Viola, Portia, dan Eowyn: Bagaimana Tolkien dan Shakespeare Menggunakan Penyamaran untuk Mendobrak Batas Peran Gender


Bicara soal Tolkien dan Shakespeare, keduanya memiliki kesamaan tema kritik terhadap karya-karya mereka: sama-sama pernah dituduh anti feminis dan mengandung bias gender. Tapi tunggu dulu! Kalau hanya sekadar menghitung berapa jumlah perempuan yang muncul, atau hanya membaca di permukaan, tentu saja opini seperti ini akan langsung muncul. Masalahnya, Shakespeare dan Tolkien sama-sama ahli dalam merangkai kata untuk menguraikan makna berlapis, dan kadang trik-trik berbahasa yang mereka terapkan dalam tulisan bisa begitu subtil, dan tidak bisa diartikan secara mentah. 

Pembahasan tentang karya mereka berdua tak akan pernah habis walau usia kita sudah habis duluan (saya sedang bicara sama sesama Manusia, ‘kan? Bukan Elf?). Tapi ada banyak aspek menarik yang bisa digali satu-persatu, misalnya fakta bahwa penyamaran/penyaruan (masquerade) yang dilakukan karakter wanita dalam karya Shakespeare dan Tolkien ternyata tidak hanya bermakna menutupi identitas yang sebenarnya, tetapi lebih subversif, yaitu mendobrak batasan yang melingkupi peran seorang wanita dalam lingkungannya. Dalam hal karakter Tolkien yaitu Eowyn, penyamarannya bahkan mampu mengangkat peran karakter lainnya yang sama-sama cenderung dimarjinalkan.

Menguji Jangkauan Batas Peran Gender dalam Norma Sosial Ketat
Dalam tulisan bertajuk Hidden in Plain View: Strategizing Unconventionality in Shakespeare’s and Tolkien’s Portrait of Women, Maureen Thum mengungkap bahwa penyamaran seorang karakter adalah upaya untuk menjungkirbalikkan norma sosial, terutama bagi karakter wanita. Hal ini berbeda dengan pembalikan peran, dimana wanita bisa menduduki posisi yang juga diduduki pria, yang berarti menunjukkan norma sosial yang lebih longgar. Sebaliknya, dalam normal sosial yang lebih ketat dalam hal peran gender, wanita yang ingin mendobrak hal ini kerapkali tak punya pilihan lain kecuali menyamar; hal yang sebenarnya juga tidak asing dalam sejarah, misalnya yang dilakukan tokoh-tokoh seperti Kit Cavanagh dan Deborah Sampson.

Dalam lakon Shakespeare, Twelfth Night, karakter bernama Viola dikisahkan menemui Duke Orsino, karakter yang kelak menjadi kekasihnya, dalam penyamaran sebagai seorang pemuda bernama Cesario. Penyamaran ini tadinya adalah sarana perlindungan setelah kapal yang ditumpangi Viola terdampar, dan dia sendirian di negeri asing. Walaupun penampilan ini mengurangi kebebasan Viola dalam mengekspresikan cintanya pada Orsino, penampilan ini justru menjadi ruang bagi Viola untuk mengembangkan hal lain: persahabatan mendalam. Shakespeare hidup pada masa dimana wanita yang belum menikah bahkan tidak diijinkan bertemu pria kecuali ditemani, apalagi mengembangkan persahabatan erat dengan tingkat penghormatan setara. Di Inggris era Shakespeare, wanita yang bersikap tidak konvensional adalah ancaman, simbol abnormalitas, terutama ketika Elizabeth I terbukti mampu menjadi penerus tahta dan mempertahankannya; sesuatu yang menimbulkan kecemasan golongan tertentu dalam lingkungan Inggris masa itu yang sangat patriarkis. Di Illyria, negeri khayalan Shakesepare dalam Twelfth Night, peran gender itu diobrak-abrik lewat Viola.

dtwelfth-6110

Nell Geisslinger (kiri) memerankan Viola/Cesario dalam Twelfth Night produksi Utah Shakespeare Festival 2014, bersama Grant Goodman sebagai Orsino (Foto oleh Utah Theatre Bloggers).

Kemampuan Viola (sebagai Cesario) dalam menjalin persahabatan dengan Orsino terbukti menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi keduanya; karena tidak seperti cinta menggebu Romeo pada Juliet yang sebenarnya hanya sempat ditemuinya sekilas-kilas, penyamaran Viola memberinya kesempatan untuk menjadikan Cesario sahabat yang saling mengerti; mereka menjadi sahabat akrab sebelum menjadi kekasih, sesuatu yang sulit dilakukan wanita yang belum menikah di Inggris jaman Shakespeare (hal yang juga terjadi pada Eowyn; dia tidak menikahi Aragorn yang dipujanya dari kejauhan sebagai pahlawan. Dia menikahi Faramir, yang bukan hanya menganggapnya rekan jiwa setara, namun menghormati Eowyn dan mencintainya apa adanya, karena dia memahaminya).

Portia dalam lakon The Merchant of Venice juga sama; dalam kisah ini, alih-alih menghadirkan tokoh pria yang menyelamatkan wanita, Shakespeare justru menghadirkan klimaks berupa wanita bernama Portia yang menyelamatkan Antonio, penjamin hutang suaminya, Bassanio, dari kontrak Shylock si rentenir yang menuntut sekerat daging tubuhnya jika hutang tersebut tak terbayar. Tahu bahwa strategi pemutusan kontrak ini hanya bisa dilakukan secara legal di pengadilan, Portia pun menyamar menjadi seorang pengacara laki-laki untuk membela sahabat suaminya. Kehadiran Portia sebagai pahlawan yang hadir menyelamatkan si karakter laki-laki sangat kontras dengan penampilan awalnya yang pasif; seorang wanita keluarga kaya yang memilih pelamar dengan menyuruh mereka memilih satu di antara tiga kotak yang terbuat dari logam berbeda. Sebuah ujian khas yang biasa diberikan kepada para pahlawan pria demi mendapatkan wanita, namun dengan twist cerdas dari Shakespeare di akhirnya. Penyamaran memberi Portia kebebasan untuk mendobrak batasan bagi gendernya, memberinya kesempatan untuk menyelamatkan sahabat suaminya dan mengubah drastis jalan cerita.

portia_-_henry_woods

Portia dalam penyamaran sebagai pengacara, oleh Henry Woods

Bagaimana dengan Eowyn? Membaca The Lord of the Rings: The Two Towers di awal-awal seolah memberi gambaran cukup pasif tentang Eowyn. Sama seperti Portia dalam Merchant of Venice, di awal-awal kemunculannya, Eowyn dideskripsikan sebagai gambaran khas tokoh wanita dalam roman kepahlawanan atau fiksi fantasi Eropa, sosok yang memesona namun pasif: wanita cantik dan pucat bergaun putih, dengan rambut emas panjang bergelombang. Menariknya, Tolkien justru memilih kata-kata yang menciptakan kontradiksi dalam penggambaran Eowyn, memberi petunjuk awal keunikan karakter ini, yang samar-samar bisa ditangkap pembaca yang jeli. Pada awalnya, Eowyn dideskripsikan sebagai “wanita bergaun putih” yang hanya berdiri tanpa bicara di samping Theoden. Kemudian, deskripsinya berpindah ke penggambaran tradisional wanita cantik dalam kisah fantasi:

“Very fair was her face, and her long hair was like a river of gold.”

Akan tetapi, tiba-tiba saja, deskripsi ini berganti menjadi karakteristik yang berkesan sangat kontradiktif:

“Slender and tall she was […] but strong she seemed and stern as steel, a daughter of kings.”

Alan-Lee---Eowyn-et-Aragorn

Eowyn memberi cawan kepada Aragorn, oleh Alan Lee. Paduan antara tunik ksatria, pedang, dan cawan minuman sebagai pemberkatan bagi ksatria menggabungkan elemen maskulin dan feminin.

Dengan penggambaran yang serba kontradiktif ini, Tolkien seolah memberi petunjuk bahwa wanita yang penggambaran awalnya sangat tradisional ini kelak akan menjadi seseorang yang perannya jauh melebihi ekspektasi gendernya. Bahkan sebelum Eowyn kelak mengenakan penyamarannya sebagai prajurit bernama Dernhelm, dirinya masih digambarkan oleh karaker pria di awal-awal kemunculannya, dengan sudut pandang dari mata pria yang menganggapnya sebagai wanita yang perlu diselamatkan. Ketika Grima Wormtongue akhirnya diusir dari Rohan dan Theoden lepas dari pengaruhnya, Gandalf berkata: “Eowyn sudah aman sekarang.” Padahal sebelumnya, justru Theoden, sang raja, yang terperosok ke dalam rayuan Wormtongue, sedangkan Eowyn dengan gigih berhasil menolaknya. Jadi, siapa yang sebenarnya baru diselamatkan?

Ketika Theoden akhirnya siap berangkat untuk berperang, Eowyn-lah yang secara aklamasi ditunjuk oleh rakyat Rohan untuk memimpin dan melindungi mereka, mewakili sang raja. Hal ini memang menunjukkan struktur sosial yang tidak sekaku Illyria atau Venesia ala Shakespeare dalam Twelfth Night dan The Merchant of Venice, namun dalam novel, Eowyn mulai menunjukkan bahwa dia siap menerima peran yang melebihi ekspektasi gender dalam lingkungannya; dia melepas kepergian Theoden dan rombongannya dalam baju zirah. Akhirnya, ketika Eowyn mengenakan penyamaran sebagai Dernhelm, dia bertindak lebih jauh dengan mengangkat sosok lain yang perannya cenderung marjinal dalam dunia Middle Earth.

Eowyndernhelm matt stewart

Eowyn sebagai Dernhelm dan Merry, oleh Matt Stewart

Merry adalah Hobbit, yang dalam bahasa umum kerap disebut sebagai “Halfling.” Sosok yang ukurannya hanya “separuh” Manusia, dan dari kaum yang tak menonjol dalam sejarah. Eowyn, dalam penyamarannya sebagai Dernhelm, mengajak Merry menyaru dalam barisan prajurit pria, membantu mengangkat derajat sosok yang dimarjinalkan ini menjadi salah satu pemeran penting dalam sejarah baru Middle Earth; mereka akhirnya bersama-sama membunuh Witch King. Ketika tak ada seorangpun prajurit pria yang bisa membunuhnya, seorang wanita dan Hobbit justru berhasil melakukan tugas itu. Ketika menyadar hal ini, saya jadi ingat sebuah kutipan menarik yang pernah saya dengar dari video tentang seorang aktifis di Nepal (tapi saya lupa namanya): “ketika masyarakat memerhatikan hak-hak kaum yang dimarjinalkan, hal itu juga berdampak pada hak kaum wanita dan anak-anak.”

Ketika Aragorn berargumen dengan Eowyn soal mengapa dirinya harus tinggal di Rohan dan tidak ikut bertempur, Eowyn mengucapkan kata-kata ini:

“All your words are but to say: you are a woman, and your part is in the house. […] But I am of the house of Eorl and not a serving-woman. I can ride and wield blade, and I do not fair either pain or death.”

Sebelum ada yang protes, ingat bahwa ini tidak sama dengan perdebatan “mana yang lebih baik, jadi ibu rumah tangga atau wanita karir?” Tidak sama sekali. Saya melihat pernyataan Eowyn sebagai sisi pemberontakan atas ekspektasi gender yang dikenakan pada wanita hanya karena mereka, yah, wanita, yang tidak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih keagungan yang sama seperti kaum pria. Walau pada akhirnya opini Eowyn sedikit melembut setelah menemukan teman bicara yang setara alih-alih menggurui dalam diri Faramir, namun jangan lupakan dialog ini:

Aragorn: “What do you fear, my lady?”

Eowyn: “A cage […] To stay behind bars, until use and old age accept them, and all chance of doing great deeds is gone beyond recall or desire.”

Sangkar. Bahkan wanita kuat seperti Eowyn pada akhirnya tetap merasakan sedikit ketakutan dalam dirinya, ketika merasa bahwa dirinya akan dikurung. Rasa takut yang tak pernah hilang dari diri kaum wanita sejak dulu, walau pencapaian manusia di dunia ini sudah sangat luar biasa. Dalam Game of Thrones (atau seri A Song of Ice and Fire, kalau Anda pembaca novel)Brienne of Tarth bahkan melakukan hal yang drastis: sebagai anak perempuan yang jauh dari harapan ayahnya, dia tumbuh dengan berfokus pada ilmu pertempuran, menyembunyikan cinta pada seorang pria dalam topeng kesetiaan sebagai pengawal, dan rutin memperkuat dirinya. Dia mengenakan baju besi dan membawa pedang, namun dia selalu merasa takut kala baju besi dan pedangnya tidak menempel di tubuhnya. Namun tidak peduli sekuat apapun dirinya, sebagai seorang wanita, reaksi para pria di sekitarnya biasanya terbagi menjadi tiga: antara menghina wajahnya yang tidak cantik, membencinya karena dia bisa mengalahkan mereka, atau ingin memerkosanya. Rasa takut yang terlalu familiar bagi banyak wanita di seluruh dunia. “Penyamarannya” sebagai ksatria berbaju zirah bukan untuk menyembunyikan identitas; itu adalah perlindungannya. Ketika melihat Brienne pertama kali, Catelyn Stark tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, tapi itu karena Brienne mengenakan helm yang menutupi identitasnya sebagai wanita. Begitu dia menunjukkan identitasnya sebagai wanita di balik baju besi, rasa kagum berubah menjadi belas kasihan. Mungkin karena, sebagai sesama wanita, Catelyn tahu apa yang harus dihadapi Brienne dengan pilihan hidup yang tidak konvensional seperti itu.

Sangkar yang sama mengungkung dan membatasi peran Viola di Illyria dan Portia di Venesia, namun mereka menggunakan penyamaran sebagai kunci untuk membuka sangkar itu. Dan tidak seperti kisah-kisah ala Joan of Arc dimana wanita yang dianggap tidak konvensional akhirnya menemui akhir yang tragis, hal yang sama tidak terjadi pada ketiga protagonis kita. Viola menikah dengan Duke Orsino dan hidup bahagia, Portia berhasil membebaskan sahabat suaminya, mengusir sang rentenir dari kota, dan tetap memiliki hubungan harmonis dengan suaminya. Eowyn berhasil mendapat sudut pandang baru tentang kehidupan, ketika dia akhirnya memilih menjadi penyembuh alih-alih pembunuh, dan akhirnya menemukan pasangan yang setara dan memahami dirinya seperti Faramir.

Akhirnya, walaupun cerita para wanita ini berbeda, ada kesamaannya: ada sangkar tak kelihatan yang melingkari mereka, dan sangkar itu seringkali dipenuhi binatang buas. Mereka harus melakukan hal-hal drastis untuk susah payah keluar dari sangkar itu, sesuatu yang masih terlalu familiar bahkan bagi banyak wanita jaman sekarang. Dan jangan lupa juga, setiap wanita bisa dikungkung oleh sangkar yang bentuknya berbeda-beda, sama seperti kisah Viola, Portia, Brienne dan Eowyn yang berbeda, jadi jangan menyamaratakannya.

Sumber:

Shakespeare, William. 1993. The Merchant of Venice. London: Orion Publishing Group.

Shakespeare, William. 1993. Twelfth Night. London: Orion Publishing Group.

Thum, Maureen. 2007. “Hidden in Plain View: Strategizing Unconventionality in Shakespeare’s and Tolkien’s Portrait of Women.” Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J.R.R. Tolkien. Ed. Janet Brennan Croft. California: Mythopoeic Press.

Tolkien, JRR. 1991. The Two Towers. London: HarperCollins.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s