Tawa dan Humor dalam Karya Tolkien (Ulasan Buku “Laughter in Middle-earth”)

laughter in middle earth

Terima kasih untuk Becky Dillon yang sudah jauh-jauh mengirimkan buku ini dari Jerman!

“Dalam bukunya Mr. Tolkien tidak banyak yang lucu-lucu.”

Begitu celetukan Matilda, si anak perempuan jenius di buku berjudul sama karya Roald Dahl. Saya harus akui bahwa, walau Matilda diceritakan masih sangat kecil dan imut (tetapi jenius), membaca klaim ini membuat saya agak tertegun. Buku-buku seperti LOTR, The Legend of Sigurd and Gudrun, dan The Silmarillion mungkin bukan tipe yang akan disebut “buku lucu”, tetapi karya-karya Tolkien yang lain menunjukkan cukup banyak humor, tentu dengan gayanya sendiri (gadis kecil jenius ini mungkin belum berkesempatan membaca Tales from the Perilous Realm, dengan cerita-cerita seperti Roverandom dan Farmer Giles of Ham yang sangat kocak. Mr. Bliss dan Letters from Father Christmas sebenarnya juga lucu, tapi hei, Matilda mungkin sudah melahap lebih banyak karya Dickens, Dostoyevski, Tolstoy, Jules Verne, dan Hemingway dari kita semua, jadi mungkin dia tidak tertarik).

Melihat sepintas foto-foto Tolkien mungkin akan membuat Anda membayangkan seorang dosen dan akademisi serius yang kaku, tipe yang tak akan segan-segan melempar penghapus papan tulis ke kepala mahasiswa yang berani bercanda di kelas. Akan tetapi, Tolkien adalah orang yang sangat kocak dan menggemari lelucon serta tawa, bahkan yang kekanak-kanakan. Dia pernah melompat ke atas meja di kelas untuk memulai pembacaan dramatis sajak Beowulf, menakut-nakuti orang dengan kostum, hingga iseng saat kencan bersama calon istrinya, Edith, dengan menjatuhkan kubus-kubus gula dari balkon kedai teh ke topi orang-orang yang lewat. Humphrey Carpenter merangkum ini dalam biografi Tolkien yang digarapnya bersama putra Tolkien, Christopher:

“He (Tolkien) could laugh at anybody, but most of all at himself, and his complete lack of any sense of dignity could and often did make him behave like a riotous schoolboy.”

Humphrey Carpenter – J.R.R. Tolkien: A Biography

Laughter in Middle-earth adalah buku yang mencoba menanggapi argumen bahwa Tolkien adalah penulis serius serta pembenci humor. Diterbitkan pada tahun 2016 oleh Walking Tree Publishers, buku ini berisi sembilan esai panjang yang membedah buku-buku seperti The Hobbit, The Lord of the Rings, The Silmarillion, dan Unfinished Tales, demi menunjukkan makna humor dan tawa dalam interaksi para karakter serta berbagai peristiwa besar maupun kecil di Middle-earth. Mulai dari makna tawa dalam interaksi karakter ketika menghadapi beragam situasi, humor yang menyindir aspek-aspek tertentu dalam kehidupan bermasyarakat, humor linguistik, hingga parodi yang terinspirasi dari karya Tolkien.

Berbagai Fungsi Tawa bagi Karakter Tolkien

Tawa kerap dianggap kurang penting untuk dibahas secara mendalam, karena biasanya terlontar tanpa dipikirkan. Dalam buku Laughter: A Scientific Investigation, Robert Provine dengan telak menukas bahwa tawa “Secara umum cenderung diabaikan dalam penelitian tentang perilaku manusia, karena sudah sifat kita untuk mengabaikan hal-hal yang dianggap biasa.” Sangat disayangkan, karena tawa adalah ekspresi nonverbal yang mampu menyatakan begitu banyak hal walau terlontar secara spontan (kecuali kalau itu tawa dibuat-buat). Tawa mungkin merupakan perilaku spontan, tetapi memiliki tujuan yang sangat kompleks.

Tawa memang biasanya kita kaitkan dengan humor atau lelucon, tetapi secara spesifik, tawa adalah penanda berbagai tema atau ekspresi, mulai dari kegembiraan, agresi, ejekan, rasa malu, pencapaian, hingga kepuasan. Alan Partington, dalam buku The Linguistics of Laughter, bahkan juga menyebut bahwa tawa bisa menjadi “senjata” dalam artian yang tidak konvensional, sama seperti bahasa, tulisan, dan karya seni. Pemahaman ini mungkin yang mendorong Tolkien, seorang pakar bahasa, untuk memasukkan elemen tawa demi mengekspresikan hal-hal tertentu pada karakternya, bukan sekadar sebagai adegan kasual.

Dari sembilan esai yang ada di buku ini, ada dua bab yang secara spesifik membahas tentang tawa: esai Alastair Whyte yang berjudul A Fountain of Mirth: Laughter in Arda, serta tulisan Jennifer Raimundo yang bertajuk The Tenacity of Humour in the Works of J.R.R. Tolkien. Kedua esai ini menggambarkan cara Tolkien menggunakan adegan tawa sebagai simbol khusus dalam perkembangan plot dan karakternya.

Ada beberapa fungsi tawa yang dibahas dalam kedua esai ini, salah satunya adalah sebagai sumber kekuatan. Jika Anda membaca LOTR atau The Silmarillion dan benar-benar menaruh perhatian pada apa yang dilakukan karakternya, Anda mungkin akan heran melihat begitu banyak adegan tertawa bahkan ketika karakter-karakternya hendak mengambil keputusan sulit, atau berada di medan perang. Tawa yang muncul kerap menjadi penanda bahwa si karakter akan mengambil keputusan besar yang tadinya hampir tidak dapat dilakukannya.

Di dalam buku LOTR, ada beberapa adegan di mana karakter yang berbeda-beda memungut atau memegang Cincin Kekuatan, yang dikenal mampu menggoda mereka yang lemah untuk memanfaatkannya. Uniknya, setiap karakter yang “lulus tes” selalu menandainya dengan tawa. Galadriel melepaskan tawa setelah melalui “tes godaan” setelah memegang Cincin Kekuatan yang diserahkan Frodo, menandakan penerimaan akan takdir para Elf yang masanya akan berakhir. Ketika Faramir digambarkan seolah tergoda oleh Cincin yang dibawa Frodo, dia tiba-tiba tertawa dan terduduk di kursinya, seolah memutus mantra godaan yang ditawarkan Cincin Kekuatan. Dan mengingat betapa berat beban Frodo dan Sam ketika mereka terpisah dari rombongan untuk menyelesaikan misi menghancurkan Cincin, agak mengherankan betapa banyak adegan tertawa yang mengiringi perjalanan mereka!

Tawa juga merupakan antitesis kejahatan, sesuatu yang telah ditegaskan sejak Tolkien menciptakan konsep mitologinya dari bab penciptaan. Dalam esai On Fairy Stories, Tolkien mendeskripsikan teori “concept of consolation“, yang berpendapat bahwa bahkan di depan wajah kegelapan yang mengancam, selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk “menyangkal kekalahan sepenuhnya di depan wajah kejahatan”, serta menunjukkan kilasan kecil kebahagiaan lewat adanya harapan. Bukankah lebih dari kebetulan bahwa Tulkas, valar yang kerap diasosiasikan dengan kegarangan dan kekuatan fisik, justru identik dengan tawa? Deskripsi terhadap tokoh Tulkas bahkan menggunakan kata-kata yang kelihatannya berlawanan: “greatest in strength”, “(his anger) passes like mighty wind”, “laughs ever”. Kejahatan dan kengerian adalah sesuatu yang akan selalu ada, tetapi tawa mematahkan kekalahan final yang dibawa keduanya. Tawa membuat kengerian menjadi “absurd”, dan menjadi simbol penolakan terhadap kekalahan total di depan wajah kegelapan.

Humor Etiket

Tema favorit saya yang lainnya di dalam buku ini adalah humor terkait etiket, sesuatu yang sepertinya sangat khas Inggris. Dalam esai bertajuk This Of Course Is the Way to Talk to Dragons, Laura Lee Smith membandingkan berbagai penggunaan konsep etiket dan sopan santun untuk menyampaikan pesan dalam karya sastra. Smith terutama membandingkan The Hobbit (dalam kapasitasnya sebagai buku anak-anak) dengan karya-karya seperti Through the Looking-Glass, The Princess and the Goblin, serta Winnie the Pooh; judul-judul yang kerap disebut sebagai “buku anak-anak subversif” karena memparodikan atau memelesetkan konsep sopan santun dan tata krama sosial untuk membuat pembacanya terhibur atau tertawa.

Pembaca The Hobbit akan mudah menangkap berbagai humor terkait etiket di dalamnya: mulai dari ribetnya respons Gandalf akan ucapan “Selamat pagi” Bilbo yang kelihatannya simpel (permainan semantik cerdas untuk buku anak-anak!), kocaknya sikap Bilbo yang masih berusaha sopan walau frustrasi melihat ada gerombolan Dwarf mendadak nyelonong begitu saja ke rumahnya tanpa membalas sopan santunnya, hingga dialog/adu cerdik antara Bilbo dan Smaug di dalam gua. Lebih jauh, pelesetan konsep sopan santun yang memorakporandakan tuntutan sosial ini bisa dibilang merupakan cara Tolkien untuk, secara tidak langsung, mengajarkan pada anak-anak bahwa kemunafikan dan manipulasi bisa bersembunyi di balik wajah terhormat.

Nonsense, Ilustrasi, dan Parodi

Dua aspek humor unik lain yang dibahas dalam buku ini adalah konsep nonsense serta parodi, yang dibahas dalam Certainly Not Our Sense: Tolkien and Nonsense oleh Maureen F. Mann, serta Strategies of Humour in The Stupid Ring Parody oleh Sherrylyn Branchaw. Humor nonsense dalam karya Tolkien terkait erat dengan aspek bahasa yang menjadi bagian erat dalam novel-novel beliau, di mana nonsense bermakna sederet kata atau kalimat yang kelihatannya tidak memiliki arti apa-apa (sinonim lainnya: claptrap, gibberish, balderdash). Esai ini sekaligus menjelaskan mengapa Elf Rivendell dalam The Hobbit bisa menyanyikan lagu ceria yang terkesan konyol dan penuh dengan deretan kata-kata aneh, jauh beda dengan Elf serba serius yang digambarkan Peter Jackson dalam film-filmnya. Mann juga mengaitkan esai ini dengan humor nonsense yang populer dalam karya-karya fiksi era Victoria.

Menjelang akhir buku, ada bab yang agak ringan dan membahas tentang berbagai ilustrasi terkait karya-karya Tolkien dari seluruh dunia. Esai Davide Martini yang berjudul Humour in Art Depicting Middle-earth menyuguhkan berbagai ilustrasi bertema Middle-earth yang menunjukkan interpretasi beragam dari berbagai seniman, termasuk karya-karya “absurd” seperti ilustrasi Bilbo yang lebih nampak seperti separuh singa dan monyet, Smaug sebagai naga gembul yang berjalan membawa poci teh dengan genit, hingga Gollum yang mirip katak raksasa.

Akhirnya, setiap karya populer pasti memiliki parodi. Sherrylyn Branchaw menengok ke berbagai karya parodi yang berdasarkan The Hobbit dan LOTR. Dalam esai ini, Branchaw menggambarkan bagaimana parodi bekerja dengan menggunakan berbagai karya parodi populer sebagai contoh, baik yang berdasarkan novel maupun adaptasi film oleh Peter Jackson. Branchaw bahkan menggunakan contoh-contoh kontemporer, seperti fanfiksi serta video YouTube macam seri Epic Rap Battles in History (episode J.R.R. Tolkien lawan George R.R. Martin).

Akhir Kata….

Saya ingat pernah berdebat dengan seorang teman saat di sekolah, yang berujung pada kata-kata darinya yang kurang lebih seperti ini: “Kamu kedengarannya seperti akademisi yang mencoba menjelaskan mengapa Mr. Bean itu lucu”. Saya sudah lupa apa akar perdebatan kami, tapi makna kata-katanya saat itu jelas: menganalisis lelucon atau humor akan merusak kesenangan yang diperoleh dari menertawakannya. Seandainya teman saya itu melihat buku apa yang saya baca, mungkin komentarnya akan sama. Mengapa membaca tentang humor kalau kau bisa menertawakannya saja? Apa manfaatnya?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sampai masuk kuliah dan mempelajari psikologi. Saat itu, kami belajar bahwa humor adalah salah satu mekanisme pertahanan diri dari stres, dan bahkan merupakan salah satu “senjata” dalam mengurangi dampak buruk trauma. Anda mungkin akan menganggapnya lebih serius jika tahu bahwa dunia psikologi sudah memiliki kuesioner dan skala pengukuran terkait humor, seperti The Situational Humor Response Questionnaire dan Coping Humor Scale, menunjukkan bahwa humor tidak boleh dianggap enteng.

Membaca buku ini membuat saya menyadari bahwa tidak ada salahnya memelajari soal tawa dan humor. Bukan untuk menghilangkan pesona kelucuannya, melainkan untuk memahami apa maknanya bagi kita. Saat ini, kita hidup di era di mana tertawa sepertinya semakin susah. Semua maunya marah, takut, atau cemas. Jika sudah terbiasa berpikir seperti itu, mungkin rasanya aneh melihat bagaimana Tolkien menggambarkan karakter-karakter yang tertawa atau bercanda di tengah-tengah situasi yang sepertinya tidak lucu (malah cenderung menakutkan). Namun, setelah membaca buku ini, saya akhirnya menyadarinya: tawa dan humor bukan sekadar “selingan” menyenangkan. Mereka adalah bagian dari keunikan manusia. Kemampuan menemukan sesuatu untuk disambut dengan senyum dan tawa, walau di tengah kegelapan, adalah sesuatu yang membuat kita unik sebagai makhluk hidup.

Pada tahun 1944, J.R.R. Tolkien menciptakan kata eucatastrophe. Definisi singkatnya adalah “kebahagiaan yang datang tiba-tiba”, tetapi jika diartikan lebih luas, kata ini lebih tepat mengacu ke “kebahagiaan yang datang secara tak terduga di tengah situasi yang kelihatannya tanpa harapan, ketika benak akhirnya berhasil merangkai keabsurdan dunia dan menangkap ‘humor semesta’ yang baru nampak ketika hidup sudah di ujung tanduk”. Tema “harapan” sangat kental dalam karya-karya terpopuler Tolkien, dan walau kita tidak bisa mencegah datangnya kegelapan, kemampuan kita untuk tertawa itu sendiri adalah salah satu bentuk eucatastrophe.

Membaca buku ini membuat saya bisa lebih mengidentifikasikan diri dengan para karakter dalam buku-buku penulis yang saya kagumi, serta menyadari bahwa: ya, ketika sedang cemas dan ketakutan, atau berada di dalam situasi tanpa harapan, mungkin satu-satunya senjata terakhir yang kita punya memang tawa. Dan Tolkien membuat para karakternya menyadari hal itu, di dalam dunia ciptaannya yang sesungguhnya hanyalah cermin dari dunia kita sendiri.

“It is precisely against the darkness of the world that comedy arises, and it is best when that is not hidden.”

-Tolkien’s reply to Rayner Unwin’s comments upon first reading The Fellowship of the Ring.

Sumber:

Partington, Alan. The Linguistics of Laughter: A Corpus-Assisted Study of Laughter-Talk. New York: Routledge. 2006.

Provine, Robert R. Laughter: A Scientific Investigation. London: Faber and Faber. 2000.

Tolkien, J.R.R. Tales from the Perilous Realm. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins. 2002.

Tolkien: J.R.R. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2002.

Tolkien, JRR. The Fellowship of the Ring. London: HarperCollins. 1991.

Tolkien, J.R.R. The Silmarillion. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins. 1999.

Tolkien, JRR. The Two Towers. London: HarperCollins. 1991.

Laughter in Middle-earth: Humour in and around the Works of J.R.R. Tolkien. Ed. Thomas Honegger and Mauren F. Mann. Zurich: Walking Tree Publishers. 2016.

“Ini Bukan Eat, Pray, Love”: Reportase Suki Kim di Korea Utara, dan Masalah Setelahnya

Catatan: Saya menemukan artikel ini di situs The New Republic tanggal 27 Januari 2016 dengan judul The Reluctant Memoirist. Artikel ini berkisah tentang jurnalis dan novelis Amerika berdarah Korea Selatan, Suki Kim, yang melakukan jurnalisme investigasi di Korea Utara, membawa hasilnya pulang untuk dibuat buku berjudul Without You, There Is No Us: My Time with the Sons of North Korea’s Elite. Akan tetapi, kisahnya tidak berjalan mulus justru ketika dia berurusan dengan penerbitnya di Amerika. Plus, dia harus berhadapan dengan keadaan tak mengenakkan akibat statusnya sebagai jurnalis wanita kulit berwarna. Menurut saya sangat menarik, jadi saya putuskan untuk menerjemahkannya di sini, seperti yang pernah saya lakukan pada wawancara Tolkien dengan The Telegraph. Tautan ke artikel asli saya sertakan di akhir.

Artikel oleh Suki Kim.

Ilustrasi oleh Dadu Shin.  Continue reading ““Ini Bukan Eat, Pray, Love”: Reportase Suki Kim di Korea Utara, dan Masalah Setelahnya”

A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I”

I have grown from a lanky schoolgirl who watched the first Lord of the Rings movie in an almost-dilapidated local cinema with my mouth gaped in wonder, to a serious book hoarder who read books that I had never imagined I would’ve read, such as The Letters of J. R. R. Tolkien, Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien, and finally this one: Baptism of Fire: the Birth of the Modern British Fantastic in World War I. While I’ll forever envy the likes of Tom Shippey, Dimitra Fimi, Verlyn Flieger and John Garth for having a career that surrounds the works of Tolkien (not to mention the artists like Alan Lee, Ted Nasmith and Jenny Dolfen), I’m really happy to be immersed in Tolkien’s works, along with other books that help improving my understanding toward his modern mythology.  Continue reading “A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I””

Review Buku ‘Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien’

tolkien perilous and fair

Salah satu kritik yang sering saya dengar dialamatkan kepada Tolkien adalah beliau kelihatannya hanya menulis bukunya untuk laki-laki, karena jumlah karakter wanita dalam Lord of the Rings sangat minim, dan di The Hobbit malah tidak ada (sampai-sampai para pembuat film The Hobbit merasa harus menyelipkan Galadriel dan Tauriel agar tidak sepi perempuan). Lepas dari fakta bahwa kedua buku ini sudah merengkuh banyak penggemar setia baik pria maupun wanita sejak pertama terbit (dan saya sejak pertama membaca malah tidak pernah merasa hal itu harus diributkan, sampai saya membaca kritikan itu), harus diakui juga bahwa, dari segi kuantitas, keduanya memang cenderung sepi karakter wanita. Bahkan, mereka yang menyanjung Tolkien pun berusaha ‘melunakkan’ kritik mereka dengan berkata: “wajar saja, Tolkien itu produk zamannya.”  Continue reading “Review Buku ‘Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien’”

The Letters of J.R.R. Tolkien: Mengenal sang Profesor lewat Surat-surat Pribadinya

letters of tolkien

Menjelang kematiannya di tahun 1973, J.R.R. Tolkien kehilangan kemampuan menggunakan tangan kanannya, yang menurutnya, membuatnya merasa seperti “ayam yang kehilangan paruh.” Tidak mengherankan; Tolkien adalah penulis yang produktif dan sangat mencintai dunianya, dan ia telah menulis berbagai macam hal: novel, buku teks, kumpulan esai, puisi, kumpulan cerita, karya terjemahan, syair epik, dan sebagainya. Akan tetapi, Tolkien juga menulis banyak sekali surat sepanjang hidupnya, hingga dikenal sebagai one of the most prolific letter writers in the 20th century. Surat-surat tersebut berisi berbagai macam hal: mulai dari pemikiran Tolkien saat menciptakan dunia Middle Earth, korespondensi dengan penerbit dan sahabat-sahabatnya, korespondensi dengan anak-anaknya termasuk yang sifatnya profesional terkait penulisan buku-bukunya, kumpulan surat darinya untuk sang istri, Edith, dan sebagainya.  Continue reading “The Letters of J.R.R. Tolkien: Mengenal sang Profesor lewat Surat-surat Pribadinya”