The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi

Shibboleth (noun)

a : a use of language regarded as distinctive of a particular group.
b : a custom or usage regarded as distinguishing one group from others .

Merriam-Webster Online Dictionary

Bahasa adalah hal yang memiliki kekuatan besar; begitu besar sehingga kita mungkin tak merasakannya hanya karena kita menggunakannya setiap hari. Jangankan sepotong kata yang menghilang; perbedaan ejaan yang kedengarannya sepele sekalipun bisa menjadi pemicu untuk berbagai peristiwa penting. J.R.R. Tolkien, seorang filolog yang menekuni bahasa seumur hidupnya, sangat memahami hal ini, sehingga menuangkannya dalam salah satu manuskripnya untuk Middle-earth legendarium, yaitu sebuah esai berjudul The Shibboleth of Fëanor. Tolkien menggambarkan bagaimana perbedaan ejaan atau bunyi yang kedengarannya sepele dapat membuat pihak tertentu merasa terancam, bahkan menggunakannya sebagai upaya membuat klaim politik.  Continue reading “The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi”

Advertisements

Tentang Hobbit, Memori, dan Peran Catatan Sejarah

red-book-1

Hobbit adalah ras yang dianggap “kurang istimewa” dibanding Elf, Dwarf atau Manusia, terutama karena tidak banyak yang diketahui tentang mereka. Walau secara umum genealogi Hobbit berakar dari Manusia, tidak diketahui juga bagaimana tepatnya pembagian ini terjadi. Hobbit adalah kaum tersembunyi yang tidak ingin cara hidup mereka yang sederhana menjadi kacau karena pengaruh dunia luar; mereka lebih suka hidup damai ketimbang mencari keagungan. Ini sebabnya sejarah kaum Hobbit (Halfling) menjadi sesuatu yang samar-samar berada di ingatan, atau hanya diingat melalui cerita-cerita yang berbau “konon,” walau kaum Hobbit sendiri gemar melacak cabang keluarga di antara mereka sendiri. Karena itu, luar biasa jika mempertimbangkan bahwa Buku Merah Westmarch, yang merupakan salah satu manuskrip sejarah terpenting di Middle Earth, justru dimulai oleh sesosok Hobbit.  Continue reading “Tentang Hobbit, Memori, dan Peran Catatan Sejarah”

A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I”

I have grown from a lanky schoolgirl who watched the first Lord of the Rings movie in an almost-dilapidated local cinema with my mouth gaped in wonder, to a serious book hoarder who read books that I had never imagined I would’ve read, such as The Letters of J. R. R. Tolkien, Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien, and finally this one: Baptism of Fire: the Birth of the Modern British Fantastic in World War I. While I’ll forever envy the likes of Tom Shippey, Dimitra Fimi, Verlyn Flieger and John Garth for having a career that surrounds the works of Tolkien (not to mention the artists like Alan Lee, Ted Nasmith and Jenny Dolfen), I’m really happy to be immersed in Tolkien’s works, along with other books that help improving my understanding toward his modern mythology.  Continue reading “A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I””

Viola, Portia, dan Eowyn: Bagaimana Tolkien dan Shakespeare Menggunakan Penyamaran untuk Mendobrak Batas Peran Gender

Bicara soal Tolkien dan Shakespeare, keduanya memiliki kesamaan tema kritik terhadap karya-karya mereka: sama-sama pernah dituduh mengandung bias gender. Tapi kalau sekadar menghitung jumlah perempuan yang muncul, atau hanya membaca di permukaan, tentu saja opini seperti ini akan langsung muncul. Masalahnya, Shakespeare dan Tolkien sama-sama ahli dalam merangkai kata untuk menguraikan makna berlapis, dan kadang trik-trik berbahasa yang mereka terapkan dalam tulisan bisa begitu subtil, tidak bisa diartikan secara mentah.  Continue reading “Viola, Portia, dan Eowyn: Bagaimana Tolkien dan Shakespeare Menggunakan Penyamaran untuk Mendobrak Batas Peran Gender”

Tolkien dan Pesona “Ruang Kosong” dalam Literatur Fiksi

Ketika saya pertama kali membaca buku Tolkien, The Fellowship of the Ring, saya tidak membaca dari depan sampai belakang, tapi menghabiskan waktu membolak-balik halaman buku secara acak karena penasaran: “siapa sebenarnya Glorfindel? Bagaimana Tom Bombadil dan Goldberry bertemu? Apa yang terjadi pada Nimrodel setelah Amroth kekasihnya tenggelam di Teluk Belfalas? Mengapa informasi tentang Celebrian sedikit sekali, padahal dia ‘kan istri Elrond? Ibu Legolas itu siapa?” Ketika pindah ke The Hobbit, saya kembali melakukan hal yang sama: “kenapa pedang buatan Elf Gondolin bisa jatuh ke tangan Troll? Ngomong-ngomong, Gondolin itu apa sih? Smaug datang dari mana? Bandobras Took itu siapa dan bagaimana ceritanya sampai Hobbit ini memenggal kepala Golfimbul si raja Goblin dan menciptakan permainan golf?” Bahkan sampai sekarang, saya masih sering melakukan itu: membaca ulang buku-buku Tolkien sambil membolak-balik halaman secara acak, siapa tahu ada informasi atau rahasia lain yang saya lewatkan.  Continue reading “Tolkien dan Pesona “Ruang Kosong” dalam Literatur Fiksi”

Review Buku ‘Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien’

tolkien perilous and fair

Salah satu kritik yang sering saya dengar dialamatkan kepada Tolkien adalah beliau kelihatannya hanya menulis bukunya untuk laki-laki, karena jumlah karakter wanita dalam Lord of the Rings sangat minim, dan di The Hobbit malah tidak ada (sampai-sampai para pembuat film The Hobbit merasa harus menyelipkan Galadriel dan Tauriel agar tidak sepi perempuan). Lepas dari fakta bahwa kedua buku ini sudah merengkuh banyak penggemar setia baik pria maupun wanita sejak pertama terbit (dan saya sejak pertama membaca malah tidak pernah merasa hal itu harus diributkan, sampai saya membaca kritikan itu), harus diakui juga bahwa, dari segi kuantitas, keduanya memang cenderung sepi karakter wanita. Bahkan, mereka yang menyanjung Tolkien pun berusaha ‘melunakkan’ kritik mereka dengan berkata: “wajar saja, Tolkien itu produk zamannya.”  Continue reading “Review Buku ‘Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien’”