Amroth dan Nimrodel: Kisah Cinta Kecil yang Terlupakan dalam Tolkien Legendarium


Jadi, hari kasih sayang baru berlalu dan para penggemar Tolkien biasanya merujuk kepada Aragorn dan Arwen atau Faramir dan Eowyn sebagai “pasangan romantis terfavorit” dalam Middle Earth legendarium. Paling jauh ya biasanya Beren dan Luthien dalam The Silmarillion. Akan tetapi, sesuai dengan istilah “legendarium” yang melekati karya-karyanya, Tolkien merangkai kisah-kisah kecil dalam narasi utamanya sebagai upaya membentuk sebuah ‘dunia’ yang lengkap, memiliki sejarah dan legenda mereka sendiri. Salah satunya adalah kisah cinta kecil nan terabaikan yang terjadi di Lothlorien: Amroth dan Nimrodel. 

Bacalah lagi buku Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring, di adegan dimana para Pembawa Cincin mencapai Sungai Nimrodel di Lothlorien; ketika Frodo berkomentar bahwa ia sepertinya mendengar nyanyian dalam aliran sungainya, Legolas kemudian bertanya pada mereka:

“Do you hear the voice of Nimrodel?…I will sing you a song of the maiden Nimrodel , who bore the same name as the stream beside which she lived long ago.”

Crossing the Nimrodel oleh Atalante Star

Sajak yang dinyanyikan Legolas kemudian berkisah tentang Nimrodel, seorang gadis Elf yang tinggal di tepi sungai, yang dicintai oleh seorang raja Elf di Lothlorien bernama Amroth. Dikisahkan, karena mereka terpisah dalam perjalanan ke Aman, negeri abadi kaum Elf di Barat, sang raja menunggunya di atas kapal di sebuah “pelabuhan kelabu” (haven grey), namun sang gadis tak kunjung tiba, sementara kapal sang raja diterjang badai sehingga mengapung menjauh, mendekati Tol Eressëa (Lonely Island). Ketika menyadari bahwa ia tak akan bisa lagi bertemu kekasihnya jika kapal itu makin menjauh dari tempat mereka menanti, Amroth mencebur ke laut dan mencoba berenang kembali ke pelabuhan kelabu, namun ia tenggelam di Teluk Belfalas dan tak pernah terlihat lagi. Nimrodel, sementara itu, dikisahkan akhirnya tiba di pelabuhan, namun tak menemukan kapal Amroth.

Legolas dikisahkan menyanyikan sajak itu dengan terputus-putus; sebagian karena sajak itu memang menyedihkan, dan sebagian lagi karena tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Nimrodel. Dan memang hanya sejauh itulah yang kita bisa ketahui tentang mereka, sebuah kisah kecil terlupakan di dunia Middle Earth. Akan tetapi, Legolas kemudian menyambung bahwa walaupun keberadaan Nimrodel akhirnya tak bisa diketahui lagi, mereka seolah masih bisa mendengar gema suara sang gadis terdengar dari sungai dan air terjun yang dinamai sama dengannya, dan suara Amroth yang dihembus angin Selatan dari Teluk Belfalas tempatnya tenggelam.

“But in the spring when the wind is in the new leaves the echo of her voice may still be heard by the falls that bear her name. And when the wind is in the South the voice of Amroth comes up from the sea; for Nimrodel flows into Silverlode, that Elves call Celebrant, and Celebrant into Anduin the Great, and Anduin flows into the Bay of Belfalas whence the Elves of Lórien set sail. But neither Nimrodel nor Amroth came ever back.”

Dengan kata lain, kedua kekasih ini “telah bersatu kembali,” walau tak lagi sebagai Elf, karena sungai Nimrodel mengalir ke Belfalas, dan suara Amroth terdengar dibawa angin dari tempatnya tenggelam di Belfalas, seolah dirinya berbahagia menyambut kekasihnya yang menuju padanya.

Mitos Kekasih yang Bersatu sebagai Elemen

Kisah ini termasuk “kisah selipan,” sesuatu yang diceritakan oleh karakter utama secara sambil lalu, jadi ketika pertama kali membacanya pun, saya juga tidak terlalu terkesan. Akan tetapi, semakin saya tenggelam dalam karya-karya Middle Earth legendarium Tolkien dan semakin mengenali berlapis-lapis kisah serta karakternya, kisah kecil ini pun kembali ‘memanggil’ saya. Apalagi, latar belakang kedua karakternya terkait dengan pertanyaan umum soal mengapa Celeborn dan Galadriel dipanggil Lord and Lady of Lothlorien, bukan raja dan ratu. Karena, ya itu, raja Lothlorien sebenarnya adalah Amroth putra Amdir, dimana Amdir ini adalah Raja Lothlorien berdarah Sindar yang tewas dalam Battle of Dagorlad. Karena Amroth tak sempat meninggalkan keturunan, jadilah Celeborn dan Galadriel, yang terkenal akan kebijaksanaan mereka, menggantikan tempatnya, namun tidak sebagai raja dan ratu.

Nimrodel dan Amroth sendiri awalnya digambarkan sebagai pasangan yang nampaknya mustahil bersatu; Nimrodel adalah Elf berdarah Silvan, bangsa Elf yang cinta damai dan lebih suka hidup tersembunyi, sementara Amroth adalah Elf Sindar yang ayahnya tewas karena terlibat dalam perang besar. Ketika ia menjadi raja menggantikan ayahnya, ia tak disukai Nimrodel yang membenci Elf berdarah Sindar dan Noldor, karena menurutnya bangsa-bangsa itu telah ikut bertanggungjawab atas peperangan dan kerusakan yang telah terjadi di Middle Earth. Karena kebencian itu, Nimrodel sampai memilih tinggal menyendiri di pinggir sungai, menolak berinteraksi dengan para Elf Sindar yang menghuni Lothlorien, dan hanya mau berbicara dengan bahasa kaumnya sendiri.

Nimrodel oleh Liga Marta Klavina

Demi cintanya pada Nimrodel, Amroth akhirnya memilih menjadikan Lothlorien sebagai kerajaan tersembunyi yang damai, dan tak lagi terlibat dalam pertempuran besar. Walaupun Nimrodel sempat luluh karena bukti cinta itu, namun ia tak segera menerima lamaran pernikahan dari Amroth. Nimrodel berkata bahwa ia akan menikahi Amroth jika ia membawanya ke negeri yang sepenuhnya damai. Karena negeri semacam itu tak lagi ada di Middle Earth, Amroth memutuskan untuk membawa Nimrodel ke Pelabuhan Edhellond, dimana dari sana mereka bisa naik kapal hingga ke Aman, negeri abadi yang juga dihuni para Valar. Akan tetapi, dalam perjalanan, mereka sempat berpisah jalan, dan Amroth yang tiba duluan di Edhellond berhasil menemukan kapal yang membawa beberapa Elf yang hendak berlayar ke Aman. Para Elf itu tadinya tak mau menunggu, namun melihat cinta Amroth yang besar pada Nimrodel, mereka bersedia untuk menanti di pelabuhan tersebut. Dari situlah kisah perpisahan pasangan kekasih ini akhirnya terjadi.

Kisah pasangan kekasih atau pecinta yang berubah menjadi elemen ini sebenarnya banyak terdapat dalam berbagai mitologi. Misalnya, di Yunani, ada kisah tentang Apollo yang mencintai peri bernama Daphne, namun Daphne tidak mencintainya. Dirundung cinta, Apollo terus mengejarnya, hingga Daphne memohon pada ayahnya, Peneus, untuk menolongnya. Peneus pun mengubah putrinya menjadi pohon laurel, dan Apollo yang patah hati bersumpah bahwa pohon laurel akan menjadi pohon yang paling berarti baginya, dan daun-daun laurel akan menjadi penghias mahkota para raja dan pahlawan (mitos ini kemudian menjadi asal-usul mengapa mahkota daun kerap digunakan para raja dan pangeran).

Apollo and Daphne oleh John W. Waterhouse

Yang paling mirip mungkin kisah peri sungai Arethusa dan dewa sungai Alpheus, dimana Alpheus yang mencintai Arethusa melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Dewi Artemis membantu Arethusa mengubah dirinya menjadi arus air dan melarikan diri lewat bawah tanah ke Laut Sisilia, namun Alpheus membelokkan aliran sungainya sendiri agar ia, sebagai air sungai, bisa bermuara di Laut Sisilia dan bersatu dengan Arethusa.

Ilustrasi Arethusa dan Alpheus dalam buku kumpulan sajak Ovid (43 SM-18 M), Tristia

Oke, memang kelihatannya menakutkan; dalam dua mitologi Yunani ini, kedua pasangan kekasih tidak benar-benar saling mencintai seperti Nimrodel dan Amroth, namun salah satunya memaksa pasangan yang lain, yang sebenarnya tidak menginginkan mereka (dalam hal ini, Apollo dan Alpheus). Akan tetapi, kalau Anda familiar dengan kisah pasangan-yang-bertransformasi ini, Anda bisa melihat bahwa Tolkien nampaknya cukup terpesona dengan aspek puitisnya; bahwa pasangan yang tak bisa bersatu dalam raga, akhirnya justru bisa bersatu dalam jiwa sebagai elemen, yaitu aliran sungai yang akhirnya bermuara ke air laut.

Pada akhirnya, Nimrodel dan Amroth pun menjelma menjadi legenda yang nyaris terlupakan dalam dunia legendarium ciptaan Tolkien sendiri, sehingga bolehlah kita akhiri artikel kecil ini dengan manis, dan menganggap bahwa jiwa Amroth yang diumpamakan sebagai laut di Teluk Belfalas akhirnya menyongsong kedatangan kekasihnya, arus sungai Nimrodel yang bermuara ke arahnya.

Song of Nimrodel

An Elven-maid there was of old,
A shining star by day:
Her mantle white was hemmed with gold,
Her shoes of silver-grey.

A star was bound upon her brows,
A loght was on her hair
As sun upon the golden boughs
In Lórien the fair.

Her hair was long, her limbs were white,
And fair she was and free;
And in the wind she went as light
As leaf of linden-tree.

Beside the falls of Nimrodel,
By water clear and cool,
Her voice as falling silver fell
Into the shining pool.

Where now she wanders none can tell,
In sunlight or in shade;
For lost of yore was Nimrodel
And in the mountains strayed.

The elven-ship in haven grey
Beneath the mountain-lee
Awaited her for many a day
Beside the roaring sea.

A wind by night in Northern lands
Arose, and loud it cried,
And drove the ship from elven-strands
Across the streaming tide.

When dawn came dim the land was lost,
The mountains sinking grey
Beyond the heaving waves that tossed
Their plumes of blinding spray.

Amroth beheld the fading shore
Now low beyond the swell,
And cursed the faithless ship that bore
Him far from Nimrodel.

Of old he was an Elven-king,
A lord of tree and glen,
When golden were the boughs in spring
In fair Lothlórien.

From helm to sea they saw him leap,
As arrow from the string,
And dive into water deep,
As mew upon the wing.

The wind was in his flowing hair,
The foam about him shone;
Afar they saw him strong and fair
Go riding like a swan.

But from the West has come no word,
And on the Hither Shore
No tidings Elven-folk have heard
Of Amroth evermore.

J.R.R. Tolkien, The Lord of The Rings. Chapter 6: Lothlorien

Sumber:

Tolkien, JRR. 1986. The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings. Montana: Turtleback Books.

Tolkien, JRR. Unfinished Tales. 1980. New York: Del Rey

Amroth

Arethusa

Daphne

Nimrodel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s