The Letters of J.R.R. Tolkien: Mengenal sang Profesor lewat Surat-surat Pribadinya


letters of tolkien

Menjelang kematiannya di tahun 1973, J.R.R. Tolkien kehilangan kemampuan menggunakan tangan kanannya, yang menurutnya, membuatnya merasa seperti “ayam yang kehilangan paruh.” Tidak mengherankan; Tolkien adalah penulis yang produktif dan sangat mencintai dunianya, dan ia telah menulis berbagai macam hal: novel, buku teks, kumpulan esai, puisi, kumpulan cerita, karya terjemahan, syair epik, dan sebagainya. Akan tetapi, Tolkien juga menulis banyak sekali surat sepanjang hidupnya, hingga dikenal sebagai one of the most prolific letter writers in the 20th century. Surat-surat tersebut berisi berbagai macam hal: mulai dari pemikiran Tolkien saat menciptakan dunia Middle Earth, korespondensi dengan penerbit dan sahabat-sahabatnya, korespondensi dengan anak-anaknya termasuk yang sifatnya profesional terkait penulisan buku-bukunya, kumpulan surat darinya untuk sang istri, Edith, dan sebagainya.

Humphrey Carpenter, penulis biografi Tolkien, mengumpulkan surat-surat Tolkien dalam buku The Letters of J.R.R. Tolkien, memberi kita semua gambaran tentang siapa Tolkien sebenarnya lewat tulisannya sendiri. Dibantu oleh Christopher Tolkien, putra sekaligus penerus karya-karya dan pemegang hak cipta buku-buku Tolkien, Humphrey memilih serta membukukan total 354 surat dari berbagai era, dimulai dari tahun 1914 ketika Tolkien belajar di Exeter College dan akhirnya ikut wajib militer untuk Perang Dunia I, hingga surat tertanggal 29 Agustus 1973, yaitu 4 hari sebelum kematiannya.

Jika dalam biografinya kita memahami kisah hidup Tolkien dari sudut pandang orang lain, The Letters memberi kita petunjuk untuk menjelajahi dan memahami pribadi Tolkien, pemikirannya soal konstruksi dunia Middle Earth yang akhirnya berhasil menjadi mitologi modern, serta pandangan pribadinya akan berbagai hal mulai dari perang, persahabatan, mitologi, hingga dunia filologi dan bahasa yang ditekuninnya. Saya juga senang membaca bagaimana Tolkien menggambarkan perkembangan plot buku-buku terkenalnya seperti The Hobbit dan LOTR, serta bagaimana sifat perfeksionisnya mempengaruhi proses penulisan dan pencetakan buku-bukunya.

Saya juga senang membaca buku ini karena The Letters “memanusiakan” Tolkien di mata saya; Tolkien orang yang, walaupun memiliki produktifitas luar biasa dan berhasil menciptakan dunia yang begitu rumit, mendetail dan indah dalam bentuk tulisan, namun tetaplah orang biasa dengan segala kekurangannya. Cerdas sudah pasti, perfeksionis, namun juga terkenal suka menunda-nunda pekerjaan sehingga sering menulis surat permintaan maaf untuk penerbit, baik hati, suka usil, humoris, benci perang, suka alam pedesaan, dan ya, sedikit persis seperti saya: saat menjadi tentara muda, sering merasa bosan dan “melarikan diri” dengan cara menyelinap ke perpustakaan untuk membaca buku-buku tebal berdebu, menemukan kepuasan dari kata-kata tertulis dan menciptakan dunia sendiri dalam benaknya.

Berikut beberapa kutipan dari surat-surat favorit saya dalam buku ini:

1. Surat nomor 13, 13 Mei 1937: untuk C. A. Furth dari penerbit Allen & Unwin. Terkait rencana penerbitan buku Tolkien di Amerika, Tolkien menyampaikan pendapatnya soal pembuatan ilustrasi di buku The Hobbit versi Amerika. Surat ini menunjukkan perfeksionisme Tolkien yang ingin agar si Hobbit (maksudnya Bilbo) tetap menjadi fokus penceritaan, serta ketidaksukaannya pada ilustrasi ala Disney.

As for the illustrations: I am divided between knowledge of my own inability and fear of what American artists (doubtless of admirable skill) might produce. In any case I agree that all the illustrations ought to be by the same hand: four professional pictures would make my own amateurish productions look silly. I have some ‘pictures’ in my drawer, but though they represent scenes from the mythology on the outskirts of which the Hobbit had his adventures, they do not really illustrate his story. The only possible one is the original coloured version of Mirkwood (re-drawn in black and white for The Hobbit)…. It might be advisable, rather than lose the American interest, to let the Americans do what seems good to them – as long as it was possible (I should like to add) to veto anything from or influenced by the Disney studios (for all whose works I have a heartfelt loathing).

2. Surat nomor 17, 15 Oktober 1937: untuk Stanley Unwin dari penerbit Allen & Unwin. Tolkien membahas soal penggunaan kata Dwarf dan bentuk jamaknya yang tepat.

No reviewer (that I have seen), although all have carefully used the correct dwarfs themselves, has commented on the fact (which I only become conscious of through reviews) that I use throughout the ‘incorrect’ plural dwarves. I am afraid it is just a piece of private bad grammar, rather shocking in a philologist; but I shall have to go on with it. Perhaps my dwarf – since he and the Gnome are only translations into approximate equivalents of creatures with different names and rather different functions in their own world – may be allowed a peculiar plural. The ‘real’ historical plural of dwarf (like teeth or tooth) is dwarrows, anyway: rather a nice word, but a bit too archaic. Still I rather wish I had used the word dwarrow.

3. Surat nomor 30, 25 Juli 1938: untuk penerbit Jerman Rütten & Loening Verlag. Ini mungkin surat paling terkenal, karena berakar dari permintaan penerbit Jerman tersebut yang ingin menerbitkan edisi terjemahan bahasa Jerman dari The Hobbit, namun sebelumnya meminta agar Tolkien membuktikan bahwa ia benar-benar keturunan Arya (Tolkien berdarah Jerman). Tolkien yang benci perang, anti rasisme dan tidak menyukai cara-cara Hitler marah dengan permintaan itu sehingga mempertimbangkan untuk mengirim dua surat penolakan. Sebenarnya ini hanya draft surat dan tak pernah dikirimkan, namun ia tetap menunjukkannya pada penerbitnya, Allen and Unwin.

Thank you for your letter … I regret that I am not clear as to what you intend by arisch. I am not of Aryan extraction: that is Indo-Iranian; as far as I am aware none of my ancestors spoke Hindustani, Persian, Gypsy, or any related dialects. But if I am to understand that you are enquiring whether I am of Jewish origin, I can only reply that I regret that I appear to have no ancestors of that gifted people.

4. Surat nomor 93, 24 Desember 1944: untuk putranya, Christopher Tolkien. Pada tahap ini, Tolkien sedang menggarap LOTR dan secara rutin mengirim contoh bab-bab yang sudah jadi kepada Christopher serta berdiskusi. Dalam surat ini, terdapat kutipan mengenai perbandingan antara karakter Sam dan Frodo, menurut pendapat Tolkien.

…Cert. Sam is the most closely drawn character, the successor to Bilbo of the first book, the genuine hobbit. Frodo is not so interesting because he has to be highminded, and has (as it were) a vocation. The book will prob. end up with Sam. Frodo will naturally become too ennobled and rarefied by the achievement of the great Quest, and will pass West with all the great figures; but S. will settle down to the Shire and gardens and inns. C. Williams who is reading it all says that the great thing is that its centre is not in strife and war and heroism (though they are understood and depicted), but in freedom, peace, ordinary life and good liking.

5. Surat nomor 100, 29 Mei 1945: untuk Christopher Tolkien. Pada tahap ini, Christopher yang baru saja pulang dari tugasnya sebagai tentara di Afrika Selatan sedang mengusahakan agar dirinya bisa ditransfer ke Fleet Air Arm. Dalam surat ini, Tolkien menyampaikan kekhawatirannya soal keselamatan putranya dan mengungkapkan pendapatnya soal perang.

…as I know nothing about British or American imperialism in the Far East that does not fill me with regret and disgust, I am afraid I am not even supported by a glimmer of patriotism in this remaining war. I would not subscribe a penny to it, let alone a son, were I a free man.

6. Surat nomor 102, 9 Agustus 1945: untuk Christopher Tolkien. Ini juga salah satu surat yang benar-benar menjelaskan sikap Tolkien yang benci perang. Dalam surat ini, ia mengungkapkan keprihatinan soal jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

The news today about ‘Atomic bombs’ is so horrifying one is stunned. The utter folly of these lunatic physicists to consent to do such work for war purposes: calmly plotting the destruction of the world! Such explosives in men’s hands, while their moral and intellectual status is declining, is about as useful as giving out firearms to all inmates of a gaol and then saying that you hope ‘this will ensure peace.’

7. Surat nomor 107, 7 Desember 1946: untuk Stanley Unwin. Surat ini adalah salah satu dari sekian yang menunjukkan betapa perfeksionisnya Tolkien soal bagaimana penggambaran karakternya di buku-bukunya, termasuk ilustrasinya. Di sini, ia mengkritik ilustrasi The Hobbit edisi Jerman yang dianggapnya menyimpang dan “terlalu mirip Disney.”

He has sent me some illustrations (of the Trolls and Gollum) which despite certain merits, such as one would expect of a German, are I fear too ‘Disnified’ for my taste: Bilbo with a dribbling nose, and Gandalf as a figure of vulgar fun rather than the Odinic wanderer that I think of.

8. Surat nomot 114, 7 April 1948: untuk Hugh Brogan. Hugh adalah seorang murid sekolah dan salah satu dari sekian banyak fans yang telah menulis surat pada Tolkien. Dalam suratnya, Hugh yang mengagumi The Hobbit bertanya apakah ia bisa mendapat informasi lebih lanjut soal dunia yang telah diciptakan Tolkien. Dalam surat balasannya, Tolkien menjelaskan bahwa ia sudah 10 tahun menggarap karya yang berlokasi di dunia yang sama (maksudnya LOTR), merekomendasikan The Silmarillion (yang sudah ditulisnya sejak tahun 1913 namun belum pernah selesai), serta menawarkan untuk mengirim beberapa salinan dokumen tentang rincian dunia Middle Earth pada Hugh.

I am glad you enjoyed ‘the Hobbit.’ I have in fact been engaged for ten years on writing another (longer work) about the same world and period of history, in which at any rate all can be learned about the Necromancer and the mines of Moria…. What you really require is The Silmarillion, which is virtually history of the Eldalië (or Elves, by a not very accurate translation) from their rise to the Last Alliance, and the first temporary overthrow of Sauron (the Necromancer): that would bring you nearly down to the period of ‘The Hobbit.’

9. Surat nomor 131: untuk Milton Waldman. Dalam surat super panjang ini, Tolkien menjabarkan ringkasan LOTR dan legenda awal dalam The Silmarillion, termasuk kutipan favorit saya soal perbedaan filosofis antara Elf dan Manusia.

These are the First-Born, the Elves, and the Followers Men. The doom of the Elves is to be immortal, to love the beauty of the world, to bring it to full flower with their gifts of delicacy and perfection, to last while it lasts, never leaving it even when ‘slain,’ but returning – and yet, when the Followers come, to teach them, and make way for them, to ‘fade’ as the Followers grow and absorb the life from which both proceed. The Doom (or the gift) of Men is mortality, freedom from the circles of the world.

10. Surat nomor 163, 7 Juni 1955: untuk W.H. Auden. Dalam surat ini, Tolkien memberi Auden, yang telah mengulas buku-bukunya dan akan diwawancari BBC terkait hal ini, hal-hal untuk diungkapkan oleh Auden terkait buku-bukunya. Dalam kutipan ini, ia menggambarkan apa yang dirasakannya saat pertama kali mulai menggarap LOTR; fragmen-fragmen berbagai karakter dan tempat yang telah dibayangkannya namun belum utuh.

So the essential Quest started at once. But I met a lot of things along the way that astonished me. Tom Bombadill I already knew, but I have never been to Bree. Strider sitting in the corner of the inn was a shock, and I had no more idea who he was than Frodo did. The Mines of Moria had been a mere name; and of Lothlórien no word had reached my mortal ears till I came there.

11. Surat nomor 207, 8 April 1958: untuk Rayner Unwin. Dalam surat ini, Tolkien menyampaikan ketidakpuasannya atas naskah yang ditulis Morton Grady Zimmerman untuk adaptasi film Amerika dari LOTR, menunjukkan kekesalannya atas perubahan seenaknya yang dilakukan Zimmerman.

I should say Zimmerman is quite incapable of excerpting or adapting the ‘spoken words’ of the book. He is hasty, insensitive, and impertinent. He does not read the books. It seems to me evident that he has skimmed through the L.R at a great pace…. Thus he gets most of the names wrong in form – occasionally by casual error but fixedly (always Borimor for Boromir); or he misapplies them: Radagast becomes an Eagle. The introduction of characters and the indications of what they are to say have little or no reference to the book.

12. Surat nomor 219, 14 Oktober 1959: untuk fans wanita dengan nama yang tak diketahui (dikirim lewat penerbit Tolkien, Allen and Unwin). Dalam suratnya, fans wanita yang seorang pembiak kucing bertanya apakah ia bisa mendaftarkan sekelompok anak kucing Siam hasil pembiakan jenis baru yang dihasilkan pembiak rekannya dengan salah satu nama dari LOTR. Saya suka ini karena balasan super singkat dari Tolkien ini menunjukkan sisi humornya.

My only comment is that of Puck upon mortals. I fear that to me Siamese cats belong to the fauna of Mordor, but you need not tell the cat breeder that.

13. Surat nomor 230, 8 Juni 1961: untuk Rhona Beare, yang menanyakan padanya apa arti nama Laurelindorenan alias Lothlórien. Saya suka ini bukan hanya karena penjelasannya yang indah dan terperinci, namun juga fakta bahwa Tolkien sangat memerhatikan fansnya hingga bersedia menjawab pertanyaan seremeh apapun.

The elements are laure, gold, not the metal but the colour, what we should call golden light; ndor, nor, land, country; lin, lind-, a musical sound; malina, yellow; orne, tree; lor, dream; nan, nand-, valley. So that roughly means: ‘The valley where the trees in a golden light sing musically, a land of music and dream; there are yellow trees there, it is a tree-yellow land.’ The same applies to the last line on the page, where the elements are taure, forest; tumba, deep valley; mor, darkness; lóme, night.

14. Surat nomor 244: draft untuk balasan tulisan Concerning on a Criticism Concerning Eowyn and Faramir (sekarang sudah hilang, tapi mungkin tulisan itu muncul sekitar tahun 1963)Saya suka ini semata karena Eowyn dan Faramir adalah pasangan favorit saya di LOTR; lebih membumi.

…. She was not herself ambitious in the true political sense. Though not a ‘dry nurse’ in temper, she was also not really a soldier or ‘amazon,’ but like many brave women was capable of great military gallantry at crisis. I think you misunderstand Faramir. He was daunted by his father: not only in the ordinary way of a family with a stern proud father of great force of character, but as a Númenórean before the chief of the one surviving Númenórean state. He was motherless and sisterless (Eowyn was also motherless), and had a ‘bossy’ brother. He had been accustomed to giving away and not giving his own opinion air, while remaining a power of command among men, such as a man may obtain who is evidently personally courageous and decisive, but also modest, fair-minded and scrupulously just, and very merciful. I think he understood Eowyn very well.

15. Surat nomor 258, 2 Agustus 1964: untuk Rayner Unwin, terkait berita bahwa sebuah hidrofoil (semacam kapal dengan bagian seperti sayap yang dipasang pada penyangga di bawah lambung kapal) baru telah dinamai Shadowfax (nama kuda yang ditunggangi Gandalf di The Two Towers), tanpa seijin Tolkien. Berbeda dengan surat dari fans sebelumnya, Tolkien di sini mengungkapkan ketidakpuasannya karena merasa hak cipta karyanya diremehkan.

I wish that ‘Copyright’ can protect names as well as extracts. It is a form of invention that I take a great deal of trouble over, and pleasure in; and really it is quite as difficult (often more so), as say, line of verse. I must say I was piqued by the ‘christening’ of that monstrous ‘hydrofoil’ Shadowfax – without so much as ‘by your leave’ – to which several correspondents drew my attention (some with indignation).

16. Surat nomor 289, 29 Juli 1966: untuk Michael Tolkien, cucunya. Dalam surat ini, Tolkien menjelaskan apa arti nama ‘Mirkwood.’

Mirkwood is not an invention of mine, but a very ancient name, weighted with legendary associations. It was probably the Primitive Germanic name for the great mountainous forest region that anciently formed a barrier to the south of the lands of Germanic expansion…. in ancientness seems indicated by its appearance in very early German (11th c?) as mirkiwidu, although the merkw- stem, ‘dark, is not otherwise found in German at all…. and the stem widu – > witu was in German (I think) limited to the sense of ‘timber,’ not very common, and did not survive in the mod.

17. Surat nomor 294: untuk Charlotte dan Denis Plimmer, jurnalis The Daily Telegraph. Tolkien, yang baru diwawancarai oleh Daily Telegraph, dikirimi draft artikel yang akan diterbitkan. Dalam surat ini, ia membuat banyak sekali koreksi, tapi kesukaan saya ada dua: koreksi akan penggambaran dirinya (yang disebut sebagai “tinggi dan bertubuh kekar”) serta kutipannya tentang ketidaksukaannya pada Dante karena karyanya ‘jahat’ (Tolkien membantahnya; ia justru mengagumi Dante dan merasa tak pantas dibandingkan dengannya).

I am not in fact tall, or strongly built. I now measure 5 ft 8 1/2, and am very slightly built, with notably small hands. For most of my life I have been very thin and underweight. Since my early sixties I have become ‘tubby.’…. My reference to Dante was outrageous. I do not seriously dream of being measured against Dante, a supreme poet.

18. Surat nomor 301, 29 Februari 1968: untuk Donald Swan. Dalam surat ini, Tolkien menjelaskan ketidaksukaannya soal keterlibatannya dalam program pembuatan dokumenter BBC: Tolkien in Oxford, yang tayang pada tahun 1968. Baginya, proses pembuatan dokumenter itu menyiksa karena dirinya seolah diombang-ambingkan, dipaksa berperan menjadi orang yang bukan dirinya dan bahkan ‘berakting’ untuk membuat dokumenter seperti yang diinginkan BBC, bukan siapa dirinya sebenarnya. Contohnya, ia disuruh menghadiri festival kembang api untuk mengasosiasikan dirinya dengan Gandalf, padahal ia tak pernah lagi bermain kembang api atau menghadiri festival serupa. Wah, ternyata Tolkien pun tak lolos dari tren ‘dokumenter’ yang naskahnya dimanipulasi.

I am merely impressed by the complete ‘bogosity’ of the whole performance…. they appeared completely confused between ME and my story, and I was made to attend a firework show; a thing I have not done since I was a boy. Fireworks have no special relation to me. They appear in the books (and would have done even if I disliked them) because they are part of the representation of Gandalf, bearer of the Ring of Fire, the Kindler: the most childlike aspect shown to the Hobbits being fireworks.

19. Surat nomor 310, 20 Mei 1969: untuk Camilla Unwin. Putri Rayner Unwin, Camilla, mendapat tugas sekolah untuk menjelaskan apa tujuan dan arti hidup, dan mengirim surat kepada Tolkien untuk meminta pendapatnya.

What does that question really mean? Purpose and Life both need some definition. Is it purely human and moral question; or does it refer to the Universe? It might mean: How ought I to try and use the life-span allowed to me? OR: what purpose/design do living things serve by being alive? The first question, however, will find an answer (if any) only after the second has been considered.

20. Surat nomor 340, 11 Juli 1972: untuk Christopher Tolkien. Pada saat ini, Tolkien baru saja mengurus makam mendiang istrinya, Edith. Ia mengukir nama Lúthien, karakter dalam The Silmarillion, seorang putri Elf yang mencintai Manusia bernama Beren, dimana kisah mereka mencerminkan kisah cinta Tolkien sendiri. Dalam surat ini, ia menjelaskan inspirasi karakter Lúthien. Saya suka kutipan ini karena menunjukkan jiwa romantis dan sentimentalisme Tolkien, dan jika Anda familiar dengan bab Of Beren and Lúthien di The Silmarillion, Anda pasti akan lebih bisa meresapi kutipan surat ini!

I never called Edith Lúthien, but she was the source of the story that in time became the chief part of The Silmarillion. It was first conceived in a small woodland glade filled with hemlock at Roos in Yorkshire (where I was for a brief time in command of an outpost of the Humber Garrison in 1917, and she was able to live with me for a while). In those days, her hair was raven, her skin clear, her eyes brighter than you have seen them, and she could sing – and dance. But the story has gone crooked, & I am left, and I cannot plead before the inexorable Mandos.

Surat terakhir Tolkien bertanggal 29 Agustus 1973, atau 4 hari sebelum kematiannya, dan dialamatkan kepada putrinya, Priscilla. Saat menulis surat terakhir ini, Tolkien harus dibantu karena sudah sakit-sakitan dan tangan kanannya tak bisa digerakkan, dan saat itupun ia juga tinggal di rumah dokternya, dr. Denis Tolhurst.

The Letters of J.R.R. Tolkien mengungkapkan jauh lebih banyak daripada kutipan di halaman blog ini, tentu, termasuk semua detail lezat tentang karya-karyanya. Saya bahkan hampir tergoda untuk menulis hampir semuanya, kalau ingat masih sayang nyawa🙂 Intinya, jika Anda tertarik mengetahui siapa Tolkien dan apa yang ada di benaknya terkait proses penciptaan dan penerbitan buku-bukunya, buku ini bisa menjadi pilihan. Dan membaca buku ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa, walaupun hanya bisa dalam imajinasi saya, Tolkien adalah salah satu penulis yang saya berharap bisa mengobrol dengannya berjam-jam sambil minum teh di teras rumah yang menghadap ke area pedesaan….

Bagi yang tertarik, bisa beli di sini.

One thought on “The Letters of J.R.R. Tolkien: Mengenal sang Profesor lewat Surat-surat Pribadinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s