Dari Blog ke Seminar: Kisah Artikel yang “Terbang” ke Leeds

Tanggal 1 Juli 2018, artikel saya yang berjudul The Names of Túrin Turambar and “Spiritual Burden” Concept in Javanese Naming Philosophy dibacakan di ajang Tolkien Society Seminar 2018 yang berlangsung di Leeds. Saya bilang “dibacakan” karena memang saya tidak ada di sana untuk mempresentasikannya sendiri, sehingga otomatis menjadikan saya sebagai satu-satunya peserta yang tidak bisa foto bareng sambil pamer kartu peserta dan latar belakang logo Tolkien Society, dan tentunya…nggak dapat jatah konsumsi (*garuk tanah*).

tolkien society seminar 2018

My superpower: invisibility

Nelson Goering, ketiga dari kanan (di belakang), membawakan makalah saya

Sumber

Lalu, bagaimana ceritanya tulisan yang asalnya dari postingan blog singkat itu bisa terbang meninggalkan pemiliknya di Kalimantan Timur untuk eksis di Leeds?

Berikut ceritanya.

llham yang Tidak Sengaja Mampir

Artikel saya adalah versi lebih panjang dan terpoles dari postingan ini. Saya sendiri sudah lupa bagaimana ceritanya ide ini mampir, tapi dibandingkan dengan semua postingan blog saya, ini adalah yang paling random. Saya punya buku catatan khusus untuk mencatat semua ide blog. Tetapi, ide yang satu ini sama sekali tidak direncanakan, dan spontan melintas begitu saja (saya bahkan sedang tidak duduk di toilet, yang katanya salah satu tempat paling oke untuk mencari inspirasi).

Tapi saya tidak heran soal kenapa menjelaskan hal ini bisa jadi membingungkan. Maklum, walau sering disebut dalam kaitannya dengan proses kreatif, psikolog dan pakar neurologi masih belum terlalu mendalami konsep inspirasi. Yang paling “kena” untuk pengalaman saya mungkin penjelasan Mozart saat ditanya tentang proses kreatifnya. Dalam kutipan dari esai R. E. M. Harding yang bertajuk An Anatomy of Inspiration and An Essay on the Creative Mood (1948), Mozart mendeskripsikan proses kreatifnya seperti ini: “Aku menyimpan ide-ide yang membuatku tertarik dalam otakku dan menyenandungkan mereka. Setelah terus-terusan melakukannya, aku akhirnya mengetahui cara memadukan potongan-potongan kecil bahan ini menjadi sajian utuh”.

Sebelum saya disantet karena dianggap menyamakan diri dengan Mozart, saya mau bilang kalau ini mungkin memang terkait dengan memori akan ide-ide yang sudah masuk ke otak saya sebelumnya. Keluarga saya berasal dari Jawa Timur, tetapi saya lahir dan dibesarkan di Balikpapan, kota niaga dengan populasi campuran dari berbagai wilayah di Indonesia. Saya dibesarkan sebagai anak kota, dan hanya sedikit sekali terpapar bahasa atau budaya Jawa. Tetapi, saya selalu menyimpan kenangan akan kisah-kisah terkait kultur Jawa yang diceritakan keluarga atau tetangga, termasuk tentang kabotan jeneng (mungkin karena kisah-kisah ini lebih memiliki koneksi intim dengan hubungan antar manusia, sehingga menarik).

Memori tentang kisah-kisah kabotan jeneng itu lewat di benak saya ketika membaca kisah Túrin Turambar. Ketika memori itu hadir, alih-alih menyingkirkannya dari otak agar bisa kembali fokus membaca novel, saya justru berhenti dan berpikir: “Túrin ganti nama beberapa kali setiap dia ditimpa kesialan. Orang yang kabotan jeneng biasanya diganti namanya supaya nggak keberatan nama dan sakit-sakitan terus. Kok mirip ya? Apakah ada benang merah yang bisa ditarik?” Dan begitu dua ide tersebut klop, rasanya diri ini langsung kebelet pipis saking semangatnya.

Sebelum lupa, saya segera menyalakan laptop, membuka WordPress, dan mulai ngebut mengetik. Saya bahkan tidak pikir panjang untuk menulis artikel itu dalam Bahasa Inggris: saya hanya berpikir bahwa mungkin tema ini menarik untuk dibagikan pada pembaca yang lebih luas (saat itu, saya sudah mengenal beberapa anggota komunitas penggemar Tolkien dari negara lain, termasuk Becky Dillon yang mengelola  International Tolkien Fellowship – News and Publication serta memberi saya buku ini).

Setelah artikelnya rampung, saya tidak berharap banyak. Saya anggap itu sama saja seperti postingan blog lain yang sudah saya buat sebelumnya (euforia dapat idenya hilang setelah berjam-jam menulis sambil menahan kantuk, plus menyadari bahwa saya jadi harus lembur menggarap kerjaan yang sesungguhnya gara-gara terlalu semangat ngeblog). Saya sudah cukup senang bahwa Shawn E. Marchese, teman Facebook sekaligus salah satu narator The Prancing Pony Podcast ikut sumbang komentar positif di sana.

Dan begitulah, artikel itu pun disusul oleh postingan-postingan blog berikutnya. Saya tidak memikirkannya lagi sampai Negara Api menye… eh, maksudnya sampai The Tolkien Society International mengumumkan informasi pendaftaran makalah untuk The Tolkien Society Seminar.

Detik-detik Pendaftaran 

Pada tanggal 15 Desember 2017, The Tolkien Society mengumumkan bahwa mereka telah membuka pendaftaran untuk makalah bertema Tolkien the Pagan: Reading Middle-earth through a Spiritual Lens. Makalah yang masuk akan diseleksi untuk dipresentasikan di dalam seminar. Saya melihat pengumumannya, tetapi sama sekali tidak berpikir untuk mendaftar. Mungkin karena saat itu saya masih menata pikiran sekaligus sibuk menghibur ibu pasca meninggalnya ayah saya pada bulan November. Lagipula, yang sudah-sudah, peserta seminar semacam ini biasanya kaum akademisi atau penulis literatur dan bidang terkait yang sudah cukup punya nama.

Tetapi, karena rincian temanya menarik, saya memutuskan untuk melihat komentar orang-orang, dan mengetahui bagaimana respons mereka. Seketika, saya menyesal. Kenapa? Karena banyak yang marah dengan tema seminar tersebut. Saya sendiri belum punya cukup banyak pengetahuan untuk ikut berpendapat, tetapi di kalangan penggemar Tolkien, ternyata ada cukup banyak orang yang berpendapat secara kaku bahwa menganalisis karyanya di luar koridor sastra Eropa dan kajian filosofi Katolik adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Bahkan ada yang bilang kalau Tolkien masih hidup, dia pasti akan marah dan memprotes seminar ini! (padahal teman Facebook saya dari Tolkien Society Jerman yang mengelola situs The Tolkienist, Marcel Aubron-Bülles, malah bilang kalau Tolkien justru akan mencari “pertanyaan besar” dari tema seminar itu, lalu menulis paling tidak 20 halaman makalahnya sendiri).

Saya sendiri berpikir keberadaan fans seperti itulah yang mendorong The Tolkien Society membuat tema ini, karena tujuannya adalah menemukan perspektif baru dalam pembacaan karya-karya Tolkien, terutama dari pembaca dengan latar belakang non-Eropa dan/atau non-Katolik. Karena sudah terlanjur kesal dengan kolom komentar yang mulai panas, akhirnya saya putuskan untuk “curhat” sedikit pada Becky. Saya juga bilang kalau tema seminarnya sepertinya menarik, dan mungkin ada salah satu postingan blog saya yang sedikit nyambung dengan itu.

Tahu-tahu, Becky malah bilang, “Mana postingan blogmu? Coba aku lihat”.

Saya pun memberi tautan ke postingan blog yang tadi saya bahas. Setelah sekitar 15 menit, Becky berkomentar: “Putri, justru inilah jenis makalah yang diinginkan oleh The Tolkien Society untuk disampaikan di seminar! Setahuku, sudut pandang tema yang kamu deskripsikan ini (tradisi terkait penamaan dalam kultur Jawa) nyaris asing bagi banyak anggota komunitas di sini. Ini akan jadi sumbangan makalah yang bagus!”

Sambil mikir lah, kok jadi dia yang semangat, saya mencoba memastikan bahwa komentar itu serius.

“Tapi postingan blog ini simpel banget, lho. Dan referensi yang kucantumkan terlalu sedikit. Kamu yakin?”

“Yakin! Kamu tinggal tambahkan detail-detailnya dan perhalus tulisanmu, lalu tambahkan referensi serta pembahasannya, tetapi intinya tetap seperti ini. Jangan lupa  buat abstraknya dan daftarkan makalahmu lewat situs The Tolkien Society. ‘Kan masih ada waktu sampai 1 Juli, jadi waktumu banyak. Ayolah.”

Saya masih belum menyerah dengan kepesimisan ini, dan bertanya lagi, “Tapi aku tidak akan bisa pergi ke Leeds. Makalahnya ‘kan akan dipresentasikan?”

Becky juga tidak mau menyerah. “Aku akan berusaha menghubungi pembicara yang mau mempresentasikan makalahmu. Acaranya ‘kan hanya sehari, dan makalahnya pendek-pendek, jadi kurasa tidak akan ada masalah kalau salah satu dari mereka membacakan makalahmu.”

Dengan kalimat penyemangat itu, maka saya pun memutuskan untuk menulis abstrak dan mendaftarkan makalah saya. Perkara entah bagaimana saya membuat postingan itu pantas untuk dipresentasikan di seminar saya pikirkan belakangan. Yang penting daftar!

Saya tidak terlalu kaget ketika mendapat email dari panitia bahwa makalah saya diterima, dan saya diharapkan hadir untuk presentasi. Setelah membalas untuk memberitahu bahwa saya tidak akan datang, dan Becky akan membantu saya menemukan pembicara, saya berpikir, “Oke, ini dia. Tidak ada jalan kembali. Menceburlah sekarang, atau mundur dan harga dirimu jatuh. Buktikan kalau kamu bisa”.

Masa-masa Penulisan

Hanya karena makalah saya berasal dari postingan blog, bukan berarti proses penggarapannya gampang. Postingan blog saya singkat dan dibuat dalam bahasa yang relatif santai, sementara makalah tentu menuntut bahasa yang lebih formal. Saya juga bingung bagaimana harus membuat penjelasan pembuka tanpa nyelonong begitu saja ke pembahasan tentang nama Túrin (saya akhirnya memutuskan mengaitkannya dengan tradisi penamaan anak oleh orang tua bangsa Elf, sesuatu yang digambarkan Tolkien secara mendetail serta terkait erat dengan aspek spiritual bahkan profetik).

Saya memutuskan untuk menambah penjelasan terkait tradisi penamaan dalam budaya Jawa lewat sumber-sumber yang lebih baru, seperti penelitian Sahid Teguh Widodo tentang tradisi penamaan di Kudus. Saya juga menambah rujukan terkait aspek sosio-kultural dari nama, seperti dalam makalah Mary V. Seeman yang bertajuk The Unconscious Meaning of Personal Names. Pokoknya saya benar-benar menghayati kembalinya suasana saat menggarap skripsi (lengkap dengan segala keseruan yang biasa macam stres, minum kopi berember-ember, dan makan banyak karena emosi).

31727884_10213104334537845_639047075870277632_n

Dan ketika minum kopi tidak cukup, ngunyah biji kopi lapis cokelat menjadi solusi

Di sela-sela keseruan penggarapan makalah, Becky menghubungi saya dan bilang kalau dia sudah menemukan pembicara. Saya masih sulit percaya kalau ada orang yang mau membuang waktunya menyampaikan makalah saya, tetapi mood saya langsung naik ketika mengetahui bahwa Becky ternyata mengajukan nama Nelson Goering. Saya senang sekali, bukan hanya karena Nelson adalah orang yang tepat untuk membacakan makalah saya (beliau adalah pemegang gelar DPhil bidang filologi dan linguistik dari Universitas Oxford), tetapi juga karena saya pernah membaca tulisan-tulisannya di Academia.edu, dan saya sangat menyukainya.

Setelah membuat grup percakapan khusus kami bertiga di Facebook, saya mulai membicarakan teknis-teknis penulisan dan presentasi. Nelson tidak banyak mengatur saya, tetapi dia beberapa kali menghubungi untuk memastikan cara pengucapan istilah Jawa yang saya masukkan di dalam makalah. Saya juga memutuskan untuk tidak membuat slide, karena teknisnya cukup ruwet (tapi dia meyakinkan saya bahwa beberapa pembicara juga tidak membuat slide, jadi tidak masalah).

Saya bilang pada Nelson: “Aku akan jujur. Kamu sudah punya gelar dalam bidangmu, dan aku sangat kagum dengan tulisan-tulisanmu. Aku mungkin peserta paling amatir dalam seminar ini. Tetapi, aku akan berusaha membuat makalah sebaik mungkin. Anggaplah aku mahasiswamu. Kalau cara menulisku ada yang kurang baik, beri tahu aku dan aku akan perbaiki.”

Nelson mengiyakannya, dan walau saya senang, tetap saja saya langsung grogi ketika melihat teks-teks merah di dalam makalah saya yang direvisinya. Serasa kembali ke masa ketika skripsi saya direvisi, yang justru membuat saya jauh lebih deg-degan ketimbang pembuatan skripsinya sendiri.

revisi

“Revisi ini, ini, ini, dan ini”

“SIAP”

(Dalam hati nyanyi lagu dangdut buatan sendiri berjudul “Kapan Wisuda”)

Beberapa hari sebelum tenggat waktu, saya mengirimkan versi akhir makalah kepada Nelson, mengucapkan terima kasih karena dia dan Becky sudah bersedia membantu saya, dan tidur. Que sera sera, gumam saya sebelum terlelap (dan seketika mimpi dimarahi editor karena lupa mengirimkan dua pekerjaan sekaligus).

Hari-H

Saat Hari-H, saya sibuk menghitung perbedaan waktu antara Kalimantan Timur dan Leeds, lalu mengira-ngira kapan seminar dimulai. Karena tidak ada video rekaman langsung, saya kurang mengerti juga bagaimana Nelson membawakan makalah saya. Untungnya, Dr. Dimitra Fimi membuat sederet laporan pandangan mata di halaman Facebook beliau (Dr. Fimi memang terkenal giat memberi informasi dalam ajang seperti ini).

Jujur, bahkan tanpa hadir di sana, saya sedikit terintimidasi juga. Nama-nama peserta presentasi itu tidak sembarangan. Banyak dari mereka punya gelar akademik tingkat lanjut, atau memang berkecimpung di bidang literatur, sastra, dan linguistik. Saya seorang penggemar Tolkien yang mempelajari semua yang saya ketahui secara otodidak (dan sering harus menabung berbulan-bulan hanya untuk membeli satu buku akademik atau nonfiksi demi bisa belajar lebih dalam tentang karya Tolkien). Paling banter ya menulis di blog. Beberapa kali saya berpikir apakah mereka akan menganggap karya saya sangat amatir.

Aduh, saya kedengaran pesimis sekali ya? Saya sudah membesarkan hati, dan berkata bahwa “Mereka menganggap tulisanku cukup bagus untuk dihadirkan di sini, berarti aku tidak punya alasan untuk merasa begini”. Tetapi tetap saja rasa itu hadir. Untungnya, Becky menyampaikan pada saya bahwa makalah saya diterima dengan cukup baik. Dr. Fimi bahkan berbaik hati mempromosikan blog saya dalam komentarnya:

37395405_10213612053510502_2530357283536240640_n

37631574_10213612058830635_2768829544440791040_n

Notice me, senpai

Banggakah saya? Tentu. Bangga sekali. Walau tidak seberapa, walau saya berpikir makalah saya masih amatiran, tetapi ini membuat saya merasa bahwa kegilaan terhadap karya Tolkien sejak awal masa SMA bukan sesuatu yang “menghabiskan waktu”. Saya ingat ada masa-masa di mana hal ini membuat saya merasa sendirian, terutama ketika saya menyadari bahwa saya baru menghabiskan sejam mencoret-coret analisis ini-itu di buku catatan, dengan ketekunan yang sama seperti siswa yang baru mengerjakan ujian esai tertulis.

Keterlibatan saya dalam seminar ini membuat saya mendadak menerima tawaran pertemanan di Facebook dari anggota-anggota Tolkien Society dari berbagai negara, seperti Jerman, Inggris, Spanyol, AS, dan tentunya yang di Indonesia juga. Status mereka memang “teman Facebook”, yang sering dianggap tidak sama dengan teman sesungguhnya. Oke, bisa diterima, tapi realita berkata bahwa saya tidak akan bisa berbicara dan berinteraksi dengan mereka jika tidak lewat Facebook. Saya tidak hanya bisa mengobrol dan berdiskusi, tetapi juga mendapat banyak info dan referensi menarik, misalnya informasi buku-buku baru atau sudut pandang analisis karya Tolkien yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya.

Saat ini saya masih berusaha mengembalikan ritme ngeblog yang agak melambat. Saya ada beberapa draft untuk digarap. Saya juga berpikir untuk mengunggah makalah ini di Academia.edu, walau saya nanti juga harus ngobrol dengan editor yang mengumpulkan makalah-makalah seminar untuk diterbitkan. Mungkin jika nanti ada ajang serupa, saya akan mencoba mengirim tulisan lagi. Diterima atau tidak, setidaknya saya tahu bahwa saya sudah mencoba, dan berhasil, jadi itu bukan hal mustahil. Dan ada begitu banyak hal baik yang datang dari keberanian itu.

I want to say thank you to so many people: Becky Dillon and Harm Schelhaas for encouraging me to send my paper. Nelson Goering for presenting it. Dimitra Fimi for giving positive feedback and promoting my blog in her page. Mbak Poppy D. Chusfani for connecting me with Becky a few years ago, and overall being a really great person (and fellow Tolkien fan) to interact with. The Tolkien Society for giving me a chance. All fellow Tolkien fans who know me for their positive feedback. And my sister, mother, and all my other friends who also gave me positive responses. No, I didn’t copy this from Academy Award winner speech. It is midnight and I’m too lazy to write smart thank-you remarks because my coffee somehow doesn’t work. So, yes, thank you so much.

Advertisements

Ada Apa di Pameran “Tolkien: Maker of Middle-earth”?

Bodleian Libraries, yang merupakan bagian dari Universitas Oxford, saat ini sedang mengadakan pameran bertajuk Tolkien: Maker of Middle-earth. Pameran yang berlangsung dari tanggal 1 Juni hingga 28 Oktober 2018 ini menampilkan berbagai arsip terkait karya-karya Tolkien, termasuk benda-benda peninggalan seperti potongan manuskrip, ilustrasi, dan karya seni.  Continue reading “Ada Apa di Pameran “Tolkien: Maker of Middle-earth”?”

What It Means to Read “Roverandom” after My Grandmother’s Death

tales from perilous realm

A week ago, after suffering from years of chronic illness, my grandmother finally passed away.  Continue reading “What It Means to Read “Roverandom” after My Grandmother’s Death”

Random Thought: I’d Love to See a Play with Black Hermione

hp_20558_weasley_granger_fl

Ever since the announcement of Harry Potter and the Cursed Child came out, we knew what has made many people clamor: the casting of Noma Dumezweni as Hermione, and Cherrelle Skeete as Rose (Hermione and Ron’s daughter). Many people were used to see Emma Watson as Hermione in all Harry Potter movie adaptations, so the change is understandably jarring. However, while I was honestly a bit taken aback when I saw the news several months ago, I say this loud and clear:

I’d love to see a play with black Hermione.  Continue reading “Random Thought: I’d Love to See a Play with Black Hermione”

Kucing dalam Sejarah Militer Modern

cat

Prajurit Inggris dan anak kucing di Neulette, 1917. Foto oleh John Warwick Brooke

Cat lovers… repudiate the idea that cringing subservience and sidling companionship to man are supreme merits, and stand free to worship aristocratic independence, self-respect, and individual personality joined to extreme grace and beauty as typified by the cool, lithe, cynical, and unconquered lord of the housetops. 

H. P. Lovecraft: Cats and Dogs

Bapak horor kosmik H. P. Lovecraft pernah menulis esai yang menyanjung kucing sebagai peliharaan yang “bagaikan rekan serumah setara”; bahwa memelihara kucing itu sama dengan memiliki teman untuk bicara dan berdiskusi. Saya tidak tahu apakah Lovecraft memang seratus persen serius atau ini hanya soal gaya bahasanya yang ketinggian, tapi Lovecraft memang pencinta kucing, dan beberapa kucing yang disebut dalam esai tersebut hadir dalam hidupnya serta koleganya (Lovecraft memuji kemampuan kucing untuk menghibur diri sendiri, menyebutnya sebagai “(a) limber elf, singing, dancing to itself.”) Akan tetapi, walaupun kucing dan anjing adalah peliharaan populer, kucing kerap “menderita” akibat prasangka. Film-film menyanjung anjing dan menempatkan kucing sebagai hewan peliharaan tokoh antagonis atau pemain kelas dua. Bahkan film Disney Cats and Dogs terang-terangan mengadu anjing dan kucing, dengan anjing sebagai para jagoan dan kucing sebagai penjahat calon penguasa dunia.  Continue reading “Kucing dalam Sejarah Militer Modern”

Indonesia’s Mobile Libraries: Bringing “Reading Virus” to Villages and Islands

luna-si-kuda-pustaka-keliling-3-desa-di-gunung-slamet-pinjamkan-buku-1505269

The box says: “Horse Library (of) Mount Slamet”

Source

In the late 1990s, Luis Soriano stacked books on the back of two donkeys, Alfa and Beto, and brought them to impoverished areas in Magdalena Province, Colombia. An elementary school teacher with degree in Spanish literature and huge love for books, Luis was inspired by a dedicated professor who visited his town twice a month when he was little. He also saw the powerful effect of reading on his students, who were not only from poor regions, but also had witnessed bloody conflicts in their fragile years. His mobile library, Biblio Burro (“Donkey Library”), slowly added its collections through donations; from mere 70 books to more than 4,000 books. Luis experienced setback a few years ago because of an accident that required his leg to be amputated, but he refuses to stop his mission in spreading the power of reading among poor children in his region.  Continue reading “Indonesia’s Mobile Libraries: Bringing “Reading Virus” to Villages and Islands”

Review Album ‘Salam’ Ras Muhamad: Menaruh Indonesia di Peta Reggae Dunia

rasmuhamad1

Pertama-tama, saya akan mengaku: I don’t know jack sh*t about reggae music. Kalau Anda tanya ke saya soal sejarah musik reggae, dinamika perkembangan reggae di Indonesia dan sebagainya, saya paling-paling cuma bisa bilang: “pokoknya reggae itu dari Jamaica dan penyanyi reggae itu ada Bob Marley dan Tony Q dan…oke, kasih saya waktu buat konsultasi sama mbah Google sebentar.” Saya bahkan tahu Ras Muhamad pertama kali justru dari single internasionalnya, Lion Roar, yang termuat di dalam album Salam ini, padahal ia telah merilis beberapa buah album sebelumnya, dan telah malang-melintang di ranah musik reggae selama lebih dari satu dekade secara independen.  Continue reading “Review Album ‘Salam’ Ras Muhamad: Menaruh Indonesia di Peta Reggae Dunia”

Tentang Kabar Kematian Seorang Dosen

Bu Magda

Postingan ini, tak seperti biasanya, bernada amat pribadi. Saya menulisnya beberapa jam setelah mendengar kabar kematian salah satu dosen saya saat kuliah di Fakultas Psikologi UGM, Ibu Magda Bhinnety Etzem. Beliau meninggal dunia pada hari Senin, tanggal 29 Juni lalu, tetapi saya baru mendapat kabarnya hari ini. Saya bukan tipe orang yang emosional dan tidak mudah menangis ketika mendapat berita duka, tapi ketika kabar itu muncul di halaman Facebook saya, rasanya seperti ditonjok tepat di perut, dan saya mengutuki diri sendiri kenapa tidak bisa mengeluarkan air mata. Karena beliau meninggal di Modern Hospital di Guangzhou, jenazah beliau baru akan diterbangkan ke Jogja dan dimakamkan akhir pekan ini. Saya sama sekali tak bisa berangkat ke sana, dan saya sangat menyesalinya, jadi saya akan tumpahkan kesedihan saya di sini dengan menulis mengapa beliau adalah dosen dan bahkan guru terbaik yang pernah saya miliki seumur hidup saya.  Continue reading “Tentang Kabar Kematian Seorang Dosen”

50 Foto Indah Jepretan Steve McCurry: Kaleidoskop Budaya dan Manusia

Saya bukan fotografer dan bukan ahli fotografi, tapi saya tahu fotografer yang baik membuat kita mampu melihat jutaan makna bahkan dari foto yang memotret aktifitas paling sederhana sekalipun. Steve McCurry adalah salah satu yang mampu membuat saya merasakan hal itu, bahkan saat foto-fotonya memuat orang-orang yang ‘hanya’ melakukan aktifitas sehari-hari, yang obyeknya sendiri tidak merasa istimewa. Kebanyakan orang tahu bahwa dialah yang berada di balik foto Sharbat Gula, The Afghan Girl yang terkenal itu:  Continue reading “50 Foto Indah Jepretan Steve McCurry: Kaleidoskop Budaya dan Manusia”

Sang Orator di Mata Sang Budak: Ulasan Buku ‘Imperium’

Sebelum saya mulai, saya tegaskan satu hal: tujuan awal saya membuat postingan ini bukan berdasarkan niat mulia berbagi informasi. Postingan ini saya buat karena rasa bersalah.

Kok bisa? Bayangkan, saya membeli buku Imperium ini pada tahun ketika edisi Bahasa Indonesianya sudah lama beredar, dan edisi yang saya dapat hanya stok sisa yang tidak terbungkus plastik dengan ujung sampul melekuk serta dalam posisi setengah terkubur di antara novel-novel fiksi fantasi bertabur gambar sosok kaum Elf, yang sudah pasti tidak meniru karya-karya J.R.R. Tolkien. Mungkin karena itu pembelian setengah hati, saya baru benar-benar membacanya setelah 6 bulan. Ketika akhirnya membacanya hingga habis, saya baru sadar bahwa selama 6 bulan itu saya melakukan kebodohan tingkat parlemen. “6 bulan tersia-sia begitu saja, non!”   Continue reading “Sang Orator di Mata Sang Budak: Ulasan Buku ‘Imperium’”