Tentang Pertemuan dengan Hewan-Hewan Berwarna Putih dalam Legendarium Tolkien


Dari berbagai jenis hewan yang muncul dalam mitologi dan kisah-kisah fantasi, kemunculan hewan berwarna putih kerap dikaitkan dengan keistimewaan, entah itu terkait pertanda, keajaiban, terbukanya batas antara dunia nyata dan gaib, atau kehadiran penunggang kuda yang istimewa. Dalam legendarium Middle-earth karya J.R.R. Tolkien, pertemuan dengan hewan-hewan berwarna putih kerap menjadi sesuatu yang bermakna khusus, dan hal ini memiliki paralel kuat dengan mitologi serta folklore dunia nyata. 

Dalam The Hobbit, para Dwarf dan Bilbo terpikat pada sosok rusa putih, yang menuntun mereka masuk makin jauh ke dalam hutan Mirkwood, hingga akhirnya mereka bertemu dengan para Elf yang sedang berpesta. Uniknya, jika para Dwarf dan Bilbo selalu bisa mendengar kedatangan hewan-hewan biasa saat mendekati mereka di dalam hutan, mereka justru tidak bisa mendengar kedatangan rusa putih, yang kemudian menuntun mereka ke suara-suara para Elf yang sedang berpesta.

800px-anke_eismann_-_orome_espies_the_first_elves

Oromë Espies the First Elves, oleh Anke Eissman

Valar Oromë menunggang kuda putih bernama Nahar ketika dia bertemu dengan para Elf yang baru saja dibangkitkan oleh Iluvatar, di Pesisir Cuiviénen. Dia menjadi pemandu dan pembimbing mereka agar mencapai Beleriand dengan selamat. Kine of Araw, jenis sapi liar yang tanduknya dijadikan terompet (termasuk terompet Boromir), konon berasal dari sapi-sapi milik Oromë yang kemungkinan besar juga berwarna putih. Dalam jurnal Palma Eldalamberon edisi 18, bertajuk Tengwesta Qenderinwa and Pre-Fëanorian Alphabets bagian 2, Tolkien juga menyebut adanya “sapi-sapi putih yang dipelihara kaum Faerie di Artanor (negeri yang kemudian dikenal sebagai Doriath).”

Glorfindel juga memiliki kuda putih istimewa bernama Asfaloth. Dalam The Lord of the Rings, Asfaloth bisa berlari jauh lebih kencang daripada kuda-kuda tunggangan Nazgul, namun orang yang menaikinya tetap akan merasa stabil dan mantap di atas punggungnya. Asfaloth sukses membawa Frodo yang terluka menghindari kejaran para Nazgul, sebelum mereka tiba di Imladris dengan selamat.

Sejarah kaum penunggang kuda, Rohan, juga tidak lepas dari keberadaan kuda putih. Ras kuda-kuda tunggang yang istimewa, Mearas, diturunkan dari seekor kuda putih bernama Felaróf, yang bisa berlari secepat angin dan bahkan memahami bahasa kaum Manusia. Leod, raja kaum penunggang kuda Éothéod yang juga leluhur para Rohirrim, terbunuh ketika berusaha menjinakkan kuda ini. Putranya, Eorl, berhasil melakukannya, dan kemudian menunggangi kuda ini dalam berbagai pertempuran penting, termasuk ketika membantu kaum Gondor bertahan dari serbuan Orc; tindakan yang membuatnya dianugerahi padang rumput Calenardhon, yang kemudian menjadi Rohan.

057-eorl-the-young

The Tapestry of Eorl the Young, oleh Anke Eissman

Akhirnya, jangan lupakan Elwing, cucu dari Beren dan Luthien, istri Eärendil, serta ibu dari Elrond dan Elros. Ketika putra-putra Fëanor yang tersisa menyerbu kediamannya untuk merebut permata Silmaril yang ada di tangannya, Elwing menerjunkan diri ke laut, namun kekuatan Valar Ulmo mengubahnya menjadi burung putih. Elwing terbang mendampingi kapal suaminya, Vingilot, dalam perjalanan jauh ke Barat untuk menemui para Valar. Sebagai burung putih, Elwing terbang menemui kaum Elf Falmari/Teleri Alqualondë (yang kaumnya banyak dibantai Fëanor serta putra-putranya), menceritakan tentang sejarah Beleriand yang bergejolak, dan membujuk mereka untuk berlayar sebagai bagian dari bala tentara Valar (The Host of the Valar), pasukan besar yang kelak akan menggulingkan Morgoth pada akhir Zaman Pertama.

442px-peter_xavier_price_-_elwing_bearing_the_silmaril

Elwing Bearing the Silmaril, oleh Peter Xavier Price

Keberadaan hewan-hewan berwarna putih dalam legendarium Tolkien nampaknya memang mengikuti minat besar yang diberikan orang-orang Eropa kuno dan Abad Pertengahan terhadap hal yang sama. Uffington White Horse, contohnya, adalah sebuah peninggalan bersejarah di Bukit White Horse, Uffington, Oxfordshire. Peninggalan ini berupa figur kuda putih raksasa, dibuat dengan menggali semacam parit membentuk figur kuda dan diisi kapur putih, dengan dimensi 261 x 79 meter. Figur ini diperkirakan berasal dari Zaman Besi atau Perunggu, dan menjadi peninggalan ikonik di Oxfordshire, terutama jika dilihat dari udara.

uffington-white-horse-sat

Uffington White Horse. Foto udara oleh USGS-World Wind

Sejarah Jerman Kuno juga mencatat paling tidak satu suku penunggang kuda yang pernah mendiami area dekat Sungai Rhine: Tencteri. Tidak seperti suku-suku lain yang lebih sering berjalan kaki, Tencteri dikenal sebagai suku yang memiliki koneksi dekat dengan kuda. Mereka jago bertempur di punggung kuda, walau taktik kesukaan mereka adalah melompat dari punggung kuda dan menikam perut kuda lawan. Akan tetapi, kaum Tencteri menaruh perhatian ekstra pada kuda putih. Sejarawan Roma, Tacitus, mencatat kebiasaan kaum Tencteri menggunakan kuda putih sebagai pertanda dan ramalan dalam Germania:

Kept at the public expense, in these same woods and groves, are white horses, pure from the taint of earthly labour; these are yoked to a sacred car, and accompanied by the priest and the king, or chief of the tribe, who note their neighings and snortings. No species of augury is more trusted, not only by the people and by the nobility, but also by the priests, who regard themselves as the ministers of the gods, and the horses as acquainted with their will.

Tacitus – Germania

Mitologi, sejarah dan folklore Irlandia juga banyak menghadirkan hewan berwarna putih. Salah satu favorit saya digambarkan dalam Pangur Bán, sebuah sajak yang ditemukan dalam manuskrip Irlandia dari abad ke-9, Reichenau Primer, dan berkisah tentang seekor kucing putih yang dipelihara oleh seorang biarawan di Biara Reichenau, tempat manuskrip tersebut tersimpan. Sajak itu menggambarkan Pangur Bán, kucing putih yang lembut, ceria dan gemar mengejar tikus. Sang biarawan (yang dalam puisi tersebut namanya tidak disebutkan) memandang kucingnya yang sedang sibuk mengejar tikus saat dirinya asyik membaca, dan mendadak dia menyadari bahwa kegigihan Pangur dalam mengejar tikus merefleksikan hasratnya sendiri yang tak ada habisnya dalam mengejar pengetahuan dan kebijaksanaan. Dua bait terakhir merangkumnya dengan cukup baik (dan manis):

So in peace our task we ply,
Pangur Ban, my cat, and I;
In our arts we find our bliss,
I have mine and he has his.

Practice every day has made
Pangur perfect in his trade;
I get wisdom day and night
Turning darkness into light.

thewhitecatandthemonk03

Ilustrasi biarawan dan Pangur Bán yang dimuat dalam buku The White Cat and the Monk oleh Jo Ellen Bogart

Ngomong-ngomong soal kucing putih, ratu Gondor dari bangsa Black Numenorian bernama Berúthiel pun terkenal karena memiliki seekor kucing putih di antara sembilan ekor kucing hitamnya, yang digunakannya sebagai perantara untuk mengetahui rahasia para penduduk Gondor. Jika kucing-kucing hitamnya bertugas mencuri rahasia dari orang-orang biasa, kucing putihnya digambarkan mencuri rahasia dari mereka yang menyimpan pikiran-pikiran gelap. Dengan kata lain, satu-satunya kucing putihnya justru adalah yang digunakannya untuk menggali “rahasia dari rahasia,” pikiran mendalam yang gelap dan cenderung disembunyikan orang secara lebih rapat.

Akhirnya, jangan lupakan mitologi dan folklore Wales yang juga memberi cukup banyak pengaruh bagi karya-karya Tolkien. Dalam cerita pertama di The Mabinogion, kompilasi kisah-kisah dari manuskrip Wales Abad Pertengahan, seorang pangeran bernama Pwyll berpapasan dengan seorang wanita muda, Rhiannon, yang menunggangi kuda putih di sebuah bukit. Ketika rekan-rekan bangsawan Pwyll mencoba mengejarnya, kuda-kuda mereka tak kunjung bisa menyusul si kuda putih, padahal kuda tersebut nampaknya hanya berlari santai. Pwyll, yang akhirnya bisa menyusulnya, menyadari bahwa wanita tersebut berasal dari Annwn, istilah Wales untuk “dunia bawah” (Underworld). Pertemuan Pwyll dengan Rhiannon pun menjadi pemicu berbagai petualangan di Annwn; sesuatu yang membuat Pwyll akhirnya mendapat julukan Pen Annwfn, “Dia yang Memerintah Dunia Bawah,” walaupun dirinya adalah manusia.

rhiannon-alan-lee

Rhiannon, oleh Alan Lee

Lalu, apa makna pertemuan dengan hewan-hewan berwarna putih ini?

Kehadiran hewan berwarna putih dalam berbagai cerita rakyat dan mitologi kerap dikaitkan dengan pertemuan antara manusia atau makhluk mortal dengan dunia “Faerie,” dunia bawah, atau dunia apapun yang dianggap “gaib” dan terpisah dari dunia yang kita huni dengan suatu batas khusus. Hewan-hewan berwarna putih, yang biasanya langka dan kerap menjadi buruan, kerap menjadi kunci pertemuan dan alam gaib, atau sesuatu yang berada di luar pemahamannya.

Dalam esainya yang berjudul On Fairy Stories, Tolkien menjabarkan konsep Dunia Sekunder dalam fantasi menggunakan konsep negeri “Faerie,” sebuah negeri yang memiliki kaitan samar dengan Dunia Primer (dunia kita sendiri), sehingga memandangnya seolah seperti melihat ke sebuah pulau yang tertutup kabut di kejauhan. Dunia Faerie versi Tolkien mengizinkan pembaca memandang “potensi” dunia mereka sendiri dalam cara unik, yaitu lewat sudut pandang Dunia Sekunder yang seolah tak memiliki batas kungkungan logika Dunia Primer. Hewan-hewan berwarna putih dalam karyanya bisa dibilang menerapkan konsep ini; membuat manusia menyadari adanya sebuah dunia lain (atau, dalam artian lebih luas, sudut pandang lain) yang “ada tapi sekilas seperti tidak ada.”

Pada akhirnya, ketika karakter utama dalam berbagai kisah ini menemukan seekor hewan putih, mereka tiba-tiba dihadapkan pada suatu perubahan, atau suatu peristiwa yang membuat mereka menemukan sesuatu yang mengubah pandangan terhadap dunia yang mereka pikir sudah mereka kenali. Ketika Bilbo dan para Dwarf menemukan rusa putih di dalam hutan, rusa itu menuntun pada pertemuan mereka dengan jejak-jejak para Elf, sekaligus menjadi titik “perubahan” bagi Bilbo ketika dia akhirnya harus menjadi pahlawan bagi rekan-rekannya yang ditangkap laba-laba raksasa.

Ketika Eorl bertemu Felaróf dan berhasil menjinakkannya, mereka menjadi pasangan kuda dan penunggang yang disegani, dan sepak terjang keduanya akhirnya berujung pada tindak kepahlawanan yang akhirnya menjadi cikal bakal terbentuknya Rohan. Dan jangan lupakan fakta bahwa yang pertama kali melihat para Elf yang baru dibangkitkan di Pesisir Cuiviénen sebenarnya bukanlah Oromë, melainkan kuda putihnya, Nahar. Kuda tersebut meringkik dan mendompak ketika menyadari keberadaan para Elf, yang membuat Oromë akhirnya ikut menyadarinya.

Ketika Elwing, sebagai burung putih, terbang menemui kaum Falmari, mereka mulanya menolak untuk bertempur lagi, terutama setelah tempat mereka tinggal menjadi saksi pembantaian oleh Elf Noldor. Akan tetapi, setelah Elwing membujuk mereka dengan sejarah pilu Beleriand, banyak di antara mereka yang akhirnya bersedia bergabung dengan bala tentara Valar. Barulah ketika perang besar melawan Morgoth akhirnya berakhir, kaum Falmari memaafkan kaum Noldor dan kembali berdamai.

Hal yang sama terjadi ketika Frodo bertemu dengan Glorfindel (yang menunggang kuda putih) untuk pertama kalinya. Kuda putih Glorfindel, Asfaloth, membawa Frodo yang terluka akibat tusukan pedang Nazgul ke Imladris, dan di tepi Sungai Bruinen, Frodo untuk pertama kalinya melihat kekuatan para Elf; pertama Glorfindel, dan kedua Elrond (yang mengirim banjir untuk menyelamatkannya). Dia pun tiba dengan selamat di Imladris, bergabung dengan Dewan Elrond, dan akhirnya dengan sukarela menjadi Pembawa Cincin; sesuatu yang tadinya tidak diniatkannya.

445px-anke_eismann_-_glorfindel

Meeting Glorfindel, oleh Anke Eissman

Para karakter Tolkien serta karakter sejarah, mitologi dan cerita rakyat yang telah digambarkan di atas memiliki kesamaan terkait pertemuan dengan hewan-hewan berwarna putih. Pertemuan tersebut menuntun mereka untuk menghadapi sesuatu yang asing, baru, mengherankan, atau mengejutkan. Akan tetapi, “hal asing” tersebut justru menjadi pemicu berbagai peristiwa dan pilihan yang kelak mempengaruhi jalan hidup para karakter tersebut.

Mungkin mudah menganggap bahwa pemilihan hewan berwarna putih sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan adalah hanya karena hewan berwarna putih itu cenderung unik, sehingga sangat menonjol. Akan tetapi, dari contoh-contoh di atas, “pertemuan dengan hewan berwarna putih” pada akhirnya memiliki makna simbolik yang lebih mendalam: itu adalah saat-saat ketika seseorang menemukan sesuatu yang berada di luar bayangannya, sesuatu yang tidak pernah dilihatnya di dunia yang selama ini diketahuinya, atau sudut pandang baru dari apa yang selama ini (dikiranya) dipahaminya. Dunia Faerie, underworld, rahasia tergelap manusia, Elf dan sebagainya bisalah dianggap sebagai perumpamaan dari perspektif baru yang telah terbuka, dan perspektif baru itu akhirnya akan menimbulkan perubahan berarti dalam jalan hidup para karakter yang terlibat.

“Fantasy is a natural human activity. It certainly does not destroy of even insult Reason; and it does not either blunt the appetite for, nor obscure the perception of, scientific verity. On the contrary. The keener and the clearer is the Reason, the better Fantasy will it make.”

J.R.R. Tolkien: On Fairy Stories (from “Tales from the Perilous Realm”)

Sumber:

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Tolkien. J. R. R. 2008. Tales from the Perilous Realm. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

Tolkien, J. R. R. 2002. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Tolkien, JRR. 1986. The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings. Montana: Turtleback Books.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s