Belajar tentang Kehidupan dari Hobbit: Postingan Tolkien Reading Day 2018

Tulisan ini dibuat dalam rangka merayakan Tolkien Reading 2018, yang bertema Home and Hearth: the many ways of being a Hobbit. Jangan lupa baca postingan saya untuk tahun 2017, 2016, dan 2015.

800px-Ted_Nasmith_-_One_Morning_Long_Ago

One Morning, Long Ago, oleh Ted Nasmith 

Banyak pembaca The Hobbit dan LOTR yang begitu terpesona pada gaya hidup kaum Halflings alias Hobbit, dan tak henti mencari cara untuk menirunya. J. R. R. Tolkien sendiri menciptakan Shire dan penghuninya sebagai gambaran ideal masyarakat Inggris era pra-industri, sesuatu yang sepintas memang sangat memikat. Bayangkan hidup di pondok-pondok mungil (tetapi tidak kumuh) di desa yang indah, makan makanan segar, menjalani kehidupan sederhana dan tidak memusingkan keburukan di luar sana. Terdengar seperti kehidupan ideal di zaman sekarang, ‘kan?

Tapi, bagaimana jika Anda tidak tinggal di daerah pedesaan yang sempurna? Bagaimana jika Anda memang tidak punya biaya atau kesempatan untuk meninggalkan pekerjaan atau kota asal? Bagaimana jika Anda kebetulan berkutat di bidang di mana “kengerian” dan segala antitesis kehidupan ideal justru menjadi menu utama?

Sejak pertama kali membaca The Hobbit, pandangan saya akan bagaimana “menjalani hidup ala Hobbit” juga semakin berkembang. Sesekali saya memang masih menyebut soal senangnya menikmati makan tanpa takut akan disapa, “Wah, kamu gendutan ya sekarang?”, enaknya bisa merasa bahagia dengan kesenangan sederhana seperti duduk di teras sore-sore sambil membaca, dan bersikap masa bodoh soal mencukur bulu kaki. Tetapi, semakin menyelami buku-buku Tolkien (serta riwayatnya sendiri yang sedikit banyak ikut mempengaruhi karyanya), semakin saya menyadari bahwa hidup sebagai Hobbit sesungguhnya menuntut kesungguhan yang jauh lebih berat dari itu.

Gandalf pernah berkata bahwa kaum Hobbit, di balik penampilan mereka yang tidak mengesankan serta gaya hidup mereka yang sederhana, sesungguhnya adalah sosok-sosok tangguh yang luar biasa dan setia, tetapi direduksi menjadi cerita anak-anak atau legenda di kalangan Manusia dan Elf yang dianggap lebih “tinggi”. Saya sering membandingkan kehidupan terisolasi kaum Hobbit dengan kaum Elf pimpinan Elu Thingol (yang negerinya diselubungi Sabuk Melian), Thranduil dan rakyatnya (hidup tersembunyi di Mirkwood setelah Oropher, ayah Thranduil, tewas bersama banyak prajuritnya dalam Perang Aliansi Terakhir), atau Nimrodel yang menyepi karena membenci Elf Noldor, yang dianggapnya sebagai kaum penyuka perang. Mereka dan kaum Hobbit sama-sama hidup tersembunyi karena tidak ingin terekspos dengan “Semua yang buruk di luar sana”, tetapi saya pikir kaum Hobbit menunjukkan ketangguhan ekstra dibandingkan dengan kaum-kaum yang lebih “dihormati”.

763px-Ted_Nasmith_-_Sam_and_Rosie_Cotton

Sam and Rosie Cotton, oleh Ted Nasmith

Ketika Bilbo dimintai tolong oleh Gandalf untuk menyertai para Dwarf, dia rela meninggalkan kenyamanan rumahnya karena menyadari beratnya kehilangan tanah air (dan hal ini pun memicu minatnya untuk membuat catatan sejarah, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan kaum Hobbit). Ketika Frodo mengajukan diri untuk membawa Cincin Kekuatan ke Mordor, kalimat persetujuannya yang terkesan berani itu disambung dengan kata-kata: “Walau aku tidak tahu jalannya”. Itu kalimat yang sangat mengesankan, menurut saya. Di dalamnya, ada keraguan dan ketakutan soal apakah keputusannya tepat atau tidak, dan dia bahkan tidak yakin dirinya bisa pulang lagi. Keputusan yang luar biasa berani untuk ukuran kaum yang menyukai hidup sederhana, tanpa ambil pusing oleh problem di luar sana.

Ada sepotong dialog antara Frodo dan Gandalf dalam Fellowship of the Ring:

“‘I wish it need not have happened in my time,’ said Frodo.
“So do I,” said Gandalf, “and so do all who live to see such times. But that is not for them to decide. All we have to decide is what to do with the time that is given us.”

Frodo berharap bahwa semua tragedi yang mereka hadapi tidak terjadi pada zamannya. Dia ingin hidup tenang tanpa memikirkan hal seperti itu (atau dibebani rasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa). Dan Gandalf memberi nasihat paling masuk akal: “Yah, yang bisa kita lakukan sekarang hanya melakukan yang terbaik, selama masih hidup”. Hal yang mirip dengan apa yang dialami Bilbo dalam perjalanannya. Berkali-kali dia berpikir, “Duh, harusnya aku di rumah saja”. Tapi kedua sosok tersebut nyatanya berhasil menunaikan tugas mereka.

Mungkin itu sebabnya Tolkien menciptakan dua plot berbeda dalam LOTR: yang satu plot berbau kepahlawanan dan heroisme klasik (mengikuti karakter Aragorn, Legolas, dan Gimli), dan satu lagi adalah plot perjalanan dua karakter yang sama sekali tidak terlihat heroik, bahkan cenderung lebih sering menunjukkan ekspresi takut dan keraguan (mengikuti perjalanan lambat tapi pasti Frodo dan Sam). Tolkien dengan tegas mengidentifikasikan dirinya dengan para Hobbit, menegaskan pernyataan bahwa sejarah dunia tidak dibentuk oleh satu sosok yang namanya terus diagungkan dalam buku sejarah, tetapi oleh usaha kolektif orang-orang “kecil” namun tangguh yang seringkali terlalu remeh untuk diingat.

Inilah yang membedakan antara kehidupan terisolasi kaum Hobbit dengan Elf. Apalagi, kaum Elf pada Zaman Ketiga adalah sosok-sosok yang sudah “lelah”, dan samar-samar telah menyadari bahwa masa mereka akan berakhir. Tetapi, isolasi kaum Hobbit tidak membuat mereka menjadi paranoid atau apatis. Halaman Apendiks dalam Return of the King menggambarkan Hobbit sebagai kaum yang pandai beradaptasi, lincah, tangguh, dan bisa membaur dengan mudah dalam komunitas setempat. Ini adalah sifat-sifat yang diadopsi nenek moyang mereka ketika bermigrasi dari tempat asal mereka nun jauh di area Timur yang liar. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, jangan heran jika ada begitu banyak adegan tertawa dalam LOTR, bahkan ketika para karakternya sedang menghadapi situasi sulit. Karakter Hobbit terutama menunjukkan dialog-dialog penuh humor dan candaan saat mereka sebenarnya sedang ketakutan atau ragu.

Tentu saja, sama seperti isolasi keras kepala Elu Thingol yang tetap berbuntut kehancuran, para Hobbit juga tidak bisa hidup tenang selamanya hanya karena mereka menutup mata terhadap keburukan dunia. Ketika Frodo kembali ke Shire setelah misinya usai, dia mendapati bahwa Shire telah dikuasai oleh “Sharkey” (Saruman) dan antek-anteknya. Keburukan yang selama ini dengan susah-payah mereka hindari, pada akhirnya berhasil masuk. Alih-alih menuruti rasa takut, para Hobbit diam-diam menyusun rencana untuk memberontak, dan berbuntut pada Pertempuran Bywater. Menariknya, pasukan Hobbit dipimpin oleh Merry dan Pippin, dua Hobbit yang tadinya dianggap tidak lebih dari anak nakal. Pengalaman telah memahat mereka, dan memberi kemampuan untuk memicu perubahan saat kampung halaman mereka terancam. Bahkan Lobelia Sacksville-Baggins, yang di awal buku dipotret sebagai karakter menyebalkan, ternyata berani menantang antek Saruman dengan payungnya, walau berbuntut pada hukuman penjara serta terbunuhnya putranya.

John_Howe_-_Mistress_Lobelia

Mistress Lobelia, oleh John Howe

Oh, dan pernahkah terpikir mengapa Bilbo Baggins tidak berubah menjadi Ringwraiths walaupun menyimpan Cincin Kekuatan selama bertahun-tahun? (walau cincin itu juga sedikit demi sedikit mengubah sifatnya). Mengapa sosok seagung Isildur dan raja-raja kaum Manusia bisa jatuh ke dalam pengaruh Cincin sedemikian mudahnya, tetapi tidak Hobbit kecil yang sering diremehkan atau dianggap hanya dongeng anak-anak? Ingatkah pada kutipan ikonik Thorin menjelang kematiannya? “JIka semua orang lebih menghargai makanan, nyanyian, dan tawa ketimbang emas, dunia akan lebih baik?” Menurut saya, itu bukan sekadar menggambarkan insafnya Thorin menjelang kematiannya, tetapi cerminan dari apa yang dilihatnya setelah berinteraksi dengan Bilbo.

Kesimpulannya, hidup seperti Hobbit bukan sekadar soal menikmati makan, cinta rumah, sayang keluarga, dan hidup sederhana. Ada kompleksitas di balik gaya hidup Hobbit. Hidup seperti mereka, menurut saya, berarti memiliki kemampuan untuk mengetahui prioritas terpenting dalam hidup. Kemampuan untuk beradaptasi ketika menghadapi kesulitan hidup, dan berusaha mengatasi setiap hambatan dengan berani (walau tetap jujur dengan rasa takut dan keraguan yang dihadapi). Kemauan untuk bertindak nyata ketika melihat hal-hal yang buruk, entah itu dengan melakukan langkah kecil, atau mengupayakan langkah besar bersama orang-orang yang berpikiran sama.

“And though all the mighty elf-friends of old, Hador, and Húrin, and Túrin, and Beren himself were assembled together, your seat should be among them.”

― Elrond to Frodo Baggins, The Fellowship of the Ring

Advertisements

5 thoughts on “Belajar tentang Kehidupan dari Hobbit: Postingan Tolkien Reading Day 2018

  1. Halo, apa kabar.
    Maaf mengganggu, saya menulis komen ini karena anda sepertinya benar2 fans dari Tolkien dan bisa menjawab pertanyaan2 saya: Apakah ada tips untuk mulai membaca Tolkien? Dan dari mana? Apakah saya lebih baik mulai membaca Tolkien dalam bahasa Indonesia atau Inggris?

    Saya suka fantasi. Saya gemar bermain game bertema fantasi, baik TRPG ataupun yang elektronik. Saya tergugah menonton Lord Of The Rings, dan menangis terharu mendengar The Last Goodbye di akhir trilogy The Hobbit. Saya membaca novel2 fantasi lain (Drizzt, Dragonlance), tetapi dari dulu satu hal yang belum pernah kesampaian adalah membaca Tolkien.

    Dan jujur saja, hal itu tidak pernah terjadi karena saya merasa bukunya sulit dibaca. Saya pernah membaca beberapa bab The Hobbit dan Lord Of The Rings, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, tetapi tidak pernah berlanjut. Di sisi lain, tiap kali ada orang yang menceritakan betapa epik dan megahnya novel2 tersebut dibanding filmnya, saya selalu tergoda membaca. Apakah anda punya ada saran untuk saya? XD

    Like

    1. Hai Joe, pertama-tama, makasih ya sudah berkunjung. Dan maaf panjang ya. Bacanya sambil ngemil aja biar asyik.

      Karya fantasi hadir dalam banyak bentuk, dan menurut saya sih nggak masalah ketika seseorang meresapinya dengan cara yang berbeda dari orang lain. Saya pun punya teman yang hanya berhenti di The Hobbit dan LOTR bahasa Indonesia, tetapi dia menikmati kisah-kisah Tolkien yang lain lewat penceritaan ulang oleh saya. Katanya dia menikmati cara saya mengisahkannya, baik lewat omongan maupun tulisan blog, dan jika itu memang cara dia mengapresiasinya, ya tidak masalah. Beberapa tahun belakangan ini, saya bahkan melihat sarjana Tolkien kontemporer yang mulai menulis tentang fanfiction sebagai salah satu cara “mendefinisikan ulang” suatu kisah fantasi, dengan contoh-contoh seperti fanfiksi berbahasa Inggris yang sukses serta novel-novel baru yang mereka ulang mitologi populer, misalnya dengan mengambil sudut pandang tokoh baru. Jadi, menikmati esensi karya Tolkien tidak terbatas pada teks saja.

      Tentu saja saya akan merekomendasikan orang untuk membaca jika memang tertarik ingin mendalami (lebih dari sekadar menikmati, begitu maksudnya). Salah satunya adalah karena keunggulan Tolkien memang adalah kata-kata. Misalnya, Tolkien menciptakan “atmosfer” tidak hanya dari karakterisasi dan plot, tetapi juga pemilihan kata-kata. Contohnya ketika menggambarkan sosok Feanor, si pengrajin ambisius yang namanya saja sudah berarti “spirit of fire”, Tolkien kerap menyelipkan kata-kata macam “fiery”, “flame”, “hot”, “high-tempered” ke dalam adegan-adegan dengan karakter ini. Oh ya, menjawab pertanyaan soal bahasa, ini secara tidak langsung saya ngomong bahwa buku2 Tolkien emang sebaiknya dibaca dalam bahasa Inggris. Tapi, menurut saya, penerjemah buku-buku Tolkien dari Gramedia Pustaka ini telah sangat sukses menciptakan ulang atmosfer yang diinginkan Tolkien lewat pemilihan diksi dan kata mereka (belum lagi fakta bahwa Tolkien Estate mendampingi setiap proses penerjemahan buku Tolkien ke dalam bahasa asing). Jadi, menurut saya, bahasa yang mana saja tidak masalah.

      Membaca LOTR memang harus sabar, itu harus saya akui. Tolkien tidak buru2 dalam menuliskan plotnya, dan ini bisa membosankan bagi orang yang lebih menyukai “ledakan-ledakan” atau intensitas dalam plot, terutama pada masa kepopuleran fantasi “eksplisit” macam Game of Thrones saat ini (oh iya, kan banyak juga orang yang lebih menikmati nonton serial GoT daripada baca bukunya, walau saya sih melakukan keduanya, karena setelah episode kesekian ceritanya mulai gak sama 🙂 ). Semua penggemar Tolkien biasanya sih selalu menyarankan hal yang sama: baca The Hobbit dulu, baru LOTR, semata karena keduanya populer. Tapi jika ingin sesuatu yang lebih intens, coba aja dari The Silmarillion. Dua bab pertama (Ainulindale dan Valaquenta) adalah bagian paling deskriptif, karena menceritakan proses penciptaan serta deskripsi para “ethereal beings” yang hadir sejak awal mula semesta Tolkien. Tapi kalau sudah melewati ini, akan hadir cerita2 dengan intensitas yang lebih dari LOTR. Dan konsepnya juga bukan novel dengan plot mengalir, tetapi sebuah buku hikayat dengan cerita2 berbeda, jadi setiap bab rasanya nggak terlalu “terseret-seret”. Kalau tidak begitu terbiasa dengan bahasa Inggris, sebaiknya bahasa Indonesia saja. Bagus kok terjemahannya (saya dulu nekat beli saat bahasa Inggris belum lancar, akibatnya satu tahun bukunya baru kelar).

      Jadi nggak usah merasa tertekan saat menikmati fantasi. Walau saya menyarankan untuk mengapresiasi Tolkien dalam bentuk teks (karena, beneran, banyak sekali hal yang saya ungkap yang benar2 hanya bisa digali lewat teks), tapi itu tidak perlu dijadikan tekanan. Mulai saja dari hal yang nyaman untuk diri sendiri, dan tantang diri sendiri secara pelan-pelan saja. Alasan saya mendalami Tolkien sampai begini semata karena saya memang suka nyusahin diri sendiri 😀 Tapi saya memang merasa tumbuh bersama penulis ini, jadi baca-baca manuskrip 12 jilid, kumpulan surat, biografi, bahkan esai akademis sih oke-oke aja. Tapi untuk orang lain, saya sarankan untuk mulai sesuai dengan kemampuan dan kenyamanan masing-masing. Dan mengapresiasi fantasi bisa dengan berbagai cara. 🙂

      Like

  2. Putri, terima kasih atas balasan yang cepat dan detail. Menarik sekali rekomendasi anda mulai dari Silmarilion walaupun malah banyak yang bilang itu lebih susah dibaca dibanding judul-judul yang lebih terkenal, hahaha.
    Saya rasa akan saya coba mulai tahun depan, kenapa tidak.

    Terima kasih atas bantuannya. Bukan sebagai balasan bantuan tersebut, tapi berhubung anda suka semua hal yang berhubungan dengan Tolkien, apakah anda tahu tentang TRPG (Tabletop Role-Playing Game)? Merupakan sebuah jenis game yang dimainkan di atas meja dengan dadu dan omongan saja, anda membuat karakter sendiri dan menjelajahi juga membuat cerita bersama teman2 anda di dunia imajinasi.
    Kenapa saya bawa topik ini? Karena saya penggiat hobi ini, yang masih sangat jarang di Indonesia, dan saya ingin lebih banyak orang tau tentang-nya. Juga karena salah satu ruleset/setting yang ada adalah The One Ring yang memang dunia Tolkien.
    https://cubicle7.co.uk/our-games/the-one-ring/
    Dengan kata lain, game ini…yang cuma dimainkan dengan kertas dan pensil, akan membawa anda ke dalam dunia Middle Earth dengan cara lain daripada novel maupun film.

    Apabila anda tidak pernah tahu mengenai hal ini, saya rasa ini akan sangat menarik bila anda telaah di blog anda ke depannya. Sekian, dan sekali lagi terima kasih.

    Like

    1. Haha, sama-sama. Saya biasanya juga selalu menyarankan The Hobbit dan LOTR duluan ke orang yang belum pernah terekspos sama sekali dengan karya Tolkien, soalnya kan emang enak kalau udah familiar. Tapi ada kasus tertentu di mana saya akan menyarankan hal berbeda. Misalnya, dari cerita anda kan kelihatan kalau sebenarnya sudah familiar dengan film (yang bedanya kurang lebih aja sih). melihat kesukaan pada game serta film, tetapi kesulitan membaca LOTR versi buku, maka saya pikir justru sebaiknya harus terekspos pada sesuatu yang lebih intens duluan. Saya bahkan pernah suruh orang baca dari Letters from Father Christmas atau Tales from the Perilous Realm duluan. Sesuai situasi mereka aja sih.

      The Silmarillion bahasanya memang bisa cukup mengintimidasi, karena nadanya agak “biblical” (dan terjemahan bahasa Indonesianya mengikuti. Karena ada banyak kata-kata kuno alias arkaik digunakan di versi Inggrisnya, maka padanan Indonesianya pun dibuat setara). Tetapi, The Silmarillion memberi pengalaman lebih intens dan tidak “dragging”. Jika LOTR mengajak kita mengikuti petualangan para tokoh seolah kita ikut jalan sama mereka, di era di mana Elf sebentar lagi akan “habis” dan dunia akan didominasi kekuasaan Manusia, The Silmarillion menjawab pertanyaan “apa yang terjadi sebelumnya? bagaimana sih Middle-earth di masa lalu ketika para Elf masih berjaya?” Salah satu contohnya bisa dilihat dari adegan di versi extended LOTR, ketika Aragorn menyanyikan lagu tentang Beren dan Luthien (manusia dan Elf yang saling jatuh cinta). Dia tidak menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana ceritanya ketika Frodo bertanya, karena itu sudah jadi legenda. Nah, “jawaban” dari isi legenda itu adalah salah satu cerita di The Silmarillion. Dan lagi, buku ini nuansanya lebih banyak: ada tragedi, perang, cerita cinta, pengkhianatan, dsb.

      Saya jujur tidak pernah main game, baik board game maupun elektronik. “kelebihan” saya memang di teks, di mana saya mengikuti jejak-jejak para “Tolkien scholar” untuk menyelami karyanya secara serius. Tapi sebenarnya saya emang selalu mikir gimana rasanya main board game, karena dalam petualangan menyelami Tolkien ini bisa dibilang saya agak soliter. Mungkin nanti kalau bisa mendapatkan board game itu dan mencobanya, saya mau menulis tentang itu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s