Kisah Unik di Balik Puisi Pertama J.R.R. Tolkien

Sebelum menulis The Hobbit dan LOTR (bahkan sebelum memikirkan konsep Middle-earth serta ide untuk The Silmarillion), Tolkien sudah dikenal sebagai penulis puisi, jadi jangan heran kalau puisi banyak hadir di dalam deretan karyanya. Salah satu puisi pertama Tolkien yang diterbitkan secara resmi adalah The Battle of the Eastern Field. Puisi ini diterbitkan tahun 1911 saat Tolkien berusia 19 tahun di dalam The King Edward’s School Chronicle (tiga tahun sebelum menulis puisi yang akan berkembang menjadi Middle-earth).

Melihat judulnya, mungkin Anda akan mengira kalau puisi ini adalah tentang pertempuran epik masa lalu, apalagi Tolkien dikenal dengan karya fantasi epiknya. Kalau melihat puisi di bawah ini, tema apa kira-kira yang digambarkan oleh baris-barisnya? 

Now round in thickest throng there pressed
These warriors red and green,
And many a dashing charge was made,
And many a brave deed seen.
Full oft a speeding foeman
Was hurtled to the ground,
While forward and now backward,
Did the ball of fortune bound:

Till Sekhet marked the slaughter,
And tossed his flaxen crest
And towards the Green-clad Chieftain
Through the carnage pressed;
Who fiercely flung by Sekhet,
Lay low upon the ground,
Till a thick wall of liegemen
Encompassed him around.

Tentu saja…tentang permainan rugbi.

kes-rugby-tolkien

Foto tim rugbi King Edward’s School. Tolkien ada di barisan kedua paling kanan (duduk di kursi)

Foto koleksi Bodleian Libraries, Oxford, © Tolkien Trust 2016

Pada tahun 1910 hingga 1911, sebelum masuk Exeter College dan ikut Perang Dunia I, Tolkien bersekolah di King Edward’s School. Di sana, dia bergabung dengan tim rugbi, dan konon terkenal “sadis” saat bermain. Christopher Tolkien bahkan pernah menceritakan kisah tentang ayahnya yang pulang dengan hidung patah dan lidah tergigit parah sampai nyaris putus (ada yang bilang bahwa itu sebabnya pengucapan Tolkien sering tidak jelas saat menyampaikan kuliah).

Inspirasi puisi ini datang ketika tim rugbi Tolkien menghadapi salah satu rival terberat mereka dari sekolah lain. Tolkien menjadikan puisi ini sebagai setengah parodi dari puisi epik berjudul The Lays of Ancient Rome oleh Thomas Babbington Macaulay. Karena tim rival sekolahnya berseragam merah dan hijau, Tolkien menggambarkan mereka sebagai “ksatria berbalut merah dan hijau” (warriors red and green).

Uniknya, ketika menggambarkan serangan balasan dari timnya, Tolkien menggambarkan si pemain penyerang sebagai “Sekhet”. Sekhet adalah ejaan lain dari Sekhmet, dewi perang dalam mitologi Mesir Kuno yang berwujud singa dan terkenal akan keganasannya. Sekhet juga digambarkan sebagai penjaga para Firaun, serta dewi pelindung padang rumput dan rawa, sosok yang dipuja oleh pemburu. Karena lapangan rugbi di sekolah Tolkien berlapis rumput, tentu tidak susah mengaitkannya.

The Lays of Ancient Rome bisa dibilang merupakan puisi epik, dan Sekhet adalah tokoh dalam mitologi, jadi Tolkien menggunakan kata-kata dramatis yang mengumpamakan pertandingan rugbi sebagai pertempuran, contohnya dari penggunaan kata “warrior” untuk para pemainnya. “Speeding foeman” adalah tim lawan yang menerjang maju. “Ball of fortune” merujuk pada bola rugbi, namun bermakna ganda sebagai simbol kemenangan. “Sekhet marked his slaughter and tossed his flaxen crest” berarti anggota tim Tolkien membidik dan melemparkan bola rugbi yang berwarna kekuningan (flaxen). Penggunaan kata-kata yang sengaja dilebih-lebihkan atau dipilih agar makna sebenarnya tidak segera ketahuan menggambarkan kegemaran Tolkien akan permainan kata, yang ditunjukkan pada permainan teka-teki di dalam The Hobbit.

Puisi The Battle of Eastern Field yang terinspirasi oleh pertandingan brutal ini akhirnya menjadi puisi pertama Tolkien yang dicetak secara resmi, yaitu di terbitan The King Edward’s School Chronicle volume 26 edisi Maret 2011. Ketika Jerman menyerang Inggris saat Perang Dunia, banyak kopian terbitan ini yang diduga hangus, namun untungnya masih ada yang tersisa sehingga puisi ini tidak menghilang dari peredaran. Pada tahun 1978, puisi tersebut dimuat di dalam edisi ke-12 Mallorn, jurnal tahunan Tolkien Society, dan akhirnya dicetak ulang di edisi ke-46 tahun 2008.

Terbukti, ilham untuk puisi bisa datang dari mana saja. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s