Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?


The Silmarillion memberi kita informasi tentang deskripsi tugas para Valar. Banyak dari mereka nampaknya punya definisi yang cukup jelas: Manwë, penguasa angkasa dan udara. Ulmo, penguasa perairan. Yavanna, personifikasi ibu bumi. Namo/Mandos, aulanya menerima jiwa-jiwa mereka yang terbunuh. Tapi dari dulu sampai sekarang, ada satu nama yang menggelitik rasa penasaran saya: Nienna. Wanita yang menangis. Ayolah, pikir saya waktu itu. Apa tugas Valar yang kemampuan istimewanya adalah menangis?

Sekilas memang mudah “menuduh” Nienna sebagai perwujudan stereotip perempuan cengeng; wanita yang deskripsi tugasnya adalah “menangis” dan “berdukacita” tentu kalah keren dibanding para Valar yang deskripsinya terdengar lebih gagah, atau mencerminkan kekuasaan dan kekuatan. Tetapi, kalau Anda sudah baca analisis karakter saya terhadap Finarfin si raja dadakan, Anda akan ingat ini: mengobati atau membangun kembali apa yang sudah hancur, membilas luka yang timbul karena kehancuran, jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Itulah sebabnya, pada akhirnya, Nienna dengan deskripsinya yang sekilas tidak jelas itu memegang peran yang luar biasa. 

443px-Jenny_Dolfen_-_Nienna

Nienna, oleh Jenny Dolfen

Konsep Awal Nienna dalam Legendarium

Untuk memahami betapa pentingnya peran Nienna, kita harus melihat bagaimana dirinya berevolusi dalam manuskrip Tolkien. Nienna termasuk salah satu Valar yang mengalami perubahan konsep cukup drastis ketika Tolkien mengembangkan manuskripnya. Dalam The Lost Tales, volume pertama dari kumpulan manuskrip Tolkien yang terangkai dalam seri History of Middle Earth, ada bab bertajuk The Coming of the Valar yang menggambarkan sosok Nienna sebagai salah satu dari “ladies of great worship…her name is Fui Nienna, wife of Mandos.”

Uniknya, nama lain untuk Nienna dalam manuskrip awal yang belum direvisi ini adalah “Núri who sighs and Heskil who breedeth winter, and all must bow before her as Qalmë-Tari, the mistress of death.” Jadi, dalam naskah awal Tolkien, Nienna adalah istri Mandos, penguasa cuaca dingin (agak mengingatkan pada Queen Beruthiel of Gondor), dan juga dikenal sebagai semacam dewi kematian. Dalam hal ini, Nienna versi awal adalah jukstaposisi dari Vána, istri Oromë, yang dikenal sebagai semacam dewi musim semi; deskripsi yang sedikit mengingatkan pada jukstaposisi dewi Persephone dalam mitologi Yunani sebagai dewi dunia bawah sekaligus lambang kekuatan bibit tanaman yang tumbuh menembus tanah.

Dalam The Lost Tales, Nienna digambarkan menghuni sebuah aula yang bahkan lebih luas dan gelap daripada milik Mandos, dengan penerangan yang hanya berasal dari sebuah tungku perapian. Nienna digambarkan duduk di atas sebuah singgasana hitam, dinaungi sayap-sayap kelelawar, dan ditunjang oleh pilar-pilar batu vulkanik. Deskripsi tugasnya memang berkaitan dengan “air mata,” tetapi dalam deskripsi awal ini, dia menggunakan air mata itu sebagai bahan untuk menciptakan “jaring-jaring ringan awan hitam yang membawa keputusasaan, kesedihan, dan dukacita ke seluruh dunia.” Nienna bahkan juga berperan sebagai pengadil nasib jiwa-jiwa yang telah mati, seperti Mandos. Nienna akan membaca “hati” jiwa tersebut, lalu jiwa yang “jahat” akan dibawanya ke Angamandi (Hell of Iron) milik Melkor, sementara jiwa yang “baik” akan dibawa dengan kapal berlayar hitam ke padang Alvandi, dan menanti di bawah bintang-bintang hingga Hari Akhir tiba.

Jadi, kita bisa lihat bahwa dalam manuskrip awal Tolkien, Nienna digambarkan lebih seperti Hel, anak perempuan Loki yang merupakan semacam ratu neraka. Dia adalah sosok yang disembah dengan campuran antara hormat dan rasa takut. Nienna versi awal ini bahkan bisa lebih sadis daripada Mandos. Dalam Turambar and the Foalókë, manuskrip awal kisah Turin Turambar yang dimuat di The Lost Tales jilid kedua, Turin dan adik perempuannya, Nienor, ditolak masuk oleh Nienna ke tempat penyucian dosa bernama Fôs Almir (“pemandian api”). Akan tetapi, Mandos menunjukkan belas kasihan dan mengijinkan keduanya masuk untuk menyucikan dosa mereka.

Jadi, bagaimana deskripsi Nienna yang awalnya sadis dan tak berbelas kasihan ini berubah begitu drastis?

400px-Aerankai_-_Nienna

Weeping Nienna, oleh Aerankai

Konsep Baru Nienna dalam Legendarium

Bagi yang sudah membaca The Silmarillion, pasti akan tahu bahwa deskripsi Nienna berubah drastis dalam buku ini. Dalam Silmarillion, Nienna tidak lagi menjadi istri Mandos, tetapi merupakan satu dari delapan Aratar (sembilan, kalau Melkor dihitung), yaitu para Valar utama dengan kekuatan tertinggi. Dia menjadi sosok yang mandiri, tidak lagi membutuhkan “pasangan pria” untuk melengkapi dirinya; di antara para Valar, hanya Ulmo yang memilih single seperti dirinya (oke, Melkor juga). Sama seperti Mandos, Nienna masih memilih kediaman yang gelap ketimbang tempat-tempat penuh cahaya seperti Valar lainnya. Tetapi, Niena tidak lagi menjadi semacam personifikasi kematian atau musim dingin, atau menunjukkan absennya belas kasih; dia menjadi sosok yang kekuatan utamanya justru adalah belas kasih.

Perubahan ini bisa dilihat dalam berbagai manuskrip Tolkien yang dicatat serta dirangkum dalam jilid-jilid setelah The Lost Tales. Nienna perlahan berubah wujud menjadi sosok yang lebih pengasih; bukan lagi Hel, tetapi lebih mirip dewi-dewi seperti Freyja atau Frigg. Dalam The Shaping of Middle Earth, jilid keempat seri History of Middle Earth, yang berisi antara lain analisis Christopher Tolkien terhadap teks awal The Silmarillion, beban serta kesendirian Nienna mulai ditekankan; dia menjadi Valar yang berbelas kasih namun berdiri sendiri, dengan beban keluarga “berat” karena saudaranya adalah dua Valar yang saling berlawanan kutub: Manwë dan Melkor. Jadi, beban posisinya sebagai semacam pemegang otoritas menjadi berlipat ganda.

Sekarang, pertimbangkan ini. Di antara para Valar, ada suami istri Irmo dan Estë. Estë adalah Valar yang menyembuhkan kelelahan jiwa, berdampingan dengan Irmo sang pemberi mimpi; kualitas yang dihubungkan dengan tidur yang nyenyak dan menyembuhkan. Tapi Anda tidak perlu belajar psikologi selama 4,5 tahun (seperti saya maksudnya) untuk tahu bahwa ada jenis kesedihan dan trauma mendalam yang sulit bahkan tak akan pernah bisa hilang; kalaupun mendapat penghiburan dan terapi, hal itu tetap menjadi bagian dari aspek psikologis, memengaruhi cara seseorang melihat dunia. Akan tetapi, bagaimana cara Anda melihat dunia lewat jendela trauma dan kesedihan itu? Di sinilah Nienna berperan.

Manuskrip Tolkien yang dianalisis dalam The Lost Road, jilid kelima History of Middle Earth, mulai menunjukkan perubahan yang akan relatif konsisten hingga saat Tolkien menulis manuskrip akhir The Silmarillion. Di sini, Nienna menjadi sosok yang “memulihkan luka, dan mengubah penderitaan menjadi obat, serta kesedihan menjadi kebijaksanaan…semua jiwa yang masuk ke Mandos menangis di hadapannya.” Walaupun Vairë pada akhirnya dijadikan istri Mandos alih-alih Nienna, Vairë tetap tidak menggantikan posisi Nienna, dan dirinya juga tidak termasuk salah satu Aratar seperti Nienna. Kehadiran Nienna yang semakin menonjol pada akhirnya membuat beberapa sosok Valar “mundur” menjadi kurang penting, seperti Vána, yang tadinya didapuk sebagai dewi musim semi, lawan dari Nienna yang tadinya adalah dewi musim dingin.

Akhirnya, dalam The Silmarillion, Nienna pun menganyam air mata dukacita dalam Musik Penciptaan; nampaknya, walaupun dunia masih berada dalam tahap penciptaan, Nienna tahu bahwa dukacita dan kesedihan mendalam akan menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia. Hal ini nampak dari baris-baris ini:

“So great was her sorrow, as the Music unfolded, that her song turned to lamentation song before its end, and the sound of mourning was woven into the themes of the World before it began.”

J. R. R. Tolkien: The Silmarillion, bab Valaquenta.

Kesadaran Nienna akan kesedihan, penderitaan dan dukacita mendalam sebagai bagian dari dunia, walaupun penciptaan dunia tadinya direncanakan sebagai sesuatu yang indah, membuat Nienna menjadikan air mata sebagai kekuatan. Ketika Yavanna menanam bibit Dua Pohon, Nienna menjadikannya tumbuh dengan air matanya, memberi penerangan ke negeri para Valar selain cahaya bintang. Setelah kedua pohon itu dihancurkan Melkor dan Ungoliant, Nienna membantu Yavanna menyelamatkan sebutir buah dan setangkai bunga yang tersisa, agar Valar Aulë bisa membuat Bulan dan Matahari dari keduanya. Jadi, walaupun Melkor alias Morgoth menjadi personifikasi kehancuran dan kekacauan, pada akhirnya Nienna akan selalu ada untuk menyembuhkan luka dan memberi penghiburan bagi yang menderita karenanya.

Simona_Brunilde_Jero_-_Nienna

Nienna, oleh Simona Brunilde Jero

Nienna dan Tolkien: Tentang Pemulihan Trauma dan Belas Kasih

Deskripsi Nienna yang terkuat, menurut saya, justru ada di dalam Morgoth’s Ring, jilid kesepuluh dari History of Middle Earth, dimana Tolkien nampaknya sudah yakin benar dengan versi baru Nienna ini, yang sudah berganti dari deskripsi awal:

“It is said that even in the Music, Nienna took little part, but listened intent to all that she heard. Therefore, she was rich in memory, and farsighted, perceiving how the themes should unfold in the Tale of Arda. But she had little mirth, and all her love was mixed with pity, grieving for the harms of the world and for the things that failed of fulfillment… She has not the hope of Manwë. He is more farseeing, but Pity is the heart of Nienna.”

J. R. R. Tolkien (ed. Christopher Tolkien): Morgoth’s Ring

Mengingat bahwa The Silmarillion tak kunjung bisa diterbitkan Tolkien sejak sekitar tahun 1914 hingga kematiannya, penting untuk memahami bahwa manuskripnya terus berevolusi, seperti yang saya contohkan sebelumnya. Ada banyak hal yang pasti memengaruhi perkembangan manuskrip ini, salah satunya adalah Perang Dunia I. Saya pernah menyebut sedikit bahwa Perang Dunia I adalah peristiwa yang menjadi titik balik perubahan gaya peperangan dunia. Ini adalah perang dimana teknologi modern hadir dalam wujud persenjataan yang bisa membunuh banyak prajurit sekaligus dalam waktu singkat, serta menimbulkan kerusakan dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya, dan akhirnya menjadi masa cikal-bakal penelitian tentang PTSD.

PTSD atau Gangguan Stres Pasca Trauma (Post-Traumatic Stress Disorder) adalah istilah untuk gangguan psikologis berkepanjangan yang menimpa individu yang mengalami tragedi, ancaman bahaya, atau shock hebat. Berbeda dengan stres biasa, trauma penderita PTSD tidak kunjung hilang hingga waktu lama. Lebih lanjut, PTSD bisa mengubah cara individu memandang dunia; selain mengalami mimpi buruk dan kilas-balik serta respon stres berkepanjangan lainnya, individu penderita PTSD bisa jadi mengembangkan cara pandang negatif dan sinis terhadap dunia.

Saya berani bilang bahwa pasti lebih dari kebetulan jika konsep yang mirip PTSD di dunia Barat baru dikenal luas pada masa Perang Dunia I. Dikenal dengan istilah shell shock atau battle fatigue, kondisi ini pertama kali diamati pada para prajurit yang mengalami gemetar, lemas, kebingungan, dan mimpi buruk berkepanjangan terutama setelah hampir tewas oleh ledakan bom. Sebelumnya, kondisi ini dianggap sebagai simbol kepengecutan atau lemahnya kejantanan prajurit. Akan tetapi, seorang dokter bernama Charles S. Myers mendesak militer Inggris untuk menganggap kondisi ini sebagai masalah medis serius yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Hal ini pun berlanjut pada penelitian terhadap trauma yang semakin serius, hingga istilah PTSD akhirnya lahir setelah penelitian panjang terhadap veteran Perang Vietnam. Ini adalah konsep yang tak lolos dari perhatian Tolkien, sebagai salah satu prajurit yang terlibat dalam perang dan bahkan kehilangan banyak teman di sana.

Apakah Anda lihat polanya? Stres dan trauma berkepanjangan adalah efek dari tragedi skala besar seperti perang. Akan tetapi, pada masa perang, prajurit selalu diharapkan untuk selalu tegar dan berani, seolah seragam, senjata serta label patriotisme akan menjadikan mereka semacam Superman. Ketika mereka menunjukkan tanda-tanda stres dan ketakutan yang manusiawi, mereka tidak didengarkan. Dianggap pengecut, sampai seorang dokter yang merawat dan mendengarkan kisah-kisah mereka berhasil mendesak pihak berwenang untuk menangani masalah tersebut dengan serius. Masih ingatkah Anda pada deskripsi Nienna? Dia tidak banyak bicara, dia mendengar, dan hatinya selalu diselimuti iba serta belas kasih. Dia mengubah penderitaan menjadi obat, dan kesedihan menjadi kebijaksanaan. Belas kasih, pengertian, dan kemauan mendengar kebetulan juga adalah kunci untuk membantu penderita PTSD atau jenis trauma lainnya.

Lebih lanjut, belas kasih kemudian menjadi tema yang muncul beberapa kali dalam The SilmarillionThe Hobbit dan LOTR. Air mata dan nyanyian Lúthien menggerakkan hati Mandos, yang mengembalikan kedua pasangan tersebut ke dunia dan mempersatukan mereka. Iluvatar menaruh rasa iba pada para Dwarf ciptaan Aulë, sehingga alih-alih menghancurkan mereka, dia mengijinkan para Dwarf untuk hadir di dunia, dengan syarat tidak mendahului rencana penciptaan yang sudah ditetapkan. Dalam The Hobbit versi revisi kedua, ada tambahan teks yang menggambarkan isi hati Bilbo Baggins saat bersembunyi dari Gollum: “A sudden understanding, a pity mixed with horror, welled up in Bilbo’s heart.” Hal ini menghentikan Bilbo untuk membunuh Gollum setelah mendapatkan Cincin Kekuatan. Sebuah dialog antara Frodo dan Gandalf juga menggambarkan hal ini: “the pity of Bilbo may rule the fate of many.” 

Hal unik lainnya adalah penggunaan kata pity alih-alih mercy dalam bahasa Inggris. Saat ini, konotasi kata pity sering dianggap agak lebih negatif daripada mercy, karena seolah mencerminkan sikap sok tahu atau menggurui, atau merasa lebih tinggi. Padahal, menurut Tolkien, kata latin pieta yang menjadi akar kata pity sesungguhnya bermakna “tanggungjawab, kebaikan, kelembutan, bahkan kesetiaan.”

Dalam suratnya, Tolkien menekankan bahwa Frodo (dan dunia) terselamatkan bukan karena Frodo adalah pahlawan tanpa cela; semua terselamatkan karena belas kasih dan penerimaan yang bijaksana akan penderitaan. Inilah kekuatan sejati Nienna; pemahaman akan penderitaan dan belas kasih yang menyertai, yang akhirnya menjadi kekuatan untuk mengubah penderitaan dan rasa sakit menjadi kebijaksanaan. Mereka yang hidup mungkin menangis pada Varda, namun yang telah mati dan meninggalkan beban di dunia menangis pada Nienna.

Belas kasih adalah kualitas yang kerap dipandang sebelah mata, terutama ketika sifat-sifat terkait maskulinitas cenderung lebih dihargai. Akan tetapi, tidak ada salahnya mengakui bahwa kelemahan, kesedihan dan ketakutan adalah sama alaminya dengan kekuatan, keberanian, dan ketegaran. Dunia ini tak akan pernah lepas dari penderitaan, namun akan selalu ada cara mengubah penderitaan menjadi obat dan kebijaksanaan, asalkan kita memiliki belas kasih.

“He (Frodo) was honoured because he had accepted the burden voluntarily, and had then done all that was within his utmost physical and mental strength to do. He and the Cause were saved by Mercy, by the supreme value and efficacy of Pity and forgiveness of injury.”

J. R. R. Tolkien, surat 191, 26 Juli 1956.

Sumber:

Carter, S. Brett. 2012. “Faramir and the Heroic Ideal of the Twentieth Century.”Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I. Janet Brennan Croft (ed). California: Mythopoeic Press.

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Humphrey, Carpenter. 2000. The Letters of J.R.R. Tolkien. Boston: HoughtonMiffin.

Larsen, Kristine. 2015. “The Power of Pity and Tears.” Perilous and Fair, Women in the Worlks and Life of J. R. R. Tolkien. Janet Brennan Croft (ed). California: Mythopoeic Press.

Tolkien. J. R. R. 1992. The Book of Lost Tales part 1. Christopher Tolkien (ed). New York: Del Rey.

Tolkien. J. R. R. 1992. The Book of Lost Tales part 2. Christopher Tolkien (ed). New York: Del Rey.

Tolkien, J. R. R. 2002. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Tolkien, JRR. 1986. The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings. Montana: Turtleback Books.

Tolkien. J. R. R. 1995. The Shaping of Middle Earth. Christopher Tolkien (ed). New York: Del Rey.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: HarperCollins.

Tolkien, J.R.R. 1993. Morgoth’s Ring. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

2 thoughts on “Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?

  1. Wita berkata:

    Hai Kak Putri … apa kabar?☺
    Wah.. membahas salah satu karakter Valar favorit saya nih, Nienna. Sangat menarik ulasannya, apalagi ada kaitannya antara ‘tugas’ yang diberikan oleh Iluvatar kepada Nienna dengan psikologi, jadi tambah deh pengetahuannya.
    Menurut saya kalau dihubungkan dengan dunia nyata, diantara para Valar, peran Niennalah yang sangat dibutuhkan, logic, nyata dan paling ‘up to date’, tidak akan lekang oleh waktu. Selama manusia hidup pasti akan berhadapan dengan yang namanya kesusahan, kesulitan, kesedihan, penderitaan, stress, galau, pokoknya yang ada hubungannya dengan pahitnya kehidupan deh. Apalagi di jaman seperti sekarang ini, yang pasti sudah ampun-ampunan yah!. Nah disitulah dengan ‘senang hati’ Nienna akan mulai ‘bekerja’. Intinya, setiap orang butuh seorang Nienna dalam kehidupannya, termasuk saya🙂
    Kembali ke The Silmarillion, pasti masih ingat ketika Melkor selesai menjalani masa hukuman dan meminta pengampunan kepada Manwë yang intinya ia akan menebus dosa-dosa (kekacauan, luka) dengan perbuatan baik. Nienna ada disana membantu doanya dan Manwë mengampuninya. Disini saya gregetan membacanya, loh kok Nienna bantu Melkor sih? Musuh terbesar (bebuyutan) di Arda! Bagaimana bisa? Oromë dan Tulkas saja bisa merasakan kalau Melkor berbohong/menipu. Tadinya saya menduga ada apa-apa antara Melkor dan Nienna dan akan saya temukan ceritanya pada bab-bab sesudahnya. Dan ternyata tidak ada dan memang tidak apa-apa antara Melkor dengan Nienna *yah!. Disini saya mencoba memahami tindakan Nienna kepada Melkor. Ia sebenarnya tahu Melkor berbohong tapi karena sifat belas kasihnya yang tidak berbatas, bahkan kepada seorang musuhpun ia berikan karunianya. Ia memberikan kesempatan kepada Melkor untuk berbuat baik jikalau memang dia benar-benar bertobat nantinya.
    Dan satu hal lagi yang membuat saya tambah ngefans sama Nienna ternyata dia ada kaitannya dengan salah satu karakter favorit saya yang lain. Yep, Olórin! Salah satu Maia yang di kemudian hari dikenal dengan nama Gandalf. Dari Nienna, ia banyak mendapatkan pelajaran tentang belas kasih dan kesabaran yang menjadi bekal baginya yang sangat berguna ketika ia dikirim ke Middle-Earth. Dan Gandalf benar-benar menerapkan ilmu yang telah diajarkan ole Nienna ketika ia menghadapi beberapa karakter tertentu baik dalam The Hobbit maupun LoTR. Kalau boleh dibilang, Gandalf adalah kepanjangan tangan dari Nienna di Middle Earth.
    Ahh.. sudah terlalu panjang komentarnya, harus berhenti😁
    Terima kasih

  2. Putri Prihatini berkata:

    Hai, makasih dengan komen yang selalu bersemangat🙂 Sebenarnya salah satu daya tarik Tolkien, di luar karyanya yang kayaknya pure fantasi, adalah kedalaman emosional karena adanya “akurasi” berbagai aspek, mulai dari detail2 interaksi prajurit dalam peperangan, emosi yang dirasakan (bukan sekadar ngarang2, tapi dia benar-benar menerapkan pengalamannya selama ikut perang), dan bahkan efek perang pada cara berpikir prajurit maupun rakyat sipil. Ini sudah pernah ditelusuri oleh beberapa penulis, termasuk jurnalis John Garth yang pernah bilang: “seandainya Tolkien tidak pernah ikut perang, dia mungkin tak akan menulis.” Nienna bisa dianggap sebagai perwujudan fantastis dari salah satu aspek yang dikenali dan dirasakannya dalam suasana perang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s