Cram, Lembas dan Hardtack: Roti Perjalanan dalam Karya Tolkien

lembas_bread

Layaknya semua jenis fiksi fantasi dengan Dunia Sekunder yang terkonstruksi dengan baik, legendarium Middle-earth juga memiliki aspek-aspek yang sama dengan dunia kita, termasuk makanan. Tentu saja kita tidak bisa bicara soal Middle-earth tanpa menyentuh makanan, apalagi kalau Anda merasa seperti Hobbit di dalam hati (there’s nothing wrong with second breakfast and two-times dinner, you know). Akan tetapi, beberapa jenis makanan memiliki fungsi lebih dari sekadar pengisi perut; mereka memiliki fungsi ekstra sebagai penunjang perjalanan, karena kalau Anda ingin merasakan jadi pemeran utama dalam LOTR dan The Hobbit, siap-siaplah jalan yang jauh tanpa menemukan Alfam*rt atau Indom*ret di setiap tikungan! Tentu saja, saya bicara soal makanan seperti lembas dan cram. Continue reading “Cram, Lembas dan Hardtack: Roti Perjalanan dalam Karya Tolkien”

Advertisements

Tentang Hobbit, Memori, dan Peran Catatan Sejarah

red-book-1

Hobbit adalah ras yang dianggap “kurang istimewa” dibanding Elf, Dwarf atau Manusia, terutama karena tidak banyak yang diketahui tentang mereka. Walau secara umum genealogi Hobbit berakar dari Manusia, tidak diketahui juga bagaimana tepatnya pembagian ini terjadi. Hobbit adalah kaum tersembunyi yang tidak ingin cara hidup mereka yang sederhana menjadi kacau karena pengaruh dunia luar; mereka lebih suka hidup damai ketimbang mencari keagungan. Ini sebabnya sejarah kaum Hobbit (Halfling) menjadi sesuatu yang samar-samar berada di ingatan, atau hanya diingat melalui cerita-cerita yang berbau “konon,” walau kaum Hobbit sendiri gemar melacak cabang keluarga di antara mereka sendiri. Karena itu, luar biasa jika mempertimbangkan bahwa Buku Merah Westmarch, yang merupakan salah satu manuskrip sejarah terpenting di Middle Earth, justru dimulai oleh sesosok Hobbit.  Continue reading “Tentang Hobbit, Memori, dan Peran Catatan Sejarah”

Melkor dan Fëanor: Tak Sama Tapi Serupa

Saya ingat membaca sebuah manga ketika SMP, dimana ada dua karakter murid sekolah yang sama-sama mati gara-gara saling membenci dan selalu bersaing untuk segala hal, mulai dari peringkat di sekolah hingga masalah cowok. Karakter gaib yang mereka temui setelah kematian mereka justru tertawa mendengar cerita itu dan berkata: “manusia memang aneh, cenderung membenci seseorang yang justru sangat mirip dengannya.” Bertahun-tahun kemudian, saya ingin tertawa ketika membaca The Silmarillion dan menyadari bahwa hal ini terulang lagi dalam wujud dua karakter yang nampaknya saling berlawanan: Melkor dan Fëanor.

800px-Joel_Kilpatrick_-_Morgoth_and_Fingolfin

Morgoth and Fingolfin, oleh Joel Kilpatrick

Continue reading “Melkor dan Fëanor: Tak Sama Tapi Serupa”

Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?

The Silmarillion memberi informasi tentang deskripsi tugas para Valar. Banyak dari mereka punya definisi yang cukup jelas: Manwë, penguasa angkasa dan udara. Ulmo, penguasa perairan. Yavanna, personifikasi ibu bumi. Namo/Mandos, aulanya menerima jiwa-jiwa mereka yang terbunuh. Tapi dari dulu sampai sekarang, ada satu nama yang menggelitik rasa penasaran saya: Nienna. Wanita yang menangis. Ayolah, apa tugas Valar yang kemampuan istimewanya adalah menangis?

Sekilas mudah “menuduh” Nienna sebagai perwujudan stereotip perempuan cengeng; wanita yang deskripsi tugasnya adalah “menangis” dan “berduka cita” tentu kalah keren dibanding Valar yang deskripsinya lebih gagah atau mencerminkan kekuasaan dan kekuatan. Tetapi, kalau Anda sudah baca analisis karakter saya terhadap Finarfin si raja dadakan, Anda akan ingat ini: mengobati atau membangun kembali apa yang sudah hancur, membilas luka yang timbul karena kehancuran, semua itu jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Itulah sebabnya Nienna dengan deskripsinya yang sekilas tidak jelas itu memegang peran yang luar biasa.  Continue reading “Nienna dalam Legendarium Tolkien: Mengapa Dia Selalu Menangis?”

Comparing the Indonesian Edition Covers of Lord of the Rings

Gramedia Pustaka Utama, a Jakarta-based publisher, has announced the republication of Indonesian edition of Lord of the Rings on 29 August 2016. The books have new covers like these:  Continue reading “Comparing the Indonesian Edition Covers of Lord of the Rings”

“Ini Bukan Eat, Pray, Love”: Reportase Suki Kim di Korea Utara, dan Masalah Setelahnya

Catatan: Saya menemukan artikel ini di situs The New Republic tanggal 27 Januari 2016 dengan judul The Reluctant Memoirist. Artikel ini berkisah tentang jurnalis dan novelis Amerika berdarah Korea Selatan, Suki Kim, yang melakukan jurnalisme investigasi di Korea Utara, membawa hasilnya pulang untuk dibuat buku berjudul Without You, There Is No Us: My Time with the Sons of North Korea’s Elite. Akan tetapi, kisahnya tidak berjalan mulus justru ketika dia berurusan dengan penerbitnya di Amerika. Plus, dia harus berhadapan dengan keadaan tak mengenakkan akibat statusnya sebagai jurnalis wanita kulit berwarna. Menurut saya sangat menarik, jadi saya putuskan untuk menerjemahkannya di sini, seperti yang pernah saya lakukan pada wawancara Tolkien dengan The Telegraph. Tautan ke artikel asli saya sertakan di akhir.

Artikel oleh Suki Kim.

Ilustrasi oleh Dadu Shin.  Continue reading ““Ini Bukan Eat, Pray, Love”: Reportase Suki Kim di Korea Utara, dan Masalah Setelahnya”

“Selamat, Finarfin, Anda Sekarang Raja!” “…waduh.”

446px-Elena_Kukanova_-_Finarfin

Sketch of Finarfin, oleh Elena Kukanova

Oke, dialog di atas bukan naskah asli yang ditulis Tolkien, dan saya bahkan tidak yakin coretan-coretan draft The Silmarillion beliau mengandung kalimat di atas, dan kalau saya Christopher Tolkien, membikin dialog seperti itu mungkin akan membuat kuping saya disentil oleh bapak saya dari alam kubur. Tapi saya suka membayang-bayangkan itulah yang terjadi saat Finarfin menyadari dia harus memimpin sekelompok kecil rakyat Noldor yang tersisa, di negeri yang tidak jelas nasibnya, sementara sebagian besarnya berangkat berperang dan membunuh rakyat tidak berdosa dalam perjalanan, dengan alasan, ehm, patriotisme.

Yap, di luar komentar umum bahwa Finarfin tidak se”keren” saudara-saudaranya seperti Fëanor atau Fingolfin, Finarfin adalah tokoh yang mencerminkan situasi nyata di dunia kita; tokoh dengan opini yang berlandaskan akal sehat serta belas kasih alih-alih kemarahan serta patriotisme buta, tapi justru malah membuatnya tidak populer dan bahkan dihujat. Padahal, Finarfin adalah tokoh yang memiliki soft strength yang tidak boleh diabaikan.  Continue reading ““Selamat, Finarfin, Anda Sekarang Raja!” “…waduh.””

Tentang Naga-naga Middle-earth: Lebih dari Sekadar “Monster”

738px-j-r-r-_tolkien_-_dragon

Ilustrasi naga oleh J. R. R. Tolkien, dibuat sekitar tahun 1927/1928

Naga adalah makhluk yang muncul di berbagai cerita rakyat dan mitologi, namun sebagai orang Timur, saya tumbuh dengan dua macam naga dalam cerita-cerita rakyat dan fantasi: naga-naga Timur yang menyimbolkan kebijaksanaan, kesuburan, serta berbagai kualitas positif lainnya, dan naga-naga dari kisah-kisah Barat yang membakar desa, menculik putri raja, serta membunuh manusia dengan napas apinya. Jadi, saya agak geli sekaligus takjub ketika membaca The Hobbit untuk pertama kali dan melihat deskripsi Smaug, serta adegan percakapannya dengan Bilbo, yang rasanya “kok bukan naga banget.”

Ini bisa dipahami kalau melihat naga-naga yang diciptakan Tolkien sebagai bagian dari Middle Earth legendarium. Sesuai dengan embel-embel legendarium tersebut, Tolkien menciptakan sebuah dunia dimana legenda memiliki legenda, dan berbagai tokoh, tempat serta makhluk hidup hanya berupa gaung yang separuh diingat oleh para karakter dalam buku-bukunya. Naga muncul dalam The Silmarillion dan The Hobbit, namun naga-naga dalam The Silmarillion adalah bagian dari legenda masa lalu, sedangkan Smaug dibahas dengan detail karena dia adalah satu dari yang terakhir; naga yang muncul di Abad Ketiga, dan oleh para pembaca The Hobbit serta tokoh seperti Bilbo Baggins dianggap sebagai “naga kontemporer.” Keunikan naga dalam dunia rekaan Tolkien justru karena kisah mereka cenderung tersamar, dan ada pengaruh unik dari legenda serta mitos Nordik, yang juga menjadi minat akademis Tolkien.  Continue reading “Tentang Naga-naga Middle-earth: Lebih dari Sekadar “Monster””

Random Thought: I’d Love to See a Play with Black Hermione

hp_20558_weasley_granger_fl

Ever since the announcement of Harry Potter and the Cursed Child came out, we knew what has made many people clamor: the casting of Noma Dumezweni as Hermione, and Cherrelle Skeete as Rose (Hermione and Ron’s daughter). Many people were used to see Emma Watson as Hermione in all Harry Potter movie adaptations, so the change is understandably jarring. However, while I was honestly a bit taken aback when I saw the news several months ago, I say this loud and clear:

I’d love to see a play with black Hermione.  Continue reading “Random Thought: I’d Love to See a Play with Black Hermione”

Kucing dalam Sejarah Militer Modern

cat

Prajurit Inggris dan anak kucing di Neulette, 1917. Foto oleh John Warwick Brooke

Cat lovers… repudiate the idea that cringing subservience and sidling companionship to man are supreme merits, and stand free to worship aristocratic independence, self-respect, and individual personality joined to extreme grace and beauty as typified by the cool, lithe, cynical, and unconquered lord of the housetops. 

H. P. Lovecraft: Cats and Dogs

Bapak horor kosmik H. P. Lovecraft pernah menulis esai yang menyanjung kucing sebagai peliharaan yang “bagaikan rekan serumah setara”; bahwa memelihara kucing itu sama dengan memiliki teman untuk bicara dan berdiskusi, bukan teman serba penurut. Walaupun saya tidak tahu apakah Lovecraft memang seratus persen serius atau ini hanya soal gaya bahasanya yang tinggi, tapi Lovecraft memang pecinta kucing, dan beberapa kucing yang disebut dalam esai tersebut hadir dalam hidupnya serta koleganya (dalam esai itu, Lovecraft memuji kemampuan kucing untuk menghibur diri sendiri, menyebutnya sebagai “(a) limber elf, singing, dancing to itself.”) Akan tetapi, walaupun kucing dan anjing adalah peliharaan populer, kucing kerap “menderita” akibat prasangka. Film-film aksi menyanjung anjing dan menempatkan kucing sebagai hewan peliharaan tokoh antagonis atau pemain kelas dua. Bahkan film Disney Cats and Dogs terang-terangan mengadu anjing dan kucing, dengan anjing sebagai para jagoan dan kucing sebagai penjahat calon penguasa dunia.  Continue reading “Kucing dalam Sejarah Militer Modern”