Sejarah Kelahiran The Hobbit: Kertas Ujian, Pryftan, dan Gandalf sebagai Dwarf


Artikel ini saya buat dalam rangka menyambut hari peringatan ulang tahun J.R.R. Tolkien tanggal 3 Januari, sekaligus berbagi kisah menarik tentang sejarah kelahiran The Hobbit hingga menjadi buku yang kita kenal sekarang.

Sejauh ini ada banyak pendapat dari para penonton film The Hobbit: ada yang merasa puas dengan filmnya, namun tak sedikit yang merasa kecewa dengan eksekusinya. Saya bahkan pernah mendengar pendapat yang menyatakan bahwa “kalau nggak ada Tauriel dan Legolas, The Hobbit pasti jadi ngebosenin.”

Hmm…begitukah? Lalu, kalau buku ini membosankan, bagaimana mungkin buku ini mendapat nominasi Carnegie Medal dan penghargaan Best Juvenile Fiction dari New York Herald Tribune? Bagaimana mungkin buku ini mendapat gelar Most Important 20th-Century Novel (for Older Readers) dalam poling yang dilakukan Books for Keeps? Bagaimana mungkin buku ini menjadi salah satu buku terbaik yang menerima BILBY Awards dari Children’s Book Council of Australia? Dan yang terpenting: tanpa The Hobbit, bagaimana mungkin LOTR dan semua hasil adaptasi buku-buku ini (termasuk film, game, permainan papan, buku fiksi fantasi yang terinspirasi oleh mereka, dan sebagainya) bisa lahir?

Sampul buku The Hobbit edisi pertama (1937); ilustrasi ini buatan Tolkien sendiri

Bagi saya dan para pecinta buku The Hobbit lainnya, buku ini bukan hanya menawarkan kisah menarik di dalam tiap lembarnya, namun juga proses penciptaannya. Supaya Anda makin tertarik membacanya, yuk kita lihat kisah di balik kelahiran buku yang terbit pada tahun 1937 ini.

Awalnya: Kertas Ujian yang Kosong

Melihat fenomena The Hobbit yang meledak saat ini, luar biasa jika membayangkan bahwa penciptaan pertama buku ini berawal dari lamunan bosan seorang dosen yang capek menilai kertas ujian mahasiswanya. Tolkien mengisahkan cerita di balik penciptaan buku ini dalam salah satu suratnya kepada W.H. Auden; saat itu awal tahun 1930-an, saat Tolkien menjadi profesor di Oxford dan baru mempublikasikan beberapa puisi di majalah serta buku kumpulan puisi. Saat itu, ketika sedang menilai setumpuk kertas jawaban ujian School Certificate (semacam ujian untuk siswa berusia 16 tahun), ia menemukan selembar kertas yang kosong tanpa jawaban apa-apa. Melihat lembar kertas kosong itu, Tolkien mendadak terinspirasi dan menggoreskan sepotong kalimat yang kelak mengawali sejarah:

“in a hole in the ground there lived a hobbit”

Kalimat itu pun pelan-pelan berkembang menjadi kisah yang kita kenal sekarang: petualangan Bilbo Baggins, si Hobbit pecinta rumah, perapian dan makanan yang sebenarnya benci petualangan, dalam rangka membantu rombongan Dwarf merebut harta karun dari cengkeraman naga mengerikan, dengan bantuan seorang penyihir. Kisah awal yang ditulis Tolkien ini sebenarnya hanya diperuntukkan sebagai kisah-kisah pengantar tidur untuk anak-anaknya. Selain hanya ditulis dengan kertas dan pena, Tolkien pun selalu membacakan tiap bab yang sudah selesai kepada anak-anaknya. Kisah ini mulanya hanyalah kisah sederhana untuk anak-anak, dengan beberapa perbedaan dari buku yang kita kenal sekarang. Misalnya, Smaug tadinya bernama Pryftan, penyihirnya bernama Bladorthin, sementara Gandalf justru menjadi nama pimpinan Dwarf yang memimpin rombongan 11 orang Dwarf lainnya dalam kisah petualangan ini.

070_JRR_and_Christopher_Tolkien_1928

4415de505cd6cf771419632e111ddf11

Tolkien dan anak-anaknya, Christopher dan Patricia: mereka beruntung bisa mendengar kisah-kisah The Hobbit pertama kalinya

Akan tetapi, menjelang manuskrip kisah selesai, Tolkien justru mendapat lebih banyak ide dan melakukan beberapa perubahan, misalnya mengubah nama si penyihir dari Bladorthin menjadi Gandalf (karena dipikirnya lebih sesuai: dalam bahasa Islandia, nama Gandalf memiliki arti sorcerer-elf), Pryftan menjadi Smaug (dari kata bahasa Jerman smugan yang artinya “menyelinap ke dalam lubang”), dan nama si pemimpin Dwarf akhirnya menjadi Thorin Oakenshield. Adegan tebak-tebakan antara Bilbo dan Gollum pun punya detail yang sedikit berbeda: jika kini kita tahu bahwa Bilbo menemukan The One Ring yang kesohor itu lebih dulu dan menyuruh Gollum memberitahunya jalan keluar dari gua jika Gollum kalah dalam permainan tebak-tebakan, maka dalam versi yang dibuat Tolkien dulunya, Gollum sudah lama memiliki cincin itu sebagai hadiah ulang tahun dimana cincin itu akan diberikannya pada Bilbo kalau dia kalah.

Lucunya, sebenarnya Tolkien saat itu justru lebih kepingin menerbitkan The Silmarillion. Maklumlah, The Silmarillion sebenarnya sudah mulai digarapnya sejak tahun 1917. Akan tetapi, semakin ke belakang, Tolkien semakin banyak mencomot berbagai hal dan detail penceritaan dari The Silmarillion untuk keperluan mengarang The Hobbit. Kisahnya pun bergeser dari sekedar cerita anak-anak yang terpisah sama sekali dari Middle Earth legendarium menjadi sebuah ‘kisah kecil di satu sudut Middle Earth’ (yang pada akhirnya, tanpa diketahuinya, justru akan mengilhami karya yang lebih terkenal yaitu LOTR).

Awal The Hobbit Diterbitkan

Tolkien akhirnya memutuskan menulis manuskrip The Hobbit dengan mesin tik, namun itupun hanya dinunjukkannya pada sedikit sekali orang. Salah satu orang itu adalah mantan mahasiswinya, Elaine Griffiths, yang kemudian memiliki peran penting dalam hal penerbitan The Hobbit. Saat itu, Elaine sedang bekerja di perusahaan penerbitan Allen and Unwin, dan ketika membicarakan soal proyek penerjemahan naskah Beowulf bersama staf Susan Dagnall, Elaine menceritakan soal manuskrip Tolkien padanya. Saat Susan memutuskan menemui Tolkien untuk melihatnya, ia sangat menyukainya walau naskah itu belum selesai (baru sampai saat Smaug mati), sehingga Tolkien buru-buru menyelesaikan dan akhirnya mengirim manuskrip tersebut ke Allen and Unwin pada bulan Oktober 1936.

E_79abbe18ed

Elaine Griffiths

Stanley Unwin, Chairman Allen and Unwin, berpikir bahwa orang yang paling tepat untuk menilai naskah itu adalah anak-anak. Jadi, ia meminta putranya yang baru berusia 10 tahun, Rayner, untuk membacanya. Rayner pun memberi tanggapan yang diharapkan: ia melahap habis naskah itu dan sangat menyukainya hingga memberi pendapat tertulis sebagai bukti. Akhirnya, pada tanggal 21 September 1937, The Hobbit resmi diterbitkan. Begitu larisnya buku ini sehingga sudah cetak ulang pada tanggal 25 Desember di tahun yang sama. Para pembaca menyukai gaya bahasanya yang ringan dan kocak, serta terutama tokoh Bilbo yang mengarungi petualangan ‘klasik’ para pahlawan di buku-buku dongeng: mencari harta karun bersama Dwarf dan penyihir, serta menghadapi naga, namun dengan penokohan Bilbo yang “seperti orang biasa” dan justru lebih cocok disebut reluctant hero, alih-alih tokoh hero yang serba ideal.

Sebagai tambahan, Tolkien sendiri sering mengidentifikasikan dirinya sebagai Hobbit: ia suka makan, suka alam pedesaan, suka berdiam di rumah, tidak begitu suka keluar rumah berlama-lama, suka jamur, dan suka merokok pipa.

Dustcover (sampul yang bisa dilepas) di The Hobbit edisi pertama, juga desain Tolkien

LOTR, dan Beberapa Perubahan

Setelah menerbitkan The Hobbit, mengapa Tolkien tidak menerbitkan The Silmarillion saja? Hal ini karena ketika Tolkien mencoba menawarkan naskah The Silmarillion, penerbit menolaknya lantaran dianggap terlalu serius, sementara para pembaca saat itu justru lebih menginginkan lebih banyak petualangan Hobbit. Akhirnya, Tolkien pun memutuskan untuk mulai menggarap Lord of the Rings. Buku ini memakan waktu lama untuk dibuat, dan baru diterbitkan pada tanggal 29 Juli 1954. Selain karena Tolkien adalah penulis yang serba perfeksionis, ia pun memerlukan waktu untuk merevisi The Hobbit yang terbit pada tahun 1937.

Apa pasal? Hal itu karena di The Hobbit versi 1937, adegan tebak-tebakan antara Gollum dan Bilbo hanya berdasarkan taruhan cincin hadiah ulang tahun milik Gollum. Akan tetapi, hal ini tentu tidak cocok dengan sifat The One Ring yang kita kenal, dimana ucapan “my precioussss…” yang kesohor itu menunjukkan betapa terikatnya Gollum pada cincin ini sehingga tak mungkin menjadikannya hadiah taruhan. Jadi, Tolkien mengubah buku The Hobbit versi 1937 menjadi versi yang kita kenal sekarang (Gollum akan menunjukkan jalan keluar jika Bilbo menang, dan cincin yang dicuri Bilbo itu adalah The One Ring, bukan sekedar cincin biasa). Versi ini kemudian terbit tahun 1950. Jadi, bagaimana Tolkien menjelaskan perubahan ini? Di sinilah uniknya; pada pembukaan LOTR, ia menjelaskan pada pembaca bahwa adegan di The Hobbit versi 1937 itu sebenarnya adalah cerita bohong yang dikarang Bilbo.

Oh ya, sebagai tanda terima kasihnya pada Elaine, Tolkien mempersembahkan sebuah buku cetakan pertama LOTR padanya, dengan tulisan tangan dalam bahasa Quenya (salah satu bahasa Elf): Elainen tárin periandion ar meldenya anyáran (to Elaine, Queen of Hobbits and my very old friend). 

20081217-signaturelrg

Tulisan tangan Tolkien dalam edisi pertama LOTR yang ditujukan untuk Elaine. Koleksi Greisinger Museum

Maka, begitulah sejarah kelahiran The Hobbit: buku yang pahlawan utamanya, Bilbo, adalah seorang yang sangat santun dan tak pernah lupa bawa saputangan, lebih suka santai di rumah, duduk di depan perapian dan makan kenyang, benci petualangan, namun akhirnya membuang keraguannya ketika perannya diperlukan dalam situasi sulit. Tokoh yang sengaja dibuat Tolkien agar beresonansi dengan kedewasaan dan jiwa pahlawan dalam diri kita semua: para pembaca biasa, orang-orang biasa.

IMG-20150103-00176

Kenapa ada minumannya? Karena saya barusan ikutan Tolkien Birthday Toast🙂

Sumber:

Carpenter, Humphrey. 2000. JRR Tolkien: A Biography. Boston: Houghton Mifflin.

Carpenter, Humphrey. 1981. The Letters of J.R.R. Tolkien. London: George Allen & Unwin.

Elaine Griffiths

The Hobbit

One thought on “Sejarah Kelahiran The Hobbit: Kertas Ujian, Pryftan, dan Gandalf sebagai Dwarf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s