Tolkien, Walrus, dan Kamus Oxford

walrus-518233_960_720

Gambar: Pixabay

“Bekerja di sana selama dua tahun memberiku lebih banyak ilmu dibanding periode lain dalam hidupku”, ujar J. R. R. Tolkien suatu ketika, menggambarkan pengalamannya bekerja sebagai asisten Henry Bradley, editor penyusun Oxford English Dictionary selama tahun 1919 dan 1920. Kesan positif ini tidak berlebihan, mengingat Tolkien adalah seorang peminat bahasa. Pekerjaan menyusun kamus Oxford ini pun diperolehnya segera setelah dirinya ditarik dari medan Perang Dunia Pertama, sehingga wajar jika dirinya merasa sangat bahagia bisa kembali ke bahasa dan buku-buku setelah menghadapi kengerian medan perang. Continue reading “Tolkien, Walrus, dan Kamus Oxford”

Scaling Up: Ulasan Buku “The Dragon: Fear and Power”

Ulasan oleh: Tom Shippey

Buku karya: Martin Arnold

Catatan: tulisan ini adalah terjemahan dari ulasan Tom Shippey untuk buku karya Martin Arnold, The Dragon: Fear and Power, yang dimuat di Literary Review edisi November 2018. Terjemahan ini dibuat dengan izin dari Literary Review. Versi asli yang berbahasa Inggris bisa dibaca di sini.

Terima kasih untuk David Gelber dari editorial Literary Review yang telah memberi saya izin untuk menerjemahkan ulasan ini.  Continue reading “Scaling Up: Ulasan Buku “The Dragon: Fear and Power””

Perang yang Melahirkan Imajinasi: Ulasan Buku “Tolkien and the Great War”

tolkien and the great war 2

Sekitar dua bulan yang lalu, saya akhirnya membeli Tolkien and the Great War: The Threshold of Middle-earth, buku yang sudah bertengger di daftar belanja sejak beberapa tahun lalu. Karya John Garth ini menjadi incaran saya selain biografi resmi J. R. R. Tolkien oleh Humphrey Carpenter, karena memberi dimensi lebih dalam tentang kaitan antara pengalaman Tolkien dalam Perang Dunia I dengan karya-karya fiksinya, termasuk legendarium Middle-earth yang terkenal.  Continue reading “Perang yang Melahirkan Imajinasi: Ulasan Buku “Tolkien and the Great War””

Tawa dan Humor dalam Karya Tolkien (Ulasan Buku “Laughter in Middle-earth”)

laughter in middle earth

Terima kasih untuk Becky Dillon yang sudah jauh-jauh mengirimkan buku ini dari Jerman!

“Dalam bukunya Mr. Tolkien tidak banyak yang lucu-lucu.”  Continue reading “Tawa dan Humor dalam Karya Tolkien (Ulasan Buku “Laughter in Middle-earth”)”

A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I”

I have grown from a lanky schoolgirl who watched the first Lord of the Rings movie in an almost-dilapidated local cinema with my mouth gaped in wonder, to a serious book hoarder who read books that I had never imagined I would’ve read, such as The Letters of J. R. R. Tolkien, Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien, and finally this one: Baptism of Fire: the Birth of the Modern British Fantastic in World War I. While I’ll forever envy the likes of Tom Shippey, Dimitra Fimi, Verlyn Flieger and John Garth for having a career that surrounds the works of Tolkien (not to mention the artists like Alan Lee, Ted Nasmith and Jenny Dolfen), I’m really happy to be immersed in Tolkien’s works, along with other books that help improving my understanding toward his modern mythology.  Continue reading “A Casual Reader’s Thought of “Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I””

Review Buku ‘Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien’

tolkien perilous and fair

Salah satu kritik yang sering dialamatkan kepada Tolkien adalah beliau kelihatannya hanya menulis bukunya untuk laki-laki, karena jumlah karakter wanita dalam Lord of the Rings sangat minim, dan di The Hobbit malah tidak ada (sampai-sampai para pembuat film The Hobbit menyelipkan Galadriel dan Tauriel agar tidak sepi perempuan). Lepas dari fakta bahwa kedua buku ini sudah merengkuh banyak penggemar setia baik pria maupun wanita sejak pertama terbit (dan saya sejak pertama membaca malah tidak pernah merasa hal itu harus diributkan, sampai saya membaca kritikan itu), harus diakui juga bahwa, dari segi kuantitas, keduanya memang cenderung sepi karakter wanita. Bahkan, mereka yang menyanjung Tolkien pun berusaha ‘melunakkan’ kritik mereka dengan berkata: “wajar saja, Tolkien itu produk zamannya.”  Continue reading “Review Buku ‘Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien’”

The Letters of J.R.R. Tolkien: Mengenal sang Profesor lewat Surat-surat Pribadinya

letters of tolkien

Menjelang kematiannya di tahun 1973, J.R.R. Tolkien kehilangan kemampuan menggunakan tangan kanannya, yang menurutnya, membuatnya merasa seperti “ayam yang kehilangan paruh.” Tidak mengherankan; Tolkien adalah penulis yang produktif dan sangat mencintai dunianya, dan ia telah menulis berbagai macam hal: novel, buku teks, kumpulan esai, puisi, kumpulan cerita, karya terjemahan, syair epik, dan sebagainya. Akan tetapi, Tolkien juga menulis banyak sekali surat sepanjang hidupnya, hingga dikenal sebagai one of the most prolific letter writers in the 20th century. Surat-surat tersebut berisi berbagai macam hal: mulai dari pemikiran Tolkien saat menciptakan dunia Middle Earth, korespondensi dengan penerbit dan sahabat-sahabatnya, korespondensi dengan anak-anaknya termasuk yang sifatnya profesional terkait penulisan buku-bukunya, kumpulan surat darinya untuk sang istri, Edith, dan sebagainya.  Continue reading “The Letters of J.R.R. Tolkien: Mengenal sang Profesor lewat Surat-surat Pribadinya”