Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales

Tulisan ini dimuat di situs Jakarta Beat pada tanggal 6 Februari 2017, dengan penyuntingan.

800px-donato_giancola_-_beren_and_luthien_in_the_court_of_thingol_and_melian

Beren and Lúthien in the Court of Thingol and Melian, oleh Donato Giancola

Kisah Beren dan Lúthien adalah salah satu yang paling berkesan dalam legendarium Middle-earth, serta kerap dikutip dan dikaji. Selain merupakan contoh kisah romansa kepahlawanan dengan karakter berkesan (genre yang tidak pernah mati), kisah ini juga menjadi penentu berbagai peristiwa serta kelahiran tokoh-tokoh penting yang kelak akan ditemui pembaca dalam kisah-kisah selanjutnya, termasuk The Lord of the Rings. Kisah Beren dan Lúthien juga unik karena memorakporandakan stereotip khas romansa kepahlawanan; dalam kisah ini, Tolkien menjadikan Lúthien, sang putri, sebagai penyelamat Beren dan bahkan sosok yang berperan meruntuhkan benteng “si penjahat,” alih-alih sebaliknya.  Lanjutkan membaca “Culhwch ac Olwen: Kisah “Beren dan Lúthien” dalam Manuskrip Wales”

Tentang Naga-naga Middle Earth: Lebih dari Sekadar “Monster”

738px-j-r-r-_tolkien_-_dragon

Ilustrasi naga oleh J. R. R. Tolkien, dibuat sekitar tahun 1927/1928

Naga adalah makhluk yang muncul di berbagai cerita rakyat dan mitologi, namun sebagai orang Timur, saya tumbuh dengan dua macam naga dalam cerita-cerita rakyat dan fantasi yang saya baca: yang satu naga-naga Timur yang menyimbolkan kebijaksanaan, kesuburan serta berbagai kualitas positif lainnya, dan yang satu lagi naga-naga dari kisah-kisah Barat yang membakar desa, menculik putri raja, membunuh manusia dengan napas apinya, dan akhirnya dibunuh sang pahlawan. Jadi, saya agak geli sekaligus takjub ketika membaca The Hobbit untuk pertama kalinya dan melihat deskripsi Smaug, serta adegan percakapannya dengan Bilbo, yang rasanya “kok bukan naga banget.”

Ini bisa dipahami kalau kita menelisik naga-naga yang diciptakan Tolkien sebagai bagian dari Middle Earth legendarium. Sesuai dengan embel-embel legendarium tersebut, Tolkien menciptakan sebuah dunia dimana legenda memiliki legenda, dan berbagai tokoh, tempat serta makhluk hidup hanya berupa gaung yang separuh diingat oleh para karakter dalam buku-bukunya. Naga muncul dalam The Silmarillion dan The Hobbit, namun naga-naga dalam The Silmarillion adalah bagian dari legenda masa lalu, sedangkan Smaug dibahas dengan detail karena dia adalah satu dari yang terakhir; naga yang muncul di Abad Ketiga, dan oleh para pembaca The Hobbit serta tokoh seperti Bilbo Baggins dianggap sebagai “naga kontemporer.” Keunikan naga dalam dunia rekaan Tolkien justru karena kisah mereka cenderung tersamar, dan ada pengaruh unik dari legenda serta mitos Nordik, yang juga menjadi minat akademis Tolkien.  Lanjutkan membaca “Tentang Naga-naga Middle Earth: Lebih dari Sekadar “Monster””

Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan Lukisan ‘Sleep and His Brother Death’

Waterhouse-sleep_and_his_half-brother_death-1874

Saya pertama kali tahu tentang pelukis Inggris John William Waterhouse sekitar 10 tahun yang lalu. Persisnya kenapa dan bagaimana, saya sudah lupa. Tapi yang saya tahu adalah: dari sekian banyak lukisannya yang cenderung bertema klasik dan mitologi, ada satu lukisan yang sejak dulu sampai sekarang selalu membekas di hati.

Sleep and His Brother Death.  Lanjutkan membaca “Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan Lukisan ‘Sleep and His Brother Death’”

Elsa, Skadi, dan Queen Beruthiel of Gondor: Para Ratu Representasi Musim Dingin

Saya menyukai Frozen karena inilah pertama kalinya karakter ‘Ratu Es’ atau ‘Ratu Salju’ seperti Elsa tidak digambarkan sebagai tokoh antagonis, melainkan tokoh dengan karakteristik yang rumit dan kepribadian yang lebih berlapis ketimbang Anna yang merupakan putri stereotip favorit Disney: karakter putri generik yang “mendapatkan cowok dan hidup bahagia selamanya.” Karakter Elsa memang diambil dari The Snow Queen karya Hans Christian Andersen, yang lebih mirip tokoh abu-abu ketimbang antagonis. Di berbagai karya fiksi, karakter Ratu Es yang kerap digambarkan cantik namun dingin, cerdas, dan tidak terobsesi pada keinginan untuk bersama seorang pria biasanya langsung diasosiasikan dengan tokoh jahat. Menonton Frozen dan melihat Elsa membuat saya teringat pada salah satu tokoh minor dalam legendarium Tolkien, yang memenuhi semua persyaratan untuk menjadi seorang sosok Ratu Es, Queen Berúthiel of Gondor. Walaupun hanya muncul sekilas, karakteristiknya dengan cepat memikat saya karena dalam banyak hal ia mirip karakteristik Ratu Es yang lebih tradisional: sosok cantik nan cerdas namun rumit dan penuh misteri. Asosiasinya bahkan bisa ditarik ke karakter yang lebih kuno lagi: Skadi, Dewi Musim Dingin dalam mitologi Nordik.  Lanjutkan membaca “Elsa, Skadi, dan Queen Beruthiel of Gondor: Para Ratu Representasi Musim Dingin”

Trickster, Si ‘Bukan Siapa-siapa’ yang Tahu Segalanya

Siapa yang belum pernah mendengar cerita Si Kancil? Mamalia imut nan sulit ditangkap ini, kita semua tahu, sangat cerdas dan cerdik. Kancil adalah sumber kenangan masa kecil saya yang berharga, saat mendiang kakek saya seringkali menggunakan cerita-cerita si kancil sebagai ‘senjata’ kalau saya malas tidur siang. Tetapi, bahkan saat masih kecil, saya mulai berpikir kalau karakter kancil ini agak mbalelo, tidak menuruti pakem dongeng atau cerita rakyat dimana selalu ada dikotomi jelas antara tokoh baik dan jahat.  Lanjutkan membaca “Trickster, Si ‘Bukan Siapa-siapa’ yang Tahu Segalanya”

Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!

Bagi saya, yang sudah bosan dengan superhero Barat yang serba ideal baik dari penampilan maupun sifat, menonton Hellboy seperti mendapat angin segar. Akhirnya, superhero yang gegabah, sok tahu, merokok, minum bir, dan punya hobi ngemil sambil nonton TV. Jadi, ketika menonton Hellboy II: Golden Army, saya agak kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa saya malah gandrung dengan tokoh antagonisnya, Prince Nuada, yang dalam film diperankan oleh Luke Goss.  Lanjutkan membaca “Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!”