Tentang Naga-naga Middle Earth: Lebih dari Sekadar “Monster”

738px-j-r-r-_tolkien_-_dragon

Ilustrasi naga oleh J. R. R. Tolkien, dibuat sekitar tahun 1927/1928

Naga adalah makhluk yang muncul di berbagai cerita rakyat dan mitologi, namun sebagai orang Timur, saya tumbuh dengan dua macam naga dalam cerita-cerita rakyat dan fantasi yang saya baca: yang satu naga-naga Timur yang menyimbolkan kebijaksanaan, kesuburan serta berbagai kualitas positif lainnya, dan yang satu lagi naga-naga dari kisah-kisah Barat yang membakar desa, menculik putri raja, membunuh manusia dengan napas apinya, dan akhirnya dibunuh sang pahlawan. Jadi, saya agak geli sekaligus takjub ketika membaca The Hobbit untuk pertama kalinya dan melihat deskripsi Smaug, serta adegan percakapannya dengan Bilbo, yang rasanya “kok bukan naga banget.”

Ini bisa dipahami kalau kita menelisik naga-naga yang diciptakan Tolkien sebagai bagian dari Middle Earth legendarium. Sesuai dengan embel-embel legendarium tersebut, Tolkien menciptakan sebuah dunia dimana legenda memiliki legenda, dan berbagai tokoh, tempat serta makhluk hidup hanya berupa gaung yang separuh diingat oleh para karakter dalam buku-bukunya. Naga muncul dalam The Silmarillion dan The Hobbit, namun naga-naga dalam The Silmarillion adalah bagian dari legenda masa lalu, sedangkan Smaug dibahas dengan detail karena dia adalah satu dari yang terakhir; naga yang muncul di Abad Ketiga, dan oleh para pembaca The Hobbit serta tokoh seperti Bilbo Baggins dianggap sebagai “naga kontemporer.” Keunikan naga dalam dunia rekaan Tolkien justru karena kisah mereka cenderung tersamar, dan ada pengaruh unik dari legenda serta mitos Nordik, yang juga menjadi minat akademis Tolkien.

Naga di Middle Earth muncul pada Abad Pertama, diciptakan oleh Morgoth, Dark Lord pertama. Morgoth menciptakan naga karena merasa bahwa pasukan Orc saja tak cukup untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Tidak ada rincian mendetail tentang bagaimana Morgoth menciptakan naga-naganya, tapi mereka bisa dideskripsikan sebagai makhluk besar yang berumur panjang, dengan kepala mirip reptil, bersisik sangat keras sehingga sulit ditembus senjata (namun bagian di bawah sisik tersebut lunak dan bisa menjadi titik kelemahan naga), dan ada yang bersayap maupun tidak. Naga bisa mengeluarkan api yang sangat panas sehingga bahkan bisa melelehkan Cincin-cincin Kekuatan. Akan tetapi, ini hanya berlaku untuk jenis yang disebut Urulokë (fire-drake), sedangkan yang disebut cold-drake tidak bisa mengeluarkan api.

Naga-naga Paling Terkenal dalam Sejarah Middle Earth

Naga api pertama yang muncul di Middle Earth adalah Glaurung, yang kerap disebut sebagai Father of Dragons, The Worm of Morgoth, dan The Great Worm of Angband (worm di sini mengacu pada sebutan untuk naga tak bersayap, bukan cacing secara harfiah, dan berasal dari bahasa Inggris Kuno wyrm serta Nordik Kuno ormr).  Dia muncul pertama kali di tengah Siege of Angband, 400 tahun pengepungan panjang kaum Elf Noldor terhadap benteng Morgoth pada Abad Pertama. Saat itu, Glaurung yang masih belum tumbuh sepenuhnya keluar dari benteng dan berhasil mendesak pasukan Elf hingga mundur dari wilayah Ardgalen, yang kemudian dia porak-porandakan, sebelum pasukan Elf mendesaknya mundur kembali. 200 tahun setelahnya, Glaurung yang telah tumbuh dewasa memimpin pasukan Orc dan Balrog dalam The Battle of Sudden Flame yang mengakhiri pengepungan panjang itu, memorak-porandakan pasukan Elf serta membakar area sepanjang Sungai Gelion. Dia baru berhasil didesak mundur dan kabur kembali ke Angband setelah dikepung pasukan Dwarf.

768px-j-r-r-_tolkien_-_glaurung_sets_forth_to_seek_turin

Glaurung Sets Forth to Seek Turin, ilustrasi Glaurung yang dibuat Tolkien (1927)

The strength and terror of the Great Worm were now great indeed, and Elves and Men withered before him; and he came between the hosts of Maedhros and Fingon and swept them apart.

J.R.R. Tolkien: The Silmarillion: Of the Fifth Battle: Nirnaeth Arnoediad.

Morgoth juga melepaskan naga-naga saat menyerang kerajaan Elf tersembunyi, Gondolin, dalam peristiwa yang disebut sebagai Kejatuhan Gondolin (The Fall of Gondolin). Salah satu di antara naga-naga ini adalah makhluk yang disebut sebagai Naga Api Gondolin. Naga tak bersayap ini begitu besar hingga bisa mengangkut Balrog di punggungnya, dan ketika kakinya ditikam pedang oleh Tuor, dia memekik hingga ekornya menggelepar-gelepar dan membunuh banyak Elf maupun Orc yang bertempur di sekitarnya.

515px-roger_garland_-_fall_of_gondolin

The Fall of Gondolin oleh John Garland

Jika Glaurung adalah naga pertama yang muncul di Middle Earth, maka Ancalagon adalah naga api bersayap pertama. Ukurannya yang spektakuler menjadikannya naga terbesar dalam sejarah Arda. Ancalagon adalah senjata terakhir Morgoth dalam upaya terakhirnya menguasai Arda, sebelum dirinya dikalahkan dalam War of Wrath, perang besar terakhir antara Valar dan Morgoth. Begitu besar tubuhnya, sehingga ketika akhirnya dijatuhkan oleh Eärendil, tubuh Ancalagon menghancurkan ketiga puncak Thangorodrim, gunung-gunung berapi yang dijadikan benteng Morgoth (sebagai gambaran, Tolkien mendeskripsikan puncak-puncak Thangorodrim setinggi 35.000 kaki, serta membentang sepanjang 150 hingga 200 mil atau sekitar 240 hingga 322 km). Akan tetapi, harus diingat bahwa pernyataan “menghancurkan puncak Thangorodrim” ini bisa diartikan sebagai gaya bahasa hiperbola, yang kerap digunakan dalam bahasa kisah legenda, mitologi dan fiksi fantasi Abad Pertengahan, dan Tolkien tidak pernah benar-benar mendeskripsikan sebesar apa Ancalagon ini. Tapi dari cara penggambarannya, kita bisalah sepakat bahwa naga yang satu ini “was motherf*cking huge.”

jenny_dolfen_-_ancalagon_the_black

Ancalagon the Black oleh Jenny Dolfen

Ada juga naga tak bersayap bernama Scatha, yang muncul pada Abad Ketiga. Tak banyak yang diketahui tentang Scatha, kecuali bahwa dia hidup di Pegunungan Kelabu di Utara, menjaga gunung harta rampasan dari kaum Dwarf. Naga ini kemudian dibunuh oleh Fram, salah satu leluhur kaum Manusia di Utara dan moyang bangsa Rohan. Gunung harta ini menjadi bahan rebutan antara kaum Dwarf dan Manusia, hingga Fram mengirimkan salah satu gigi Scatha kepada kaum Dwarf disertai pesan bahwa “harta seperti ini (gigi Scatha) jauh lebih berharga daripada gunung harta karunmu, karena lebih sulit mendapatkannya.” Kaum Dwarf yang tersinggung kemudian membunuh Fram, namun sebagian hartanya dibawa kaum Manusia ke Rohan. Horn of the Mark, sebuah terompet perang perak buatan Dwarf yang diberikan Eowyn pada Merry setelah Perang Cincin konon berasal dari gunung harta rampasan Scatha.

433px-wouter_florusse_-_the_slaying_of_scatha

The Slaying of Scatha oleh Wouter Florusse

Akhirnya, tentu saja ada Smaug, naga terbesar di Abad Ketiga. Smaug menghancurkan Lonely Mountain dan Kota Dale, lalu berdiam menjaga gunung harta milik kaum Dwarf, memaksa Thorin dan kaumnya untuk pergi. Smaug tidak hanya ganas dan serakah, namun juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, intelegensi, dan keangkuhan. Kesombongan Smaug akan kekuatan dirinya sendiri inilah yang akhirnya menghancurkannya, ketika Bard menembakkan panah ke bagian tubuhnya yang tidak tertutup lapisan keras, dan tubuhnya jatuh ke dalam danau.

424px-alan_lee_-_smaug_the_magnificent

Smaug the Magnificent oleh Alan Lee

Tidak ada penjelasan lebih lanjut terhadap keberadaan naga-naga di Middle Earth; Tolkien nampaknya memang sengaja tidak memberikan rincian terlalu banyak tentang riwayat para naga, karena mereka adalah bagian dari legenda dalam legenda yang menjadi ciri khas karyanya, dan mempertahankan kekosongan informasi dalam buku-bukunya adalah cara agar legenda ini tetap hidup. Riwayat akhir para naga pun tidak jelas, walaupun ada kemungkinan bahwa naga sebenarnya masih ada di wilayah Utara, hanya saja mereka dalam keadaan dorman, tidak aktif, dan tak lagi menjadi sumber ketakutan kaum Manusia, Elf dan Dwarf, tidak seperti Abad Pertama hingga era Smaug. Dalam LOTR, Gandalf berkata pada Frodo bahwa tidak ada lagi naga yang apinya cukup panas untuk melelehkan Cincin Kekuatan, yang bisa saja diartikan sebagai “ya, masih ada naga, tapi mereka sudah tidak sekuat dulu.” Hal ini dijelaskan Tolkien dalam salah satu suratnya:

“Some stray answers. Dragons. They had not stopped; since they were active in far later times, close to our own. Have I said anything to suggest the final ending of dragons? If so it should be altered. The only passage I can think of is Vol. I p. 70 : ‘there is not now any dragon left on earth in which the old fire is hot enough’. But that implies, I think, that there are still dragons, if not of full primeval stature….”

Surat J. R. R. Tolkien nomor 144, 25 April 1954

Kutukan Naga: Sumber Inspirasi Naga Tolkien dari Mitologi Nordik

Kita boleh saja bertanya-tanya tentang bagaimana Morgoth bisa “membiakkan” naga, karena Tolkien tak pernah memberikan rincian tentang itu. Yang membuat saya lebih tertarik adalah fakta bahwa karakteristik naga Tolkien yang unik, dengan gabungan antara kebuasan monster dan sifat-sifat seperti kerakusan, keangkuhan dan kecerdasan, plus unsur kutukan yang nampaknya selalu menyertai siapapun yang berinteraksi dengan naga tersebut, adalah ciri khas dari naga-naga yang muncul dalam mitologi Nordik.

Fafnir adalah naga paling terkenal dalam mitologi Nordik. Fafnir tadinya adalah seorang ksatria, yang bersama saudaranya, Regin, membunuh ayah mereka sendiri lantaran kutukan cincin Andvarianur, yang membuat mereka gelap mata akibat menginginkan harta karun ayah mereka. Kekuatan kutukan itu membuat Fafnir mampu berubah wujud menjadi naga demi menjaga harta rampasan dari sang ayah untuk dirinya sendiri, namun Regin diam-diam melatih seorang ksatria bernama Sigurd yang kelak membunuh Fafnir. Akan tetapi, kutukan saudaranya yang menjalar ke Regin membuatnya hendak membunuh Sigurd juga, namun karena Sigurd tanpa sengaja menjilat darah Fafnir saat memasak jantung sang naga untuk Regin, dia mendapat kemampuan memahami bahasa burung, yang memperingatkannya akan niat jahat Regin. Sigurd pun akhirnya membunuh Regin.

800px-siegfried_and_the_twilight_of_the_gods_p_022

Fafnir guarding the hoard of gold oleh Arthur Rackham

Apakah selesai sampai di situ? Tidak! Sigurd menjadi seorang ksatria yang disegani, namun hidupnya terus dipenuhi serangkaian peristiwa tragis, termasuk percintaannya dengan Brynhild si Valkyrie dan pernikahannya dengan putri bernama Gudrun, yang berujung serangkaian peristiwa tragis, hingga berbuntut pada terbunuhnya dirinya di tangan kerabat Gudrun, dan bunuh dirinya Brynhild pada pemakaman Sigurd. Tolkien menjabarkan legenda ini dalam puisi narasi karyanya yang diterbitkan setelah kematiannya: The Legend of Sigurd and Gudrun.

Ada juga naga laut raksasa bernama Jörmungand, anak dari Loki bersama raksasa wanita Angrboda, yang muncul dari dalam laut pada peristiwa Kiamat para Dewa alias Ragnarok. Naga ini digambarkan begitu besar sehingga mampu melingkari bumi dan mencengkeram ujung ekornya sendiri. Pertempuran antara naga ini dan Thor menjadi titik puncak Ragnarok, dimana setelahnya, Thor berhasil membunuh sang naga, namun kemudian mati setelah berjalan sembilan langkah karena racun naga tersebut. Pertempuran kolosal antar naga raksasa dan pahlawan ini seolah mencerminkan pertempuran antara Ancalagon dan Eärendil, yang juga terjadi para perang final besar-besaran antar Morgoth dan para Valar.

800px-johann_heinrich_fc3bcssli_011

Thor in Hymir’s Boat Battling the Midgard Serpent, oleh Henry Fuseli

Kita bisa melihat banyak elemen dari kisah ini yang diramu ulang dalam buku-buku Tolkien: kutukan cincin, naga yang memiliki keangkuhan dan kecerdasan layaknya manusia, gunung harta yang dijaga, serta kematian naga yang membawa kutukan bagi mereka yang terlibat. Benda-benda atau harta yang berasal dari naga dikisahkan masih membawa dampak tersendiri bagi orang yang mengambilnya. Sigurd menjilat setitik darah ketika memasak jantung naga untuk Regin dan mendapat kemampuan memahami bahasa burung, yang menyelamatkan nyawanya. Dalam buku Children of Hurin, Helm Naga Dor-lomin legendaris milik Turin Turambar membuatnya menjadi petarung ganas di medan pertempuran, karena siapapun yang mengenakannya konon dilindungi oleh kekuatan gaib yang membuatnya ditakuti oleh musuh yang melihatnya.

alan_lee_-_the_dragon_helm_of_dor-lomin

Ilustrasi Dragon Helm of Dor-lomin, oleh Alan Lee, dengan naga Glaurung di atasnya.

Akan tetapi, “kutukan naga” adalah sisi lain dari kekuatan gaib tersebut. Sama seperti kutukan Fafnir yang membuatnya membantai ayahnya sendiri demi hartanya sebelum berubah menjadi naga, yang mengakibatkan kematian saudaranya, Sigurd, dan kemudian Brynhild, naga-naga dalam Tolkien legendarium memiliki kualitas yang sama. Fram dibunuh oleh para Dwarf setelah membunuh Scatha karena perebutan harta yang dimiliki naga tersebut. Hal yang sama tercermin dalam The Hobbit ketika Thorin menolak permintaan kaum Elf Mirkwood dan penduduk Kota Dale untuk membagi harta, dan kemudian menjadi paranoid karena takut Arkenstone dari gundukan harta itu dicuri. Thorin kemudian menemui akhir tragis. Dalam Children of Hurin, Glaurung menyihir Nienor agar hilang ingatan dan tanpa diketahuinya menikahi saudara lelakinya sendiri, Turin. Ketika Glaurung mati, mantranya terlepas, dan mengakibatkan bunuh dirinya Nienor serta Turin; kehancuran yang dibawanya tak berhenti walau napasnya telah tumpas. Ini mencerminkan kisah Sigurd yang, setelah menikahi Gudrun karena dimantrai oleh ibu Gudrun, mendadak kembali teringat kepada Brynhild ketika Valkyrie itu hadir di upacara pernikahannya dengan raut wajah penuh kemarahan.

the_death_of_glaurung_by_ekukanova-d4lx6j1

The Death of Glaurung oleh Elena Kukanova

Bahkan dalam buku bernada “ceria” seperti The Hobbit, masih ada paragraf yang sedikit banyak menggambarkan aspek ini dari Smaug. Ketika Bard si pemanah menjatuhkan Smaug dengan panahnya, tubuh Smaug jatuh ke dalam danau dan tenggelam, dan tak ada orang yang pernah berani mendekatinya untuk mengambil batu-batu permata yang rontok dari tubuhnya, walaupun bangkai Smaug bisa terlihat dari permukaan kalau permukaan danau sedang tenang; tempat itu seolah dikutuk.

Adegan percakapan antara Smaug dan Bilbo juga menunjukkan kualitas naga dalam mitologi Barat yang lebih dari sekadar monster. Smaug mungkin ganas dan serakah, namun dia juga cerdas, penuh rasa ingin tahu, sangat teliti (sampai ke tahap bisa mendeteksi hilangnya benda berharga yang terhitung sangat kecil dari sebuah gunung harta besar), dan bahkan mampu menanamkan keraguan dalam hati Bilbo terkait misinya bersama para Dwarf. Hal yang sama juga terlihat pada Chrysophylax, karakter naga yang diciptakan Tolkien untuk cerita Farmer Giles of Ham (bisa ditemukan dalam buku kompilasi Tales from the Perilous Realm, diterjemahkan oleh Gramedia sebagai Kisah-kisah dari Negeri Penuh Bahaya). Walaupun ini bisa dibilang parodi untuk kisah-kisah kepahlawanan, Chrysophylax berbagai banyak karakteristik dengan Smaug dan Glaurung; serakah akan harta, namun cerdas dan pandai menilai situasi. Chrysophylax malah bisa dibilang bernegosiasi dengan Petani Giles agar tidak dibunuh dan bisa hidup dengan nyaman namun tanpa menjatuhkan reputasinya sebagai naga yang menakutkan (Chryshophylax bahkan sempat membawa harta untuk Giles dan tinggal di bawah jembatan di desanya, walau kemudian dilepas pergi oleh Giles karena biaya makannya lumayan mahal).

590px-alan_lee_-_farmer_giles_of_ham

Farmer Giles of Ham and Chrysophylax, oleh Alan Lee

Setelah Smaug mati, tak ada lagi naga yang sepertinya, dan kematian Smaug mungkin saja membawa dampak terhadap kekalahan Sauron. Mengapa demikian? Kita bisa beranggapan bahwa, setelah kematian para “dedengkot” naga seperti Scatha dan Glaurung, para naga perlahan mundur kembali ke wilayah tandus di Utara, dan tak pernah ada lagi catatan kerusakan akibat perbuatan naga seperti di abad sebelumnya. Kematian Scatha dan kepergian Smaug dari Utara (yang juga berujung pada kematiannya) membuat kekuatan kolektif para naga melemah, dan mereka semakin tidak berani melakukan serangan dan kerusakan ke tempat-tempat yang dihuni para Manusia, Elf dan Dwarf. Membiakkan naga mengerikan lainnya yang sekelas Ancalagon dan Glaurung pastinya merupakan tugas besar yang melelahkan, sesuatu yang Sauron (sebagai Dark Lord berikutnya) mungkin belum bisa lakukan dalam kapasitas yang sama seperti Morgoth. Sauron mungkin saja menyambut gembira penaklukan Smaug akan Dale dan Lonely Mountain, karena bisa mendukung rencana penaklukannya.

797px-john_howe_-_smaug_destroys_lake-town

Smaug Destroys the Lake Town oleh John Howe

Jika kita asumsikan demikian, kematian Smaug mungkin bisa dibilang mengacaukan rencana Sauron begitu drastisnya. Sama seperti kisah penguasa Romawi, Augustus Caesar, yang ketika mendengar kabar kekalahan tiga legiunnya yang dikomandani Quintillus Varus terhadap orang-orang Jerman, mengamuk dan berteriak “Varus! Kembalikan legiunku!” Kekuatan kaisar Romawi terletak pada gabungan kekuatan kolektif legiunnya, yang dikirimkan untuk melakukan penaklukan. Mungkin saja Sauron merasakan hal yang sama ketika mendengar kematian Smaug, karena tak ada lagi naga-naga kuat yang bisa menjadi legiunnya, sama halnya dengan Morgoth yang memiliki Glaurung, Ancalagon, dan naga-naga api yang menyerbu Gondolin. Dan kita tahu, kurang dari seabad kemudian, Sauron akhirnya dikalahkan.

Apakah ini sekadar spekulasi? Bisa jadi. Tapi ini sesuatu yang wajar. Pada akhirnya, tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan para naga, dan bahkan kaum bijak di Middle Earth tak ada yang pernah benar-benar bisa menjelaskan berbagai aspek tentang para naga (catatan tentang naga di kalangan kaum Elf pun sangat sedikit).

Saya pernah membaca di sebuah buku mitologi bahwa naga sejatinya bisa dijelaskan sebagai perwujudan semua hal yang ditakuti manusia: reptil berbahaya seperti ular, api, binatang buas bertaring, serta segala sesuatu yang berukuran besar, masif, misterius, dan bisa membuat manusia merasa kecil sekaligus tidak aman, seperti gunung berapi. Hal-hal tersebut diracik di alam bawah sadar dan di”keluarkan” sebagai kisah-kisah tentang naga. Akan tetapi, siapa yang pernah benar-benar melihatnya? Inilah yang dilakukan Tolkien saat menciptakan naga-naganya. Tolkien menciptakan sebuah legenda modern, dan para naganya adalah legenda di dalam dunia legenda tersebut; misterius sejak awal kelahiran mereka, meninggalkan jejak-jejak kehancuran yang begitu besar sehingga hanya sedikit yang hidup di hadapan mereka, sebelum mendadak menghilang kecuali hanya sebagai ingatan samar.

Sumber:

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Humphrey, Carpenter. 2000. The Letters of J.R.R. Tolkien. Boston: HoughtonMiffin.

Tolkien. J. R. R. 1992. The Book of Lost Tales part 2. Christopher Tolkien (ed). New York: Del Rey.

Tolkien, J. R. R. 2002. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Tolkien, J. R. R. 2009. The Legend of Sigurd and Gudrun. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

Tolkien, JRR. 1986. The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings. Montana: Turtleback Books.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

Tolkien. J. R. R. 2008. Tales from the Perilous Realm. Christopher Tolkien (ed). HarperCollins.

Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan Lukisan ‘Sleep and His Brother Death’

Saya pertama kali tahu tentang pelukis Inggris John William Waterhouse sekitar 10 tahun yang lalu. Persisnya kenapa dan bagaimana, saya sudah lupa. Tapi yang saya tahu adalah: dari sekian banyak lukisannya yang cenderung bertema klasik dan mitologi, ada satu lukisan yang sejak dulu sampai sekarang selalu membekas di hati.

Sleep and His Brother Death.

Waterhouse-sleep_and_his_half-brother_death-1874

Dulu, saya tidak bisa menjelaskan kenapa lukisan ini yang paling berkesan, dari sekian banyak lukisan Waterhouse lainnya, Bahkan sekarang, penjelasan yang saya punya harus dideskripsikan panjang lebar. Mungkin karena judulnya yang penuh kontradiksi. (Sleep dan Death adalah terjemahan bahasa Inggris untuk nama kedua tokoh mitologi dalam lukisan tersebut, Hypnos dan Thanatos). Mungkin karena lukisan ini memotret bentuk keintiman lembut yang jarang saya lihat pada potret dua bersaudara. Mungkin karena saya, sebagai anak sulung, dari dulu sebenarnya bermimpi punya kakak laki-laki. Tapi apa yang saya ketahui tentang kisah di balik pembuatan lukisan ini mungkin juga berkontribusi pada sentimen yang saya rasakan.

John William Waterhouse (1849-1917) adalah pelukis Inggris yang terkenal dengan gaya melukis yang dipengaruhi era Pre-Raphaelite dan Impressionist, dengan subyek lukisan tokoh-tokoh dalam mitologi Yunani dan Romawi, legenda Arthur, sejarah kuno, serta karya Shakespeare. Lukisan-lukisannya yang paling terkenal misalnya La Belle Dame Sans Merci, The Lady of Shalott, Ophelia, Hylas and the Nymphs, The Mermaid, Ulysses and the Sirens, Miranda, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, dilihat dari kronologi pembuatan karya-karyanya, Waterhouse sendiri nampaknya menganggap Sleep and His Brother Death adalah salah satu karya paling istimewa.

Sleep and His Brother Death adalah salah satu lukisan pertama Waterhouse, yang juga dipamerkan di pameran musim panas Royal Academy pada tahun 1874, serta menjadi pembuka kesuksesannya (Waterhouse berhasil mengadakan pameran tahunan dan berkontribusi dalam berbagai ajang seni di London sejak lukisan tersebut menjadi terkenal). Dalam mitologi Yunani, Hypnos adalah perwujudan dari “tidur,” dan Thanatos adalah perwujudan dari “kematian.” Mereka adalah anak-anak Erebus, Dewa Kegelapan, dan Nyx, Dewi Malam. Kediaman mereka dihiasi oleh bunga poppy yang biasa digunakan sebagai tanaman penghilang rasa sakit dan sedatif (memiliki efek menidurkan, namun bisa mematikan jika berlebihan), dan di dekatnya, mengalir sungai yang disebut sebagai Sungai Lethe (River of Forgetfulness).

Akan tetapi, lukisan ini juga memiliki makna sentimental: Waterhouse melukisnya sebagai kenangan terhadap adik lelakinya, yang meninggal di usia muda karena TBC.

Begitu menyadari fakta tersebut, semua elemen yang ada di lukisan ini menjadi terasa masuk akal. Hypnos tidur dengan beberapa bunga poppy di pangkuannya, kepala menyender ke bahu saudaranya, yang menaruh lengannya di belakang tubuhnya. Akan tetapi, walau dalam posisi tidur yang cukup dekat, Hypnos berbaring di sisi tempat tidur yang dibanjiri cahaya, sedangkan sebagian besar ruangan (termasuk sisi tempat Thanatos tidur) diselimuti kegelapan. Saya kerap mencoba membayangkan Waterhouse muda, duduk di depan kanvas dalam keadaan berdukacita, membayangkan figur adiknya saat dia menyapukan kuas dan cat. Saya tak ingin kedengaran sok tahu, tetapi saya suka membayangkan dia menuangkan beban di hatinya lewat sapuan bayangan yang begitu banyak. Bagaimana dia membuat ekspresi Hypnos begitu tenang ketika tidur di samping saudaranya, sang wujud kematian. Saya bahkan bertanya-tanya apakah wajah adiknya yang dipikirkan Waterhouse ketika melukis Hypnos, yang dalam lukisan kelihatan sedikit lebih muda dibandingkan Thanatos, walau dalam mitologi keduanya dideskripsikan sebagai saudara kembar. Apakah Waterhouse ingin meyakinkan dirinya bahwa adiknya telah “tidur dengan tenang” dalam kematian, karena kematian kerap dideskripsikan sebagai tidur yang sangat lama? Tentang itu, saya hanya bisa bertanya-tanya, karena tidak ada banyak informasi tentang kehidupan pribadi Waterhouse di masa-masa awal karirnya.

Hal lain yang membuat saya jatuh cinta pada lukisan ini adalah penggambaran yang lebih intim dan lembut dari dua tokoh mitologi yang umumnya tidak digambarkan selembut lukisan ini. Dalam puisi epik The Iliad, Hypnos digambarkan menipu Dewa Zeus demi membantu Dewi Hera agar kaum Danaan memenangkan perang Troya. Thanatos kerap diasosiasikan dengan aspek-aspek seperti Geras (Usia Tua), Moros (Maut), Eris (Dendam), dan Oizys (Penderitaan). Lukisan ini seperti sebuah “potret di belakang layar,” yang menunjukkan kedekatan kedua bersaudara ini saat berada dalam kondisi yang paling rapuh yaitu tidur. Melihat potret mereka berdua dalam keadaan seperti ini mungkin memberi sensasi yang sama ketika orang jaman sekarang melihat video Ricky Martin mengganti sendiri popok anak-anaknya, atau Barack Obama mengajak anak-anaknya beli permen di toko dengan pakaian santai: merasa kesenangan yang aneh ketika melihat bahwa orang-orang yang nampak sangat jauh dan tak terjangkau ternyata memiliki kesamaan dengan kita dalam aspek kehidupan pribadi.

Waterhouse mungkin juga ingat bahwa Thanatos adalah dewa yang diasosiasikan dengan kematian yang damai, berbeda dengan Keres, dewi yang diasosiasikan dengan kematian yang kejam dan menyakitkan. Melukis Hypnos dan Thanatos tidur berdampingan, mungkin, adalah bentuk harapan Waterhouse bahwa adiknya yang hidupnya direnggut saat masih muda itu akhirnya menemukan kedamaian dalam tidur abadinya.

Sentimen itu, nampaknya, adalah yang saya tangkap dan membuat saya jatuh cinta dengan lukisan ini; dari dulu hingga sekarang.

Sumber:

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

John William Waterhouse Works

Elsa, Skadi, dan Queen Beruthiel of Gondor: Para Ratu Representasi Musim Dingin

Saya senang menonton Frozen karena inilah pertama kalinya karakter ‘Ratu Es’ atau ‘Ratu Salju’ seperti Elsa tidak digambarkan sebagai tokoh antagonis, melainkan tokoh dengan karakteristik yang rumit dan kepribadian yang lebih berlapis ketimbang Anna yang merupakan putri stereotip favorit Disney: karakter putri generik, yang pada akhirnya ‘mendapatkan cowok dan hidup bahagia selamanya.’ Karakter Elsa memang diambil dari The Snow Queen karya Hans Christian Andersen, yang lebih mirip tokoh abu-abu ketimbang antagonis. Saya menyukainya, karena di berbagai karya fiksi, karakter ‘Ratu Es’ yang kerap digambarkan cantik namun dingin, cerdas, dan tidak terobsesi pada keinginan untuk bersama seorang pria biasanya langsung diasosiasikan dengan tokoh jahat. Menonton Frozen dan melihat Elsa membuat saya teringat pada salah satu tokoh minor dalam legendarium Tolkien, yang memenuhi semua ‘persyaratan’ untuk menjadi seorang sosok Ratu Es, Queen Berúthiel of Gondor. Walaupun hanya muncul sekilas, karakteristiknya dengan cepat memikat saya karena dalam banyak hal ia mirip karakteristik Ratu Es yang lebih tradisional: sosok cantik nan cerdas namun rumit dan penuh misteri. Asosiasinya bahkan bisa ditarik ke karakter yang lebih kuno lagi: Skadi, Dewi Musim Dingin dalam mitologi Nordik.

Queen Berúthiel dan Kucing-kucingnya

Jika Anda termasuk yang membaca The Lord of the Rings terlebih dahulu sebelum membaca Unfinished Tales (dan saya yakin kebanyakan pasti seperti itu), Anda akan menemukan sedikit referensi tentang Queen Berúthiel di Fellowship of the Rings, bab Journey in the Dark, saat Aragorn pertama menyebut namanya dalam celetukan ini:

“[Gandalf] is surer of finding the way home in a blind night than the cats of Queen Berúthiel.”

Celetukan pendek ini tidak memberi keterangan apa-apa soal Berúthiel dan kucing-kucingnya, hanya memberi implikasi bahwa kucing-kucing sang ratu (dan tentunya sang ratu sendiri) telah diasosiasikan oleh karakter di LOTR sebagai sebuah legenda lampau dalam dunia Middle Earth, sama seperti kisah Amrod dan Nimrodel yang dinyanyikan Legolas di Fellowship of the Ring saat mereka menyeberangi Sungai Nimrodel di Lothlorien. Nama Berúthiel muncul dalam Unfinished Tales, salah satu karya Tolkien yang diterbitkan setelah kematiannya. Berúthiel adalah Manusia berdarah Black Numenorean yang hidup pada awal Abad Ketiga dan diperistri oleh raja Gondor ke-12, Tarannon Falastur. Pernikahan ini merupakan pernikahan politik, bukan berdasarkan cinta, dan tidak membuahkan keturunan.

Berúthiel oleh Paula DiSante

Berúthiel digambarkan sebagai sosok yang dingin, penyendiri, dan membenci Tarannon. Ia juga tidak menyukai aroma laut, dan semakin membencinya ketika Tarannon membawanya untuk tinggal di istananya di dekat laut Pelargir. Ia menghiasi halaman istana dengan patung-patung aneh berwarna gelap, namun membiarkan bagian dalam istana nyaris tanpa hiasan. Ia juga tidak menyukai warna-warni cerah dan benda-benda berornamen rumit. Yang unik, Berúthiel sebenarnya membenci kucing, namun entah mengapa, kucing-kucing selalu mendekatinya. Ia pun akhirnya memutuskan memelihara sembilan ekor kucing hitam dan seekor kucing putih, memperbudak mereka sebagai mata-matanya. Ia digambarkan mampu “mengetahui semua rahasia terkelam tentang Gondor dengan memelajari bahasa dan memori kucing-kucingnya.” Begitu terkenalnya kucing-kucing Berúthiel, sehingga tak ada yang berani menyentuh mereka ketika mereka lewat, dan bahkan mengutuk mereka.

Tarannon akhirnya memutuskan mengasingkan Berúthiel, dan memulangkan sang ratu serta kucing-kucingnya dengan kapal. Ia juga menghapus namanya dari Book of the Kings. Hal ini bisa jadi merupakan penyebab terjadinya peperangan antara kaum Black Numenorean dan Gondor, dimana akhirnya mereka berhasil merebut Haven of Umbar. Walaupun nama Berúthiel telah dihapus dari Book of Kings, fakta bahwa namanya tetap dikenal menunjukkan reputasinya.

She had nine black cats and one white, her slaves, with whom she conversed, or read their memories, setting them to discover all the dark secrets of Gondor, so that she knew those things “that men wish most to kept hidden.”

– J. R. R. Tolkien’s notes in Unfinished Tales, chapter: The Istari.

Asosiasi Musim Dingin pada Berúthiel dan Skadi

Dalam sebuah wawancara di tahun 1966, Tolkien mengungkapkan asosiasi Berúthiel dengan tokoh dalam legenda Nordik bernama Skadi. Skadi (Skaði) adalah dewi dari kaum Jötunn (makhluk mitologi yang diasosiasikan dengan raksasa es) yang tinggal di pegunungan. Skadi mencintai kesendirian, salju, musim dingin, dan aktifitas seperti berburu dan berseluncur di lereng-lereng bersalju. Ia menikahi dewa laut Njord sebagai perwujudan kompensasi dari para dewa yang telah tak sengaja membunuh ayahnya.

Skadi oleh Carl Fredrik von Saltza

Dalam teks prosa Nordik, Edda, Skadi dan Njord digambarkan berdebat tentang tempat tinggal mereka setelah menikah. Njord yang mencintai laut dan kehangatan ingin mereka tinggal di pantai, namun Skadi membencinya dan lebih suka mereka tinggal di pegunungan bersalju. Akhirnya, mereka membuat kesepakatan: Njord akan mengikuti Skadi untuk tinggal di pegunungan selama sembilan bulan, dan Skadi akan mengikuti Njord untuk tinggal di dekat laut selama tiga bulan. Akan tetapi, tak ada yang benar-benar menikmati pengalaman mereka, dan bahkan ada puisi yang menggambarkan kerinduan Skadi kepada pegunungan setiap kali ia harus tinggal di dekat laut:

“Sleep I could not on the sea beds for the screeching of the bird. That gull wakes me when from the wide sea he comes each morning.”

Skadi’s Longing for the Mountains oleh W. G. Collingwood

Di sini bisa dilihat asosiasi antara Skadi dan Berúthiel: keduanya mencintai kesendirian dan musim dingin, menguasai hal-hal yang secara tradisional tidak diasosiasikan pada wanita (Skadi dengan kemampuannya berburu) ataupun kemampuan yang cenderung membuat pemiliknya dicurigai (Berúthiel bisa berkomunikasi dengan kucing untuk mengetahui rahasia-rahasia tergelap Manusia lain), dan masuk ke dalam pernikahan yang sebenarnya tak mereka inginkan. Skadi sebenarnya tak ingin memilih Njord sebagai suami; para dewa bisa dibilang menipunya dengan menyembunyikan beberapa dewa di balik tirai, dimana Skadi harus memilih mana yang bisa dinikahinya berdasarkan kaki mereka (ia memilih dewa berkaki paling indah karena dipikirnya itu milik Baldr, dewa muda yang diasosiasikan dengan cahaya dan kemurnian, namun ternyata kaki yang dipilihnya adalah milik Njord).

Kesepakatan yang dibuat antara Skadi dan Njord sering dianggap sebagai simbol dari pergantian antara musim panas dan dingin, dan kebencian Berúthiel terhadap aroma dan suara ombak laut pun mencerminkan ketidaksukaan Skadi pada pantai. Berúthiel adalah asosiasi malam, kegelapan dan musim dingin; ia mencintai segala yang tidak terlalu cerah, dingin dan tandus, dan menyukai warna-warna gelap serta memiliki kemampuan berkomunikasi dengan kucing, hewan yang dalam legenda Eropa juga kerap diasosiasikan dengan misteri serta sihir. Skadi dan Berúthiel tercerabut dari elemen mereka saat terpaksa tinggal di daerah hangat dekat pantai, dan menjadi/merasa asing di tengah-tengah lingkungan yang tak bersahabat dengan ‘elemen’ mereka. Berúthiel pun menjadi sosok wanita yang diasingkan, dengan namanya dihapus dari sejarah, namun akhirnya tetap hidup dalam legenda-legenda kuno karena reputasinya.

Berúthiel oleh Maureval (deviantart)

Elsa dalam Frozen juga digambarkan menikmati ‘kepindahannya’ dari kerajaan di dekat dermaga yang sibuk ke pegunungan yang dikelilingi elemennya yaitu salju, karena ia menjadi sosok yang dicurigai oleh orang sekitarnya di tengah-tengah lingkungan ‘manusia normal’ dan tidak bisa hidup nyaman karena takut menunjukkan kekuatannya. Pikiran saya yang suka over-analisa ini bahkan menginterpretasikan dandanan rambut Elsa yang tergerai sebagai petunjuk bahwa ia akhirnya bisa bebas, kontras dengan dandanan sanggul ketat ala ratu yang menunjukkan jiwa tertekannya karena harus hidup tanpa bisa mengaktualisasikan kemampuannya, mengikuti apa yang dianggap orang lain sebagai ‘layaknya wanita normal.’ Ingatkah adegan ketika salah satu tamu kerajaan yang melihat Elsa menyemburkan es berkata: “sorcery (sihir)?” Dalam sejarah kelam Eropa, wanita yang menguasai hal-hal yang tidak lazim dikuasai wanita biasanya dianggap sebagai orang yang menyimpang, bahkan penyihir (tapi ini Disney, jadi tentu saja happy ending).

Skadi, Elsa dan Berúthiel adalah karakter dengan ‘peran’ berbeda dalam kisah berbeda, namun mereka punya kesamaan dalam beberapa aspek karakteristik serta situasi yang mengelilingi mereka: mereka adalah simbol semua yang berkaitan dengan musim dingin, mereka adalah wanita yang karakternya diasosiasikan sebagai ‘tidak konvensional,’ mereka merasa tertekan ketika tercerabut dari elemen mereka, dan ketika itu terjadi, mereka merasa/dianggap sebagai outsider. Dan tentu saja, Berúthiel lebih dari sekedar gambaran klasik seorang crazy cat lady, melainkan karakter yang sesungguhnya telah banyak disalahpahami dalam sejarahnya di Middle Earth legendarium.

Berúthiel oleh Steamy (deviantart)

…her name was erased from the Book of the Kings (“but the memory of Men is not wholly shut in books, and the cats of Queen Berúthiel never passed wholly of Men’s speech”), and the King Tarannon had her set on a ship alone with her cats and set adrift on the sea before the North Wind. The ship was last seen flying past Umbar under a sickle moon, with a cat at the masthead and another as a figure-head on the prow.

– J.R.R. Tolkien’s notes in Unfinished Tales, chapter: The Istari

Sumber:

Cotterell, Arthur, and Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Tolkien, J.R.R. 1988. Unfinished Tales. Ballantine Books.

Bukan hanya dalam mitologi atau karya fiksi fantasi; kaum wanita dalam sejarah pun kerap disalahpahami dan nama mereka cenderung kurang diekspos, terutama di medan perang. Ingin tahu siapa saja wanita yang berjaya di medan perang walau menghadapi halangan, prasangka dan diskriminasi? Silahkan beli buku ini.

Trickster, Si ‘Bukan Siapa-siapa’ yang Tahu Segalanya

Pertama-tama, ini tidak saya tujukan untuk fans berat Supernatural, melainkan semua yang merasa pernah menemukan, dan tertarik pada, karakter semacam ini entah di mana.

Siapa yang belum pernah mendengar cerita Si Kancil? Mamalia imut nan sulit ditangkap ini, kita semua tahu, sangat cerdas dan cerdik. Kancil adalah sumber kenangan masa kecil saya yang berharga, saat mendiang kakek saya seringkali menggunakan cerita-cerita si kancil sebagai ‘senjata’ kalau saya malas tidur siang. Tetapi, bahkan saat masih kecil, saya mulai berpikir kalau karakter kancil ini agak mbalelo, tidak menuruti pakem dongeng atau cerita rakyat dimana selalu ada dikotomi jelas antara tokoh baik dan jahat.

Masih ingat? Kancil menggunakan kecerdikannya untuk mengerjai seekor singa yang sombong dan menyeberangi sungai yang penuh buaya ganas, tetapi ia juga mencuri ketimun dari petani. Kancil tidak menurut pada siapapun, dan tidak berteman dengan siapapun. Ia mandiri, bebas, plin-plan, seenaknya sendiri. Kuntowijoyo, dalam bukunya Mengusir Matahari: Kumpulan Fabel Politik, menggambarkan kancil sebagai sosok biang kerok di mata raja hutan, lantaran sifat alaminya untuk senantiasa memberontak terhadap tatanan rimba yang kaku.

Karakter semacam ini, percaya atau tidak, mendapat tempat khusus dalam studi mitologi, antropologi, agama, psikologi, dan sastra. Mereka disebut trickster, secara harfiah berarti ‘tukang mengerjai.’ Entah berwujud dewa, dewi, manusia, setan atau hewan, mereka gemar memainkan tipuan atau menentang aturan-aturan konvensional. Hynes dan Doty, dalam Mythical Tricskter Figures (1997), mendeskripsikan enam sifat umum yang dimiliki karakter trickster, yaitu:

1. Bersifat ambigu

2. Suka menipu atau memainkan trik

3. Pandai menyamar atau berubah bentuk

4. Mampu membalik situasi apapun secara drastis

5. Sering membantu, sekaligus menentang, figur-figur yang lebih berkuasa

6. Sangat kreatif ketika terdesak

Setiap ranah budaya pastilah memiliki figur seperti ini, seperti Loki dalam mitologi Nordik, Eris dan Sisyphus di Yunani, Ivan di Rusia, Kelinci Hutan (hare) dalam mitologi Bantu, Susano-o dan Kappa di Jepang, Leprechaun dan Bricriu di Irlandia, Set di Mesir, Robin Hood dan Puck di Inggris, dan tentu saja, Syeikh Nashruddin yang kocak dalam tradisi Islam. Apapun yang mereka lakukan, bisa dipastikan setiap tindakan memiliki unsur-unsur seperti yang dijabarkan di atas, baik beberapa ataupun semuanya sekaligus.

Loki mengejek para Gadis Sungai Rhine (Rhine Maiden) yang kehilangan harta mereka, Rhinegold.

Sebagai contoh, Loki membuat Thor, dewa petir, terjebak masalah lantaran dengan semena-mena membunuh seekor oter yang ternyata penjelmaan dari putra Hreidmar. Tetapi, Loki jugalah yang mengeluarkan Thor dari masalah tersebut, dengan cara yang cerdik namun (lagi-lagi) seenaknya. Sisyphus lolos dari kematian dengan cara mengerjai Hades, walau pada akhirnya ia mendapat hukumannya. Nashruddin berkali-kali diuji bahkan diancam hukuman oleh sultan, namun pada akhirnya sang sultan-lah yang justru terjebak, atau setidaknya tertawa geli karena kecerdikan Nashruddin dalam meloloskan dirinya.

Sisyphus, yang dihukum Hades dengan tugas mendorong batu berat ke puncak bukit berbatu, hanya untuk melihat batu itu menggelinding lagi ke bawah sehingga ia harus mengulang tugasnya, selamanya.

Trickster merupakan perwujudan prinsip brains-over-brawls (kecerdikan mengalahkan kekerasan). Sosok trickster seringkali kurang mengesankan secara fisik, namun kecerdikan mereka menutupi kelemahan itu. Bahkan, beberapa trickster merupakan wujud kritik sosial, dimana para trickster menentang otoritas sekaligus menunjukkan kelemahan para penguasa dengan cara-cara yang cerdas dan tidak konvensional, seperti yang dilakukan Kancil, Kelinci Hutan, dan Robin Hood.

Kecenderungan trickster untuk tidak memihak siapapun memiliki makna yang lebih mendalam. Ada alasan mengapa tiap kelompok kartu tidak memiliki masing-masing satu Joker, sama seperti mengapa kartu tarot bersimbol Si Bodoh (The Fool) diberi nomor nol (0). Kartu Si Bodoh adalah bagian dari Arcana Mayor, dua puluh dua susunan kartu pertama dalam satu pak kartu tarot, dan merupakan simbolisme dari prinsip mendalam atau tujuan tertinggi, serta dianggap sebagai salah satu arketip dalam teori psikoanalisis Carl Jung.

SI Dungu (The Fool) dari koleksi Kartu Tarot Nusantara rancangan Hisyam A. Fachri

Kartu tarot nomor nol melambangkan berbagai macam hal; ambiguitas, kebimbangan sekaligus hasrat untuk menemukan pengetahuan, kebijaksanaan orang gila yang bebas. Dalam kartu itu, karakter Si Bodoh digambarkan berlari ke sisi jurang, sehingga bisa menimbulkan pertanyaan: apakah ia bersiap mengambil langkah baru, atau hendak terjun ke jurang kehancurannya sendiri? Nol adalah angka yang tepat untuk para trickster, karena tidak melambangkan apapun yang pasti. Kepastian bukanlah milik para trickster.

Bangsa Celtic memaknai kehadiran trickster sebagai bagian berharga dari kehidupan sehari-hari manusia. Dalam festival musim panas yang disebut Beltaine, sekelompok pemuda, pria maupun wanita yang sekujur tubuhnya dicat merah, akan berlari ke tengah-tengah perayaan sambil mengayun-ayunkan obor yang mereka bawa. Mereka berteriak, berlari berkeliling, melompat-lompat seperti kerasukan. Para Manusia Merah ini adalah simbol bahwa manusia haruslah melepaskan diri mereka sesekali, menjadi liar, terlepas dari kungkungan fisik dan emosional yang seringkali menyertai hari-hari mereka, agar kesehatan jiwa tetap terjaga.

Kalau tidak begitu, setidaknya, para Manusia Merah adalah pemandangan yang spektakuler saat festival berlangsung di malam hari.

Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!

Bagi saya, yang sudah bosan dengan superhero Barat yang serba ideal baik dari penampilan maupun sifat, menonton Hellboy seperti mendapat angin segar. Akhirnya, superhero yang gegabah, sok tahu, merokok, minum bir, dan punya hobi ngemil sambil nonton TV. Jadi, ketika menonton Hellboy II : Golden Army, saya agak kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa saya malah gandrung dengan tokoh antagonisnya, Prince Nuada, yang dalam film diperankan oleh Luke Goss.

Kedengaran akrab ? Oke, saya akui, sebagai fans cewek, saya menikmati adegan Prince Nuada yang sedang latihan memainkan pedang/tombak di dalam gorong-gorong sambil telanjang dada. (Serta kenyataan bahwa figur sang pangeran ‘mirip-mirip’ elf di The Lord of the Rings, tapi figur seperti itu juga hadir dalam mitos kaum peri Eropa, jadi saya tak bisa protes). Alkisah, sang pangeran ini adalah anak dari Balor, Raja Peri, yang menguasai pasukan gaib berupa Balatentara Emas (The Golden Army), dan menggunakannya dalam perang melawan manusia. Tetapi, melihat kekejaman Balatentara Emas, Balor akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan manusia.

Prince Nuada, yang beranggapan bahwa sifat manusia adalah serakah dan tak bisa dipercaya, menyesali keputusan ayahnya dan pergi ke pengasingan, dimana ia memersiapkan dirinya untuk memulai perang melawan umat manusia dan membangkitkan kembali Balatentara Emas. Dan tentu saja, masa ketika ia siap memulai perang adalah masa dimana si Hellboy dan kawan-kawan juga hidup.

Walaupun sepanjang film Prince Nuada melakukan hal-hal yang hanya dilakukan tokoh antagonis (karena tuntutan skenario, tentu),  saya melihat karakternya sebagai “tokoh yang terpaksa jadi antagonis karena keadaan.” Buat saya, dia punya kharisma, yang tidak nampak dari kekonyolan Lex Luthor, kebejatan Joker maupun grandeur illution-nya Ozymandias. Walaupun ia memusuhi umat manusia, sesungguhnya Prince Nuada justru mewakili apa yang umat manusia telah lupakan. Kedekatan yang sakral dengan alam.

Penting untuk diketahui bahwa Nuada dan Balor adalah tokoh-tokoh sentral dalam mitologi Celtic (secara kasar didefinisikan sebagai rumpun budaya Irlandia, Skotlandia, dan Wales). Hanya saja, di film ini, karakter dan nama mereka dibolak-balik.

Nuada, dalam mitologi Irlandia, adalah Nuadu Silver-Hand (di film disebut Nuada Silver-Lance, dan tolong jangan mulai membuat pelesetan dengan merk coklat yang kita kenal). Ia adalah raja kaum peri yang tangan kirinya putus dalam pertempuran, sehingga diganti dengan tangan perak.

Nuadu Silver-Hand (atas) dan Nuada Silver-Lance (bawah)

Balor aslinya bukan peri, melainkan raksasa laut bermata satu yang kelak menurunkan ksatria bernama Lugh. Balor juga tidak bertanduk; yang bertanduk adalah Cernunos, dewa hutan yang di film malah ditampilkan sebagai pohon-raksasa-yang-tumbuh-dari-kacang-polong.

 Cernunos (atas), Balor versi film (bawah)

Dalam dunia mitologi Celtic, bangsa Peri sejatinya merupakan penghuni hutan dan padang rumput. Dalam kepercayaan kuno, mereka bahkan bukan sekedar penghuni, melainkan esensi sejati dari tempat yang mereka diami, semacam simbol hidup yang diciptakan oleh orang-orang jaman dulu. Para peri ini berteman dengan hewan-hewan, merayakan setiap pergantian musim, dan dari segi penampilan bahkan mencerminkan tempat mereka berdiam. Misalnya, connemara yang elok dan ceria adalah penghuni bukit-bukit landai Irlandia, sementara peri-peri galak serta kuda air kelpie yang suka menenggelamkan manusia hidup di pegunungan berkabut serta danau-danau Skotlandia.

Menurut peneliti Oxford bidang kajian budaya Celtic Evanz Wenz, dalam bukunya The Fairy Faith in Celtic Countries, peri merupakan simbol ideal akan kesempurnaan dan kesakralan alam sekitar. Itulah sebabnya mereka sering digambarkan sebagai makhluk abadi yang mencerminkan lokasi tempat tinggalnya. Ketika kaum manusia makin bertambah dan berkembang-biak serta menginvasi lebih banyak wilayah, para peri yang terpaksa ‘menyingkir’ menjadi lambang akan betapa kebijaksanaan kuno yang bersahabat dengan alam telah digantikan oleh pemikiran-pemikiran praktis manusia yang hanya punya satu tujuan : bertahan hidup, lalu memiliki lebih banyak.

Dalam salah satu adegan, yang terjadi di sebuah pabrik tua dimana Balor, Prince Nuada dan saudarinya Nuala serta peri-peri yang masih tersisa tinggal, Prince Nuada mengeluh, “mengapa kita harus menghormati perjanjian dengan manusia ? Lihatlah apa yang mereka lakukan sebagai gantinya ! Mereka serakah, membangun lapangan parkir, pusat perbelanjaan, sementara kaum kita tersingkir ke tempat seperti ini !” Hal yang sama (tapi tidak dengan nada se’jahat’ Prince Nuada) digaungkan oleh Floyd ‘Red Crow’ Westermann, seniman dan aktivis anggota suku Indian Sioux, yang sayangnya wafat pada tahun 2007….

Itulah, saya rasa, yang sebenarnya dijeritkan Prince Nuada. Ia tidak menginginkan kekuasaan seperti Lex Luthor, atau ambisi akan kebesaran pribadi seperti Ozymandias yang ngefans berat dengan Alexander Agung serta Ramses II. Prince Nuada hanya ingin agar keadaan dunia kembali seperti dulu, ketika manusia masih tahu diri dan bisa hidup menempatkan diri di samping alam, bersama dengan mereka yang gaib dan sakral. Dan sejujurnya, ketika film berakhir, saya sependapat dengannya.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip kata-kata indah dari Fiona Macleod : “Keindahan alam sekitar…adalah penebusan terhadap ketidak-abadian kita. Ketika jiwa kita bersatu dengan alam, dengan cara yang jauh lebih mendalam ketimbang imajinasi puitis kita, maka kita akan memahami apa yang tadinya tidak kita pahami.”