, membilas luka yang timbul karena kehancuran, jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Itulah sebabnya, pada akhirnya, Nienna dengan deskripsinya yang sekilas tidak jelas itu memegang peran yang luar biasa.  Continue reading “Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?”

Athrabeth Finrod ah Andreth: Apakah Mereka yang Ingin Abadi Paham Konsekuensinya?

Tanggal 25 Maret, para fans Tolkien di seluruh dunia merayakan Tolkien Reading Day. Saya sudah berpartisipasi tahun lalu dengan artikel bertema Persahabatan. Kini, temanya adalah Kehidupan, Kematian dan Keabadian (Life, Death and Immortality). Untuk saya, tak ada lagi yang lebih pas selain membahas tentang dialog filosofis antar Elf dan Manusia yang mendiskusikan ketiga hal tersebut. Sebagai pencipta dari dunia dan legenda Middle Earth, wajar jika Tolkien juga menginjak ranah pemikiran terkait perbedaan mendasar di antara Elf dan Manusia, sebagai ras yang “dibangkitkan” pertama kali dan selanjutnya.  Continue reading “Athrabeth Finrod ah Andreth: Apakah Mereka yang Ingin Abadi Paham Konsekuensinya?”

‘Law and Custom of the Eldar’: Tentang Tradisi Pernikahan Bangsa Elf

420px-lc4abga_kc4bcavic586a_-_royal_couple

Royal couple: Finarfin and Eärwen by Līga Kļaviņa

Kalau Anda pecinta bangsa Elf dalam karya-karya Tolkien, mungkin penasaran akan banyak hal, salah satunya adalah “bagaimana mereka menikah?” Banyak pasangan Elf terkenal yang pohon keluarganya digambarkan dengan rinci sampai ke anak cucunya yang kesekian, tetapi rincian tradisi pernikahan itu sendiri cenderung absen dari LOTR, The Hobbit, dan The Silmarillion yang akan segera terbit bulan ini. Rasa penasaran akan aspek-aspek yang lebih terperinci dari kehidupan para Elf ini bahkan dituangkan dalam banyak fan fiction, dimana para penulisnya menciptakan sendiri prosesi pernikahan Elf ala mereka.

Kecuali, tentu saja, kalau Anda sudah membaca Morgoth’s RingContinue reading “‘Law and Custom of the Eldar’: Tentang Tradisi Pernikahan Bangsa Elf”

Elsa, Skadi, dan Queen Beruthiel of Gondor: Para Ratu Representasi Musim Dingin

Saya menyukai Frozen karena inilah pertama kalinya karakter ‘Ratu Es’ atau ‘Ratu Salju’ seperti Elsa tidak digambarkan sebagai tokoh antagonis, melainkan tokoh dengan karakteristik yang rumit dan kepribadian yang lebih berlapis ketimbang Anna yang merupakan putri stereotip favorit Disney: karakter putri generik yang “mendapatkan cowok dan hidup bahagia selamanya.” Karakter Elsa memang diambil dari The Snow Queen karya Hans Christian Andersen, yang lebih mirip tokoh abu-abu ketimbang antagonis. Di berbagai karya fiksi, karakter Ratu Es yang kerap digambarkan cantik namun dingin, cerdas, dan tidak terobsesi pada keinginan untuk bersama seorang pria biasanya langsung diasosiasikan dengan tokoh jahat. Menonton Frozen dan melihat Elsa membuat saya teringat pada salah satu tokoh minor dalam legendarium Tolkien, yang memenuhi semua persyaratan untuk menjadi seorang sosok Ratu Es, Queen Berúthiel of Gondor. Walaupun hanya muncul sekilas, karakteristiknya dengan cepat memikat saya karena dalam banyak hal ia mirip karakteristik Ratu Es yang lebih tradisional: sosok cantik nan cerdas namun rumit dan penuh misteri. Asosiasinya bahkan bisa ditarik ke karakter yang lebih kuno lagi: Skadi, Dewi Musim Dingin dalam mitologi Nordik.  Continue reading “Elsa, Skadi, dan Queen Beruthiel of Gondor: Para Ratu Representasi Musim Dingin”