Mengapa Pertandingan Teka-teki dalam The Hobbit Begitu Menarik? (postingan The Hobbit Day)

Tulisan ini saya buat dalam rangka Hobbit Day yang jatuh setiap tanggal 22 September. Postingan tahun lalu bisa dibaca di sini.

riddles_in_the_dark

Sumber 

Salah satu adegan paling berkesan di dalam novel The Hobbit adalah adegan permainan teka-teki antara Bilbo dan Gollum, yang termuat di dalam bab Riddles in the Dark. Dalam adegan itu, Bilbo dan Gollum sama-sama mempertaruhkan sesuatu. Jika Gollum kalah, dia akan menunjukkan jalan keluar dari Misty Mountain untuk Bilbo. Jika Bilbo kalah, Gollum akan memakannya.

Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik ketika membaca bab ini bertahun-tahun yang lalu. Selain komposisi kreatif dari pertanyaan-pertanyaannya (“Ada kotak tanpa engsel, tanpa kunci atau penutup, tetapi di dalamnya berisi emas yang hidup”; jawabannya adalah “telur”), ada juga deskripsi tentang teka-teki sebagai “permainan kehormatan”, sesuatu yang telah ada di dalam hukum kuno dan dipandang keramat. Sebagai orang yang biasanya hanya memandang teka-teki sebagai sumber hiburan dan humor, tentu sulit buat saya memandangnya sebagai sesuatu yang pantas ditempeli label “keramat”. Akan tetapi, jika memandangnya dari segi literatur, kesenian rakyat, dan mitologi, pantas jika Tolkien menempatkan teka-teki di tempat istimewa sebagai penentu keputusan besar di dalam The Hobbit.

Dari Mana Ide Membuat Teka-teki di The Hobbit?

Dalam surat bulan Februari tahun 1938 mengenai The Hobbit (yang baru terbit beberapa bulan sebelumnya), Tolkien hanya menyebut bahwa dia harus menggali banyak sumber dan analogi jika harus menggambarkan inspirasi teka-teki di dalam buku tersebut. Oleh karena itu, beberapa pakar karya-karya Tolkien mencoba melacak sendiri kira-kira dari mana inspirasi itu berasal. José Manuel Ferrández Bru (pendiri The Tolkien Society cabang Spanyol) serta Douglas A. Anderson (penulis buku The Annotated Hobbit) menelusuri akar dari tradisi Inggris Kuno, hingga kemungkinan inspirasi dari teka-teki karya novelis Spanyol, Cecilia Francisca Josefa Böhl de Faber.

Tradisi literatur Anglo-Saxon (salah satu yang menjadi minat akademis Tolkien) juga memiliki teka-teki mereka sendiri. Exeter Book, sebuah buku berbahasa Inggris Kuno yang berasal dari abad ke-10, merupakan kompilasi dari 90 buah teka-teki berbentuk sajak. Teka-teki juga banyak muncul dalam kisah-kisah rakyat Abad Pertengahan, termasuk yang ada di dalam kompilasi cerita Children’s and Household Tales (1812) karya Grimm Bersaudara.

John D. Rateliff, penulis dan peneliti yang mengelola manuskrip-manuskrip asli milik Tolkien di Marquette University, bahkan memiliki penjelasan panjang tentang teka-teki terakhir di dalam bab itu, yaitu pertanyaan Gollum tentang sesuatu yang “…memakan segalanya: burung, binatang, pohon dan bunga. Mengerat besi, menggigit baja. Batu keras pun digilingnya. Membunuh raja, menghancurkan kota, meruntuhkan gunung sampai rata” (jawabannya adalah “waktu”).

Menurut Rateliff, teka-teki spektakuler ini memiliki koneksi dengan sajak Inggris Abad Pertengahan karya Geoffrey Chaucer, Romaunt of the Rose, di mana Chaucer mengumpamakan waktu sebagai sesuatu yang menghancurkan segalanya (“And al thyng distroyeth he”), membuat raja menjadi renta (“The Tyme that eldeth our auncestours, and eldeth kynges and emperours”), dan mengerat besi (“There may nothyng as Tyme endure, Metal nor erthely creature”). 

Akhirnya, jangan lupakan teka-teki legendaris yang diberikan Sphinx kepada Oedipus. Dalam mitologi Yunani, dikisahkan bahwa Ratu Jocasta dan adiknya, Creon, menjanjikan takhta Thebes serta Jocasta sebagai permaisuri pada siapapun yang bisa menyingkirkan Sphinx (yang gemar mencegat pengembara dan mengajukan teka-teki, serta membunuh mereka yang gagal menjawab). Oedipus berhasil menjawab teka-teki Sphinx, yang membuatnya mampu melewati makhluk tersebut dan menuju ke Thebes. Sebagai pakar puisi, sastra, dan mitologi Eropa, Tolkien pasti familiar dengan kisah ini, serta betapa pentingnya makna teka-teki bagi karakter di dalam legenda dan mitologi.

422px-Alan_Lee_-_Riddles_in_the_Dark

Riddles in the Dark, oleh Alan Lee

Apa Tujuan Teka-teki?

Teka-teki adalah salah satu bentuk tradisi oral serta bagian dari literatur rakyat (folk literature), dan ada di hampir semua tradisi kebudayaan. Begitu tuanya, sehingga ada catatan tertua tentang teka-teki berupa lempengan tanah liat dari Lagash, Sumeria, yang berasal dari tahun 2350 Sebelum Masehi. Di peradaban tua lainnya seperti India dan Persia, permainan teka-teki kemungkinan berakar dari tradisi petani, yang menggunakannya sebagai sarana hiburan. Fungsi ini pasti sudah akrab dengan kita sekarang; ada kesenangan tersendiri saat berhasil menemukan kombinasi kata-kata menarik atau lucu untuk menjelaskan kata lain.

Teka-teki humor dan bahkan bermakna ganda (biasanya bernada seksual) juga sudah populer sejak masa silam. Dalam Exeter Book yang saya sebutkan tadi, ada sebuah teka-teki bermakna ganda:

“I am wonderful help to women,
The hope of something to come. I harm
No citizen except my slayer.
Rooted I stand on a high bed.
I am shaggy below. Sometimes the beautiful
Peasant’s daughter, an eager-armed,
Proud woman grabs my body,
Rushes my red skin, holds me hard,
Claims my head. The curly-haired
Woman who catches me fast will feel
Our meeting. Her eye will be wet.”

(Hasil terjemahan ke bahasa Inggris modern)

Tergantung ke mana pikiran Anda menuju saat mencerna pertanyaan ini, Anda mungkin entah menjawab “bawang” atau “alat kelamin pria”. 🙂

Kita juga punya banyak sekali contoh-contoh teka-teki dalam tradisi oral maupun tertulis, misalnya dalam bentuk pantun. Baru-baru ini, saya membaca tulisan menarik karya Drs. H. Ridwan Saidi tentang aspek bahasa dalam budaya orang Betawi, dan salah satu warisan budaya yang cukup kental adalah koleksi pantun berupa teka-teki. Di antaranya, ada sebuah pantun teka-teki yang sama “nakal” seperti sajak karya Chaucer di atas:

Jalanan besar pager miana

Burung puter di rumah Cina

Jangan gusar saya bertanya

Di bawah puser apa namanya

Sayangnya, walau merupakan salah satu aspek berbahasa yang menarik, teka-teki sering diremehkan oleh kaum akademisi. Mungkin karena teka-teki dianggap tak lebih dari mainan anak-anak, atau paling jauh ya sarana untuk berbagi kelucuan, seperti contoh-contoh di atas. Padahal, fakta bahwa Anda harus menciptakan susunan kalimat yang tepat, lengkap dengan jawaban mengejutkan tetapi masuk akal, sudah menunjukkan tingkat kecerdasan tersendiri. Plus, tradisi oral ini ada di dalam setiap budaya, dan memiliki signifikansi sendiri.

Aristoteles adalah salah satu figur dalam sejarah yang memelajari teka-teki secara serius, dalam kaitannya dengan retorika. Menurutnya, teka-teki yang dirangkai dengan baik sangat menarik karena mengusung ide yang baru serta sudut pandang berbeda. Kita berusaha memikirkan jawaban yang “nyambung” dengan susunan pertanyaannya, lalu ketika gagal menjawab, kita kaget karena ekspektasi sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain, teka-teki memaksa kita untuk berpikir dari sudut pandang yang lain, dan tidak terpaku pada kulit luar. Sama seperti teka-teki “nakal” di atas, bukan? Jawabannya belum tentu sama nakalnya dengan pertanyaannya.

Dalam tingkat yang lebih tinggi, teka-teki adalah suatu tantangan intelektual, serta sebuah “permainan” dengan tingkat pertaruhan tinggi, seperti yang dideskripsikan dalam The Hobbit. Sejarawan Yunani, Herodotus, pernah mendeskripsikan teka-teki yang diberikan peramal Delphi kepada orang-orang Sparta. Saat itu, kaum Sparta sedang berperang dengan bangsa Tegea, dan sang peramal menjanjikan kemenangan asalkan orang Sparta bisa menemukan tulang-belulang pahlawan bernama Orestes. Karena peramal Delphi tidak pernah memberi jawaban secara langsung (karena mereka menginterpretasikan pertanda dari dewa), melainkan lewat bahasa teka-teki, kaum Sparta yang terkenal berdarah panas dan suka perang itu pun dipaksa berpikir keras. Senjata mereka tidak berguna di sini. Dengan kata lain, teka-teki adalah suatu cara mendorong tradisi berpikir panjang dan analitis untuk mencapai suatu tujuan besar, bahkan di dalam situasi genting.

Jika Anda pikir itu kuno, pertimbangkan hasil penelitian Profesor Muigai Wa Gachanja tentang teka-teki dalam kultur kelompok etnis Abagusii di Kenya. Menurut hasil penelitiannya, teka-teka khas dalam tradisi oral Abagusii memiliki manfaat untuk mendidik anak-anak, dan bahkan sebaiknya diterapkan di sekolah. Selain manfaat yang sudah jelas seperti mengasah kreativitas, kemampuan berpikir mendalam serta membuat analogi, teka-teki adalah senjata yang bagus untuk sosialisasi serta mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Pasalnya, teka-teki khas suatu daerah atau kelompok etnis biasanya bergantung pada pemahaman terhadap daerah atau kelompok itu sendiri.

Hal ini sedikit banyak tampak dari jalannya permainan teka-teki antara Bilbo dan Gollum. Ketika setiap pertanyaan mulai terdengar semakin sulit, baik Bilbo maupun Gollum dipaksa menggali gudang memori serta memerhatikan sekeliling mereka. Bilbo berhasil menjawab teka-teki sulit tentang ikan ketika seekor ikan melompat ke arahnya demi menghindari kaki Gollum. Ketika Bilbo mengajukan pertanyaan tentang telur dan bunga matahari, Gollum menggali ingatan tentang masa-masa ketika dia masih kecil dan tinggal bersama neneknya, makan telur sambil menikmati kehangatan matahari. Lucunya, ketika mendapat teka-teki paling spektakuler, Bilbo justru berhasil menjawabnya karena keberuntungan semata, seolah pikiran kita sebagai pembaca ikut dijungkirbalikkan.

Tulisan ini saja mungkin tidak akan cukup untuk menggambarkan betapa luasnya teka-teki, yang sering dianggap sebagai permainan atau candaan biasa. Akan tetapi, lewat pertandingan teka-teki dengan taruhan tinggi dalam The Hobbit, Tolkien merangkum semua yang ditawarkan teka-teki kepada tradisi berbahasa kita: humor, olah pikiran, kreativitas, memori, kepekaan terhadap sekitar, hingga tantangan intelektual ketika kita dipaksa mencari jawaban dari sudut pandang baru. Kombinasi dari semua hal ini mungkin adalah apa yang memikat saya ketika membaca The Hobbit untuk pertama kalinya, walau mungkin saya belum bisa menjelaskannya.

Happy Hobbit Day!

Sumber:

Carpenter, Humphrey. 2002. The Letters of J.R.R. Tolkien. New York: Houghton Mifflin.

Cook, Eleanor. 2006. Enigmas and Riddles in Literature. Cambridge: Cambridge University Press.

Gachanja, Mugai Wa. 2013. Pedagogical Aspects of Riddles: A Critical Examination of Abagusii Riddles. International Journal of Humanities and Social Science. Vol. 3 No. 3

Saidi, H. Ridwan. “Setan Cantik di Ancol itu Bukan Mariam.” Ketoprak Betawi. Helen Ishwara (ed). Jakarta: PT Intisari Mediatama.

Tolkien, J.R.R. Anderson, Douglas. 2002. The Annotated Hobbit. New York: Houghton Mifflin.

Tolkien, J.R.R. 2002. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Advertisements

2 thoughts on “Mengapa Pertandingan Teka-teki dalam The Hobbit Begitu Menarik? (postingan The Hobbit Day)

    1. Lho, sebenarnya humor ala Cak Lontong itu ya seperti riddle modelnya, hehe. Membuat orang ketawa dengan cara menjungkirbalikkan ekspektasi secara verbal. Begitu juga dengan joke-joke yang biasa kita sebut “joke receh”; nggak akan jalan kalau nggak ada pemahaman atas konteks lokal yang membuat joke itu jadi lucu dan membuat orang mikir “lah, bisa gitu toh? 🙂 ” Cuma humor dan permainan kata kayak gini emang cenderung kurang jadi perhatian di dunia akademis bidang bahasa dan komunikasi. Mungkin karena disangka “recehan”, atau karena humor itu sulit didefinisikan karena tiap daerah, komunitas, atau negara punya konteksnya sendiri2 sesuai kultur.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s