Athrabeth Finrod ah Andreth: Apakah Mereka yang Ingin Abadi Paham Konsekuensinya?


Tanggal 25 Maret, para fans Tolkien di seluruh dunia merayakan Tolkien Reading Day. Saya sudah berpartisipasi tahun lalu dengan artikel bertema Persahabatan. Kini, temanya adalah Kehidupan, Kematian dan Keabadian (Life, Death and Immortality). Untuk saya, tak ada lagi yang lebih pas selain membahas tentang dialog filosofis antar Elf dan Manusia yang mendiskusikan ketiga hal tersebut. Sebagai pencipta dari dunia dan legenda Middle Earth, wajar jika Tolkien juga menginjak ranah pemikiran terkait perbedaan mendasar di antara Elf dan Manusia, sebagai ras yang “dibangkitkan” pertama kali dan selanjutnya.

Sifat Elf dan Manusia yang sangat berbeda terkait kehidupan dan kematian telah menjadi pendorong bagi berbagai kisah utama dalam Middle Earth legendarium. Kejatuhan kaum Numenorian ketika rajanya, Ar-Pharazon, melanggar batas dengan menggalang armada untuk menyerang Valinor demi mendapat hidup abadi. Kisah percintaan antara Beren dan Luthien serta Aragorn dan Arwen. Korupsi jiwa-jiwa Manusia oleh Melkor alias Morgoth, Dark Lord pertama, yang membuat banyak dari mereka memandang kematian sebagai kutukan, sehingga mudah digoda untuk melakukan kejahatan dengan janji kehidupan abadi. Sebagai Manusia, mungkin mudah untuk merasa iri pada kaum Elf yang dianugerahi hidup abadi. Akan tetapi, benarkah kasusnya demikian? Apakah Manusia sebenarnya tidak tahu apa yang mereka inginkan ketika berkata ingin hidup abadi?

Masuklah kita ke Athrabeth Finrod ah Andreth. Ini adalah satu bab dalam Morgoth’s Ring, seri kesepuluh dari kumpulan manuskrip Tolkien yang dibukukan dalam History of Middle Earth. Dalam bab ini, terdapat dialog panjang antara Finrod Felagund dan Andreth. Finrod adalah raja kaum Elf Noldor dan juga saudara dari Lady Galadriel, sedangkan Andreth adalah wanita bangsa Manusia dari House of Bëor, dan dikenal sebagai wanita bijak berwawasan luas. Percakapan mereka berlangsung di tengah-tengah Siege of Angband, pengepungan benteng Morgoth yang dilakukan kaum Noldor selama 400 tahun. Finrod dan Andreth mengembangkan persahabatan erat setelah mereka bertemu dalam masa-masa pengepungan tersebut; cukup erat sehingga mereka sering berdialog tentang berbagai macam hal.

Dalam dialog ini, keduanya memiliki perbedaan pendapat tentang kematian. Menurut Finrod, bangsa Manusia memiliki pandangan keliru terhadap kematian, karena kematian adalah anugerah bagi Manusia dari Eru. Sebaliknya, Andreth bersikukuh bahwa Finrod yang Elf tak akan pernah memahami takdir yang harus dihadapi Manusia. Menurut Andreth, dia percaya bahwa Manusia dulunya ditakdirkan untuk hidup abadi seperti Elf, namun kini mereka menjadi makhluk fana, selamanya hidup dalam ketakutan akan kematian.

Dalam dialog ini, Finrod dan Andreth juga mendiskusikan gagasan tentang perbedaan antara takdir Elf dan Manusia setelah kematian terjadi. Andreth untuk pertama kali akhirnya mengetahui bahwa kaum Elf “tidak seabadi” seperti yang dibayangkannya. Menurut Finrod, ketika Elf mati, jiwanya terpisah dari tubuhnya, namun tubuh itu tetap terikat pada Arda dan jiwa itu melayang ke Aula Mandos, tempat dimana mereka tinggal untuk diadili dan menanti keputusan apakah bisa kembali atau tidak jika mereka menginginkannya. Mereka tidak benar-benar pergi. Bahkan bagi Elf yang tetap hidup selamanya, jiwa mereka tetaplah terikat pada keberadaan Arda. Ketika Arda musnah, mereka pun musnah bersamanya. Pengetahuan ini menjadi beban bagi kaum Elf. Sebaliknya, tak ada yang tahu apa yang terjadi dengan jiwa Manusia ketika terpisah dari tubuhnya. Inilah, menurut Finrod, hadiah yang diberikan Eru pada Manusia, karena ini membuat Manusia jauh lebih bebas dari ikatan ketimbang Elf, dapat mengatur nasib mereka sendiri di Arda walau tetap di bawah tangan Eru, sesuatu yang membuat mereka bahkan tidak bisa dipahami oleh para Valar, yang merupakan utusan Eru serta pihak “agen perubahan” di Arda.

438px-Tuuliky_-_The_Death

The Death oleh Tuuliky

Karena Andreth rupanya sempat mengelirukan antara Eru (yang mencipta) dan Melkor (yang tadinya mengabdi di bawah Eru lalu memberontak dan menjadi Dark Lord, Morgoth), Finrod kemudian bertanya adakah kisah kuno bangsa Manusia yang menceritakan mengapa Manusia kehilangan keabadian mereka. Andreth berkata bahwa hal itu tak banyak diceritakan, namun dia berkata bahwa wanita bijak lain bernama Adanel mungkin mengetahuinya (tetapi Andreth tidak menceritakan kisah yang didengarnya, tentang bagaimana Manusia pertama dulu melihat Melkor dalam samaran yang rupawan dan menyangka dirinya adalah pencipta, dan ketika mereka terpengaruh, Melkor menanamkan kegelapan dalam jiwa mereka serta rasa takut akan kematian.) Andreth juga berkata bahwa ketika kaumnya pertama kali bertemu dengan Elf, mereka tidak mau repot-repot mendengar hikayat kaum Elf, karena mereka sudah memiliki hikayat mereka sendiri. Dalam hikayat kaum Manusia, Andreth hanya mendengar bahwa Manusia dulu ditakdirkan hidup abadi, tetapi mereka tidak mengenal konsep akhir dunia seperti yang disebut Finrod.

Percakapan berlanjut dengan pertanyaan Finrod tentang mengapa Manusia cenderung memelajari sesuatu karena ingin mengetahui sesuatu yang lain, gemar menyimpan kenang-kenangan, menyukai sesuatu karena sesuatu itu mengingatkan mereka pada hal lain yang indah, dan nampaknya memiliki memori akan hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Andreth menjawab bahwa itu semua karena Manusia menyadari bahwa waktu mereka tak lama, dan itulah sebabnya mengapa mereka cenderung kurang sabar dibandingkan Elf, serta menganggap bahwa tiap tindakan adalah cerminan dari kesadaran akan kefanaan mereka sendiri. Akan tetapi, Andreth tak bisa menjelaskan mengapa Manusia bisa memiliki memori terhadap sesuatu yang tak mereka lihat sebelumnya, yang membuat Finrod menyadari bahwa hal ini mungkin terkait dengan kuasa lain di luar pemahaman kaum Elf akan Arda dan seisinya.

Perdebatan mereka kembali sengit ketika membahas tentang konsep tubuh dan jiwa (hröa dan fëa). Menurut Finrod, tubuh Elf seperti “penginapan yang hanya dirancang untuk satu orang.” Ketika Elf mati (misalnya dalam perang atau karena dibunuh), jiwanya melayang ke tempat penantian bernama Aula Mandos, menanti pengadilan yang akan memutuskan apakah mereka bisa reinkarnasi atau tidak, dan reinkarnasi itu hanya bisa dilakukan ke tubuh yang identik. Sebaliknya, jika Manusia mati, tubuhnya musnah dan bebas dari ikatan terhadap Arda, dan tak ada yang tahu apa yang terjadi dengan jiwanya. Andreth menganggap hal itu adalah bukti bahwa tubuh Manusia hanya dianggap beban. Finrod, sebaliknya, menganggap bahwa tubuh dan jiwa Manusia bisa diandaikan sebagai pernikahan; tubuh adalah pasangan jiwanya dan tak bisa berpisah barang sebentar, tidak seperti Elf. Hal itu bukan hanya merupakan anugerah yang membebaskan Manusia, namun pada akhirnya, membantu membersihkan Arda dari noda yang mungkin ditinggalkan Melkor.

Andreth akhirnya menyampaikan bahwa bangsa Manusia mengenal konsep yang disebut Harapan Purba atau Old Hope, dimana pikiran Manusia menyederhanakannya menjadi fakta bahwa Eru sendiri, yang tadinya cenderung terasa “jauh” dari Manusia, akhirnya datang menghampiri mereka, membersihkan semua noda di Arda, menyembuhkan luka Manusia yang diakibatkan kuasa jahat yang disebar Melkor. Finrod merasa tertarik karena dia sebagai Elf tak pernah mendengar konsep ini sebelumnya, dan ini nampaknya adalah sesuatu yang hanya dipahami Manusia, bukan Elf. Pada akhirnya, dia menyimpulkan bahwa mungkin ini sebabnya mengapa Elf dan Manusia akhirnya dipertemukan; agar Elf dapat mengetahui adanya konsep Harapan yang sebelumnya hanya diketahui Manusia, dan Manusia dapat memahami mengapa umur pendek serta rahasia kematian mereka sebenarnya adalah hadiah dari Eru, bukan kutukan.

Akhirnya, dialog ini mencapai ranah sentimental, ketika kita menyadari dua hal: bahwa Andreth adalah seorang wanita tua dengan rambut yang mulai memutih, dan dia mencintai saudara lelaki Finrod, Aegnor, yang dijumpai Andreth saat dirinya masih muda. Alkisah, di tengah pengepungan Angband, Aegnor jatuh cinta pada Andreth setelah melihat bayangannya di permukaan Danau Aeluin. Walau mereka saling mencintai, Aegnor menolak untuk bersatu dengan Andreth, namun tidak menjelaskan sebabnya. Andreth mengira itu karena Aegnor menganggap dirinya lebih tinggi daripada Andreth yang Manusia, namun Finrod menyangkalnya. Hukum pernikahan menyatakan bahwa dia tak bisa menikah di saat-saat peperangan dan konflik, dan jika Aegnor ingin bersama Andreth, dia harus meninggalkan kewajiban terhadap kerabat dan kaumnya dalam peperangan tersebut, sesuatu yang tak bisa dilakukannya. Tahu bahwa Andreth mungkin akan mati karena usia ketika pengepungan panjang itu berakhir, Aegnor telah bersumpah untuk tak akan pernah sekalipun mencintai wanita lain, seumur hidupnya.

Pada akhirnya, Aegnor tewas oleh semburan api dari Gunung Thangorodrim yang dilancarkan Morgoth di awal Battle of Sudden Flame, dan tak ada yang mengetahui bagaimana nasib Andreth atau kapan sebenarnya dia meninggal.

361px-Tuuliky_-_Aikanaro_and_Andreth

Aegnor and Andreth oleh Tuuliky

Pandangan Tolkien tentang Kehidupan dan Kematian

“Keseriusan” bab ini berakar dari minat Tolkien atas aspek filosofis dan moralitas yang dipahami oleh karakter-karakternya, dan ini terkait dengan alasan mengapa Tolkien Reading Day tahun ini mengambil tema Kehidupan, Kematian dan Keabadian. Tahun 2016 adalah peringatan 100 tahun Battle of Somme, yang merupakan saat-saat terburuk bagi Tolkien selama Perang Dunia I, dimana banyak teman-temannya tewas dalam perang tersebut, termasuk sahabatnya, Rob Gilson. Peperangan, kematian sahabat, serta kondisi Tolkien yang sempat jatuh sakit selama perang bisa dipahami membuatnya berpikir tentang kehidupan dan kematian, hingga menuangkannya dalam karyanya.

Menurut putranya, Christopher, Tolkien aslinya menulis bab ini untuk dimasukkan ke apendiks The Silmarillion, dan dimaksudkan sebagai sebuah skenario imajiner tentang dialog cerdas yang mungkin terjadi antara Elf dan Manusia ketika mereka menjadi makin dekat dan makin penasaran terhadap eksistensi satu sama lain. Tolkien juga tidak berniat menggiring pembacanya untuk memercayai suatu konsep atau apalah. Dialog ini bisa dianggap sebagai perwujudan intelektual dari cara pandang terhadap kehidupan dan kematian, yang memengaruhi tindakan para karakter Tolkien dalam Middle Earth legendarium-nya.

Kalau menyikapi dialog ini secara mendalam, menarik melihat bagaimana Finrod dan Andreth beropini. Finrod bukan hanya seorang ksatria dan raja, namun juga haus pengetahuan, dan walau dia sangat tertarik untuk mengungkap lebih jauh tentang kaum Manusia terutama pandangan mereka akan kematian, dia memiliki cara pandang yang jauh lebih optimis akan masa depan Arda. Andreth, sebaliknya, lebih realistis dan di saat-saat tertentu bahkan opininya cenderung tajam dan bernada memberontak, sehingga Finrod berkali-kali mengingatkannya dengan halus untuk memikirkan lagi ucapannya agar tidak dianggap lancang terhadap Eru. Buat saya ini menarik, karena walau Manusia akan seperti anak-anak saja bila dibandingkan Elf jika dilihat dari rentang usia, Andreth sendiri berpendapat bahwa Manusia justru memandang Elf sebagai anak-anak abadi karena tak sesinis mereka (sekali lagi, hal itu menurut Andreth karena Elf “tak perlu memikirkan kematian”).

Penjelasan tentang takdir Elf dan Manusia di muka Arda ini bisa dibilang menggugat protes Andreth (yang mungkin juga mewakili protes bangsa Manusia lain) tentang mengapa mereka tak bisa hidup abadi. Jawabannya: karena “keabadian” kaum Elf yang mereka pahami justru sebuah bentuk beban bagi kaum itu sendiri. Bangsa Elf tidak tahu apa yang menanti mereka. Bahkan ketika mereka terus hidup, keberadaan mereka terikat pada Arda dan seisinya. Ketika Arda semakin menua, mereka ikut terbebani. Ketika Arda musnah, mereka tahu mereka akan ikut musnah bersamanya, dan mereka tak tahu apa-apa soal apa rencana Eru ketika masa itu akhirnya tiba. Pengetahuan ini harus dibawa kaum Elf seumur hidup mereka. Dalam tingkatan tertentu, skenario “bagaimana seandainya manusia menjadi makhluk abadi” juga pernah dibayangkan di dunia nyata, dengan hasil yang tidak selalu enak.

Sebaliknya, apa yang dipandang sebagai bencana oleh Manusia (kefanaan dan kematian) justru adalah sesuatu yang disebut sebagai Gift of Men: Manusia tidak memiliki keterikatan yang sama dengan Elf terhadap Arda yang mereka diami, sehingga mereka memiliki kebebasan lebih dalam membentuk takdir mereka. Manusia juga tak perlu terbebani dengan apa yang akan terjadi pada mereka saat Arda entah kapan akhirnya musnah. Walau Eru sendiri paham bahwa Manusia tidak akan selalu memanfaatkan anugerah tersebut dengan cara yang harmonis dengan Arda, namun ketidakterikatan mereka dengan Arda akan menjadi elemen penting dalam rencana Eru di masa depan. Selain itu, pemahaman akan usia mereka yang pendek justru memberi Manusia semangat berapi-api untuk “melakukan sesuatu yang berarti” dan membuat hidup yang pendek ini lebih bermakna. Di benak mereka yang bijak, kematian adalah sesuatu yang harus disambut dengan tangan terbuka, bukan ketakutan. Itulah, menurut Finrod, penyebab mengapa Eru menjadikan Manusia sebagai penerus Arda, bukan Elf. Tidak seperti Elf, Manusia tidak ikut “memudar” bersama Arda, dan masa depan mereka adalah sesuatu yang bahkan membuat Valar merasa iri sekaligus tidak bisa campur tangan.

Di akhir dialog ini, ada sedikit aroma harapan dan pesimisme. Harapan, karena dialog ini memberi pemahaman dari sudut pandang dua pihak (Elf dan Manusia) yang memberi kisi-kisi tentang rencana Eru untuk Arda di masa depan, terutama terkait peran Manusia beserta anugerah khusus yang diberikan hanya pada mereka; ingat bahwa ini adalah masa-masa peperangan yang panjang, masa yang pastinya penuh rasa depresi dan pesimisme dalam benak kaum yang mengalaminya. Finrod pun menyampaikan opini berbau pesimisme yang sama, ketika dia berujar bahwa pernikahan antar Andreth dan Aegnor, kalaupun bisa terjadi, adalah sesuatu yang hanya akan berakhir oleh kesedihan karena maut, lantaran perbedaan metafisik antar Manusia dan Elf adalah sesuatu tak bisa dijembatani.

Dialog yang dilakukan oleh dua pihak dengan cara berpikir yang berbeda ini juga seolah memberi pilihan pada kita, sebagai manusia: bagaimana kita akan memandang kefanaan kita sendiri? Apa yang mau kita lakukan terhadapnya? Inilah sentimen yang akhirnya dilontarkan Gandalf dalam buku The Fellowship of the Ring.

“All we have to decide is what to do with the time that is given us.”

-The Fellowship of the Ring, Second Chapter: The Shadow of the Past

Sentimen yang sama juga muncul dalam salah satu surat Tolkien yang ditulis empat tahun sebelum kematian beliau; surat nomor 310 tertanggal 20 Mei 1969 untuk Camilla, putri penerbit rekan Tolkien, Rayner Unwin, yang bertanya pada Tolkien tentang “tujuan hidup”:

“How ought I to try and use the life span allowed to me? OR: What purpose/design do living things serve by being alive? The first question, however, will find an answer (if any) only after the second has been considered.”

Ketika berhadapan dengan kematian, manusia cenderung akan bertanya apa makna hidup, jika nyawa bisa melayang sedemikian mudahnya. Andreth menganggap Finrod yang makhluk abadi tidak akan pernah memahami cara berpikir Manusia yang takut akan kematian, dan Finrod memberi perspektif berbeda tentang kematian sebagai anugerah tersembunyi, serta bagaimana sebenarnya rasanya menjadi makhluk abadi yang keberadaannya terikat pada Arda. Andreth memberitahu tentang konsep Harapan, dan Finrod mungkin menjadi Elf pertama yang menyadari bahwa Manusia yang fana itu justru memiliki peran yang lebih besar sebagai penerus Arda ketimbang kaum Elf.

Finrod adalah tokoh yang tepat untuk menjadi teman berdialog Andreth, karena riwayat hidupnya sendiri kaya peristiwa dan konflik terkait kehidupan, kematian dan keabadian yang saling berkelindan. Dia adalah Elf Noldor, yang walaupun tak berpartisipasi dalam pembantaian terhadap sesama Elf yang dilakukan Fëanor dan anak-anaknya, namun ikut tertimpa ancaman kutukan Mandos, yang membuat mereka tak akan bisa terlahir kembali kecuali jika bertobat. Finrod juga adalah Elf Noldor pertama yang bertemu langsung dengan kaum Manusia, kerabat Andreth. Dia tetap hidup ketika perang berakhir, namun akhirnya dia justru tewas ketika membantu Beren lepas dari serangan serigala saat mereka ditawan oleh Sauron, walau tindakan heroik ini juga kemudian membebaskannya dari kutukan Mandos. Pada akhirnya, dia yang tadinya pesimis terhadap penyatuan Elf dan Manusia menjadi pembuka jalan bagi penyatuan pertama kedua kaum tersebut: pernikahan Beren dan Luthien. Walau Luthien menjadi kaum fana setelah memohon pada Mandos agar menghidupkan Beren yang sempat tewas terbunuh, dengan ganti keabadiannya sendiri, keduanya akhirnya bisa bersatu dan mengalami takdir yang sama ketika kematian menjemput, karena perbedaan metafisik di antara mereka akhirnya terjembatani. Mereka meraih apa yang Andreth dan Aegnor tak bisa dapatkan, walau ujungnya adalah kematian.

anke_eic39fmann_-_death_of_finrod_felagund

Death of Finrod Felagund oleh  Anke Eißmann

Dialog antara Andreth dan Finrod juga terjadi di tengah situasi perang. Mungkin ini mencerminkan apa yang dirasakan Tolkien ketika dia berada di medan perang saat sedang tidak menghadapi serangan; merenungkan semua yang mati di sekitarnya, teman-temannya yang tak akan pernah kembali lagi, dan berpikir apalagi yang berharga dalam hidup ini ketika begitu banyak nyawa melayang setiap hari. Saya belum pernah berada di situasi hidup dan mati, namun ketika hidup Anda terancam dan kematian mengelilingi Anda, mungkin Anda juga akan mulai lebih memikirkan tentang kematian, dan waktu-waktu yang telah Anda lalui sebelumnya sebelum sampai di titik ini.

“Yang bisa kita putuskan adalah apa yang akan kita lakukan dengan waktu yang ditinggalkan untuk kita.” Di dalamnya ada pesimisme sekaligus harapan: pesimisme karena kita tahu keterbatasan waktu kita, dan harapan karena ada kesadaran bahwa kita memiliki pilihan. Silakan menyikapinya sesuai mau Anda, tetapi ingatlah bahwa kalimat ini dipikirkan oleh orang yang telah melihat kematian dan kehilangan begitu banyak hal karenanya, namun bangkit kembali dan akhirnya berhasil menciptakan sebuah dunia.

485px-elena_kukanova_-_something_of_manwe_and_ulmo

Andreth dan Aegnor oleh Elena Kukanova

Happy Tolkien Reading Day!

Sumber:

Tolkien, J.R.R. 2000. The Letters of J.R.R. Tolkien. Boston: HoughtonMiffin.

Tolkien, J.R.R. 1993. Morgoth’s Ring. London: HarperCollins.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: HarperCollins.

2 thoughts on “Athrabeth Finrod ah Andreth: Apakah Mereka yang Ingin Abadi Paham Konsekuensinya?

  1. renpuspita berkata:

    Aku suka temanya, tentang keabadian dan kematian. Karena salah satu genre faveku adalah paranormal romance, dimana immortality diagung – agungkan, dimana jika salah satu karakternya berbeda status, kebanyakan akhirnya memilih menjadi immortal. Aku selalu berpikir, itu kok sepertinya memilih jalan yang gampang. Bahwa kalau ingin sebuah cerita cinta dengan tema paranormal/fantasy/supranatural itu punya happy ending, maka bikinlah salah satu tokoh yang tadinya manusia jadi immortal. Padahal beban keabadian itu pasti berat ya? Dan memang benar kalau kematian akhirnya jadi semacam “gift”, karena keabadian pun tak menjamin cinta akan awet sepanjang masa.

    Nice article!😀

    • Putri Prihatini berkata:

      Makasih banyak ya🙂 Ini lumayan bikin memeras otak, karena dalam rangka Tolkien Reading Day, saya harus ngikutin tema perayaan yang udah ditetapkan. Kenapa nggak sekalian menohok ke aspek filosofis kehidupan dan kematian? Apalagi ini sesuatu yang nggak bisa dibaca kalau nggak dari buku Morgoth’s Ring, yang notabene sebenarnya buku analisis manuskrip yangg sulit (padahal yang udah diterjemahin kan The Silmarillion, dan teks ini batal dimasukin ke The Silmarillion). Karena jujur, di balik karyanya yang kelihatan “dongeng” banget, Tolkien sebenarnya pemikir yang cukup realistis. Maklumlah beliau itu akademisi dulu, baru penulis buku fiksi. Apalagi pengalaman hidupnya mayan spesial. Saya jarang baca paranormal fantasy, tapi kalau yang dibilang Ren benar, berarti Tolkien memilih jalan berbeda ya? Dua pasangan utamanya, Beren/Luthien dan Aragon/Arwen justru memilih jadi mortal ketimbang immortal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s