Review Buku ‘Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien’


tolkien perilous and fair

Salah satu kritik yang sering saya dengar dialamatkan kepada Tolkien adalah beliau kelihatannya hanya menulis bukunya untuk laki-laki, karena jumlah karakter wanita dalam Lord of the Rings sangat minim, dan di The Hobbit malah tidak ada (sampai-sampai para pembuat film The Hobbit merasa harus menyelipkan Galadriel dan Tauriel agar tidak sepi perempuan). Lepas dari fakta bahwa kedua buku ini sudah merengkuh banyak penggemar setia baik pria maupun wanita sejak pertama terbit (dan saya sejak pertama membaca malah tidak pernah merasa hal itu harus diributkan, sampai saya membaca kritikan itu), harus diakui juga bahwa, dari segi kuantitas, keduanya memang cenderung sepi karakter wanita. Bahkan, mereka yang menyanjung Tolkien pun berusaha ‘melunakkan’ kritik mereka dengan berkata: “wajar saja, Tolkien itu produk zamannya.” 

Menurut saya tidak. Sebelum saya membaca buku Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien, saya merasa dasar dari kritik tersebut sedikit keliru. Yang dianggap Tolkien sebagai magnum opus-nya sebenarnya bukan The Hobbit (yang awalnya hanya diniatkan sebagai cerita pengantar tidur untuk anaknya) maupun LOTR (yang ditulis hanya karena pembaca The Hobbit masih nagih buku baru), melainkan The Silmarillion, yang sudah digarapnya sejak tahun 1913-1914, dan telah dirangkainya sedemikian rupa dengan penuh penghayatan sehingga dapat menjadi sebuah mitologi modern, namun tak pernah sempat diterbitkan hingga saat kematiannya hanya karena penerbit menganggapnya sebagai karya yang tak akan terlalu diminati oleh publik. Jadi, tidak adil jika kita tidak pernah memperhitungkan karya ini. Dalam The Silmarillion, karakter wanita bukan hanya bertebaran, namun juga banyak memegang peranan penting dalam rangkaian sejarah Middle-earth legendarium. Karakter-karakter wanita yang dibuat Tolkien pun terhitung progresif, sehingga pernyataan “Tolkien itu produk zamannya” juga kurang tepat.

Buku Perilous and Fair yang diterbitkan oleh Mythopoeic Press pada Januari 2015 lalu berupaya mendobrak miskonsepsi bahwa Tolkien adalah “pembenci wanita” (ya, ada kritikan seperti itu) dan kelewat kaku dalam hal pandangan terhadap kaum wanita. Buku ini juga menjelaskan pandangan Tolkien tentang konsep femininitas, yang tidak hanya diwujudkan dalam penciptaan karakter-karakter wanitanya, namun juga hal-hal lainnya seperti sifat-sifat karakter wanita maupun pria, alur cerita, bahkan penciptaan elemen-elemen dunia Middle-earth yang menggambarkan konsep ini, mulai dari penciptaan awal dunia, berbagai peristiwa penting, tempat-tempat dan lokasi penting, hingga nasib berbagai tokohnya.

Buku ini terdiri dari kumpulan beragam tulisan yang membahas wanita dalam kehidupan dan karya Tolkien, yang diterbitkan antara tahun 1984 hingga 2007. Masing-masing tulisan memiliki pendekatan beragam dalam menganalisis karya Tolkien, mulai dari kajian perbandingan literatur (termasuk perbandingan dengan novel fantasi jaman Victoria dan karya Shakespeare), pendekatan historis, pendekatan lewat teori feminisme, kajian biografi, analisis teks, hingga analisis arketip Jung dan bahkan tulisan modern yang membahas tanggapan dari sudut pandang pembaca fan fiction. Lewat buku ini, kita akan menyelami Tolkien sebagai pribadi, sebelum menekuni analisis karya-karyanya dan menemukan banyak sekali konsep-konsep sublim dalam Middle-earth legendarium-nya, yang ternyata sangat mengagungkan konsep femininitas dan menaruhnya sebagai elemen penting yang menggerakkan cerita, ketimbang hanya mewujudkannya dengan asal menggabrukkan segunung karakter wanita tanpa kepribadian kuat atau motivasi mandiri.

Dalam bab-bab awal seperti The History of Scholarship on Female Characters dan The Missing Women, ada banyak informasi terkait kehidupan pribadi Tolkien, seperti pengalaman masa kecilnya dengan ibu dan bibinya yang merupakan wanita-wanita berpendidikan, kisahnya dengan sang istri, Edith, hingga pandangannya yang cukup progresif terkait pendidikan wanita di Oxford, dimana ia menjadi dosen untuk murid-murid wanita. Dia pun dikenal sebagai dosen yang ramah, telaten, dan perhatian bahkan kepada mahasiswi paling malas dan slebor. Pada masa dimana Oxford belum menjadi tempat yang terlalu ramah bagi kaum wanita, Tolkien merupakan pribadi yang berpandangan sangat progresif tentang pendidikan kaum wanita (justru C. S. Lewis, si penulis Narnia, yang lebih cocok disebut “produk zamannya,” karena pernah berkomentar bahwa English School di Oxford “…seems to consist of women, Indians, and Americans.”). Salah satu mahasiswi Tolkien, Elaine Griffiths, malah berperan besar dalam proses penerbitan The Hobbit.

Semakin ke dalam, kita akan diajak menjelajah konsep-konsep femininitas dalam karya Tolkien, yang digambarkan sebagai kekuatan yang saling berkelindan dan mengisi dengan konsep maskulinitas, tidak submisif ataupun malah berupaya menyaingi. Dalam bab The Feminine Principle in Tolkien, analisis karya-karyanya menunjukkan bahwa karakteristik feminin maupun maskulin tidak terikat pada jenis kelamin. Keseimbangan antara karakteristik maskulin dan feminin dalam tindakan tiap tokohnya menentukan nasib tokoh tersebut; mereka yang berfokus pada sisi-sisi ekstrem atau negatif dari femininitas dan maskulinitas cenderung hancur atau celaka.

…characteristics of the gender are not necessarily confined to the sex of that gender, for the most part, males display masculine traits and females display feminine traits. Careful attention to the personalities and activities of the inhabitants in Valinor and Middle Earth reveals a list of complementary masculine and feminine characteristics.

– Melanie A. Rawls: The Feminine Principle in Tolkien

Hal yang mirip dibahas dalam bab-bab seperti Power in Arda dan Tolkien’s Females and the Defining of Power, dimana para karakter wanita justru memiliki kekuatan besar dalam menentukan nasib berbagai karakter, dan di sudut pandang yang lebih luas, kekuatan konsep femininitas, yang tidak bisa dipahami secara dangkal hanya dengan menghitung berapa jumlah karakter wanita, bahkan dalam karya seperti LOTR yang jumlah karakter wanitanya sangat sedikit.

…the fact that Tolkien shows female characters exhibiting this kind of power better and more significantly than many of the males undercuts much of the perception largely based on the low number of female characters (which is less significant than the roles they play) and the supposed stereotypes these female characters fulfill (stereotypes undercut by an accurate analysis of gender in connection with the definition of power in the text)….. the kind of power associated with masculine strength and physical prowess is subverted through female characters.

– Nancy Enright: Tolkien’s Females and the Defining of Power

Buku setebal 341 halaman ini juga memiliki bab-bab yang membahas beberapa karakter wanita secara khusus; ada The Fall and Repentance of Galadriel, pembahasan tentang filosofi raga dalam Lúthien Tinúviel and Bodily Desire in the Lay of Leithian, The Evolution of Nienna in the Legendarium yang akan memuaskan pertanyaan Anda tentang kenapa Valar yang satu ini digambarkan menangis melulu, dan tentu saja analisis mendalam tentang karakter favorit semua orang yaitu Eowyn dalam Eowyn’s Two-fold Figuring as War Bride in The Lord of the Rings. Di luar itu, karakter-karakter yang dibahas di semua buku ini sangat beragam, mulai dari Galadriel, Eowyn, Arwen dan Goldberry, hingga Aredhel, Finduilas, Melian, Lúthien, Idril, Nienor, para Valar Queen, Entwives, bahkan laba-laba Shelob dan Ungoliant. Para karakter pria pun tak ketinggalan dibahas dalam kaitannya dengan konsep femininitas dan maskulinitas, termasuk alasan mengapa justru kemampuan menyembuhkan yang membuat Aragorn dikenali sebagai raja dalam Return of the King, atau mengapa Elrond merupakan figur pria yang banyak dikaitkan dengan konsep femininitas.

Ada juga perbandingan dengan karya sastra lain, misalnya perbandingan dengan konsep roman Abad Pertengahan dalam Speech and Silence in The Lord of the Rings, perbandingan dengan karya Shakespeare dalam Strategizing Unconveniality in Shakespeare’s and Tolkien’s Portraits of Women, dan perbandingan dengan karya-karya sastra abad ke-19 dalam Gender and Genre in The Lord of the Rings and the Victorian Boy’s Book. Bab-bab terakhir juga mengungkapkan pendapat dari sudut pandang pembaca dan bahkan penulis fan fiction, walau porsinya tak terlalu banyak.

Apakah buku ini merupakan apologia untuk kritikan terhadap Tolkien? Tidak. Pembahasan buku ini cukup berimbang dan netral. Nada “berbicara” buku ini bukanlah sebuah apologia, melainkan rangkuman beragam perspektif dan analisis mendalam tentang penghargaan Tolkien yang justru sangat besar terhadap karakter wanita progresif serta konsep femininitas dalam Middle-earth legendarium-nya, walau tidak dengan cara yang mungkin akan bisa dilihat seketika oleh pembaca. Yang pasti, buku ini akan memberi perspektif segar terhadap Tolkien dan karya-karyanya, terutama bagi Anda yang tertarik akan kajian literatur fiksi fantasi.

Untuk karya lain yang masih menyangkut kaum wanita, silahkan ke sini. Lumayan buat bacaan ringan tapi bergizi sebelum tidur.

Advertisements

2 thoughts on “Review Buku ‘Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien’

    1. Halo, makasih ya sudah mampir 🙂 Buku Tolkien yang sudah diterjemahkan adalah The Hobbit, LOTR, Tales from the Perilous Realm, dan 26 November nanti Gramedia akan menerbitkan The Silmarillion versi bahasa Indonesia.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s