Tollywood, The Beatles, Ralph Bakshi, dan Peter Jackson: Sejarah Adaptasi LOTR dan The Hobbit


Kita tahu bahwa film The Lord of the Rings yang terkenal itu hadir pertama kali pada tahun 2001, dengan Fellowship of the Rings sebagai film bagian pertama yang langsung menuai banyak pujian, dan Return of the Kings sebagai bagian terakhir yang menyabet 11 Oscar. Walaupun trilogi The Hobbit yang baru main ini lebih banyak menerima kritikan (sampai-sampai ada fans serius yang mengedit sendiri ketiga film itu menjadi satu film yang hanya berdurasi 4 jam), hal itu biasanya karena orang membandingkannya dengan trilogi terdahulu, yang memang sangat sukses. Akan tetapi, bicara soal adaptasi film LOTR, hal ini bukan inisiatif Peter Jackson dan New Line Cinema saja lho. Usaha adaptasi sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 1968, ketika Tolkien menjual hak adaptasi Lord of the Rings ke United Artists. 

“Wah, Tolkien ternyata menjual sendiri hak adaptasi bukunya? Nggak salah?” Begitu mungkin yang ada di pikiran Anda, terutama yang sudah membaca artikel saya tentang ditolaknya segala bentuk kemungkinan rencana adaptasi karya Tolkien lainnya. Akan tetapi, ada banyak sekali cerita di balik berbagai usaha adaptasi ini, termasuk mengapa berbagai adaptasi karya di awal cenderung batal atau kurang diterima dengan baik, hingga akhirnya baru Peter Jackson saja yang bisa memberi pengalaman sinematik yang cenderung memuaskan bagi karya-karya Tolkien.

Adaptasi Awal Karya-karya Tolkien

Tolkien sebenarnya tidak menolak bentuk adaptasi yang berbeda dari karya-karyanya. Dalam salah satu suratnya kepada Milto Waldman, Tolkien menulis bahwa pada dasarnya, karya-karya yang dibuatnya terkait Middle Earth dimaksudkan untuk memberi ruang bagi bentuk penceritaan lain seperti musik dan lukisan. Karya Tolkien sudah memberi inspirasi bagi seniman seperti Pauline Baynes, ilustrator yang membuat ilustrasi untuk buku Tolkien yang lain yaitu The Adventures of Tom Bombadill dan Farmer Giles of Ham, Donald Swann yang membuat musik untuk The Road Goes Ever On yang merupakan komposisi musik yang terinspirasi dari puisi-puisi Tolkien, dan bahkan Ratu Margrethe II dari Denmark yang sampai mengirimkan beberapa ilustrasi dari Lord of the Rings pada Tolkien, yang sangat mengaguminya. Ilustrasi sang ratu ini kini menghiasi edisi khusus folio deluxe buku-buku Tolkien serta versi terbitan di Denmark.

001464_11

Salah satu ilustrasi buatan Ratu Margrethe II untuk edisi folio The Return of the King, menggunakan nama alias Ingahild Grathmer

Akan tetapi, hal ini bukan berarti Tolkien adalah orang yang gampang legowo bahkan senang asal karyanya diadaptasi. Misalnya, beliau pernah menolak proposal ilustrator Horus Engels, yang ingin menggarap ilustrasi untuk The Hobbit versi Jerman di tahun 1946, karena penggambaran tokoh-tokohnya dianggap tak sesuai dengan citra karakter yang ditonjolkan Tolkien. Menurutnya, ilustrasi Engels terlalu berkiblat pada Disney, dengan citra Bilbo yang digambarkan seperti makhluk cebol konyol dan Gandalf yang digambarkan sebagai karakter pecinta kesenangan yang terlalu vulgar, bukan karakter penyihir pengembara dengan kebijaksanaan tersembunyi ala Odin seperti yang diinginkan Tolkien. Bahkan, beliau sendiri pernah berpendapat bahwa karyanya memang dibuat untuk dinikmati dalam bentuk tulisan, dan adaptasi yang berupa drama atau pertunjukan akan membunuh esensinya.

Pada tahun 1957, Forest Ackerman dan Morton Zimmerman sempat mengirimkan proposal untuk mengadaptasi LOTR menjadi film yang memadukan animasi dan live action, dimana mereka mengirimkan storyboard dan naskah. Tolkien sebenarnya suka melihat bagaimana mereka menuangkan bentuk dan sosok karakter ke dalam figur-figur sesuai dengan yang diinginkannya, dan ia berkata pada penerbitnya bahwa ia mau saja jika mereka hendak mengadaptasi karyanya, asalkan mereka “terbuka terhadap kritik.” Akan tetapi, begitu melihat naskahnya, beliau langsung protes karena naskahnya banyak mengalami perubahan yang merusak esensi adegan serta karakterisasi tokoh-tokohnya.

Tolkien juga menganggap bahwa naskah yang ditulis Ackerman sangat ceroboh dan seolah ditulis oleh mereka yang belum pernah membaca bukunya dan menyerap isinya dengan seksama. Plus, para karakter utama pun diberi banyak tambahan adegan yang tidak perlu (misalnya, Sam meninggalkan Frodo di sarang Shelob, Frodo menjadi ‘gila’ di akhir cerita, dan Gandalf menjadi penyihir dengan kemampuan yang digambarkan secara berlebihan sehingga kesannya malah jadi seperti superhero). Akhirnya, proposal Ackerman dan Zimmerman pun ditolak.

Tahukah Anda, bahwa ada kemungkinan orang-orang di awal tahun 1960-an akan bisa menonton film LOTR yang dibintangi The Beatles? Ya, rupanya sebelum Tolkien menjual hak adaptasi karyanya, grup ternama ini sempat menghampiri sutradara Stanley Kubrick untuk menawarinya menggarap film LOTR dengan mereka sebagai bintangnya. John Lennon ingin menjadi Gollum. Paul McCartney ingin menjadi Frodo. George Harrison ingin menjadi Gandalf, dan Ringo ingin menjadi Sam. Akan tetapi, Kubrick menolak permintaan mereka.

Nyaris

Sampai di sini, kelihatannya mustahil Tolkien akan menjual hak adaptasi karyanya untuk dijadikan film atau animasi. Akan tetapi, suatu hal akhirnya memaksa Tolkien untuk melakukannya.

Penjualan Hak Adaptasi ke United Artists

Pada tahun 1968, Tolkien dengan berat hati menjual hak adaptasi The Hobbit dan LOTR ke rumah produksi Amerika, United Artists, untuk mendapatkan uang untuk biaya pengobatan sang istri yang sedang sakit sekaligus menutupi beban pajak warisan (inheritance tax) yang akan membebani anak-anaknya kelak, lantaran gaji Tolkien sebagai dosen sekaligus royalti buku tidak mencukupi untuk kedua keperluan tersebut. Sayangnya, seperti yang sudah-sudah, Tolkien kembali dihadapkan pada orang-orang yang sepertinya hanya membaca bukunya sekilas, kemudian ‘membantai’ isinya dengan menambah karakterisasi atau adegan yang tidak perlu, serta melupakan aspek filosofis yang ingin ditekankan Tolkien di dalam kisah-kisahnya (hal ini membuat James Dunning, seorang ahli analisis karya-karya Tolkien, membuat istilah Tollywood, yaitu upaya adaptasi karya-karya Tolkien yang lebih mementingkan unsur hiburan untuk menarik banyak penonton tanpa memedulikan unsur keaslian dan makna sebenarnya dari karya sumber).

Salah satu naskah yang dikritiknya adalah naskah dari sutradara John Boorman, yang dianggap paling banyak ‘membantai’ karya Tolkien dengan menciptakan terlalu banyak elemen fantasi yang terlalu bombastis. Misalnya, Rivendell digambarkan sebagai kerajaan Elf dengan istana berkilauan, tokoh Galadriel dan Eowyn yang kompleks direduksi menjadi sekedar tokoh perempuan penggoda, sementara Gandalf justru digambarkan pernah menantang Boromir untuk mencoba memakai Cincin Kekuatan. Frodo pun disembuhkan dari pengaruh tusukan belati Morgul bukan oleh Elrond, melainkan oleh Arwen yang ‘membedah’ potongan belati tersebut dengan menggunakan pisau panas di bawah ancaman kapak Gimli.

Pada akhirnya, United Artists tidak pernah mewujudkan naskah aneh ini, dan mereka menjual kembali hak adaptasi ke rumah produksi Saul-Zaentz Company pada tahun 1976, dimana naskah ini kemudian diserahkan pada divisi khusus yang kemudian disebut Tolkien Enterprises.

Adaptasi Pertama LOTR

Adaptasi pertama LOTR akhirnya diwujudkan oleh Tolkien Enterprises, namun bukan berupa film, melainkan animasi. Sutradara animasi Ralph Bakshi mengajukan diri untuk menggarap adaptasi LOTR dengan menggunakan teknologi baru yang disebut rotoscoping, yang melibatkan teknik menggambar karakter kartun di atas film yang merekam gerakan orang hidup. Animasi Lord of the Rings yang tayang pada tahun 1978 ini pun menjadi adaptasi karya Tolkien pertama di media audio visual untuk bioskop, disusul dengan Return of the King pada tahun 1980 (animasi pertama hanya mencakup Fellowship of the Ring dan sedikit dari The Two Towers). Sementara itu, untuk TV, ada animasi The Hobbit yang ditayangkan pada tahun 1977.

Reaksi penonton untuk adaptasi ini bervariasi. Ada yang menyukainya, namun ada juga yang menganggap bahwa adaptasi Bakshi tersebut dangkal dan tidak menangkap esensi karya Tolkien sesungguhnya, walau ia juga cukup dipuji karena masih berusaha untuk tetap setia dengan isi buku dan tidak me’manis’kannya seperti kartun Disney. Saat ini, video film animasi buatan Bakshi mendapat status cult dan videonya banyak dicari kolektor Tolkien, walau Anda yang sudah menonton adaptasi buatan Peter Jackson mungkin akan sedikit kaget melihat bagaimana Bakshi menggambarkan karakter-karakternya.

Sebagai contoh, ini Frodo, Sam, Legolas dan Aragorn

Barulah pada tahun 2001, Peter Jackson dan New Line Cinema membuat trilogi LOTR yang fenomenal itu, disusul dengan The Hobbit yang film terakhirnya baru saja selesai tayang. Jackson sendiri mengaku bahwa salah satu inspirasinya adalah animasi buatan Bakshi, dan adaptasi film buatannya dianggap sebagai yang paling sukses dimana bahkan Return of the King saja berhasil menyabet 11 Oscar. Sayangnya, hal ini bukan tanpa masalah. Kepopuleran hasil adaptasi Peter Jackson memang berdampak baik untuk Hollywood, namun buruk untuk Tolkien Estate (pemegang hak cipta karya-karya tertulis Tolkien). Selain masalah soal ikonografi karakter yang otomatis menjadi milik New Line, ada pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari kesuksesan ini.

Misalnya, setelah kesuksesan film The Hobbit, rumah produksi Saul Zaentz pun menuntut pemilik kafe The Hobbit yang berlokasi di Southampton untuk memberi mereka royalti, padahal kafe tersebut didirikan sebagai penghormatan atas karya Tolkien dan sudah berusia lebih dari 20 tahun. Ian McKellen (pemeran Gandalf) dan Stephen Fry (pemeran Mayor of Laketown) pun mengeluarkan uang dari kantong mereka sendiri untuk membeli lisensi nama dari Saul Zaentz agar kafe itu tak lagi diganggu. Sebuah kasino di Las Vegas pun membuat mesin selot bertema LOTR, dan Tolkien Estate mengajukan tuntutan agar pemilik kasino tersebut mengganti nama mesin selot tersebut, karena tak sesuai dengan semangat Tolkien sebagai orang yang memegang teguh moralitas dan hidup yang lurus, serta menekankannya dalam karya-karyanya. Tolkien Estate dan Peter Jackson pun ternyata sama-sama pernah menuntut New Line Cinema soal royalti yang tidak dibayarkan.

Kafe The Hobbit di Southampton

Akan tetapi, ada juga kisah-kisah unik soal ‘adaptasi’ nama-nama dalam karya Tolkien. Misalnya, seorang peternak dan pembiak sapi di Amerika pernah repot-repot mengirim surat ke Tolkien untuk bertanya apakah ia boleh menggunakan nama ‘Rivendell’ sebagai nama jenis sapi yang baru dibiakkannya. Sebagai balasan atas kesopanan peternak ini, Tolkien membalas suratnya dengan memberi usul: “salah satu kata bahasa Elf untuk ‘sapi’ adalah ‘mundo,‘ jadi mengapa Anda tidak menggunakan beberapa nama yang bisa dirangkai dari kata mundo untuk sapi Anda?” dan disusul dengan beberapa contoh nama yang bisa digunakan peternak ini.

Akhirnya, lepas dari semua kehebohan ini, walaupun pada akhirnya adaptasi The Hobbit milik Jackson dianggap kembali menyimpang dari buku dan membuat Christopher Tolkien dan pembaca setia karya Tolkien merasa kurang puas, bagaimanapun, saya juga mengakui bahwa adaptasi milik Jackson-lah sejauh ini yang paling berhasil menangkap keindahan Middle Earth ke media audio visual, dan membuat karya Tolkien melejit popularitasnya di kalangan pembaca muda abad ini.

Kalaupun tidak demikian, setidaknya Jackson berjasa karena memberi kita Thranduil yang seperti ini:

Thranduil3 (1)

Marry me, Thranduil!

…alih-alih Thranduil ala Ralph Bakshi yang seperti ini:

…never mind.

Sumber:

JRR Tolkien Legacy: Adaptations

The Beatles Wanted to Film Lord of the Rings

Three Rings for Hollywood: Script for the Lord of the Rings by Zimmerman, Boorman and Beagle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s