Comparing the Indonesian Edition Covers of Lord of the Rings

Gramedia Pustaka Utama, a Jakarta-based publisher, has announced the republication of Indonesian edition of Lord of the Rings on 29 August 2016. The books have new covers like these:

14055135_10154480553244923_2382675065715214872_n

14045972_10154480553234923_3888871056673193963_n

13906635_10154480553229923_4558762249632079432_n

As you can see, the covers clearly cater to movie fans, using movie imagery as the base of the illustrations. When the new covers had been announced a couple of weeks earlier, comments were kinda mixed. Some are pleased with the new covers, which understandably look simpler but fresh, bright, and eye-catching. I even saw someone commented about how The Return of the King cover reminded him of some kind of samurai-themed novel. Others are not so pleased with the fact that, well, they are movie-based (although I have to say, these new covers are much more pleasant than the ones with actual movie stills as covers, republished several years earlier).

As for me, well, there are things that I like and don’t like about the new covers. Things I like: they are bright, colorful without being tacky, fresh-looking, have “contemporary” visual, and will definitely catch the eyes of younger readers quickly. Things I don’t like: well, I think new covers could have been an opportunity to display artworks by popular Tolkien illustrators. I mean, look at my versions of Indonesian edition:

old cover

These are the first Indonesian editions of Lord of the Rings, published in 2002. The covers use illustrations by John Howe, an artist who has illustrated numerous Tolkien books and calendars, including the translated versions. So based on this, I think it’s still plausible to buy illustrations from another Tolkien-related artists, although this is obviously not my decision to make (and I have no idea how the publisher acquire illustrations for covers, so it’s definitely just a personal opinion). But what I like about these illustrations is the “classic” image look, which befits a fantasy fiction story, and they’re definitely better than LOTR books that used movie stills, which were republished several years later.

The same goes with The Hobbit. Near the time when The Hobbit movie was released, Gramedia republished Hobbit novel, but using movie still imagery like this:

book the hobbit j.r.r. tolkien a major motion picture gm www.infosinema.com scan cover

Which is why I’m glad that I bought the first Indonesian edition of The Hobbit, published in 2002 by the same publisher, using the colored dragon illustration made by J. R. R. Tolkien himself. In the original drawing, there is a monogram that reads “Conversation with Smaug,” but it is not used in the cover. This is also the same cover with the first American edition.

10168028_10204130819605580_83968157970037726_n

Of course, I don’t overlook the fact that most Tolkien readers in Indonesia got exposed to Tolkien through Peter Jackson’s movies. With the hype of The Hobbit movies (and the hot actors in them, of course) still rather fresh in mind, the publisher needs precise way to attract young readers when they visit the bookstores. Therefore, I think choosing movie-based imagery is the logical choice here.

Extra info: according to Poppy D. Chusfani, Gramedia editor and translator and also admin of Indonesian Tolkien Society, there was an Indonesian version of The Hobbit published in 1977. It is very rare now, and she still has no idea who was the original illustrator for the cover, which kinda reminds me of local folklore books popular in the 90’s (I remember reading a bunch of those books at my elementary school library). The book looks like this:

hobbit

Conclusion? I think the new covers are great in their own ways, and surely better than simply using movie stills as covers. They are also great to attract even more young readers to read Tolkien. However, if personal opinion counts, I will just stick to the 2002 editions for the Indonesian edition of LOTR and The Hobbit.

“Ini Bukan Eat, Pray, Love”: Reportase Suki Kim di Korea Utara, dan Masalah Setelahnya

Catatan: Saya menemukan artikel ini di situs New Republic tanggal 27 Januari 2016 dengan judul The Reluctant Memoirist. Artikel ini berkisah tentang jurnalis dan novelis Amerika berdarah Korea Selatan, Suki Kim, yang melakukan jurnalisme investigasi di Korea Utara, membawa hasilnya pulang untuk dibuat buku berjudul Without You, There Is No Us: My Time with the Sons of North Korea’s Elite. Akan tetapi, kisahnya tidak berjalan mulus justru ketika dia berurusan dengan penerbitnya di Amerika. Plus, dia harus berhadapan dengan keadaan tak mengenakkan akibat statusnya sebagai jurnalis wanita kulit berwarna. Menurut saya sangat menarik, jadi saya putuskan untuk menerjemahkannya di sini, seperti yang pernah saya lakukan pada wawancara Tolkien dengan The Telegraph. Tautan ke artikel asli saya sertakan di akhir.

Artikel oleh Suki Kim.

Ilustrasi oleh Dadu Shin.

sukikim

Saat itu bulan Desember di Miami. Aku sedang menjadi panelis di pameran buku internasional, ketika aku mencoba menyusun kepingan-kepingan peristiwa yang telah membuatku terdampar di tempat yang tak seharusnya.

Aku memikirkan ketiga penulis yang duduk di sampingku; tiga wanita yang menulis memoar tentang tempat-tempat yang dekat di hati mereka–kisah tentang kehilangan, keluarga, pencapaian diri. Pertanyaan-pertanyaan dari para pengunjung kepada mereka, yang kebanyakan juga wanita, semua berkisar soal perkembangan dan kesadaran emosional. Bagaimana perasaan kita tentang perjalanan spiritual yang telah mereka lalui? Pelajaran apa yang bisa kita ambil?

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Alasannya sederhana: bukuku bukan memoar. Sebagai jurnalis investigasi, aku telah meneliti dan mengunjungi Korea Utara selama satu dekade. Pada tahun 2011, berbekal kontrak penulisan buku, aku menyamar sebagai guru ESL di universitas evangelis di Pyongyang. 270 orang mahasiswaku–para elit Korea Utara, anak-anak pejabat tinggi–sedang dididik untuk menghadapi perubahan rejim yang akan segera terjadi di bawah pemerintahan Kim Jong-un.

Sebagai negara penjara virtual, Korea Utara adalah tempat dimana jurnalisme hampir mustahil dilakukan. Bicara dengan penduduk hanya akan membuatmu mendengar kalimat-kalimat dari partai, dan kebanyakan informasi tentang Korea Utara berasal dari jurnalis Barat, yang entah sekadar mampir ke negara tersebut untuk junket pers singkat, atau merekam dan mengepak ulang informasi sepotong-sepotong yang tidak diverifikasi dari para pembelot. Lahir dan dibesarkan di Korea Selatan, aku akrab dengan bahasa dan budaya Korea, yang membuatku mampu memahami apa yang tersirat di bawah permukaan, tanpa upaya sensor dari penerjemah resmi.

Selama mengajar, aku tinggal di sebuah lokasi terkunci dengan pengawasan ketat. Setiap ruang disadap, setiap kelas direkam. Aku harus buru-buru mencatat setiap percakapan dan menyembunyikannya di antara lembar-lembar program kuliah. Aku mengetik di malam hari, menghapus tiap salinan dari laptopku, menyimpan semuanya di USB sticks yang kutenteng setiap hari. Aku menyalin data cadangan dalam SD card, yang rutin kusembunyikan di tempat-tempat berbeda dalam kamar, selalu dalam keadaan lampu dimatikan, siapa tahu ada kamera pengawas. Setelah enam bulan, aku pulang dengan 400 halaman catatan, dan mulai menulis.

Saat mengenang situasi pelik yang menakutkan di masa lalu, orang kadang bisa dengan tepat menandai saat-saat ketika semuanya berantakan. Sepanjang investigasiku selama satu dekade, aku selalu takut hal yang sama akan terjadi padaku di Korea Utara, dimana aku tak akan punya kendali akan nasibku. Akan tetapi, saat-saat itu justru terjadi di New York, ketika aku akhirnya menyelesaikan nasibku. Enam bulan sebelum penerbitan, editorku mengirim desain sampul bukuku. Sesuatu menarik perhatianku. Di bawah judul Without You, There Is No Us: My Time with the Sons of North Korea’s Elite, ada kata-kata ini: Sebuah Memoar.

Aku segera mengirim surel ke editorku. “Aku tidak nyaman dengan bukuku disebut memoar,” kataku. “Menyebutnya memoar mengecilkan makna penyelidikanku.” Kata memoar menganduk makna memori–masalah yang tak terpecahkan di masa lalu, yang dikaji lewat pengalaman pribadi penulisnya. Bukuku, walaupun di beberapa bagian berkesan personal, adalah tulisan naratif tentang sebuah laporan jurnalistik. Aku tidak sekadar menyampaikan pandanganku terhadap dunia. Aku melaporkan bagaimana rasanya hidup bersama pihak lain.

Editorku bergeming. Dia melihat bukuku ditulis dari sudut pandang orang pertama–metode yang sudah digunakan oleh banyak jurnalis–untuk membentuk kerangka naratif untuk laporanku. Menurutnya, menyebutnya jurnalisme akan menyempitkan potensi jumlah pembacanya. Waktu itu aku belum tahu kalau keputusan ini sepenuhnya soal pemasaran. Baru kemudian aku tahu kalau memoar cenderung lebih laris dibanding jurnalisme investigasi.

Aku masih berkeras. “Ini bukan Eat, Pray, Love,” tukasku pada editor dan agenku lewat telepon.

“Maumu begitu,” agenku tertawa.

Di situlah masalahnya. Aku tidak mau bukuku menjadi Eat, Pray, Love. Sebagai satu-satunya jurnalis yang pernah hidup menyamar di Korea Utara, aku mengambil risiko dipenjara karena menceritakan kisah penting bagi dunia internasional lewat satu-satunya cara yang mungkin. Melabeli bukuku sebagai kisah personal dan bukan profesional–memasarkanku sebagai wanita yang melakukan perjalanan untuk menemukan jati diri dan bukannya jurnalis dengan tugas mahapenting–berarti melucuti statusku sebagai ahli dalam subyek yang kukenal. Kelihatannya sepele, tetapi hal ini terasa familiar bagi semua wanita yang memiliki karir profesional. Aku digeser dari posisi sebagai pemegang kewenangan (Apa yang Kau Ketahui?) menjadi seseorang yang emosional (Bagaimana Perasaanmu?).

Jelas sudah, itu adalah perang yang tak bisa kumenangkan, jadi aku menyerah. Isi bukuku yang penting, aku meyakinkan diriku. Tidak peduli bagaimanapun labelnya, hasil reportaseku yang akan bercerita.

*****

Menjelang penerbitan, aku sangat gugup. Universitas evangelis di Korea Utara mengirimiku surel mengancam, menuntutku menyerahkan naskahku dan membatalkan penerbitan. Itu tidak aneh. Jurnalis investigasi yang menyamar demi mendapat akses ke berbagai institusi yang terlarang bagi penduduk sipil–seperti penjara dan rumah sakit jiwa–tidak akan mendapat sambutan hangat dari institusi yang mereka susupi. Organisasi evangelis ingin melindungi koneksinya dengan rejim Korea Utara serta para calon pemimpinnya. Tapi aku memasuki negara itu dengan nama asliku, dan mendapat pekerjaan mengajar berdasarkan kualifikasi asliku.

Kode Etik Society of Professional Journalists menyatakan bahwa jurnalis harus “menghindari penyamaran atau metode tersembunyi lainnya dalam rangka mengumpulkan informasi, kecuali jika metode terbuka atau tradisional tidak akan memberikan informasi vital untuk publik.” Susah membayangkan informasi yang lebih vital dari Korea Utara, yang serba rahasia sekaligus memiliki senjata nuklir. Tentang pelanggarannya terhadap hak asasi manusia, PBB menyatakan bahwa “negara tersebut tidak ada kesamaannya dengan dunia kontemporer.” Kekuatiran utamaku adalah terhadap para mahasiswaku, dan aku memastikan untuk mengikuti semua praktik jurnalisme yang diakui, untuk menghindarkan mereka dari ancaman.

Akan tetapi, ketika bukuku diterbitkan pada tahun 2014, komentar sumir bukan datang dari Korea Utara, tetapi dari sumber yang sama sekali tak kuduga: para jurnalis lainnya. Ketika penerbitku mulai mempromosikan bukuku, beberapa jurnalis mengecamku di internet. Mereka menyebutku “tidak jujur” karena menyamar. Mereka mengecamku sebagai “orang egois” yang menggunakan akses ke universitas untuk menulis “memoar tentang eksploitasi hubungan rahasia (kiss-and-tell).” Mereka menuduhku “menempatkan sumberku dalam bahaya,” tapi tanpa bukti apapun. Di mata mereka, aku adalah penulis memoar yang ikut-ikutan tren jurnalisme. Seorang guru sekolah Korea yang menjual murid-muridnya demi uang cepat.

Serangan-serangan itu kebanyakan mengabaikan inti tulisanku–hasil investigasiku–dan berfokus pada metodeku. “Apa yang dilakukannya bukan hal baru,” tulis salah satu cuitan yang dialamatkan padaku. “Dia berbohong dan membahayakan hidup orang lain demi keuntungan finansia.” Ketika aku diwawancari radio BBC, si pembawa acara membacakan keras-keras surat kecaman yang mereka peroleh dari universitas di Korea Utara, dan menuduhku membahayakan pihak yang mempekerjakanku. Dalam diskusi Facebook, orang-orang menuduhku pergi ke Korea Utara semata untuk “mendapat pengalaman dan meraih uang cepat dari menulis buku,” yang mungkin terkait fakta bahwa bukuku masuk daftar buku terlaris New York Times. Kotak surelku mulai dibanjiri pesan-pesan dari orang yang tak kukenal: “Kau tidak tahu malu, menempatkan orang-orang tak bersalah dalam bahaya demi kepentingan pribadi.” Suatu pagi, aku dibangunkan oleh pesan Twitter yang berbunyi “persetan kau.”

Ketika Kirkus menerbitkan ulasan pertama untuk bukuku, aku terkejut ketika melihat kata-kata menipu (deceive)” dan “kebohongan (deception)” disebut tiga kali dalam paragraf pertama. Chicago Tribune mempertanyakan etikaku: “Bukunya menimbulkan berbagai pertanyaan sulit tentang apakah informasi ini seharga dengan risiko besar yang dialami para individu tak bersalah, yang tak seorangpun mengetahui alasannya berada di sana.” Los Angeles Review of Books bahkan berpendapat lebih jauh: “Ketidakjujurannya telah membuatnya rentan terhadap kritik, dan seharusnya demikian. Aspek etika dari pilihannya menimbulkan keraguan terhadap kredibilitasnya (bahaya lain dari karya memoar), dan ketakutannya akan ditemukan telah mewarnai kesan dan deskripsinya dengan paranoia dan kejijikan.”

Bukuku diabaikan dari segi berbagai unsur yang biasanya mendatangkan penghargaan bagi catatan naratif jurnalisme investigasi. Ketika Ted Conover, penulis buku pemenang penghargaan Newjack, menyamar sebagai sipir untuk menyelidiki sistem penjara, dia dipuji oleh New York Times, yang menyebutnya “menggali lebih dalam dari permukaan,” dan “sungguh-sungguh menyelidiki.” Barbara Ehrenreich, penulis buku laris Nickel and Dimed, dipuji karena penulisnya menyamar sebagai pramusaji, pembantu hotel, dan staf penjualan, demi menyingkap kondisi kehidupan masyarakat miskin. Di kalangan jurnalis, tugas menyamar biasanya dianggap sebagai lencana kehormatan, bukan lambang memalukan. (Keliru mengategorikan bukuku sebagai memoar jelas membuatnya terdiskualifikasi dari penghargaan jurnalisme apapun).

Kecaman itu berimbas hingga ke luar lingkaran media. Di setiap acara promosi bukuku, aku selalu melihat paling tidak satu orang–seringkali berkulit putih, pria, dan kasar–yang mengangkat tangan dan menantang isi bukuku. Kata-katanya selalu mirip: dia sudah pernah ke Korea Utara, atau kenal seseorang yang pernah ke sana, dan tidak seburuk atau seberbahaya yang kukatakan, jadi kenapa aku berbohong dan membahayakan orang lain hanya untuk menjual buku?

Pola kecaman semacam itu membuatku termenung. Kenapa orang-orang ini, yang tidak pernah punya pengalaman hidup di Korea Utara, merasa berhak mengabaikan reportaseku dan malah mati-matian membela salah satu diktator paling haus darah di muka bumi? Bukuku sepertinya entah bagaimana membuat mereka sakit hati. Mungkin karena kebanggaan mereka sebagai pria terusik; perasaan bahwa mereka ahli dalam masalah dunia, walaupun kenyataannya tidak. Mungkin mereka merasa terusik karena diangkap rekan sekongkol Korea Utara, dan mengubah rasa bersalah itu menjadi penyangkalan, sebuah naluri bertahan hidup mendasar. Apapun motifnya, mereka merasa perlu mengangkat nilai diri mereka terhadapku. Beberapa bahkan menganggapku, seorang wanita Korea Selatan, sebagai seseorang yang sekadar “pulang” ke Korea Utara. Bagi mereka, aku tidak menyamar, yang merupakan cara lain untuk menyebut bahwa bukuku adalah catatan personal, dan tidak memiliki unsur kewenangan apapun.

*****

Hanya ada dua jenis buku di Korea Utara: buku-buku yang ditulis jurnalis kulit putih di bawah pengawasan negara, dan “memoar” yang konon berdasarkan cerita para pembelot. Hirarki intelektual yang tergambar di sana sangat jelas–otoritas adalah milik orang kulit putih. Orientalisme berkuasa.

Bagiku, tindakan pengabaian sistematis terhadap area keahlianku telah dipompa oleh New York Times. Bukan soal ulasan negatifnya yang menggangguku, tetapi proses pemilihan pengulas bukunya, yang merupakan mantan kolumnis TV Korea, yang satu-satunya karya nonfiksinya hanyalah soal budaya pop Korea Selatan. Selain etnisnya, sulit memahami mengapa si editor menganggap bahwa pakar budaya pop memiliki kualifikasi untuk mengulas karya investigasi serius tentang pemerintahan diktator. Tapi aku tidak terkejut, karena setiap kali aku  diminta surat kabar ternama untuk mengulas buku, buku itu hampir pasti karya penulis Asia, lepas dari isinya.

Sebagai wanita Asia, aku sering melihat orang yang tak percaya kalau aku adalah jurnalis investigasi. Kalaupun aku bilang, mereka seringkali cepat lupa. Setelah menghabiskan masa kanak-kanak di Amerika tanpa berbicara bahasa Inggris, aku tahu rasanya menjadi bisu; aksenku sering membuat orang mengira aku bodoh. Aku pandai menghilang, tapi aku tahu kesan lemah itu dapat menjadi keuntungan. Semakin kau dianggap tidak mengancam, semakin ceroboh orang-orang mengungkapkan rahasianya padamu, yang membuatku mudah menyusup ke dalam sebuah lingkungan tanpa menyolok. Dalam Slouching Towards Bethlehem, Joan Didion mengungkapkan hal yang sama: “Satu-satunya keuntunganku sebagai reporter adalah aku bertubuh mungil, temperamenku tenang, dan bicaraku kurang lancar, sehingga orang-orang kerap lupa bahwa keberadaanku sebenarnya merugikan mereka.”

Diskriminasi gender seperti itu bisa berdampak positif atau negatif. Kebanyakan orang dengan siapa aku berinteraksi sebagai reporter adalah pria, dan pria suka menjelaskan hal-hal pada wanita. Jadi kubiarkan. Aku mendengarkan dengan seksama. Aku tak pernah bicara tentang diriku sendiri karena aku memang serba rahasia, dan juga karena aku sangat tertarik pada setiap detail yang mereka sampaikan. Bagaimanapun juga, mereka bagian dari pekerjaanku.

Aku baru-baru ini bicara dengan Nicole LeBlanc, penulis Random Family, yang mengisahkan kehidupan keluarga orangtua tunggal di Bronx selama satu dekade. Dia memberitahuku bahwa ketika bukunya diterbitkan, yang mendapat penghargaan lebih adalah ikatan emosional yang dibaginya  dengan para subyeknya, bukan reportasenya yang terperinci. “Seandainya aku menulis buku yang sangat mendetail tentang hidup bersama para tentara, pekerjaan yang sesungguhnya baru akan dipuji.” Tetapi, dia juga percaya bahwa jurnalisme yang baik menggabungkan otak dengan hati. “Aku tidak bisa membayangkan menulis reportase seandainya aku bukan wanita. Kau adalah dirimu, dan itu termasuk saat kau bertugas.”

*****

Aku ingin bisa bilang bahwa aku menerima reaksi terhadap bukuku dengan ringan; bahwa aku berhasil merespon setiap tuduhan dengan sabar, bahwa aku memahami sebabnya.

Tapi aku tidak bisa.

Kemarahan yang kurasakan melebihi emosi apapun yang pernah kualami, seolah aku telah mehanannya sejak lama, bukan sepanjang satu tahun tur bukuku yang kebanyakan kuhabiskan di kamar hotel yang suram sambil menenggak anggur murahan dari bar mini, melainkan sejak aku tiba di Amerika pertama kali sebagai orang asing berusia 13 tahun, bisu dan tak berdaya. Di komplek kumuh kaum imigran, aku belajar bahwa di rumah adopsiku, kulitku dideskripsikan sebagai “kuning,” kulit yang warnanya sama dengan bunga forsythia yang tumbuh di sekitar rumah masa kecilku di Korea Selatan. Setelah bertahun-tahun, rasanya seolah semua pencapaianku tak berarti. Aku masih gadis kecil itu. Dan sekarang, gadis yang sama ini bukannya bisu, tetapi dibisukan.

Ketika aku berjuang dengan segala perasaanku ini, aku melihat bahwa kemarahanku sesungguhnya adalah apa yang mendorongku untuk menulis: untuk meredakan gejolak dalam diriku, yang terasa setiap kali aku menghadapi halaman kosong, memanggil-manggil hati yang merasa takut terhadap dunia luar. Ketika aku tidur, aku jarang bermimpi; aku sendirian dalam kegelapan, dan di tepi kesadaranku, lolongan tangis tertahan dari dunia luar menyeruak. Dengan caraku sendiri, aku menulis untuk memahami dunia yang menakutkan ini, dari dalam ke luar, dan untuk menyelamatkan hidup, hidupku sendiri dan orang lain. Inilah sebabnya aku menyusup ke Korea Utara; karena aku tidak bisa tenang karena ketidakadilan yang menimpa 25 juta orang tak berdaya, yang terperangkap dalam gulag modern yang masih menjadi bagian dari masyarakat kita. Meremehkan laporanku yang terperinci adalah gejala yang kutakuti pada Amerika.

Aku memahami ironinya setelah menggali ingatanku untuk memahami apa yang menjadikan karyaku sebuah memoar. Bukuku adalah tentang Korea Utara, tapi tulisan di dalamnya adalah tentangku, dan bagiku, tak ada yang lebih memalukan daripada obsesi berlebihan terhadap diri sendiri. Aku di sini bercerita pada Anda, para pembaca, untuk meminta pengakuan. Aku jurnalis investigasi, tolong anggap aku serius. Aku telah disingkirkan dari dunia eksklusif kaum jurnalis; pada akhirnya, kemarahanku adalah reaksi dari hal itu. Sebagai wanita kulit berwarna yang memasuki profesi yang masih didominasi pria kulit putih, aku kerap terpaksa menulis topik yang bukan pilihanku sendiri atau untuk meneliti kompleksitas dunia, melainkan sebagai cara untuk memeroleh pengakuan.

Suki Kim adalah editor kontributor untuk New Republic, jurnalis investigasi, dan novelis. Buku larisnya adalah narasi nonfiksi berjudul Without You, There Is No Us: My Times with the Sons of North Korea’s Elite, mengisahkan pengalamannya menyamar di Pyongyang di antara para calon pemimpin Korea Utara. Artikel asli bisa dibaca di sini.

“Selamat, Finarfin, Anda Sekarang Raja!” “…waduh.”

446px-Elena_Kukanova_-_Finarfin

Sketch of Finarfin, oleh Elena Kukanova

Oke, dialog di atas bukan naskah asli yang ditulis Tolkien, dan saya bahkan tidak yakin coretan-coretan draft The Silmarillion beliau mengandung kalimat di atas, dan kalau saya Christopher Tolkien, membikin dialog seperti itu mungkin akan membuat kuping saya disentil oleh bapak saya dari alam kubur. Tapi saya suka membayang-bayangkan itulah yang terjadi saat Finarfin menyadari dia harus memimpin sekelompok kecil rakyat Noldor yang tersisa, di negeri yang tidak jelas nasibnya, sementara sebagian besarnya berangkat berperang dan membunuh rakyat tidak berdosa dalam perjalanan, dengan alasan, ehm, patriotisme.

Yap, di luar komentar umum bahwa Finarfin tidak se”keren” saudara-saudaranya seperti Fëanor atau Fingolfin, Finarfin adalah tokoh yang mencerminkan situasi nyata di dunia kita; tokoh dengan opini yang berlandaskan akal sehat serta belas kasih alih-alih kemarahan serta patriotisme buta, tapi justru malah membuatnya tidak populer dan bahkan dihujat. Padahal, Finarfin adalah tokoh yang memiliki soft strength yang tidak boleh diabaikan.

Coba kita lihat karakteristik Finarfin. Anak dari Finwë, raja pertama kaum Elf Noldor, dan istri keduanya yang bangsa Vanyar, Indis, Finarfin digambarkan lebih banyak mewarisi sifat-sifat bangsa ibunya yang lebih lembut dan cinta damai, ketimbang bangsa Noldor yang lebih suka perang. Finarfin bahkan menikahi Eärwen, wanita bangsa Teleri yang juga cinta damai dan menyukai laut, nyanyian dan puisi. Dia jadi sering menghabiskan waktu bersama bangsa Teleri, berdialog dan memelajari seni mereka. Dalam banyak hal, dia sangat berbeda dengan Fëanor, walau setia juga pada keluarganya.

420px-Līga_Kļaviņa_-_Royal_Couple

Royal Couple: Finarfin and Eärwen, oleh Liga Marta Klavina

Ketika Melkor menghancurkan Pohon Terpelion dan Laurelin (bisalah dianggap menghancurkan “matahari” dan “bulan” Valinor), mencuri permata Silmaril, dan kebohongannya terungkap, Fëanor dengan berapi-api mengajak rakyat Noldor untuk memburunya hingga ke Middle Earth. Akan tetapi, karena dirinya sempat termakan hasutan Melkor, dia juga berkata bahwa para Valar telah menipu mereka, dan Sumpah Fëanor yang mengerikan pun terucapkan. Intinya, dia dan bangsanya bersumpah untuk menghancurkan siapa saja yang menghalanginya memburu Melkor (yang kemudian dipanggilnya Morgoth), bahkan jika itu sesama kaum Elf atau Valar. Inilah yang membuatnya bangsa Noldor dijatuhi kutukan oleh Mandos, yang tak akan tercabut kecuali jika mereka bertobat.

Apa yang dilakukan Finarfin? Setelah sempat mengikuti Fëanor karena kesetiaan pada kaumnya sekaligus tak mau mengabaikan kaumnya di bawah karisma Fëanor yang berbahaya, dia dan Fingolfin justru berbalik arah ketika menyaksikan kehancuran yang dilakukan saudaranya itu, serta mendengar Kutukan Mandos terhadap bangsa Noldor. Akan tetapi, jika Fingolfin melakukan “perjalanan heroik” lainnya, Finarfin kembali ke Valinor; langkah yang sekilas menunjukkan bahwa dia ingin tetap aman di sana. Tapi coba pertimbangkan ini: Finarfin kembali dengan keyakinan bahwa dirinya dan kaumnya sudah dikutuk. Dia kembali ke Tirion yang telah diabaikan sekitar 90 persen kaumnya. Kedua Pohon Valinor hancur. Ayahnya tewas dibunuh. Setelah kaumnya membunuh kaum istrinya, dia bahkan tidak yakin bagaimana penerimaan sang istri terhadapnya.

Dengan begitu banyak keraguan, Finarfin pun menyadari bahwa dirinya harus menjadi pemimpin bagi kaum di Tirion yang terabaikan. Asumsinya, sebagai anak bungsu, Finarfin mungkin tidak terlalu “dipersiapkan” oleh Finwë untuk memimpin, sebaik sang raja mempersiapkan Fëanor atau Fingolfin, apalagi Fëanor adalah putra kesayangan Finwë. Dalam keadaan seperti itu, Finarfin menemukan bahwa dirinya harus menjadi pemimpin dadakan, sekaligus memikirkan bagaimana cara agar kaum Noldor bisa kembali bersahabat dengan kaum lainnya, yang reputasinya terpuruk setelah kabar tentang apa yang dilakukan Fëanor menyebar. Menghancurkan itu mudah, tapi memulai kembali dari apa yang telah hancur jauh lebih sulit.

Ketika pertama kali membaca The Silmarillion, saya terpesona sekali dengan Fëanor. Karakter seperti itu pasti akan memikat siapa saja. Tapi di dunia nyata? Justru tokoh seperti Finarfin itulah yang ngenes. Ingin melakukan yang benar, tapi banyak dilema batinnya. Dan sialnya, yang begini biasanya kerap dihujat atau diejek lewat jejaring sosial, apalagi kalau pendapatnya tidak populer. Coba saja lihat dalam sejarah, berapa banyak tokoh yang dibunuh justru karena menyuarakan perdamaian dan akal sehat saat pendapat seperti itu tidak populer?

Berhubung saya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk nampak (sok) pintar dalam blog yang cuma setengah serius ini, saya juga ingin bilang kalau apa yang dialami Finarfin mirip seperti yang digambarkan William Edward Du Bois dalam konsep Double Consciousness-nya, dimana konsep ini mengacu pada konflik batin yang dialami orang-orang yang memiliki dua identitas sosial dimana mereka dipaksa untuk menanggalkan salah satunya jika ingin diterima dalam sebuah komunitas.

Du Bois, yang seorang jurnalis, penulis, sosiolog dan juga orang kulit hitam pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Universitas Harvard, menggambarkan konsep ini lewat fenomena yang dialami generasi Afrika-Amerika pertama. Mereka memandang Amerika sebagai tanah air, tetapi perbudakan serta akulturasi budaya secara paksa membuat identitas mereka sebagai orang Afrika dihapus atau diubah sedemikian rupa. Mereka harus menggunakan nama-nama Barat, tidak boleh berbicara dengan bahasa sendiri, tidak boleh menarikan tarian tradisional atau memainkan gendang, dan harus melakukan upacara pernikahan ala Kristiani. Di sisi lain, kaum Afrika-Amerika ini juga mendengar bagaimana masyarakat Amerika mereduksi Afrika, yang kulturnya sangat kaya, menjadi sebuah tanah asing yang rakyatnya “barbar, misterius, mirip binatang, kafir, tidak beradab.” Perasaan bimbang, terasing, teralienasi dan tercabik pun muncul.

Saya suka membayangkan Finarfin mengalami konflik batin serupa; di satu sisi, dia menyayangi dan setia pada kaumnya, termasuk pada kerabat dan keluarga Noldornya. Di sisi lain, dia merasakan kedekatan dan rasa hormat pada kaum Teleri, bahkan menikahi seorang wanita Teleri, namun harus melihat kaum dan kerabatnya sendiri mengambil langkah mengerikan; membantai kaum Teleri yang cinta damai yang menolak membantu Fëanor dan kaum Noldor yang mengikutinya. Konflik batin Finarfin, buat saya, mirip masyarakat Amerika Serikat yang kampanye perdamaian di negara mereka sendiri justru saat anggota masyarakat lainnya banyak mendukung Perang Vietnam atau Perang Irak, dengan alasan patriotisme. Atau orang yang mengecam penindasan kaum minoritas yang dilakukan rekan senegara dengan alasan apapun walaupun konsekuensinya adalah komentar-komentar nyinyir, hujatan dan fitnah.

Intinya, sama seperti Faramir yang sebenarnya diciptakan belakangan namun menjadi semacam refleksi akan perang modern, Finarfin adalah karakter yang melampaui jaman penciptaannya. Dia adalah karakter yang akan selalu ada ketika kemarahan, salah paham dan kebencian buta mewarnai opini populer; karakter yang bertekad melawan semua itu. Dan seandainya Tolkien benar-benar menyelipkan judul nyeleneh di atas sebagai bagian dari dialog dalam The Silmarillion, saya yakin ada banyak makna di balik kata “waduh” itu: bahwa memimpin masyarakat yang jumlahnya tinggal segelintir dan harus membangun kembali sesuatu yang sudah hancur, dengan masa depan tak pasti, plus memperbaiki hubungan dengan kaum yang negerinya porak-poranda karena diserang kaum Finarfin sendiri, jauh lebih susah dari mengajak berperang dengan persediaan senjata mumpuni. Tapi toh dia berhasil. Jadi mungkin kita harus memikirkan ulang kata-kata “some people were born to lead,” dan mempertimbangkan alternatif ini: “leaders are made, often when shit hits the fan.”

692px-Elena_Kukanova_-_Lord_of_the_Third_House_in_Middle-Earth

Lord of the Third House in Middle Earth (Finarfin giving his ring to Finrod), oleh Elena Kukanova

Finrod dan Galadriel, anak-anak Finarfin, turut membantu mendorong berbagai peristiwa penting di Arda, walau mereka sempat mengambil jalan yang berbeda dengan sang ayah. Tanpa bantuan dan pengorbanan Finrod Felagund, permata Silmaril mungkin tak akan bisa direbut dari Melkor, dan Beren serta Luthien juga tak akan pernah bisa bersatu, hingga menurunkan tokoh-tokoh penting di Jaman Ketiga. Tanpa Galadriel, berbagai peristiwa di Jaman Ketiga yang berujung pada dihancurkannya Cincin Kekuatan mungkin akan berakhir berbeda, malah mungkin lebih suram. Anak-anak Finarfin kerap menjalin aliansi dan persahabatan, mengembalikan reputasi dan harga diri kaum Noldor yang sempat tercoreng karena pilihan mengerikan yang kaum mereka ambil. Bisa dibilang “warisan” Finarfin jauh melampaui jamannya.

Inilah karakter Finarfin yang sesungguhnya: advokat bagi akal sehat dan rasionalitas di masa dimana opini macam itu bukan hanya tak populer, tetapi juga membahayakan. Rela mengambil tugas tak enak yaitu mengambil-alih kepemimpinan di negeri yang tak jelas masa depannya, hingga berhasil mengembalikan reputasi kaumnya yang sempat tercoreng.

Sumber:

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: HarperCollins.

Tolkien, J.R.R. (1993). Christopher Tolkien, ed. Morgoth’s Ring. Britain: HarperCollins.

Tentang Naga-naga Middle Earth: Lebih dari Sekadar “Monster”

738px-j-r-r-_tolkien_-_dragon

Ilustrasi naga oleh J. R. R. Tolkien, dibuat sekitar tahun 1927/1928

Naga adalah makhluk yang muncul di berbagai cerita rakyat dan mitologi, namun sebagai orang Timur, saya tumbuh dengan dua macam naga dalam cerita-cerita rakyat dan fantasi yang saya baca: yang satu naga-naga Timur yang menyimbolkan kebijaksanaan, kesuburan serta berbagai kualitas positif lainnya, dan yang satu lagi naga-naga dari kisah-kisah Barat yang membakar desa, menculik putri raja, membunuh manusia dengan napas apinya, dan akhirnya dibunuh sang pahlawan. Jadi, saya agak geli sekaligus takjub ketika membaca The Hobbit untuk pertama kalinya dan melihat deskripsi Smaug, serta adegan percakapannya dengan Bilbo, yang rasanya “kok bukan naga banget.”

Ini bisa dipahami kalau kita menelisik naga-naga yang diciptakan Tolkien sebagai bagian dari Middle Earth legendarium. Sesuai dengan embel-embel legendarium tersebut, Tolkien menciptakan sebuah dunia dimana legenda memiliki legenda, dan berbagai tokoh, tempat serta makhluk hidup hanya berupa gaung yang separuh diingat oleh para karakter dalam buku-bukunya. Naga muncul dalam The Silmarillion dan The Hobbit, namun naga-naga dalam The Silmarillion adalah bagian dari legenda masa lalu, sedangkan Smaug dibahas dengan detail karena dia adalah satu dari yang terakhir; naga yang muncul di Abad Ketiga, dan oleh para pembaca The Hobbit serta tokoh seperti Bilbo Baggins dianggap sebagai “naga kontemporer.” Keunikan naga dalam dunia rekaan Tolkien justru karena kisah mereka cenderung tersamar, dan ada pengaruh unik dari legenda serta mitos Nordik, yang juga menjadi minat akademis Tolkien.

Naga di Middle Earth muncul pada Abad Pertama, diciptakan oleh Morgoth, Dark Lord pertama. Morgoth menciptakan naga karena merasa bahwa pasukan Orc saja tak cukup untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Tidak ada rincian mendetail tentang bagaimana Morgoth menciptakan naga-naganya, tapi mereka bisa dideskripsikan sebagai makhluk besar yang berumur panjang, dengan kepala mirip reptil, bersisik sangat keras sehingga sulit ditembus senjata (namun bagian di bawah sisik tersebut lunak dan bisa menjadi titik kelemahan naga), dan ada yang bersayap maupun tidak. Naga bisa mengeluarkan api yang sangat panas sehingga bahkan bisa melelehkan Cincin-cincin Kekuatan. Akan tetapi, ini hanya berlaku untuk jenis yang disebut Urulokë (fire-drake), sedangkan yang disebut cold-drake tidak bisa mengeluarkan api.

Naga-naga Paling Terkenal dalam Sejarah Middle Earth

Naga api pertama yang muncul di Middle Earth adalah Glaurung, yang kerap disebut sebagai Father of Dragons, The Worm of Morgoth, dan The Great Worm of Angband (worm di sini mengacu pada sebutan untuk naga tak bersayap, bukan cacing secara harfiah, dan berasal dari bahasa Inggris Kuno wyrm serta Nordik Kuno ormr).  Dia muncul pertama kali di tengah Siege of Angband, 400 tahun pengepungan panjang kaum Elf Noldor terhadap benteng Morgoth pada Abad Pertama. Saat itu, Glaurung yang masih belum tumbuh sepenuhnya keluar dari benteng dan berhasil mendesak pasukan Elf hingga mundur dari wilayah Ardgalen, yang kemudian dia porak-porandakan, sebelum pasukan Elf mendesaknya mundur kembali. 200 tahun setelahnya, Glaurung yang telah tumbuh dewasa memimpin pasukan Orc dan Balrog dalam The Battle of Sudden Flame yang mengakhiri pengepungan panjang itu, memorak-porandakan pasukan Elf serta membakar area sepanjang Sungai Gelion. Dia baru berhasil didesak mundur dan kabur kembali ke Angband setelah dikepung pasukan Dwarf.

768px-j-r-r-_tolkien_-_glaurung_sets_forth_to_seek_turin

Glaurung Sets Forth to Seek Turin, ilustrasi Glaurung yang dibuat Tolkien (1927)

The strength and terror of the Great Worm were now great indeed, and Elves and Men withered before him; and he came between the hosts of Maedhros and Fingon and swept them apart.

J.R.R. Tolkien: The Silmarillion: Of the Fifth Battle: Nirnaeth Arnoediad.

Morgoth juga melepaskan naga-naga saat menyerang kerajaan Elf tersembunyi, Gondolin, dalam peristiwa yang disebut sebagai Kejatuhan Gondolin (The Fall of Gondolin). Salah satu di antara naga-naga ini adalah makhluk yang disebut sebagai Naga Api Gondolin. Naga tak bersayap ini begitu besar hingga bisa mengangkut Balrog di punggungnya, dan ketika kakinya ditikam pedang oleh Tuor, dia memekik hingga ekornya menggelepar-gelepar dan membunuh banyak Elf maupun Orc yang bertempur di sekitarnya.

515px-roger_garland_-_fall_of_gondolin

The Fall of Gondolin oleh John Garland

Jika Glaurung adalah naga pertama yang muncul di Middle Earth, maka Ancalagon adalah naga api bersayap pertama. Ukurannya yang spektakuler menjadikannya naga terbesar dalam sejarah Arda. Ancalagon adalah senjata terakhir Morgoth dalam upaya terakhirnya menguasai Arda, sebelum dirinya dikalahkan dalam War of Wrath, perang besar terakhir antara Valar dan Morgoth. Begitu besar tubuhnya, sehingga ketika akhirnya dijatuhkan oleh Eärendil, tubuh Ancalagon menghancurkan ketiga puncak Thangorodrim, gunung-gunung berapi yang dijadikan benteng Morgoth (sebagai gambaran, Tolkien mendeskripsikan puncak-puncak Thangorodrim setinggi 35.000 kaki, serta membentang sepanjang 150 hingga 200 mil atau sekitar 240 hingga 322 km). Akan tetapi, harus diingat bahwa pernyataan “menghancurkan puncak Thangorodrim” ini bisa diartikan sebagai gaya bahasa hiperbola, yang kerap digunakan dalam bahasa kisah legenda, mitologi dan fiksi fantasi Abad Pertengahan, dan Tolkien tidak pernah benar-benar mendeskripsikan sebesar apa Ancalagon ini. Tapi dari cara penggambarannya, kita bisalah sepakat bahwa naga yang satu ini “was motherf*cking huge.”

jenny_dolfen_-_ancalagon_the_black

Ancalagon the Black oleh Jenny Dolfen

Ada juga naga tak bersayap bernama Scatha, yang muncul pada Abad Ketiga. Tak banyak yang diketahui tentang Scatha, kecuali bahwa dia hidup di Pegunungan Kelabu di Utara, menjaga gunung harta rampasan dari kaum Dwarf. Naga ini kemudian dibunuh oleh Fram, salah satu leluhur kaum Manusia di Utara dan moyang bangsa Rohan. Gunung harta ini menjadi bahan rebutan antara kaum Dwarf dan Manusia, hingga Fram mengirimkan salah satu gigi Scatha kepada kaum Dwarf disertai pesan bahwa “harta seperti ini (gigi Scatha) jauh lebih berharga daripada gunung harta karunmu, karena lebih sulit mendapatkannya.” Kaum Dwarf yang tersinggung kemudian membunuh Fram, namun sebagian hartanya dibawa kaum Manusia ke Rohan. Horn of the Mark, sebuah terompet perang perak buatan Dwarf yang diberikan Eowyn pada Merry setelah Perang Cincin konon berasal dari gunung harta rampasan Scatha.

433px-wouter_florusse_-_the_slaying_of_scatha

The Slaying of Scatha oleh Wouter Florusse

Akhirnya, tentu saja ada Smaug, naga terbesar di Abad Ketiga. Smaug menghancurkan Lonely Mountain dan Kota Dale, lalu berdiam menjaga gunung harta milik kaum Dwarf, memaksa Thorin dan kaumnya untuk pergi. Smaug tidak hanya ganas dan serakah, namun juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, intelegensi, dan keangkuhan. Kesombongan Smaug akan kekuatan dirinya sendiri inilah yang akhirnya menghancurkannya, ketika Bard menembakkan panah ke bagian tubuhnya yang tidak tertutup lapisan keras, dan tubuhnya jatuh ke dalam danau.

424px-alan_lee_-_smaug_the_magnificent

Smaug the Magnificent oleh Alan Lee

Tidak ada penjelasan lebih lanjut terhadap keberadaan naga-naga di Middle Earth; Tolkien nampaknya memang sengaja tidak memberikan rincian terlalu banyak tentang riwayat para naga, karena mereka adalah bagian dari legenda dalam legenda yang menjadi ciri khas karyanya, dan mempertahankan kekosongan informasi dalam buku-bukunya adalah cara agar legenda ini tetap hidup. Riwayat akhir para naga pun tidak jelas, walaupun ada kemungkinan bahwa naga sebenarnya masih ada di wilayah Utara, hanya saja mereka dalam keadaan dorman, tidak aktif, dan tak lagi menjadi sumber ketakutan kaum Manusia, Elf dan Dwarf, tidak seperti Abad Pertama hingga era Smaug. Dalam LOTR, Gandalf berkata pada Frodo bahwa tidak ada lagi naga yang apinya cukup panas untuk melelehkan Cincin Kekuatan, yang bisa saja diartikan sebagai “ya, masih ada naga, tapi mereka sudah tidak sekuat dulu.” Hal ini dijelaskan Tolkien dalam salah satu suratnya:

“Some stray answers. Dragons. They had not stopped; since they were active in far later times, close to our own. Have I said anything to suggest the final ending of dragons? If so it should be altered. The only passage I can think of is Vol. I p. 70 : ‘there is not now any dragon left on earth in which the old fire is hot enough’. But that implies, I think, that there are still dragons, if not of full primeval stature….”

Surat J. R. R. Tolkien nomor 144, 25 April 1954

Kutukan Naga: Sumber Inspirasi Naga Tolkien dari Mitologi Nordik

Kita boleh saja bertanya-tanya tentang bagaimana Morgoth bisa “membiakkan” naga, karena Tolkien tak pernah memberikan rincian tentang itu. Yang membuat saya lebih tertarik adalah fakta bahwa karakteristik naga Tolkien yang unik, dengan gabungan antara kebuasan monster dan sifat-sifat seperti kerakusan, keangkuhan dan kecerdasan, plus unsur kutukan yang nampaknya selalu menyertai siapapun yang berinteraksi dengan naga tersebut, adalah ciri khas dari naga-naga yang muncul dalam mitologi Nordik.

Fafnir adalah naga paling terkenal dalam mitologi Nordik. Fafnir tadinya adalah seorang ksatria, yang bersama saudaranya, Regin, membunuh ayah mereka sendiri lantaran kutukan cincin Andvarianur, yang membuat mereka gelap mata akibat menginginkan harta karun ayah mereka. Kekuatan kutukan itu membuat Fafnir mampu berubah wujud menjadi naga demi menjaga harta rampasan dari sang ayah untuk dirinya sendiri, namun Regin diam-diam melatih seorang ksatria bernama Sigurd yang kelak membunuh Fafnir. Akan tetapi, kutukan saudaranya yang menjalar ke Regin membuatnya hendak membunuh Sigurd juga, namun karena Sigurd tanpa sengaja menjilat darah Fafnir saat memasak jantung sang naga untuk Regin, dia mendapat kemampuan memahami bahasa burung, yang memperingatkannya akan niat jahat Regin. Sigurd pun akhirnya membunuh Regin.

800px-siegfried_and_the_twilight_of_the_gods_p_022

Fafnir guarding the hoard of gold oleh Arthur Rackham

Apakah selesai sampai di situ? Tidak! Sigurd menjadi seorang ksatria yang disegani, namun hidupnya terus dipenuhi serangkaian peristiwa tragis, termasuk percintaannya dengan Brynhild si Valkyrie dan pernikahannya dengan putri bernama Gudrun, yang berujung serangkaian peristiwa tragis, hingga berbuntut pada terbunuhnya dirinya di tangan kerabat Gudrun, dan bunuh dirinya Brynhild pada pemakaman Sigurd. Tolkien menjabarkan legenda ini dalam puisi narasi karyanya yang diterbitkan setelah kematiannya: The Legend of Sigurd and Gudrun.

Ada juga naga laut raksasa bernama Jörmungand, anak dari Loki bersama raksasa wanita Angrboda, yang muncul dari dalam laut pada peristiwa Kiamat para Dewa alias Ragnarok. Naga ini digambarkan begitu besar sehingga mampu melingkari bumi dan mencengkeram ujung ekornya sendiri. Pertempuran antara naga ini dan Thor menjadi titik puncak Ragnarok, dimana setelahnya, Thor berhasil membunuh sang naga, namun kemudian mati setelah berjalan sembilan langkah karena racun naga tersebut. Pertempuran kolosal antar naga raksasa dan pahlawan ini seolah mencerminkan pertempuran antara Ancalagon dan Eärendil, yang juga terjadi para perang final besar-besaran antar Morgoth dan para Valar.

800px-johann_heinrich_fc3bcssli_011

Thor in Hymir’s Boat Battling the Midgard Serpent, oleh Henry Fuseli

Kita bisa melihat banyak elemen dari kisah ini yang diramu ulang dalam buku-buku Tolkien: kutukan cincin, naga yang memiliki keangkuhan dan kecerdasan layaknya manusia, gunung harta yang dijaga, serta kematian naga yang membawa kutukan bagi mereka yang terlibat. Benda-benda atau harta yang berasal dari naga dikisahkan masih membawa dampak tersendiri bagi orang yang mengambilnya. Sigurd menjilat setitik darah ketika memasak jantung naga untuk Regin dan mendapat kemampuan memahami bahasa burung, yang menyelamatkan nyawanya. Dalam buku Children of Hurin, Helm Naga Dor-lomin legendaris milik Turin Turambar membuatnya menjadi petarung ganas di medan pertempuran, karena siapapun yang mengenakannya konon dilindungi oleh kekuatan gaib yang membuatnya ditakuti oleh musuh yang melihatnya.

alan_lee_-_the_dragon_helm_of_dor-lomin

Ilustrasi Dragon Helm of Dor-lomin, oleh Alan Lee, dengan naga Glaurung di atasnya.

Akan tetapi, “kutukan naga” adalah sisi lain dari kekuatan gaib tersebut. Sama seperti kutukan Fafnir yang membuatnya membantai ayahnya sendiri demi hartanya sebelum berubah menjadi naga, yang mengakibatkan kematian saudaranya, Sigurd, dan kemudian Brynhild, naga-naga dalam Tolkien legendarium memiliki kualitas yang sama. Fram dibunuh oleh para Dwarf setelah membunuh Scatha karena perebutan harta yang dimiliki naga tersebut. Hal yang sama tercermin dalam The Hobbit ketika Thorin menolak permintaan kaum Elf Mirkwood dan penduduk Kota Dale untuk membagi harta, dan kemudian menjadi paranoid karena takut Arkenstone dari gundukan harta itu dicuri. Thorin kemudian menemui akhir tragis. Dalam Children of Hurin, Glaurung menyihir Nienor agar hilang ingatan dan tanpa diketahuinya menikahi saudara lelakinya sendiri, Turin. Ketika Glaurung mati, mantranya terlepas, dan mengakibatkan bunuh dirinya Nienor serta Turin; kehancuran yang dibawanya tak berhenti walau napasnya telah tumpas. Ini mencerminkan kisah Sigurd yang, setelah menikahi Gudrun karena dimantrai oleh ibu Gudrun, mendadak kembali teringat kepada Brynhild ketika Valkyrie itu hadir di upacara pernikahannya dengan raut wajah penuh kemarahan.

the_death_of_glaurung_by_ekukanova-d4lx6j1

The Death of Glaurung oleh Elena Kukanova

Bahkan dalam buku bernada “ceria” seperti The Hobbit, masih ada paragraf yang sedikit banyak menggambarkan aspek ini dari Smaug. Ketika Bard si pemanah menjatuhkan Smaug dengan panahnya, tubuh Smaug jatuh ke dalam danau dan tenggelam, dan tak ada orang yang pernah berani mendekatinya untuk mengambil batu-batu permata yang rontok dari tubuhnya, walaupun bangkai Smaug bisa terlihat dari permukaan kalau permukaan danau sedang tenang; tempat itu seolah dikutuk.

Adegan percakapan antara Smaug dan Bilbo juga menunjukkan kualitas naga dalam mitologi Barat yang lebih dari sekadar monster. Smaug mungkin ganas dan serakah, namun dia juga cerdas, penuh rasa ingin tahu, sangat teliti (sampai ke tahap bisa mendeteksi hilangnya benda berharga yang terhitung sangat kecil dari sebuah gunung harta besar), dan bahkan mampu menanamkan keraguan dalam hati Bilbo terkait misinya bersama para Dwarf. Hal yang sama juga terlihat pada Chrysophylax, karakter naga yang diciptakan Tolkien untuk cerita Farmer Giles of Ham (bisa ditemukan dalam buku kompilasi Tales from the Perilous Realm, diterjemahkan oleh Gramedia sebagai Kisah-kisah dari Negeri Penuh Bahaya). Walaupun ini bisa dibilang parodi untuk kisah-kisah kepahlawanan, Chrysophylax berbagai banyak karakteristik dengan Smaug dan Glaurung; serakah akan harta, namun cerdas dan pandai menilai situasi. Chrysophylax malah bisa dibilang bernegosiasi dengan Petani Giles agar tidak dibunuh dan bisa hidup dengan nyaman namun tanpa menjatuhkan reputasinya sebagai naga yang menakutkan (Chryshophylax bahkan sempat membawa harta untuk Giles dan tinggal di bawah jembatan di desanya, walau kemudian dilepas pergi oleh Giles karena biaya makannya lumayan mahal).

590px-alan_lee_-_farmer_giles_of_ham

Farmer Giles of Ham and Chrysophylax, oleh Alan Lee

Setelah Smaug mati, tak ada lagi naga yang sepertinya, dan kematian Smaug mungkin saja membawa dampak terhadap kekalahan Sauron. Mengapa demikian? Kita bisa beranggapan bahwa, setelah kematian para “dedengkot” naga seperti Scatha dan Glaurung, para naga perlahan mundur kembali ke wilayah tandus di Utara, dan tak pernah ada lagi catatan kerusakan akibat perbuatan naga seperti di abad sebelumnya. Kematian Scatha dan kepergian Smaug dari Utara (yang juga berujung pada kematiannya) membuat kekuatan kolektif para naga melemah, dan mereka semakin tidak berani melakukan serangan dan kerusakan ke tempat-tempat yang dihuni para Manusia, Elf dan Dwarf. Membiakkan naga mengerikan lainnya yang sekelas Ancalagon dan Glaurung pastinya merupakan tugas besar yang melelahkan, sesuatu yang Sauron (sebagai Dark Lord berikutnya) mungkin belum bisa lakukan dalam kapasitas yang sama seperti Morgoth. Sauron mungkin saja menyambut gembira penaklukan Smaug akan Dale dan Lonely Mountain, karena bisa mendukung rencana penaklukannya.

797px-john_howe_-_smaug_destroys_lake-town

Smaug Destroys the Lake Town oleh John Howe

Jika kita asumsikan demikian, kematian Smaug mungkin bisa dibilang mengacaukan rencana Sauron begitu drastisnya. Sama seperti kisah penguasa Romawi, Augustus Caesar, yang ketika mendengar kabar kekalahan tiga legiunnya yang dikomandani Quintillus Varus terhadap orang-orang Jerman, mengamuk dan berteriak “Varus! Kembalikan legiunku!” Kekuatan kaisar Romawi terletak pada gabungan kekuatan kolektif legiunnya, yang dikirimkan untuk melakukan penaklukan. Mungkin saja Sauron merasakan hal yang sama ketika mendengar kematian Smaug, karena tak ada lagi naga-naga kuat yang bisa menjadi legiunnya, sama halnya dengan Morgoth yang memiliki Glaurung, Ancalagon, dan naga-naga api yang menyerbu Gondolin. Dan kita tahu, kurang dari seabad kemudian, Sauron akhirnya dikalahkan.

Apakah ini sekadar spekulasi? Bisa jadi. Tapi ini sesuatu yang wajar. Pada akhirnya, tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan para naga, dan bahkan kaum bijak di Middle Earth tak ada yang pernah benar-benar bisa menjelaskan berbagai aspek tentang para naga (catatan tentang naga di kalangan kaum Elf pun sangat sedikit).

Saya pernah membaca di sebuah buku mitologi bahwa naga sejatinya bisa dijelaskan sebagai perwujudan semua hal yang ditakuti manusia: reptil berbahaya seperti ular, api, binatang buas bertaring, serta segala sesuatu yang berukuran besar, masif, misterius, dan bisa membuat manusia merasa kecil sekaligus tidak aman, seperti gunung berapi. Hal-hal tersebut diracik di alam bawah sadar dan di”keluarkan” sebagai kisah-kisah tentang naga. Akan tetapi, siapa yang pernah benar-benar melihatnya? Inilah yang dilakukan Tolkien saat menciptakan naga-naganya. Tolkien menciptakan sebuah legenda modern, dan para naganya adalah legenda di dalam dunia legenda tersebut; misterius sejak awal kelahiran mereka, meninggalkan jejak-jejak kehancuran yang begitu besar sehingga hanya sedikit yang hidup di hadapan mereka, sebelum mendadak menghilang kecuali hanya sebagai ingatan samar.

Sumber:

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Humphrey, Carpenter. 2000. The Letters of J.R.R. Tolkien. Boston: HoughtonMiffin.

Tolkien. J. R. R. 1992. The Book of Lost Tales part 2. Christopher Tolkien (ed). New York: Del Rey.

Tolkien, J. R. R. 2002. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Tolkien, J. R. R. 2009. The Legend of Sigurd and Gudrun. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

Tolkien, JRR. 1986. The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings. Montana: Turtleback Books.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

Tolkien. J. R. R. 2008. Tales from the Perilous Realm. Christopher Tolkien (ed). HarperCollins.

Random Thought: I’d Love to See a Play with Black Hermione

hp_20558_weasley_granger_fl

Ever since the announcement of Harry Potter and the Cursed Child came out, we knew what has made many people clamor: the casting of Noma Dumezweni as Hermione, and Cherrelle Skeete as Rose (Hermione and Ron’s daughter). Many people were used to see Emma Watson as Hermione in all Harry Potter movie adaptations, so the change is understandably jarring. However, while I was honestly a bit taken aback when I saw the news several months ago, I say this loud and clear:

I’d love to see a play with black Hermione.

Emma Watson may have been associated with Hermione since her first appearance in the first Harry Potter movie, but we are talking about stage play here. I have to say that I never directly see a stage play, right in front of me, except from YouTube and local TV. However, stage play does feel different than movies, and I imagine I will feel different sensation if I watch a play directly. In a play, actors may practice and rehearse, but once they come up the stage, they face the audiences directly. They have huge burdens: to deliver performance not as “actors play certain characters,” but as “the characters,” while the audiences have options of clapping or booing them directly, based on that very performance. If they deliver, I’m sure it will be an ecstatic experience for the audiences. I mean, magic literally happens right in front of their eyes!

Which is why I am interested in seeing how Harry Potter play will roll.

Today is a movie era, so if we rarely or never watch a stage play, it’s probably hard for us to actually comprehend that a stage play is very different from movie. Unlike movie, a play can be featured many times in different places and star different actors, who can even bring different interpretations. A clear example: Shakespeare’s stories have international appeal, and his characters have been played by many different actors from various nationalities, not just Europeans. White, black and brown people have played Romeo, Orsino, Hamlet, Lear, and the Moor captain Othello. Women from Asian, Middle Eastern and African descent have played Juliet, Ophelia, Miranda, Cordelia, and Lavinia. These are not just in big, expensive productions, but also in small theaters and schools in many countries, despite the fact that many of Shakespeare’s plays have European, ancient Greek, or ancient Roman settings.

That being said, why a stage play taken from Harry Potter world cannot be played by actors with different skin colors? Since I love the books and admire Emma Watson as Hermione in the movies, I’d like to know how Noma will interpret the role. I want to see how this character, this book-smart, serious, achievement-driven, dorky, brave, kind, loyal Hermione will emerge from all her gestures, voices, and movements. Hollywood has pitched white actors to play black, Asian or Native American characters in movies, so I don’t see why stage play cannot be more varied in their castings. Unfortunately, I don’t live in the UK, and financial reason makes me unable to go and watch the play there.

By the way, I’m not a theater expert, so if you disagree with me and want to confront my opinion by pointing out things related to theater and play, I honestly say I cannot respond to that. But with all my heart, I’d love to see how this new Hermione will deliver. I imagine Noma and Cherrelle both have huge burdens: they have to be able to deliver in front of audiences who come with high expectations. They must prove that they are more than just skin colors. They must continue this “mission” by knowing that a lot of people have already judged them even before these people actually see the play, and with reasons such as “Emma will always be my Hermione” or “I don’t see why a black actress should play Hermione” or “my childhood is ruined.” (Or the craziest that I’ve seen so far: “clearly a liberal political agenda.” Yeah, totally not because they have nailed the auditions very well). I’m sure they are experienced and have good resume, but it must be nerve-wracking. I have to say, if they nail the roles, it will be such a great achievement.

Feeling disappointed, surprised or heartbroken after seeing the new casts that look different from how we have always imagined them is natural. I believe not everyone who was surprised and disappointed by this change is racist; they just have Emma Watson as the default Hermione in their heads. However, asking for the same actors to star in the stage play adaptation all the time is not realistic. Movie actors have different schedules from stage actors. Besides, if Harry Potter and the Cursed Child is somehow featured in different countries, why can’t actors from different nationalities, race and colors play Harry, Ron and Hermione? Just like how European, Greek or Roman characters in Shakespeare’s plays are played by Asian, African, and Middle Eastern descent actors.

Harry Potter series have been enjoyed by many readers around the world. I’m sure a lot of people can feel connected with such well-written characters. It’s not hard to imagine that a black or brown or Asian kid grew up thinking he or she is Harry, Ron, or Hermione. I am a Southeast Asian woman with light brown skin, and I have associated myself with various characters in my whole life: from Hunger Games books, Harry Potter books, Tolkien’s books, Sailor Moon, Xena, Javanese wayang, Natsuo Kirino’s novels, Indonesian novels written before our independence year, and many more. Once I get attached with a character, the character lives in me. Their essence, the very thing that defines them as a character, is in my mind and heart. I can see myself in them, even if I have to do mental switch to replace their faces with mine, or incorporate their life into mine. But here’s where imagination has its advantage. Who will stop you if you want to imagine Hermione as a black or even Latina girl? Who will say no if you imagine yourself as a lady version of Bilbo or Kenshin Himura? Why can’t your Katniss be an Asian girl with black hair and eyes? Who will chastise you if your mind reconstruct Neville Longbottom as a black kid with dreadlocks? In this case, I think stage play has many interesting possibilities in exploring characters.

Now, I don’t know how people will react once they come and see the play. Maybe they will change their minds. Maybe they will give decent applause. Maybe they will love it. Maybe they will still hate it. It cannot be controlled. However, I still think that people who actually have resources and time to see the play directly are in better position than me. They have a chance to actually see different interpretation of Harry Potter as we know it. If you can watch but refuse the opportunity simply because Noma is not the Hermione you know, I’d say it is a loss. Take the chance, if you can. Even if you still hate it, at least it is an experience. Because honestly, even if you are really not racist and simply surprised or disappointed by change, spewing harsh opinions before even watching the play does sound petty. I had had harsh opinions about The Hobbit movies, but once I saw the movies, there were many things that I liked in those movies. And yes, I criticized Tauriel, but there were also things in her that I liked once I saw her on screen for the first time. It was a precious experience; small, maybe, but precious nonetheless.

Take the chance. Watch the play. I hope it will become a memorable experience, even if you still don’t like it. Like what Cacambo said in Voltaire’s Candide: “If we do not meet with agreeable things, we shall at least meet with something new.” And I have to say: how jealous I am of you, people who can watch Harry Potter and the Cursed Child directly.

Noma and Cherrelle, I hope you do a great job. Good luck.

Kucing dalam Sejarah Militer Modern

cat

Prajurit Inggris dan anak kucing di Neulette, 1917. Foto oleh John Warwick Brooke

Cat lovers… repudiate the idea that cringing subservience and sidling companionship to man are supreme merits, and stand free to worship aristocratic independence, self-respect, and individual personality joined to extreme grace and beauty as typified by the cool, lithe, cynical, and unconquered lord of the housetops. 

H. P. Lovecraft: Cats and Dogs

Bapak horor kosmik H. P. Lovecraft pernah menulis esai yang menyanjung kucing sebagai peliharaan yang “bagaikan rekan serumah setara”; bahwa memelihara kucing itu sama dengan memiliki teman untuk bicara dan berdiskusi, bukan teman serba penurut. Walaupun saya tidak tahu apakah Lovecraft memang seratus persen serius atau ini hanya soal gaya bahasanya yang tinggi, tapi Lovecraft memang pecinta kucing, dan beberapa kucing yang disebut dalam esai tersebut hadir dalam hidupnya serta koleganya (dalam esai itu, Lovecraft memuji kemampuan kucing untuk menghibur diri sendiri, menyebutnya sebagai “(a) limber elf, singing, dancing to itself.”) Akan tetapi, walaupun kucing dan anjing adalah peliharaan populer, kucing kerap “menderita” akibat prasangka. Film-film aksi menyanjung anjing dan menempatkan kucing sebagai hewan peliharaan tokoh antagonis atau pemain kelas dua. Bahkan film Disney Cats and Dogs terang-terangan mengadu anjing dan kucing, dengan anjing sebagai para jagoan dan kucing sebagai penjahat calon penguasa dunia.

Dalam esainya, Lovecraft mengkritik koleganya yang menyebut kucing sebagai parasit. Anggapan ini mungkin karena anjing memang kerap dibahas dalam sejarah; anjing menunjukkan peran yang lebih gamblang karena ukurannya serta sifatnya yang bisa dilatih, misalnya dalam kepolisian, perburuan, dan dunia militer. Kucing cenderung “ditugaskan” manusia sebagai pemburu tikus di gudang makanan serta pelipur lara karena sifatnya yang lebih tenang, namun gesit dan cenderung tidak penurut seperti anjing. Akhirnya, sejarah kucing dalam berbagai aktifitas manusia pun tenggelam, dan sifatnya yang cenderung mandiri membuatnya tidak disukai.

Ada banyak cerita kucing yang berjasa bagi manusia, namun untuk menyeimbangkan ketidakadilan opini ini, saya memutuskan untuk menghadirkan kisah-kisah para kucing yang terlibat dalam aktifitas manusia yang ekstrem: perang.

1024px-A_cat_on_HMAS_Encounter

Kucing peliharaan di HMAS Encounter, kapal perang Australia. Koleksi Australian War Memorial

Jasa Kucing dalam Perang Modern

Kucing memiliki catatan sejarah yang berakar dari jaman kuno. Pertama kali dijinakkan sekitar 9.500 tahun silam, bangsa Mesir Kuno adalah yang pertama tercatat membawa kucing di atas perahu-perahu di Sungai Nil untuk tujuan khusus, yaitu menghalau tikus agar tidak merusak persediaan makanan serta tambang. Para pedagang kemudian melanjutkan praktik ini dengan membawa kucing ke kapal mereka, dan praktik ini menyebar ke seluruh dunia. Kucing cenderung gesit namun tenang, dan tubuhnya lincah, lentur serta mampu menyelip disela ruang-ruang sempit, sehingga ideal untuk tugas tersebut tanpa mengganggu para pelaut. Akan tetapi, peran kucing dalam perang dicatat dengan sangat detail pada masa Perang Dunia I dan II.

ab9690a92adf61c48fe99571da7e63e9

Aircrew, kucing maskot sekolah penerbangan RAAF di Cressy Victoria, Australia. Koleksi Australian War Memorial

Hingga sekitar tahun 1970-an, berbagai kesatuan tentara di Amerika, Eropa dan Australia, baik itu angkatan darat, laut dan udara, mengadopsi kucing untuk berbagai tujuan, di antaranya:

  • Sebagai pengendus gas beracun. Pada masa Perang Dunia I, militer Inggris “mempekerjakan” sekitar 500,000 kucing untuk menjadi pengendus keberadaan gas beracun di dalam parit perlindungan. Kucing juga membantu menangkap tikus yang ada di dalam parit, sehingga tikus-tikus itu tidak menyebarkan wabah atau menggigiti prajurit yang terluka.
  • Sebagai pengusir tikus dari gudang makanan, terutama di kapal dimana ransum makanan sudah diatur sangat ketat untuk perjalanan panjang di laut, sehingga tidak boleh sampai rusak. Pada masa Perang Dunia II, Inggris menerapkan program Cats for Europe, dimana kucing-kucing terlatih dijadikan penjaga gudang-gudang makanan tempat menyimpan jatah ransum untuk seluruh penduduk setelah perang. Kucing-kucing ini banyak yang merupakan sumbangan dari para pemiliknya, yang ingin berkontribusi untuk pemulihan pasca perang.
  • Mencegah agar tikus tidak merusak tambang, tali layar, kabel listrik dan komponen lainnya. Kucing ideal untuk tugas ini karena dapat menyusup ke tempat-tempat sempit. Ini sebabnya kucing kemudian tidak hanya dibawa ke kapal, tapi juga ke kapal selam.
  • Mencegah penyebaran wabah di atas kapal dengan cara menangkap tikus-tikus. Hal ini bukan hanya mencegah pelaut menjadi sakit, namun juga mencegah penyebaran wabah di wilayah baru. Ketika pelaut yang terinfeksi kemudian berlabuh, mereka akan menularkan wabah ini ke penduduk daratan.
  • Sebagai maskot. Berbagai kesatuan tentara biasanya punya maskot sendiri, dan tujuannya adalah meningkatkan rasa kesatuan di kalangan pasukan sehingga lebih kompak dalam misi.
  • Sebagai pembangkit moral di antara prajurit, serta menghindari stres dan kebosanan, yang bisa berakibat fatal bagi kinerja serta kecepatan reaksi prajurit terutama di tengah-tengah misi panjang di lokasi yang jauh.
  • Sebagai bagian dari terapi penyembuhan untuk mengurangi rasa sakit prajurit yang terluka. Sifat kucing yang kalem dan ukurannya yang kecil (sehingga bisa tidur di ranjang yang sama dengan pasien tanpa membebani) bisa mengurangi rasa sakit serta stres akibat luka parah pada prajurit yang dirawat di atas kapal atau kapal selam, sehingga membantu mempercepat pemulihan

Pelaut jaman dulu juga cenderung percaya pada takhayul, dan akan melakukan apa saja untuk mencegah bencana mendatangi kapal mereka. Di berbagai negara Eropa, kucing dianggap sebagai pengusir bala, serta dianggap jauh lebih efektif mendeteksi badai daripada barometer mereka. Hal ini kemudian dianggap sebagai efek dari kemampuan indra kucing dalam mendeteksi perubahan kecil cuaca serta tekanan, sehingga kucing kerap bertingkah tak biasa saat badai mendekat (hal ini masih terus diteliti, sehinga belum ada kesimpulan pasti), dan akhirnya mengembangkan takhayul bahwa kucing mendatangkan nasib baik. Takhayul ini begitu kuat sehingga pelaut Polandia jaman dulu kadang menolak berangkat jika perwira kapal tidak membawa kucing ke atas kapal itu (yang, kalau melihat situasinya, tentu wajar. Kalau Anda berada dalam situasi genting seperti perang, Anda akan melakukan apa saja untuk merasa aman).

Kucing-kucing Terkenal dalam Sejarah Perang Modern

Ada banyak kisah tentang kucing yang berpartisipasi dalam perang modern; banyak yang tak diketahui namanya, tapi ada juga yang menjadi begitu terkenal sehingga mendatangkan kekaguman, publisitas, rasa hormat, bahkan hadiah medali. Berikut beberapa kucing paling terkenal dalam sejarah perang modern:

Sevastopol Tom

Ini adalah kucing yang diadopsi Kapten William Gair dari The 6th Dragoon Guards, salah satu bagian dari koalisi Inggris-Prancis dalam Perang Krimea melawan Rusia di akhir abad ke-19. Namanya diambil dari Pelabuhan Sevastopol, tempat dimana pasukan Inggris dan Prancis melakukan operasi pengepungan panjang. Gair menemukan Sevastopol Tom di antara reruntuhan di tengah musim dingin panjang. Saat itu, pasukan Inggris-Prancis mengalami kemerosotan moral karena jumlah makanan semakin merosot sementara cuaca sangat dingin. Sevostopol Tom menjadi pembangkit moral para prajurit, dan ketika sudah cukup sehat untuk berburu, dia membuat kejutan dengan menuntun para prajurit itu ke arah tumpukan reruntuhan bangunan. Di tempat dimana dia berhenti dan mengeong-ngeong, para prajurit akhirnya menggali, dan menemukan gudang makanan yang terkubur namun isinya tetap utuh. Sevostopol Tom pun dipuji sebagai penyelamat. Setelah mati, tubuhnya diawetkan dan diserahkan ke Royal United Service Institution.

05sevastopol-tom-bw

Tubuh Sevastopol Tom yang diawetkan, koleksi Royal United Service Institution

Trim

Trim adalah “kucing kapal” sejati; dia lahir di atas HMS Reliance, kapal penjelajahan angkatan laut Inggris yang saat itu sedang berlayar dari Afrika Selatan ke Australia. Saat masih kecil, Trim sempat terlempar ke laut, namun dia berhasil berenang dan memanjat naik ke kapal dengan menyusuri tali. Matthew Flinders, navigator dan kartografer kapal itu, mengagumi naluri bertahan hidup dan kekuatan si kucing, sehingga mengadopsinya sebagai peliharaan kapal. Trim kemudian ikut dalam pelayaran keliling Australia bersama Flinders, dan ketika Flinders ditangkap serta dipenjara oleh tentara Prancis di Mauritius karena disangka mata-mata, Trim menemani Flinders di dalam selnya. Trim kemudian dibunuh oleh budak-budak tentara Prancis, serta dijadikan makanan. Selama dipenjara, Flinders menulis biografi Trim, dan menggambarkannya sebagai teman yang setia.

Kini, patung Trim didirikan bersama patung Matthew Flinders di Mitchell Library di Sydney bersama sebuah plakat, dan satu patung lagi di Donnington, Inggris.

Trim,_the_cat,_in_Donington,_Lincs_-_geograph.org.uk_-_218735

Patung Trim di Donnington, di belakang kaki patung Matthew Flinders

Mrs. Chippy

Mrs. Chippy adalah kucing yang dipelihara di atas Endurance, kapal yang digunakan kru penjelajah kutub Sir Ernest Shackleton dalam Ekspedisi Trans Antartika yang berlangsung antara 1914 dan 1917. Mrs. Chippy pertama diadopsi oleh Harry McNish, tukang kayu yang bertugas di atas kapal. Kucing tersebut terbukti tangguh dan berhasil menghadapi kondisi ekstrem di lingkar kutub. Dia bahkan mampu berjalan di atas pagar dek kapal saat kondisi laut sedang buruk. Akan tetapi, pada tanggal 29 Oktober 1915, Endurance terjebak di antara es dan mengalami kerusakan parah. Shackleton memerintahkan agar semua hewan yang ada di kapal ditembak mati, termasuk Mrs. Chippy. Hal ini membuat berang McNish dan dia kerap bersitegang dengan Shackleton, sehingga walaupun McNish berjasa membangun perahu yang menyelamatkan seluruh kru, dia menjadi satu-satunya anggota kru yang tidak diberi penghargaan Polar Medal, karena dianggap tidak patuh.

mrs-chippy1

Mrs. Chippy bersama kru Endurance, Perce Blackborow. Foto oleh Frank Hurley

Blackie

Blackie adalah pengusir tikus serta peliharaan kru kapal perang Inggris, HMS Prince of Wales. Blackie selamat dari dua pertempuran laut antar Inggris dan Jerman di Selat Denmark dan Laut Mediterania pada tahun 1941. Ketika pulang, Blackie menjadi terkenal setelah menghampiri dan akhirnya difoto bersama Winston Churchill, yang saat itu baru menandatangani Perjanjian Atlantik bersama Franklin D. Roosevelt. Nama Blackie kemudian diganti menjadi Churchill untuk merayakan kesuksesan pertemuan itu.

Blackie_and_Churchill

Winston Churchill dan Blackie. Foto oleh Capt. Horton, fotografer resmi War Ofice

Convoy

Convoy adalah kucing yang dipelihara oleh kru kapal perang Inggris, HMS Hermione. Convoy secara resmi tercatat dalam jadwal tugas anggota kru, dan dia bahkan memiliki “perlengkapan” pelayaran sendiri (termasuk tempat tidur gantung kecil). Pada tanggal 16 Juni 1942, kapal selam Jerman U-205 menembakkan torpedo ke HMS Hermione, dan Convoy tewas bersama 87 awak kapal.

774px-Convoy_cat

Convoy dikelilingi kru HMS Hermione. Foto oleh S. J. Beadell, fotografer resmi Royal Navy

Pooli

Pooli adalah kucing yang menyertai para kru di atas kapal pengangkut Amerika selama Perang Dunia II. Pooli selamat dalam semua misi yang dilakukan kapal ini, dan mendapat penghargaan tiga pita misi serta empat tanda jasa.

Pooli_(cat)

Pooli dan seragamnya saat merayakan ulang tahun ke-15. Dari arsip LA Times (1959)

Pyro

Pyro adalah kucing yang diadopsi oleh Bob Bird, penerbang dan fotografer militer yang bertugas di Marine Aircraft Experimental Establishment di Skotlandia. Mulanya, Pyro hanya berkeliaran di markas selama menunggu Bob pulang, namun karena terlihat bosan, Bob lalu mulai membawa Pyro di dalam saku jaket penerbangnya saat bertugas. Pada tahun 1943, saat Bob sedang terbang di ketinggian 20.000 kaki, es menyelimuti permukaan pesawat. Ketika dia membuka sarung tangan untuk mengganti lensa kamera, jari-jemarinya mulai mengalami pembekuan (frostbite), namun tubuh Pyro membantu menghangatkan jari-jemarinya ketika Bob menggenggam tubuhnya yang terbungkus jaket. Jari-jemari Bob  pun berhasil sembuh tanpa diamputasi.

Pyro juga membantu menaikkan moral prajurit dan penerbang di markas Bob. Karena misi yang mereka jalani sangat berbahaya dan sudah banyak memakan korban, kehadiran Pyro menjadi penyemangat. Pyro terus menjadi rekan Bob, hingga akhirnya dia tewas tertabrak truk militer saat menunggu Bob pulang di markas. Pada tahun 2011, People’s Dispensary of Sick Animal Charity menganugrahi mendiang Pyro penghargaan atas keberaniannya.

article-2057197-0EA739C900000578-755_468x452

Pyro, foto koleksi Bob Bird

Andrew

Andrew adalah maskot dari Allied Forces Mascot Club, sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 1943 sebagai dedikasi untuk hewan-hewan yang membantu upaya perang dan pertahanan. Andrew ditempatkan di markas organisasi di London, dan terkenal karena mampu mendeteksi jatuhnya bom dari serangan udara mendadak. Ketika Andrew berlari dan merunduk di bawah naungan suatu benda, semua orang akan segera berlari dan berlindung, sehingga mengurangi risiko jatuhnya korban akibat bom udara.

Kitty

Kitty si kucing menjadi terkenal karena fotonya yang diambil pada tahun 1944 memperlihatkan dirinya di dalam kokpit pesawat pengebom B-25 Amerika, yang dipiloti oleh Ole Griffith dari 91st Photographic Mapping Squadron. Kitty menjadi satu-satunya kucing yang diketahui pernah menyertai pilot pesawat pengebom dalam misi penerbangan di tengah perang, walaupun ini tentu saja sebenarnya melanggar aturan. Menurut Griffith, dia saat itu tak tega meninggalkan Kitty, namun dia bersyukur bahwa foto itu baru beredar luas lebih dari lima tahun kemudian, yang berarti dia tak bisa lagi dikenai hukuman karena jangka waktu pelanggarannya sudah kadaluwarsa.

IRVhgan

Kitty, foto oleh Ole C. Griffith (USAF)

Sinbad

Sinbad adalah kucing hitam yang diadopsi oleh Kolonel Fred J. Christensen, penerbang top dan flying ace Perang Dunia II yang sepanjang karirnya berhasil menembak jatuh 22 pesawat Jerman (termasuk enam pesawat yang ditembaknya secara beruntun hanya dalam sehari di tahun 1944). Christensen mengadopsi Sinbad saat kucing itu masih kecil, dan selalu membawanya di kokpit saat dia sedang terbang rendah dan tidak dalam misi perang. Menurut putri sang kolonel, Diane, melihat kedatangan ayahnya yang melompat keluar dari pesawat bersama Sinbad menjadi penyemangat dan pendukung moral para pilot lainnya, dan mereka menyebut Sinbad sebagai jimat keberuntungan. Setelah perang berakhir, dia tetap dipelihara oleh Christensen, namun tewas ditabrak mobil pada tahun 1950.

Simon

Ini mungkin kucing paling terkenal dalam sejarah perang modern, yang jasa-jasanya membuatnya dianugrahi tiga macam penghargaan. Simon ditemukan pada tahun 1948 oleh George Hickinbottom, kelasi HMS Amethyst, sebuah kapal perang fregat yang ditempatkan di Stonecutter’s Island, Hong Kong, untuk melindungi pasukan Inggris dalam perang sipil di Cina. Simon segera menjadi primadona di kalangan kru kapal, menangkapi tikus-tikus yang mengancam penyimpanan makanan serta tambang, dan bahkan terkenal suka meninggalkan “hadiah” tikus mati untuk para kru. Dia juga terkenal suka iseng; keisengannya yang terkenal adalah mengais es batu dari dalam teko minuman. Simon juga menjadi penghilang stres, seperti pengakuan salah satu kru dalam wawancara dengan BBC:

“We had Simon on board because people liked him, he kept people company. It’s the same reason you have one at home: Hearing a cat purr, and the like — its very comforting to people. It’s someone you can talk to. If you’re in a stressful situation, an animal is attractive.”

ScreenShot2014-09-29at3.23.57PM

Simon dan kru HMS Amethyst

Pada tanggal 20 April 1949, ketika Amethyst berlabuh di Sungai Yangtze, Pasukan Pembebasan Rakyat melakukan serangan beruntun terhadap HMS Amethyst. Serangan yang berlangsung selama 3 jam itu memakan korban 25 orang, dan Simon menghilang. Akan tetapi, 8 hari kemudian, Simon muncul dalam keadaan basah, dehidrasi, dan terluka. Wajah, sisi kiri tubuh dan punggungnya terluka akibat serpihan mortar. Simon menolak pengobatan dan memilih mencabuti sendiri serpihan mortar yang melekat di tubuhnya. Selama dia sakit, kapal yang  terdampar dan porak poranda itu menghadapi masalah hama; tikus-tikus menyerbu persediaan makanan yang sudah disegel, merusak tambang dan ruang mesin, dan lari di sela-sela ventilasi serta kipas, mengganggu para prajurit di tempat tidur mereka serta mengancam keselamatan prajurit yang terluka dan tak bisa bangun. Segera setelah sehat, Simon segera beraksi, membersihkan kapal itu dari tikus dalam waktu seminggu.

ScreenShot2014-09-29at3.16.40PM

Simon ketika dikarantina untuk dirawat setelah kapalnya diselamatkan

Kedatangan Simon membuat moral pasukan meningkat, dan setelah 101 hari terdampar, kru HMS Amethyst akhirnya berani merencanakan pelarian dari sungai ke laut. Pelarian itu berhasil, kapal itu diselamatkan oleh angkatan laut Inggris, dan berita tentang Simon menyebar ke seluruh penjuru Inggris. Selama dikarantina untuk kesehatan, Simon menerima banyak kunjungan dan hadiah dari para pengagumnya. Raja George VI memberi Simon penghargaan berupa pita kampanye militer Amethyst, dan akhirnya Dickin Medal serta Blue Cross Ribbon. Sayang, Simon tak berhasil menerima kedua medali yang terakhir itu, karena dia mengalami demam dan peradangan usus sehingga mati di usia 3 tahun. Dia dikuburkan di pemakaman East London, di dalam peti berlapis kain katun dan dibalut bendera Inggris, dan menerima pemakaman yang diiringi upacara militer.

ScreenShot2014-09-29at3.19.47PM

Makam Simon

Ekstra: Kucing Antartika dan Kucing Angkasa

Setelah Perang Dunia II, Inggris terlibat dalam British Antarctic Survey, ekspedisi ilmiah di Antartika yang dimulai pada tahun 1962. Dalam berbagai ekspedisi, beberapa anjing dan kucing disertakan dalam perjalanan serta masa tinggal para kru. Salah satu kucing paling terkenal dalam ekspedisi ini adalah Ginge, kucing yang diadopsi oleh Robert Burton, yang menjadi anggota ekspedisi di tahun 1963. Menurutnya, kehidupan di pos sempit di Antartika yang dingin dan tandus mendatangkan dampak bagi kondisi psikologis krunya. Ada saat-saat dimana mereka menjadi mudah marah dan emosi, mengacaukan program dimana mereka harus bekerjasama. Akan tetapi, Ginge selalu bisa menjadi penenang, dan membantu kru melewati masa-masa sulit. Ginge juga biasa menemani kru yang melakukan tugas meteorologi, yang kerap memakan waktu sepanjang malam. Sayangnya, British Antarctic Survey kini tak lagi mengijinkan kehadiran anjing dan kucing, karena mereka menjadi ancaman bagi fauna lokal.

ginge2

Ginge, foto koleksi British Antarctic Survey 1963

Kucing juga berpartisipasi dalam studi penerbangan luar angkasa. Pada tahun 1963, 9 tahun setelah misi naas Laika si anjing di Uni Sovyet, Prancis mengirim seekor kucing untuk misi penelitian angkasa. Félicette, nama si kucing, dikirim ke ketinggian 100 mil (160) km dalam kapsul di roket Véronique AG1, mengudara selama 15 menit, sebelum kapsul itu terpisah dari roket dan jatuh ke bumi dengan parasut mengembang. Selama penerbangan, elektroda yang dipasang di kepalanya mengirimkan sinyal aktifitas otaknya ke pusat penelitian French Centre d’Enseignement et de Recherches de Médecine Aéronautique (CERMA), memberi kontribusi terhadap penelitian aktifitas otak selama di luar angkasa. Pers Inggris memberinya julukan “Astrocat,” dan Félicette dipelihara di laboratorium CERMA selama 3 bulan untuk penelitian lebih lanjut. Akan tetapi, setelahnya, dia disuntik mati.

felicette-spacecat_1024x1024

Félicette dan liputan dirinya di media Inggris

Setelah tahun 1970-an, kucing tak lagi menjadi bagian dari kapal perang modern, namun berbagai angkatan perang di atas masih menggunakan kucing sebagai maskot, mengingat jasa-jasa hewan ini yang tak terhitung di masa lalu serta simbol keberuntungan dan firasat baik yang dilambangkannya. Kini, tentu saja, kucing tetap menjadi sahabat manusia walau tak lagi turun ke medan perang.

Catatan Pribadi

Ada beberapa hal yang saya harap bisa berhenti di jaman modern ini, seperti prasangka rasial, ketimpangan gender, dan pertengkaran penyuka anjing lawan kucing. Selain karena itu bukan perbandingan yang setara (mereka dua jenis hewan yang sangat berbeda), saya sering gemas dengan alasan di balik itu. Salah satunya, yang kerap terdengar adalah “anjing lebih banyak gunanya daripada kucing; kucing tidak ada gunanya.”

Saya sendiri berpikir bahwa walaupun kita, sebagai manusia, sudah memanfaatkan banyak hewan untuk kepentingan kita, orang yang mengadopsi hewan untuk dipelihara serta menjadi anggota keluarga baru biasanya punya pertimbangan yang lebih rumit daripada sekadar “apa manfaatnya” (saya di sini mengecualikan orang yang memang membutuhkan jasa anjing untuk berburu, menjaga properti, atau membantu kerja kepolisian. Jelas lebih mudah daripada menyewa cheetah atau macan tutul, dan lebih legal juga). Kalau bicara manfaat, saya sudah jelaskan panjang lebar di atas. Sejujurnya, pada akhirnya, tak ada yang bisa mengendalikan alasan seseorang untuk memelihara anjing atau kucing. Selain pertimbangan seperti waktu, uang dan tempat, Anda semua orang yang berbeda, dan Anda harus cocok dengan hewan peliharaan Anda agar bisa hidup bersama.

Sama seperti jika Anda punya dua orang teman dengan kepribadian berbeda: yang satu cenderung terbuka dan banyak bicara, menunjukkan emosi atau kasih sayangnya, dan sangat aktif, sedangkan yang satu lagi cenderung kalem, tidak menunjukkan kasih sayang dengan cara gamblang, serta menyukai aktifitas yang cenderung halus atau kalem. Jika Anda menyayangi mereka berdua, Anda pasti tahu bagaimana menyikapi mereka, dan paham bagaimana mereka mengisi hidup Anda dengan cara masing-masing, walau mungkin akan ada sahabat yang kedudukannya cenderung “menonjol” dalam hidup Anda karena tingkat kecocokannya memang lebih tinggi. Jika mereka sama-sama sahabat yang baik, mengapa harus sinis pada salah satunya? Mengapa harus memaksa mereka untuk jadi “bermanfaat” atau ditendang dari persahabatan? Jadikan anjing atau kucing sebagai peliharaan karena Anda memang ingin sahabat yang bisa mengisi hidup Anda.

Akhirnya, entah Anda lebih condong ke kucing atau anjing sebagai sahabat, saya yakin Anda jauh lebih baik dari peracun anjing atau penembak kucing yang dengan bangga memamerkan korban-korbannya di jejaring sosial. You are able to share your love, time and efforts to care for different creatures, and that should be enough reason.

Peebles_the_cat

Peebles, kucing peliharaan di atas kapal perang Inggris HMS Western Isles, bermain bersama Letnan Komandan R. H. Palmer (1944). Foto koleksi Ministry of Information.

Sumber:

A Gallery of Cats Who Served in World War I

Cats in the Sea Services

The Most Decorated Cat in Military History

Heroik lawan Praktis: Faramir sebagai Wajah Prajurit Perang Modern

Ketika membaca esai Faramir and the Heroic Ideal of Twentieth Century oleh S. Brett Carter, saya seketika teringat pada potongan-potongan percakapan dengan teman kuliah saat kami maraton nonton DVD sewaan di tempat kos: The Two Towers dan Return of the King, diikuti dengan Troy-nya Brad Pitt. Saat itu, teman saya mendadak berkomentar: “aku lebih suka Aragorn daripada Faramir, kalo Faramir itu lembek.” Dan kemudian, waktu melihat Orlando Bloom alias Paris menembakkan panah di Troy, dia berkomentar lagi “Orlando Bloom ini kenapa yang kalau main jadi ksatria jaman dulu selalu pakai busur panah? Itu senjata pengecut.”

Saya tidak pernah melanjutkan percakapan itu lebih jauh (sebagian karena masih mau nangis gara-gara lihat adegan kematian Haldir di Helm’s Deep), tapi ada pola di sini: Faramir yang gaya berjuangnya lebih sembunyi-sembunyi dibandingkan Aragorn dan Boromir, atau Paris yang menggunakan busur panah (Faramir juga menggunakan senjata yang sama), keduanya dianggap lembek. Dengan kata lain, mereka pengecut karena tidak memenuhi imaji seorang ksatria dari jaman kuno: dia yang menunggang kuda, menenteng pedang, bertarung dengan gagah berani di depan musuh yang mengancamnya dengan senjata mengerikan.

Di sinilah kata kuncinya: “kuno.”

Bagi Anda yang sudah terbiasa dengan gambaran khas ksatria di fiksi fantasi yang mengambil setting somewhere in old Europe, memang karakter Faramir ini cenderung tidak mirip dengan karakter-karakter ksatria gagah berani sejenis. Dia cenderung “beroperasi” secara sembunyi-sembunyi, mengenakan baju yang membuatnya membaur dengan hutan  di sekitarnya alih-alih baju perang berkilau, memilih busur panjang alih-alih pedang sebagai senjata utama, dan cenderung kalem serta serius ketimbang menunjukkan kegagahan sembrono khas ksatria jaman kuno. Jika itu kedengaran aneh, harap diingat bahwa LOTR adalah karya yang dibuat setelah Perang Dunia I, dan hal ini memberi dimensi ekstra terhadap karakternya. Apa yang dilakukan Faramir bukanlah bentuk kepengecutan dalam kisah kepahlawanan di dunia fiksi fantasi (masih ingat Frodo dan Sam? Mereka bukan pengecut, ‘kan?). Dalam cakupan yang lebih luas, Faramir adalah karakter yang mendobrak konsep kuno kepahlawanan, dan menjungkirbalikkan mitos ksatria sebagai mereka yang hanya mencari keagungan dan menerjang tiap pertarungan dengan gagah berani.

faramir

Tolkien dan Gambaran Prajurit Perang Dunia I

Tolkien mungkin tidak menyukai gagasan bahwa karyanya adalah alegori untuk apapun, namun Perang Dunia I meninggalkan jejak-jejak yang tak bisa diabaikan dalam karyanya, dan hal ini bahkan sempat dijelaskan satu-dua kali dalam biografi resminya. Misalnya, Tolkien sempat menyebut bahwa Sam Gamgee adalah gambaran akan prajurit-prajurit biasa yang kerap ditemuinya di parit perlindungan. Jika Sam adalah imaji prajurit dan rekan senegara, Faramir yang merupakan karakter dengan sifat unik ini tidak boleh diabaikan. Menurut Janet Brennan Croft dalam buku War and the Works of J.R.R. Tolkien, Faramir justru adalah karakter yang sangat realistis; seseorang yang memiliki pemikiran dan sikap sangat modern terhadap perang, walau dirinya ditempatkan dalam setting yang kuno.

Mengapa demikian? Kita harus melihat bahwa Perang Dunia I adalah perang yang bisa dibilang membentuk wajah baru perang modern. Hadirnya persenjataan modern seperti senapan mesin yang bisa membabat banyak prajurit infantri dalam waktu singkat membuat taktik serbuan langsung oleh prajurit jalan kaki mustahil dilakukan. Berlari menyerbu langsung ke arah pasukan yang memiliki senjata macam ini bukan gagah berani, tapi sembrono. John Garth, jurnalis dan pakar sejarah militer yang menulis buku Tolkien and the Great War, juga mengungkapkan bahwa Tolkien, walaupun seseorang yang sangat imajinatif dan romantis, tidak menganggap perang sebagai sebuah petualangan atau proses mencari keagungan, melainkan sebuah horor yang tak manusiawi. Karena persenjataan pasukan Jerman, para prajurit Inggris ini seringkali hanya bisa meringkuk berlindung di dalam parit perlindungan, bertanya-tanya kapan sebuah bom akan menjatuhi mereka. Belum lagi keadaan parit yang kerapkali basah, dingin di malam hari, dan dipenuhi mayat bergelimpangan. Melihat hal semacam ini setiap hari pasti cukup untuk meredupkan semangat dan imaji romantis siapapun tentang peperangan.

Ketika dihadapkan pada situasi peperangan semacam ini, strategi perang tentu harus beradaptasi. Setiap strategi harus didasarkan pada konsep “meminimalisir risiko untuk pasukan sambil menimbulkan kerusakan sebanyak mungkin terhadap pasukan musuh.” Diperlukan kemampuan intelektual untuk merancang rencana yang rumit demi mencapai sasaran itu, tentunya sambil mengkaji ulang konsep “ksatria atau pengecut” yang digadang-gadang konsep kepahlawanan kuno, dan metode yang dilakukan Faramir bisa dibilang mencerminkan strategi modern seperti itu. Misalnya, coba lihat deskripsi Faramir dan pasukannya saat bertemu Frodo dan Sam untuk pertama kali:

Four tall Men stood there. Two had spears in their hands with broad bright heads. Two had great bows, almost of their own heights, and great quivers of long green-feathered arrows. All had swords at their sides, and were clad in green and brown of various hues, as if the better to walk unseen in the glades of Ithilien.

J.R.R. Tolkien: The Two Towers

451px-Anke_Eißmann_-_On_the_way_to_Henneth_Annûn

Frodo, Sam dan Faramir, oleh Anke Eissman

Deskripsi Faramir dan pasukannya, yang mengenakan seragam sederhana yang menyamarkan sosok mereka di hutan, plus senjata utama yang dengan manisnya disebut teman saya sebagai “senjata pengecut,” sama sekali tidak mencerminkan jiwa kepahlawanan ksatria kuno, namun cara berpikir yang bisa dibilang modern untuk masanya. Sama seperti Bronn dalam Game of Thrones yang cuek saja ketika diteriaki oleh para ksatria Eyrie karena dia bertarung dengan “pengecut” alih-alih “gagah berani” melawan ksatria berbaju zirah lengkap (karena Bronn menyadari dia bisa mengambil keuntungan dari gaya berpakaian dan bertarungnya), Faramir dan pasukannya memilih penampilan serta senjata yang meminimalisir bahaya sembari meningkatkan keuntungan dari gaya bertarung yang memungkinkan serangan mendadak.

Dari sini, mudah membayangkan bahwa Faramir mungkin akan cocok dengan para Elf; masih ingat ketika Frodo dan kawan-kawan mendapat hadiah dari Lady Galadriel ketika hendak meninggalkan Lothlorien? Bukannya senjata spektakuler atau apalah (walaupun Legolas mendapat busur), mereka masing-masing justru mendapat jubah yang mampu menyamarkan pemakainya. Faramir memahami pentingnya strategi sembunyi-sembunyi seperti itu, sangat berkebalikan dengan kepongahan Boromir. Dalam The Fellowship of the Ring versi novel, Boromir memamerkan terompet perangnya di tengah-tengah kaum Elf Imladris. Ketika Elrond mengingatkannya agar tidak sembarangan meniup terompet itu, Boromir justru berkata bahwa dia sengaja meniupnya agar musuhnya tahu di mana dia berada, dan dia tak akan mengendap-endap seperti pencuri di malam hari. Jadi, kalau menuruti logikanya, ksatria yang seperti Faramir cuma sekelas pencuri. Dan coba lihat siapa yang mati duluan.

Memilih seragam yang tak menyolok alih-alih baju zirah atau seragam spektakuler berwarna-warni juga cerminan dari seragam yang diadopsi pasukan Inggris pada masa Perang Dunia I. Hingga awal abad ke-20, pasukan Inggris kerap menggunakan seragam dengan warna menyolok, terutama tunik merah mereka yang terkenal. Akan tetapi, pada Perang Dunia I, pasukan Inggris mengenakan seragam warna khaki yang tak menyolok, sehingga mudah menyamarkan prajurit dengan tanah dan lumpur. Kurang spektakuler, tapi jelas lebih bermanfaat.

Akan tetapi, cerminan taktik militer modern yang ditunjukkan Faramir bukan cuma soal seragam, tetapi juga dinamika hubungan antara pemimpin dan bawahannya.

Faramir-faramir-30153016-900-598

Cerminan Pemimpin Pasukan Perang Modern

Pemimpin yang mementingkan strategi ketimbang keberanian mentah seperti Faramir juga menampilkan perubahan dinamika kepemimpinan yang diterapkan militer Inggris pada Perang Dunia I. Militer Inggris merekrut banyak kaum intelektual dan pemuda-pemuda lulusan universitas untuk dijadikan perwira, sehingga mereka diharapkan bisa menjadi pemimpin yang bukan sekadar menginspirasi keberanian mentah, namun juga mampu menggunakan kecerdasan mereka untuk menemukan strategi cerdas yang menguntungkan. Contohnya Tolkien, yang jelas-jelas bukan “tipe prajurit” dan direkrut saat baru lulus kuliah, langsung bisa menduduki pangkat Letnan Dua.

tolkien_1916

Tolkien usia 24 sebagai Second Lieutenant of Lancashire Fusiliers

Dinamika kepemimpinan modern lainnya yang ditunjukkan Faramir adalah hilangnya perbedaan kelas antara dirinya dan pasukannya. Mereka menggunakan seragam yang sama, dan pasukan Faramir jelas-jelas menunjukkan gabungan antara rasa hormat sekaligus kedekatan terhadapnya. Dinamika ini nampak sangat jelas pada novel. Salah satu karakter bernama Beregond bahkan terang-terangan membandingkan antara Faramir dan Boromir:

“He (Faramir) is bold; more bold than many deem; for in these days men are slow to believe that a captain can be wise and learned in scrolls of lore and song, as he is, and yet a man of hardihood and swift judgement in the field. But such is Faramir. Less reckless and eager than Boromir, but no less resolute.”

J.R.R. Tolkien: The Return of the King

Beregond dengan ringkas mendeskripsikan kecenderungan pemimpin-pemimpin militer yang dia tahu selain Faramir: banyak yang tidak percaya bahwa ksatria berpendidikan yang menggemari hal-hal halus seperti seni bisa menjadi pemimpin militer. Nyatanya, Faramir dan pasukannya justru bisa beberapa kali melakukan serangan mendadak yang mengacaukan rencana Sauron berkat strateginya yang masih terhitung tidak biasa. Alih-alih keberanian sembrono seperti Boromir, Faramir justru sukses dalam metodenya yang “ala pengecut” itu. Selain itu, Faramir juga sangat dipercaya oleh para prajuritnya, dan beberapa deskripsi tentang hubungan antara Faramir dan pasukannya menunjukkan eratnya hubungan pemimpin-bawahan yang, kalau saya bilang, tidak ditunjukkan secara gamblang pada karakter lainnya di LOTR. Sampai-sampai, ketika Faramir diutus dalam misi penyerbuan ke Osgiliath yang sebenarnya menjurus bunuh diri itu (dan mustahil dia tidak tahu itu!), para prajuritnya setia di sampingnya. Sekali lagi, hal ini juga menunjukkan model kepemimpinan modern yang mulai nampak pada militer Inggris saat Perang Dunia I.

Akhirnya, Faramir menunjukkan kemampuan refleksi yang jauh ke depan, bahkan dalam situasi perang, menunjukkan kebijaksanaannya. Alih-alih memandang sisi keagungan dan kehormatan dalam perang, Faramir mengungkapkan bahwa dia berusaha untuk tidak membunuh jika tidak perlu. Salah satu prinsipnya dalam perang adalah tidak membunuh lawan maupun hewan (dan ya, bahkan Orc! Dia bilang begitu, di depan Frodo) jika tidak perlu, dan bahkan jika dia harus melakukannya, dia tidak merasa senang. Jujur, saya bahkan tidak ingat pernah membaca refleksi macam ini pada Aragorn atau ksatria bangsa Elf. Faramir memahami bahwa terkadang perang tak bisa dihindari, namun bukan berarti dia menikmati hal itu. Saat berada di medan perang, Tolkien dan sahabatnya, Rob Gilson, kerap menghabiskan malam-malam berdiskusi soal etika dan konsekuensi perang, dan Faramir juga kerap melakukan ini dengan bawahannya. Jika Anda membaca novelnya dengan seksama, akan terlihat betapa reflektifnya kalimat-kalimat yang dilontarkan Faramir dalam dialognya.

Jadi, bagi Anda yang berpikir bahwa Faramir “kurang gagah,” I beg to differ. Faramir adalah prajurit dan pemimpin yang berpikiran jauh ke depan di masanya, dan memiliki kebijaksanaan yang mencerminkan perubahan makna kepahlawanan serta kepemimpinan dalam perang modern, di dunia nyata.

Sumber:

Carpenter, Humphrey. 2000. The Letters of J. R. R. Tolkien. Boston: Houghton Mifflin Harcourt.

Carter, S. Brett. 2012. “Faramir and the Heroic Ideal of the Twentieth Century.” Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I. Janet Brennan Croft (ed). California: Mythopoeic Press.

Garth, John. 2003. Tolkien and the Great War. Boston: Houghton Miffin.

Tolkien, JRR. 1991. The Two Towers. London: HarperCollins.

Tolkien, JRR. 1991. The Return of the King. London: HarperCollins.

A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I”

I have grown from a lanky schoolgirl who watched the first Lord of the Rings movie in an almost-dilapidated local cinema with my mouth gaped in wonder, to a serious book hoarder who read books that I had never imagined I would’ve read, such as The Letters of J. R. R. Tolkien, Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien, and finally this one: Baptism of Fire: the Birth of the Modern British Fantastic in World War I. While I’ll forever envy the likes of Tom Shippey, Dimitra Fimi, Verlyn Flieger and John Garth for having a career that surrounds the works of Tolkien (not to mention the artists like Alan Lee, Ted Nasmith and Jenny Dolfen), I’m really happy to be immersed in Tolkien’s works, along with other books that help improving my understanding toward his modern mythology.

baptism of fire

Baptism of Fire was the latest Tolkien-related work that I bought, about a year after Perilous and Fair; both of them were published by Mythopoeic Press. Edited by Janet Brennan Croft, these books contained collections of essays related to the topic. However, unlike Perilous and Fair that exclusively focuses on Tolkien (with mentions of other authors), Baptism of Fire focuses on The Inkling members such as Tolkien, C. S. Lewis, and Owen Barfield, plus non-Inkling authors such as Sylvia Townsend Warner, Lord Dunsany, and G. K. Chesterton (still, from 17 essays appear in this book, Tolkien is discussed in 7 essays, so it’s still something worth to read for all serious Tolkien lovers).

While Tolkien might have been adamant that Lord of the Rings is not “an allegory of war,” it is convenient to suggest that the war must have shaped the way he created his modern mythology. John Garth, whose biographical work Tolkien and the Great War received positive responses, described how the war shaped Tolkien’s way of creating his modern mythology. Furthermore, he even said that Tolkien might have not written at all without his experiences. According to Garth, the reason why Middle Earth mythology feels so familiar and eloquent is because “it was born with the modern world and marked by the same terrible birth pangs.”

I haven’t had a chance to buy Tolkien and the Great War (I did put it in future shopping list), but Baptism of Fire helped me understand what he meant. The more I read, the more I got these “aha moments” that helped me understand why some parts of the books, such as in LOTR, The Silmarillion and The Children of Hurin, feel so darkly familiar, even when I read those books as a student with very limited knowledge about Tolkien. For example, since I studied psychology, I read a lot of materials about Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), including cases that happened to war veterans and disaster victims. In essays that discuss the effects of war and killing on Tolkien’s characters, such as The Shell-Shocked Hobbit and Wounded by War: Men’s Bodies in the Prose Tradition of The Children of Hurin, the authors explain how Tolkien portrayed these signs on Frodo after his adventure, and Turin after he accidentally kills Beleg. The essays also make comparisons with actual quotes from medical texts, so you get more detailed analysis.

However, while the book focuses on fantasy writing during World War I era, it is not just about the wound and trauma. Faramir and the Heroic Ideal of the Twentieth Century focuses on bigger scope: the way society perceived “heroism” and “ideal heroic traits” before and after WWI; a war that was marked with extensive use of technologically-advanced weaponry that totally altered the way modern warfare fought. Sméagol and Déagol: Secrecy, History and Ethical Subjectivity in Tolkien’s World surprised me when I finally read it for the first time, because who thought that Gollum is a great subject for an essay about espionage hysteria and secret movements during WWI era? Didn’t see that coming.

As for the non-Inkling essays, I instantly jumped to the page that discusses Sylvia Townsend Warner; partly because I really love Lolly Willowes, and partly because she was the only female author discussed in this book. From Lolly Willowes to Kingdom of Elfin discusses the socio-political commentaries that present in Warner’s fantasy story collection Kingdom of Elfin, and her satirical novel with a touch of fantasy; the aforementioned Lolly Willowes.  While the novel focuses on the failure of patriarchal society in addressing women’s plight and needs after the war, the short story collection portrays social division, prejudice and narrow-mindedness after the Great Wars, through the way the elves and humans interact in the stories.

T. H. White and the Lasting Influence of World War I, an essay that discusses T. H. White’s series of Arthurian legend novels The Once and Future king, was put in the last part of this book, and I think with good reason. Unlike many prominent British authors during the World War I era who had served in the army, he never did. However, as a civilian, T. H. White was very aware of what happened to soldiers who came back from the war. They had gone with images of glory and patriotism, but came back disillusioned and broken. They had given up jobs to serve, but when they came back, they found it hard to find employment; a story that is still too familiar in many countries even these days. The Once and Future King portrays Arthur as just; a young knight who fills his head with images of glory, idealized notion of chivalry, and how fun fighting would be, only to find out that his supposedly heroic acts to pursue glory (the Holy Grail mission) turned out to be the biggest blunder he has ever done for his own kingdom. After the second Gaelic War, Arthur still has this schoolboy-like thinking about winning and losing, until Merlyn (Merlin) reminds him about the death of “seven hundred kerns and one knight who falls from his horse.” Again, don’t you think this still sounds painfully familiar even today?

Overall, I can say that Baptism of Fire is another satisfying purchase I’ve ever made for a Tolkien-related book this year (well, Tolkien and other notable authors), the best one after Perilous and Fair that I bought last year. I usually tell everybody to just enjoy the book when reading, and not to think too much. However, sometimes it is very satisfying to try deciphering the secret message the authors might put in their works, whether unwittingly or not, to find greater understanding about this world through the stories these authors delivered.

In the end, I think Baptism of Fire is a proof of our worth as a human: yes, we have lots of flaws, but we also have abilities to turn the horrors of wars into something beautiful and insightful at the same time. Quoting a random Tweet I once saw, I just want to say: “if only we paid more attention to these literary prophets!”

Viola, Portia, dan Eowyn: Bagaimana Tolkien dan Shakespeare Menggunakan Penyamaran untuk Mendobrak Batas Peran Gender

Bicara soal Tolkien dan Shakespeare, keduanya memiliki kesamaan tema kritik terhadap karya-karya mereka: sama-sama pernah dituduh anti feminis dan mengandung bias gender. Tapi tunggu dulu! Kalau hanya sekadar menghitung berapa jumlah perempuan yang muncul, atau hanya membaca di permukaan, tentu saja opini seperti ini akan langsung muncul. Masalahnya, Shakespeare dan Tolkien sama-sama ahli dalam merangkai kata untuk menguraikan makna berlapis, dan kadang trik-trik berbahasa yang mereka terapkan dalam tulisan bisa begitu subtil, dan tidak bisa diartikan secara mentah.

Pembahasan tentang karya mereka berdua tak akan pernah habis walau usia kita sudah habis duluan (saya sedang bicara sama sesama Manusia, ‘kan? Bukan Elf?). Tapi ada banyak aspek menarik yang bisa digali satu-persatu, misalnya fakta bahwa penyamaran/penyaruan (masquerade) yang dilakukan karakter wanita dalam karya Shakespeare dan Tolkien ternyata tidak hanya bermakna menutupi identitas yang sebenarnya, tetapi lebih subversif, yaitu mendobrak batasan yang melingkupi peran seorang wanita dalam lingkungannya. Dalam hal karakter Tolkien yaitu Eowyn, penyamarannya bahkan mampu mengangkat peran karakter lainnya yang sama-sama cenderung dimarjinalkan.

Menguji Jangkauan Batas Peran Gender dalam Norma Sosial Ketat
Dalam tulisan bertajuk Hidden in Plain View: Strategizing Unconventionality in Shakespeare’s and Tolkien’s Portrait of Women, Maureen Thum mengungkap bahwa penyamaran seorang karakter adalah upaya untuk menjungkirbalikkan norma sosial, terutama bagi karakter wanita. Hal ini berbeda dengan pembalikan peran, dimana wanita bisa menduduki posisi yang juga diduduki pria, yang berarti menunjukkan norma sosial yang lebih longgar. Sebaliknya, dalam normal sosial yang lebih ketat dalam hal peran gender, wanita yang ingin mendobrak hal ini kerapkali tak punya pilihan lain kecuali menyamar; hal yang sebenarnya juga tidak asing dalam sejarah, misalnya yang dilakukan tokoh-tokoh seperti Kit Cavanagh dan Deborah Sampson.

Dalam lakon Shakespeare, Twelfth Night, karakter bernama Viola dikisahkan menemui Duke Orsino, karakter yang kelak menjadi kekasihnya, dalam penyamaran sebagai seorang pemuda bernama Cesario. Penyamaran ini tadinya adalah sarana perlindungan setelah kapal yang ditumpangi Viola terdampar, dan dia sendirian di negeri asing. Walaupun penampilan ini mengurangi kebebasan Viola dalam mengekspresikan cintanya pada Orsino, penampilan ini justru menjadi ruang bagi Viola untuk mengembangkan hal lain: persahabatan mendalam. Shakespeare hidup pada masa dimana wanita yang belum menikah bahkan tidak diijinkan bertemu pria kecuali ditemani, apalagi mengembangkan persahabatan erat dengan tingkat penghormatan setara. Di Inggris era Shakespeare, wanita yang bersikap tidak konvensional adalah ancaman, simbol abnormalitas, terutama ketika Elizabeth I terbukti mampu menjadi penerus tahta dan mempertahankannya; sesuatu yang menimbulkan kecemasan golongan tertentu dalam lingkungan Inggris masa itu yang sangat patriarkis. Di Illyria, negeri khayalan Shakesepare dalam Twelfth Night, peran gender itu diobrak-abrik lewat Viola.

dtwelfth-6110

Nell Geisslinger (kiri) memerankan Viola/Cesario dalam Twelfth Night produksi Utah Shakespeare Festival 2014, bersama Grant Goodman sebagai Orsino (Foto oleh Utah Theatre Bloggers).

Kemampuan Viola (sebagai Cesario) dalam menjalin persahabatan dengan Orsino terbukti menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi keduanya; karena tidak seperti cinta menggebu Romeo pada Juliet yang sebenarnya hanya sempat ditemuinya sekilas-kilas, penyamaran Viola memberinya kesempatan untuk menjadikan Cesario sahabat yang saling mengerti; mereka menjadi sahabat akrab sebelum menjadi kekasih, sesuatu yang sulit dilakukan wanita yang belum menikah di Inggris jaman Shakespeare (hal yang juga terjadi pada Eowyn; dia tidak menikahi Aragorn yang dipujanya dari kejauhan sebagai pahlawan. Dia menikahi Faramir, yang bukan hanya menganggapnya rekan jiwa setara, namun menghormati Eowyn dan mencintainya apa adanya, karena dia memahaminya).

Portia dalam lakon The Merchant of Venice juga sama; dalam kisah ini, alih-alih menghadirkan tokoh pria yang menyelamatkan wanita, Shakespeare justru menghadirkan klimaks berupa wanita bernama Portia yang menyelamatkan Antonio, penjamin hutang suaminya, Bassanio, dari kontrak Shylock si rentenir yang menuntut sekerat daging tubuhnya jika hutang tersebut tak terbayar. Tahu bahwa strategi pemutusan kontrak ini hanya bisa dilakukan secara legal di pengadilan, Portia pun menyamar menjadi seorang pengacara laki-laki untuk membela sahabat suaminya. Kehadiran Portia sebagai pahlawan yang hadir menyelamatkan si karakter laki-laki sangat kontras dengan penampilan awalnya yang pasif; seorang wanita keluarga kaya yang memilih pelamar dengan menyuruh mereka memilih satu di antara tiga kotak yang terbuat dari logam berbeda. Sebuah ujian khas yang biasa diberikan kepada para pahlawan pria demi mendapatkan wanita, namun dengan twist cerdas dari Shakespeare di akhirnya. Penyamaran memberi Portia kebebasan untuk mendobrak batasan bagi gendernya, memberinya kesempatan untuk menyelamatkan sahabat suaminya dan mengubah drastis jalan cerita.

portia_-_henry_woods

Portia dalam penyamaran sebagai pengacara, oleh Henry Woods

Bagaimana dengan Eowyn? Membaca The Lord of the Rings: The Two Towers di awal-awal seolah memberi gambaran cukup pasif tentang Eowyn. Sama seperti Portia dalam Merchant of Venice, di awal-awal kemunculannya, Eowyn dideskripsikan sebagai gambaran khas tokoh wanita dalam roman kepahlawanan atau fiksi fantasi Eropa, sosok yang memesona namun pasif: wanita cantik dan pucat bergaun putih, dengan rambut emas panjang bergelombang. Menariknya, Tolkien justru memilih kata-kata yang menciptakan kontradiksi dalam penggambaran Eowyn, memberi petunjuk awal keunikan karakter ini, yang samar-samar bisa ditangkap pembaca yang jeli. Pada awalnya, Eowyn dideskripsikan sebagai “wanita bergaun putih” yang hanya berdiri tanpa bicara di samping Theoden. Kemudian, deskripsinya berpindah ke penggambaran tradisional wanita cantik dalam kisah fantasi:

“Very fair was her face, and her long hair was like a river of gold.”

Akan tetapi, tiba-tiba saja, deskripsi ini berganti menjadi karakteristik yang berkesan sangat kontradiktif:

“Slender and tall she was […] but strong she seemed and stern as steel, a daughter of kings.”

Alan-Lee---Eowyn-et-Aragorn

Eowyn memberi cawan kepada Aragorn, oleh Alan Lee. Paduan antara tunik ksatria, pedang, dan cawan minuman sebagai pemberkatan bagi ksatria menggabungkan elemen maskulin dan feminin.

Dengan penggambaran yang serba kontradiktif ini, Tolkien seolah memberi petunjuk bahwa wanita yang penggambaran awalnya sangat tradisional ini kelak akan menjadi seseorang yang perannya jauh melebihi ekspektasi gendernya. Bahkan sebelum Eowyn kelak mengenakan penyamarannya sebagai prajurit bernama Dernhelm, dirinya masih digambarkan oleh karaker pria di awal-awal kemunculannya, dengan sudut pandang dari mata pria yang menganggapnya sebagai wanita yang perlu diselamatkan. Ketika Grima Wormtongue akhirnya diusir dari Rohan dan Theoden lepas dari pengaruhnya, Gandalf berkata: “Eowyn sudah aman sekarang.” Padahal sebelumnya, justru Theoden, sang raja, yang terperosok ke dalam rayuan Wormtongue, sedangkan Eowyn dengan gigih berhasil menolaknya. Jadi, siapa yang sebenarnya baru diselamatkan?

Ketika Theoden akhirnya siap berangkat untuk berperang, Eowyn-lah yang secara aklamasi ditunjuk oleh rakyat Rohan untuk memimpin dan melindungi mereka, mewakili sang raja. Hal ini memang menunjukkan struktur sosial yang tidak sekaku Illyria atau Venesia ala Shakespeare dalam Twelfth Night dan The Merchant of Venice, namun dalam novel, Eowyn mulai menunjukkan bahwa dia siap menerima peran yang melebihi ekspektasi gender dalam lingkungannya; dia melepas kepergian Theoden dan rombongannya dalam baju zirah. Akhirnya, ketika Eowyn mengenakan penyamaran sebagai Dernhelm, dia bertindak lebih jauh dengan mengangkat sosok lain yang perannya cenderung marjinal dalam dunia Middle Earth.

Eowyndernhelm matt stewart

Eowyn sebagai Dernhelm dan Merry, oleh Matt Stewart

Merry adalah Hobbit, yang dalam bahasa umum kerap disebut sebagai “Halfling.” Sosok yang ukurannya hanya “separuh” Manusia, dan dari kaum yang tak menonjol dalam sejarah. Eowyn, dalam penyamarannya sebagai Dernhelm, mengajak Merry menyaru dalam barisan prajurit pria, membantu mengangkat derajat sosok yang dimarjinalkan ini menjadi salah satu pemeran penting dalam sejarah baru Middle Earth; mereka akhirnya bersama-sama membunuh Witch King. Ketika tak ada seorangpun prajurit pria yang bisa membunuhnya, seorang wanita dan Hobbit justru berhasil melakukan tugas itu. Ketika menyadar hal ini, saya jadi ingat sebuah kutipan menarik yang pernah saya dengar dari video tentang seorang aktifis di Nepal (tapi saya lupa namanya): “ketika masyarakat memerhatikan hak-hak kaum yang dimarjinalkan, hal itu juga berdampak pada hak kaum wanita dan anak-anak.”

Ketika Aragorn berargumen dengan Eowyn soal mengapa dirinya harus tinggal di Rohan dan tidak ikut bertempur, Eowyn mengucapkan kata-kata ini:

“All your words are but to say: you are a woman, and your part is in the house. […] But I am of the house of Eorl and not a serving-woman. I can ride and wield blade, and I do not fair either pain or death.”

Sebelum ada yang protes, ingat bahwa ini tidak sama dengan perdebatan “mana yang lebih baik, jadi ibu rumah tangga atau wanita karir?” Tidak sama sekali. Saya melihat pernyataan Eowyn sebagai sisi pemberontakan atas ekspektasi gender yang dikenakan pada wanita hanya karena mereka, yah, wanita, yang tidak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih keagungan yang sama seperti kaum pria. Walau pada akhirnya opini Eowyn sedikit melembut setelah menemukan teman bicara yang setara alih-alih menggurui dalam diri Faramir, namun jangan lupakan dialog ini:

Aragorn: “What do you fear, my lady?”

Eowyn: “A cage […] To stay behind bars, until use and old age accept them, and all chance of doing great deeds is gone beyond recall or desire.”

Sangkar. Bahkan wanita kuat seperti Eowyn pada akhirnya tetap merasakan sedikit ketakutan dalam dirinya, ketika merasa bahwa dirinya akan dikurung. Rasa takut yang tak pernah hilang dari diri kaum wanita sejak dulu, walau pencapaian manusia di dunia ini sudah sangat luar biasa. Dalam Game of Thrones (atau seri A Song of Ice and Fire, kalau Anda pembaca novel)Brienne of Tarth bahkan melakukan hal yang drastis: sebagai anak perempuan yang jauh dari harapan ayahnya, dia tumbuh dengan berfokus pada ilmu pertempuran, menyembunyikan cinta pada seorang pria dalam topeng kesetiaan sebagai pengawal, dan rutin memperkuat dirinya. Dia mengenakan baju besi dan membawa pedang, namun dia selalu merasa takut kala baju besi dan pedangnya tidak menempel di tubuhnya. Namun tidak peduli sekuat apapun dirinya, sebagai seorang wanita, reaksi para pria di sekitarnya biasanya terbagi menjadi tiga: antara menghina wajahnya yang tidak cantik, membencinya karena dia bisa mengalahkan mereka, atau ingin memerkosanya. Rasa takut yang terlalu familiar bagi banyak wanita di seluruh dunia. “Penyamarannya” sebagai ksatria berbaju zirah bukan untuk menyembunyikan identitas; itu adalah perlindungannya. Ketika melihat Brienne pertama kali, Catelyn Stark tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, tapi itu karena Brienne mengenakan helm yang menutupi identitasnya sebagai wanita. Begitu dia menunjukkan identitasnya sebagai wanita di balik baju besi, rasa kagum berubah menjadi belas kasihan. Mungkin karena, sebagai sesama wanita, Catelyn tahu apa yang harus dihadapi Brienne dengan pilihan hidup yang tidak konvensional seperti itu.

Sangkar yang sama mengungkung dan membatasi peran Viola di Illyria dan Portia di Venesia, namun mereka menggunakan penyamaran sebagai kunci untuk membuka sangkar itu. Dan tidak seperti kisah-kisah ala Joan of Arc dimana wanita yang dianggap tidak konvensional akhirnya menemui akhir yang tragis, hal yang sama tidak terjadi pada ketiga protagonis kita. Viola menikah dengan Duke Orsino dan hidup bahagia, Portia berhasil membebaskan sahabat suaminya, mengusir sang rentenir dari kota, dan tetap memiliki hubungan harmonis dengan suaminya. Eowyn berhasil mendapat sudut pandang baru tentang kehidupan, ketika dia akhirnya memilih menjadi penyembuh alih-alih pembunuh, dan akhirnya menemukan pasangan yang setara dan memahami dirinya seperti Faramir.

Akhirnya, walaupun cerita para wanita ini berbeda, ada kesamaannya: ada sangkar tak kelihatan yang melingkari mereka, dan sangkar itu seringkali dipenuhi binatang buas. Mereka harus melakukan hal-hal drastis untuk susah payah keluar dari sangkar itu, sesuatu yang masih terlalu familiar bahkan bagi banyak wanita jaman sekarang. Dan jangan lupa juga, setiap wanita bisa dikungkung oleh sangkar yang bentuknya berbeda-beda, sama seperti kisah Viola, Portia, Brienne dan Eowyn yang berbeda, jadi jangan menyamaratakannya.

Sumber:

Shakespeare, William. 1993. The Merchant of Venice. London: Orion Publishing Group.

Shakespeare, William. 1993. Twelfth Night. London: Orion Publishing Group.

Thum, Maureen. 2007. “Hidden in Plain View: Strategizing Unconventionality in Shakespeare’s and Tolkien’s Portrait of Women.” Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J.R.R. Tolkien. Ed. Janet Brennan Croft. California: Mythopoeic Press.

Tolkien, JRR. 1991. The Two Towers. London: HarperCollins.

Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan Lukisan ‘Sleep and His Brother Death’

Saya pertama kali tahu tentang pelukis Inggris John William Waterhouse sekitar 10 tahun yang lalu. Persisnya kenapa dan bagaimana, saya sudah lupa. Tapi yang saya tahu adalah: dari sekian banyak lukisannya yang cenderung bertema klasik dan mitologi, ada satu lukisan yang sejak dulu sampai sekarang selalu membekas di hati.

Sleep and His Brother Death.

Waterhouse-sleep_and_his_half-brother_death-1874

Dulu, saya tidak bisa menjelaskan kenapa lukisan ini yang paling berkesan, dari sekian banyak lukisan Waterhouse lainnya, Bahkan sekarang, penjelasan yang saya punya harus dideskripsikan panjang lebar. Mungkin karena judulnya yang penuh kontradiksi. (Sleep dan Death adalah terjemahan bahasa Inggris untuk nama kedua tokoh mitologi dalam lukisan tersebut, Hypnos dan Thanatos). Mungkin karena lukisan ini memotret bentuk keintiman lembut yang jarang saya lihat pada potret dua bersaudara. Mungkin karena saya, sebagai anak sulung, dari dulu sebenarnya bermimpi punya kakak laki-laki. Tapi apa yang saya ketahui tentang kisah di balik pembuatan lukisan ini mungkin juga berkontribusi pada sentimen yang saya rasakan.

John William Waterhouse (1849-1917) adalah pelukis Inggris yang terkenal dengan gaya melukis yang dipengaruhi era Pre-Raphaelite dan Impressionist, dengan subyek lukisan tokoh-tokoh dalam mitologi Yunani dan Romawi, legenda Arthur, sejarah kuno, serta karya Shakespeare. Lukisan-lukisannya yang paling terkenal misalnya La Belle Dame Sans Merci, The Lady of Shalott, Ophelia, Hylas and the Nymphs, The Mermaid, Ulysses and the Sirens, Miranda, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, dilihat dari kronologi pembuatan karya-karyanya, Waterhouse sendiri nampaknya menganggap Sleep and His Brother Death adalah salah satu karya paling istimewa.

Sleep and His Brother Death adalah salah satu lukisan pertama Waterhouse, yang juga dipamerkan di pameran musim panas Royal Academy pada tahun 1874, serta menjadi pembuka kesuksesannya (Waterhouse berhasil mengadakan pameran tahunan dan berkontribusi dalam berbagai ajang seni di London sejak lukisan tersebut menjadi terkenal). Dalam mitologi Yunani, Hypnos adalah perwujudan dari “tidur,” dan Thanatos adalah perwujudan dari “kematian.” Mereka adalah anak-anak Erebus, Dewa Kegelapan, dan Nyx, Dewi Malam. Kediaman mereka dihiasi oleh bunga poppy yang biasa digunakan sebagai tanaman penghilang rasa sakit dan sedatif (memiliki efek menidurkan, namun bisa mematikan jika berlebihan), dan di dekatnya, mengalir sungai yang disebut sebagai Sungai Lethe (River of Forgetfulness).

Akan tetapi, lukisan ini juga memiliki makna sentimental: Waterhouse melukisnya sebagai kenangan terhadap adik lelakinya, yang meninggal di usia muda karena TBC.

Begitu menyadari fakta tersebut, semua elemen yang ada di lukisan ini menjadi terasa masuk akal. Hypnos tidur dengan beberapa bunga poppy di pangkuannya, kepala menyender ke bahu saudaranya, yang menaruh lengannya di belakang tubuhnya. Akan tetapi, walau dalam posisi tidur yang cukup dekat, Hypnos berbaring di sisi tempat tidur yang dibanjiri cahaya, sedangkan sebagian besar ruangan (termasuk sisi tempat Thanatos tidur) diselimuti kegelapan. Saya kerap mencoba membayangkan Waterhouse muda, duduk di depan kanvas dalam keadaan berdukacita, membayangkan figur adiknya saat dia menyapukan kuas dan cat. Saya tak ingin kedengaran sok tahu, tetapi saya suka membayangkan dia menuangkan beban di hatinya lewat sapuan bayangan yang begitu banyak. Bagaimana dia membuat ekspresi Hypnos begitu tenang ketika tidur di samping saudaranya, sang wujud kematian. Saya bahkan bertanya-tanya apakah wajah adiknya yang dipikirkan Waterhouse ketika melukis Hypnos, yang dalam lukisan kelihatan sedikit lebih muda dibandingkan Thanatos, walau dalam mitologi keduanya dideskripsikan sebagai saudara kembar. Apakah Waterhouse ingin meyakinkan dirinya bahwa adiknya telah “tidur dengan tenang” dalam kematian, karena kematian kerap dideskripsikan sebagai tidur yang sangat lama? Tentang itu, saya hanya bisa bertanya-tanya, karena tidak ada banyak informasi tentang kehidupan pribadi Waterhouse di masa-masa awal karirnya.

Hal lain yang membuat saya jatuh cinta pada lukisan ini adalah penggambaran yang lebih intim dan lembut dari dua tokoh mitologi yang umumnya tidak digambarkan selembut lukisan ini. Dalam puisi epik The Iliad, Hypnos digambarkan menipu Dewa Zeus demi membantu Dewi Hera agar kaum Danaan memenangkan perang Troya. Thanatos kerap diasosiasikan dengan aspek-aspek seperti Geras (Usia Tua), Moros (Maut), Eris (Dendam), dan Oizys (Penderitaan). Lukisan ini seperti sebuah “potret di belakang layar,” yang menunjukkan kedekatan kedua bersaudara ini saat berada dalam kondisi yang paling rapuh yaitu tidur. Melihat potret mereka berdua dalam keadaan seperti ini mungkin memberi sensasi yang sama ketika orang jaman sekarang melihat video Ricky Martin mengganti sendiri popok anak-anaknya, atau Barack Obama mengajak anak-anaknya beli permen di toko dengan pakaian santai: merasa kesenangan yang aneh ketika melihat bahwa orang-orang yang nampak sangat jauh dan tak terjangkau ternyata memiliki kesamaan dengan kita dalam aspek kehidupan pribadi.

Waterhouse mungkin juga ingat bahwa Thanatos adalah dewa yang diasosiasikan dengan kematian yang damai, berbeda dengan Keres, dewi yang diasosiasikan dengan kematian yang kejam dan menyakitkan. Melukis Hypnos dan Thanatos tidur berdampingan, mungkin, adalah bentuk harapan Waterhouse bahwa adiknya yang hidupnya direnggut saat masih muda itu akhirnya menemukan kedamaian dalam tidur abadinya.

Sentimen itu, nampaknya, adalah yang saya tangkap dan membuat saya jatuh cinta dengan lukisan ini; dari dulu hingga sekarang.

Sumber:

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

John William Waterhouse Works