Trickster, Si ‘Bukan Siapa-siapa’ yang Tahu Segalanya

Pertama-tama, ini tidak saya tujukan untuk fans berat Supernatural, melainkan semua yang merasa pernah menemukan, dan tertarik pada, karakter semacam ini entah di mana.

Siapa yang belum pernah mendengar cerita Si Kancil? Mamalia imut nan sulit ditangkap ini, kita semua tahu, sangat cerdas dan cerdik. Kancil adalah sumber kenangan masa kecil saya yang berharga, saat mendiang kakek saya seringkali menggunakan cerita-cerita si kancil sebagai ‘senjata’ kalau saya malas tidur siang. Tetapi, bahkan saat masih kecil, saya mulai berpikir kalau karakter kancil ini agak mbalelo, tidak menuruti pakem dongeng atau cerita rakyat dimana selalu ada dikotomi jelas antara tokoh baik dan jahat.

Masih ingat? Kancil menggunakan kecerdikannya untuk mengerjai seekor singa yang sombong dan menyeberangi sungai yang penuh buaya ganas, tetapi ia juga mencuri ketimun dari petani. Kancil tidak menurut pada siapapun, dan tidak berteman dengan siapapun. Ia mandiri, bebas, plin-plan, seenaknya sendiri. Kuntowijoyo, dalam bukunya Mengusir Matahari: Kumpulan Fabel Politik, menggambarkan kancil sebagai sosok biang kerok di mata raja hutan, lantaran sifat alaminya untuk senantiasa memberontak terhadap tatanan rimba yang kaku.

Karakter semacam ini, percaya atau tidak, mendapat tempat khusus dalam studi mitologi, antropologi, agama, psikologi, dan sastra. Mereka disebut trickster, secara harfiah berarti ‘tukang mengerjai.’ Entah berwujud dewa, dewi, manusia, setan atau hewan, mereka gemar memainkan tipuan atau menentang aturan-aturan konvensional. Hynes dan Doty, dalam Mythical Tricskter Figures (1997), mendeskripsikan enam sifat umum yang dimiliki karakter trickster, yaitu:

1. Bersifat ambigu

2. Suka menipu atau memainkan trik

3. Pandai menyamar atau berubah bentuk

4. Mampu membalik situasi apapun secara drastis

5. Sering membantu, sekaligus menentang, figur-figur yang lebih berkuasa

6. Sangat kreatif ketika terdesak

Setiap ranah budaya pastilah memiliki figur seperti ini, seperti Loki dalam mitologi Nordik, Eris dan Sisyphus di Yunani, Ivan di Rusia, Kelinci Hutan (hare) dalam mitologi Bantu, Susano-o dan Kappa di Jepang, Leprechaun dan Bricriu di Irlandia, Set di Mesir, Robin Hood dan Puck di Inggris, dan tentu saja, Syeikh Nashruddin yang kocak dalam tradisi Islam. Apapun yang mereka lakukan, bisa dipastikan setiap tindakan memiliki unsur-unsur seperti yang dijabarkan di atas, baik beberapa ataupun semuanya sekaligus.

Loki mengejek para Gadis Sungai Rhine (Rhine Maiden) yang kehilangan harta mereka, Rhinegold.

Sebagai contoh, Loki membuat Thor, dewa petir, terjebak masalah lantaran dengan semena-mena membunuh seekor oter yang ternyata penjelmaan dari putra Hreidmar. Tetapi, Loki jugalah yang mengeluarkan Thor dari masalah tersebut, dengan cara yang cerdik namun (lagi-lagi) seenaknya. Sisyphus lolos dari kematian dengan cara mengerjai Hades, walau pada akhirnya ia mendapat hukumannya. Nashruddin berkali-kali diuji bahkan diancam hukuman oleh sultan, namun pada akhirnya sang sultan-lah yang justru terjebak, atau setidaknya tertawa geli karena kecerdikan Nashruddin dalam meloloskan dirinya.

Sisyphus, yang dihukum Hades dengan tugas mendorong batu berat ke puncak bukit berbatu, hanya untuk melihat batu itu menggelinding lagi ke bawah sehingga ia harus mengulang tugasnya, selamanya.

Trickster merupakan perwujudan prinsip brains-over-brawls (kecerdikan mengalahkan kekerasan). Sosok trickster seringkali kurang mengesankan secara fisik, namun kecerdikan mereka menutupi kelemahan itu. Bahkan, beberapa trickster merupakan wujud kritik sosial, dimana para trickster menentang otoritas sekaligus menunjukkan kelemahan para penguasa dengan cara-cara yang cerdas dan tidak konvensional, seperti yang dilakukan Kancil, Kelinci Hutan, dan Robin Hood.

Kecenderungan trickster untuk tidak memihak siapapun memiliki makna yang lebih mendalam. Ada alasan mengapa tiap kelompok kartu tidak memiliki masing-masing satu Joker, sama seperti mengapa kartu tarot bersimbol Si Bodoh (The Fool) diberi nomor nol (0). Kartu Si Bodoh adalah bagian dari Arcana Mayor, dua puluh dua susunan kartu pertama dalam satu pak kartu tarot, dan merupakan simbolisme dari prinsip mendalam atau tujuan tertinggi, serta dianggap sebagai salah satu arketip dalam teori psikoanalisis Carl Jung.

SI Dungu (The Fool) dari koleksi Kartu Tarot Nusantara rancangan Hisyam A. Fachri

Kartu tarot nomor nol melambangkan berbagai macam hal; ambiguitas, kebimbangan sekaligus hasrat untuk menemukan pengetahuan, kebijaksanaan orang gila yang bebas. Dalam kartu itu, karakter Si Bodoh digambarkan berlari ke sisi jurang, sehingga bisa menimbulkan pertanyaan: apakah ia bersiap mengambil langkah baru, atau hendak terjun ke jurang kehancurannya sendiri? Nol adalah angka yang tepat untuk para trickster, karena tidak melambangkan apapun yang pasti. Kepastian bukanlah milik para trickster.

Bangsa Celtic memaknai kehadiran trickster sebagai bagian berharga dari kehidupan sehari-hari manusia. Dalam festival musim panas yang disebut Beltaine, sekelompok pemuda, pria maupun wanita yang sekujur tubuhnya dicat merah, akan berlari ke tengah-tengah perayaan sambil mengayun-ayunkan obor yang mereka bawa. Mereka berteriak, berlari berkeliling, melompat-lompat seperti kerasukan. Para Manusia Merah ini adalah simbol bahwa manusia haruslah melepaskan diri mereka sesekali, menjadi liar, terlepas dari kungkungan fisik dan emosional yang seringkali menyertai hari-hari mereka, agar kesehatan jiwa tetap terjaga.

Kalau tidak begitu, setidaknya, para Manusia Merah adalah pemandangan yang spektakuler saat festival berlangsung di malam hari.

Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!

Bagi saya, yang sudah bosan dengan superhero Barat yang serba ideal baik dari penampilan maupun sifat, menonton Hellboy seperti mendapat angin segar. Akhirnya, superhero yang gegabah, sok tahu, merokok, minum bir, dan punya hobi ngemil sambil nonton TV. Jadi, ketika menonton Hellboy II : Golden Army, saya agak kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa saya malah gandrung dengan tokoh antagonisnya, Prince Nuada, yang dalam film diperankan oleh Luke Goss.

Kedengaran akrab ? Oke, saya akui, sebagai fans cewek, saya menikmati adegan Prince Nuada yang sedang latihan memainkan pedang/tombak di dalam gorong-gorong sambil telanjang dada. (Serta kenyataan bahwa figur sang pangeran ‘mirip-mirip’ elf di The Lord of the Rings, tapi figur seperti itu juga hadir dalam mitos kaum peri Eropa, jadi saya tak bisa protes). Alkisah, sang pangeran ini adalah anak dari Balor, Raja Peri, yang menguasai pasukan gaib berupa Balatentara Emas (The Golden Army), dan menggunakannya dalam perang melawan manusia. Tetapi, melihat kekejaman Balatentara Emas, Balor akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan manusia.

Prince Nuada, yang beranggapan bahwa sifat manusia adalah serakah dan tak bisa dipercaya, menyesali keputusan ayahnya dan pergi ke pengasingan, dimana ia memersiapkan dirinya untuk memulai perang melawan umat manusia dan membangkitkan kembali Balatentara Emas. Dan tentu saja, masa ketika ia siap memulai perang adalah masa dimana si Hellboy dan kawan-kawan juga hidup.

Walaupun sepanjang film Prince Nuada melakukan hal-hal yang hanya dilakukan tokoh antagonis (karena tuntutan skenario, tentu),  saya melihat karakternya sebagai “tokoh yang terpaksa jadi antagonis karena keadaan.” Buat saya, dia punya kharisma, yang tidak nampak dari kekonyolan Lex Luthor, kebejatan Joker maupun grandeur illution-nya Ozymandias. Walaupun ia memusuhi umat manusia, sesungguhnya Prince Nuada justru mewakili apa yang umat manusia telah lupakan. Kedekatan yang sakral dengan alam.

Penting untuk diketahui bahwa Nuada dan Balor adalah tokoh-tokoh sentral dalam mitologi Celtic (secara kasar didefinisikan sebagai rumpun budaya Irlandia, Skotlandia, dan Wales). Hanya saja, di film ini, karakter dan nama mereka dibolak-balik.

Nuada, dalam mitologi Irlandia, adalah Nuadu Silver-Hand (di film disebut Nuada Silver-Lance, dan tolong jangan mulai membuat pelesetan dengan merk coklat yang kita kenal). Ia adalah raja kaum peri yang tangan kirinya putus dalam pertempuran, sehingga diganti dengan tangan perak.

Nuadu Silver-Hand (atas) dan Nuada Silver-Lance (bawah)

Balor aslinya bukan peri, melainkan raksasa laut bermata satu yang kelak menurunkan ksatria bernama Lugh. Balor juga tidak bertanduk; yang bertanduk adalah Cernunos, dewa hutan yang di film malah ditampilkan sebagai pohon-raksasa-yang-tumbuh-dari-kacang-polong.

 

 

 

 

 

Cernunos (kiri), Balor versi film (kanan)

Dalam dunia mitologi Celtic, bangsa Peri sejatinya merupakan penghuni hutan dan padang rumput. Dalam kepercayaan kuno, mereka bahkan bukan sekedar penghuni, melainkan esensi sejati dari tempat yang mereka diami, semacam simbol hidup yang diciptakan oleh orang-orang jaman dulu. Para peri ini berteman dengan hewan-hewan, merayakan setiap pergantian musim, dan dari segi penampilan bahkan mencerminkan tempat mereka berdiam. Misalnya, connemara yang elok dan ceria adalah penghuni bukit-bukit landai Irlandia, sementara peri-peri galak serta kuda air kelpie yang suka menenggelamkan manusia hidup di pegunungan berkabut serta danau-danau Skotlandia.

Menurut peneliti Oxford bidang kajian budaya Celtic Evanz Wenz, dalam bukunya The Fairy Faith in Celtic Countries, peri merupakan simbol ideal akan kesempurnaan dan kesakralan alam sekitar. Itulah sebabnya mereka sering digambarkan sebagai makhluk abadi yang mencerminkan lokasi tempat tinggalnya. Ketika kaum manusia makin bertambah dan berkembang-biak serta menginvasi lebih banyak wilayah, para peri yang terpaksa ‘menyingkir’ menjadi lambang akan betapa kebijaksanaan kuno yang bersahabat dengan alam telah digantikan oleh pemikiran-pemikiran praktis manusia yang hanya punya satu tujuan : bertahan hidup, lalu memiliki lebih banyak.

Dalam salah satu adegan, yang terjadi di sebuah pabrik tua dimana Balor, Prince Nuada dan saudarinya Nuala serta peri-peri yang masih tersisa tinggal, Prince Nuada mengeluh, “mengapa kita harus menghormati perjanjian dengan manusia ? Lihatlah apa yang mereka lakukan sebagai gantinya ! Mereka serakah, membangun lapangan parkir, pusat perbelanjaan, sementara kaum kita tersingkir ke tempat seperti ini !” Hal yang sama (tapi tidak dengan nada se’jahat’ Prince Nuada) digaungkan oleh Floyd ‘Red Crow’ Westermann, seniman dan aktivis anggota suku Indian Sioux, yang sayangnya wafat pada tahun 2007….

Itulah, saya rasa, yang sebenarnya dijeritkan Prince Nuada. Ia tidak menginginkan kekuasaan seperti Lex Luthor, atau ambisi akan kebesaran pribadi seperti Ozymandias yang ngefans berat dengan Alexander Agung serta Ramses II. Prince Nuada hanya ingin agar keadaan dunia kembali seperti dulu, ketika manusia masih tahu diri dan bisa hidup menempatkan diri di samping alam, bersama dengan mereka yang gaib dan sakral. Dan sejujurnya, ketika film berakhir, saya sependapat dengannya.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip kata-kata indah dari Fiona Macleod : “Keindahan alam sekitar…adalah penebusan terhadap ketidak-abadian kita. Ketika jiwa kita bersatu dengan alam, dengan cara yang jauh lebih mendalam ketimbang imajinasi puitis kita, maka kita akan memahami apa yang tadinya tidak kita pahami.”