Tentang Daeron, Elf yang Mencintai Lúthien Tinúviel


Para fans buku-buku Tolkien pasti akrab dengan Lúthien Tinúviel, salah satu tokoh paling ikonik dalam Tolkien legendarium, terutama kisah cintanya dengan Beren yang memicu berbagai plot penting dalam The Silmarillion. Akan tetapi, di sela-sela kisah dramatis pasangan beda ras ini, ada satu tokoh minor yang setelah sekian lama cukup menarik perhatian saya (dan kebiasaan buruk saya adalah menaruh terlalu banyak perhatian pada karakter minor di buku atau film). Dalam bab Of Beren and Lúthien, ada sesosok Elf bernama Daeron yang digambarkan mencintai Lúthien, namun sang putri tidak mencintainya. Ketika Lúthien beberapa kali bertemu diam-diam dengan Beren di hutan, Daeron membongkar rahasia mereka kepada Thingol, ayah Lúthien.

Sekilas, Daeron kelihatan seperti tipikal orang ketiga yang menyebalkan dalam berbagai kisah cinta: ada pasangan yang saling mencintai, lalu ada orang ketiga yang mencintai salah satu dari mereka, dan melakukan berbagai cara supaya mereka berpisah. Tipikal karakter yang Anda pasti ingin gebuk pakai panci setiap kali muncul di halaman buku atau layar kaca (kecuali kalau Anda tipe yang justru gandrung pada karakter seperti ini. In that case, keep reading). Tapi, semakin saya membaca The Silmarillion, serta versi awal dari legenda Beren dan Lúthien di The History of Middle Earth, semakin terasa bahwa Daeron ini tokoh yang cukup memikat untuk ukuran karakter sampingan.

Daeron, oleh Ebe Kastein

Daeron adalah pujangga dan musisi kerajaan yang mengabdi pada Thingol, raja Elf di Doriath. Dia dan Lúthien bersahabat baik, dan Lúthien sering menari diiringi musik buatannya. Di History of Middle Earth, Daeron (ditulis Dairon) malah dijadikan kakak Lúthien, yang kemudian direvisi dalam The Silmarillion (mungkin karena dianggap kurang greget). Walaupun dia dan Lúthien bersahabat, Daeron juga mencintai sang putri, sehingga ketika melihat Lúthien dan Beren yang saling jatuh cinta dan kerap bertemu diam-diam, dia memberitahu ayah Lúthien, Thingol, yang kemudian memerintahkan Beren untuk membawakannya permata Silmaril dari mahkota Morgoth sang Dark Lord (yang akhirnya memicu berbagai peristiwa yang berbuntut pada kehancurannya sendiri akibat kutukan permata Silmaril).

Daeron and Lúthien, oleh Anke Eißmann

Dalam pencariannya akan permata Silmaril, Beren dan sahabatnya, Finrod Felagund, tertangkap oleh anak buah Morgoth dan dipenjara. Lúthien yang mendengar kabar itu ingin menolong, dan dia meminta tolong pada Daeron. Namun lagi-lagi, Daeron memberitahu niat Lúthien itu pada ayahnya, sehingga Thingol memutuskan mengurung Lúthien di sebuah pondok di atas pohon besar. Lúthien kemudian berhasil melarikan diri, dan Daeron yang patah hati karena hilangnya Lúthien, pergi dari Doriath untuk mencarinya, namun tak berhasil.

Karakter doomed admirer seperti ini (atau mungkin istilah yang tepat untuk Daeron di jaman sekarang: the king of friendzone) tidak pernah berhenti memikat khalayak penggemar karya fiksi, termasuk saya. Memang mudah menganggap motivasi Daeron mengkhianati Lúthien sebagai egois, tapi mengingat bahwa Elf yang menikahi Manusia dan memilih tinggal di Middle Earth tak akan lagi hidup abadi (ditambah fakta bahwa Thingol sengaja menjadikan Doriath sebagai wilayah yang tertutup dan dijaga oleh kekuatan sihir Sabuk Melian, karena melihat kehancuran yang dibawa oleh Morgoth maupun kedatangan bangsa Noldor), motivasinya tentu saja lebih dalam dari sekadar “ingin menjadikan Lúthien miliknya sendiri.”

Satu teori lain dari saya sendiri adalah ini: Daeron tidak ingin Lúthien pergi karena sang putri adalah muse (inspirasi utama) baginya untuk bermusik. Ini membuat karakternya semakin memikat di mata saya, terutama setelah membaca kisah-kisah tentang seniman yang mengalami romansa berujung tragis atau patah hati dengan muse mereka, misalnya sutradara Pier Paolo Pasolini dan Ninetto Davoli, atau pelukis Francis Bacon dan George Dyer. Romantis dengan cara yang tragis.

Sebagai tambahan, Daeron bukan sekedar karakter biasa. Dia disebut sebagai salah satu pemusik terhebat di antara para Elf dan Manusia, dan juga merupakan seorang ahli bahasa. Dalam salah satu kelompok bahasa ciptaan Tolkien, Cirth merupakan sistem alfabet yang menyerupai rune. Daeron adalah penemu sistem alfabet ini. Sistem alfabet ini mulanya disebut sebagai Certhas Daeron, sesuai namanya, kemudian dikembangkan menjadi Angerthas Daeron, dan dalam perkembangan selanjutnya diadopsi oleh Dwarf, Manusia, dan bahkan Orc.

Certh 1.svg p Certh 16.svg zh Certh 31.svg l Certh 46.svg e
Certh 2.svg b Certh 17.svg nj–z Certh 32.svg lh Certh 47.svg ē
Certh 3.svg f Certh 18.svg k Certh 33.svg ng–nd Certh 48.svg a
Certh 4.svg v Certh 19.svg g Certh 34.svg s–h Certh 49.svg ā
Certh 5.svg hw Certh 20.svg kh Certh 35.svg s–’ † Certh 50.svg o
Certh 6.svg m Certh 21.svg gh Certh 36.svg z–ŋ Certh 51.svg Certh 51a.svg ō
Certh 7.svg mhᵉ, mb Certh 22.svg ŋ–n Certh 37.svg ngᵈ Certh 52.svg Certh 52a.svg ö
Certh 8.svg t Certh 23.svg kw Certh 38.svg Certh 38a.svg nd–nj Certh 53.svg nᵈ
Certh 9.svg d Certh 24.svg gw Certh 39.svg i, yᵉ Certh 54.svg h–s
Certh 10.svg th Certh 25.svg khw Certh 40.svg yᵈ Certh 55.svg Certh 55a.svg
Certh 11.svg dh Certh 26.svg ghw, w Certh 41.svg hyᵈ Certh 56.svg Certh 56a.svg
Certh 12.svg n–r Certh 27.svg ngw Certh 42.svg u Certh 57.svg psᵈ
Certh 13.svg ch Certh 28.svg nw Certh 43.svg ū Certh 58.svg tsᵈ
Certh 14.svg j Certh 29.svg r–j Certh 44.svg w Certh 59.svg +h
Certh 15.svg sh Certh 30.svg rh–zh Certh 45.svg Certh 45a.svg ü Certh 60.svg &

Angerthas Daeron

Daeron digambarkan telah menciptakan musik-musik dan lagu terindah di Doriath, yang terinspirasi terutama oleh Lúthien. Setelah hilangnya Lúthien, Daeron akhirnya memutuskan untuk pergi seorang diri mencari sang putri demi menebus kesalahannya. Akan tetapi, dia tak pernah menemukan Lúthien. Setelah kegagalannya, dia dikisahkan terus berjalan hingga mencapai wilayah Timur Middle Earth, ke dekat pegunungan Ered Luin. Riwayatnya pun tak lagi terdengar, kecuali kisah-kisah samar tentang dirinya yang berdiam di tepi danau yang berair gelap, menyanyikan lagu-lagu yang telah digubahnya tentang Lúthien.

“Upon Doriath evil days had fallen. Grief and silence had come upon all its people when Lúthien was lost. Long they had sought for her in vain. And it is told that in that time Daeron the minstrel of Thingol strayed from the land, and was seen no more. He it was that made music for the dance and song of Lúthien, before Beren came to Doriath; and he had loved her, and set all his thought about her in his music. He became the greatest of all minstrels of the Elves east of the Sea, named even before Maglor, son of Fëanor. But seeking for Lúthien in despair he wandered upon strange paths, and passing over the mountains he came into the East of Middle-earth, where for many ages he made lament beside dark waters for Lúthien, daughter of Thingol, most beautiful of all living things.

The Silmarillion, chapter 19: Of Beren and Lúthien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s