Mengapa Kualitas Film The Hobbit Lebih Rendah dari LOTR?

hauj_bus_dwarves_dom

More like “Finding Hobbit”

Judul di atas terinspirasi oleh percakapan yang baru saya lihat di linimasa FB antara seorang kawan dan temannya yang membahas soal film The Hobbit. Kawan teman FB saya bertanya apa yang membuat film The Hobbit kualitasnya lebih rendah daripada LOTR walaupun keduanya sama-sama membuat banyak perubahan, penambahan dan pengurangan sehingga mengalami perbedaan dengan versi bukunya. Jawaban teman saya? “Intinya itu fan fiction. Kalau berdiri sendiri ya lumayanlah, tapi kalau dianggap sebagai adaptasi buku, ya hancur.”  Continue reading “Mengapa Kualitas Film The Hobbit Lebih Rendah dari LOTR?”

Menyelami Tolkien Setelah Film ‘The Hobbit’ Usai

lotr-books

Film The Hobbit telah resmi usai dengan diputarnya The Battle of Five Armies pada akhir tahun 2014, dan euforianya kini nampak sudah berakhir tergusur Star Wars, Mad MaxDeadpool, A Copy of My Mind, Surat dari Praha, dan segudang film lain dari dalam dan luar negeri. Kecuali mungkin di dalam forum penggemar Tolkien, atau situs-situs terkait Tolkien, saya hampir tak pernah lagi menemukan pembicaraan panjang lebar tentang film The Hobbit. Walaupun The Hobbit jelas adalah adaptasi dari buku yang telah beredar sejak tahun 1937 dan mendapat banyak penghargaan, rasanya seolah buku dan si penulisnya ikut “tenggelam” bersama habisnya euforia filmnya. Atau setidaknya, itu yang saya lihat secara sepintas lalu dalam jejaring sosial dan tren dunia maya.  Continue reading “Menyelami Tolkien Setelah Film ‘The Hobbit’ Usai”

Tollywood, The Beatles, Ralph Bakshi, dan Peter Jackson: Sejarah Adaptasi LOTR dan The Hobbit

Kita tahu bahwa film The Lord of the Rings yang terkenal itu hadir pertama kali pada tahun 2001, dengan Fellowship of the Rings sebagai film bagian pertama yang langsung menuai banyak pujian, dan Return of the Kings sebagai bagian terakhir yang menyabet 11 Oscar. Walaupun trilogi The Hobbit yang baru main ini lebih banyak menerima kritikan (sampai-sampai ada fans serius yang mengedit sendiri ketiga film itu menjadi satu film yang hanya berdurasi 4 jam), hal itu biasanya karena orang membandingkannya dengan trilogi terdahulu, yang memang sangat sukses. Akan tetapi, bicara soal adaptasi film LOTR, hal ini bukan inisiatif Peter Jackson dan New Line Cinema saja lho. Usaha adaptasi sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 1968, ketika Tolkien menjual hak adaptasi Lord of the Rings ke United Artists.  Continue reading “Tollywood, The Beatles, Ralph Bakshi, dan Peter Jackson: Sejarah Adaptasi LOTR dan The Hobbit”

Maaf, The Silmarillion-nya Tolkien Tidak Akan Difilmkan!

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan di forum Indonesian Tolkien Society tempat saya numpang mangkal adalah: “setelah LOTR dan The Hobbit, Peter Jackson mau nggak ya memfilmkan The Silmarillion?” Bagi yang tidak tahu, karya-karya J. R. R. Tolkien yang terkenal dan berkaitan dengan dunia Middle Earth bukan hanya LOTR dan The Hobbit, melainkan juga karya-karyanya yang masih berupa manuskrip dan belum sempat diterbitkan pada saat kematiannya pada tahun 1973. Karya-karya tersebut kemudian disusun dan diedit oleh putranya, Christopher Tolkien, untuk kemudian diterbitkan dengan tetap memakai nama J. R. R. Tolkien (nama Christopher Tolkien biasanya nyempil sebagai editor). Selain The Silmarillion, karya-karya semacam ini misalnya adalah 12 edisi History of Middle Earth, Unfinished Tales, Bilbo’s Last Song, The Children of Hurin, dan The History of Hobbit. Kebanyakan karya ini menceritakan kisah-kisah yang terjadi sebelum era The Hobbit dan LOTR, yang menjadi penutup dari semua legenda awal tersebut.  Continue reading “Maaf, The Silmarillion-nya Tolkien Tidak Akan Difilmkan!”

Jalan-jalan ke Middle Earth yang Bukan Mengkhayal

Mungkin dunia literatur fiksi dan layar lebar sedang didominasi oleh Game of Thrones, tetapi untuk rajanya fiksi fantasi, tidak ada yang lebih memberikan pengaruh dibandingkan J. R. R. Tolkien serta anak-anak emasnya, keluarga The Lord of the Rings. Kalau tak percaya, silahkan lirik buku-buku fiksi fantasi yang menampilkan tokoh-tokoh Elf, salah satu karakter kaum paling menonjol di LOTR, dan anda sah-sah saja kalau berpikir “oh, kayaknya bentuk elf seperti ini pernah gua lihat di buku….”. 

Perkara mengapa beliau lebih kurang punya nama beken ketimbang J. K. Rowling, misalnya, mungkin karena beliau memang aslinya profesor bidang bahasa yang benar-benar menerapkan ilmunya dalam pembuatan buku yang seharusnya sebuah fiksi fantasi, dan membuat banyak orang merasa bahwa membaca novelnya sama sekali tak bisa santai (atau mungkin karena beliau berhasil membuat banyak seri buku LOTR tanpa satu adegan seks eksplisit sedikitpun; ini mungkin menjelaskan melimpahnya fanfic-fanfic bertema homoerotis oleh para fans yang gregetan. Aragorn/Legolas, anyone?).  LOTR pun menjadi inspirasi dan acuan dalam berbagai buku, film serta animasi bertema sejenis,  permainan komputer, seminar, komunitas, kajian akademis, karya seni…dan dunia wisata.  Continue reading “Jalan-jalan ke Middle Earth yang Bukan Mengkhayal”

Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!

Bagi saya, yang sudah bosan dengan superhero Barat yang serba ideal baik dari penampilan maupun sifat, menonton Hellboy seperti mendapat angin segar. Akhirnya, superhero yang gegabah, sok tahu, merokok, minum bir, dan punya hobi ngemil sambil nonton TV. Jadi, ketika menonton Hellboy II: Golden Army, saya agak kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa saya malah gandrung dengan tokoh antagonisnya, Prince Nuada, yang dalam film diperankan oleh Luke Goss.  Continue reading “Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!”