What It Means to Read “Roverandom” after My Grandmother’s Death

tales from perilous realm

A week ago, after suffering from years of chronic illness, my grandmother finally passed away.  Continue reading “What It Means to Read “Roverandom” after My Grandmother’s Death”

“Ini Bukan Eat, Pray, Love”: Reportase Suki Kim di Korea Utara, dan Masalah Setelahnya

Catatan: Saya menemukan artikel ini di situs The New Republic tanggal 27 Januari 2016 dengan judul The Reluctant Memoirist. Artikel ini berkisah tentang jurnalis dan novelis Amerika berdarah Korea Selatan, Suki Kim, yang melakukan jurnalisme investigasi di Korea Utara, membawa hasilnya pulang untuk dibuat buku berjudul Without You, There Is No Us: My Time with the Sons of North Korea’s Elite. Akan tetapi, kisahnya tidak berjalan mulus justru ketika dia berurusan dengan penerbitnya di Amerika. Plus, dia harus berhadapan dengan keadaan tak mengenakkan akibat statusnya sebagai jurnalis wanita kulit berwarna. Menurut saya sangat menarik, jadi saya putuskan untuk menerjemahkannya di sini, seperti yang pernah saya lakukan pada wawancara Tolkien dengan The Telegraph. Tautan ke artikel asli saya sertakan di akhir.

Artikel oleh Suki Kim.

Ilustrasi oleh Dadu Shin.  Continue reading ““Ini Bukan Eat, Pray, Love”: Reportase Suki Kim di Korea Utara, dan Masalah Setelahnya”

Random Thought: I’d Love to See a Play with Black Hermione

hp_20558_weasley_granger_fl

Ever since the announcement of Harry Potter and the Cursed Child came out, we knew what has made many people clamor: the casting of Noma Dumezweni as Hermione, and Cherrelle Skeete as Rose (Hermione and Ron’s daughter). Many people were used to see Emma Watson as Hermione in all Harry Potter movie adaptations, so the change is understandably jarring. However, while I was honestly a bit taken aback when I saw the news several months ago, I say this loud and clear:

I’d love to see a play with black Hermione.  Continue reading “Random Thought: I’d Love to See a Play with Black Hermione”

Kucing dalam Sejarah Militer Modern

cat

Prajurit Inggris dan anak kucing di Neulette, 1917. Foto oleh John Warwick Brooke

Cat lovers… repudiate the idea that cringing subservience and sidling companionship to man are supreme merits, and stand free to worship aristocratic independence, self-respect, and individual personality joined to extreme grace and beauty as typified by the cool, lithe, cynical, and unconquered lord of the housetops. 

H. P. Lovecraft: Cats and Dogs

Bapak horor kosmik H. P. Lovecraft pernah menulis esai yang menyanjung kucing sebagai peliharaan yang “bagaikan rekan serumah setara”; bahwa memelihara kucing itu sama dengan memiliki teman untuk bicara dan berdiskusi, bukan teman serba penurut. Walaupun saya tidak tahu apakah Lovecraft memang seratus persen serius atau ini hanya soal gaya bahasanya yang tinggi, tapi Lovecraft memang pecinta kucing, dan beberapa kucing yang disebut dalam esai tersebut hadir dalam hidupnya serta koleganya (dalam esai itu, Lovecraft memuji kemampuan kucing untuk menghibur diri sendiri, menyebutnya sebagai “(a) limber elf, singing, dancing to itself.”) Akan tetapi, walaupun kucing dan anjing adalah peliharaan populer, kucing kerap “menderita” akibat prasangka. Film-film aksi menyanjung anjing dan menempatkan kucing sebagai hewan peliharaan tokoh antagonis atau pemain kelas dua. Bahkan film Disney Cats and Dogs terang-terangan mengadu anjing dan kucing, dengan anjing sebagai para jagoan dan kucing sebagai penjahat calon penguasa dunia.  Continue reading “Kucing dalam Sejarah Militer Modern”

Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan Lukisan ‘Sleep and His Brother Death’

Waterhouse-sleep_and_his_half-brother_death-1874

Saya pertama kali tahu tentang pelukis Inggris John William Waterhouse sekitar 10 tahun yang lalu. Persisnya kenapa dan bagaimana, saya sudah lupa. Tapi yang saya tahu adalah: dari sekian banyak lukisannya yang cenderung bertema klasik dan mitologi, ada satu lukisan yang sejak dulu sampai sekarang selalu membekas di hati.

Sleep and His Brother Death.  Continue reading “Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan Lukisan ‘Sleep and His Brother Death’”

Indonesia’s Mobile Libraries: Bringing “Reading Virus” to Villages and Islands

luna-si-kuda-pustaka-keliling-3-desa-di-gunung-slamet-pinjamkan-buku-1505269

The box says: “Horse Library (of) Mount Slamet”

Source

In the late 1990s, Luis Soriano stacked books on the back of two donkeys, Alfa and Beto, and brought them to impoverished areas in Magdalena Province, Colombia. An elementary school teacher with degree in Spanish literature and huge love for books, Luis was inspired by a dedicated professor who visited his town twice a month when he was little. He also saw the powerful effect of reading on his students, who were not only from poor regions, but also had witnessed bloody conflicts in their fragile years. His mobile library, Biblio Burro (lit.”Donkey Library”), slowly added its collections through donations; from mere 70 books to more than 4,000 books. Although the activity experienced setback a few years ago because of an accident that required Luis’ leg to be amputated, he refuses to stop his mission in spreading the power of reading among poor children in his region.  Continue reading “Indonesia’s Mobile Libraries: Bringing “Reading Virus” to Villages and Islands”

Real World: Natsuo Kirino’s Take in Teen Psychological Thriller

realworld

Buy here, here or here

I once read a piece of review on Natsuo Kirino’s books that basically said: “she must write novels that are more suitable for women.” I laughed and imagined that reviewer sitting in front of me before I shot back: “let me tell you something: Natsuo Kirino knows her sh*t, and she writes it beautifully, even if she doesn’t make ‘women’s novels’ full of flowers and candies and beautiful star-crossed lovers and cute ukulele soundtrack.” No. Kirino writes books about deeply suppressed darkness that subtly appears in the hearts of regular people with seemingly mundane life. We are so overexposed to fictions full of psychopathic murderers with eccentric behaviors and bizarre fetish that we often overlook the hidden darkness in the hearts of regular people around us: whether they are that housewife who shops for vegetables at the market, that gaggle of school students chatting about homework and crush, or that plain office worker with tired face and boring daily job. Put them in specific situations, and you can see how they snap and do things that might sound unthinkable. That’s what Kirino did with her books.  Continue reading “Real World: Natsuo Kirino’s Take in Teen Psychological Thriller”

5 Lagu Terbaik Tentang Gajah (Bukan Cuma oleh Tulus)

Adik saya sering disebut “gajah” karena ukuran tubuhnya. Dulu dia kerap marah atau tersinggung karena sebutan itu, tapi sekarang tidak, karena dia sudah menemukan cara untuk menanggapi ejekan itu, yaitu dengan menunjukkan fakta bahwa “elephant is a fucking amazing animal.”  Continue reading “5 Lagu Terbaik Tentang Gajah (Bukan Cuma oleh Tulus)”

‘Revenge: Eleven Dark Tales’ (1998): Jaring Kisah-kisah Gelap yang Memikat

 

revenge-elevendarktales

Dilihat dari judulnya, Revenge: Eleven Dark Tales karya Yoko Ogawa mungkin terdengar seperti tipikal kumpulan kisah horor yang akan Anda temukan di rak buku-buku horor populer: kisah-kisah penuh hantu penasaran, pembunuhan sadis berdarah-darah, dan twist ending bombastis yang belakangan ini sepertinya banyak digadang-gadang sebagai penentu kualitas kisah horor (seriously?). Tapi, kumpulan cerpen yang diterjemahkan ke bahasa Inggris pada tahun 2013 oleh Stephen Snyder ini tidak mengusung kisah-kisah horor, melainkan lebih ke jalinan kisah-kisah gelap yang saling bertaut dan berkelindan, mencekam kita dengan detail-detail yang aneh, samar, indah dan membuat merinding pada saat yang bersamaan.  Continue reading “‘Revenge: Eleven Dark Tales’ (1998): Jaring Kisah-kisah Gelap yang Memikat”

Review Album ‘Salam’ Ras Muhamad: Menaruh Indonesia di Peta Reggae Dunia

rasmuhamad1

Pertama-tama, saya akan mengaku: I don’t know jack sh*t about reggae music. Kalau Anda tanya ke saya soal sejarah musik reggae, dinamika perkembangan reggae di Indonesia dan sebagainya, saya paling-paling cuma bisa bilang: “pokoknya reggae itu dari Jamaica dan penyanyi reggae itu ada Bob Marley dan Tony Q dan…oke, kasih saya waktu buat konsultasi sama mbah Google sebentar.” Saya bahkan tahu Ras Muhamad pertama kali justru dari single internasionalnya, Lion Roar, yang termuat di dalam album Salam ini, padahal ia telah merilis beberapa buah album sebelumnya, dan telah malang-melintang di ranah musik reggae selama lebih dari satu dekade secara independen.  Continue reading “Review Album ‘Salam’ Ras Muhamad: Menaruh Indonesia di Peta Reggae Dunia”