Haleth of Haladin: Pemimpin Wanita yang Kuat dan Mandiri dalam The Silmarillion


Tanggal 8 Maret kemarin adalah Hari Perempuan Sedunia, dan saya sudah melihat banyak sekali persembahan di website dan jejaring sosial untuk hari spesial ini. Saya sih mau-mau saja mengangkat tokoh perempuan dalam sejarah untuk dibahas, tapi itu sudah saya lakukan, jadi saya kepingin membahas sesuatu dari karya-karya penulis kegemaran saya, yaitu (siapa lagi kalau bukan) J.R.R. Tolkien. Saya ingin membahas tokoh perempuan yang mencerminkan wanita yang kuat, mandiri dan bertanggungjawab: Lady Haleth of Haladin.

Lady Haleth oleh Shyangell

Kebanyakan orang mungkin akan langsung otomatis mengingat Eowyn, jika ditanya tentang tokoh perempuan kuat dalam karya Tolkien. Lagipula, Eowyn juga punya The Two Towers dan Return of the King sebagai jendela bagi kita untuk menyelami karakternya secara mendalam, dan karakternya juga sudah muncul di film sehingga sosoknya tentunya lebih membekas. Haleth, sebaliknya, muncul di satu bab di The Silmarillion, jadi dirinya bisa dianggap sebuah fragmen dari ‘sejarah’ kuno dalam dunia Middle Earth. Akan tetapi, kisah hidup dan karakternya terlalu luar biasa sehingga cukup membekas di kalangan pembaca The Silmarillion walaupun ia hanya muncul di satu bab.

Pemimpin ‘Dadakan’ yang Pemberani

Haleth berasal dari House of Haladin, yang merupakan satu dari tiga Houses of Edain, yaitu kelompok Manusia di Jaman Pertama yang menyeberang ke Beleriand setelah Siege of Angband, 400 tahun pengepungan panjang kaum Elf Noldor di sekitar benteng Morgoth, Dark Lord pertama. Para Edain juga adalah keturunan Manusia pertama yang diciptakan setelah kaum Elf, dan ketiga kelompok ini terkenal bersahabat dengan kaum Elf. Akan tetapi, berbeda dengan kedua kelompok lainnya yaitu  House of Bëor dan House of Hador yang mengabdi pada raja Elf Finarfin dan Fingolfin, House of Haladin menolak untuk menyatakan pengabdian pada seorang rajapun dan memilih hidup sebagai kaum yang bebas, walaupun mereka tinggal di Thargelion, area yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Caranthir, salah satu putra Fëanor.

Haleth adalah putri dari Haldad, pemimpin pertama kaum Haleth semenjak menetapnya kaum mereka di Thargelion, dan saudara perempuan dari Haldar. Haleth dikenal sebagai Haleth the Hunter karena ia sangat pandai berburu, sekaligus ahli memainkan kapak yang merupakan senjata utama kaum Haladin. Kaum Haladin pun hidup damai tanpa gejolak di dalam hutan di Thargelion, berusaha menghindari konflik atau peperangan dan tak pernah berniat menaklukkan, sambil mempertahankan gaya hidup bebas mereka. Kebebasan dan kemandirian kaum Haladin ikut membentuk karakter Haleth, sekaligus menjadi penentu nasib dirinya dan kaumnya di kemudian hari.

Ketika Morgoth mendengar tentang keberadaan kaum Haladin di Thargelion, ia pun mengirim pasukan Orc untuk menyerang dan membunuh mereka. Karena kaum Haladin hidup bebas, Haldad mengalami kesulitan untuk mengorganisir para kepala keluarga demi melakukan pertahanan sekaligus serangan balasan yang kuat, walaupun sifat pemberani dan kebijaksanaannya tetap membuatnya mampu mengungsikan perempuan dan anak-anak ke tempat aman serta memasang pertahanan di sekitar wilayah mereka. Akan tetapi, ia tewas dalam salah satu pertempuran, dan Haldar yang hendak mengambil jasad ayahnya pun tewas dibunuh Orc.

Melihat kematian ayah dan saudaranya, Haleth segera bertindak; ia bertempur, mengorganisir pertahanan dan mengangkat moral kaumnya (walau banyak yang putus asa dan bahkan ada yang memilih bunuh diri), dan kelompok mereka yang kecil dan nampak lemah itupun berhasil menahan serangan Orc selama 7 hari, cukup hingga Caranthir datang dan membawa bala bantuan. Ketika Caranthir melihat kondisi kaum Haladin, ia merasa kasihan. Namun ketika mengetahui sepak terjang Haleth, ia berbalik kagum dan bahkan menawarkan kepemilikan lahan baginya dan kaumnya di tanahnya. Akan tetapi, Haleth menolak tawarannya, karena itu berarti mereka harus menyatakan kesetiaan pada Caranthir, dan ia serta kaumnya yang berharga diri tinggi menolak mengabdi pada seorang raja atau Elf lord.

Then Caranthir looked kindly upon Men and did Haleth great honour, and he offered her recompense for her father and brother. And seeing, over late, what valor there was in the Edain, he said to her; “if you will remove and well further North, there you shall have the friendship and protection of the Eldar, and free lands of your own.” But Haleth was proud, and unwilling to be guided or ruled, and most of the Haladin were of like mood. Therefore, he thanked Caranthir, but answered; “my mind is now set, lord, to leave the shadow of the mountains, and go west, whither others of our kin have gone.”

J.R.R. Tolkien: The Silmarillion. Chapter 17: Of the Coming of Men into the West

Haleth Meeting Caranthir after the Battle oleh Turner Mohan

Haleth pun memilih membawa kaumnya pergi, menempuh perjalanan panjang penuh bahaya, mencari tempat dimana mereka bisa hidup aman dan bebas. Ia memimpin kaumnya menempuh perjalanan panjang hingga mereka mencapai Forest of Brethil, wilayah hutan yang termasuk lahan yang dikuasai raja Elf Elu Thingol. Sang raja, yang mendengar tentang kisah kaum Haladin, akhirnya mengijinkan Haleth dan kaumnya tinggal sebagai orang bebas di Brethil atas bujukan Finrod Felagund, dengan satu syarat yaitu mereka harus membantunya menjaga Crossings of Taeglin yang merupakan area rawan, dari serangan Orc. Haleth mengiyakan tawaran sang raja, walau sempat berkomentar bahwa sungguh aneh cara berpikir sang raja, menganggap bahwa Haleth dan kaumnya akan suatu saat menjalin persahabatan dengan makhluk yang telah membunuh ayah dan saudaranya serta banyak kaum Haladin.

Ketika kaum Haladin memutuskan untuk mengangkat seorang pemimpin, mereka tak ragu-ragu untuk menunjuk Haleth. Kebijaksanaan dan ketegarannya membuatnya dicintai kaumnya, dan ia teguh mempertahankan sifat kemandirian dan kebebasan kaumnya, sekaligus menjaga Crossings of Taeglin. Demi menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, Haleth tidak pernah menikah, mengabdikan dirinya untuk menjaga dan melindungi kaumnya. Ketika ia meninggal pada usia 79 tahun, kaumnya mendirikan sebuah monumen makam untuknya, yang disebut Haudh-en-Arwen (Mound of Noble Maiden). Kaum Haladin pun kelak juga akhirnya dikenal sebagai Kaum Haleth (People of Haleth).

Sosok Pemimpin Wanita Perkasa

Tolkien sering dituduh tidak proporsional dalam menciptakan karakter-karakter di Middle Earth legendarium, karena memang karakter perempuan nampaknya tidak sebanyak kaum pria. Memang benar, kalau melihat LOTR dan The Hobbit, namun The Silmarillion dipenuhi dengan karakter-karakter perempuan yang perkasa, kuat, mandiri, dan lebih dari sekedar putri cengeng atau pemanis belaka (Luthien Tinuviel bahkan sukses memporakporandakan stereotip “putri raja yang harus diselamatkan pangeran” dalam dongeng, karena dalam The Silmarillion, justru dialah yang menyelamatkan kekasihnya yang pria dari cengkeraman penjahat, bahkan meruntuhkan benteng si penjahat). Tiap karakter wanita yang dibuat Tolkien semua memiliki sifat yang kuat dan mandiri, dan bahkan bisa dibilang progresif pada jamannya. Hal ini sangat nampak bahkan pada karakter yang hanya muncul sebentar seperti Haleth.

Saya sendiri cenderung lebih kagum pada karakter perempuan dari bangsa Manusia seperti Eowyn dan Haleth, karena mereka tidak memiliki kekuatan magis seperti Luthien dan Galadriel, maupun hidup abadi dan kelebihan dalam hal fisik seperti Elf, namun justru di situ pesonanya; mereka menjadi sosok-sosok yang kuat karena sifat dan karakter mereka. Haleth, terutama, adalah sosok perempuan yang mengagumkan: ia mandiri, kuat, dan tidak ragu mengambil tanggungjawab besar dalam situasi sulit, walaupun baru kehilangan ayah dan saudaranya. Ia tetap memegang prinsip kemandirian kaumnya walau keadaannya sangat sulit setelah digempur Orc, hingga menolak tawaran yang cukup menggiurkan dari Caranthir. Bahkan, Elf yang digambarkan berkuasa, angkuh dan pemarah seperti Caranthir pun sampai dibuat kagum dan hormat pada Haleth. Haleth adalah perempuan yang memegang prinsip, apapun resikonya.

Haleth and Her Guard Women oleh Turner Mohan

Jadi: kuat, tabah, bijaksana, dan memegang prinsip. Bukan tokoh panutan yang buruk dalam sebuah karya fiksi fantasi, ‘kan?

Happy International Women’s Day!

Haldad had twin children: Haleth his daughter, and Haldar his son; and both were valiant in the defense, for Haleth was a woman of great heart and strength.

J.R.R. Tolkien: The Silmarillion. Chapter 17: Of the Coming of Men into the West

Sumber:

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: Harper Collins.

One thought on “Haleth of Haladin: Pemimpin Wanita yang Kuat dan Mandiri dalam The Silmarillion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s