Perang yang Melahirkan Imajinasi: Ulasan Buku “Tolkien and the Great War”

tolkien and the great war 2

Sekitar dua bulan yang lalu, saya akhirnya membeli buku Tolkien and the Great War: The Threshold of Middle-earth, yang sudah bertengger di daftar belanja saya sejak beberapa tahun lalu. Buku karya John Garth ini menjadi incaran saya selain biografi resmi J. R. R. Tolkien karya Humphrey Carpenter, karena memberi dimensi lebih dalam tentang kaitan antara pengalaman Tolkien dalam Perang Dunia I dengan karya-karya fiksinya, termasuk legendarium Middle-earth yang terkenal. 

Tolkien mungkin menolak menyebut bahwa karyanya adalah “alegori terhadap Perang Dunia”, namun ada kaitan-kaitan yang tidak dapat disangkal, dan bahkan bisa dikorek dari deskripsinya sendiri akan karakter atau atmosfer tertentu yang hadir di dalam legendarium Middle-earth.

tolkien and the great war 1

Setiap tragedi besar seperti peperangan, pembantaian, dan pendudukan selalu melahirkan karya-karya seputar tema tersebut, mulai dari novel (termasuk seri, tentu saja), lukisan, filmmemoarpuisi, hingga animasi. Manusia punya cara unik dalam menanggapi tragedi, dan menghasilkan karya seni atau literatur merupakan salah satunya. Diskusi tentang karya-karya Tolkien sering mengaitkan berbagai aspek karyanya dengan pengalaman masa perangnya, namun bisa dipahami mengapa pernyataan ini sering terasa mengawang-awang. Bagaimana sebenarnya Perang Dunia Pertama dan dunia fiksi fantasi ala Tolkien bisa terkait? Bagaimana Tolkien mengumpulkan serpih-serpih legendarium Middle-earth dan memadatkannya menjadi fondasi utuh selama perang itu berlangsung?

Dalam kumpulan esai Baptism of Fire: the Birth of the Modern British Fantastic in World War I terbitan Mythopoeic Press, Tolkien dikelompokkan bersama para penulis dan penyair Inggris yang disebut sebagai The Lost Generations alias Generasi yang Hilang, julukan bagi mereka yang menginjak usia dewasa selama atau setelah Perang Dunia I. Bagi sosok-sosok ini, periode kedewasaan mereka merupakan masa-masa yang penuh kebimbangan dan ketakutan. Apalagi, Perang Dunia I merupakan salah satu perang modern terburuk sepanjang sejarah, di mana pasukan Jerman untuk pertama kalinya menunjukkan sederet teknologi yang telah mereka sempurnakan untuk membunuh banyak orang dalam sekejap.

Anehnya, di saat yang sama, Perang Dunia I secara tidak resmi juga disebut sebagai The Poet’s War. Hal ini karena karya-karya literatur mendadak membanjiri khalayak selama maupun setelah perang tersebut (tidak mengherankan, apalagi puisi dan bahkan menulis blog bisa berperan cukup besar dalam mengatasi efek terburuk trauma psikologis). Alih-alih bernada patriotik atau memotret prajurit sebagai pahlawan bak puisi-puisi era klasik macam The Illiad, karya-karya yang bermunculan justru memotret kebimbangan, ketakutan, dan kekecewaan para prajurit muda; mereka yang berbondong-bondong masuk tentara karena propaganda patriotik, namun berakhir kecewa ketika kenyataan perang tak seindah gambaran heroiknya. Para “pahlawan” berubah menjadi “pion” yang tidak memiliki kendali akan nasib mereka sendiri.

Ada perbedaan jelas antara biografi Tolkien oleh Carpenter dengan buku John Garth ini. Jika buku Carpenter mendeskripsikan riwayat hidup Tolkien secara kronologis dari masa kelahiran hingga kematiannya, buku Garth lebih berfokus pada masa-masa muda Tolkien saat dia baru memasuki King Edward’s School hingga masuk tentara. Lebih tepatnya, ini adalah buku yang menunjukkan kepada pembaca kaitan erat antara ledakan energi kreatif Tolkien pada masa-masa awal pembentukan legendarium Middle-earth serta pengalaman perangnya.

T.C.B.S dan Serpih-serpih Middle-earth

Buku ini dimulai dengan deskripsi panjang tentang pengalaman Tolkien muda bersama ketiga sahabatnya di King Edward’s School: Robert Gilson, Geoffrey Smith, dan Christopher Wiseman. Prolognya bahkan dengan cerdas memainkan emosi saya. Ada deskripsi panjang tentang “musim dingin”, “para penyerang yang berlari di atas lumpur”, serta “para veteran melaju dengan sisa-sisa tenaga mereka, nyaris tidak bisa membendung serangan”, yang membuat saya berpikir bahwa saya sudah memasuki deskripsi tentang perang yang dialami Tolkien…sebelum dibuat kecele dengan penjelasan bahwa itu ternyata hanyalah salah adegan pertandingan rugbi antar sekolah dengan Tolkien sebagai kaptennya (kirain apa, coba!). Gaya menulis yang “menipu” ini seolah mencerminkan hiperbolanya The Battle of the Eastern Field, puisi pertama Tolkien yang diterbitkan, yang juga dengan bercanda meminjam gaya “menggelegar” puisi epik untuk mendeskripsikan sesuatu yang lebih sederhana (hal yang sama sepertinya menginspirasi Tolkien untuk membuat teka-teki kreatif dalam The Hobbit).

Bab-bab awal yang panjang dalam buku ini mendeskripsikan bagaimana Tolkien dan ketiga sahabatnya tersebut membentuk klub literatur, di mana mereka sering berkumpul sambil menyeduh teh diam-diam di perpustakaan sekolah (yang sebenarnya dilarang). Setelah lulus, keempat sekawan itu tidak lagi berkumpul di perpustakaan sekolah, melainkan di ruang minum teh di Barrow’s Stores, dan akhirnya menyebut diri mereka T.C.B.S (Tea Club, Barrovian Society). Walau mereka lebih sering bercanda daripada berdiskusi serius, tetapi di sinilah Tolkien mulai pelan-pelan mengasah landasan legendariumnya lewat tulisan-tulisan kreatif yang saling mereka bacakan.

Sebelum masing-masing memenuhi panggilan untuk ikut perang, para anggota T.C.B.S bertemu untuk terakhir kalinya dalam reuni yang mereka sebut “The Council of London” (menginspirasi The Council of Elrond, mungkin?). Reuni ini seolah mencerminkan berpindahnya Tolkien dan teman-temannya dari lingkungan akademik yang menyegarkan ke awal masa perang yang suram. Sekitar tahun 1915, setelah semua anggota T.C.B.S ditempatkan di berbagai area pertempuran, Tolkien menyelesaikan sebuah sajak panjang bertajuk Kortirion among the Trees.

Puisi ini tidak lagi terkesan “meraba-raba” seperti The Voyage of Éarendel the Evening Star, namun sudah memberi gambaran lebih rinci tentang sebuah “negeri kelabu yang suram, namun menyimpan kisah-kisah dari masa lalu ketika para Elf berlarian dan menari di bawah matahari; kisah yang kini hanya dibisikkan oleh pepohonan dengan nada sedih”. Puisi ini kelak disertakan Tolkien di dalam manuskrip The Lost Tales bagian pertama, yang kemudian dibukukan dan diterbitkan oleh Christopher Tolkien. Ketika Tolkien menulis The Silmarillion, nama “Kortirion” menjadi ‘Tirion”, kota kaum Elf Noldor di Valinor. Puisi ini seolah menggambarkan kerinduan Tolkien terhadap negeri tersembunyi yang pernah indah pada masanya, dan kini tak dapat lagi dipandang mata manusia (dalam The Silmarillion, Tirion akhirnya “tertutup” dari pandangan Manusia setelah kaum Númenor menyerbu Valinor untuk merebutnya akibat hasutan Sauron). Hal ini seolah juga merefleksikan kenangannya akan lanskap pedesaan Inggris yang digusur untuk membuat pabrik senjata.

Puisi tersebut disebar dan dibaca oleh ketiga sahabat Tolkien, dan masing-masing menemukan penghiburan dari puisi tersebut saat berada di medan perang. Sebelumnya, sepanjang tahun 1915, Tolkien menciptakan empat puisi yang kelak menjadi “kompas”-nya dalam menulis legendarium Middle-earth. Why the Man in the Moon Came Down Too Soon adalah puisi komedik yang menggunakan permainan kata dan suku kata untuk melucu (kelak sosok Manusia di Bulan ini muncul dalam LOTR serta Letters from Father Christmas, dan menjelma menjadi Tilion dalam The Silmarillion). Goblin Feet adalah puisi fantasi (“puisi peri”) yang berbeda dari gaya formal karya-karya dalam jurnal Oxford Poetry pada masa itu. The Shores of Faery merupakan eksperimen dalam penggunaan nama-nama serta kata-kata “aneh”. Happy Mariners adalah semacam eksplorasi psikologis serta renungan yang bernada sedih, ketakutan, sekaligus introspektif. Kortirion among the Trees bisa dibilang adalah “penyempurnaan” dari keempat puisi tersebut, di mana Tolkien menggabungkan semua elemennya, memadukan elemen fantasi, deskripsi natural, hingga penjelajahan psikologis yang memadukan emosi negatif dengan imajinasi serta introspeksi.

Imajinasi dalam Masa Perang

Walau semua teman Tolkien menikmati Kortirion among the Trees, mereka menganggap bahwa puisi tersebut adalah bukti bahwa Tolkien adalah orang yang pikirannya terlalu mengawang-awang, bahkan tidak realistis. Tolkien menolak argumen tersebut karena dia justru memiliki ketertarikan ilmiah dalam pembentukan bahasa, dan banyak menggunakan metode-metode kebahasaan formal dalam menyusun bahasa Qenya (yang kelak menjadi “Quenya”, dan merembet ke bahasa-bahasa lain yang diucapkan para karakternya dalam legendarium Middle-earth). Menurut Tolkien, puisi-puisinya justru merupakan caranya memberi “kehidupan” pada bahasa-bahasa ciptaannya, karena bahasa menjadi kehilangan konteks tanpa adanya dunia serta kaum yang menggunakannya. Argumen ini mungkin sudah familiar di pikiran Anda yang pernah membaca bahwa Middle-earth adalah sarana Tolkien untuk memberi tempat bagi bahasa ciptaannya.

Puisi tersebut juga merupakan kebalikan dari atmosfer yang melingkupi Inggris sebelum dan selama Perang Dunia berlangsung. Ketika pikiran menyempit karena berkuasanya propaganda, kampanye ketakutan, serta ancaman, Kortirion menyibak imajinasi terhadap sebuah negeri indah yang dulu pernah terlihat di mata kaum fana, dan kini hanya bisa terlihat samar-samar. Berlawanan dengan pikiran picik dan penuh ketakutan yang mengungkung, Tolkien menggunakan puisi semacam Kortirion untuk “membuka benak lebar-lebar”.

Tolkien juga menulis puisi tersebut sebagai penolakan terhadap perkembangan bahasa di masa perang yang cenderung sinis. Dalam Bab IV, John Garth menggambarkan bagaimana kosakata bahasa Inggris mendapat kata-kata baru dari medan perang. Ada yang praktis seperti hardtack, berakar dari bahasa lain seperti blighty (yang berasal dari bahasa Hindi, dan bermakna “cedera sangat parah”), hingga yang berkesan fantastis seperti fairy lights, plesetan dari kata Very lights, yaitu semacam lampu suar yang digunakan untuk memberi sinyal. Prajurit garis depan terutama senang menciptakan kata-kata baru untuk bercanda atau menyebut hal-hal tertentu yang berkaitan dengan makanan, obat-obatan, senjata, serangan musuh, bahkan wanita. Walau hal ini sebenarnya wajar, bahkan bisa dipandang sebagai upaya wajar untuk kepraktisan atau bahkan mengurangi ketakutan, Tolkien lama-kelamaan merasa bahwa hal ini justru menjadi sama melelahkannya dengan perang itu sendiri, akibat kesinisan dan kegelapan yang membebani kata-kata tersebut.

Tolkien pun berusaha mencuri waktu selama perang untuk mengembangkan bahasa Qenya serta legendariumnya. Dia mulai membuat catatan tentang nama-nama yang kelak akan menjadi familiar di mata pembaca buku-bukunya pada masa kini: Eru, Noldomar, Valinor, Tol Eressëa, Eärendel, Wingelot (Vingilot), Turambar. Dia juga mulai mencorat-coret deskripsi para Valar: Makar disebutnya sebagai “dewa perang”, Sùlimi “dewa angin”, Ui “ratu para putri duyung”, dan Niëliqi adalah “gadis kecil yang tawa dan air matanya mampu menumbuhkan bunga-bunga”. Dia juga membuat elemen-elemen kosmografis selain geografis: Morwen adalah Jupiter, Ilu adalah julukan untuk atmosfer, Nierninwa adalah rasi bintang Sirius, dan Telimektar adalah rasi bintang Orion.

Akan tetapi, hanya karena imajinasinya terlihat fantastis, bukan berarti tidak ada kegelapan yang mendasarinya. Ada masa-masa di mana Tolkien harus mengonfrontasi pikiran-pikiran gelapnya sendiri, sebelum keluar dari sana dan menuangkannya di dalam karya-karyanya.

Pertentangan Batin dan Imajinasi Gelap

Pada Bab VI, ketika Garth mulai mendeskripsikan perkembangan imajinasi Tolkien dalam menyusun serpihan legendarium Middle-earth, saat itu pula kegelapan dalam benak Tolkien terpampang. Tolkien remaja berpegang pada “idealisme Jermanik” saat mempelajari puisi, sajak, dan karya sastra Kuno serta Abad Pertengahan. Namanya berakar dari bahasa Jerman, dan dia bangga akan darah Jerman serta Inggrisnya. Akan tetapi, realita yang dihadapinya menghempaskannya dengan keras: negeri dan orang-orang yang dia cintai justru diserbu dan dimusnahkan oleh orang Jerman.

Distorsi idealisme ini akhirnya mendorongnya menyelipkan kata-kata bahasa Qenya yang mengaitkan “Jerman” dengan kengerian. Tolkien menciptakan kata bahasa Qenya kalimban yang berarti “Jerman”. Akan tetapi, kalimban juga bersinonim dengan “tindakan barbar”. Variasinya adalah kalimbo (“monster”, “orang barbar”) dan kalimbardi (“orang Jerman”). Walau kosakata ini kemudian tidak lagi dipakai, hal ini menunjukkan bahwa Tolkien pun tidak luput dari sentimen negatif terhadap semua orang Jerman, seperti yang diamini publik Inggris pada masa itu.

Tolkien juga mengalami perdebatan serius dalam benaknya terkait pemahaman akan makna hidup dan kematian, terutama setelah dua anggota T.C.B.S menemui akhir tragis. Geoffrey Smith terhantam pecahan mortir dalam Pertempuran Somme, salah satu pertempuran paling berdarah dalam Perang Dunia I, di mana Tolkien juga terlibat di dalamnya sebagai Letnan Dua dari Juli hingga Oktober 1916. Rob Gilson, orang yang sering berdiskusi dengan Tolkien tentang filsafat, peperangan, dan manusia, tewas terhantam proyektil pada hari pertama Pertempuran Somme. Dari semua alumni kelasnya yang ikut perang, hanya Tolkien dan Christopher Wiseman yang selamat. Tolkien akhirnya memutuskan menamai salah satu putranya Christopher sebagai tribut terhadap sahabatnya (ya, Christopher Tolkien yang itu).

Kematian tragis hampir semua temannya, serta kematian mendadak Rob Gilson yang sering berdiskusi dengannya, menciptakan pemahaman bahwa nyawa manusia bisa hilang begitu mudahnya. Tolkien mulai serius memasukkan unsur tentang kematian dan keabadian di dalam legendariumnya, yang kelak akan menjadi tema mendasar dari kisah-kisah seperti hasrat bangsa Numenor untuk mencapai keabadian, kehancuran bangsa Numenor akibat hasrat ini, perdebatan filosofis antara Andreth dan Finrod Felagund, hingga kisah Beren dan Lúthien. Dengan memasukkan unsur perdebatan batinnya ke dalam tokoh-tokoh ini, Tolkien seolah ikut berusaha mencari jawaban, dan saya tidak tahu apakah dirinya telah menemukannya atau tidak sampai akhir hayatnya.

Jangan kaget juga ketika karakter-karakter Tolkien secara tak terduga mengutip kalimat-kalimat yang sangat reflektif, bahkan Samwise Gamgee yang mulanya hanya ikut sebagai semacam asisten Frodo. Bacalah kalimat-kalimat Faramir saat berbicara dengan Frodo dan Sam di The Two Towers, dan lihat betapa reflektifnya kalimat-kalimatnya. Walau karakternya adalah ksatria dan pangeran dari sebuah kerajaan (yang dalam dongeng populer selalu dikisahkan gagah berani dan tak gentar dalam pertempuran), dia tidak memandang perang sebagai sesuatu yang agung, dan dia bahkan berusaha tidak membunuh jika tidak diperlukan. Mengingat dirinya adalah salah satu karakter yang diciptakan belakangan, mungkinkah Tolkien berpikir untuk memasukkan malam-malam diskusinya dengan Rob Gilson dalam dialog-dialog Faramir?

Jadi, Intinya Apa?

Tolkien and the Great War, sesuai judulnya, tidak mengikuti riwayat Tolkien hingga kematiannya. Buku ini hanya mencakup masa-masa remaja Tolkien saat bersekolah di King Edward’s School, hingga bergabung dalam angkatan darat Inggris sebelum dirinya ditarik dari medan perang karena sakit, dan akhirnya mulai menulis kisah The Fall of Gondolin serta The Cottage of Lost Play, yang akhirnya akan menjadi bagian dari The Lost Tales serta The Silmarillion. Jadi, jangan heran jika buku ini banyak memberi deskripsi tentang masa-masa saat Tolkien berada di angkatan darat.

Buku ini juga memberi banyak detail tentang Perang Dunia I secara kronologis hingga mencapai bagian Pertempuran Somme sebagai klimaksnya. Sebagai salah satu pertempuran paling tragis dan berdarah dalam sejarah militer Inggris, John Garth bahkan menamai bagian buku yang berisi bab ini sebagai The Battle of Unnumbered Tears, nama yang digunakan Tolkien untuk menyebut Nirnaeth Arnoediad, yaitu pertempuran terbesar dalam rangkaian Perang Beleriand antara pasukan Morgoth dengan pasukan gabungan Elf, Dwarf, dan Manusia pada Zaman Pertama.

Dalam penulisan setiap bab, Garth dengan luwes memadukan rincian perang serta perkembangan kreatif Tolkien. Tidak ada bagian yang secara spesifik membahas tentang perang atau karya fiksi saja. Hal ini memang disengaja untuk menunjukkan bagaimana kreativitas serta inspirasi Tolkien mengalami perkembangan dan modifikasi selama perang berlangsung. Mungkin bisa disamakan dengan bagaimana kita bisa melihat manuskrip-manuskrip Tolkien berevolusi dalam tiga belas buku The History of Middle-earth.

Tolkien dengan tegas menyebut bahwa kisah-kisah buatannya bukanlah alegori untuk perang, namun ada kaitan yang sulit diabaikan di dalamnya. Garth juga tidak bertujuan menyangkal Tolkien, karena hak setiap penulis untuk mendeskripsikan inspirasi serta ide kreatifnya. Akan tetapi, lewat buku ini, Garth menunjukkan bagaimana peristiwa yang sangat mengerikan seperti perang ternyata justru melahirkan penulis yang daya fantasinya tetap hidup hingga kini dan bahkan menginspirasi, lama setelah dirinya sendiri dikuburkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s