Menyambut Tolkien Reading Day: Makna Persahabatan Legolas dan Gimli untuk Saya


I dedicate this article to my best friend, Octoryna. Thanks for putting up with me in all these years, and sorry for made you worried whenever I stepped into your house and almost broke something

Tolkien Reading Day jatuh setiap tanggal 25 Maret, dan tahun ini temanya adalah Persahabatan (Friendship). Jadi, untuk meramaikan hari istimewa ini, saya mau membuat artikel tentang pasangan sahabat favorit saya, Legolas dan Gimli. Ya, ya, saya tahu persahabatan Frodo dan Sam adalah yang paling diingat dan berkesan kalau bicara soal persahabatan dalam Middle Earth legendarium, tapi kebiasaan buruk saya adalah menaruh perhatian berlebih terhadap karakter-karakter pendamping🙂 Saya punya sentimen khusus terhadap persahabatan Legolas dan Gimli, karena persahabatan mereka bukan hanya sekedar persahabatan antar dua ras berbeda, namun juga punya makna simbolik yang menutup berbagai konflik yang telah terjadi antar kedua ras ini di Middle Earth. 

Legolas and Gimli at Helm’s Deep oleh John Howe

Sejarah Perseteruan Elf dan Dwarf

Kalau melihat interaksi antara Legolas dan Gimli di film, walau cukup mengesankan, namun jujur tak semengesankan hubungan persahabatan antara Frodo dan Sam. Malah, Legolas dan Gimli kesannya seperti persahabatan sampingan ala comic relief, untuk memberi unsur komedi dalam film yang sejatinya serius, dengan Legolas sebagai pihak yang sok cool dan kalem yang kontras dengan Gimli yang lebih berangasan dan tukang nyeletuk. Tapi, kalau mau ditelaah lebih dalam lagi, interaksi antar Legolas dan Gimli yang dijabarkan Tolkien dalam buku memberi kesan lebih mendalam, dan tentu saja, ada sejarah interaksi antara kaum Elf dan Dwarf di jaman-jaman sebelumnya, yang membuat persahabatan Legolas dan Gimli menjadi sangat mengena buat saya.

Kalau mau dirunut, Elf dan Dwarf sejatinya sudah memiliki sifat yang sangat berlawanan, namun dengan Dwarf sebagai pihak yang memiliki keunikan tersendiri. Ketika Iluvatar merancang penciptaan kaum Elf dan Manusia, valar Aulë yang dikenal sebagai Sang Pandai Besi diam-diam menciptakan Dwarf karena hasratnya untuk mencipta. Akan tetapi, ia tidak memiliki kemampuan untuk memberikan kehidupan (dalam artian ciptaannya bisa hidup sebagai makhluk dengan pikiran dan inisiatif mandiri tanpa tergantung pada dirinya). Iluvatar tadinya menyuruh untuk menghancurkan ketujuh Dwarf pertama tersebut, namun melihat mereka nampak ketakutan, ia memutuskan untuk mengijinkan ciptaan Aulë tersebut tinggal di Arda, dengan syarat bahwa mereka harus ‘ditidurkan’ dulu di sebuah ruangan besar di bawah sebuah gunung, dan baru dibangkitkan setelah Elf.

Aulë Prepares to Destroy His Children oleh Ted Nasmith

‘Kelahiran’ para Dwarf dari bawah gunung, ditambah fakta bahwa penciptaan mereka adalah inisiatif Aulë, membuat kaum ini keras kepala, tak mudah ditundukkan, tegar, berjiwa kuat, setia terhadap sesama, dan memiliki ketertarikan terhadap seni kriya, mencerminkan jiwa Aulë. Kekontrasan sifat mereka dengan para Elf, ditambah dengan pengaruh jahat dari Sauron serta penciptaan permata Silmaril oleh Fëanor yang ambisius, memicu sejarah perseteruan antar kedua bangsa ini.

Alkisah, di Jaman Pertama, para Dwarf sempat menjalin persahabatan cukup erat dengan kaum Elf, bertukar ilmu seni membuat berbagai macam barang  dan bahkan saling membantu dalam pertempuran melawan Orc dan Morgoth, Dark Lord pertama. Elf Finrod Felagund juga mendapat nama “Felagund” itu dari para Dwarf, yang berasal dari nama dalam bahasa kaum Dwarf, Felak-gundu. Para Dwarf juga membuatkan Finrod kalung Nauglamir yang tersohor keindahannya, yang dihiasi dengan salah satu permata Silmaril. Doors of Durin di Moria (yang kita lihat di film) juga dibangun oleh Elf dan Dwarf untuk menjembatani komunikasi antar kedua kaum tersebut. Itulah sebabnya simbol-simbol di pintu tersebut mencerminkan kedua kaum: palu dan landasan adalah simbol Durin, mahkota dengan tujuh bintang adalah konstelasi bintang yang disebut Durin’s Crown, dua pohon melambangkan Tree of High Elves, serta sebuah bintang di tengah yang melambangkan House of Fëanor.

Ilustrasi Doors of Durin oleh J. R. R. Tolkien

Sekarang, harus diingat bahwa Legolas adalah kaum Elf Sindar, yang salah satu rajanya di masa lalu adalah Elu Thingol, King of Doriath. Kematian sang raja Elf akibat diserang oleh kaum Dwarf yang menginginkan kalung Nauglamir, yang dibuat dari permata Silmaril ciptaan Fëanor, menjadi salah satu peristiwa yang memicu sejarah pertikaian antar Dwarf dan Elf. Alkisah, Nauglamir tadinya dibuat oleh para Dwarf untuk dihadiahkan pada Finrod. Kalung tersebut sempat hilang karena beberapa peristiwa, bahkan sempat menjadi harta rampasan naga Glaurung, sebelum kalung tersebut dibawa ke hadapan Thingol. Karena Finrod saat itu telah tewas, para Dwarf mendatangi Elu Thingol dan meminta kalung tersebut, atau setidaknya bayaran setimpal atas kepemilikan kalung tersebut. Thingol menolak karena menyadari hasrat yang ditimbulkan oleh permata Silmaril dan menyuruh mereka pergi, membuat para Dwarf marah dan membunuhnya. Para Dwarf ini kemudian ganti dibunuh oleh para Elf, dan yang selamat pulang lalu berbohong dengan mengatakan bahwa Thingol membunuh mereka karena menolak membayar kalung, sehingga para Dwarf menggalang pasukan, menyerang dan menjarah harta Kerajaan Doriath. Peristiwa ini dikenal sebagai Battle of the Thousand Caves. Jelas bukan sejarah yang menyenangkan, dan kita bisa bayangkan Legolas pasti sudah mendengar kisah ini ribuan kali, sebagai Elf Sindar.

Nauglamir and the Doom of Thingol oleh Henning Janssen

Pada Jaman Kedua, para Dwarf sebenarnya masih menjalin persahabatan cukup erat dengan Elf, walau dinodai sejarah pahit tersebut. Ketika Sauron menempa cincin-cincin kekuatan, tujuh cincin yang diberikannya pada para Dwarf sama sekali tak memengaruhi mereka seperti pada Manusia, karena keteguhan dan kekerasan hati mereka. Akan tetapi, akibat buruk cincin ini masih tetap ada; para Dwarf menjadi kaum yang semakin terobsesi pada benda-benda indah, menjurus serakah. Hal ini membuat kaum Elf kemudian cenderung kurang percaya pada Dwarf, dan hubungan kedua kaum menjadi cukup diwarnai kecurigaan, walaupun mereka dipersatukan oleh keinginan untuk melawan kekuatan Sauron. Keserakahan kaum Dwarf dalam menambang logam berharga di Khazad-Dum pada Jaman Ketiga akhirnya juga membangkitkan iblis Balrog, yang kuasa jahatnya bahkan terasa sampai Lothlorien.

Persahabatan Legolas dan Gimli: Simbol Rekonsiliasi Dua Kaum

Kalau kita merunut sejarah panjang kaum Elf dan Dwarf, bisa dipahami mengapa mulanya Legolas dan Gimli digambarkan saling curiga dalam buku. Selain itu, di buku The Hobbit, para Dwarf juga digambarkan tak suka pada Thranduil (di buku sebenarnya hanya disebut Elven King, dan baru di buku LOTR kita tahu namanya), karena selain sentimen masa lalu, ‘Raja Elf’ ini dikenal suka memesan perhiasan dari Dwarf namun menolak membayar (kemungkinan ini juga referensi ke kisah perseteruan antara Elu Thingol dan kaum Dwarf soal kalung Nauglamir, walau ini hanya pemikiran saya sendiri). Sifat Thranduil ini tak pelak bisa kita bayangkan semakin menambah ketidaksukaan Legolas pada Dwarf (kemungkinan dari sini juga alasan mengapa Legolas digambarkan jutek sekali terhadap para Dwarf di film kedua. Tidak, maksud saya bukan soal cinta segitiga ala Twilight itu).

Gimli dan Legolas sempat bertengkar cukup hebat di depan Doors of Durin, sebelum mereka dan rombongan Hobbit, Aragorn, Boromir dan Gandalf masuk ke Moria. Pertengkaran hebat yang saya maksud di sini bukan hebat dalam artian intensitas, namun mereka mulai merambah topik yang cukup sensitif, yaitu siapa sesungguhnya yang salah dalam pertikaian panjang kaum Elf dan Dwarf. Gandalf mungkin menyadari topik pertengkaran yang cukup sensitif ini sehingga buru-buru melerai mereka.

Tibanya rombongan Pembawa Cincin di Lothlorien menjadi titik balik, ketika Legolas dan Gimli akhirnya resmi menjadi sahabat. Gimli yang tadinya curiga kepada Galadriel dan kaum Elf berbalik tersentuh karena Galadriel dengan tulus menyatakan rasa ibanya terhadap peristiwa-peristiwa pahit yang telah menimpa kaumnya, dan bahkan mengucapkan nama-nama dalam bahasa kaumnya sebagai tanda hormat. Ketika Gimli ditawari hadiah, ia tidak mau apa-apa dan hanya meminta sehelai rambut emas Galadriel, dan Galadriel memberikan tiga helai, serta berkata kepada para Elf bahwa “jangan ada lagi yang berkata bahwa semua Dwarf serakah!”. Bagi Anda yang ingat The Silmarillion, Fëanor digambarkan juga pernah meminta helai-helai rambut Galadriel untuk membuat permata Silmaril. Akan tetapi, jika Fëanor meminta rambut tersebut untuk menciptakan permata terindah (yang berujung pada kehancurannya sendiri), Gimli memintanya sebagai kenang-kenangan sekaligus tanda hormatnya pada Galadriel. Ini sangat luar biasa, terutama kalau kita masih ingat bahwa Lothlorien sempat merasakan kuasa jahat Balrog yang dulu dibangkitkan oleh keserakahan kaum Dwarf saat menambang di Moria.

Kedua sahabat ini pun bahu-membahu saling mendukung, dan Legolas bahkan dengan garang membela Gimli ketika ia diancam oleh Eomer saat mereka pertama bertemu. Masih ingat ketika Gimli dan Legolas berlomba banyak-banyakan membunuh Orc, dan Gimli sempat sirik karena Legolas berhasil menjatuhkan seekor Oliphaunt? Di buku, ada dialog tambahan yang diucapkan Legolas pada Gimli, dimana ia berkata bahwa ia “tak marah Gimli melampaui skornya, karena ia lebih senang melihat Gimli selamat dan masih berdiri di kedua kakinya.”

Ini, buat saya, sangat penting: ini menggambarkan bahwa Legolas dan Gimli sudah mencapai titik dimana mereka benar-benar menjadi sahabat sejati, yang saling mengkhawatirkan. Ketika Perang Cincin terakhir usai, Legolas dan Gimli sempat berkelana ke berbagai tempat, masing-masing memenuhi janji untuk menunjukkan tempat-tempat tertentu setelah perang usai. Legolas, yang seorang Elf, pada akhirnya tak bisa menahan godaan untuk berlayar ke Valinor, negeri abadi kaum Elf. Akan tetapi, ia juga menolak berpisah dengan Gimli, dan Gimli pun diijinkan ikut berlayar ke Valinor bersamanya. Ini menjadi titik balik terakhir perseteruan Elf dan Dwarf, dimana Gimli, sebagai Dwarf, akhirnya menjadi Dwarf pertama yang diijinkan pergi ke Valinor.

Menurut saya, ini akhir yang indah. Legolas dan Gimli, dalam banyak hal, adalah dua pribadi yang awalnya nampak tak mungkin bersahabat, beda dengan Frodo dan Sam yang dari awal sudah dekat. Legolas versi buku digambarkan sebagai karakter yang cukup ceria dan bahkan sering meledek anggota kelompoknya (malah, di buku bagian pertama, kayaknya ada kesan dia ini sedikit bubbly dan kadang celetukannya rada nyebelin), sama sekali tidak sok kalem. Gimli, sebaliknya, bukan karakter konyol seperti di film, melainkan cukup serius, bahkan menjurus muram, dan walau kadang bercanda, tidak pernah sampai konyol. Plus, keduanya berasal dari kaum yang sejarah pertikaiannya cukup panjang dan berdarah, dan bahkan ayah Legolas pernah memperlakukan ayah Gimli secara cukup kasar.

Tapi, mereka toh bisa menemukan kebaikan dari karakteristik masing-masing, dan akhirnya menjadi sahabat. Mereka juga mau membuka diri terhadap kebaikan masing-masing, dan persahabatan mereka bisalah digambarkan sebagai simbol rekonsiliasi dua kaum yang pernah saling curiga dan tak menyukai. Hal ini juga membuat kisah mereka tercatat dalam sejarah Elf maupun Dwarf sebagai sesuatu yang luar biasa.

Ada alasan lain saya memilih mereka untuk dibahas. Saya sedih melihat orang-orang yang pandai merangkai kata-kata hanya untuk menyatakan satu hal: ya, saya rasis, memang kenapa? Saya sedih melihat mereka yang mengumbar kata-kata kasar terhadap suatu kelompok berdasarkan SARA, memandang kaum lain lewat kacamata kuda, dan menolak untuk membuka hati serta menyadari bahwa pandangan itu membuat mereka menjadi penuh kebencian.

Legolas dan Gimli mulai dengan saling curiga, namun mereka memilih untuk melampaui sentimen pribadi dengan cara membuka hati, melihat kebaikan masing-masing, sehingga bisa menjalin persahabatan. Saat saya masih remaja dan membaca LOTR untuk pertama kali, saya belajar dari mereka bahwa saya tidak ingin menjadi orang rasis dengan alasan “tapi mereka melakukan hal yang sama!” Ya, tapi semua anggota kelompok ras, suku, bangsa dan kepercayaan di dunia ini sama-sama punya kok perwakilan orang-orang baik maupun brengsek. Manusia itu terlalu rumit untuk dicat dengan kuas dan warna yang sama. Saya tidak ingin membenci orang yang tak saya kenal hanya dengan semangat menyamakan skor, bahkan ketika ada dari kelompok mereka yang mengatakan hal-hal buruk tentang siapa saya, ras saya, suku saya, negara saya, kepercayaan saya. Walau kadang sulit sekali, saya ingin mendisiplinkan diri sendiri untuk bersikap melampaui para rasis yang hanya berhenti di kulit luar. Intinya, kalau kamu oke dan saya oke, ya sudah, tak masalah kamu siapa dan dari mana.

Saya tahu, jika saya bicara begini, tidak ada jaminan rasisme tak akan berhenti. Malah, curiga terhadap sesuatu yang berbeda sepertinya memang sudah sifat manusia. Pertanyaannya: apa kita mau berhenti di kulit luar, atau membuka hati dan pikiran lebih jauh? Saya tak mau main teori terlalu banyak; saya pikir saya tak sepintar mereka yang jago filsafat atau ilmu sosial. Pokoknya, jika saya tak bisa belajar dari orang di sekitar saya, saya ingin belajar dari Legolas dan Gimli. Di dunia ini tentu ada perseteruan panjang dan konflik berbasis SARA. Saya tak punya kekuatan untuk menghentikannya, tapi paling tidak saya bisa memutuskan untuk diri saya sendiri, dan saya ingin mulai dari diri sendiri.

Tapi, hei, tema utamanya tetap Persahabatan. Jadi, inilah salah satu pelajaran yang saya petik dari LOTR, untuk merayakan tema Persahabatan dalam Tolkien Reading Day tahun ini. Jangan remehkan kekuatan hati kita, siapa tahu orang yang kita jauhi hanya karena dia berbeda dari kita, suatu saat menjadi sahabat baik kita. Pertanyaannya, maukah kita membuka diri untuk menerima perbedaan itu dan tidak membenci? Bisakah kita, bisakah saya, menjadi Legolas dan Gimli?

Saya pikir bisa. Persahabatan bukan soal sama atau beda, tapi soal menemukan kecocokan dan kenyamanan dengan orang yang kita sebut sahabat itu. Dalam buku LOTR, Legolas dan Gimli beradu mulut, berdebat, berusaha saling menyaingi, namun di saat yang sama, mereka melalui kesusahan bersama-sama, saling menghormati, dan masih tetap menikmati kedekatan mereka bahkan setelah masa-masa damai tiba. Dan di dunia yang nampaknya semakin ruwet serta semakin empuk untuk dijadikan bahan headline berita ini, saya ingin kembali ke yang klasik: buku-buku karya Tolkien yang telah memberi saya begitu banyak pelajaran (bahkan ketika bahasa Inggris saya masih lumayan terseok-seok untuk menyelesaikan satu buku saja), termasuk membantu saya memahami pepatah ini dengan lebih baik: hatred cannot be overcome by hatred, it can only be overcome by love.

Oh ya, dan kutipan dari Elrond ini mungkin juga cocok untuk menggambarkan persahabatan tak terduga Legolas dan Gimli ini: “You will meet many foes, some open, and some disguised; and you may find friends along your way when you least look for it.” Jujur, itu juga kisah saya sama sahabat saya; kami kenal tidak terduga, punya sifat yang sangat berbeda, tapi entah kenapa tahu-tahu sudah 12 tahun bersahabat🙂

Gimli: “Forty-two, Master Legolas!…Alas! My axe is notched : the forty-second had an iron collar on his neck. How is it with you?‟

Legolas: “You have passed my score by one. But I do not grudge you the game, so glad am I to see you on your legs!”

The Lord of the Rings

Legolas: “I could have been happy here, if I had come in days of peace.”

Gimli: “I dare say you could…You are a wood-elf, anyway, though elves of any kind are strange folk. Yet you comfort me. Where you go I will go.”

The Lord of the Rings

Happy Tolkien Reading Day!

2bfe4ee0a93f5d884fe9d8806d0a2fbb

PS: selama nulis artikel ini, entah kenapa lirik lagu “persahabatan bagai kepompong” terus menerus bergaung di kepala saya, lengkap dengan iramanya. Tapi ya itu, cuma sampai “kepompong”nya doang.

Sumber:

Tolkien, JRR. 1986. The Lord of the Rings. Montana: Turtleback Books.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: Harper Collins.

One thought on “Menyambut Tolkien Reading Day: Makna Persahabatan Legolas dan Gimli untuk Saya

  1. Oryn berkata:

    I’m quite flattered that you dedicated this article to me. Thanks, hon. Sedikit-banyak aku paham mengapa persahabatan Legolas-Gimli menarik bagimu. Keduanya sekilas tampak seperti sosok yang saling berlawanan, tetapi bisa jadi sahabat karib karena pada dasarnya mereka punya prinsip yang sama dan mau memandang dunia dengan perspektif yang lebih luas. Mereka berani melintasi sekat tak kasat mata antara dua ras untuk melihat apa yang ada di baliknya, yang ternyata tidak seburuk yang dibayangkan, malah sangat memperkaya. Mereka tak bisa mengubah terlahir sebagai apa, tetapi mereka bisa memilih mau jadi apa dengan itu.

    Oh, dan lama-lama aku lebih suka kau mendongengkan langsung referensi Tolkien yang relevan dengan tulisanmu ketimbang baca langsung bukunya. Old habit dies hard.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s