The Children of Húrin: Ketika Tolkien Merangkai Tragedi Gelap dalam Kisah Heroik


“Setelah The Hobbit, LOTR dan The Silmarillion, apa lagi yang bisa saya baca kalau saya masih nagih?” Nah, bagi yang masih belum puas dengan buku LOTR, The Hobbit dan The Silmarillion, ada banyak sekali buku Tolkien yang bisa dilalap. Tapi, Children of Húrin adalah pilihan terbaik untuk dibaca setelah The Silmarillion.

coh

Apa alasannya? Tidak seperti Unfinished Tales dan 12 volume History of Middle Earth, yang sejatinya merupakan analisis proses kreatif dalam karya-karya Tolkien (sehingga mungkin masih agak sulit dicerna kalau Anda belum familiar dengan semua karya beliau), The Children of Húrin adalah sebuah kisah utuh yang bukan merupakan kumpulan cerita, sehingga lebih memuaskan bagi Anda yang menginginkan cerita yang terus menyambung dengan plot dan narasi tak terputus hingga sampai pada konklusi akhir (dengan kata lain, lebih ‘mengenyangkan’). Selain itu, buku ini tidak berisi kisah petualangan dengan bahasa ringan dan cenderung lucu seperti The Hobbit, atau cerita epik bertema kepahlawanan yang happy ending seperti LOTR, melainkan kisah tragedi yang cukup gelap.

Túrin Turambar, The Tragic Hero

Kalau Anda bergabung dengan komunitas penggemar karya-karya Tolkien seperti Eorlingas (Indonesian Tolkien Society), dan ngomongin soal Túrin Turambar, Anda akan kerap mendengar namanya disebut sebagai “tokoh paling apes dalam karya Tolkien.” Kisah Túrin Turambar ini memang banyak diwarnai dengan kisah soal kemalangan, kutukan dan tragedi, dan merupakan karya Tolkien yang paling gelap dalam Middle Earth legendarium-nya. Kisah Túrin Turambar ini sebenarnya sudah pernah dituturkan secara sangat singkat dalam salah satu bab di The Silmarillion, Of Túrin Turambar, jadi buku The Children of Húrin ini adalah versi yang jauh lebih detail, rinci, dan banyak dialognya.

Buku ini berkisar tentang Túrin, putra Húrin yang merupakan pemimpin House of Hador, salah satu dari tiga klan kaum Edain, yaitu bangsa Manusia di Jaman Pertama yang menyeberang ke Beleriand dan bersahabat dengan kaum Elf. Ketika Húrin ikut bertempur bersama bangsanya melawan Morgoth, Dark Lord pertama, dalam Battle of Unnumbered Tears, Morgoth menangkapnya dan mengurungnya di Angband. Marah karena Húrin memiliki nyali untuk menantangnya, Morgoth mengutuk keluarga Húrin agar senantiasa tertimpa kemalangan.

Ketika kaum Easterling (sesama kaum Manusia yang mengabdi pada Morgoth) menyerbu negeri kaum Hador, Morwen, istri Húrin, kemudian mengusahakan agar Túrin bisa lari ke wilayah kerajaan Elf, Doriath, meninggalkan dirinya dan adiknya, Lalaith, dimana setelah itu Morwen kemudian melahirkan anak ketiganya, seorang putri bernama Nienor (Lalaith akhirnya meninggal karena sakit). Raja Elf di Doriath, Elu Thingol, menyambutnya dengan baik, dan Túrin pun dibesarkan sebagai ksatria serta anak asuh Thingol, dimana ia digambarkan tumbuh menjadi pemuda yang selalu guram, jarang tersenyum, pemarah dan keras kepala. Sahabat terdekatnya hanyalah Elf bernama Beleg Chutalion, yang mulanya adalah mentornya dalam hal memanah, berburu dan mencari jejak, namun seiring waktu, mereka akhirnya menjadi sahabat akrab. Beleg kelak memeroleh pedang bernama Anglachel, yang ditempa dari batu meteorit oleh Eöl the Dark Elf, dan kelak menjadi bagian dari rentetan tragedi yang terjadi.

Beleg and Young Turin oleh Elena Kukanova

Suatu ketika, setelah menghabiskan waktu lama menjelajah hutan bersama Beleg, Túrin kembali ke istana dalam keadaan lusuh dan rambut awut-awutan. Saat ia duduk di meja makan dalam keadaan masih berantakan, seorang Elf bernama Saeros yang digambarkan sangat rasis dan membenci Manusia pun menghina Túrin, mengatakan bahwa Manusia seharusnya tak diijinkan masuk ke Doriath, dan akhirnya menghina ibu dan saudara perempuan Túrin. Marah, Túrin melemparkan cawan yang dipegangnya ke wajah Saeros hingga melukainya. Saeros yang dendam pun berencana menyergap Túrin di hutan, namun Túrin dengan mudah mengalahkannya. Karena ingin memberinya pelajaran, Túrin menyuruh Saeros membuka baju, dan kemudian mengejar sambil menakut-nakutinya. Ia sebenarnya tak berniat membunuh Saeros, namun Saeros yang ketakutan akhirnya nekad berusaha melompati sungai deras, namun gagal, dan tercebur serta tewas tenggelam. Túrin, yang berharga diri tinggi dan sedikit pongah, menolak pulang untuk diadili karena sesuatu yang menurutnya bukan kesalahannya, dan memilih melarikan diri.

TN-Saeros_Fatal_Leap

Saeros’ Fatal Leap oleh Ted Nasmith

Ketika peristiwa itu diketahui, Thingol melaksanakan pengadilan tanpa kehadiran Túrin, dan sudah hendak menjatuhkan hukuman pengasingan seumur hidup, ketika Beleg mendadak muncul mengajukan saksi: seorang gadis Elf yang menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi antara Saeros dan Túrin, yang memicu niat jahat Saeros serta tragedi yang kemudian menimpanya. Thingol pun mencabut keputusannya, dan Beleg kemudian berangkat untuk menemukan Túrin, namun pada saat itu, Túrin rupanya telah bergabung dengan rombongan bandit, dimana ia akhirnya menjadi pemimpin mereka. Ketika Beleg menemukan jejak rombongan bandit itu, mereka menangkapnya dan menyiksanya berhari-hari sampai hampir mati, ketika Túrin akhirnya mengetahuinya dan membebaskan serta merawatnya. Ketika Beleg memintanya kembali karena Thingol telah memaafkannya, Túrin hampir menurut, namun sifat angkuhnya membuatnya menolak, dan mereka pun berpisah jalan.

Túrin kemudian bertemu dengan rombongan Dwarf yang dipimpin Mîm, yang memiliki timbunan harta di gua mereka di bukit Amon Rûdh. Mîm sebenarnya menyimpan kemarahan pada Túrin karena kawan-kawan banditnya membunuh kedua anaknya saat menyergap mereka yang sedang membawa karung-karung harta. Akan tetapi, Mîm juga akhirnya menaruh hormat pada Túrin karena mengagumi karakternya serta keputusannya untuk mendampingi Mîm sebagai ganti kematian anak-anaknya, dan mengijinkan mereka menjadikan bukit itu sebagai markas. Beleg, yang kemudian juga pergi lagi untuk mendampingi Túrin, datang ke bukit tersebut dan disambut oleh Túrin serta rombongannya, namun Mîm yang membenci kaum Elf tidak menyukai kehadiran Beleg.

Rombongan bandit Túrin yang tadinya hanya berjumlah sekitar 50 orang itu pun semakin berkembang, dengan wilayah kekuasaan yang semakin meluas, dan Túrin serta Beleg akhirnya menamai ulang area itu menjadi Dor-Cuarthol (Land of Bow and Helmet), mengacu pada ciri khas Beleg dan Túrin, yang menjadi pimpinannya. Kelompok itu pun menjadi terkenal dengan perlawanan sengit mereka terhadap Morgoth, namun ketika Mîm tertangkap oleh Morgoth, dendam lama terhadap Túrin dan kebenciannya terhadap Beleg membuatnya mengkhianati mereka. Ia membocorkan lokasi Dor-Cuarthol pada Morgoth, dan pasukan Morgoth kemudian menyerbunya. Mereka menculik Túrin, membunuh teman-temannya, dan meninggalkan Beleg terantai di puncak bukit dalam keadaan terluka parah. Setelah dibantu melepaskan diri oleh salah satu kawan Túrin, Beleg kemudian mencari Túrin.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan Gwindor, Elf dari Nargothrond yang telah diculik oleh pasukan Morgoth dan dipaksa menjadi budak mereka. Keduanya kemudian menyusup ke tempat Túrin dirantai. Akan tetapi, saat berusaha memotong rantainya, Beleg tanpa sengaja melukai Túrin. Dalam kegelapan malam, Túrin mengira Beleg adalah Orc, sehingga ia langsung membunuhnya dengan pedang yang dipegang Beleg. Ketika ia akhirnya bisa melihat saat kilat terang menyambar, barulah Túrin menyadari bahwa ia telah membunuh sahabatnya sendiri. Dirundung duka, Túrin harus setengah diseret oleh Gwindor untuk melarikan diri, dimana Gwindor sempat berkomentar bahwa pedang Anglachel yang kini dipegang Túrin nampak seolah “berduka atas kematian tuannya, Beleg,” karena pedang itu menjadi kehitaman dan tumpul setelah menumpahkan darah pemiliknya. Kelak, setelah memakamkan Beleg, Gwindor berkeras agar Túrin membawa pedang itu untuk pertempuran melawan Morgoth, dan pedang itu kelak diperbaiki dan dinamai Gurthang.

Beleg is Slain, by Ted Nasmith

Beleg is Slain oleh Ted Nasmith

Gwindor kemudian mengajak Túrin melarikan diri ke Nargothrond. Di sana, Túrin disambut baik oleh raja Elf Orodreth, dan bahkan dicintai oleh Finduilas, putri sang raja yang tadinya adalah tunangan Gwindor. Túrin kemudian mengabdi pada sang raja, membantunya meraih kemenangan dalam beberapa pertempuran melawan pasukan Morgoth, dan kemudian diangkat menjadi penasihat. Sifat angkuh Túrin kembali muncul dan ia mulai memberi saran dan perintah yang sembrono, termasuk mengusulkan agar Nargothrond tidak lagi menjadi wilayah tersembunyi, padahal ia sudah dinasihati untuk lebih baik tetap menyembunyikan keberadaan wilayah Nargothrond. Akibatnya, wilayah itu porak-poranda diserbu pasukan Morgoth, yang datang bersama naga bernama Glaurung. Gwindor dan Orodreth terbunuh, sementara Finduilas ditangkap pasukan Orc. Walaupun Gwindor sudah meminta agar Túrin pergi menyelamatkan Finduilas, Túrin justru termakan kebohongan Glaurung yang juga memiliki daya sihir Morgoth, yang menipunya dengan mengatakan bahwa ibu dan saudarinya dalam bahaya. Túrin akhirnya mengabaikan permintaan terakhir Gwindor, membiarkan Finduilas tewas di tangan Orc.

Ketika menyadari kebohongan ini, Túrin merasa terpukul sehingga mencari perlindungan di kalangan klan Edain lainnya, The Folk of Haleth. Kaum Haleth merawatnya sampai sembuh, dan Túrin menamai dirinya sendiri Turambar (Master of Doom). Ia pun kembali ‘naik pangkat’ karena kemampuannya, membantu kaum Haleth meraih berbagai kemenangan dalam pertempuran melawan pasukan Morgoth, bahkan sampai mengambil-alih kepemimpinan dari tangan Brandir, pewaris asli kedudukan kepala klan, yang berkaki cacat namun berhati lembut.

Ibu Túrin, Morwen, akhirnya memutuskan untuk menyusul anaknya ke Doriath bersama Nienor. Thingol menyuruh para abdinya menyertai Morwen untuk pergi ke Nargothrond, setelah mendengar rumor bahwa putranya berada di sana, namun Nienor yang ingin ikut diam-diam mengenakan pakaian pria dan menyusup di antara prajurit Elf. Ketika rombongan mereka diserang Glaurung, naga itu melancarkan mantara gelapnya kepada Nienor, yang kemudian hilang ingatan dan melarikan diri ke hutan, hingga pingsan di dekat kediaman kaum Haleth. Túrin, yang tak mengenali adiknya, membawanya untuk diobati. Karena gadis itu hilang ingatan, Túrin memanggilnya Niniel, dan kakak-beradik yang tak saling mengenali itu pun jatuh cinta, hingga akhirnya menikah dan Niniel alias Nienor akhirnya hamil.

Turin_and_Nienor_by_Ted_Nasmith

Turin Discovers Nienor at the Mound of Finduilas oleh Ted Nasmith

Bencana bagi keduanya akhirnya datang ketika Glaurung datang menyerbu, dan Túrin berhasil menusuk perutnya dengan pedang. Darah panas yang memancar dari perutnya mengenai Turin dan membuatnya pingsan. Ketika Nienor menyusul ke medan pertempuran dan melihat Túrin, ia mengira Túrin sudah mati dan menangisinya. Glaurung, dalam usahanya yang terakhir untuk menghancurkan Túrin, mencabut mantra yang menguasai pikiran Nienor, membuatnya kembali ingat siapa dirinya. Glaurung pun mengejeknya serta berkata bahwa Nienor mengandung anak dari kakaknya sendiri. Nienor yang terpukul pun bunuh diri dengan melompat ke sungai. Brandir, yang tak berdaya mencegahnya, mengabarkan hal itu kepada Túrin setelah ia sadar, termasuk kabar buruk yang didengarnya dari Glaurung, namun Túrin yang murka mengira Brandir sengaja mengatakannya karena Brandir yang juga mencintai Nienor masih tidak rela Nienor menikah dengan dirinya. Dalam kemarahannya, ia pun membunuh Brandir dengan pedang Gurthang.

Glaurung and Turin oleh Fransesc Camos

Túrin pun melarikan diri ke hutan, namun di sana, ia bertemu dengan rombongan Elf yang diutus Thingol, beserta ibunya, Morwen. Mereka pun tanpa sadar mengkonfirmasi kebenaran cerita yang disampaikan Brandir: bahwa Túrin benar-benar telah menikahi adik perempuannya sendiri. Dirundung penyesalan, Túrin akhirnya berlari ke bukit tempat Nienor bunuh diri, berlutut, dan akhirnya menusuk dirinya dengan pedang yang telah membunuh sahabatnya, Beleg.

Turin Prepares to Kill Himself oleh Ted Nasmith

Inspirasi di Balik The Children of Húrin

Kisah tragis yang tidak ada habis-habisnya dalam buku ini memang kesannya sangat berbeda dengan The Hobbit yang lebih ‘ceria’ dan LOTR yang optimis dan benar-benar berkesan sebagai buku petualangan. Menurut saya, buku ini berada di baris yang sama dengan berbagai karya tragedi terkenal seperti Oedipus Rex, Hamlet, Othello, Titus Andronicus, dan Coriolanus. Buku ini termasuk salah satu karya yang tidak sempat diselesaikan Tolkien sebelum kematiannya walaupun ia sudah menuliskannya sejak sekitar tahun 1917 atau 1918, sehingga Christopher Tolkien-lah yang menyelesaikan, mengedit dan menerbitkannya pada tahun 2007. Edisi ini dilengkapi dengan ilustrasi oleh Alan Lee, salah satu ilustrator yang sering bekerjasama dengan Christopher Tolkien, selain Ted Nasmith.

Alan Lee menandatangani buku Children of Húrin dalam peluncuran perdananya

Karakter Túrin yang kompleks ini pun dipengaruhi oleh banyak tokoh dalam karya sastra dan mitologi. Inspirasi utama Tolkien datang dari Kullervo, tokoh dalam mitologi Finlandia yang dalam banyak hal mirip dengan Túrin. Dalam epik Finlandia, Kalevala, Kullervo adalah putra Kalervo, seorang kepala suku yang menjadi sasaran iri hati saudaranya. Ketika Kullervo masih dalam kandungan, sukunya diserbu, ayahnya dibunuh, dan ibunya dijadikan istri oleh pamannya. Kullervo pun tumbuh dengan penuh dendam terhadap pamannya dan bahkan pernah terdengar menyuarakan kutukan. Mengetahui bahwa Kullervo diberkahi kekuatan magis, pamannya berusaha membunuhnya, namun Kullervo berhasil melarikan diri. Ia pun ditimpa berbagai kemalangan seperti diperbudak dan diperlakukan buruk, sehingga menjadi karakter yang angkuh, liar dan penuh dendam. Ia juga digambarkan meniduri seorang gadis pengemis, yang tanpa diketahuinya ternyata adalah saudarinya sendiri.

Kullervo’s Curse oleh Akseli Gallen Kallela

Pedang Gurthang yang akhirnya digunakan Túrin untuk membunuh Beleg dan kemudian bunuh diri juga didasarkan pada pedang ajaib yang dimiliki Kullervo, dimana pedang tersebut menyimpan aura gaib karena ditempa dengan tujuan balas dendam, seolah mencerminkan komentar Gwindor soal betapa pedang Gurthang yang dipegang Túrin juga berduka karena kematian pemiliknya, Beleg, dan seolah baru puas setelah Túrin tewas olehnya. Kullervo pun digambarkan bunuh diri menggunakan pedangnya sendiri dengan penuh penyesalan, setelah melihat deretan mayat keluarganya yang terabaikan, termasuk mayat saudarinya yang bunuh diri karena merasa malu setelah menyadari apa yang sudah mereka lakukan.

Tolkien juga menggunakan beberapa tokoh dalam saga Volsung dari Islandia yang berakar di mitologi Nordik, seperti kakak-beradik Sigmund dan Sieglinde, sebagai dasar penciptaan karakter Túrin dan Nienor, termasuk hubungan mereka sebagai saudara kandung yang saling mencintai sebagai suami istri, dan berakhir dengan tragis. Túrin juga disamakan dengan tokoh mitologi Nordik lainnya, Sigurd putra Sigmund, yang terkenal sebagai Sigurd si Pembantai Naga dan dipuja sebagai pahlawan, sebelum menemui akhir tragis setelah mengambil harta karun yang dikuasai naga tersebut, karena harta karun tersebut ternyata terkutuk.

Sigmund and Sieglinde oleh Arthur Rackham

Akhirnya, tentu saja kisah ini mungkin akan membuat Anda segera teringat pada tragedi Oedipus Rex, dimana sebuah ramalan mengerikan tentang dirinya akan membunuh ayahnya dan memperistri ibunya menjadi awal dari rentetan tragedi yang kemudian terjadi.

Antigone Leads Oedipus Out of Thebes oleh Charles F. Jalabeat, menggambarkan Oedipus yang telah membutakan matanya sendiri setelah tahu ia telah menikahi ibunya dan membunuh ayahnya

Tema

Menurut Tolkien, latar belakang kisah ini adalah eksplorasi akan berbagai hal; mulai dari kepahlawanan dan keberanian, hingga kehendak bebas dan keangkuhan yang membawa bencana. Dalam kisah ini, walaupun Túrin merupakan korban dari kutukan Morgoth, namun pembaca juga dibuat berpikir apakah sifat-sifat buruknya sendiri seperti angkuh, sombong, sembrono dan keras kepala yang juga membuatnya mengambil pilihan yang salah, dan akhirnya justru menjerumuskan dirinya.

Keangkuhannya saat menolak untuk pulang menghadapi Thingol setelah kematian Saeros, penolakannya untuk keluar dari rombongan bandit untuk mengikuti Beleg (padahal ia digambarkan sudah menyadari bahwa ia telah salah jalan dengan bergabung bersama kelompok bandit), keangkuhannya saat menjadi penasihat Orodreth yang mengakibatkan kehancuran Nargothrond, kesembronoannya akibat nafsu membalas dendam kepada kaum Easterling hingga menyebabkan kematian kerabatnya sendiri yang ternyata diperistri oleh pimpinan kaum Easterling, hingga api cemburu yang membuatnya membunuh Brandir, semuanya sedikit banyak berperan dalam membawa kehancurannya sendiri.

Túrin juga digambarkan sebagai seorang pahlawan yang banyak berjasa dalam perlawanan terhadap Morgoth serta membunuh naga Glaurung, dan ketika bertemu dengan rombongan bandit setelah melarikan diri dari Doriath, ia bahkan digambarkan membunuh pimpinan mereka, lalu memerintahkan anak buahnya untuk hanya membunuh Orc dan tak lagi menjarah desa-desa Manusia. Akan tetapi, karakternya mencerminkan pria yang musuh terbesarnya justru adalah dirinya sendiri. Bahkan, saat membaca buku ini, saya sempat mengalami saat-saat gregetan dimana karakter yang sejatinya sangat heroik seperti Beleg dan Brandir justru tewas secara tidak perlu di tangan si karakter utama (dan fakta bahwa saya tidak bisa protes ke Tolkien juga membuat saya lebih gregetan lagi!).

Akhirnya, Tolkien juga menelusuri isu moral terkait perbedaan antara keberanian dan keangkuhan, dimana kedua sifat ini ditunjukkan secara berkelindan pada karakter Túrin dan beberapa karakter lainnya.

Intinya, buku ini merupakan karya Tolkien yang serba ‘paling’: paling gelap, paling tragis, paling intens dan dengan karakter paling rumit serta berlapis-lapis. Dan tentu saja, bacaan yang sangat direkomendasikan jika Anda masih nagih setelah menghabiskan The Hobbit, LOTR, dan The Silmarillion.

Alan_Lee_-_Túrin_Turambar

The tragic hero: Turin Turambar, oleh Alan Lee

“Then Túrin was roused into a sudden wakefulness of fear and rage, and seeing a form bending over him with a naked blade in hand he leapt up with a great cry, believing that Orcs were come again to torment him, and grappling with him in the darkness he seized Anglachel, and slew Beleg Chútalion, thinking him a foe. But as he stood, finding himself free, and ready to sell himself dearly against imagined foe, there came a great flash of lightning above them, and in its light he looked down on Beleg’s face. Then Túrin stood stonestill and silent, staring on that dreadful death, knowing what he had done.”

The Children of Húrin, chapter 9: The Death of Beleg.

Sumber:

Crawford, John Martin. 1910. The Kalevala, Epic Poem of Finland (translation). Cincinnati: Robert Blake Company.

Solopova, Elizabeth. 2009. Languages, Myths and History: An Introduction to the Linguistic and Literary Background of J.R.R. Tolkien’s Fiction, New York City: North Landing Book

Tolkien, J.R.R. 2007. The Children of Húrin. New York: Harper Collins.

FAQ about Children of Hurin

9 thoughts on “The Children of Húrin: Ketika Tolkien Merangkai Tragedi Gelap dalam Kisah Heroik

  1. Wita berkata:

    Hai Kak Putri!
    Dari tiga buku Tolkien (LoTR, TH & TS), baru Children of Hùrin (CoH) ini yang saya baca hanya versi Indonesianya saja alias tunggu terbit di Toko Buku ‘Anu’ hehe..
    Pas saya tahu Kakak review buku ini juga, wah senang sekali tapi.. yah agak sepi respon, sedih juga. Padahal kisah yang ada di buku ini bagus sekali, highly recommended (asumsi saya, belum begitu banyak yang mungkin tertarik membaca CoH karena belum-tidak akan pernah? ada filmnya). Sepertinya, sebuah film (adaptasi/original dari buku/novel) bisa mempopulerkan buku aslinya, ada benarnya juga. Kalau sudah tertarik sama visualnya, kemungkinan untuk mengetahui versi text booknya semakin besar.
    Pada saat saya baca The Silmarillion, terus terang bab tentang Túrin Turambar adalah bab terfavorit karena bikin ngenes hati banget. Dan lagi, saya dibuat jatuh cinta😔 oleh satu karakter Elf terfavorit; setelah Fingolfin, Fingon, Turgon & Finrod tentunya, yaitu Beleg😘. Tapi habis itu saya dibuat merana tiada tara, kematian Beleg yang tragis! Sampai setengahnya nggak percaya. O, why Sir Tolkien😭….
    Setelah tahu bahwa bab tersebut secara terpisah dikisahkan di buku Tolkien yang lain; CoH, penasaran sekali untuk baca bukunya.
    Yah memang, terlepas dari kutukan Morgoth, karakter Túrin ini menarik untuk dicermati, baik sisi baik maupun sisi buruknya. Saya rasa (dari buku) semua itu diwarisi dari darah orang tuanya sendiri, Hùrin dan Morwen serta beberapa peristiwa di masa kecil; kematian adiknya tercinta Lalaith, kepergian ayahnya ke medan perang & hidup terpisah dari ibunya. Dan sialnya, sisi buruknyalah yang membawanya menjemput takdir (kutukan) Morgoth. Sebenarnya, ia bertemu dengan orang lain/elf yang bisa mengarahkan dan menuntun pada sisi baiknya namun sayang, tidak bertahan lama. Mereka adalah Labadal, si Pelayan, tempat curahan hati Tùrin waktu kecil, harus berpisah karena Túrin dititipkan oleh ibunya ke Doriath. Yang satu lagi, yang bisa buat melting hati kerasnya Túrin, siapa lagi kalau bukan Beleg! Túrin sayang banget sama elf satu ini (saya jugak! suka sekali dengan illustrasi Beleg o/ Elena Kukanova, bikin adem). Tapi, oh tragisnya justru mati di tangan Túrin sendiri (unsur ketidaktahuan, bela diri, ketidaksengajaan).
    Bagi saya-pembaca buku, senang dengan adanya karakter Túrin ini, ada variasi, seorang hero yang punya ‘dark side’, enggak lempeng-lempeng amat. Cenderung lebih real. Kalau dibandingkan, mungkin karekternya kurang lebih sama dengan Fëanor dan sama-sama dikutuk juga oleh Valar. Duh!
    Terakhir, menurut feeling Kak Putri, sehabis CoH, buku Tolkien (yang masih ada kaitannya dengan Middle-earth) mana yang akan terbit versi Bahasanya? Kalau saya boleh memilih sama si penerbit, saya minta History of Middle Earth, please? ☺☺
    Thanks.

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai Wita, makasih untuk komentar heboh lainnya. Jadi ramai nih🙂 Ya, saya dulu juga pertama kali baca ini karena dikasih kado ultah sama teman (udah lama banget, tahun 2011). Tapi masih membekas sampai sekarang karena sama sekali tidak seperti The Hobbit dan LOTR walau rada mirip sama Silmarillion (tapi kan Silmarillion kumpulan cerita, bukan satu novel utuh). Ini memang ideal untuk diterjemahkan, walau saya pikir mungkin gak akan seheboh Silmarillion. Children of Hurin sendiri bisa dibilang terinspirasi dari berbagai saga Eropa Utara, yang banyak mengusung tragedi sebagai tema utama. Makanya karakter Turin serta nada cerita ini (dan di beberapa cerita di Silmarillion) sangat “gelap.”

      Betul, visualisasi film memang membantu popularitas buku-buku Tolkien, walau kalau bicara tentang sebagian besar orang Indonesia yang kenal Tolkien dari film bukan buku, wajar kalau responnya gak sebesar film. Padahal Tolkien bukan hanya seorang penulis tapi juga akademisi, jadi karya2nya jauh lebih banyak dari sekadar Middle Earth legendarium. Untuk karya yang bisa diterjemahkan lainnya…hmm, kalau History of Middle Earth, saya kayaknya kurang yakin itu akan bisa diterjemahkan. Karena isinya kan kumpulan manuskrip, terdiri dari kisah2 yang belum direvisi atau nantinya malah tidak dimuat Tolkien dalam Middle Earth legendariumnya, berbagai catatan koreksi naskah, manuskrip puisi, serta catatan-catatan yang gayanya lebih mirip catatan akademik. Cocok untuk yang ingin menelusuri evolusi The Hobbit dan LOTR, atau suka kajian literatur, tapi tidak untuk pembaca kasual.

      Mungkin karya Tolkien yang lain yang bisa diterjemahkan adalah Letters from Father Christmas dan Mr. Bliss, tapi keduanya buku fantasi yang terpisah dari Middle Earth dan lebih cocok untuk anak-anak serta pembaca muda. Tapi sampai saat ini saya belum pernah dengar ada rencana penerjemahan buku Tolkien lainnya.

  2. Alicia berkata:

    Halo kak, sebagai sesama penggemar Tolkien, aku juga menganggap CoH memang yang paling dark dari kisah yang lain. Aku suka banget sama tokoh Morwen di buku ini, dia tegas dan punya kharisma yg disegani sampai para Easterling nggak mau mendekat ke kediamannya hoho. Aku juga suka cara story telling kakak meski ngespoiler sih hehe. Oh iya udah denger blm Tale of Beren and Luthien bakal diterbitin? Keep writing kak!

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai Alicia, makasih ya sudah mampir. Yap, saya emang gitu banget saat nulis tentang CoH ini, saking semangatnya😀 Tapi nggak juga sih, saya harus menceritakan sampai endingnya untuk menarik paralel dengan tokoh Kullervo yang menjadi dasar penciptaan karakter Turin Turambar, karena nasib mereka mirip sampai akhir (lagipula novel ini keluarnya udah lama banget). The Tale of Beren and Luthien itu cenderung dihebohkan karena banyak yang berpikir bahwa buku itu akan sama dengan CoH. Sebenarnya sih belum ada deskripsi jelas akan seperti apa bukunya, apakah akan seperti CoH, atau berupa perbandingan teks yang mustahil diterjemahkan (karena kisah Beren dan Luthien itu ada banyak versinya, dengan berbagai revisi, termasuk yang berupa puisi aliterasi sangat panjang berjudul The Lay of Leithian). Jadi, sebelum dapat rincian lebih jauh, saya nggak komen apa-apa dulu deh.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s