Kisah Unik di Balik Puisi Pertama J.R.R. Tolkien

Sebelum menulis The Hobbit dan LOTR (bahkan sebelum memikirkan konsep Middle-earth serta ide untuk The Silmarillion), Tolkien sudah dikenal sebagai penulis puisi, jadi jangan heran kalau puisi banyak hadir di dalam deretan karyanya. Salah satu puisi pertama Tolkien yang diterbitkan secara resmi adalah The Battle of the Eastern Field. Puisi ini diterbitkan tahun 1911 saat Tolkien berusia 19 tahun di dalam The King Edward’s School Chronicle (tiga tahun sebelum menulis puisi yang akan berkembang menjadi Middle-earth).

Melihat judulnya, mungkin Anda akan mengira kalau puisi ini adalah tentang pertempuran epik masa lalu, apalagi Tolkien dikenal dengan karya fantasi epiknya. Kalau melihat puisi di bawah ini, tema apa kira-kira yang digambarkan oleh baris-barisnya?  Continue reading “Kisah Unik di Balik Puisi Pertama J.R.R. Tolkien”

Advertisements

“The Voyage of Éarendel the Evening Star,” Puisi yang Melahirkan Middle-earth

Tulisan ini dibuat dalam rangka Tolkien Reading Day tahun 2017 yang mengambil tema “Poetry and Songs in Tolkien’s Fictions.”

Ada banyak hal yang terjadi pada tanggal 24 September 1914, dan kebanyakan berkaitan dengan Perang Dunia I. Angkatan Udara Prancis mendirikan skuadron Escadrille 31 di Longvic sebagai persiapan perang. Pasukan Rusia memulai 133 hari pengepungan di Przemyśl. Pasukan Jerman merebut Péronne. Pasukan Inggris tiba di Laoshun untuk membantu pasukan Jepang. Australia menduduki Kota Friedrich Wilhelm di New Guinea.

Dan di sebuah rumah pertanian di pedesaan Nottingham, seorang pemuda berusia 22 tahun menulis puisi berjudul The Voyage of Éarendel the Evening Star.  Continue reading ““The Voyage of Éarendel the Evening Star,” Puisi yang Melahirkan Middle-earth”

The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi

Shibboleth (noun)

a : a use of language regarded as distinctive of a particular group.
b : a custom or usage regarded as distinguishing one group from others .

Merriam-Webster Online Dictionary

Bahasa adalah hal yang memiliki kekuatan besar; begitu besar sehingga kita mungkin tak merasakannya hanya karena kita menggunakannya setiap hari. Jangankan sepotong kata yang menghilang; perbedaan ejaan yang kedengarannya sepele sekalipun bisa menjadi pemicu untuk berbagai peristiwa penting. J.R.R. Tolkien, seorang filolog yang menekuni bahasa seumur hidupnya, sangat memahami hal ini, sehingga menuangkannya dalam salah satu manuskripnya untuk Middle-earth legendarium, yaitu sebuah esai berjudul The Shibboleth of Fëanor. Tolkien menggambarkan bagaimana perbedaan ejaan atau bunyi yang kedengarannya sepele dapat membuat pihak tertentu merasa terancam, bahkan menggunakannya sebagai upaya membuat klaim politik.  Continue reading “The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi”

Cram, Lembas dan Hardtack: Roti Perjalanan dalam Karya Tolkien

lembas_bread

Layaknya semua jenis fiksi fantasi dengan Dunia Sekunder yang terkonstruksi dengan baik, legendarium Middle-earth juga memiliki aspek-aspek yang sama dengan dunia kita, termasuk makanan. Tentu saja kita tidak bisa bicara soal Middle-earth tanpa menyentuh makanan, apalagi kalau Anda merasa seperti Hobbit di dalam hati (there’s nothing wrong with second breakfast and two-times dinner, you know). Akan tetapi, beberapa jenis makanan memiliki fungsi lebih dari sekadar pengisi perut; mereka memiliki fungsi ekstra sebagai penunjang perjalanan, karena kalau Anda ingin merasakan jadi pemeran utama dalam LOTR dan The Hobbit, siap-siaplah jalan yang jauh tanpa menemukan Alfam*rt atau Indom*ret di setiap tikungan! Tentu saja, saya bicara soal makanan seperti lembas dan cram. Continue reading “Cram, Lembas dan Hardtack: Roti Perjalanan dalam Karya Tolkien”

Kucing dalam Sejarah Militer Modern

cat

Prajurit Inggris dan anak kucing di Neulette, 1917. Foto oleh John Warwick Brooke

Cat lovers… repudiate the idea that cringing subservience and sidling companionship to man are supreme merits, and stand free to worship aristocratic independence, self-respect, and individual personality joined to extreme grace and beauty as typified by the cool, lithe, cynical, and unconquered lord of the housetops. 

H. P. Lovecraft: Cats and Dogs

Bapak horor kosmik H. P. Lovecraft pernah menulis esai yang menyanjung kucing sebagai peliharaan yang “bagaikan rekan serumah setara”; bahwa memelihara kucing itu sama dengan memiliki teman untuk bicara dan berdiskusi, bukan teman serba penurut. Walaupun saya tidak tahu apakah Lovecraft memang seratus persen serius atau ini hanya soal gaya bahasanya yang tinggi, tapi Lovecraft memang pecinta kucing, dan beberapa kucing yang disebut dalam esai tersebut hadir dalam hidupnya serta koleganya (dalam esai itu, Lovecraft memuji kemampuan kucing untuk menghibur diri sendiri, menyebutnya sebagai “(a) limber elf, singing, dancing to itself.”) Akan tetapi, walaupun kucing dan anjing adalah peliharaan populer, kucing kerap “menderita” akibat prasangka. Film-film aksi menyanjung anjing dan menempatkan kucing sebagai hewan peliharaan tokoh antagonis atau pemain kelas dua. Bahkan film Disney Cats and Dogs terang-terangan mengadu anjing dan kucing, dengan anjing sebagai para jagoan dan kucing sebagai penjahat calon penguasa dunia.  Continue reading “Kucing dalam Sejarah Militer Modern”

Heroik lawan Praktis: Faramir sebagai Wajah Prajurit Perang Modern

Ketika membaca esai Faramir and the Heroic Ideal of Twentieth Century oleh S. Brett Carter, saya seketika teringat pada potongan-potongan percakapan dengan teman kuliah saat kami maraton nonton DVD sewaan di tempat kos: The Two Towers dan Return of the King, diikuti dengan Troy-nya Brad Pitt. Saat itu, teman saya mendadak berkomentar: “aku lebih suka Aragorn daripada Faramir, kalo Faramir itu lembek.” Dan kemudian, waktu melihat Orlando Bloom alias Paris menembakkan panah di Troy, dia berkomentar lagi “Orlando Bloom ini kenapa yang kalau main jadi ksatria jaman dulu selalu pakai busur panah? Itu senjata pengecut.”

Saya tidak pernah melanjutkan percakapan itu lebih jauh (sebagian karena masih mau nangis gara-gara lihat adegan kematian Haldir di Helm’s Deep), tapi ada pola di sini: Faramir yang gaya berjuangnya lebih sembunyi-sembunyi dibandingkan Aragorn dan Boromir, atau Paris yang menggunakan busur panah (Faramir juga menggunakan senjata yang sama), keduanya dianggap lembek. Dengan kata lain, mereka pengecut karena tidak memenuhi imaji seorang ksatria dari jaman kuno: dia yang menunggang kuda, menenteng pedang, bertarung dengan gagah berani di depan musuh yang mengancamnya dengan senjata mengerikan.

Di sinilah kata kuncinya: “kuno.”  Continue reading “Heroik lawan Praktis: Faramir sebagai Wajah Prajurit Perang Modern”

Idril, Harriet Tubman dan Lozen: Pahlawan Wanita yang Membantu Pelarian

Happy International Women’s Day!

Saya mengawali hari ini dengan membaca ulang salah satu buku favorit saya, Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien. Seperti yang sudah pernah saya ocehkan sebelumnya, buku ini berupaya menjabarkan peran-peran subtil namun penting yang dilakukan pada karakter wanita Tolkien, yang membuat mereka mampu menjadi para pemahat sejarah Middle Earth lewat tindakan-tindakan mereka, bukan sekadar trofi pemanis dalam petualangan fiksi fantasi. Ada beberapa wanita yang berjasa karena menjadi pejuang, seperti Haleth of Haladin dan Eowyn. Ada yang berjasa karena pengorbanan serta kemampuan membaca peta politik, seperti Arwen. Yang lainnya dengan kebijaksanaan serta kekuatan tersembunyi seperti Galadriel. Ada juga yang membantu pelarian dan pengungsian, seperti Idril Celebrindal.  Continue reading “Idril, Harriet Tubman dan Lozen: Pahlawan Wanita yang Membantu Pelarian”

At the Tobacconist’s: Rekaman Awal Suara Tolkien untuk Paket Pelajaran Bahasa Inggris

Suara adalah salah satu bentuk catatan sejarah, dan British Library mewujudkan sentimen ini dengan memulai program Save our Sound, yaitu upaya melestarikan rekaman audio seperti musik, pidato, pembacaan puisi dan sebagainya, yang memiliki signifikansi penting dalam warisan sejarah, seni, dan literatur Inggris. Dan tentu saja, Tolkien menjadi salah satu figur yang suaranya menjadi obyek pelestarian dalam program Save our Sound (figur lain yang suaranya dilestarikan termasuk James Joyce dan Florence Nightingale).  Continue reading “At the Tobacconist’s: Rekaman Awal Suara Tolkien untuk Paket Pelajaran Bahasa Inggris”

J. R. R. Tolkien: Memberontak Terhadap Tradisi dengan Menjadi Guru

jrr-tolkien-reading

Menjadi guru adalah cita-cita masa kecil saya, tetapi sejujurnya, itu karena cita-cita itu cuma saya comot tanpa alasan setiap kali ada orang nanya “kalau sudah besar mau jadi apa?” (mungkin karena ‘tukang kasih makan ikan hiu di SeaWorld’ saat itu belum terpikirkan). Begitu agak besar dan melihat bahwa jadi guru di Indonesia itu nggak enak karena gajinya kecil dan nggak dihargai, plus pengalaman buruk bersama beberapa guru yang suka galak atau tidak menimbulkan semangat belajar sama sekali, cita-cita itu pun saya geser dari otak. Entah kenapa, saat baru selesai kuliah, kok ya menjadi tenaga pengajar bahasa Inggris (walau bukan di sekolah) malah menjadi profesi pertama dan terawet saya. God has really weird (and sometimes flabbergasting) sense of humor. Tahun-tahun pertama menjadi seseorang yang pekerjaannya adalah mengajar terus terang tidak memuaskan untuk saya, walaupun saya sudah banyak membaca tentang guru-guru yang benar-benar keren dan berdedikasi, bahkan memfavoritkan satu ketika kuliah (halo, Bu Magda! Masih ngajar di Psikologi UGM?).  Continue reading “J. R. R. Tolkien: Memberontak Terhadap Tradisi dengan Menjadi Guru”

Fans Berat Tolkien? Kunjungi Tempat-tempat Menarik di Oxford Ini!

Saya telah menulis tentang tempat-tempat wisata di Selandia Baru yang berkaitan dengan syuting film LOTR-nya Peter Jackson. Akan tetapi, kehidupan sang maestro sendiri juga merupakan kenang-kenangan sejarah yang berharga. Dari berbagai tempat yang pernah disinggahi atau ditinggali Tolkien dan keluarga, Oxford merupakan salah satu tempat terpenting. Di tempat inilah Tolkien dan keluarga tinggal selama beberapa waktu. Di sini Tolkien berkumpul bersama klub sastranya, The Inklings (yang salah satu anggotanya adalah C.S. Lewis). Di sini juga Tolkien menyelesaikan pendidikan dan mengabdi di bidang pendidikan yaitu menjadi profesor. Di sini Tolkien menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya setelah kematian istri tercinta. Akhirnya, di sini juga Tolkien dan sang istri dimakamkan berdua.

Jika Anda fans berat Tolkien dan sedang berada di Inggris, sempatkan diri mengunjungi tempat-tempat ini di Oxford untuk napak tilas perjalanan hidup penulis yang telah menginspirasi dunia penulisan fiksi fantasi modern ini.  Continue reading “Fans Berat Tolkien? Kunjungi Tempat-tempat Menarik di Oxford Ini!”