Dari Blog ke Seminar: Kisah Artikel yang “Terbang” ke Leeds

Tanggal 1 Juli 2018, artikel saya yang berjudul The Names of Túrin Turambar and “Spiritual Burden” Concept in Javanese Naming Philosophy dibacakan di ajang Tolkien Society Seminar 2018 yang berlangsung di Leeds. Saya bilang “dibacakan” karena memang saya tidak ada di sana untuk mempresentasikannya sendiri, sehingga otomatis menjadikan saya sebagai satu-satunya peserta yang tidak bisa foto bareng sambil pamer kartu peserta dan latar belakang logo Tolkien Society, dan tentunya…nggak dapat jatah konsumsi (*garuk tanah*).

tolkien society seminar 2018

My superpower: invisibility

Nelson Goering, ketiga dari kanan (di belakang), membawakan makalah saya

Sumber

Lalu, bagaimana ceritanya tulisan yang asalnya dari postingan blog singkat itu bisa terbang meninggalkan pemiliknya di Kalimantan Timur untuk eksis di Leeds?

Berikut ceritanya.

llham yang Tidak Sengaja Mampir

Artikel saya adalah versi lebih panjang dan terpoles dari postingan ini. Saya sendiri sudah lupa bagaimana ceritanya ide ini mampir, tapi dibandingkan dengan semua postingan blog saya, ini adalah yang paling random. Saya punya buku catatan khusus untuk mencatat semua ide blog. Tetapi, ide yang satu ini sama sekali tidak direncanakan, dan spontan melintas begitu saja (saya bahkan sedang tidak duduk di toilet, yang katanya salah satu tempat paling oke untuk mencari inspirasi).

Tapi saya tidak heran soal kenapa menjelaskan hal ini bisa jadi membingungkan. Maklum, walau sering disebut dalam kaitannya dengan proses kreatif, psikolog dan pakar neurologi masih belum terlalu mendalami konsep inspirasi. Yang paling “kena” untuk pengalaman saya mungkin penjelasan Mozart saat ditanya tentang proses kreatifnya. Dalam kutipan dari esai R. E. M. Harding yang bertajuk An Anatomy of Inspiration and An Essay on the Creative Mood (1948), Mozart mendeskripsikan proses kreatifnya seperti ini: “Aku menyimpan ide-ide yang membuatku tertarik dalam otakku dan menyenandungkan mereka. Setelah terus-terusan melakukannya, aku akhirnya mengetahui cara memadukan potongan-potongan kecil bahan ini menjadi sajian utuh”.

Sebelum saya disantet karena dianggap menyamakan diri dengan Mozart, saya mau bilang kalau ini mungkin memang terkait dengan memori akan ide-ide yang sudah masuk ke otak saya sebelumnya. Keluarga saya berasal dari Jawa Timur, tetapi saya lahir dan dibesarkan di Balikpapan, kota niaga dengan populasi campuran dari berbagai wilayah di Indonesia. Saya dibesarkan sebagai anak kota, dan hanya sedikit sekali terpapar bahasa atau budaya Jawa. Tetapi, saya selalu menyimpan kenangan akan kisah-kisah terkait kultur Jawa yang diceritakan keluarga atau tetangga, termasuk tentang kabotan jeneng (mungkin karena kisah-kisah ini lebih memiliki koneksi intim dengan hubungan antar manusia, sehingga menarik).

Memori tentang kisah-kisah kabotan jeneng itu lewat di benak saya ketika membaca kisah Túrin Turambar. Ketika memori itu hadir, alih-alih menyingkirkannya dari otak agar bisa kembali fokus membaca novel, saya justru berhenti dan berpikir: “Túrin ganti nama beberapa kali setiap dia ditimpa kesialan. Orang yang kabotan jeneng biasanya diganti namanya supaya nggak keberatan nama dan sakit-sakitan terus. Kok mirip ya? Apakah ada benang merah yang bisa ditarik?” Dan begitu dua ide tersebut klop, rasanya diri ini langsung kebelet pipis saking semangatnya.

Sebelum lupa, saya segera menyalakan laptop, membuka WordPress, dan mulai ngebut mengetik. Saya bahkan tidak pikir panjang untuk menulis artikel itu dalam Bahasa Inggris: saya hanya berpikir bahwa mungkin tema ini menarik untuk dibagikan pada pembaca yang lebih luas (saat itu, saya sudah mengenal beberapa anggota komunitas penggemar Tolkien dari negara lain, termasuk Becky Dillon yang mengelola  International Tolkien Fellowship – News and Publication serta memberi saya buku ini).

Setelah artikelnya rampung, saya tidak berharap banyak. Saya anggap itu sama saja seperti postingan blog lain yang sudah saya buat sebelumnya (euforia dapat idenya hilang setelah berjam-jam menulis sambil menahan kantuk, plus menyadari bahwa saya jadi harus lembur menggarap kerjaan yang sesungguhnya gara-gara terlalu semangat ngeblog). Saya sudah cukup senang bahwa Shawn E. Marchese, teman Facebook sekaligus salah satu narator The Prancing Pony Podcast ikut sumbang komentar positif di sana.

Dan begitulah, artikel itu pun disusul oleh postingan-postingan blog berikutnya. Saya tidak memikirkannya lagi sampai Negara Api menye… eh, maksudnya sampai The Tolkien Society International mengumumkan informasi pendaftaran makalah untuk The Tolkien Society Seminar.

Detik-detik Pendaftaran 

Pada tanggal 15 Desember 2017, The Tolkien Society mengumumkan bahwa mereka telah membuka pendaftaran untuk makalah bertema Tolkien the Pagan: Reading Middle-earth through a Spiritual Lens. Makalah yang masuk akan diseleksi untuk dipresentasikan di dalam seminar. Saya melihat pengumumannya, tetapi sama sekali tidak berpikir untuk mendaftar. Mungkin karena saat itu saya masih menata pikiran sekaligus sibuk menghibur ibu pasca meninggalnya ayah saya pada bulan November. Lagipula, yang sudah-sudah, peserta seminar semacam ini biasanya kaum akademisi atau penulis literatur dan bidang terkait yang sudah cukup punya nama.

Tetapi, karena rincian temanya menarik, saya memutuskan untuk melihat komentar orang-orang, dan mengetahui bagaimana respons mereka. Seketika, saya menyesal. Kenapa? Karena banyak yang marah dengan tema seminar tersebut. Saya sendiri belum punya cukup banyak pengetahuan untuk ikut berpendapat, tetapi di kalangan penggemar Tolkien, ternyata ada cukup banyak orang yang berpendapat secara kaku bahwa menganalisis karyanya di luar koridor sastra Eropa dan kajian filosofi Katolik adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Bahkan ada yang bilang kalau Tolkien masih hidup, dia pasti akan marah dan memprotes seminar ini! (padahal teman Facebook saya dari Tolkien Society Jerman yang mengelola situs The Tolkienist, Marcel Aubron-Bülles, malah bilang kalau Tolkien justru akan mencari “pertanyaan besar” dari tema seminar itu, lalu menulis paling tidak 20 halaman makalahnya sendiri).

Saya sendiri berpikir keberadaan fans seperti itulah yang mendorong The Tolkien Society membuat tema ini, karena tujuannya adalah menemukan perspektif baru dalam pembacaan karya-karya Tolkien, terutama dari pembaca dengan latar belakang non-Eropa dan/atau non-Katolik. Karena sudah terlanjur kesal dengan kolom komentar yang mulai panas, akhirnya saya putuskan untuk “curhat” sedikit pada Becky. Saya juga bilang kalau tema seminarnya sepertinya menarik, dan mungkin ada salah satu postingan blog saya yang sedikit nyambung dengan itu.

Tahu-tahu, Becky malah bilang, “Mana postingan blogmu? Coba aku lihat”.

Saya pun memberi tautan ke postingan blog yang tadi saya bahas. Setelah sekitar 15 menit, Becky berkomentar: “Putri, justru inilah jenis makalah yang diinginkan oleh The Tolkien Society untuk disampaikan di seminar! Setahuku, sudut pandang tema yang kamu deskripsikan ini (tradisi terkait penamaan dalam kultur Jawa) nyaris asing bagi banyak anggota komunitas di sini. Ini akan jadi sumbangan makalah yang bagus!”

Sambil mikir lah, kok jadi dia yang semangat, saya mencoba memastikan bahwa komentar itu serius.

“Tapi postingan blog ini simpel banget, lho. Dan referensi yang kucantumkan terlalu sedikit. Kamu yakin?”

“Yakin! Kamu tinggal tambahkan detail-detailnya dan perhalus tulisanmu, lalu tambahkan referensi serta pembahasannya, tetapi intinya tetap seperti ini. Jangan lupa  buat abstraknya dan daftarkan makalahmu lewat situs The Tolkien Society. ‘Kan masih ada waktu sampai 1 Juli, jadi waktumu banyak. Ayolah.”

Saya masih belum menyerah dengan kepesimisan ini, dan bertanya lagi, “Tapi aku tidak akan bisa pergi ke Leeds. Makalahnya ‘kan akan dipresentasikan?”

Becky juga tidak mau menyerah. “Aku akan berusaha menghubungi pembicara yang mau mempresentasikan makalahmu. Acaranya ‘kan hanya sehari, dan makalahnya pendek-pendek, jadi kurasa tidak akan ada masalah kalau salah satu dari mereka membacakan makalahmu.”

Dengan kalimat penyemangat itu, maka saya pun memutuskan untuk menulis abstrak dan mendaftarkan makalah saya. Perkara entah bagaimana saya membuat postingan itu pantas untuk dipresentasikan di seminar saya pikirkan belakangan. Yang penting daftar!

Saya tidak terlalu kaget ketika mendapat email dari panitia bahwa makalah saya diterima, dan saya diharapkan hadir untuk presentasi. Setelah membalas untuk memberitahu bahwa saya tidak akan datang, dan Becky akan membantu saya menemukan pembicara, saya berpikir, “Oke, ini dia. Tidak ada jalan kembali. Menceburlah sekarang, atau mundur dan harga dirimu jatuh. Buktikan kalau kamu bisa”.

Masa-masa Penulisan

Hanya karena makalah saya berasal dari postingan blog, bukan berarti proses penggarapannya gampang. Postingan blog saya singkat dan dibuat dalam bahasa yang relatif santai, sementara makalah tentu menuntut bahasa yang lebih formal. Saya juga bingung bagaimana harus membuat penjelasan pembuka tanpa nyelonong begitu saja ke pembahasan tentang nama Túrin (saya akhirnya memutuskan mengaitkannya dengan tradisi penamaan anak oleh orang tua bangsa Elf, sesuatu yang digambarkan Tolkien secara mendetail serta terkait erat dengan aspek spiritual bahkan profetik).

Saya memutuskan untuk menambah penjelasan terkait tradisi penamaan dalam budaya Jawa lewat sumber-sumber yang lebih baru, seperti penelitian Sahid Teguh Widodo tentang tradisi penamaan di Kudus. Saya juga menambah rujukan terkait aspek sosio-kultural dari nama, seperti dalam makalah Mary V. Seeman yang bertajuk The Unconscious Meaning of Personal Names. Pokoknya saya benar-benar menghayati kembalinya suasana saat menggarap skripsi (lengkap dengan segala keseruan yang biasa macam stres, minum kopi berember-ember, dan makan banyak karena emosi).

31727884_10213104334537845_639047075870277632_n

Dan ketika minum kopi tidak cukup, ngunyah biji kopi lapis cokelat menjadi solusi

Di sela-sela keseruan penggarapan makalah, Becky menghubungi saya dan bilang kalau dia sudah menemukan pembicara. Saya masih sulit percaya kalau ada orang yang mau membuang waktunya menyampaikan makalah saya, tetapi mood saya langsung naik ketika mengetahui bahwa Becky ternyata mengajukan nama Nelson Goering. Saya senang sekali, bukan hanya karena Nelson adalah orang yang tepat untuk membacakan makalah saya (beliau adalah pemegang gelar DPhil bidang filologi dan linguistik dari Universitas Oxford), tetapi juga karena saya pernah membaca tulisan-tulisannya di Academia.edu, dan saya sangat menyukainya.

Setelah membuat grup percakapan khusus kami bertiga di Facebook, saya mulai membicarakan teknis-teknis penulisan dan presentasi. Nelson tidak banyak mengatur saya, tetapi dia beberapa kali menghubungi untuk memastikan cara pengucapan istilah Jawa yang saya masukkan di dalam makalah. Saya juga memutuskan untuk tidak membuat slide, karena teknisnya cukup ruwet (tapi dia meyakinkan saya bahwa beberapa pembicara juga tidak membuat slide, jadi tidak masalah).

Saya bilang pada Nelson: “Aku akan jujur. Kamu sudah punya gelar dalam bidangmu, dan aku sangat kagum dengan tulisan-tulisanmu. Aku mungkin peserta paling amatir dalam seminar ini. Tetapi, aku akan berusaha membuat makalah sebaik mungkin. Anggaplah aku mahasiswamu. Kalau cara menulisku ada yang kurang baik, beri tahu aku dan aku akan perbaiki.”

Nelson mengiyakannya, dan walau saya senang, tetap saja saya langsung grogi ketika melihat teks-teks merah di dalam makalah saya yang direvisinya. Serasa kembali ke masa ketika skripsi saya direvisi, yang justru membuat saya jauh lebih deg-degan ketimbang pembuatan skripsinya sendiri.

revisi

“Revisi ini, ini, ini, dan ini”

“SIAP”

(Dalam hati nyanyi lagu dangdut buatan sendiri berjudul “Kapan Wisuda”)

Beberapa hari sebelum tenggat waktu, saya mengirimkan versi akhir makalah kepada Nelson, mengucapkan terima kasih karena dia dan Becky sudah bersedia membantu saya, dan tidur. Que sera sera, gumam saya sebelum terlelap (dan seketika mimpi dimarahi editor karena lupa mengirimkan dua pekerjaan sekaligus).

Hari-H

Saat Hari-H, saya sibuk menghitung perbedaan waktu antara Kalimantan Timur dan Leeds, lalu mengira-ngira kapan seminar dimulai. Karena tidak ada video rekaman langsung, saya kurang mengerti juga bagaimana Nelson membawakan makalah saya. Untungnya, Dr. Dimitra Fimi membuat sederet laporan pandangan mata di halaman Facebook beliau (Dr. Fimi memang terkenal giat memberi informasi dalam ajang seperti ini).

Jujur, bahkan tanpa hadir di sana, saya sedikit terintimidasi juga. Nama-nama peserta presentasi itu tidak sembarangan. Banyak dari mereka punya gelar akademik tingkat lanjut, atau memang berkecimpung di bidang literatur, sastra, dan linguistik. Saya seorang penggemar Tolkien yang mempelajari semua yang saya ketahui secara otodidak (dan sering harus menabung berbulan-bulan hanya untuk membeli satu buku akademik atau nonfiksi demi bisa belajar lebih dalam tentang karya Tolkien). Paling banter ya menulis di blog. Beberapa kali saya berpikir apakah mereka akan menganggap karya saya sangat amatir.

Aduh, saya kedengaran pesimis sekali ya? Saya sudah membesarkan hati, dan berkata bahwa “Mereka menganggap tulisanku cukup bagus untuk dihadirkan di sini, berarti aku tidak punya alasan untuk merasa begini”. Tetapi tetap saja rasa itu hadir. Untungnya, Becky menyampaikan pada saya bahwa makalah saya diterima dengan cukup baik. Dr. Fimi bahkan berbaik hati mempromosikan blog saya dalam komentarnya:

37395405_10213612053510502_2530357283536240640_n

37631574_10213612058830635_2768829544440791040_n

Notice me, senpai

Banggakah saya? Tentu. Bangga sekali. Walau tidak seberapa, walau saya berpikir makalah saya masih amatiran, tetapi ini membuat saya merasa bahwa kegilaan terhadap karya Tolkien sejak awal masa SMA bukan sesuatu yang “menghabiskan waktu”. Saya ingat ada masa-masa di mana hal ini membuat saya merasa sendirian, terutama ketika saya menyadari bahwa saya baru menghabiskan sejam mencoret-coret analisis ini-itu di buku catatan, dengan ketekunan yang sama seperti siswa yang baru mengerjakan ujian esai tertulis.

Keterlibatan saya dalam seminar ini membuat saya mendadak menerima tawaran pertemanan di Facebook dari anggota-anggota Tolkien Society dari berbagai negara, seperti Jerman, Inggris, Spanyol, AS, dan tentunya yang di Indonesia juga. Status mereka memang “teman Facebook”, yang sering dianggap tidak sama dengan teman sesungguhnya. Oke, bisa diterima, tapi realita berkata bahwa saya tidak akan bisa berbicara dan berinteraksi dengan mereka jika tidak lewat Facebook. Saya tidak hanya bisa mengobrol dan berdiskusi, tetapi juga mendapat banyak info dan referensi menarik, misalnya informasi buku-buku baru atau sudut pandang analisis karya Tolkien yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya.

Saat ini saya masih berusaha mengembalikan ritme ngeblog yang agak melambat. Saya ada beberapa draft untuk digarap. Saya juga berpikir untuk mengunggah makalah ini di Academia.edu, walau saya nanti juga harus ngobrol dengan editor yang mengumpulkan makalah-makalah seminar untuk diterbitkan. Mungkin jika nanti ada ajang serupa, saya akan mencoba mengirim tulisan lagi. Diterima atau tidak, setidaknya saya tahu bahwa saya sudah mencoba, dan berhasil, jadi itu bukan hal mustahil. Dan ada begitu banyak hal baik yang datang dari keberanian itu.

I want to say thank you to so many people: Becky Dillon and Harm Schelhaas for encouraging me to send my paper. Nelson Goering for presenting it. Dimitra Fimi for giving positive feedback and promoting my blog in her page. Mbak Poppy D. Chusfani for connecting me with Becky a few years ago, and overall being a really great person (and fellow Tolkien fan) to interact with. The Tolkien Society for giving me a chance. All fellow Tolkien fans who know me for their positive feedback. And my sister, mother, and all my other friends who also gave me positive responses. No, I didn’t copy this from Academy Award winner speech. It is midnight and I’m too lazy to write smart thank-you remarks because my coffee somehow doesn’t work. So, yes, thank you so much.

Advertisements

Gadis Matahari, Pemuda Bulan: Tentang Arien dan Tilion

arien_and_tilion___lovers_in_the_sky_by_ingvildschageart-dav5o83

Arien and Tilion, oleh Ingvild Schage

Matahari dan bulan menempati posisi penting dalam berbagai mitologi dunia. Bahkan sebelum kemajuan sains mengungkap karakteristik keduanya secara mendetail, manusia sudah menempatkan keduanya di tempat istimewa, termasuk menciptakan gambaran antropomorfis (berciri manusia) untuk mendeskripsikan mereka. Arien dan Tilion adalah versi serupa di dalam legendarium Tolkien, perwujudan matahari dan bulan yang juga mencerminkan berbagai mitologi di dunia nyata.  Continue reading “Gadis Matahari, Pemuda Bulan: Tentang Arien dan Tilion”

Tawa dan Humor dalam Karya Tolkien (Ulasan Buku “Laughter in Middle-earth”)

laughter in middle earth

Terima kasih untuk Becky Dillon yang sudah jauh-jauh mengirimkan buku ini dari Jerman!

“Dalam bukunya Mr. Tolkien tidak banyak yang lucu-lucu.”  Continue reading “Tawa dan Humor dalam Karya Tolkien (Ulasan Buku “Laughter in Middle-earth”)”

“The Voyage of Éarendel the Evening Star,” Puisi yang Melahirkan Middle-earth

Tulisan ini dibuat dalam rangka Tolkien Reading Day tahun 2017 yang mengambil tema “Poetry and Songs in Tolkien’s Fictions.”

Ada banyak hal yang terjadi pada tanggal 24 September 1914, dan kebanyakan berkaitan dengan Perang Dunia I. Angkatan Udara Prancis mendirikan skuadron Escadrille 31 di Longvic sebagai persiapan perang. Pasukan Rusia memulai 133 hari pengepungan di Przemyśl. Pasukan Jerman merebut Péronne. Pasukan Inggris tiba di Laoshun untuk membantu pasukan Jepang. Australia menduduki Kota Friedrich Wilhelm di New Guinea.

Dan di sebuah rumah pertanian di pedesaan Nottingham, seorang pemuda berusia 22 tahun menulis puisi berjudul The Voyage of Éarendel the Evening Star.  Continue reading ““The Voyage of Éarendel the Evening Star,” Puisi yang Melahirkan Middle-earth”

Tentang Pertemuan dengan Hewan-Hewan Berwarna Putih dalam Legendarium Tolkien

Dari berbagai jenis hewan yang muncul dalam mitologi dan kisah-kisah fantasi, kemunculan hewan berwarna putih kerap dikaitkan dengan keistimewaan, entah itu terkait pertanda, keajaiban, terbukanya batas antara dunia nyata dan gaib, atau kehadiran penunggang kuda yang istimewa. Dalam legendarium Middle-earth karya J.R.R. Tolkien, pertemuan dengan hewan-hewan berwarna putih kerap menjadi sesuatu yang bermakna khusus, dan hal ini memiliki paralel kuat dengan mitologi serta folklore dunia nyata.  Continue reading “Tentang Pertemuan dengan Hewan-Hewan Berwarna Putih dalam Legendarium Tolkien”

The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi

Shibboleth (noun)

a : a use of language regarded as distinctive of a particular group.
b : a custom or usage regarded as distinguishing one group from others .

Merriam-Webster Online Dictionary

Bahasa adalah hal yang memiliki kekuatan besar; begitu besar sehingga kita mungkin tak merasakannya hanya karena kita menggunakannya setiap hari. Jangankan sepotong kata yang menghilang; perbedaan ejaan yang kedengarannya sepele sekalipun bisa menjadi pemicu untuk berbagai peristiwa penting. J.R.R. Tolkien, seorang filolog yang menekuni bahasa seumur hidupnya, sangat memahami hal ini, sehingga menuangkannya dalam salah satu manuskripnya untuk Middle-earth legendarium, yaitu sebuah esai berjudul The Shibboleth of Fëanor. Tolkien menggambarkan bagaimana perbedaan ejaan atau bunyi yang kedengarannya sepele dapat membuat pihak tertentu merasa terancam, bahkan menggunakannya sebagai upaya membuat klaim politik.  Continue reading “The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi”

Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales

Tulisan ini dimuat di situs Jakarta Beat pada tanggal 6 Februari 2017, dengan penyuntingan.

800px-donato_giancola_-_beren_and_luthien_in_the_court_of_thingol_and_melian

Beren and Lúthien in the Court of Thingol and Melian, oleh Donato Giancola

Kisah Beren dan Lúthien adalah salah satu yang paling berkesan dalam legendarium Middle-earth, serta kerap dikutip dan dikaji. Selain merupakan contoh kisah romansa kepahlawanan dengan karakter berkesan (genre yang tidak pernah mati), kisah ini juga menjadi penentu berbagai peristiwa serta kelahiran tokoh-tokoh penting yang kelak akan ditemui pembaca dalam kisah-kisah selanjutnya, termasuk The Lord of the Rings. Kisah Beren dan Lúthien juga unik karena memorakporandakan stereotip khas romansa kepahlawanan; dalam kisah ini, Tolkien menjadikan Lúthien, sang putri, sebagai penyelamat Beren dan bahkan sosok yang berperan meruntuhkan benteng “si penjahat,” alih-alih sebaliknya.  Continue reading “Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales”

Melkor dan Fëanor: Tak Sama Tapi Serupa

Saya ingat membaca sebuah manga ketika SMP, dimana ada dua karakter murid sekolah yang sama-sama mati gara-gara saling membenci dan selalu bersaing untuk segala hal, mulai dari peringkat di sekolah hingga masalah cowok. Karakter gaib yang mereka temui setelah kematian mereka justru tertawa mendengar cerita itu dan berkata: “manusia memang aneh, cenderung membenci seseorang yang justru sangat mirip dengannya.” Bertahun-tahun kemudian, saya ingin tertawa ketika membaca The Silmarillion dan menyadari bahwa hal ini terulang lagi dalam wujud dua karakter yang nampaknya saling berlawanan: Melkor dan Fëanor.

800px-Joel_Kilpatrick_-_Morgoth_and_Fingolfin

Morgoth and Fingolfin, oleh Joel Kilpatrick

Continue reading “Melkor dan Fëanor: Tak Sama Tapi Serupa”

Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?

The Silmarillion memberi informasi tentang deskripsi tugas para Valar. Banyak dari mereka punya definisi yang cukup jelas: Manwë, penguasa angkasa dan udara. Ulmo, penguasa perairan. Yavanna, personifikasi ibu bumi. Namo, aulanya menerima jiwa-jiwa mereka yang terbunuh. Tapi dari dulu sampai sekarang, ada satu nama yang menggelitik rasa penasaran saya: Nienna. Wanita yang menangis. Ayolah, apa tugas Valar yang kemampuan istimewanya adalah menangis?

Sekilas mudah “menuduh” Nienna sebagai perwujudan stereotip perempuan cengeng; wanita yang deskripsi tugasnya adalah “menangis” dan “berduka cita” tentu kalah keren dibanding Valar yang deskripsinya lebih gagah atau mencerminkan kekuasaan dan kekuatan. Tetapi, kalau Anda sudah baca analisis karakter saya terhadap Finarfin si raja dadakan, Anda akan ingat ini: mengobati atau membangun kembali apa yang sudah hancur, membilas luka yang timbul karena kehancuran, semua itu jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Itulah sebabnya Nienna dengan deskripsinya yang sekilas tidak jelas itu memegang peran yang luar biasa.  Continue reading “Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?”

“Selamat, Finarfin, Anda Sekarang Raja!” “…waduh.”

446px-Elena_Kukanova_-_Finarfin

Sketch of Finarfin, oleh Elena Kukanova

Oke, dialog di atas bukan naskah asli yang ditulis Tolkien, dan saya bahkan tidak yakin coretan-coretan draft The Silmarillion beliau mengandung kalimat di atas, dan kalau saya Christopher Tolkien, membikin dialog seperti itu mungkin akan membuat kuping saya disentil oleh bapak saya dari alam kubur. Tapi saya suka membayang-bayangkan itulah yang terjadi saat Finarfin menyadari dia harus memimpin sekelompok kecil rakyat Noldor yang tersisa, di negeri yang tidak jelas nasibnya, sementara sebagian besarnya berangkat berperang dan membunuh rakyat tidak berdosa dalam perjalanan, dengan alasan, ehm, patriotisme.

Yap, di luar komentar umum bahwa Finarfin tidak se”keren” saudara-saudaranya seperti Fëanor atau Fingolfin, Finarfin adalah tokoh yang mencerminkan situasi nyata di dunia kita; tokoh dengan opini yang berlandaskan akal sehat serta belas kasih alih-alih kemarahan serta patriotisme buta, tapi justru malah membuatnya tidak populer dan bahkan dihujat. Padahal, Finarfin adalah tokoh yang memiliki soft strength yang tidak boleh diabaikan.  Continue reading ““Selamat, Finarfin, Anda Sekarang Raja!” “…waduh.””