Tolkien, Walrus, dan Kamus Oxford

walrus-518233_960_720

Gambar: Pixabay

“Bekerja di sana selama dua tahun memberiku lebih banyak ilmu dibanding periode lain dalam hidupku”, ujar J. R. R. Tolkien suatu ketika, menggambarkan pengalamannya bekerja sebagai asisten Henry Bradley, editor penyusun Oxford English Dictionary selama tahun 1919 dan 1920. Kesan positif ini tidak berlebihan, mengingat Tolkien adalah seorang peminat bahasa. Pekerjaan menyusun kamus Oxford ini pun diperolehnya segera setelah dirinya ditarik dari medan Perang Dunia Pertama, sehingga wajar jika dirinya merasa sangat bahagia bisa kembali ke bahasa dan buku-buku setelah menghadapi kengerian medan perang. Lanjutkan membaca “Tolkien, Walrus, dan Kamus Oxford”

Dari Blog ke Seminar: Kisah Artikel yang “Terbang” ke Leeds

Tanggal 1 Juli 2018, artikel saya yang berjudul The Names of Túrin Turambar and “Spiritual Burden” Concept in Javanese Naming Philosophy dibacakan di ajang Tolkien Society Seminar 2018 yang berlangsung di Leeds. Saya bilang “dibacakan” karena memang saya tidak ada di sana untuk mempresentasikannya sendiri, sehingga otomatis menjadikan saya sebagai satu-satunya peserta yang tidak bisa foto bareng sambil pamer kartu peserta dan latar belakang logo Tolkien Society, dan tentunya…tidak mendapat jatah konsumsi (*garuk tanah*).

tolkien society seminar 2018

My superpower: invisibility

Nelson Goering, ketiga dari kanan (di belakang), membawakan makalah saya

Sumber

Lalu, bagaimana ceritanya tulisan yang asalnya dari postingan blog singkat itu bisa terbang meninggalkan pemiliknya di Kalimantan Timur untuk eksis di Leeds?

Berikut ceritanya.

Lanjutkan membaca “Dari Blog ke Seminar: Kisah Artikel yang “Terbang” ke Leeds”

Ada Apa di Pameran “Tolkien: Maker of Middle-earth”?

Bodleian Libraries, yang merupakan bagian dari Universitas Oxford, saat ini sedang mengadakan pameran bertajuk Tolkien: Maker of Middle-earth. Pameran yang berlangsung dari tanggal 1 Juni hingga 28 Oktober 2018 ini menampilkan berbagai arsip terkait karya-karya Tolkien, termasuk benda-benda peninggalan seperti potongan manuskrip, ilustrasi, dan karya seni.  Lanjutkan membaca “Ada Apa di Pameran “Tolkien: Maker of Middle-earth”?”

What It Means to Read “Roverandom” after My Grandmother’s Death

tales from perilous realm

A week ago, after suffering from years of chronic illness, my grandmother finally passed away.  Lanjutkan membaca “What It Means to Read “Roverandom” after My Grandmother’s Death”

Kucing dalam Sejarah Militer Modern

cat
Prajurit Inggris dan anak kucing di Neulette, 1917. Foto oleh John Warwick Brooke

Cat lovers… repudiate the idea that cringing subservience and sidling companionship to man are supreme merits, and stand free to worship aristocratic independence, self-respect, and individual personality joined to extreme grace and beauty as typified by the cool, lithe, cynical, and unconquered lord of the housetops. 

H. P. Lovecraft: Cats and Dogs

Bapak horor kosmik H. P. Lovecraft pernah menulis esai yang menyanjung kucing sebagai peliharaan yang “bagaikan rekan serumah setara.” Saya tidak tahu apakah Lovecraft memang serius atau ini hanya soal gaya bahasanya yang ketinggian, tapi Lovecraft memang penyayang kucing, dan beberapa kucing yang disebut dalam esai tersebut hadir dalam hidupnya (Lovecraft memuji kemampuan kucing untuk menghibur diri sendiri, menyebutnya sebagai “(a) limber elf, singing, dancing to itself.”) Akan tetapi, walau kucing dan anjing adalah peliharaan populer, kucing kerap “menderita” akibat prasangka. Film-film menyanjung anjing dan menempatkan kucing sebagai hewan peliharaan tokoh antagonis atau pemain kelas dua. Bahkan film Disney Cats and Dogs terang-terangan mengadu anjing dan kucing, dengan anjing sebagai para jagoan dan kucing sebagai penjahat calon penguasa dunia. 

Lanjutkan membaca “Kucing dalam Sejarah Militer Modern”

Indonesia’s Mobile Libraries: Bringing “Reading Virus” to Villages and Islands

luna-si-kuda-pustaka-keliling-3-desa-di-gunung-slamet-pinjamkan-buku-1505269
The box says: “Horse Library (of) Mount Slamet”

Source

In the late 1990’s, Luis Soriano stacked books on the back of two donkeys, Alfa and Beto, and brought them to impoverished areas in Magdalena Province, Colombia. An elementary school teacher with Spanish literature degree and a huge love for books, Luis was inspired by a dedicated professor who visited his town twice a month when he was little. He also saw the powerful effect of reading on his students, who lived in poor regions and have witnessed bloody conflicts in their fragile years. His mobile library, Biblio Burro (“Donkey Library”), slowly added its collections through donations; from mere 70 books to more than 4,000 books. Luis experienced setback a few years ago because of an accident that required his leg to be amputated, but he refused to stop his mission in spreading the power of reading among poor children in his region. 

Lanjutkan membaca “Indonesia’s Mobile Libraries: Bringing “Reading Virus” to Villages and Islands”

Tentang Kabar Kematian Seorang Dosen

Bu Magda

Postingan ini, tak seperti biasanya, bernada amat pribadi. Saya menulisnya beberapa jam setelah mendengar kabar kematian salah satu dosen saya saat kuliah di Fakultas Psikologi UGM, Ibu Magda Bhinnety Etzem. Beliau meninggal dunia pada hari Senin, tanggal 29 Juni lalu, tetapi saya baru mendapat kabarnya hari ini. Saya bukan tipe orang yang emosional dan tidak mudah menangis ketika mendapat berita duka, tapi ketika kabar itu muncul di halaman Facebook saya, rasanya seperti ditonjok tepat di perut, dan saya mengutuki diri sendiri kenapa tidak bisa mengeluarkan air mata. Karena beliau meninggal di Modern Hospital di Guangzhou, jenazah beliau baru akan diterbangkan ke Jogja dan dimakamkan akhir pekan ini. Saya sama sekali tak bisa berangkat ke sana, dan saya sangat menyesalinya, jadi saya akan tumpahkan kesedihan saya di sini dengan menulis mengapa beliau adalah dosen dan bahkan guru terbaik yang pernah saya miliki seumur hidup saya.  Lanjutkan membaca “Tentang Kabar Kematian Seorang Dosen”

50 Foto Indah Jepretan Steve McCurry: Kaleidoskop Budaya dan Manusia

Saya bukan fotografer dan bukan ahli fotografi, tapi saya tahu fotografer yang baik membuat kita mampu melihat jutaan makna bahkan dari foto yang memotret aktifitas paling sederhana sekalipun. Steve McCurry adalah salah satu yang mampu membuat saya merasakan hal itu, bahkan saat foto-fotonya memuat orang-orang yang ‘hanya’ melakukan aktifitas sehari-hari, yang obyeknya sendiri tidak merasa istimewa. Kebanyakan orang tahu bahwa dialah yang berada di balik foto Sharbat Gula, The Afghan Girl yang terkenal itu:  Lanjutkan membaca “50 Foto Indah Jepretan Steve McCurry: Kaleidoskop Budaya dan Manusia”

Sang Orator di Mata Sang Budak: Ulasan Buku ‘Imperium’

Sebelum saya mulai, saya tegaskan satu hal: tujuan awal saya membuat postingan ini bukan berdasarkan niat mulia berbagi informasi. Postingan ini saya buat karena rasa bersalah.

Kok bisa? Bayangkan, saya membeli buku Imperium ini pada tahun ketika edisi Bahasa Indonesianya sudah lama beredar, dan edisi yang saya dapat hanya stok sisa yang tidak terbungkus plastik dengan ujung sampul melekuk serta dalam posisi setengah terkubur di antara novel-novel fiksi fantasi bertabur gambar sosok kaum Elf, yang sudah pasti tidak meniru karya-karya J.R.R. Tolkien. Mungkin karena itu pembelian setengah hati, saya baru benar-benar membacanya setelah 6 bulan. Ketika akhirnya membacanya hingga habis, saya baru sadar bahwa selama 6 bulan itu saya melakukan kebodohan tingkat parlemen. “6 bulan tersia-sia begitu saja, non!”   Lanjutkan membaca “Sang Orator di Mata Sang Budak: Ulasan Buku ‘Imperium’”