Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales

Tulisan ini dimuat di situs Jakarta Beat pada tanggal 6 Februari 2017, dengan penyuntingan.

800px-donato_giancola_-_beren_and_luthien_in_the_court_of_thingol_and_melian
Beren and Lúthien in the Court of Thingol and Melian, oleh Donato Giancola

Kisah Beren dan Lúthien adalah salah satu yang paling berkesan dalam legendarium Middle-earth. Kisah ini menjadi penentu berbagai peristiwa serta kelahiran tokoh-tokoh penting yang akan ditemui pembaca dalam kisah-kisah selanjutnya, termasuk The Lord of the Rings. Kisah Beren dan Lúthien juga unik karena memorakporandakan stereotip romansa kepahlawanan. Tolkien menjadikan Lúthien, sang putri, sebagai penyelamat Beren dan bahkan sosok yang berperan meruntuhkan benteng “si penjahat,” alih-alih sebaliknya. 

Metode inovatif Tolkien dalam menggambarkan kisah dua sejoli ini memang merupakan penyegaran, walaupun inspirasi kisah Beren dan Lúthien sebenarnya berakar dari sesuatu yang lebih “tradisional.” Jika Anda akrab dengan mitologi dan cerita rakyat Wales, terutama dari Abad Pertengahan, Anda akan menemukan kisah yang menggaungkan cerita Beren dan Lúthien: Culhwch ac Olwen.

ysbaddaden
Culhwch at Ysbadadden’s court, oleh Ernest Wallcousins

Inspirasi Kisah Beren dan Lúthien

Kisah Beren dan Lúthien kaya dengan berbagai pengaruh dari folktale, mitologi dan bahkan kehidupan Tolkien sendiri. Sosok Lúthien serta kisah pertemuan pertamanya dengan Beren terinspirasi oleh Edith, istri Tolkien, terutama dari satu kejadian saat mereka berjalan-jalan di hutan di Roos dan Edith mulai menari-nari di antara tanaman hemlock, menginspirasi adegan Beren melihat Lúthien untuk pertama kalinya saat si gadis Elf sedang menari di hutan.

Pernahkah Anda mendengar kisah dengan tema “pasangan kekasih beda ras/suku/latar belakang yang saling mencintai tapi tak disetujui keluarga?” Ini tema yang kita temukan di berbagai negara dan budaya, dari literatur dan tradisi oral zaman kuno sampai modern. Culhwch ac Olwen adalah contohnya.

Dalam cerita ini, seorang pria bangsa manusia bernama Culhwch dikutuk oleh ibu tirinya agar tidak pernah bisa jatuh cinta kecuali dengan Olwen, putri raja raksasa yang ganas bernama Ysbaddaden Pencawr. Culhwch kemudian meminta bantuan Arthur, sepupunya (ya, Arthur yang itu), untuk mendatangi kediaman sang raksasa di sebuah area pegunungan yang sulit dijangkau. Walaupun Olwen juga menaruh hati pada Culhwch setelah melihatnya, Ysbaddaden tidak mengizinkan keduanya menikah kecuali sang pemuda bisa menyelesaikan 40 anoetheau (“tugas-tugas yang mustahil”).

Arthur meminjamkan pengikut terbaiknya untuk membantu Culhwch menyelesaikan tugas-tugasnya (walau tidak semua tugas itu dideskripsikan secara rinci dalam teks). Salah satu tugas terberat adalah memburu seekor babi rusa raksasa, Twrch Trwyth, untuk mengambil sisir, gunting, dan belati cukur yang tersangkut di antara duri-duri beracun di kepalanya. Babi rusa tersebut konon adalah seorang pangeran yang dikutuk, dan setelah mengejar serta menaklukkan babi rusa tersebut, Culhwch berhasil mendapatkan ketiga benda yang dimaksud.

1357501869_alan-lee_the-mabinogion_culhwch-and-olwen_01
Culhwch entering the court of Ysbaddaden, oleh Alan Lee

Setelah menyelesaikan semua tugas itu, Culhwch dan pengikut Arthur kembali ke istana Ysbaddaden. Kedatangan mereka disertai para kerabat sang raja yang membencinya karena kekejamannya, dan menemukan keberanian untuk memberontak. Sang raja dipermalukan dan dibunuh, salah satu keponakan sang raja mengambil takhtanya, dan Olwen bebas menikahi Culhwch.

Cerita ini mulanya disampaikan dari mulut ke mulut, lantas disalin oleh Hywel Fychan (dengan berbagai modifikasi), dan kemudian ditemukan tercantum secara terpisah-pisah dalam dua buah manuskrip Wales Abad Pertengahan; Red Book of Hergest (Llyfr Coch Hergest) dari tahun 1382 M, dan White Book of Rhydderch (Llyfr Gwyn Rhydderch) dari tahun 1350 M. Kisah ini (bersama dengan kisah-kisah lainnya dalam kedua manuskrip tersebut) kemudian dirangkum dalam satu volume oleh aristokrat Inggris, Lady Charlotte Guest, dan diberi judul The Mabinogion

red-book_-of_-hergest-facsimile
Cuplikan kolom ke-579 dari manuskrip Llyfr Coch Hergest (Wikimedia)
mabinogion
The Mabinogion edisi tahun 2000 terbitan Everyman Library; sampulnya menggunakan ilustrasi karya A.J. Gaskin berjudul “Culhwch, the King’s Son.”

Kalau Anda pikir membaca The Silmarillion itu sulit, cobalah membaca The Mabinogion. Bukan soal bahasa Inggrisnya saja yang memang dipilih sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan gaya bahasa zaman itu, namun juga cara penulisan ceritanya. Ketika saya mencapai baris-baris yang mendeskripsikan nama-nama pengikut Arthur yang akan ikut dalam misi untuk menyertai Culhwch, si penulis aslinya nampaknya tidak puas hanya dengan menyebut beberapa nama dan melanjutkannya dengan kalimat semacam “…masih banyak lagi.” Dari 34 halaman cerita ini, 7 halaman dipakai untuk menyebut nama-nama semua orang itu. Iya, nama-nama khas Wales yang konsonannya sering tabrakan seperti “Greidawl Gallddofydd, Gwythyr son of Greidawl, Cynddylig the Guide, Cnycwhr son of Nes, Gwyn son of Nwyfre, Uchdryd Host-sustainer, Llwybyr son of Caw…,” dan begitu seterusnya sepanjang 7 halaman.

Kemiripan dan Perbedaan Culhwch ac Olwen dengan Of Beren and Lúthien

Tom Shippey, pakar literatur abad pertengahan, pengamat karya fantasi klasik dan modern serta seorang Tolkien scholar, juga merujuk pada beberapa kesamaan yang tidak bisa dipungkiri antar kedua kisah ini, walau tentu ada juga perbedaan yang membuat keduanya memiliki ciri khas masing-masing.

Beren dan Culhwch adalah bangsa Manusia, dan berasal dari keluarga yang berantakan atau tercerai-berai: ayah Beren, Barahir, beserta para pengikut setianya, dibunuh oleh Orc. Culhwch tidak mengalami nasib yang sama, namun setelah ibunya meninggal karena melahirkannya, ayah Culhwch menyerang sebuah negeri dan menculik ratunya setelah membunuh suaminya, menciptakan keluarga disfungsional karena sang ibu tiri membenci Culhwch. Lúthien dan Olwen sama-sama berasal dari bangsa yang “bukan Manusia”: yang satu putri raja Elf, dan yang satu lagi putri raja raksasa.

Sebaris deskripsi Olwen sang putri raja raksasa dalam The Mabinogion juga sedikit mencerminkan adegan ketika Beren bertemu Lúthien untuk pertama kalinya. Adegan Lúthien yang menari-nari di tengah hamparan bunga putih memang mencerminkan pengalaman masa lalu Tolkien saat memandang sang istri, Edith, menari-nari di tengah kerumunan bunga hemlock. Akan tetapi, Olwen pun digambarkan “menciptakan barisan semanggi putih berdaun empat di belakang kakinya ketika berjalan.”

“Whoso beheld her would be filled with love of her. Four white trefoils sprang up behind her wherever she went.”

Deskripsi Olwen dalam The Mabinogion: Culhwch and Olwen

alan-lee-olwen
Olwen, oleh Alan Lee

Kedua ayah bangsa gaib ini juga sama-sama protektif terhadap sang putri, namun bisa dibilang “terpaksa” menerima si calon suami yang sama sekali bukan idaman itu, walau tetap memberikan tugas-tugas berat kepada si calon suami; Elu Thingol karena diperingatkan oleh istrinya, dan Ysbaddaden karena menyadari bahwa dia harus berhadapan dengan Arthur dan pasukannya jika menolak terang-terangan. Sama seperti Beren yang mendapat bantuan dari Finrod Felagund dan para pengikutnya karena Finrod adalah sahabat keluarganya, Culhwch juga mendapat bantuan dari Arthur dan pengikutnya karena Arthur adalah sepupunya.

Upaya Beren dan Culhwch menyelesaikan tugas berat pun melibatkan konfrontasi dengan makhluk besar mematikan: Beren harus berhadapan dengan serigala raksasa Carcharoth, dan Culhwch dengan babi rusa raksasa Twrch Trwyth. Keduanya juga harus mengambil “benda pusaka” yang dituntut oleh ayah si wanita. Bedanya mungkin hanya akhirnya; Beren harus terluka parah dan kehilangan tangan saat melawan Carcharoth, sedangkan tugas Culhwch selesai pada saat dia menyelesaikan tugas-tugasnya dan kembali ke kediaman Ysbaddaden. Karakter Olwen juga terlihat lebih “tradisional” dan pasif; dia hanya menunggu hingga Culhwch datang. Sebaliknya, Tolkien membuat Lúthien justru beberapa kali menolong Beren.

alan-lee-hunting
The Hunt, oleh Alan Lee

Raja Elf Elu Thingol dan raksasa Ysbaddaden sama-sama mengalami akhir tragis akibat pembalasan dendam pihak lain. Ysbaddaden tewas dibunuh oleh kerabatnya sendiri, yang ingin membalas dendam bagi keluarganya yang dibunuh Ysbaddaden akibat perebutan takhta. Elu Thingol dibunuh oleh Dwarf yang dendam karena sang raja Elf menolak menyerahkan kalung Nauglamir yang memiliki permata Silmaril dalam rancangannya. Keduanya berasal dari ras yang “bukan manusia,” dan hidup di kerajaan tersembunyi.

Yang membuatnya istimewa bagi saya adalah fakta bahwa saya membeli kedua buku ini di saat yang hampir bersamaan, hanya selang beberapa bulan di tahun yang sama yaitu 2005. Karena waktu itu kemampuan bahasa Inggris saya masih lumayan menyedihkan, saya butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan kedua buku ini. Akan tetapi, ada ketakjuban yang perlahan muncul ketika mencapai bab Of Beren and Luthien, di saat yang hampir bersamaan ketika membaca bab Culhwch and Olwen. Itu adalah masa dimana saya masih tidak memahami kaitan antara J.R.R. Tolkien dan mitologi Wales, sehingga menemukan kaitan ini terasa sebagai sebuah “momen AHA” yang luar biasa.

Kisah cinta beda ras dalam kedua buku tersebut menjadi cerita-cerita istimewa yang tak pernah bosan saya baca. Bukti betapa rumit dan kayanya mitologi modern ini, yang mengajak saya menguak dunia lain yang tak kalah kayanya.

Sumber:

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Jones, Gwyn and Thomas. 2000. The Mabinogion: New Revised Edition. London: Orion Publishing Group.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: HarperCollins.

Satu respons untuk “Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s