Tentang Christopher Tolkien (Merayakan Ulang Tahun Beliau yang ke-92)


cwwckrgxgael3fy

Jujur, saya bukan orang yang terlalu memerhatikan nama seorang penyunting alias editor kalau sedang membaca buku, kecuali kalau namanya ditempel di sampul buku (itu juga nggak akan saya ingat-ingat lagi kecuali kalau editor itu juga seorang penulis yang lumayan ngetop). Makanya, saya sendiri heran kenapa editor yang satu ini begitu berkesan buat saya, sampai saya mau repot-repot mengingat kapan beliau ulang tahun.

Tentu saja, saya bicara soal Christopher Tolkien. 

Christopher Tolkien lahir pada tanggal 21 November 1924, dan hari ini beliau berusia 92 tahun. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengoleksi dan membaca karya-karya posthumous Tolkien seperti The Silmarillion, Children of Hurin, 12 seri History of Middle Earth, Unfinished Tales dan Legend of Sigurd and Gudrun, plus menambah beberapa buku terbaru ke daftar belanja (termasuk kumpulan naskah Beren and Lúthien yang rencananya akan terbit tahun depan), saya perlahan mulai bisa memahami betapa pentingnya peran Christopher dalam meneruskan warisan literatur Tolkien, mungkin lebih daripada yang kita semua tahu.

Betapa tidak: dialah fans pertama sang ayah dan orang kedua terbaik yang memahami karya-karya Tolkien. Jika Anda penasaran bagaimana legendarium Middle-earth Tolkien tercipta dan perlahan-lahan dibentuk hingga menjadi yang kita kenal sekarang, kita sebagai pembaca publik tak akan pernah mengetahuinya tanpa jasa Christopher Tolkien. Di era dimana setiap kesalahan tulis pada naskah buku tinggal dihapus dengan tombol Delete, memelajari naskah yang masih ditulis tangan atau diketik (lengkap dengan berbagai kesalahan dan koreksi yang dilakukan) akan memberi dimensi lebih mendalam dalam memahami evolusi sebuah naskah. Siapa lagi yang bisa melakukannya dengan lebih baik selain orang kedua yang memahami naskah-maskah tersebut selain J.R.R. Tolkien sendiri?

Nama Christopher Tolkien sebenarnya sudah lumayan dikenal sebagai putra ketiga sekaligus penyunting karya-karya ayahnya, J.R.R. Tolkien, yang diterbitkan setelah kematian Tolkien (posthumous works). Akan tetapi, ini biasanya hanya di kalangan para pelajar, pakar, dan fans Tolkien garis keras yang membaca buku-buku fiksi maupun karya nonfiksi beliau. Nama Christopher baru lumayan tenar di kalangan yang lebih luas setelah film adaptasi The Hobbit akhirnya rilis; saat pertanyaan “kapan The Silmarillion difilmkan?” mulai bermunculan, yang kemudian berujung pada debat panjang, heboh, dan bahkan membuat saya latah ikutan nimbrung.

Saya tidak akan mengulang rincian soal Christopher Tolkien, manuskrip J.R.R. Tolkien serta hak adaptasi, karena bisa dibaca sendiri di postingan saya itu. Walau saya pecinta buku, saya memutuskan tidak akan jadi “tim siapa-siapa,” dalam artian menentukan mana yang lebih baik, apakah bukunya dibiarkan saja tetap menjadi buku atau difilmkan (karena menurut hemat saya, ada aspek-aspek tertentu dalam gaya penulisan Tolkien yang sulit atau tidak bisa diterjemahkan ke area visual tanpa mengorbankan satu-dua hal, so this not even a match. Mereka akan berakhir sebagai dua hal yang berbeda). Saya ingin berfokus pada karakter Christopher Tolkien, dan apa yang membuat saya benar-benar mengagumi beliau.

books

Sebagian kecil buku yang disunting Christopher Tolkien, dari naskah dan manuskrip J.R.R. Tolkien yang belum sempat diterbitkan hingga kematiannya

Bahkan tanpa membaca biografi Tolkien karya Humphrey Carpenter, yang dianggap sebagai biografi J.R.R. Tolken terbaik, Anda bisa dengan mudah menemukan informasi dasar tentang Christopher Tolkien serta perannya dalam proses kreatif Tolkien. Dia adalah salah satu pendengar pertama kisah-kisah yang kelak menjadi buku-buku populer Tolkien seperti The Hobbit serta Letters from Father Christmas. Dia membantu sang ayah menggambar peta-peta untuk buku LOTR, serta memberinya saran dan opini dalam masa 15 tahun proses penulisan buku tersebut (ini berarti buku tersebut mulai ditulis saat Christopher berusia 9 tahun, dan selesai saat usianya 24 tahun). Ketika Christopher sempat menjadi pilot angkatan udara, Tolkien kerap mengiriminya naskah-naskah untuk meminta saran dan reaksinya. Ketika usianya 21 tahun, Christopher menjadi anggota termuda The Inklings, klub literatur Oxford yang anggotanya antara lain adalah J.R.R. Tolkien, C.S.Lewis, Charles Williams, Owen Barfield, dan Lord David Cecil. Jelas ini sesuatu yang tak ada seorangpun dari kita bisa menandanginya. Iya dong, kan anaknya Tolkien.

Dan setelah meresapi fakta usia beliau tahun ini, saya menyadari bahwa walaupun dia masih produktif serta aktif bekerja, hidupnya jelas tak akan lama lagi. Beberapa Tolkien scholar seperti Verlyn Flieger, Dimitra Fimi dan Tom Shippey mungkin bisa meneruskan pekerjaan Christopher menyunting naskah-naskah Tolkien yang terbengkalai dan belum berkesempatan mampir ke penerbit, tetapi siapa yang akan memahami naskah-naskah tersebut sebaik dirinya? Apalagi, Christopher termasuk orang idealis yang tidak menyukai publisitas; dia memilih bekerja dengan tenang, tanpa ekspose besar-besaran, bahkan ketika semua orang ribut memperdebatkan buku VS film serta melontarkan kalimat-kalimat sinis seperti “ah, paling nanti kalau perlu duit dijual. Money will talk,” seolah punya integritas pribadi adalah sesuatu yang memalukan. Bahkan fakta bahwa beliau akhirnya menerima penghargaan Bodley Medal sepertinya tak menjadi sesuatu yang terlalu mengguncang dunia pemberitaan, atau membuat Christopher bersikap berbeda. Beliau hanya berterima kasih dan memberi komentar pendek soal itu, lalu move on.

“Although I have never looked for anything remotely of such a kind, I find it especially welcome to receive the Bodley Medal in that it affirms the unique significance of my father’s creation and accords a worthy place in the Republic of Letters to Tolkien scholarship. It gives me particular pleasure that the award comes from and is conceived by the Bodleian, where a great part of my father’s manuscripts lie and where I have happy memories of the great library itself.”

Christopher Tolkien, on receiving Bodley Medal award

Saya membaca karya Tolkien sejak sekitar 15 tahun lalu, tetapi baru beberapa tahun terakhir ini saja saya mulai menyadari bahwa Christopher Tolkien, sebagai editor, sama berarti perannya untuk saya seperti J.R.R. Tolkien. Christopher Tolkien bukan hanya orang yang paling intim dengan karya-karya Tolkien sejak buku-buku tersebut bahkan masih belum jadi, tetapi juga orang yang memiliki idealisme dan sangat menghargai privasi sehingga jarang berbicara dengan pers dan bahkan tak pernah berpikir membuat autobiografi (atau menyukai ide punya buku biografi), sesuatu yang mungkin saja membuat beberapa orang masa kini kerap salah paham tentang apa yang sebenarnya diniatkannya saat dia bilang ingin lebih menghargai naskah-naskah ayahnya. Pendeknya, saya mengagumi Christopher sama besarnya seperti saya mengagumi karya-karya yang disunting dan dianalisisnya.

Akhirnya, saya menyadari bahwa mungkin seperti inilah perasaan para pembaca Tolkien di masa ketika Tolkien masih hidup tetapi sudah lanjut usia, saat mereka menyadari bahwa orang yang menciptakan keajaiban literatur ini sebentar lagi akan meninggalkan mereka dengan bukunya sebagai kenang-kenangan. Christopher Tolkien adalah orang yang berjasa membawa naskah-naskah Tolkien yang tadinya tersembunyi menjadi hidup dan membuat kita semua terpesona sekali lagi, bahkan saat J.R.R. Tolkien sudah tidak ada, dan saya menghargainya karenanya.

Happy birthday, Christopher Tolkien. Thank you for your work with J.R.R. Tolkien’s manuscripts, and thank you for bringing them to life for us. Where would we be without you?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s