Elsa, Skadi, dan Queen Beruthiel of Gondor: Para Ratu Representasi Musim Dingin

Saya senang menonton Frozen karena inilah pertama kalinya karakter ‘Ratu Es’ atau ‘Ratu Salju’ seperti Elsa tidak digambarkan sebagai tokoh antagonis, melainkan tokoh dengan karakteristik yang rumit dan kepribadian yang lebih berlapis ketimbang Anna yang merupakan putri stereotip favorit Disney: karakter putri generik, yang pada akhirnya ‘mendapatkan cowok dan hidup bahagia selamanya.’ Karakter Elsa memang diambil dari The Snow Queen karya Hans Christian Andersen, yang lebih mirip tokoh abu-abu ketimbang antagonis. Saya menyukainya, karena di berbagai karya fiksi, karakter ‘Ratu Es’ yang kerap digambarkan cantik namun dingin, cerdas, dan tidak terobsesi pada keinginan untuk bersama seorang pria biasanya langsung diasosiasikan dengan tokoh jahat. Menonton Frozen dan melihat Elsa membuat saya teringat pada salah satu tokoh minor dalam legendarium Tolkien, yang memenuhi semua ‘persyaratan’ untuk menjadi seorang sosok Ratu Es, Queen Berúthiel of Gondor. Walaupun hanya muncul sekilas, karakteristiknya dengan cepat memikat saya karena dalam banyak hal ia mirip karakteristik Ratu Es yang lebih tradisional: sosok cantik nan cerdas namun rumit dan penuh misteri. Asosiasinya bahkan bisa ditarik ke karakter yang lebih kuno lagi: Skadi, Dewi Musim Dingin dalam mitologi Nordik. Queen Berúthiel dan Kucing-kucingnya Jika Anda termasuk yang membaca The Lord of the Rings terlebih dahulu sebelum membaca Unfinished Tales (dan saya yakin kebanyakan pasti seperti itu), Anda akan menemukan sedikit referensi tentang Queen Berúthiel di Fellowship of the Rings, bab Journey in the Dark, saat Aragorn pertama menyebut namanya dalam celetukan ini:

“[Gandalf] is surer of finding the way home in a blind night than the cats of Queen Berúthiel.”

Celetukan pendek ini tidak memberi keterangan apa-apa soal Berúthiel dan kucing-kucingnya, hanya memberi implikasi bahwa kucing-kucing sang ratu (dan tentunya sang ratu sendiri) telah diasosiasikan oleh karakter di LOTR sebagai sebuah legenda lampau dalam dunia Middle Earth, sama seperti kisah Amrod dan Nimrodel yang dinyanyikan Legolas di Fellowship of the Ring saat mereka menyeberangi Sungai Nimrodel di Lothlorien. Nama Berúthiel muncul dalam Unfinished Tales, salah satu karya Tolkien yang diterbitkan setelah kematiannya. Berúthiel adalah Manusia berdarah Black Numenorean yang hidup pada awal Abad Ketiga dan diperistri oleh raja Gondor ke-12, Tarannon Falastur. Pernikahan ini merupakan pernikahan politik, bukan berdasarkan cinta, dan tidak membuahkan keturunan.

Berúthiel oleh Paula DiSante

Berúthiel digambarkan sebagai sosok yang dingin, penyendiri, dan membenci Tarannon. Ia juga tidak menyukai aroma laut, dan semakin membencinya ketika Tarannon membawanya untuk tinggal di istananya di dekat laut Pelargir. Ia menghiasi halaman istana dengan patung-patung aneh berwarna gelap, namun membiarkan bagian dalam istana nyaris tanpa hiasan. Ia juga tidak menyukai warna-warni cerah dan benda-benda berornamen rumit. Yang unik, Berúthiel sebenarnya membenci kucing, namun entah mengapa, kucing-kucing selalu mendekatinya. Ia pun akhirnya memutuskan memelihara sembilan ekor kucing hitam dan seekor kucing putih, memperbudak mereka sebagai mata-matanya. Ia digambarkan mampu “mengetahui semua rahasia terkelam tentang Gondor dengan memelajari bahasa dan memori kucing-kucingnya.” Begitu terkenalnya kucing-kucing Berúthiel, sehingga tak ada yang berani menyentuh mereka ketika mereka lewat, dan bahkan mengutuk mereka.

Tarannon akhirnya memutuskan mengasingkan Berúthiel, dan memulangkan sang ratu serta kucing-kucingnya dengan kapal. Ia juga menghapus namanya dari Book of the Kings. Hal ini bisa jadi merupakan penyebab terjadinya peperangan antara kaum Black Numenorean dan Gondor, dimana akhirnya mereka berhasil merebut Haven of Umbar. Walaupun nama Berúthiel telah dihapus dari Book of Kings, fakta bahwa namanya tetap dikenal menunjukkan reputasinya.

She had nine black cats and one white, her slaves, with whom she conversed, or read their memories, setting them to discover all the dark secrets of Gondor, so that she knew those things “that men wish most to kept hidden.”

– J. R. R. Tolkien’s notes in Unfinished Tales, chapter: The Istari.

Asosiasi Musim Dingin pada Berúthiel dan Skadi

Dalam sebuah wawancara di tahun 1966, Tolkien mengungkapkan asosiasi Berúthiel dengan tokoh dalam legenda Nordik bernama Skadi. Skadi (Skaði) adalah dewi dari kaum Jötunn (makhluk mitologi yang diasosiasikan dengan raksasa es) yang tinggal di pegunungan. Skadi mencintai kesendirian, salju, musim dingin, dan aktifitas seperti berburu dan berseluncur di lereng-lereng bersalju. Ia menikahi dewa laut Njord sebagai perwujudan kompensasi dari para dewa yang telah tak sengaja membunuh ayahnya.

Skadi oleh Carl Fredrik von Saltza

Dalam teks prosa Nordik, Edda, Skadi dan Njord digambarkan berdebat tentang tempat tinggal mereka setelah menikah. Njord yang mencintai laut dan kehangatan ingin mereka tinggal di pantai, namun Skadi membencinya dan lebih suka mereka tinggal di pegunungan bersalju. Akhirnya, mereka membuat kesepakatan: Njord akan mengikuti Skadi untuk tinggal di pegunungan selama sembilan bulan, dan Skadi akan mengikuti Njord untuk tinggal di dekat laut selama tiga bulan. Akan tetapi, tak ada yang benar-benar menikmati pengalaman mereka, dan bahkan ada puisi yang menggambarkan kerinduan Skadi kepada pegunungan setiap kali ia harus tinggal di dekat laut:

“Sleep I could not on the sea beds for the screeching of the bird. That gull wakes me when from the wide sea he comes each morning.”

Skadi’s Longing for the Mountains oleh W. G. Collingwood

Di sini bisa dilihat asosiasi antara Skadi dan Berúthiel: keduanya mencintai kesendirian dan musim dingin, menguasai hal-hal yang secara tradisional tidak diasosiasikan pada wanita (Skadi dengan kemampuannya berburu) ataupun kemampuan yang cenderung membuat pemiliknya dicurigai (Berúthiel bisa berkomunikasi dengan kucing untuk mengetahui rahasia-rahasia tergelap Manusia lain), dan masuk ke dalam pernikahan yang sebenarnya tak mereka inginkan. Skadi sebenarnya tak ingin memilih Njord sebagai suami; para dewa bisa dibilang menipunya dengan menyembunyikan beberapa dewa di balik tirai, dimana Skadi harus memilih mana yang bisa dinikahinya berdasarkan kaki mereka (ia memilih dewa berkaki paling indah karena dipikirnya itu milik Baldr, dewa muda yang diasosiasikan dengan cahaya dan kemurnian, namun ternyata kaki yang dipilihnya adalah milik Njord).

Kesepakatan yang dibuat antara Skadi dan Njord sering dianggap sebagai simbol dari pergantian antara musim panas dan dingin, dan kebencian Berúthiel terhadap aroma dan suara ombak laut pun mencerminkan ketidaksukaan Skadi pada pantai. Berúthiel adalah asosiasi malam, kegelapan dan musim dingin; ia mencintai segala yang tidak terlalu cerah, dingin dan tandus, dan menyukai warna-warna gelap serta memiliki kemampuan berkomunikasi dengan kucing, hewan yang dalam legenda Eropa juga kerap diasosiasikan dengan misteri serta sihir. Skadi dan Berúthiel tercerabut dari elemen mereka saat terpaksa tinggal di daerah hangat dekat pantai, dan menjadi/merasa asing di tengah-tengah lingkungan yang tak bersahabat dengan ‘elemen’ mereka. Berúthiel pun menjadi sosok wanita yang diasingkan, dengan namanya dihapus dari sejarah, namun akhirnya tetap hidup dalam legenda-legenda kuno karena reputasinya.

Berúthiel oleh Maureval (deviantart)

Elsa dalam Frozen juga digambarkan menikmati ‘kepindahannya’ dari kerajaan di dekat dermaga yang sibuk ke pegunungan yang dikelilingi elemennya yaitu salju, karena ia menjadi sosok yang dicurigai oleh orang sekitarnya di tengah-tengah lingkungan ‘manusia normal’ dan tidak bisa hidup nyaman karena takut menunjukkan kekuatannya. Pikiran saya yang suka over-analisa ini bahkan menginterpretasikan dandanan rambut Elsa yang tergerai sebagai petunjuk bahwa ia akhirnya bisa bebas, kontras dengan dandanan sanggul ketat ala ratu yang menunjukkan jiwa tertekannya karena harus hidup tanpa bisa mengaktualisasikan kemampuannya, mengikuti apa yang dianggap orang lain sebagai ‘layaknya wanita normal.’ Ingatkah adegan ketika salah satu tamu kerajaan yang melihat Elsa menyemburkan es berkata: “sorcery (sihir)?” Dalam sejarah kelam Eropa, wanita yang menguasai hal-hal yang tidak lazim dikuasai wanita biasanya dianggap sebagai orang yang menyimpang, bahkan penyihir (tapi ini Disney, jadi tentu saja happy ending).

Skadi, Elsa dan Berúthiel adalah karakter dengan ‘peran’ berbeda dalam kisah berbeda, namun mereka punya kesamaan dalam beberapa aspek karakteristik serta situasi yang mengelilingi mereka: mereka adalah simbol semua yang berkaitan dengan musim dingin, mereka adalah wanita yang karakternya diasosiasikan sebagai ‘tidak konvensional,’ mereka merasa tertekan ketika tercerabut dari elemen mereka, dan ketika itu terjadi, mereka merasa/dianggap sebagai outsider. Dan tentu saja, Berúthiel lebih dari sekedar gambaran klasik seorang crazy cat lady, melainkan karakter yang sesungguhnya telah banyak disalahpahami dalam sejarahnya di Middle Earth legendarium.

Berúthiel oleh Steamy (deviantart)

…her name was erased from the Book of the Kings (“but the memory of Men is not wholly shut in books, and the cats of Queen Berúthiel never passed wholly of Men’s speech”), and the King Tarannon had her set on a ship alone with her cats and set adrift on the sea before the North Wind. The ship was last seen flying past Umbar under a sickle moon, with a cat at the masthead and another as a figure-head on the prow.

– J.R.R. Tolkien’s notes in Unfinished Tales, chapter: The Istari

Sumber:

Cotterell, Arthur, and Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Tolkien, J.R.R. 1988. Unfinished Tales. Ballantine Books.

Bukan hanya dalam mitologi atau karya fiksi fantasi; kaum wanita dalam sejarah pun kerap disalahpahami dan nama mereka cenderung kurang diekspos, terutama di medan perang. Ingin tahu siapa saja wanita yang berjaya di medan perang walau menghadapi halangan, prasangka dan diskriminasi? Silahkan beli buku ini.

Trickster, Si ‘Bukan Siapa-siapa’ yang Tahu Segalanya

Pertama-tama, ini tidak saya tujukan untuk fans berat Supernatural, melainkan semua yang merasa pernah menemukan, dan tertarik pada, karakter semacam ini entah di mana.

Siapa yang belum pernah mendengar cerita Si Kancil? Mamalia imut nan sulit ditangkap ini, kita semua tahu, sangat cerdas dan cerdik. Kancil adalah sumber kenangan masa kecil saya yang berharga, saat mendiang kakek saya seringkali menggunakan cerita-cerita si kancil sebagai ‘senjata’ kalau saya malas tidur siang. Tetapi, bahkan saat masih kecil, saya mulai berpikir kalau karakter kancil ini agak mbalelo, tidak menuruti pakem dongeng atau cerita rakyat dimana selalu ada dikotomi jelas antara tokoh baik dan jahat.

Masih ingat? Kancil menggunakan kecerdikannya untuk mengerjai seekor singa yang sombong dan menyeberangi sungai yang penuh buaya ganas, tetapi ia juga mencuri ketimun dari petani. Kancil tidak menurut pada siapapun, dan tidak berteman dengan siapapun. Ia mandiri, bebas, plin-plan, seenaknya sendiri. Kuntowijoyo, dalam bukunya Mengusir Matahari: Kumpulan Fabel Politik, menggambarkan kancil sebagai sosok biang kerok di mata raja hutan, lantaran sifat alaminya untuk senantiasa memberontak terhadap tatanan rimba yang kaku.

Karakter semacam ini, percaya atau tidak, mendapat tempat khusus dalam studi mitologi, antropologi, agama, psikologi, dan sastra. Mereka disebut trickster, secara harfiah berarti ‘tukang mengerjai.’ Entah berwujud dewa, dewi, manusia, setan atau hewan, mereka gemar memainkan tipuan atau menentang aturan-aturan konvensional. Hynes dan Doty, dalam Mythical Tricskter Figures (1997), mendeskripsikan enam sifat umum yang dimiliki karakter trickster, yaitu:

1. Bersifat ambigu

2. Suka menipu atau memainkan trik

3. Pandai menyamar atau berubah bentuk

4. Mampu membalik situasi apapun secara drastis

5. Sering membantu, sekaligus menentang, figur-figur yang lebih berkuasa

6. Sangat kreatif ketika terdesak

Setiap ranah budaya pastilah memiliki figur seperti ini, seperti Loki dalam mitologi Nordik, Eris dan Sisyphus di Yunani, Ivan di Rusia, Kelinci Hutan (hare) dalam mitologi Bantu, Susano-o dan Kappa di Jepang, Leprechaun dan Bricriu di Irlandia, Set di Mesir, Robin Hood dan Puck di Inggris, dan tentu saja, Syeikh Nashruddin yang kocak dalam tradisi Islam. Apapun yang mereka lakukan, bisa dipastikan setiap tindakan memiliki unsur-unsur seperti yang dijabarkan di atas, baik beberapa ataupun semuanya sekaligus.

Loki mengejek para Gadis Sungai Rhine (Rhine Maiden) yang kehilangan harta mereka, Rhinegold.

Sebagai contoh, Loki membuat Thor, dewa petir, terjebak masalah lantaran dengan semena-mena membunuh seekor oter yang ternyata penjelmaan dari putra Hreidmar. Tetapi, Loki jugalah yang mengeluarkan Thor dari masalah tersebut, dengan cara yang cerdik namun (lagi-lagi) seenaknya. Sisyphus lolos dari kematian dengan cara mengerjai Hades, walau pada akhirnya ia mendapat hukumannya. Nashruddin berkali-kali diuji bahkan diancam hukuman oleh sultan, namun pada akhirnya sang sultan-lah yang justru terjebak, atau setidaknya tertawa geli karena kecerdikan Nashruddin dalam meloloskan dirinya.

Sisyphus, yang dihukum Hades dengan tugas mendorong batu berat ke puncak bukit berbatu, hanya untuk melihat batu itu menggelinding lagi ke bawah sehingga ia harus mengulang tugasnya, selamanya.

Trickster merupakan perwujudan prinsip brains-over-brawls (kecerdikan mengalahkan kekerasan). Sosok trickster seringkali kurang mengesankan secara fisik, namun kecerdikan mereka menutupi kelemahan itu. Bahkan, beberapa trickster merupakan wujud kritik sosial, dimana para trickster menentang otoritas sekaligus menunjukkan kelemahan para penguasa dengan cara-cara yang cerdas dan tidak konvensional, seperti yang dilakukan Kancil, Kelinci Hutan, dan Robin Hood.

Kecenderungan trickster untuk tidak memihak siapapun memiliki makna yang lebih mendalam. Ada alasan mengapa tiap kelompok kartu tidak memiliki masing-masing satu Joker, sama seperti mengapa kartu tarot bersimbol Si Bodoh (The Fool) diberi nomor nol (0). Kartu Si Bodoh adalah bagian dari Arcana Mayor, dua puluh dua susunan kartu pertama dalam satu pak kartu tarot, dan merupakan simbolisme dari prinsip mendalam atau tujuan tertinggi, serta dianggap sebagai salah satu arketip dalam teori psikoanalisis Carl Jung.

SI Dungu (The Fool) dari koleksi Kartu Tarot Nusantara rancangan Hisyam A. Fachri

Kartu tarot nomor nol melambangkan berbagai macam hal; ambiguitas, kebimbangan sekaligus hasrat untuk menemukan pengetahuan, kebijaksanaan orang gila yang bebas. Dalam kartu itu, karakter Si Bodoh digambarkan berlari ke sisi jurang, sehingga bisa menimbulkan pertanyaan: apakah ia bersiap mengambil langkah baru, atau hendak terjun ke jurang kehancurannya sendiri? Nol adalah angka yang tepat untuk para trickster, karena tidak melambangkan apapun yang pasti. Kepastian bukanlah milik para trickster.

Bangsa Celtic memaknai kehadiran trickster sebagai bagian berharga dari kehidupan sehari-hari manusia. Dalam festival musim panas yang disebut Beltaine, sekelompok pemuda, pria maupun wanita yang sekujur tubuhnya dicat merah, akan berlari ke tengah-tengah perayaan sambil mengayun-ayunkan obor yang mereka bawa. Mereka berteriak, berlari berkeliling, melompat-lompat seperti kerasukan. Para Manusia Merah ini adalah simbol bahwa manusia haruslah melepaskan diri mereka sesekali, menjadi liar, terlepas dari kungkungan fisik dan emosional yang seringkali menyertai hari-hari mereka, agar kesehatan jiwa tetap terjaga.

Kalau tidak begitu, setidaknya, para Manusia Merah adalah pemandangan yang spektakuler saat festival berlangsung di malam hari.

Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!

Bagi saya, yang sudah bosan dengan superhero Barat yang serba ideal baik dari penampilan maupun sifat, menonton Hellboy seperti mendapat angin segar. Akhirnya, superhero yang gegabah, sok tahu, merokok, minum bir, dan punya hobi ngemil sambil nonton TV. Jadi, ketika menonton Hellboy II : Golden Army, saya agak kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa saya malah gandrung dengan tokoh antagonisnya, Prince Nuada, yang dalam film diperankan oleh Luke Goss.

Kedengaran akrab ? Oke, saya akui, sebagai fans cewek, saya menikmati adegan Prince Nuada yang sedang latihan memainkan pedang/tombak di dalam gorong-gorong sambil telanjang dada. (Serta kenyataan bahwa figur sang pangeran ‘mirip-mirip’ elf di The Lord of the Rings, tapi figur seperti itu juga hadir dalam mitos kaum peri Eropa, jadi saya tak bisa protes). Alkisah, sang pangeran ini adalah anak dari Balor, Raja Peri, yang menguasai pasukan gaib berupa Balatentara Emas (The Golden Army), dan menggunakannya dalam perang melawan manusia. Tetapi, melihat kekejaman Balatentara Emas, Balor akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan manusia.

Prince Nuada, yang beranggapan bahwa sifat manusia adalah serakah dan tak bisa dipercaya, menyesali keputusan ayahnya dan pergi ke pengasingan, dimana ia memersiapkan dirinya untuk memulai perang melawan umat manusia dan membangkitkan kembali Balatentara Emas. Dan tentu saja, masa ketika ia siap memulai perang adalah masa dimana si Hellboy dan kawan-kawan juga hidup.

Walaupun sepanjang film Prince Nuada melakukan hal-hal yang hanya dilakukan tokoh antagonis (karena tuntutan skenario, tentu),  saya melihat karakternya sebagai “tokoh yang terpaksa jadi antagonis karena keadaan.” Buat saya, dia punya kharisma, yang tidak nampak dari kekonyolan Lex Luthor, kebejatan Joker maupun grandeur illution-nya Ozymandias. Walaupun ia memusuhi umat manusia, sesungguhnya Prince Nuada justru mewakili apa yang umat manusia telah lupakan. Kedekatan yang sakral dengan alam.

Penting untuk diketahui bahwa Nuada dan Balor adalah tokoh-tokoh sentral dalam mitologi Celtic (secara kasar didefinisikan sebagai rumpun budaya Irlandia, Skotlandia, dan Wales). Hanya saja, di film ini, karakter dan nama mereka dibolak-balik.

Nuada, dalam mitologi Irlandia, adalah Nuadu Silver-Hand (di film disebut Nuada Silver-Lance, dan tolong jangan mulai membuat pelesetan dengan merk coklat yang kita kenal). Ia adalah raja kaum peri yang tangan kirinya putus dalam pertempuran, sehingga diganti dengan tangan perak.

Nuadu Silver-Hand (atas) dan Nuada Silver-Lance (bawah)

Balor aslinya bukan peri, melainkan raksasa laut bermata satu yang kelak menurunkan ksatria bernama Lugh. Balor juga tidak bertanduk; yang bertanduk adalah Cernunos, dewa hutan yang di film malah ditampilkan sebagai pohon-raksasa-yang-tumbuh-dari-kacang-polong.

 Cernunos (atas), Balor versi film (bawah)

Dalam dunia mitologi Celtic, bangsa Peri sejatinya merupakan penghuni hutan dan padang rumput. Dalam kepercayaan kuno, mereka bahkan bukan sekedar penghuni, melainkan esensi sejati dari tempat yang mereka diami, semacam simbol hidup yang diciptakan oleh orang-orang jaman dulu. Para peri ini berteman dengan hewan-hewan, merayakan setiap pergantian musim, dan dari segi penampilan bahkan mencerminkan tempat mereka berdiam. Misalnya, connemara yang elok dan ceria adalah penghuni bukit-bukit landai Irlandia, sementara peri-peri galak serta kuda air kelpie yang suka menenggelamkan manusia hidup di pegunungan berkabut serta danau-danau Skotlandia.

Menurut peneliti Oxford bidang kajian budaya Celtic Evanz Wenz, dalam bukunya The Fairy Faith in Celtic Countries, peri merupakan simbol ideal akan kesempurnaan dan kesakralan alam sekitar. Itulah sebabnya mereka sering digambarkan sebagai makhluk abadi yang mencerminkan lokasi tempat tinggalnya. Ketika kaum manusia makin bertambah dan berkembang-biak serta menginvasi lebih banyak wilayah, para peri yang terpaksa ‘menyingkir’ menjadi lambang akan betapa kebijaksanaan kuno yang bersahabat dengan alam telah digantikan oleh pemikiran-pemikiran praktis manusia yang hanya punya satu tujuan : bertahan hidup, lalu memiliki lebih banyak.

Dalam salah satu adegan, yang terjadi di sebuah pabrik tua dimana Balor, Prince Nuada dan saudarinya Nuala serta peri-peri yang masih tersisa tinggal, Prince Nuada mengeluh, “mengapa kita harus menghormati perjanjian dengan manusia ? Lihatlah apa yang mereka lakukan sebagai gantinya ! Mereka serakah, membangun lapangan parkir, pusat perbelanjaan, sementara kaum kita tersingkir ke tempat seperti ini !” Hal yang sama (tapi tidak dengan nada se’jahat’ Prince Nuada) digaungkan oleh Floyd ‘Red Crow’ Westermann, seniman dan aktivis anggota suku Indian Sioux, yang sayangnya wafat pada tahun 2007….

Itulah, saya rasa, yang sebenarnya dijeritkan Prince Nuada. Ia tidak menginginkan kekuasaan seperti Lex Luthor, atau ambisi akan kebesaran pribadi seperti Ozymandias yang ngefans berat dengan Alexander Agung serta Ramses II. Prince Nuada hanya ingin agar keadaan dunia kembali seperti dulu, ketika manusia masih tahu diri dan bisa hidup menempatkan diri di samping alam, bersama dengan mereka yang gaib dan sakral. Dan sejujurnya, ketika film berakhir, saya sependapat dengannya.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip kata-kata indah dari Fiona Macleod : “Keindahan alam sekitar…adalah penebusan terhadap ketidak-abadian kita. Ketika jiwa kita bersatu dengan alam, dengan cara yang jauh lebih mendalam ketimbang imajinasi puitis kita, maka kita akan memahami apa yang tadinya tidak kita pahami.”