Bagaimana J.R.R. Tolkien Merombak Dunia Fiksi Fantasi: Terjemahan Artikel Edisi Khusus Newsweek 2017


Catatan: How J.R.R. Tolkien Redefined Fantasy Stories dikutip dari majalah Newsweek edisi spesial: J.R.R. Tolkien, the Mind of a Genius., yang baru saja terbit. Artikel ini ditulis oleh James Ellis, penyunting edisi istimewa ini.

Artikel asli bisa dibaca di sini.

tolkien-cover-new

Kaum intelektual, akademisi, dan penikmat karya fantasi telah banyak menulis tentang definisi fantasi (apakah puisi epik seperti Beowulf termasuk?) serta asal-usulnya (apakah mitos Yunani termasuk? Bagaimana dengan puisi-puisi romantis dari Abad Pertengahan?), baik secara daring maupun luring. Namun satu hal sudah jelas; pengaruh besar J.R.R. Tolkien tidak bisa disangkal. Penulis Inggris tersebut tidak menemukan fiksi fantasi, tetapi merombaknya dalam benak jutaan pembaca dengan karya-karyanya yang paling berpengaruh, The Hobbit dan The Lord of the Rings.

Novel-novel Tolkien telah menciptakan patokan yang masih terus diikuti oleh para penulis fiksi fantasi, genre yang popularitasnya terus berkembang sejak masanya, terutama karena kesuksesannya yang fenomenal. Buku-buku fantasi tidak hanya menempati daftar buku terlaris di seluruh dunia, namun sudah menjangkau ke luar batasan halaman cetak hingga ke film dan televisi, dengan Game of Thrones-nya HBO (adaptasi dari seri A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin) yang menjadi fenomena kultural abad ke-21. Ini masih ditambah dengan film-film laris seperti Harry Potter dan adaptasi buku-buku Tolkien oleh Peter Jackson yang menyapu bersih daftar film terlaris, serta meraup keuntungan besar yang mencapai 4 milyar Dolar AS. Semua ini adalah dampak tidak langsung dari kesuksesan Tolkien sebagai penulis.

Tanda-tanda kesuksesan pertama Tolkien dalam genre ini hadir lewat terbitnya The Hobbit di tahun 1937. Walaupun cenderung pendek dan ringan dibandingkan The Lord of the Rings yang lebih epik, novel pertama Tolkien telah menancapkan pengaruhnya sendiri, merombak habis-habisan konsep fiksi fantasi untuk anak-anak.

“Apa yang dilakukan Tolkien adalah mengadopsi fantasi ‘dunia lain’ yang dikembangkan di abad ke-19 dan membuatnya mudah dicerna anak-anak, menggabungkannya dengan kisah rakyat serta mitologi Nordik,” ungkap Farah Mendlesohn, pakar bidang karya fiksi ilmiah dan fantasi serta penulis buku Rhetorics of Fantasy. “Itu bukan sesuatu yang radikal, tetapi jelas sebuah perubahan besar.” Berlawanan dengan kisah-kisah seperti Mary Poppins-nya P.L. Travers atau seri Oz karya L. Frank Baum, ada aspek konsekuensi dan realita yang memasuki dunia Bilbo Baggins, walaupun di dalamnya juga ada cincin ajaib dan naga. Rombongan Dwarf dalam The Hobbit adalah para pengungsi yang berkelana dalam misi merebut kembali kerajaan mereka, dan kisah tersebut berujung pada konflik politis antara Elf, Dwarf, dan Manusia penghuni Laketown, yang baru berakhir dengan kehadiran bala tentara Orc. “Tolkien tidak banyak bermain dengan konsep kekanak-kanakan seperti penulis-penulis fantasi Amerika seperti E.B. White,” ujar Mendlesohn.

Tolkien juga mengisi dunia ciptaannya dengan para karakter yang berkembang dan berubah seiring berjalannya cerita. Ini berlawanan dengan tren konsep protagonis di masanya, seperti Alice dalam Alice’s Adventures in Wonderland karya Lewis Carroll, yang walaupun mengalami berbagai petualangan menakjubkan, tetapi tetap menjadi sosok yang statis. “Tolkien membuat para karakternya belajar,” tukas Mendlesohn. “Ada perkembangan karakter dalam diri Bilbo yang terkait dengan pengalamannya di dunia yang asing, dan ini adalah sesuatu yang baru.” Siapapun yang sudah akrab dengan petualangan Harry Potter atau Katniss Everdeen bisa mengakui pengaruh Tolkien dalam apa yang kini dikenal dengan fiksi Pembaca Muda (Young Adult), genre yang mengajak pembacanya tersedot masuk ke sebuah dunia rekaan dan berempati pada protagonis yang karakternya terus berkembang.

Jika The Hobbit adalah pertanda kecil dari apa yang akan menjadi populer, The Lord of the Rings secara terang-terangan mengusung masa depan fiksi fantasi. Dunia yang sudah cukup kaya dalam The Hobbit tidak hanya dikembangkan, tetapi diberi kedalaman, dengan para karakter yang melantunkan sajak untuk mengenang pertempuran yang terjadi ribuan tahun sebelumnya, serta mengutip sejarah yang terasa sama nyatanya dengan dunia kita sendiri. Kisah tentang sekelompok individu yang walaupun memiliki kekurangan namun berhati baik, bersatu padu melawan kuasa jahat purba, menjadi sangat populer, dan terus digunakan berulang-ulang oleh para penulis fiksi fantasi setelah itu; beberapa jauh lebih gamblang dari yang lain.

Terry Brooks, misalnya, yang telah menggarap 11 novel untuk serial Shannara, menulis begini dalam edisi khusus The Sword of Shannara, “Aku mendapat inspirasi dari penulis-penulis kisah petualangan Eropa seperti Sir Walter Scott, Robert Louis Stevenson dan Alexander Dumas, tetapi baru setelah membaca The Lord of the Rings-nya J.R.R. Tolkien aku menyadari bahwa genre fantasi memiliki pola dasar yang kubutuhkan untuk menceritakan kisah The Sword of Shannara.”

Bahkan ketika penulis-penulis fantasi sengaja menolak plot “Orang Baik melawan Penguasa Jahat” yang sudah jelas, mereka sadar bahwa mereka juga ikut menunggangi tren ini. “Memerintah itu sulit,” ujar George R.R. Martin dalam wawancara dengan majalah Rolling Stone. “Ini mungkin jawabanku untuk Tolkien. Walaupun aku sangat mengaguminya, tetapi aku tidak sejalan dengannya.”

Dunia Martin yang muram dan mengerikan, penuh dengan deskripsi eksplisit pembunuhan, pemerkosaan dan pengkhianatan, mungkin sebuah bentuk penolakan terhadap karya Tolkien. Namun, tidak ada keraguan bahwa karya Martin yang populer, serta karya-karya sejenis lain yang diterbitkan sejak era Tolkien, tidak akan ada tanpa kalimat: “Di dalam lubang di tanah, hiduplah sesosok Hobbit.”

Advertisements

2 thoughts on “Bagaimana J.R.R. Tolkien Merombak Dunia Fiksi Fantasi: Terjemahan Artikel Edisi Khusus Newsweek 2017

  1. Hai Kak Putri,
    Saya sudah baca artikel di atas dan setuju sekali dengan redaksi berikut, “But the overwhelming influence of J.R.R. Tolkien on the genre remains a fundamental certainty”. Menurut saya, Tolkien itu ibaratnya sebagai ‘role mode’ bagi pengarang buku genre fiksi fantasi jaman sekarang. Saya sebenarnya tidak begitu minat dengan buku seperti itu, ceritanya cenderung nge-pop, itu istilah saya sendiri loh, yang kalau diminta untuk menerangkan malah suka jadi bingung sendiri jawabnya :)). Saya sendiri melihatnya sebagai trend saja, salah satu genre yang nge-hits. Kalaupun dibaca hanya untuk menambah referensi buku bacaan saya.
    Mau tanya, ceritanya mau kenal lebih dalam sama Tolkien. ‘Portfolio’ buku baca Tolkien saya sejauh ini The Silmarillion, Children of Hurin, The Hobbit dan LoTR plus kisah2 yang tidak dipublish di The Silmarillion yang kebanyakan merupakan kisah2 favorit saya, yang saya temui di Unfinished Tales dan The History of Middle-earth. Kaitannya dengan karya Tolkien yang sudah baca ataupun tidak berkaitan sama sekali, Kak Putri bisa bantu memberikan referensi mana-mana buku biography Tolkien ataupun melulu bukan full biography yang wajib/perlu dibaca? Baik versi Inggris ataupun Indonesia-nya, yang mudah dipahami dan ini yang penting, gampang dicarinya, tapi kalau bisa didapat gratis via internet juga gpp kok 🙂
    Terima kasih.

    Like

  2. Hai Witavari, makasih ya sudah follow dan like 🙂 Iya, saya sendiri masih ingat masa-masa ketika baru beli The Hobbit dan LOTR dulu (awal tahun 2000-an), dan Gramedia tiba-tiba dipenuhi berbagai buku fantasi yang mirip. Tapi walaupun saya ngikutin banget Tolkien, kalau ditanya “kamu suka fantasi ya?” jawaban saya “Ya, belum tentu.” Soalnya tidak semua karya fantasi saya baca, karena butuh investasi waktu dan energi yang banyak. Menulis cerita menarik udah susah, apalagi kalau harus membangun “dunia sekunder” yang unik, terperinci, fantastis, sekaligus masih berpijak pada aspek-aspek yang membumi agar bisa nyambung. Sekarang pun karya fantasi yang saya ikuti selain Tolkien hanya karya penulis yang sudah mapan dengan gaya unik mereka sendiri, seperti seri Harry Potter, A Song of Ice and Fire, dan beberapa bukunya Neil Gaiman (dan ulasan untuk seri Earthsea dari Ursula Le Guin bagus banget, tapi saya belum sempat baca).

    Untuk buku-buku Tolkien sendiri sebenarnya banyak yang ada di luar Middle-earth legendarium. Yang sudah diterjemahkan adalah Tales from the Perilous Realm (Kisah-kisah dari negeri penuh bahaya). Selain itu, ada buku puisi seperti The Legend of Sigurd and Gudrun (ada analisis literatur juga di dalamnya), The Fall of Arthur, The Homecoming of Beorhtnoth Beorhthelm’s Son, The Lay of Autrou and Itroun, dan Sir Gawain and the Green Knight. Untuk buku narasi, ada The Story of Kullervo (sebenarnya sih separuh narasi separuh analisis literatur). Ada juga beberapa naskah kuliah Tolkien yang dirangkum dalam buku The Monsters and the Critics and Other Essays (bahasanya akademis sekali).

    Untuk buku pendukung biasanya saya sangat berhati-hati saat pilih-pilih, soalnya nama Tolkien sekarang bisa dibilang sinonim dengan duit, jadi ada aja penulis yang memanfaatkan hal itu dengan menjual nama Tolkien untuk menulis buku-buku yang sebenarnya diriset dengan buruk atau malah mencantumkan info yang tidak benar. Kalau ingin membaca buku-buku pendukung yang bereputasi baik, silakan coba mulai dari sini:

    1. Biografi: ada beberapa biografi Tolkien, tetapi yang kualitasnya paling bagus adalah biografi karya Humphrey Carpenter. Carpenter menggarap bukunya bareng Christopher Tolkien, jadi keakuratannya boleh diakui. Karya biografi lainnya yang bagus adalah dari Hammond and Schull.

    2. The Letters of J.R.R. Tolkien. Buku ini digarap Humphrey Carpenter juga, bareng Christopher Tolkien. Surat-surat Tolkien itu menarik banget, dan di sini, kita bisa “membaca” orang seperti apa beliau itu sebenarnya lewat kata-katanya sendiri. Tolkien juga banyak membahas tentang Middle Earth dengan orang-orang yang dia ajak berkorespondensi, dan itu kelihatan dalam surat-surat tersebut.

    Untuk saat ini mungkin itu dulu ya. Buku-buku lain dalam daftar saya sifatnya cenderung ke akademis atau kumpulan esai. Buku-buku semacam ini sayangnya susah dicari gratisannya, tapi lebih baik sih emang beli aja. Nggak rugi kok. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s