Tentang Naga-naga Middle Earth: Lebih dari Sekadar “Monster”

738px-j-r-r-_tolkien_-_dragon

Ilustrasi naga oleh J. R. R. Tolkien, dibuat sekitar tahun 1927/1928

Naga adalah makhluk yang muncul di berbagai cerita rakyat dan mitologi, namun sebagai orang Timur, saya tumbuh dengan dua macam naga dalam cerita-cerita rakyat dan fantasi yang saya baca: yang satu naga-naga Timur yang menyimbolkan kebijaksanaan, kesuburan serta berbagai kualitas positif lainnya, dan yang satu lagi naga-naga dari kisah-kisah Barat yang membakar desa, menculik putri raja, membunuh manusia dengan napas apinya, dan akhirnya dibunuh sang pahlawan. Jadi, saya agak geli sekaligus takjub ketika membaca The Hobbit untuk pertama kalinya dan melihat deskripsi Smaug, serta adegan percakapannya dengan Bilbo, yang rasanya “kok bukan naga banget.”

Ini bisa dipahami kalau kita menelisik naga-naga yang diciptakan Tolkien sebagai bagian dari Middle Earth legendarium. Sesuai dengan embel-embel legendarium tersebut, Tolkien menciptakan sebuah dunia dimana legenda memiliki legenda, dan berbagai tokoh, tempat serta makhluk hidup hanya berupa gaung yang separuh diingat oleh para karakter dalam buku-bukunya. Naga muncul dalam The Silmarillion dan The Hobbit, namun naga-naga dalam The Silmarillion adalah bagian dari legenda masa lalu, sedangkan Smaug dibahas dengan detail karena dia adalah satu dari yang terakhir; naga yang muncul di Abad Ketiga, dan oleh para pembaca The Hobbit serta tokoh seperti Bilbo Baggins dianggap sebagai “naga kontemporer.” Keunikan naga dalam dunia rekaan Tolkien justru karena kisah mereka cenderung tersamar, dan ada pengaruh unik dari legenda serta mitos Nordik, yang juga menjadi minat akademis Tolkien.  Baca lebih lanjut

Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan Lukisan ‘Sleep and His Brother Death’

Waterhouse-sleep_and_his_half-brother_death-1874

Saya pertama kali tahu tentang pelukis Inggris John William Waterhouse sekitar 10 tahun yang lalu. Persisnya kenapa dan bagaimana, saya sudah lupa. Tapi yang saya tahu adalah: dari sekian banyak lukisannya yang cenderung bertema klasik dan mitologi, ada satu lukisan yang sejak dulu sampai sekarang selalu membekas di hati.

Sleep and His Brother Death.  Baca lebih lanjut

Elsa, Skadi, dan Queen Beruthiel of Gondor: Para Ratu Representasi Musim Dingin

Saya senang menonton Frozen karena inilah pertama kalinya karakter ‘Ratu Es’ atau ‘Ratu Salju’ seperti Elsa tidak digambarkan sebagai tokoh antagonis, melainkan tokoh dengan karakteristik yang rumit dan kepribadian yang lebih berlapis ketimbang Anna yang merupakan putri stereotip favorit Disney: karakter putri generik, yang pada akhirnya ‘mendapatkan cowok dan hidup bahagia selamanya.’ Karakter Elsa memang diambil dari The Snow Queen karya Hans Christian Andersen, yang lebih mirip tokoh abu-abu ketimbang antagonis. Saya menyukainya, karena di berbagai karya fiksi, karakter ‘Ratu Es’ yang kerap digambarkan cantik namun dingin, cerdas, dan tidak terobsesi pada keinginan untuk bersama seorang pria biasanya langsung diasosiasikan dengan tokoh jahat. Menonton Frozen dan melihat Elsa membuat saya teringat pada salah satu tokoh minor dalam legendarium Tolkien, yang memenuhi semua ‘persyaratan’ untuk menjadi seorang sosok Ratu Es, Queen Berúthiel of Gondor. Walaupun hanya muncul sekilas, karakteristiknya dengan cepat memikat saya karena dalam banyak hal ia mirip karakteristik Ratu Es yang lebih tradisional: sosok cantik nan cerdas namun rumit dan penuh misteri. Asosiasinya bahkan bisa ditarik ke karakter yang lebih kuno lagi: Skadi, Dewi Musim Dingin dalam mitologi Nordik.  Baca lebih lanjut

Trickster, Si ‘Bukan Siapa-siapa’ yang Tahu Segalanya

Siapa yang belum pernah mendengar cerita Si Kancil? Mamalia imut nan sulit ditangkap ini, kita semua tahu, sangat cerdas dan cerdik. Kancil adalah sumber kenangan masa kecil saya yang berharga, saat mendiang kakek saya seringkali menggunakan cerita-cerita si kancil sebagai ‘senjata’ kalau saya malas tidur siang. Tetapi, bahkan saat masih kecil, saya mulai berpikir kalau karakter kancil ini agak mbalelo, tidak menuruti pakem dongeng atau cerita rakyat dimana selalu ada dikotomi jelas antara tokoh baik dan jahat.  Baca lebih lanjut

Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!

Bagi saya, yang sudah bosan dengan superhero Barat yang serba ideal baik dari penampilan maupun sifat, menonton Hellboy seperti mendapat angin segar. Akhirnya, superhero yang gegabah, sok tahu, merokok, minum bir, dan punya hobi ngemil sambil nonton TV. Jadi, ketika menonton Hellboy II : Golden Army, saya agak kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa saya malah gandrung dengan tokoh antagonisnya, Prince Nuada, yang dalam film diperankan oleh Luke Goss.

Kedengaran akrab ? Oke, saya akui, sebagai fans cewek, saya menikmati adegan Prince Nuada yang sedang latihan memainkan pedang/tombak di dalam gorong-gorong sambil telanjang dada. (Serta kenyataan bahwa figur sang pangeran ‘mirip-mirip’ elf di The Lord of the Rings, tapi figur seperti itu juga hadir dalam mitos kaum peri Eropa, jadi saya tak bisa protes). Alkisah, sang pangeran ini adalah anak dari Balor, Raja Peri, yang menguasai pasukan gaib berupa Balatentara Emas (The Golden Army), dan menggunakannya dalam perang melawan manusia. Tetapi, melihat kekejaman Balatentara Emas, Balor akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan manusia.

Prince Nuada, yang beranggapan bahwa sifat manusia adalah serakah dan tak bisa dipercaya, menyesali keputusan ayahnya dan pergi ke pengasingan, dimana ia memersiapkan dirinya untuk memulai perang melawan umat manusia dan membangkitkan kembali Balatentara Emas. Dan tentu saja, masa ketika ia siap memulai perang adalah masa dimana si Hellboy dan kawan-kawan juga hidup.

Walaupun sepanjang film Prince Nuada melakukan hal-hal yang hanya dilakukan tokoh antagonis (karena tuntutan skenario, tentu),  saya melihat karakternya sebagai “tokoh yang terpaksa jadi antagonis karena keadaan.” Buat saya, dia punya kharisma, yang tidak nampak dari kekonyolan Lex Luthor, kebejatan Joker maupun grandeur illution-nya Ozymandias. Walaupun ia memusuhi umat manusia, sesungguhnya Prince Nuada justru mewakili apa yang umat manusia telah lupakan. Kedekatan yang sakral dengan alam.

Penting untuk diketahui bahwa Nuada dan Balor adalah tokoh-tokoh sentral dalam mitologi Celtic (secara kasar didefinisikan sebagai rumpun budaya Irlandia, Skotlandia, dan Wales). Hanya saja, di film ini, karakter dan nama mereka dibolak-balik.

Nuada, dalam mitologi Irlandia, adalah Nuadu Silver-Hand (di film disebut Nuada Silver-Lance, dan tolong jangan mulai membuat pelesetan dengan merk coklat yang kita kenal). Ia adalah raja kaum peri yang tangan kirinya putus dalam pertempuran, sehingga diganti dengan tangan perak.

Nuadu Silver-Hand (atas) dan Nuada Silver-Lance (bawah)

Balor aslinya bukan peri, melainkan raksasa laut bermata satu yang kelak menurunkan ksatria bernama Lugh. Balor juga tidak bertanduk; yang bertanduk adalah Cernunos, dewa hutan yang di film malah ditampilkan sebagai pohon-raksasa-yang-tumbuh-dari-kacang-polong.

 Cernunos (atas), Balor versi film (bawah)

Dalam dunia mitologi Celtic, bangsa Peri sejatinya merupakan penghuni hutan dan padang rumput. Dalam kepercayaan kuno, mereka bahkan bukan sekedar penghuni, melainkan esensi sejati dari tempat yang mereka diami, semacam simbol hidup yang diciptakan oleh orang-orang jaman dulu. Para peri ini berteman dengan hewan-hewan, merayakan setiap pergantian musim, dan dari segi penampilan bahkan mencerminkan tempat mereka berdiam. Misalnya, connemara yang elok dan ceria adalah penghuni bukit-bukit landai Irlandia, sementara peri-peri galak serta kuda air kelpie yang suka menenggelamkan manusia hidup di pegunungan berkabut serta danau-danau Skotlandia.

Menurut peneliti Oxford bidang kajian budaya Celtic Evanz Wenz, dalam bukunya The Fairy Faith in Celtic Countries, peri merupakan simbol ideal akan kesempurnaan dan kesakralan alam sekitar. Itulah sebabnya mereka sering digambarkan sebagai makhluk abadi yang mencerminkan lokasi tempat tinggalnya. Ketika kaum manusia makin bertambah dan berkembang-biak serta menginvasi lebih banyak wilayah, para peri yang terpaksa ‘menyingkir’ menjadi lambang akan betapa kebijaksanaan kuno yang bersahabat dengan alam telah digantikan oleh pemikiran-pemikiran praktis manusia yang hanya punya satu tujuan : bertahan hidup, lalu memiliki lebih banyak.

Dalam salah satu adegan, yang terjadi di sebuah pabrik tua dimana Balor, Prince Nuada dan saudarinya Nuala serta peri-peri yang masih tersisa tinggal, Prince Nuada mengeluh, “mengapa kita harus menghormati perjanjian dengan manusia ? Lihatlah apa yang mereka lakukan sebagai gantinya ! Mereka serakah, membangun lapangan parkir, pusat perbelanjaan, sementara kaum kita tersingkir ke tempat seperti ini !” Hal yang sama (tapi tidak dengan nada se’jahat’ Prince Nuada) digaungkan oleh Floyd ‘Red Crow’ Westermann, seniman dan aktivis anggota suku Indian Sioux, yang sayangnya wafat pada tahun 2007….

Itulah, saya rasa, yang sebenarnya dijeritkan Prince Nuada. Ia tidak menginginkan kekuasaan seperti Lex Luthor, atau ambisi akan kebesaran pribadi seperti Ozymandias yang ngefans berat dengan Alexander Agung serta Ramses II. Prince Nuada hanya ingin agar keadaan dunia kembali seperti dulu, ketika manusia masih tahu diri dan bisa hidup menempatkan diri di samping alam, bersama dengan mereka yang gaib dan sakral. Dan sejujurnya, ketika film berakhir, saya sependapat dengannya.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip kata-kata indah dari Fiona Macleod : “Keindahan alam sekitar…adalah penebusan terhadap ketidak-abadian kita. Ketika jiwa kita bersatu dengan alam, dengan cara yang jauh lebih mendalam ketimbang imajinasi puitis kita, maka kita akan memahami apa yang tadinya tidak kita pahami.”