Scaling Up: Ulasan Buku “The Dragon: Fear and Power”

Ulasan oleh: Tom Shippey

Buku karya: Martin Arnold

Catatan: tulisan ini adalah terjemahan dari ulasan Tom Shippey untuk buku karya Martin Arnold, The Dragon: Fear and Power, yang dimuat di Literary Review edisi November 2018. Terjemahan ini dibuat dengan izin dari Literary Review. Versi asli yang berbahasa Inggris bisa dibaca di sini.

Terima kasih untuk David Gelber dari editorial Literary Review yang telah memberi saya izin untuk menerjemahkan ulasan ini. 

“Naga bukan lamunan di siang bolong,” Tolkien menulis pada tahun 1936, tetapi “sebuah kreasi menakjubkan dari imajinasi manusia, yang jauh lebih bermakna dari gundukan harta bendanya”. Ketakjuban ini semakin meningkat selama 80 tahun terakhir. Naga memenuhi buku-buku fantasi modern, dan tidak ada yang meragukan bahwa Daenerys, Ibu Para Naga, memegang peran penting dalam semesta Game of Thrones ciptaan George R. R. Martin.

Tolkien juga berkata bahwa “naga, terutama naga sejati…sesungguhnya sangat langka,” dan menghitung “hanya dua yang paling terkenal.” Bahkan pada tahun 1936, pandangan ini terlalu sempit. Naga, seperti yang telah dibuktikan oleh penelitian Martin Arnold yang luas dan mencakup berbagai budaya, adalah ‘fenomena global’ yang relevan hingga sekarang. Legenda tentang naga bisa dilacak hingga ke era Epos Gilgamesh dari Babilonia. Mereka juga hadir di Eurasia, dari Irlandia hingga Jepang. Tetapi, seberapa konsisten fenomena naga sebenarnya? Apa maknanya bagi kita?

Kita mungkin sepakat dengan Tolkien soal karakteristik umum ‘naga dalam dongeng’: bersayap, bersisik keras, mengembuskan api, suka menumpuk emas dan memakan manusia (kebanyakan wanita), utamanya kaum bangsawan atau perawan ningrat. Kita mungkin juga membayangkan beberapa adegan standar: seorang ksatria, seperti Redcrosse-nya (Edmund) Spenser, berderap menuju ke gua naga sembari membawa pedang dan perisai. Ksatria penunggang kuda, seperti Santo George, menumbangkan naga dengan tombaknya. Sementara itu, sang perawan bugil dirantai di batu karang dan menanti pertolongan. Semua gambaran ini adalah inspirasi abadi para seniman dari berbagai era.

Apakah semua gambaran ini universal, atau hanya perkara budaya? Arnold dengan bijak menulis bahwa “mencari satu penjelasan untuk semua ini nyaris tidak mungkin”, tetapi ada banyak kesamaan yang mustahil diabaikan. Kitab Ayub, contohnya, menggambarkan aspek-aspek seperti sisik, api, serta kedigdayaan. Mitos tentang Ladon, si penjaga apel-apel Hesperides, menyebut tentang kemampuan sang naga untuk berjaga tanpa tidur. Naga adalah sosok menonjol dalam kebudayaan Cina, tetapi mereka digambarkan ‘bijaksana dan murah hati’. Berbagai tradisi Barat juga menganggap bahwa naga sebenarnya lebih pintar dari manusia. Sebuah sajak Anglo-Saxon anonim memiliki lirik pendek misterius ini: “Di dalam bukit pasti ada naga, tua, dan bergelimang harta.” Kata ‘tua’ identik dengan kebijaksanaan. Jauh sebelum era Bilbo Baggins, Sigurd sang pahlawan Nordik telah menyadari bahwa perang mulut dengan naga bukan hal yang bijaksana, bahkan jika naga itu sekarat.

Naga pasti melambangkan sesuatu yang dipahami secara umum, jika bukan universal, tetapi apa itu? Dari mana asal gambaran tentang naga? Arnold dengan tegas mengecualikan faktor kontak antarbudaya: konsep tentang naga sudah tertanam terlalu lama serta luas. Apakah naga merupakan gabungan elemen-elemen predator seperti ‘burung pemangsa, ular berbisa, dan kucing besar bercakar tajam’ yang dulu memangsa kita? Mungkinkah naga, seperti klaim fantastis Carl Sagan, merupakan memori genetik terhadap dinosaurus yang kita warisi dari nenek moyang mamalia? Bicara soal Freud, apakah naga merepresentasikan id, seperti halnya ksatria yang merepresentasikan superego? Atau mungkin, seperti kata Tolkien (walau mungkin maksudnya berbeda), naga adalah “a product of men’s imagination”, yang sifatnya patriarkis?

Pertanyaan terakhir ada hubungannya dengan kisah para ayah yang menjadikan putri-putri mereka korban persembahan, atau kaitan yang terus diulang-ulang antara naga/ular dengan kaum wanita dan akar segala kejahatan (misalnya Lamia, Lilith, serta kisah Taman Eden). Pahlawan lelaki seperti Perseus dan Ragnar si Celana Berbulu dalam saga Nordik mendapat tugas menjauhkan ular/naga dari karakter wanita, baik yang polos seperti Andromeda, maupun yang lebih cerdik seperti Thora, yang kelak menjadi istri Ragnar. Thora dikisahkan memelihara naga kecil yang tumbuh begitu besar hingga membuat panik sang ayah.

Tidak perlu menjadi Freud untuk memahami makna di balik kisah tersebut, tetapi menarik melihat bahwa jenis kelamin para naga nyaris tidak pernah disebutkan. Keganasan mereka sepertinya menciptakan asumsi bahwa mereka adalah pejantan, ancaman bagi para ayah yang hendak melindungi keperawanan putri-putri mereka. Akan tetapi, kemampuan mereka untuk menggoda sering dikaitkan dengan wanita, dan ini adalah ancaman untuk patriarki. Naga melambangkan kaos: mereka mengancam tatanan yang berlaku. Hal ini sepertinya berlaku hampir di semua tempat, kecuali Cina, di mana naga melambangkan ‘kekuasaan dinasti serta otoritas’, dan kisah tentang pembantai naga nyaris tidak ada. Versi naga seperti ini kemungkinan muncul dari ‘peradaban hidraulis’ Cina, di mana para penguasa mengendalikan ‘sistem pengairan’ sepenuhnya sehingga perlawanan dari dalam nyaris mustahil.

Interpretasi unik lain juga hadir. Misalnya, dalam kisah Beowulf, naga penimbun harta secara gamblang melambangkan keserakahan atau ‘penyakit naga’, sebagaimana Tolkien menyebutnya dalam The Hobbit serta puisi The Hoard. Tolkien menganggapnya sebagai sesuatu yang bahkan semakin relevan pada masanya sendiri. Dalam beberapa dekade terakhir, naga juga telah menjadi simbol dari kemurkaan serta kekuasaan tak terbendung. Godaan bagi Daenerys untuk mengucapkan ‘dracarys’ dan membakar siapa saja yang melawannya telah menjelma menjadi, secara harfiah, sesuatu yang zalim (‘draconian’). Daenerys harus belajar untuk mengekang hasratnya sendiri, sama seperti ketika dirinya merantai naganya yang telah membunuh anak-anak.

Dalam kisah-kisah modern, naga semakin mirip dengan kita. Eustace-nya C. S. Lewis berubah menjadi naga di Narnia akibat keserakahan dan godaan akan emas, mirip seperti metamorfosis karakter dalam saga Nordik. Seperti naga-naga Daenerys, jika pikiran Anda menyatu dengan naga, yang terakhir ini akan mengubah kepribadian Anda.

Pengecualian hadir ketika naga dijadikan teman istimewa anak-anak yang imut-imut, sebuah tren yang dimulai oleh Reluctant Dragon-nya Kenneth Grahame yang terbit pada tahun 1898, dan dilanjutkan dengan karya-karya seperti Zog-nya Julia Donaldson, seri How to Train Your Dragon-nya Cressida Cowell, serta novela Ice Dragon-nya George R. R. Martin. Akan tetapi, hal ini mungkin juga salah satu godaan draconian tersamar. Kita semua ingin memiliki teman berkekuatan istimewa yang bisa meneror semua orang.

Naga adalah konsep yang tidak bisa disederhanakan atau diremehkan. Buku luar biasa ini berhasil menjelaskan fenomena naga secara umum sekaligus menawarkan berbagai ide untuk melakukan interpretasi. Beberapa karya fiksi fantasi terbaik masa kini bahkan berpusat pada naga, seperti dalam Earthsea-nya Ursula K. Le. Guin, Iron Dragon’s Daughter-nya Michael Swanwick, dan bahkan Guards! Guards! karya Terry Pratchett, yang sukses memarodikan kisah naga dalam seribu tahun terakhir. Semua orang kenal naga berkat hadirnya beragam ilustrasi, baik itu lukisan kuno, manuskrip Abad Pertengahan, film, bahkan poster (misalnya ilustrasi para aktivis hak pilih wanita yang menghadapi ‘naga kebejatan’). Tolkien akan senang mengetahui bahwa kita, saat ini, kembali hidup di tengah era besar penciptaan sosok naga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s