Tolkien, Walrus, dan Kamus Oxford

walrus-518233_960_720

Gambar: Pixabay

“Bekerja di sana selama dua tahun memberiku lebih banyak ilmu dibanding periode lain dalam hidupku”, ujar J. R. R. Tolkien suatu ketika, menggambarkan pengalamannya bekerja sebagai asisten Henry Bradley, editor penyusun Oxford English Dictionary selama tahun 1919 dan 1920. Kesan positif ini tidak berlebihan, mengingat Tolkien adalah seorang peminat bahasa. Pekerjaan menyusun kamus Oxford ini pun diperolehnya segera setelah dirinya ditarik dari medan Perang Dunia Pertama, sehingga wajar jika dirinya merasa sangat bahagia bisa kembali ke bahasa dan buku-buku setelah menghadapi kengerian medan perang. Continue reading “Tolkien, Walrus, dan Kamus Oxford”

Perang yang Melahirkan Imajinasi: Ulasan Buku “Tolkien and the Great War”

tolkien and the great war 2

Sekitar dua bulan yang lalu, saya akhirnya membeli Tolkien and the Great War: The Threshold of Middle-earth, buku yang sudah bertengger di daftar belanja sejak beberapa tahun lalu. Karya John Garth ini menjadi incaran saya selain biografi resmi J. R. R. Tolkien oleh Humphrey Carpenter, karena memberi dimensi lebih dalam tentang kaitan antara pengalaman Tolkien dalam Perang Dunia I dengan karya-karya fiksinya, termasuk legendarium Middle-earth yang terkenal.  Continue reading “Perang yang Melahirkan Imajinasi: Ulasan Buku “Tolkien and the Great War””

Kisah Unik di Balik Puisi Pertama J.R.R. Tolkien

Sebelum menulis The Hobbit dan LOTR (bahkan sebelum memikirkan konsep Middle-earth serta ide untuk The Silmarillion), Tolkien sudah dikenal sebagai penulis puisi, jadi jangan heran kalau puisi banyak hadir di dalam deretan karyanya. Salah satu puisi pertama Tolkien yang diterbitkan secara resmi adalah The Battle of the Eastern Field. Puisi ini diterbitkan tahun 1911 saat Tolkien berusia 19 tahun di dalam The King Edward’s School Chronicle (tiga tahun sebelum menulis puisi yang akan berkembang menjadi Middle-earth).

Melihat judulnya, mungkin Anda akan mengira kalau puisi ini adalah tentang pertempuran epik masa lalu, apalagi Tolkien dikenal dengan karya fantasi epiknya. Kalau melihat puisi di bawah ini, tema apa kira-kira yang digambarkan oleh baris-barisnya?  Continue reading “Kisah Unik di Balik Puisi Pertama J.R.R. Tolkien”

“The Voyage of Éarendel the Evening Star,” Puisi yang Melahirkan Middle-earth

Tulisan ini dibuat dalam rangka Tolkien Reading Day tahun 2017 yang mengambil tema “Poetry and Songs in Tolkien’s Fictions.”

Ada banyak hal yang terjadi pada tanggal 24 September 1914, dan kebanyakan berkaitan dengan Perang Dunia I. Angkatan Udara Prancis mendirikan skuadron Escadrille 31 di Longvic sebagai persiapan perang. Pasukan Rusia memulai 133 hari pengepungan di Przemyśl. Pasukan Jerman merebut Péronne. Pasukan Inggris tiba di Laoshun untuk membantu pasukan Jepang. Australia menduduki Kota Friedrich Wilhelm di New Guinea.

Dan di sebuah rumah pertanian di pedesaan Nottingham, seorang pemuda berusia 22 tahun menulis puisi berjudul The Voyage of Éarendel the Evening Star.  Continue reading ““The Voyage of Éarendel the Evening Star,” Puisi yang Melahirkan Middle-earth”

The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi

Shibboleth (noun)

a : a use of language regarded as distinctive of a particular group.
b : a custom or usage regarded as distinguishing one group from others .

Merriam-Webster Online Dictionary

Bahasa adalah hal yang memiliki kekuatan besar; begitu besar sehingga kita mungkin tak merasakannya hanya karena kita menggunakannya setiap hari. Jangankan sepotong kata yang menghilang; perbedaan ejaan yang kedengarannya sepele sekalipun bisa menjadi pemicu untuk berbagai peristiwa penting. J.R.R. Tolkien, seorang filolog yang menekuni bahasa seumur hidupnya, sangat memahami hal ini, sehingga menuangkannya dalam salah satu manuskripnya untuk Middle-earth legendarium, yaitu sebuah esai berjudul The Shibboleth of Fëanor. Tolkien menggambarkan bagaimana perbedaan ejaan atau bunyi yang kedengarannya sepele dapat membuat pihak tertentu merasa terancam, bahkan menggunakannya sebagai upaya membuat klaim politik.  Continue reading “The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi”

Cram, Lembas dan Hardtack: Roti Perjalanan dalam Karya Tolkien

lembas_bread

Layaknya semua jenis fiksi fantasi dengan Dunia Sekunder yang terkonstruksi dengan baik, legendarium Middle-earth juga memiliki aspek-aspek yang sama dengan dunia kita, termasuk makanan. Kita tidak bisa bicara soal Middle-earth tanpa menyentuh makanan, apalagi kalau Anda merasa seperti Hobbit di dalam hati. Akan tetapi, beberapa jenis makanan lebih dari sekadar pengisi perut; mereka memiliki fungsi ekstra sebagai penunjang perjalanan, karena kalau Anda ingin merasakan jadi pemeran utama dalam LOTR dan The Hobbit, siap-siaplah jalan yang jauh tanpa menemukan Alfam*rt atau Indom*ret di setiap tikungan! Saya bicara soal makanan seperti lembas dan cram. Continue reading “Cram, Lembas dan Hardtack: Roti Perjalanan dalam Karya Tolkien”

Kucing dalam Sejarah Militer Modern

cat

Prajurit Inggris dan anak kucing di Neulette, 1917. Foto oleh John Warwick Brooke

Cat lovers… repudiate the idea that cringing subservience and sidling companionship to man are supreme merits, and stand free to worship aristocratic independence, self-respect, and individual personality joined to extreme grace and beauty as typified by the cool, lithe, cynical, and unconquered lord of the housetops. 

H. P. Lovecraft: Cats and Dogs

Bapak horor kosmik H. P. Lovecraft pernah menulis esai yang menyanjung kucing sebagai peliharaan yang “bagaikan rekan serumah setara”; bahwa memelihara kucing itu sama dengan memiliki teman untuk bicara dan berdiskusi. Saya tidak tahu apakah Lovecraft memang seratus persen serius atau ini hanya soal gaya bahasanya yang ketinggian, tapi Lovecraft memang pencinta kucing, dan beberapa kucing yang disebut dalam esai tersebut hadir dalam hidupnya serta koleganya (Lovecraft memuji kemampuan kucing untuk menghibur diri sendiri, menyebutnya sebagai “(a) limber elf, singing, dancing to itself.”) Akan tetapi, walaupun kucing dan anjing adalah peliharaan populer, kucing kerap “menderita” akibat prasangka. Film-film menyanjung anjing dan menempatkan kucing sebagai hewan peliharaan tokoh antagonis atau pemain kelas dua. Bahkan film Disney Cats and Dogs terang-terangan mengadu anjing dan kucing, dengan anjing sebagai para jagoan dan kucing sebagai penjahat calon penguasa dunia.  Continue reading “Kucing dalam Sejarah Militer Modern”

Heroik lawan Praktis: Faramir sebagai Wajah Prajurit Perang Modern

Ketika membaca esai Faramir and the Heroic Ideal of Twentieth Century oleh S. Brett Carter, saya teringat pada potongan-potongan percakapan dengan teman kuliah saat kami maraton nonton DVD sewaan di tempat kos: The Two Towers dan Return of the King, diikuti dengan Troy-nya Brad Pitt. Teman saya mendadak berkomentar: “Aku lebih suka Aragorn daripada Faramir, kalo Faramir itu lembek.” Ketika melihat Orlando Bloom alias Paris menembakkan panah di Troy, dia berkomentar lagi, “Orlando Bloom ini kenapa ya kalau main jadi ksatria selalu pakai busur panah? Itu senjata pengecut.”

Saya tidak pernah melanjutkan percakapan itu (sebagian karena masih mau nangis gara-gara lihat adegan kematian Haldir di Helm’s Deep), tapi ada pola di sini: Faramir yang gaya berjuangnya lebih sembunyi-sembunyi dibandingkan Aragorn dan Boromir, atau Paris yang menggunakan busur panah (Faramir juga menggunakan senjata yang sama) dianggap lembek. Mereka pengecut karena tidak cocok dengan gambaran ksatria zaman kuno, yang menunggang kuda, menenteng pedang, bertarung dengan gagah berani di depan musuh yang mengancamnya dengan senjata mengerikan.

Di sinilah kata kuncinya: “kuno.”  Continue reading “Heroik lawan Praktis: Faramir sebagai Wajah Prajurit Perang Modern”

Idril, Harriet Tubman dan Lozen: Pahlawan Wanita yang Membantu Pelarian

Happy International Women’s Day!

Saya mengawali hari ini dengan membaca ulang salah satu buku favorit saya, Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien. Seperti yang sudah pernah saya ocehkan sebelumnya, buku ini berupaya menjabarkan peran-peran subtil namun penting yang dilakukan pada karakter wanita Tolkien, yang membuat mereka mampu menjadi para pemahat sejarah Middle Earth lewat tindakan-tindakan mereka, bukan sekadar trofi pemanis dalam petualangan fiksi fantasi. Ada beberapa wanita yang berjasa karena menjadi pejuang, seperti Haleth of Haladin dan Eowyn. Ada yang berjasa karena pengorbanan serta kemampuan membaca peta politik, seperti Arwen. Yang lainnya dengan kebijaksanaan serta kekuatan tersembunyi seperti Galadriel. Ada juga yang membantu pelarian dan pengungsian, seperti Idril Celebrindal.  Continue reading “Idril, Harriet Tubman dan Lozen: Pahlawan Wanita yang Membantu Pelarian”

At the Tobacconist’s: Rekaman Awal Suara Tolkien untuk Paket Pelajaran Bahasa Inggris

Suara adalah salah satu bentuk catatan sejarah, dan British Library mewujudkan sentimen ini dengan memulai program Save our Sound, yaitu upaya melestarikan rekaman audio seperti musik, pidato, pembacaan puisi dan sebagainya, yang memiliki signifikansi penting dalam warisan sejarah, seni, dan literatur Inggris. Dan tentu saja, Tolkien menjadi salah satu figur yang suaranya menjadi obyek pelestarian dalam program Save our Sound (figur lain yang suaranya dilestarikan termasuk James Joyce dan Florence Nightingale).  Continue reading “At the Tobacconist’s: Rekaman Awal Suara Tolkien untuk Paket Pelajaran Bahasa Inggris”