The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi

Shibboleth (noun)

a : a use of language regarded as distinctive of a particular group.
b : a custom or usage regarded as distinguishing one group from others .

Merriam-Webster Online Dictionary

Bahasa adalah hal yang memiliki kekuatan besar; begitu besar sehingga kita mungkin tak merasakannya hanya karena kita menggunakannya setiap hari. Jangankan sepotong kata yang menghilang; perbedaan ejaan yang kedengarannya sepele sekalipun bisa menjadi pemicu untuk berbagai peristiwa penting. J.R.R. Tolkien, seorang filolog yang menekuni bahasa seumur hidupnya, sangat memahami hal ini, sehingga menuangkannya dalam salah satu manuskripnya untuk Middle-earth legendarium, yaitu sebuah esai berjudul The Shibboleth of Fëanor. Tolkien menggambarkan bagaimana perbedaan ejaan atau bunyi yang kedengarannya sepele dapat membuat pihak tertentu merasa terancam, bahkan menggunakannya sebagai upaya membuat klaim politik.  Continue reading “The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi”

Advertisements

Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales

Tulisan ini dimuat di situs Jakarta Beat pada tanggal 6 Februari 2017, dengan penyuntingan.

800px-donato_giancola_-_beren_and_luthien_in_the_court_of_thingol_and_melian

Beren and Lúthien in the Court of Thingol and Melian, oleh Donato Giancola

Kisah Beren dan Lúthien adalah salah satu yang paling berkesan dalam legendarium Middle-earth, serta kerap dikutip dan dikaji. Selain merupakan contoh kisah romansa kepahlawanan dengan karakter berkesan (genre yang tidak pernah mati), kisah ini juga menjadi penentu berbagai peristiwa serta kelahiran tokoh-tokoh penting yang kelak akan ditemui pembaca dalam kisah-kisah selanjutnya, termasuk The Lord of the Rings. Kisah Beren dan Lúthien juga unik karena memorakporandakan stereotip khas romansa kepahlawanan; dalam kisah ini, Tolkien menjadikan Lúthien, sang putri, sebagai penyelamat Beren dan bahkan sosok yang berperan meruntuhkan benteng “si penjahat,” alih-alih sebaliknya.  Continue reading “Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales”

Keajaiban dan Renungan dalam Letters from Father Christmas (Postingan Selamat Natal dari Saya)

12-16-00712_jrr_tolkien_letters_father_christmas_002

Di akhir tahun yang katanya tahun dengan user review paling nggak enak ini, saya kepingin membuat postingan yang berfungsi sebagai kartu ucapan Natal buat para pembaca yang merayakan. Continue reading “Keajaiban dan Renungan dalam Letters from Father Christmas (Postingan Selamat Natal dari Saya)”

Tentang Christopher Tolkien (Merayakan Ulang Tahun Beliau yang ke-92)

cwwckrgxgael3fy

Jujur, saya bukan orang yang terlalu memerhatikan nama seorang penyunting alias editor kalau sedang membaca buku, kecuali kalau namanya ditempel di sampul buku (itu juga nggak akan saya ingat-ingat lagi kecuali kalau editor itu juga seorang penulis yang lumayan ngetop). Makanya, saya sendiri heran kenapa editor yang satu ini begitu berkesan buat saya, sampai saya mau repot-repot mengingat kapan beliau ulang tahun.

Tentu saja, saya bicara soal Christopher Tolkien.  Continue reading “Tentang Christopher Tolkien (Merayakan Ulang Tahun Beliau yang ke-92)”

Cram, Lembas dan Hardtack: Roti Perjalanan dalam Karya Tolkien

lembas_bread

Layaknya semua jenis fiksi fantasi dengan Dunia Sekunder yang terkonstruksi dengan baik, legendarium Middle-earth juga memiliki aspek-aspek yang sama dengan dunia kita, termasuk makanan. Tentu saja kita tidak bisa bicara soal Middle-earth tanpa menyentuh makanan, apalagi kalau Anda merasa seperti Hobbit di dalam hati (there’s nothing wrong with second breakfast and two-times dinner, you know). Akan tetapi, beberapa jenis makanan memiliki fungsi lebih dari sekadar pengisi perut; mereka memiliki fungsi ekstra sebagai penunjang perjalanan, karena kalau Anda ingin merasakan jadi pemeran utama dalam LOTR dan The Hobbit, siap-siaplah jalan yang jauh tanpa menemukan Alfam*rt atau Indom*ret di setiap tikungan! Tentu saja, saya bicara soal makanan seperti lembas dan cram. Continue reading “Cram, Lembas dan Hardtack: Roti Perjalanan dalam Karya Tolkien”

Tentang Hobbit, Memori, dan Peran Catatan Sejarah

red-book-1

Hobbit adalah ras yang dianggap “kurang istimewa” dibanding Elf, Dwarf atau Manusia, terutama karena tidak banyak yang diketahui tentang mereka. Walau secara umum genealogi Hobbit berakar dari Manusia, tidak diketahui juga bagaimana tepatnya pembagian ini terjadi. Hobbit adalah kaum tersembunyi yang tidak ingin cara hidup mereka yang sederhana menjadi kacau karena pengaruh dunia luar; mereka lebih suka hidup damai ketimbang mencari keagungan. Ini sebabnya sejarah kaum Hobbit (Halfling) menjadi sesuatu yang samar-samar berada di ingatan, atau hanya diingat melalui cerita-cerita yang berbau “konon,” walau kaum Hobbit sendiri gemar melacak cabang keluarga di antara mereka sendiri. Karena itu, luar biasa jika mempertimbangkan bahwa Buku Merah Westmarch, yang merupakan salah satu manuskrip sejarah terpenting di Middle Earth, justru dimulai oleh sesosok Hobbit.  Continue reading “Tentang Hobbit, Memori, dan Peran Catatan Sejarah”

Melkor dan Fëanor: Tak Sama Tapi Serupa

Saya ingat membaca sebuah manga ketika SMP, dimana ada dua karakter murid sekolah yang sama-sama mati gara-gara saling membenci dan selalu bersaing untuk segala hal, mulai dari peringkat di sekolah hingga masalah cowok. Karakter gaib yang mereka temui setelah kematian mereka justru tertawa mendengar cerita itu dan berkata: “manusia memang aneh, cenderung membenci seseorang yang justru sangat mirip dengannya.” Bertahun-tahun kemudian, saya ingin tertawa ketika membaca The Silmarillion dan menyadari bahwa hal ini terulang lagi dalam wujud dua karakter yang nampaknya saling berlawanan: Melkor dan Fëanor.

800px-Joel_Kilpatrick_-_Morgoth_and_Fingolfin

Morgoth and Fingolfin, oleh Joel Kilpatrick

Continue reading “Melkor dan Fëanor: Tak Sama Tapi Serupa”

Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?

The Silmarillion memberi informasi tentang deskripsi tugas para Valar. Banyak dari mereka punya definisi yang cukup jelas: Manwë, penguasa angkasa dan udara. Ulmo, penguasa perairan. Yavanna, personifikasi ibu bumi. Namo, aulanya menerima jiwa-jiwa mereka yang terbunuh. Tapi dari dulu sampai sekarang, ada satu nama yang menggelitik rasa penasaran saya: Nienna. Wanita yang menangis. Ayolah, apa tugas Valar yang kemampuan istimewanya adalah menangis?

Sekilas mudah “menuduh” Nienna sebagai perwujudan stereotip perempuan cengeng; wanita yang deskripsi tugasnya adalah “menangis” dan “berduka cita” tentu kalah keren dibanding Valar yang deskripsinya lebih gagah atau mencerminkan kekuasaan dan kekuatan. Tetapi, kalau Anda sudah baca analisis karakter saya terhadap Finarfin si raja dadakan, Anda akan ingat ini: mengobati atau membangun kembali apa yang sudah hancur, membilas luka yang timbul karena kehancuran, semua itu jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Itulah sebabnya Nienna dengan deskripsinya yang sekilas tidak jelas itu memegang peran yang luar biasa.  Continue reading “Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?”

Comparing the Indonesian Edition Covers of Lord of the Rings

Gramedia Pustaka Utama, a Jakarta-based publisher, has announced the republication of Indonesian edition of Lord of the Rings on 29 August 2016. The books have new covers like these:  Continue reading “Comparing the Indonesian Edition Covers of Lord of the Rings”

“Selamat, Finarfin, Anda Sekarang Raja!” “…waduh.”

446px-Elena_Kukanova_-_Finarfin

Sketch of Finarfin, oleh Elena Kukanova

Oke, dialog di atas bukan naskah asli yang ditulis Tolkien, dan saya bahkan tidak yakin coretan-coretan draft The Silmarillion beliau mengandung kalimat di atas, dan kalau saya Christopher Tolkien, membikin dialog seperti itu mungkin akan membuat kuping saya disentil oleh bapak saya dari alam kubur. Tapi saya suka membayang-bayangkan itulah yang terjadi saat Finarfin menyadari dia harus memimpin sekelompok kecil rakyat Noldor yang tersisa, di negeri yang tidak jelas nasibnya, sementara sebagian besarnya berangkat berperang dan membunuh rakyat tidak berdosa dalam perjalanan, dengan alasan, ehm, patriotisme.

Yap, di luar komentar umum bahwa Finarfin tidak se”keren” saudara-saudaranya seperti Fëanor atau Fingolfin, Finarfin adalah tokoh yang mencerminkan situasi nyata di dunia kita; tokoh dengan opini yang berlandaskan akal sehat serta belas kasih alih-alih kemarahan serta patriotisme buta, tapi justru malah membuatnya tidak populer dan bahkan dihujat. Padahal, Finarfin adalah tokoh yang memiliki soft strength yang tidak boleh diabaikan.  Continue reading ““Selamat, Finarfin, Anda Sekarang Raja!” “…waduh.””