Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales


800px-donato_giancola_-_beren_and_luthien_in_the_court_of_thingol_and_melian

Beren and Lúthien in the Court of Thingol and Melian, oleh Donato Giancola

Kisah Beren dan Lúthien adalah salah satu yang paling berkesan dalam legendarium Middle-earth, serta kerap dikutip dan dikaji. Selain merupakan contoh kisah romansa kepahlawanan dengan karakter berkesan (genre yang tidak pernah mati), kisah ini juga menjadi penentu berbagai peristiwa serta kelahiran tokoh-tokoh penting yang kelak akan ditemui pembaca dalam kisah-kisah selanjutnya, termasuk The Lord of the Rings. Kisah Beren dan Lúthien juga unik karena memorakporandakan stereotip khas romansa kepahlawanan; dalam kisah ini, Tolkien menjadikan Lúthien, sang putri, sebagai penyelamat Beren dan bahkan sosok yang berperan meruntuhkan benteng “si penjahat,” alih-alih sebaliknya. 

Metode inovatif Tolkien dalam menggambarkan kisah dua sejoli ini memang merupakan penyegaran, walaupun inspirasi kisah Beren dan Lúthien sebenarnya berakar dari sesuatu yang lebih “tradisional.” Jika Anda akrab dengan mitologi dan cerita rakyat Wales, terutama dari Abad Pertengahan, Anda mungkin akan menemukan kisah yang menggaungkan cerita Beren dan Lúthien: Culhwch ac Olwen.

ysbaddaden

Culhwch at Ysbadadden’s court, oleh Ernest Wallcousins

Inspirasi Kisah Beren dan Lúthien

Kisah Beren dan Lúthien sangat kaya dengan berbagai pengaruh dari folktale, mitologi dan bahkan kehidupan Tolkien sendiri. Sosok Lúthien serta kisah pertemuan pertamanya dengan Beren terinspirasi oleh Edith, istri Tolkien, terutama dari satu kejadian saat mereka berjalan-jalan di hutan di Roos dan Edith mulai menari-nari di antara tanaman hemlock, menginspirasi adegan Beren melihat Lúthien untuk pertama kalinya saat si gadis Elf sedang menari di hutan. Tetapi jika Anda terbiasa membaca folklore atau mitologi, akan terlihat berbagai tema yang nampaknya sudah akrab.

Misalnya, siapa yang tak pernah melihat tema cerita berupa “pasangan kekasih beda ras/suku/latar belakang yang saling mencintai tapi tak disetujui keluarga?” Ini tema cerita yang akan kita temukan di berbagai negara dan budaya, dari literatur dan tradisi oral zaman kuno sampai modern. Tetapi, inspirasi paling spesifik datang dari sebuah kisah dalam manuskrip Wales dari Abad Pertengahan. Tepatnya, sebuah kisah tentang sepasang sejoli beda ras berjudul Culhwch ac Olwen.

Dalam cerita ini, seorang pria bangsa manusia bernama Culhwch dikutuk oleh ibu tirinya agar tidak pernah bisa jatuh cinta kecuali dengan Olwen, putri semata wayang raja raksasa yang ganas bernama Ysbaddaden Pencawr. Culhwch kemudian meminta bantuan Arthur, sepupunya (ya, Arthur yang itu), untuk mendatangi kediaman sang raksasa di sebuah area pegunungan yang sulit dijangkau. Walaupun Olwen juga menaruh hati pada Culhwch setelah melihatnya, Ysbaddaden tidak mengizinkan keduanya menikah kecuali sang pemuda bisa menyelesaikan 40 tugas sulit (anoetheau, secara harfiah berarti “tugas-tugas yang mustahil”).

Arthur meminjamkan para pengikut terbaiknya untuk membantu Culhwch menyelesaikan tugas-tugasnya (walau tidak semua tugas itu dideskripsikan secara rinci dalam teks). Salah satu tugas paling “berkesan” adalah memburu seekor babi rusa raksasa, Twrch Trwyth, untuk mengambil sisir, gunting, dan belati cukur yang tersangkut di antara duri-duri beracun di kepalanya. Babi rusa tersebut konon adalah seorang pangeran yang dikutuk, dan setelah susah-payah mengejar serta menaklukkan babi rusa tersebut, Culhwch berhasil mendapatkan ketiga benda yang dimaksud dari kepalanya.

1357501869_alan-lee_the-mabinogion_culhwch-and-olwen_01

Culhwch entering the court of Ysbaddaden, oleh Alan Lee

Akhirnya setelah menyelesaikan semua tugas itu, Culhwch dan para pengikut Arthur kembali ke istana Ysbaddaden. Kedatangan mereka disertai para kerabat sang raja yang membencinya karena kekejamannya, dan menemukan keberanian untuk memberontak karena ada Arthur dan pengikutnya. Sang raja dipermalukan dan dibunuh, salah satu kemenakan sang raja (yang saudara-saudaranya dibunuh oleh sang raja agar tidak merebut kedudukannya) mengambil tahtanya, dan Olwen pun bebas menikahi Culhwch.

Cerita ini kemungkinan berasal dari kisah yang mulanya disampaikan dari mulut ke mulut, lantas disalin oleh Hywel Fychan (kemungkinan dengan berbagai modifikasi atau penambahan dan pengurangan ide), dan kemudian ditemukan tercantum secara terpisah-pisah dalam dua buah manuskrip Wales Abad Pertengahan; Red Book of Hergest (Llyfr Coch Hergest) yang berasal dari tahun 1382 M, dan White Book of Rhydderch (Llyfr Gwyn Rhydderch) yang berasal dari tahun 1350 M. Kisah ini (bersama dengan kisah-kisah lainnya dalam kedua manuskrip tersebut) kemudian dirangkum dalam satu volume oleh aristokrat dan penerjemah Inggris, Lady Charlotte Guest, dan diberi judul The Mabinogion. Walau tentu saja buku yang saya baca ini bukan lagi versi terjemahan oleh Lady Guest, tetapi berkat beliaulah saya bisa mendapat akses ke cerita-cerita ini pada tahun 2005.

red-book_-of_-hergest-facsimile

Cuplikan kolom ke-579 dari manuskrip Llyfr Coch Hergest

mabinogion

The Mabinogion edisi tahun 2000 terbitan Everyman Library; sampulnya menggunakan ilustrasi karya A.J. Gaskin berjudul “Culhwch, the King’s Son.”

Kalau Anda pikir membaca The Silmarillion itu sulit, coba deh membaca The Mabinogion. Bukan soal bahasa Inggrisnya saja yang memang dipilih sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan gaya bahasa zaman itu, namun juga cara penulisan ceritanya. Bayangkan saja, ketika saya mencapai baris-baris yang mendeskripsikan nama-nama pengikut Arthur yang akan ikut dalam misi untuk menyertai Culhwch, si penulis aslinya nampaknya tidak puas hanya dengan menyebut beberapa nama dan melanjutkannya dengan kalimat semacam “…masih banyak lagi.” Dari 34 halaman cerita ini, 7 halaman dipakai untuk menyebut nama-nama semua orang itu. Iya, nama-nama khas Wales yang konsonannya sering tabrakan seperti “Greidawl Gallddofydd, Gwythyr son of Greidawl, Cynddylig the Guide, Cnycwhr son of Nes, Gwyn son of Nwyfre, Uchdryd Host-sustainer, Llwybyr son of Caw…,” dan begitu seterusnya sepanjang 7 halaman (saya nggak ngarang lho, nama-nama itu emang ada di dalam buku).

Kemiripan dan Perbedaan Culhwch ac Olwen dengan Of Beren and Lúthien

Bukan saya saja yang menganggap Culhcwh ac Olwen cukup mirip dengan kisah Beren dan Lúthien, dan bahkan bisa jadi merupakan satu inspirasi Tolkien ketika menulisnya. Profesor Tom Shippey, pakar literatur abad pertengahan, pengamat karya fantasi klasik dan modern serta seorang Tolkien scholar, juga merujuk pada beberapa kesamaan yang tidak bisa dipungkiri antar kedua kisah ini, walau tentu ada juga perbedaan yang membuat keduanya memiliki ciri khas masing-masing.

Contoh paling jelas tentu saja latar belakang mereka. Beren dan Culhwch adalah bangsa Manusia, dan berasal dari keluarga yang berantakan atau tercerai-berai: ayah Beren, Barahir, beserta para pengikut setianya, dibunuh oleh Orc. Culhwch tidak mengalami nasib yang sama, namun setelah ibunya meninggal karena melahirkannya, ayah Culhwch menyerang sebuah negeri dan menculik ratunya setelah membunuh suaminya, menciptakan keluarga disfungsional karena sang ibu tiri membenci Culhwch. Sementara itu, Lúthien dan Olwen sama-sama berasal dari bangsa yang “bukan Manusia”: yang satu putri raja Elf, dan yang satu lagi putri seorang raja raksasa.

Sebaris deskripsi Olwen sang putri raja raksasa dalam The Mabinogion juga sedikit mencerminkan salah satu adegan ketika Beren bertemu Lúthien untuk pertama kalinya. Adegan Lúthien yang menari-nari di tengah hamparan bunga putih memang mencerminkan pengalaman masa lalu Tolkien saat memandang sang istri, Edith, menari-nari di tengah kerumunan bunga hemlock. Akan tetapi, Olwen pun digambarkan “menciptakan barisan semanggi putih berdaun empat di belakang kakinya ketika berjalan.”

“Whoso beheld her would be filled with love of her. Four white trefoils sprang up behind her wherever she went.”

Deskripsi Olwen dalam The Mabinogion: Culhwch and Olwen

alan-lee-olwen

Olwen, oleh Alan Lee

Kedua ayah bangsa gaib ini juga sama-sama protektif terhadap sang putri, namun bisa dibilang “terpaksa” menerima si calon suami yang sama sekali bukan idaman itu, walau tetap memberikan tugas-tugas berat kepada si calon suami; Elu Thingol karena diperingatkan oleh istrinya, Melian, dan Ysbaddaden karena menyadari bahwa dia harus berhadapan dengan Arthur dan pasukannya jika menolak terang-terangan. Sama seperti Beren yang mendapat bantuan dari Finrod Felagund dan para pengikutnya karena Finrod adalah sahabat keluarganya, Culhwch juga mendapat bantuan dari Arthur dan pengikutnya karena Arthur adalah sepupunya.

Upaya Beren dan Culhwch menyelesaikan tugas berat dari ayah wanita yang mereka cintai pun melibatkan konfrontasi dengan makhluk besar mematikan: Beren harus berhadapan dengan serigala raksasa Carcharoth, dan Culhwch dengan babi rusa raksasa Twrch Trwyth. Keduanya juga harus mengambil “benda pusaka” yang dituntut oleh ayah si wanita. Bedanya mungkin hanya akhirnya; Beren harus terluka parah dan kehilangan tangan saat melawan Carcharoth, sedangkan tugas Culhwch selesai pada saat dia menyelesaikan tugas-tugasnya dan kembali ke kediaman Ysbaddaden. Karakter Olwen juga terlihat lebih “tradisional” dan pasif; dia hanya menunggu hingga Culhwch datang dengan membawa bukti bahwa tugas-tugasnya telah selesai. Sebaliknya, Tolkien mendobrak karakteristik tradisional ini dengan membuat Lúthien justru beberapa kali menolong Beren.

alan-lee-hunting

The Hunt, oleh Alan Lee

Sedikit tambahan untuk karakter Elu Thingol dan Ysbaddaden; keduanya ternyata sama-sama mengalami akhir tragis akibat pembalasan dendam pihak lain, walau tidak dengan cara dan jangka waktu serupa. Ysbaddaden tewas dibunuh oleh kerabatnya sendiri, yang ingin membalas dendam bagi keluarganya yang dibunuh Ysbaddaden akibat perebutan tahta. Elu Thingol dibunuh oleh Dwarf yang dendam karena sang raja Elf menolak menyerahkan kalung Nauglamir yang memiliki permata Silmaril dalam rancangannya. Dan tentu saja, keduanya berasal dari ras yang “bukan manusia,” dan hidup di kerajaan tersembunyi.

Tentu saja, hanya karena inspirasinya spesifik, bukan berarti kisah ini menjadi satu-satunya sumber ide Tolkien. Seperti yang sudah saya katakan, ada banyak sekali kemungkinan sumber inspirasi beliau, walaupun mitologi dan bahasa Wales memang salah satu fokus ketertarikan Tolkien, baik secara akademis maupun dalam penulisan karya-karya fiksinya. Template untuk kisah cinta beda ras serta “misi ujian” semacam ini juga bisa Anda temukan di kebudayaan mana saja. Apalagi, Tolkien adalah orang yang memelajari dan membaca banyak hal, sehingga ide-idenya bisa datang dari begitu banyak sumber.

Yang membuatnya istimewa bagi saya adalah fakta bahwa saya membeli kedua buku ini di saat yang hampir bersamaan, hanya selang beberapa bulan di tahun yang sama yaitu 2005. Karena waktu itu kemampuan bahasa Inggris saya masih lumayan menyedihkan, saya butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan kedua buku ini. Akan tetapi, saya tidak akan lupa ketakjuban yang perlahan muncul ketika mencapai bab Of Beren and Luthien, di saat yang hampir bersamaan ketika membaca bab Culhwch and Olwen. Itu adalah masa dimana saya masih tidak memahami kaitan antara J.R.R. Tolkien dan mitologi Wales, sehingga menemukan kaitan ini terasa sebagai sebuah “momen AHA” yang luar biasa. Maksud saya, bayangkan ketakjuban ketika menemukan kaitan antara dua hal yang (sepertinya) tidak saling berhubungan! Rasanya kamar kos saya yang kecil itu mendadak menjadi lebih terang-benderang (sebagian karena merasa dapat “pencerahan,” sebagian karena…memang lampunya saya nyalain, udah maghrib).

Sekarang, buku The Silmarillion dan The Mabinogion yang saya beli di tahun 2005 itu sudah agak menguning. Tapi walaupun isi rak buku saya sudah banyak berganti selama 12 tahun terakhir ini, kedua buku itu selalu setia ada di “tempat istimewa” di rak buku saya. Dan tentu saja, kisah cinta beda ras dalam kedua buku tersebut menjadi cerita-cerita istimewa yang tak pernah bosan saya kulik dan kulik lagi. Bukti betapa rumit dan kayanya mitologi modern karya seorang penulis Inggris bersahaja ini; mitologi modern yang mengajak saya menguak dunia lain yang tak kalah kayanya.

Sumber:

Jones, Gwyn and Thomas. 2000. The Mabinogion: New Revised Edition. London: Orion Publishing Group.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: HarperCollins.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s