“Selamat, Finarfin, Anda Sekarang Raja!” “…waduh.”


446px-Elena_Kukanova_-_Finarfin

Sketch of Finarfin, oleh Elena Kukanova

Oke, dialog di atas bukan naskah asli yang ditulis Tolkien, dan saya bahkan tidak yakin coretan-coretan draft The Silmarillion beliau mengandung kalimat di atas, dan kalau saya Christopher Tolkien, membikin dialog seperti itu mungkin akan membuat kuping saya disentil oleh bapak saya dari alam kubur. Tapi saya suka membayang-bayangkan itulah yang terjadi saat Finarfin menyadari dia harus memimpin sekelompok kecil rakyat Noldor yang tersisa, di negeri yang tidak jelas nasibnya, sementara sebagian besarnya berangkat berperang dan membunuh rakyat tidak berdosa dalam perjalanan, dengan alasan, ehm, patriotisme.

Yap, di luar komentar umum bahwa Finarfin tidak se”keren” saudara-saudaranya seperti Fëanor atau Fingolfin, Finarfin adalah tokoh yang mencerminkan situasi nyata di dunia kita; tokoh dengan opini yang berlandaskan akal sehat serta belas kasih alih-alih kemarahan serta patriotisme buta, tapi justru malah membuatnya tidak populer dan bahkan dihujat. Padahal, Finarfin adalah tokoh yang memiliki soft strength yang tidak boleh diabaikan. 

Coba kita lihat karakteristik Finarfin. Anak dari Finwë, raja pertama kaum Elf Noldor, dan istri keduanya yang bangsa Vanyar, Indis, Finarfin digambarkan lebih banyak mewarisi sifat-sifat bangsa ibunya yang lebih lembut dan cinta damai, ketimbang bangsa Noldor yang lebih suka perang. Finarfin bahkan menikahi Eärwen, wanita bangsa Teleri yang juga cinta damai dan menyukai laut, nyanyian dan puisi. Dia jadi sering menghabiskan waktu bersama bangsa Teleri, berdialog dan memelajari seni mereka. Dalam banyak hal, dia sangat berbeda dengan Fëanor, walau setia juga pada keluarganya.

420px-Līga_Kļaviņa_-_Royal_Couple

Royal Couple: Finarfin and Eärwen, oleh Liga Marta Klavina

Ketika Melkor menghancurkan Pohon Terpelion dan Laurelin (bisalah dianggap menghancurkan “matahari” dan “bulan” Valinor), mencuri permata Silmaril, dan kebohongannya terungkap, Fëanor dengan berapi-api mengajak rakyat Noldor untuk memburunya hingga ke Middle Earth. Akan tetapi, karena dirinya sempat termakan hasutan Melkor, dia juga berkata bahwa para Valar telah menipu mereka, dan Sumpah Fëanor yang mengerikan pun terucapkan. Intinya, dia dan bangsanya bersumpah untuk menghancurkan siapa saja yang menghalanginya memburu Melkor (yang kemudian dipanggilnya Morgoth), bahkan jika itu sesama kaum Elf atau Valar. Inilah yang membuatnya bangsa Noldor dijatuhi kutukan oleh Mandos, yang tak akan tercabut kecuali jika mereka bertobat.

Apa yang dilakukan Finarfin? Setelah sempat mengikuti Fëanor karena kesetiaan pada kaumnya sekaligus tak mau mengabaikan kaumnya di bawah karisma Fëanor yang berbahaya, dia dan Fingolfin justru berbalik arah ketika menyaksikan kehancuran yang dilakukan saudaranya itu, serta mendengar Kutukan Mandos terhadap bangsa Noldor. Akan tetapi, jika Fingolfin melakukan “perjalanan heroik” lainnya, Finarfin kembali ke Valinor; langkah yang sekilas menunjukkan bahwa dia ingin tetap aman di sana. Tapi coba pertimbangkan ini: Finarfin kembali dengan keyakinan bahwa dirinya dan kaumnya sudah dikutuk. Dia kembali ke Tirion yang telah diabaikan sekitar 90 persen kaumnya. Kedua Pohon Valinor hancur. Ayahnya tewas dibunuh. Setelah kaumnya membunuh kaum istrinya, dia bahkan tidak yakin bagaimana penerimaan sang istri terhadapnya.

Dengan begitu banyak keraguan, Finarfin pun menyadari bahwa dirinya harus menjadi pemimpin bagi kaum di Tirion yang terabaikan. Asumsinya, sebagai anak bungsu, Finarfin mungkin tidak terlalu “dipersiapkan” oleh Finwë untuk memimpin, sebaik sang raja mempersiapkan Fëanor atau Fingolfin, apalagi Fëanor adalah putra kesayangan Finwë. Dalam keadaan seperti itu, Finarfin menemukan bahwa dirinya harus menjadi pemimpin dadakan, sekaligus memikirkan bagaimana cara agar kaum Noldor bisa kembali bersahabat dengan kaum lainnya, yang reputasinya terpuruk setelah kabar tentang apa yang dilakukan Fëanor menyebar. Menghancurkan itu mudah, tapi memulai kembali dari apa yang telah hancur jauh lebih sulit.

Ketika pertama kali membaca The Silmarillion, saya terpesona sekali dengan Fëanor. Karakter seperti itu pasti akan memikat siapa saja. Tapi di dunia nyata? Justru tokoh seperti Finarfin itulah yang ngenes. Ingin melakukan yang benar, tapi banyak dilema batinnya. Dan sialnya, yang begini biasanya kerap dihujat atau diejek lewat jejaring sosial, apalagi kalau pendapatnya tidak populer. Coba saja lihat dalam sejarah, berapa banyak tokoh yang dibunuh justru karena menyuarakan perdamaian dan akal sehat saat pendapat seperti itu tidak populer?

Berhubung saya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk nampak (sok) pintar dalam blog yang cuma setengah serius ini, saya juga ingin bilang kalau apa yang dialami Finarfin mirip seperti yang digambarkan William Edward Du Bois dalam konsep Double Consciousness-nya, dimana konsep ini mengacu pada konflik batin yang dialami orang-orang yang memiliki dua identitas sosial dimana mereka dipaksa untuk menanggalkan salah satunya jika ingin diterima dalam sebuah komunitas.

Du Bois, yang seorang jurnalis, penulis, sosiolog dan juga orang kulit hitam pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Universitas Harvard, menggambarkan konsep ini lewat fenomena yang dialami generasi Afrika-Amerika pertama. Mereka memandang Amerika sebagai tanah air, tetapi perbudakan serta akulturasi budaya secara paksa membuat identitas mereka sebagai orang Afrika dihapus atau diubah sedemikian rupa. Mereka harus menggunakan nama-nama Barat, tidak boleh berbicara dengan bahasa sendiri, tidak boleh menarikan tarian tradisional atau memainkan gendang, dan harus melakukan upacara pernikahan ala Kristiani. Di sisi lain, kaum Afrika-Amerika ini juga mendengar bagaimana masyarakat Amerika mereduksi Afrika, yang kulturnya sangat kaya, menjadi sebuah tanah asing yang rakyatnya “barbar, misterius, mirip binatang, kafir, tidak beradab.” Perasaan bimbang, terasing, teralienasi dan tercabik pun muncul.

Saya suka membayangkan Finarfin mengalami konflik batin serupa; di satu sisi, dia menyayangi dan setia pada kaumnya, termasuk pada kerabat dan keluarga Noldornya. Di sisi lain, dia merasakan kedekatan dan rasa hormat pada kaum Teleri, bahkan menikahi seorang wanita Teleri, namun harus melihat kaum dan kerabatnya sendiri mengambil langkah mengerikan; membantai kaum Teleri yang cinta damai yang menolak membantu Fëanor dan kaum Noldor yang mengikutinya. Konflik batin Finarfin, buat saya, mirip masyarakat Amerika Serikat yang kampanye perdamaian di negara mereka sendiri justru saat anggota masyarakat lainnya banyak mendukung Perang Vietnam atau Perang Irak, dengan alasan patriotisme. Atau orang yang mengecam penindasan kaum minoritas yang dilakukan rekan senegara dengan alasan apapun walaupun konsekuensinya adalah komentar-komentar nyinyir, hujatan dan fitnah.

Intinya, sama seperti Faramir yang sebenarnya diciptakan belakangan namun menjadi semacam refleksi akan perang modern, Finarfin adalah karakter yang melampaui jaman penciptaannya. Dia adalah karakter yang akan selalu ada ketika kemarahan, salah paham dan kebencian buta mewarnai opini populer; karakter yang bertekad melawan semua itu. Dan seandainya Tolkien benar-benar menyelipkan judul nyeleneh di atas sebagai bagian dari dialog dalam The Silmarillion, saya yakin ada banyak makna di balik kata “waduh” itu: bahwa memimpin masyarakat yang jumlahnya tinggal segelintir dan harus membangun kembali sesuatu yang sudah hancur, dengan masa depan tak pasti, plus memperbaiki hubungan dengan kaum yang negerinya porak-poranda karena diserang kaum Finarfin sendiri, jauh lebih susah dari mengajak berperang dengan persediaan senjata mumpuni. Tapi toh dia berhasil. Jadi mungkin kita harus memikirkan ulang kata-kata “some people were born to lead,” dan mempertimbangkan alternatif ini: “leaders are made, often when shit hits the fan.”

692px-Elena_Kukanova_-_Lord_of_the_Third_House_in_Middle-Earth

Lord of the Third House in Middle Earth (Finarfin giving his ring to Finrod), oleh Elena Kukanova

Finrod dan Galadriel, anak-anak Finarfin, turut membantu mendorong berbagai peristiwa penting di Arda, walau mereka sempat mengambil jalan yang berbeda dengan sang ayah. Tanpa bantuan dan pengorbanan Finrod Felagund, permata Silmaril mungkin tak akan bisa direbut dari Melkor, dan Beren serta Luthien juga tak akan pernah bisa bersatu, hingga menurunkan tokoh-tokoh penting di Jaman Ketiga. Tanpa Galadriel, berbagai peristiwa di Jaman Ketiga yang berujung pada dihancurkannya Cincin Kekuatan mungkin akan berakhir berbeda, malah mungkin lebih suram. Anak-anak Finarfin kerap menjalin aliansi dan persahabatan, mengembalikan reputasi dan harga diri kaum Noldor yang sempat tercoreng karena pilihan mengerikan yang kaum mereka ambil. Bisa dibilang “warisan” Finarfin jauh melampaui jamannya.

Inilah karakter Finarfin yang sesungguhnya: advokat bagi akal sehat dan rasionalitas di masa dimana opini macam itu bukan hanya tak populer, tetapi juga membahayakan. Rela mengambil tugas tak enak yaitu mengambil-alih kepemimpinan di negeri yang tak jelas masa depannya, hingga berhasil mengembalikan reputasi kaumnya yang sempat tercoreng.

Sumber:

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: HarperCollins.

Tolkien, J.R.R. (1993). Christopher Tolkien, ed. Morgoth’s Ring. Britain: HarperCollins.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s