Keajaiban dan Renungan dalam Letters from Father Christmas (Postingan Selamat Natal dari Saya)


12-16-00712_jrr_tolkien_letters_father_christmas_002

Di akhir tahun yang katanya tahun dengan user review paling nggak enak ini, saya kepingin membuat postingan yang berfungsi juga sebagai kartu ucapan Natal buat para pembaca yang merayakan. Memang saya nggak merayakan, tapi sebagai orang yang sudah (sok) dewasa, beberapa memori terindah saya justru terkait Natal. Iya lho. Contohnya waktu saya masih kecil, mungkin sekitar usia 8 atau 9 tahun, saat masih tinggal di sebuah komplek pemukiman sempit di Balikpapan, di mana setiap lebaran maupun Natal, sudah tradisi kami untuk saling mengunjungi.

Di suatu hari Natal, salah satu tetangga saya mengundang kami untuk makan di rumahnya. Ketika masuk ke rumahnya, saya melihat sebuah lukisan wajah Yesus yang nampaknya sendu sekali. Lalu, dengan suara cempreng nyaring yang sama sekali nggak elok buat anak perempuan yang katanya dari keluarga wong Jowo, saya bertanya, “Tante, itu kenapa dia sedih?” Dan tante itu menjawab, “Dia sedih karena dia melihat orang lain menderita.”

Itu kalimat yang membuat saya memikirkannya terus, bahkan sampai kami pulang. Kenapa? Karena walaupun tentu saja sudah diajarkan untuk mengasihi orang dan tidak berbuat jahat, pemikiran bahwa “saya bisa saja ikut merasakan kesedihan orang yang belum pernah saya temui sebelumnya, bahkan ketika saya tidak mengalami hal yang sama” itu belum pernah benar-benar menancap di benak saya sebelumnya sebagai bocah. Dengan kata lain, suatu kejadian di hari Natal itu mengajarkan saya apa itu empati, walaupun saat itu saya belum tahu kata itu dan tidak akan bisa menjelaskan artinya bahkan jika spanduk besar bertuliskan EMPATI disodorkan ke depan hidung saya. Keren, ‘kan?

Sebenarnya masih ada beberapa kenangan lagi, tapi berhubung ini blog penggila Tolkien, saya ingin membuat postingan ini terkait Tolkien. Terutama terkait salah satu karya Tolkien yang diterbitkan setelah kematian beliau dan telah memikat banyak pembaca anak dan dewasa: Letters from Father Christmas.

Apa itu Letters from Father Christmas? Sebelum saya ngoceh panjang lebar, mari kita lihat latar belakang J.R.R. Tolkien dan keluarga dulu. Jadi, Tolkien punya empat orang anak bernama John, Michael, Christopher, dan Priscilla. Pada tahun 1920, tak lama setelah kelahiran John, Tolkien memulai semacam “tradisi” di mana dia menulis surat-surat untuk diberikan ke anak-anaknya setiap Natal, tetapi sedemikian rupa sehingga surat tersebut seolah dikirim oleh sosok “Father Christmas.” Tradisi ini terus berlanjut selama 24 tahun, hingga anak bungsunya, Priscilla, berusia 15 tahun.

Bicara soal Tolkien, tentu saja surat-surat yang dimaksud bukan surat biasa. Tolkien membuat surat tersebut dengan gaya tulisan unik dan cara bercerita penuh humor, menceritakan petualangan Father Christmas serta kawan-kawannya, seperti sesosok Elf bernama Ilbereth yang menjadi sekretarisnya dan katanya “menyalin semua suratnya untuk dikirimkan pada anak-anak Tolkien.” Ada juga si North Polar Bear (Beruang Kutub Utara) yang serba kikuk dan sering menyenggol atau menghancurkan barang tanpa sengaja, serta dua anak beruang yang kompak bernama Paksu dan Valkotukka. Surat-surat ini juga dilengkapi dengan ilustrasi berwarna buatan Tolkien sendiri. Tolkien bahkan membuat sendiri stempel surat bertanda “Kutub Utara” sebelum suratnya dimasukkan ke dalam amplop, supaya lebih meyakinkan.

chr1

Setelah kematian Tolkien pada tahun 1973, banyak ilustrasi dan manuskripnya dipamerkan di Museum Ashmolean. Penerbit Allen and Unwin kemudian menerbitkan surat-surat Natal Tolkien ini pada tanggal 2 September 1976 dengan judul The Father Christmas Letters. Edisi berikutnya diterbitkan oleh Houghton Mifflin pada tahun 1979, namun justru mengurangi beberapa surat dan ilustrasi dari dalamnya. Edisi paling lengkap akhirnya diterbitkan pada tahun 1999 dengan judul yang sudah berganti menjadi Letters from Father Christmas. Edisi terakhir, yang terbit pada tahun 2004, dicetak sedemikian rupa sehingga kita seolah membaca langsung surat-surat tersebut sebagaimana layaknya ketika mereka dikeluarkan dari amplop.

Apa yang Ada di dalam Letters from Father Christmas?

Apa saja isi surat-surat ini sampai-sampai Tolkien bisa menulisnya selama 24 tahun? Macam-macam. Intinya, surat-surat ini menceritakan kegiatan sehari-hari Father Christmas dalam menyiapkan hadiah untuk anak-anak. Tetapi, ada juga cerita kesehariannya bersama si sekretaris Elf, Beruang Kutub, dan anak-anak beruang yang selalu heboh, ramai, dan diceritakan dalam rincian yang sangat detail. Ada juga petualangan Father Christmas dalam melawan serbuan “Goblin penunggang kelelawar dari Utara” yang hendak merampas hadiah-hadiah yang sedang diantarkan, serta para troll.

tolkien-father-christmas-letters-005

Ilustrasi dari surat tahun 1928, ketika si Beruang Kutub terjatuh saat membawa setumpuk hadiah gara-gara ada yang meninggalkan sabun di tangga. 

Yang menarik, Letters from Father Christmas juga mengandung banyak elemen dari konsep legendarium Middle-earth yang saat itu masih terus dikembangkan Tolkien. Itulah sebabnya membaca buku ini sangat menyenangkan jika sudah familiar dengan The Hobbit dan LOTR, karena kita bisa melacak berbagai elemen yang kemudian akan muncul dalam buku-buku Tolkien terkait Middle-earth. Misalnya, ada berbagai aksara dalam buku ini yang mirip dengan aksara Tengwar dalam bahasa-bahasa kaum Elf. Goblin dan troll tentu mengingatkan pada musuh-musuh mengerikan dalam The Hobbit dan LOTR. Dan menarik juga melihat nama si Elf yang menjadi sekretaris Father Christmas: Ilbereth. Apakah ini ada kaitannya dengan penamaan tokoh Elbereth, Ratu Valar, istri Manwe, dan sosok yang disebut-sebut para Elf dalam nyanyian puji-puji mereka? Jika ya, itu baru lonjakan karir yang dahsyat. Ibaratnya, dari staf biasa langsung naik jadi anggota jajaran dewan direksi. 🙂

Bahasa yang digunakan dalam dunia Father Christmas di Letters from Father Christmas (yang disebut bahasa Arctic) juga menyimpan jejak-jejak bahasa Quenya, bahasa tinggi kaum Elf di legendarium Middle-earth. Hal ini nampak dalam beberapa kesempatan, termasuk satu surat dimana si Beruang Kutub mengaku bahwa nama aslinya adalah Karhu, dan dia minta maaf pada anak-anak Tolkien karena bahasa Inggrisnya “tidak begitu lancar karena dia bicara bahasa Arctic,” dan dia mengakhiri suratnya dengan kalimat “M’ara mesta an ni vela tye ento, ya rato nea” (“‘Goodbye till I see you next, and I hope it will be soon”). Sangat “Elf” sekali ‘kan? Sedikit mengingatkan saya pada salam yang diucapkan Elf bernama Gildor pada Frodo dalam buku pertama LOTR: “Elen sila lumenn’ omentielvo” (“a star shines on the hour of our meeting”).

tolkien-letter

Cliff House

Top of the World

Near the North Pole

Xmas 1925

My dear boys,

I am dreadfully busy this year — it makes my hand more shaky than ever when I think of it — and not very rich. In fact, awful things have been happening, and some of the presents have got spoilt and I haven’t got the North Polar Bear to help me and I have had to move house just before Christmas, so you can imagine what a state everything is in, and you will see why I have a new address, and why I can only write one letter between you both. It all happened like this: one very windy day last November my hood blew off and went and stuck on the top of the North Pole. I told him not to, but the N.P.Bear climbed up to the thin top to get it down — and he did. The pole broke in the middle and fell on the roof of my house, and the N.P.Bear fell through the hole it made into the dining room with my hood over his nose, and all the snow fell off the roof into the house and melted and put out all the fires and ran down into the cellars where I was collecting this year’s presents, and the N.P.Bear’s leg got broken. He is well again now, but I was so cross with him that he says he won’t try to help me again. I expect his temper is hurt, and will be mended by next Christmas. I send you a picture of the accident, and of my new house on the cliffs above the N.P. (with beautiful cellars in the cliffs). If John can’t read my old shaky writing (1925 years old) he must get his father to. When is Michael going to learn to read, and write his own letters to me? Lots of love to you both and Christopher, whose name is rather like mine.

That’s all. Goodbye.

Father Christmas

tolkien-xmas-letters

Paling atas: surat Father Christmas tahun 1925.

Tengah: salinan surat tahun 1925, bercerita tentang atap Father Christmas yang rusak , dan Beruang Kutub yang jatuh menembus atap ketika hendak membetulkannya, menimbulkan kekacauan ketika salju masuk merusak gudang hadiah dan si Beruang Kutub mengalami patah kaki.

Bawah: ilustrasi surat tahun 1925.

Ilbereth si sekretaris bisa dibilang merupakan “tambahan” dalam rumah si Father Christmas yang baru muncul beberapa surat kemudian, setelah si Beruang Kutub dan anak-anak beruang kutub lainnya. Menjelang akhir surat, para Elf bahkan menjadi kekuatan utama bagi Father Christmas untuk menahan serbuan Goblin yang hendak mencuri hadiah-hadiah untuk anak-anak. Ngomong-ngomong soal Ilbereth, salah satu surat favorit saya adalah surat tahun 1938, ketika dia menyelipkan catatan di dalam surat yang menceritakan tentang Beruang Kutub yang sakit perut karena kebanyakan makan, lalu di bagian bawahnya lagi, ada catatan berbentuk syair dari si Beruang Kutub yang kurang lebih mengatakan, “Enak aja, sori ya!” 🙂

CHRISTMAS DAY: POSTSCRIPT BY ILBERETH
“Now Christmas day has come round again –
and poor Polar Bear has got a bad pain!
They say he’s swallowed a couple of pounds
of nuts without cracking the shells! It sounds
a Polarish sort of thing to do –
but that isn’t all, between me and you:
he’s eaten a ton of various goods
and recklessly mixed all his favourite foods,
honey with ham, and turkey and treacle,
and pickles with milk. I think that a week’ll
be needed to put the old bear on his feet,
And I mustn’t forget bis particular treat:
plum pudding with sausages and turkish delight
covered with cream and devoured at a bite!
And after this dish, he stood on his head –
ifs rather a wonder the poor fellow’s not dead!”

ABSOLUTE ROT:
I HAVE NOT GOT
A PAIN IN MY POT.
I DO NOT EAT
TURKEY OR MEAT:
I STICK TO THE SWEET.
WHICH IS WHY
AS ALL KNOW) I
AM SO SWEET MYSELF
YOU THINNUOUS ELF!

GOODBY! (North Polar Bear)

Tetapi, ada hal lain yang lebih mendalam yang tersirat dari buku ini. Tolkien mulai menulis surat-surat untuk anak-anaknya ini sejak tahun 1920, yang berarti tidak lama setelah dia kembali dari masa bertugasnya dalam Perang Dunia I. Ingat, perang ini bukan hanya dianggap sebagai salah satu perang terburuk dalam sejarah dunia modern, namun juga perang di mana Tolkien kehilangan banyak sekali sahabat baiknya. Bisa bayangkan trauma macam apa yang dialami orang-orang yang melalui hal semacam itu? Saya bahkan sampai sekarang hanya bisa menduga-duga apakah Tolkien mengalami survivor’s guilt, rasa bersalah yang dibawa seseorang yang lolos dari bencana atau peristiwa besar sementara orang lain di situasi yang sama meninggal.

Mengingat apa yang baru saja dialami Tolkien, luar biasa memikirkan inisiatifnya membuat surat-surat semacam itu, setiap Natal selama 24 tahun tanpa putus, dengan level upaya yang bisa dibilang serius. Pada surat tahun 1939 (dibuat ketika John sedang belajar menjadi pendeta, Michael masuk tentara, Christopher menyelesaikan sekolah, dan Priscilla masih 10 tahun), surat Father Christmas bahkan mendadak menyelipkan kalimat yang terbilang suram:

“I am very busy and things are very difficult this year owing to this horrible war. Many of my messengers have never come back.”

Yap, itulah tahun ketika Perang Dunia II dan Hitler membayang-bayangi Eropa. Semua petualangan antik Father Christmas bersama Beruang Kutub, para Elf, Paksu dan Valkotukka diselingi oleh curhatnya bahwa banyak hadiah-hadiahnya yang “tidak sampai kepada alamat yang ditujukan” dan “banyak pembawa pesannya yang tidak pernah kembali.” Seolah mencerminkan kenyataan pahit ketika mendadak ada begitu banyak keluarga yang tak lagi menerima surat rutin dari orang tercinta mereka yang meninggal di medan perang. Sentimen pahit ini juga diulang pada awal surat terakhir Father Christmas:

“I am so glad you did not forget to write to me again this year. The number of children who keep up with me seems to be getting smaller. I expect it is because of this horrible war, and ‘that when it is over things will improve again, and I shall be as busy as ever. But at present so terribly many people have lost their homes, or have left them; half the world seems in the wrong place!”

Tahun 1939 bisa dibilang juga tahun yang sulit bagi Tolkien, karena istrinya, Edith, juga sempat sakit sehingga harus berbaring di tempat tidur untuk waktu lama. Bayang-bayang perang pun semakin nyata untuk Tolkien ketika dia diminta melakukan pelatihan pemecahan sandi di London. Mungkin juga Tolkien tahu dia tidak bisa menyembunyikan realita perang selamanya dari putri semata wayangnya, dan dia melakukannya dengan cara yang dia tahu.

hijos

J.R.R. Tolkien (kedua dari kanan bersama John, Michael, Christopher, dan Priscilla.

Kita, sebagai orang yang beruntung tidak hidup di masa perang berskala besar, mungkin sulit membayangkan bagaimana rasanya menjalani rutinitas ketika diri kita bisa setiap saat musnah akibat senjata modern, atau kehilangan orang yang dicintai di medan perang, atau tidak yakin masa depan seperti apa yang akan kita songsong. Tetapi bukan berarti kita tidak merasakan ketakutan yang sama; kalau tidak kita, mungkin orang lain di sekitar kita. Di masa ketika paranoia, rasisme dan hal-hal negatif seolah tak henti menyerang dari kanan-kiri, dan semua orang bingung harus berpaling pada siapa untuk merasa aman atau sekadar meluapkan kegelisahan, mungkin apa yang dilakukan Tolkien bisa menjadi inspirasi.

Tolkien tidak menutupi realita perang dari anak-anaknya; dia melakukan apa yang dia bisa, sesuai kemampuannya, untuk meyakinkan anak-anaknya bahwa keajaiban dan keindahan itu masih ada, dan masih ada hal-hal berharga untuk diperjuangkan dalam hidup kita yang pendek dan tak tentu. Surat-surat Father Christmas berakhir ketika Priscilla berusia 15 tahun, dan ada sedikit nada melankolis dalam surat terakhir ketika Father Christmas menyebut tentang masa kanak-kanak yang berakhir (kurang lebih seperti keluhan si protagonis dalam Catcher in the Rye, tetapi tidak sesinis itu).

“I suppose after this year you will not be hanging your stocking any more. I shall have to say ‘goodbye’,, more or less: I “mean, I shall not forget you. We always keep the names of our old friends, and their letters; and later on we hope to come back when they are grown up and have houses of their own and children….”

Membaca bagian terakhir, pada akhirnya, sedikit mengingatkan saya pada kenangan masa kecil, ketika saya masih tinggal di pemukiman sempit  di mana ikut berbahagia saat orang lain merayakan Natal adalah sama alaminya dengan kegembiraan menyambut lebaran (walau buat saya, ini sebenarnya cuma ajang banyak-banyakan makan kue dan minum soda, but you get the point). Ketika suara-suara orang melantukan puji-pujian saat acara ibadah di rumah diperlakukan sama alaminya dengan suara pengajian ibu-ibu tiap Kamis malam. Ketika beranjak dewasa, wawasan terbuka, sumber informasi bertambah, dan saya pun mulai melihat hal-hal yang merusak kenangan indah masa kecil itu. Tetapi, apa itu berarti saya harus merasa ikut “rusak?” Harus ikut-ikutan teriak-teriak penuh kemarahan? Atau menyimpan prasangka karena itu memang lebih gampang, daripada terus mempertahankan optimisme masa kecil supaya bisa terus bertekad bahwa masih ada hal di dunia ini yang patut diperjuangkan keindahannya?

Semoga saja, saya bisa terus menjadi yang terakhir, berapapun batas umur saya kelak.

Akhir tahun ini bukan masa-masa yang sama bagi semua orang. Ada yang melaluinya dengan senang hati karena bisa bertemu keluarga saat liburan. Ada yang bersyukur masih bisa melaluinya bersama orang-orang tercinta. Ada yang melaluinya dengan sedikit melankolia, karena pikirannya dipenuhi semua kejadian buruk atau memprihatinkan yang dilihat langsung atau lewat media. Ada yang kesepian. Ada yang berduka. Ada yang ketakutan. Ada yang merasa hampa. Ada yang merasa ini bukan sesuatu yang istimewa. Mungkin ada yang merasa seperti Tolkien saat menulis surat Father Christmas di tahun 1939: berusaha menulis surat yang tetap indah kepada anaknya, walau diwarnai sedikit “sentilan” terhadap realita perang dan ketakutan di sekitarnya, dengan masa depan yang nampaknya suram.

Apapun itu, jika itu sesuatu yang buruk, percayalah bahwa Anda akan melaluinya. Setidaknya, saya ingin menjadikan postingan sederhana ini sebagai ganti kartu ucapan Natal dari saya.

Selamat Natal, dan semoga tahun depan jadi tahun yang lebih baik buat kita semua.

gobarrak0001

Pertarungan para Elf dan Beruang Kutub dengan Goblin, dari surat Father Christmas tahun 1933

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s