Tentang Thranduil

Dari sekian banyak karakter yang hadir di dalam LOTR dan The Hobbit, Thranduil mungkin salah satu yang memancing teka-teki, terutama karena tidak banyak informasi tentang dirinya yang bisa dikorek jika hanya dari kedua buku tersebut. Pohon keluarganya pun sangat unik: hanya ada satu garis yang menghubungkan antara Thranduil dengan Oropher (ayahnya) dan Legolas (anaknya), dan tentu saja saya tidak mengharapkan mereka berkembang biak dengan membelah diri. Jadi, apa yang bisa kita ketahui dari karakter ini?

thranduil jian guo

Thranduil, oleh Jian Guo

Dalam The Hobbit, Thranduil digambarkan sebagai raja Elf yang hidup mengisolasi diri bersama rakyatnya di Mirkwood  Buku tersebut menggambarkan dirinya sebagai tokoh yang waspada, penuh curiga, protektif terhadap rakyatnya, tetapi cukup “lemah” dengan emas permata. Akan tetapi, Unfinished Tales memberi gambaran lebih detail sekaligus tragis tentangnya.

Thranduil adalah putra Oropher, Elf bangsa Sindar yang menjadi raja di Greenwood the Great (nama asli Mirkwood) setelah menyaksikan kehancuran yang terjadi pasca rentetan perang di Doriath serta Beleriand. Oropher adalah satu di antara sebagian bangsa Elf Sindar yang menolak hidup bersama dengan Elf Noldor yang dominan, terutama dengan adanya sentimen terhadap Elf Noldor yang dianggap sebagai penyuka perang. Oropher dan rakyatnya memilih pergi ke Greenwood, bergabung bersama Elf Silvan yang secara kekerabatan lebih dekat dengan mereka. Oropher dan kaum Sindar mengadopsi kultur para Elf Silvan, dan dia menjadi pemimpin mereka.

Ketika Perang Aliansi Terakhir terjadi, Oropher, Thranduil, dan para Elf Silvan serta Sindar bergabung dengan pasukan Elf Noldor serta Manusia. Akan tetapi, sentimen Oropher terhadap kaum Noldor (yang dipimpin Gil-galad) membuatnya menolak mengikuti komando Gil-galad, dan memilih menyerang lebih dulu. Akibatnya, dia dan banyak pasukannya tewas. Thranduil memutuskan membawa rakyatnya yang tersisa kembali ke Greenwood. Ketika kehadiran Sauron membuat banyak bagian hutan tersebut semakin gelap dan berbahaya hingga nama Greenwood berganti menjadi Mirkwood, Thranduil dan rakyatnya semakin mengasingkan diri ke dalam sistem gua luas yang sekaligus menjadi istananya.

Ketika Peter Jackson menggarap film The Hobbit, karakter Thranduil diberi lebih banyak dimensi, mulai dari sentimentalisme terhadap mendiang istri, hingga sikap protektif terhadap sang anak. Hal ini mungkin untuk mengimbangi informasi tentangnya yang terbilang irit. Akan tetapi, bahkan tanpa adegan-adegan tambahan ini, ada banyak sisi menarik dari karakter ini yang bisa digali.

Dalam wawancara dengan majalah Empire untuk mempromosikan film The Hobbit: The Desolution of Smaug, Lee Pace yang memerankan Thranduil menjelaskan bahwa dia mengambil inspirasi dari dua sosok mitologi serta fiksi fantasi untuk menyelami karakternya: Oberon dan Fisher King.

Raja yang Mencerminkan Negerinya

586px-Ulla_Thynell_-_The_Elvenking

The Elvenking, oleh Ulla Thynell

Apendiks B dalam bab The History of Galadriel and Celeborn di buku Unfinished Tales memberi tambahan dimensi bagi karakter Thranduil yang kita kenal. Kenangan buruk terhadap peperangan sekaligus kematian ayahnya membuat hatinya “…diselimuti bayang-bayang. Dia telah melihat kegelapan Mordor dan tidak bisa melupakannya. Setiap kali dia memandang ke selatan, memorinya seolah meredupkan cahaya matahari, dan walau dia tahu tempat tersebut telah hancur dan terabaikan serta diawasi ketat oleh para Raja kaum Manusia, rasa takutnya berbisik bahwa Mordor belum takluk, dan akan bangkit lagi.”

Hal ini menjadi motivasi bagi karakter Thranduil dalam The Hobbit: pemimpin yang menganut politik isolasi karena menyaksikan horor yang menimpa ayah serta kaumnya. Dalam buku The Hobbit, karakternya tidak dipanggil “Thranduil”, tetapi hanya “Elvenking” (Raja Elf). Menurut saya, panggilan ini semakin menambah kesan “penyatuan” dirinya dengan hutan yang didiami kaumnya, yang semakin tercermin dari fakta bahwa mereka semakin jauh bersembunyi ke dalam bagian hutan yang masih hijau ketika kuasa kegelapan semakin menyebar; nyaris terlihat seolah mereka “menyatu” dengan inti hutan.

“Penyatuan” raja gaib dengan kerajaannya ini tampak jelas dalam karakter yang disebut oleh Lee Pace: The Fisher King. Karakter ini muncul dalam berbagai versi legenda Raja Arthur dan Cawan Suci (Holy Grail), dan digambarkan sebagai salah satu penjaga Cawan Suci yang berwujud pria berpakaian mirip raja, tetapi dengan luka yang tak kunjung sembuh. Hadir pertama kali dalam sajak abad ke-12 Perceval, the Story of the Grail karya Chrétien de Troyes, The Fisher King digambarkan memiliki luka permanen di pahanya akibat tusukan tombak, yang konon merupakan bentuk hukuman atas kehidupan tidak terhormat yang melanggar kode etik ksatria. Ketidakmampuannya untuk memerintah serta melindungi kerajaannya digambarkan berdampak pada kondisi negerinya yang perlahan menjadi tandus. Dia digambarkan hanya bisa pulih jika ada ksatria pencari Cawan Suci yang bisa memberinya “pertanyaan yang tepat”.

Perceval-arrives-at-grail-castle-bnf-fr-12577-f18v-1330-detail

Percival Arrives at Grail Castle, detail dari manuskrip Perceval, The Story of Grail (1330)

Ada beberapa aspek yang mencerminkan kesamaan Thranduil dengan The Fisher King. Keduanya digambarkan “menyatu” dengan kondisi fisik kerajaan mereka, walau dengan cara yang terlihat berbeda. Thranduil digambarkan mengenakan mahkota berbeda untuk setiap musim, seperti bunga untuk musim semi, atau daun dan buah beri untuk musim gugur. Ketika kerajaannya menjadi semakin gelap, dia semakin undur diri dan “tenggelam” dalam kerajaan guanya yang berliku. Luka yang dialami The Fisher King terkait dengan kondisi kerajaannya yang gersang, dan hanya ketika Perceval mengajukan “pertanyaan tepat” padanya, sang raja akhirnya pulih dan kerajaannya kembali menjadi makmur.

“Raja Peri” Temperamental, Pemberi Petunjuk

Setelah mengetahui tentang Thranduil untuk pertama kalinya, Anda yang akrab dengan karya Shakespeare mungkin akan sepintas mengingat sosok Oberon, raja peri dalam A Midsummer Night’s Dream. Dalam beberapa hal, Oberon sedikit mirip dengan Thranduil: temperamental, sepintas egois, dan posesif terhadap hal yang disukainya (Thranduil lemah terhadap permata. Konflik antara Oberon dan permaisurinya, Titania, akibat Oberon menginginkan anak manusia yang dipelihara Titania). Temperamen Oberon juga bisa memengaruhi cuaca dan bahkan makhluk hidup di sekitar kerajaannya. Dalam A Midsummer Night’s Dream, pertengkaran hebat antara dirinya dan Titania mengakibatkan “angin berderu, kabut tebal turun, hewan ternak menjadi panik, dan jagung membusuk”.

800px-The_Quarrel_of_Oberon_and_Titania

The Quarrel of Oberon and Titania (1849), oleh Joseph Noel Paton 

Paralel yang lebih kuat bisa dilihat dari versi yang lebih kuno dari Oberon. Nama Oberon pertama kali muncul dalam narasi epik Prancis Abad Pertengahan (abad ke-13) berjudul Huon de Bordeaux, yang berkisah tentang misi ksatria bernama Huon yang harus menjalankan tugas-tugas berbahaya demi menebus kematian putra Kaisar Charlemagne (yang dibunuhnya tanpa sengaja). Ketika hendak memasuki hutan lebat, seorang tua bijak memperingatkannya agar berhati-hati terhadap sesosok peri hutan yang konon berbahaya. Peri tersebut, Oberon, digambarkan bertubuh mungil namun sangat tampan. Ketika Huon bertemu Oberon, dia bersikap sopan, membuat Oberon senang dan membantunya menjalankan tugas-tugas berbahayanya.

Dalam kisah tersebut, ukuran tubuh Oberon digambarkan tidak normal untuk ukuran peri. Oberon bercerita pada Huon bahwa ukuran tubuhnya adalah hasil dari kutukan seorang penyihir sakti. Oberon mengeluarkan kata kasar yang menyinggung sang penyihir, sehingga penyihir tersebut murka dan mengutuknya menjadi kecil. Jadi, kita punya “raja peri” yang tinggal di hutan dan bersifat temperamental, namun pada akhirnya menebusnya dengan membantu sesosok ksatria menyelesaikan tugas-tugas berbahayanya. Oh ya, jangan lupa, nama Oberon berasal dari kata-kata Jerman Kuno alb (elf) dan –rîh (penguasa/raja). Sounds familiar?

Thranduil: Lebih Mirip yang Mana?

Karakter Thranduil menunjukkan banyak kemiripan dalam aspek-aspek tertentu di diri Fisher King dan Oberon. Dia pernah terlibat dalam perang besar yang berakhir tragis, dan ketika dirinya mundur bersama rakyatnya yang tersisa, hutan tempat tinggalnya terpengaruh tidak hanya oleh kekuatan Sauron, tetapi nampaknya juga oleh kondisi mentalnya, dampak dari trauma perang yang menewaskan sang ayah. Fisher King mengalami hal yang sama, namun dampaknya lebih ke fisiknya (luka di kakinya), walau hal ini juga mempengaruhi kondisi kerajaannya.

Oberon mewakili Thranduil dalam hal karakteristiknya. Mereka sama-sama mulai sebagai karakter yang temperamental, posesif, dan egois. Mereka mungkin menolong pihak lain dan menciptakan akhir bahagia dalam kisah tempat mereka berada, namun pertolongan itu kerap mereka dahului dengan penderitaan (Thranduil mengurung para Dwarf, Oberon menyinggung penyihir/memberi pelajaran pada Titania dengan mengguna-gunainya).

Dualitas moral dalam karakter Thranduil juga mencerminkan karakteristik peri dalam legenda Skotlandia, Seelie dan Unseelie. Seelie sering dianggap sebagai “peri baik” yang banyak membantu manusia, sedangkan Unseelie adalah “peri jahat” yang sering menyuruh manusia melakukan hal-hal buruk demi kesenangan mereka sendiri. Akan tetapi, dikotomi ini tidak sepenuhnya berlaku, karena baik Seelie maupun Unseelie sama-sama memiliki sisi yang berkebalikan. Seelie digambarkan sering mengisengi manusia, sedangkan Unseelie terkadang menunjukkan kebaikan pada manusia yang mereka anggap “pantas”. Dualitas ini hadir dalam sosok Thranduil, sehingga tidak mengherankan jika dia bisa mengurung para Dwarf “selama yang dia inginkan” dalam satu adegan, menunjukkan obsesi pada permata di adegan lain, lalu kembali terlibat perang besar untuk membantu para Dwarf dan Manusia (padahal dia tidak ingin lagi terlibat perang setelah ayahnya meninggal).

odd-fae_col

The Faerie Wands (The Court of Seelie and Unseelie), oleh Jenny Dolfen

Lepas dari kemunculannya yang relatif jarang, tidak heran jika Thranduil menjadi salah satu karakter paling menarik dalam legendarium Middle-earth. Dualitas moral serta kompleksitas karakter yang hadir dari sejarah tragisnya yang tidak terungkap (kecuali jika Anda membaca Unfinished Tales) membuatnya menarik, bahkan tanpa bumbu sentimental dalam versi filmnya.

Sumber:

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Shakespeare, William. 1992. A Midsummer Night’s Dream. Cedric Watts (ed). Hertfordshire: Wordsworth.

Tolkien, J.R.R. 2002. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tolkien, J.R.R. 1988. Unfinished Tales. New York: Del Rey.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s