The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi


Shibboleth (noun)

a : a use of language regarded as distinctive of a particular group.
b : a custom or usage regarded as distinguishing one group from others .

Merriam-Webster Online Dictionary

Bahasa adalah hal yang memiliki kekuatan besar; begitu besar sehingga kita mungkin tak merasakannya hanya karena kita menggunakannya setiap hari. Jangankan sepotong kata yang menghilang; perbedaan ejaan yang kedengarannya sepele sekalipun bisa menjadi pemicu untuk berbagai peristiwa penting. J.R.R. Tolkien, seorang filolog yang menekuni bahasa seumur hidupnya, sangat memahami hal ini, sehingga menuangkannya dalam salah satu manuskripnya untuk Middle-earth legendarium, yaitu sebuah esai berjudul The Shibboleth of Fëanor. Tolkien menggambarkan bagaimana perbedaan ejaan atau bunyi yang kedengarannya sepele dapat membuat pihak tertentu merasa terancam, bahkan menggunakannya sebagai upaya membuat klaim politik. 

800px-Jenny_Dolfen_-_The_Oath_of_Feanor

The Oath of Fëanor, oleh Jenny Dolfen

The Shibboleth of Fëanor menjabarkan perbedaan pendapat antar kaum Elf Noldor terkait perubahan dalam bahasa yang mereka gunakan, yaitu Quenya. Tepatnya, pengucapan huruf /þ/ (mirip suara /th/ dalam bahasa Inggris) yang perlahan tergeser, dan digantikan oleh /s/. Tolkien tidak menjelaskan secara rinci mengapa perubahan tersebut terjadi, tetapi kemungkinan hal ini dilakukan kaum Noldor setelah mereka terpisah dari kaum Elf Vanyar dalam peristiwa The Sundering of the Elves, dan karena kaum Vanyar menggunakan /þ/ dalam bahasa Quenya mereka, kaum Noldor mungkin berpikir bahwa mengadopsi /s/ akan membuat mereka memiliki identitas linguistik tersendiri.

Walaupun bunyi /s/ semakin populer di kalangan Elf Noldor, ada pihak-pihak yang mengecamnya. Salah satu yang paling vokal adalah Fëanor, yang merupakan pakar bahasa. Menurutnya, perubahan tersebut akan menyebabkan kebingungan besar, terutama dalam pelacakan akar bahasa serta penulisan kata-kata turunan. Selain itu, dia berkeras bahwa pengucapan /þ/ adalah yang paling benar, terutama jika mereka mau mempertahankan kekhasan bahasa Quenya.

Akan tetapi, alasan sebenarnya ternyata bukan hanya itu. Remember, we’re talking about everyone’s favorite complicated Elf here. Fëanor rupanya juga memiliki sentimen pribadi di balik opini tersebut; tepatnya, dia memiliki keterikatan pribadi dengan ejaan /þ/. Ibu Fëanor, Miriel, terbiasa menggunakan /þ/ dalam percakapan sehari-hari, dan hal itu tidak berubah walaupun kaum Noldor mulai banyak yang menggunakan /s/ (Miriel bahkan meminta kerabatnya untuk mempertahankan kekhasan tersebut). Miriel juga memiliki nama lain yang menggunakan pengucapan klasik tersebut, yaitu Þerindë (Needlewoman, karena dia memiliki keahlian merajut), dan Fëanor menyukai nama itu.

Ketika Miriel meninggal, dan ayah Fëanor serta raja kaum Noldor, Finwë, memutuskan menikah lagi, Fëanor tidak menyukai hal itu. Ibu tirinya, Indis, adalah Elf bangsa Vanyar yang memutuskan untuk mengikuti sang suami menggunakan /s/ karena menghormati bangsa suaminya. Ketidaksukaan Fëanor pada Indis merembet pada sentimen pribadinya terhadap perubahan dari /þ/ ke /s/ tersebut. Keputusan ayah dan ibu tirinya untuk sama-sama terus menggunakan /s/ dianggapnya sebagai serangan pribadi, seolah mereka menodai kenangan akan ibu kandung Fëanor. Lebih jauh, pergeseran tren tersebut dipandangnya sebagai bagian dari upaya untuk melemahkan pengaruhnya di kalangan kaum Noldor.

800px-steamey_-_feanor_mourning_miriel

Fëanor Mourning Miriel, oleh Steamey

Sentimen pribadi Fëanor yang semakin berkembang terhadap perubahan tersebut pun perlahan bergeser ke ranah politik. Dia menjadikan /þ/ sebagai shibboleth untuk menegaskan identitasnya, serta menjadikannya sebagai senjata kultural untuk memengaruhi kaum Noldor agar bersedia mengikutinya. Fëanor pun mulai sering menyebut dirinya “putra Þerindë,” dan bahkan kerap berkata begini pada anak-anaknya:

“We speak as is right, and as King Finwë himself did before he was led astray. We are his heirs by right and the elder house. Let them sá-sí, if they can speak no better.”

J.R.R. Tolkien: The Peoples of Middle-earth, bab Shibboleth of Fëanor 

Anda mungkin berpikir bahwa aneh jika perbedaan yang nampak sepele bisa menjadi pemicu rentetan peristiwa besar, tetapi jika The Telegraph saja bisa membuat artikel terkait prediksi menghilangnya bunyi /th/ dalam bahasa Inggris karena pengaruh multikulturalisme dan perkembangan tren berbahasa di era media sosial, tidak mengherankan jika orang seperti Fëanor menjadi gerah. Perhatikan kalimatnya: “Kita berbicara dengan cara yang sama dengan Finwë sebelum dirinya ‘tersesat.'” Kemarahan Fëanor di sini bukan sekadar karena hasrat pedantiknya sebagai pakar bahasa terusik. Ada sesuatu yang lebih mendalam di sini: rasa terusik akibat pengaruh bahasa tersebut terhadap identitasnya ketika perubahan besar terjadi dalam lingkungannya.

Menurut John E. Joseph dalam buku Language and Politics, bahasa adalah “sepenuhnya soal politik,” dimana makna politik ini bisa sempit (terkait urusan pemerintahan), atau luas (terkait negosiasi kekuatan dan posisi dalam ranah yang lebih luas di masyarakat). Hal-hal terkait bahasa seperti dialek, ejaan, hingga pemisahan kata-kata “feminin/maskulin” memiliki kekuatan untuk menentukan posisi suatu pihak dalam komunitas. Hal ini juga terkait dengan definisi shibboleth yang saya taruh di bagian atas: penggunaan bahasa sebagai cara untuk memisahkan identitas suatu kelompok dari kelompok lainnya, terkait negosiasi kekuatan atau mencapai tujuan tertentu.

Fëanor menggunakan /þ/ untuk mempertahankan posisinya sebagai pemegang pengaruh di antara kaumnya, serta menekankan ketidaksukaan pribadinya pada Indis. Saudaranya, Finarfin, mempertahankan tradisi ini dengan alasan yang berbeda, yaitu rasa hormat pada kaum Vanyar dan Teleri (istri Finarfin juga adalah kaum Teleri). Kelak, Galadriel, putri Finarfin, memutus siklus tersebut dengan berpindah ke /s/, sebagai caranya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap apa yang telah dilakukan Fëanor. Tiap orang ini menggunakan elemen fonetik bahasa dengan tujuan tertentu, yaitu sebagai penegasan akan posisi atau opini mereka.

Dalam dunia nyata, shibboleth pun menjadi alat untuk mencapai berbagai tujuan, bahkan jika itu sekadar perbedaan fonetik, ejaan atau suku kata. Dalam situasi ekstrem, perbedaan kecil dalam bahasa dapat menentukan posisi seseorang, bahkan menentukan apakah dia akan hidup atau mati. Contoh:

  • Dalam peristiwa Pemberontakan Petani (Peasant’s Revolt) yang dipicu kekacauan ekonomi akibat Wabah Hitam di Eropa, pasukan Inggris melacak orang-orang Fleming di London dengan memaksa orang mengucapkan kata-kata yang sulit diucapkan orang Fleming. Naskah Chronicles of London mencatat: “And many fflemmynges loste hir heedes at that tyme and namely they that koude nat say Breede and Chese, but Case and Brode.”
  • Selama Perang Dunia Kedua, militer Amerika di Pasifik menerapkan kata sandi “lollapalooza” untuk mengidentifikasi mata-mata Jepang yang menyamar menggunakan seragam tentara Amerika atau Filipina. Karena lidah Jepang cenderung kesulitan mengucapkan huruf L, prajurit Amerika diberi perintah untuk langsung menembak ketika mendengar kata itu diucapkan sebagai “rorraparooza.”
  • Dalam peristiwa kerusuhan Black July di Sri Lanka pada tahun 1983, dimana banyak kaum Tamil dibantai oleh pemuda Sinhala, shibboleth digunakan untuk mendeteksi keberadaan kaum Tamil. Misalnya, gerombolan Sinhala akan mencegat bus dan memaksa tiap penumpang untuk mengucapkan kata-kata yang diawali bunyi /Ba/ keras, yang sulit diucapkan orang Tamil. Jika ada yang salah mengucapkan, orang itu akan langsung dibunuh.

Itu baru soal bunyi, dan belum terkait sesuatu yang lebih luas. Orang-orang Irlandia di era sebelum Perang Kemerdekaan harus mengganti nama Irlandia mereka menjadi nama Inggris; sebuah bentuk opresi bahasa yang dampaknya ditunjukkan dalam adegan pembuka The Wind That Shakes the Barley (2006) ketika seorang pemuda dieksekusi karena menyebut namanya sebagai Micheál Ó Súilleabháin, bukannya Michael Sullivan. Dan siapa yang bisa melupakan peraturan “asimilasi” semasa Orde Baru dengan aturan penggantian nama bagi kaum Tionghoa? Bukan tanpa alasan hal-hal ini terus dibahas dalam kajian sejarah dan sosial budaya, karena mereka bukan “sekadar nama,” tetapi sebuah identitas. Sesuatu yang menetapkan kedudukan kita, kekuatan kita.

Fëanor mulanya memandang perubahan dalam bahasa kaumnya sebagai sesuatu yang buruk dari segi linguistik. Akan tetapi, ketika sentimen pribadi dan hasratnya mulai bermain, Fëanor pun memanfaatkan hal itu untuk menanamkan pengaruhnya di kalangan kaum Noldor, dengan menyatakan bahwa pada dasarnya yang menggunakan /s/ bukanlah kaum Noldor sejati, persis seperti sentimen English-only yang digunakan kaum anti imigran di Amerika Serikat dan Inggris. Hal ini mungkin hanya salah satu “senjata”-nya, tetapi kita tahu bagaimana akhirnya. Pengaruh yang ditanamkannya berujung pada tragedi, penyerangan dan pembantaian yang begitu buruk sehingga kaum Noldor harus menanggung akibatnya hingga waktu lama, dan sejarah bangsa mereka ternoda.

ted_nasmith_-_the_oath_of_feanor

The Oath of Fëanor, oleh Ted Nasmith

Shibboleth of Fëanor adalah catatan yang dibuat Tolkien sekitar tahun 1968, dan dimaksudkan sebagai salah satu cara menjelaskan pertanyaan tak terjawab dalam naskah legendariumnya, sesuatu yang memang kerap dilakukannya untuk memuaskan hasrat akademisnya sendiri. Pada akhirnya, catatan ini memang tidak masuk kemana-mana hingga Christopher Tolkien merangkumnya dalam buku The Peoples of Middle-earth, volume ke-12 dari seri kumpulan analisis manuskrip, History of Middle-earth (versi yang lebih mendalam kemudian diterbitkan dalam jurnal Vinyar Tengwar volume 41)Akan tetapi, lewat esai yang menggambarkan pertikaian akibat perbedaan dalam berbahasa ini, Tolkien menunjukkan pada kita sesuatu yang mungkin tidak kita sadari: bahasa dan perubahannya memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan bisa menjadi senjata dengan dampak yang luas dan panjang, walau mungkin kita tidak menyadarinya karena terbiasa menggunakannya setiap hari.

Sumber:

Chronicles of London; Oxford University Press, 1905; ed. C. L. Kingsford.

Joseph, John E. 2006. Language and Politics. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Sing Meij, Lim. 2009. Ruang Sosial Baru Perempuan Tionghoa: Sebuah kajian Pascakolonial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Tolkien, J.R.R. 1996. The Peoples of Middle-earth (ed. Christopher Tolkien). Boston: Houghton Mifflin.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: HarperCollins.

Advertisements

One thought on “The Shibboleth of Fëanor: Ketika Perubahan Bahasa Dipolitisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s