J. R. R. Tolkien: Memberontak Terhadap Tradisi dengan Menjadi Guru


jrr-tolkien-reading

Menjadi guru adalah cita-cita masa kecil saya, tetapi sejujurnya, itu karena cita-cita itu cuma saya comot tanpa alasan setiap kali ada orang nanya “kalau sudah besar mau jadi apa?” (mungkin karena ‘tukang kasih makan ikan hiu di SeaWorld’ saat itu belum terpikirkan). Begitu agak besar dan melihat bahwa jadi guru di Indonesia itu nggak enak karena gajinya kecil dan nggak dihargai, plus pengalaman buruk bersama beberapa guru yang suka galak atau tidak menimbulkan semangat belajar sama sekali, cita-cita itu pun saya geser dari otak. Entah kenapa, saat baru selesai kuliah, kok ya menjadi tenaga pengajar bahasa Inggris (walau bukan di sekolah) malah menjadi profesi pertama dan terawet saya. God has really weird (and sometimes flabbergasting) sense of humor. Tahun-tahun pertama menjadi seseorang yang pekerjaannya adalah mengajar terus terang tidak memuaskan untuk saya, walaupun saya sudah banyak membaca tentang guru-guru yang benar-benar keren dan berdedikasi, bahkan memfavoritkan satu ketika kuliah (halo, Bu Magda! Masih ngajar di Psikologi UGM?). 

Akan tetapi, setelah menguasai trik-triknya, mengajar cukup menyenangkan, dan saya mulai bisa merasakan senangnya membantu orang-orang yang ingin belajar dan menunjukkan antusiasme. Saya pun makin senang ketika mengetahui bahwa penulis favorit saya, J. R. R. Tolkien, bukan hanya seorang pengajar bidang bahasa yang berdedikasi, namun ternyata juga menggunakan profesinya itu sebagai sarana memberontak terhadap tradisi yang kerap ditekankan pada pria Inggris pada masanya.

Menjadi Guru, Mendobrak Tradisi Keluarga

Oke, saya akui, kalau Anda pernah melihat foto Eyang Tolkien atau membaca sekilas tentang beliau, mungkin sulit mengaitkan dirinya dengan kata “pemberontak.” Beliau tipikal pria Inggris sejati yang berpenampilan konservatif dan sangat ‘bertampang guru’ (walaupun dikenal sering iseng, suka mengerjai orang, dan hobi menunda-nunda pekerjaan gara-gara keasyikan main Solitaire. Serius). Profesinya sebagai guru di kampus alias dosen juga nampaknya biasa saja. Lalu, dimana sisi pemberontaknya?

Sesungguhnya, profesinya sebagai guru (dosen) itulah yang membuatnya menjadi pemberontak. Tolkien tumbuh di Inggris pada akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an, masa ketika tradisi bagi seorang anak lelaki dalam keluarga adalah meneruskan profesi kepala keluarga laki-laki, misalnya profesi ayah atau kakeknya, atau melanjutkan bisnis keluarga. Ayah Tolkien adalah seorang bankir, kakeknya dari pihak ibu memiliki bisnis pengolahan besi, kakeknya dari pihak ayah adalah pembuat piano, dan walinya adalah pendeta. Akan tetapi, dari semua profesi yang mungkin bisa dipilihnya ini, Tolkien justru mendobrak tradisi dan mengikuti jejak bibinya, Jane, menjadi seorang guru.

Sekilas, biografi Tolkien manapun akan menunjukkan bahwa banyak periode dalam kehidupan beliau dimana kesehariannya benar-benar dikelilingi sesama pria. Akan tetapi, ibu Tolkien, Mabel, serta bibinya, Jane, adalah wanita-wanita yang telah menanamkan keinginan kuat untuk belajar dan akhirnya menjadi pengajar. Bahkan, karya-karya seperti The Hobbit, The Silmarillion, LOTR dan bahasa-bahasa fiksional ciptaan Tolkien yang terkenal itu bisa dibilang tak akan ada jika beliau tak pernah dibesarkan dengan interaksi bersama ibu dan bibinya.

Mabel mendidik Tolkien sejak kecil di rumah. Ia mengajari Tolkien membaca sejak dini sehingga beliau sudah lancar membaca pada usia 4 tahun. Ia memberi Tolkien banyak buku untuk dibaca. Ia mengajari Tolkien bahasa Prancis dan Latin, dan kemungkinan bahkan menularkan gaya tulisan tangannya yang unik pada Tolkien, meliuk-liuk indah mirip kaligrafi. Ia bahkan mengajari Tolkien ilmu botani, sehingga tak heran bahwa beliau bisa menciptakan dunia Middle Earth legendarium dengan sangat detail, sampai mencakup berbagai deskripsi spesies tanaman dan tumbuhan yang berkesan nyata. Setelah sekian lama belajar di rumah, Tolkien akhirnya masuk sekolah ke King Edward’s School pada usia 8 tahun dan kemudian ke St. Philips pada usia 10 tahun, namun keluar lagi karena kemajuannya terlalu pesat. Mabel pun akhirnya kembali mendidik Tolkien di rumah, sampai Tolkien akhirnya berhasil mendapat beasiswa untuk sekolah lagi setahun kemudian. Guru-gurunya pun melaporkan bahwa Tolkien, yang saat itu belum sampai 11 tahun, adalah anak yang “nampak sudah membaca terlalu banyak buku.”

Mabel Tolkien

Bagaimana dengan bibi Tolkien, Jane Suffield? Minat Tolkien akan dunia akademis bisa dibilang mengakar dari sang bibi. Jane Suffield adalah salah satu dari sedikit kaum wanita di Inggris jaman itu yang memiliki pendidikan tinggi dan berkarir sebagai guru, administrator serta dosen sains di lingkungan yang masih didominasi pria, dan memiliki gelar dari Birmingham’s Mason College. Bahkan, dalam keluarga besar Tolkien, dialah yang pertama kali meraih pencapaian pendidikan dan karir bidang akademis. Jane Suffield memelajari botani, fisiologi dan geologi, namun juga menggemari sastra dan bahkan pernah menerbitkan puisi. Ia memberi kesan mendalam pada Tolkien muda. Dalam salah satu suratnya yang ditulis pada tahun 1961, Tolkien bahkan mendeskripsikan bibinya dengan penuh kekaguman:

The professional aunt is a fairly recent experience, perhaps; but I was fortunate in having an early example; one of the first women to take the science degree.

Jane Suffield

Kekaguman pada sang bibi akhirnya menuntun Tolkien untuk mengejar karir sebagai pengajar setelah menyelesaikan wajib militer dalam Perang Dunia I. Sama seperti bibinya, Tolkien pun mendobrak tradisi keluarga yang lazim pada masa itu: menjadi seorang guru dan praktisi akademis, di dunia dimana anak-anak lelaki yang ayah atau kakeknya memiliki bisnis atau karir yang bergengsi serta lebih menguntungkan secara finansial akan diharapkan untuk mengikutinya. Menjadi guru pun menjadi simbol pemberontakan Tolkien terhadap tradisi.

Walaupun hidupnya dikelilingi oleh komunitas pria, mulai dari sekolah, kampus, komunitas literatur The Inklings hingga medan perang dan barak militer, Tolkien tetap memiliki hasil pengaruh kuat dari wanita-wanita mengagumkan dalam hidupnya. Harus diingat juga bahwa ide Tolkien menciptakan bahasa-bahasa fiksi terinspirasi dari sepupu-sepupu perempuannya, Mary dan Marjorie. Kecenderungannya menciptakan karakter-karakter perempuan dengan peran dan deskripsi karakter yang bisa dibilang progresif pada jamannya juga sedikit banyak berakar dari interaksinya dari wanita-wanita berpikiran maju yang telah membesarkannya. Bisa dibilang ini juga merupakan hasil dari pemberontakan masa mudanya, yang menolak didikte tradisi soal apa yang akan dilakukannya sebagai karir, serta pernyataan kekaguman pada para wanita penting dalam hidupnya walaupun dunianya didominasi pria.

Jadi, sekarang semakin bertambah alasan saya untuk semakin mengagumi Tolkien. Saya pun bukan guru yang sempurna dan mungkin akan sulit menyamai beliau dalam hal kompetensi, kesabaran dan kecerdasan, namun memiliki sosok panutan yang berkarir di bidang yang sama serta menulis buku-buku favorit saya benar-benar mood boster yang pas agar saya bersemangat bekerja setiap hari!

Sumber:

Croft, Janet Brennan, and Donovan, Leslie A. 2015. Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J.R.R. Tolkien. California: Mythopoeic Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s