Tentang Hobbit, Memori, dan Peran Catatan Sejarah


red-book-1

Hobbit adalah ras yang mungkin dianggap “kurang istimewa” dibanding Elf, Dwarf atau Manusia, terutama karena tidak banyak yang diketahui tentang mereka. Walau secara umum genealogi Hobbit berakar dari Manusia, tidak diketahui juga bagaimana tepatnya pembagian ini terjadi. Hobbit adalah kaum tersembunyi yang tidak ingin cara hidup mereka yang sederhana menjadi kacau karena pengaruh dunia luar; mereka lebih suka hidup damai ketimbang mencari keagungan. Ini sebabnya sejarah kaum Hobbit (Halfling) menjadi sesuatu yang hanya samar-samar berada di ingatan, atau hanya diingat melalui cerita-cerita yang berbau “konon,” walaupun kaum Hobbit sendiri amat gemar melacak cabang keluarga di antara mereka sendiri. Karena itu, luar biasa jika mempertimbangkan bahwa Buku Merah Westmarch, yang merupakan salah satu manuskrip sejarah terpenting di Middle Earth, justru dimulai oleh sesosok Hobbit. 

Buku Merah Westmarch (The Red Book of Westmarch) adalah “buku di dalam buku,” sebuah catatan tertulis milik Bilbo Baggins yang mulai ditulisnya saat dia mulai tinggal di Rivendell bersama Elrond. Setelah Perang Cincin berakhir, Frodo menyusun ulang manuskrip milik Bilbo dan menambahkan kisahnya sendiri. Rincian lain serta salinan juga perlahan ditambahkan oleh Merry dan Pippin, serta Aragorn yang akhirnya menjadi Raja Elessar. Buku Merah Westmarch pun menjadi sebuah catatan sejarah penting: dari yang tadinya hanya upaya Bilbo merekam petualangannya, menjadi sebuah manuskrip penting untuk dibaca generasi selanjutnya.

Setelah Bilbo dan Frodo memutuskan pergi ke Grey Havens, Buku Merah Westmarch berpindah ke tangan Samwise Gamgee, orang yang menyertai Frodo sepanjang petualangannya. Sam, sebagai satu-satunya orang yang memahami fakta-fakta di balik perjuangan Frodo, menambahkan rinciannya dalam buku tersebut. Sebelum akhirnya berangkat ke Grey Havens menyusul Frodo, Sam mewariskan buku tersebut kepada putrinya, Elanor, yang kemudian menjadi salah satu dayang kehormatan Ratu Arwen, dan akhirnya menikahi Hobbit dari Shire bernama Fastred of Greenholm. Fastred kemudian mendapat jabatan Warden of Westmarch. Keturunan mereka terus menjadi penjaga Buku Merah Westmarch, yang diwariskan secara turun-temurun.

Apa yang tadinya dimulai dari catatan harian Bilbo tentang petualangannya ke Erebor bersama para Dwarf, terus berkembang menjadi catatan tentang kumpulan legenda bangsa Elf dari Jaman Pertama, informasi tentang tempat-tempat seperti Rohan, Arnor dan Gondor, serta informasi tambahan tentang kaum Hobbit. Satu buku harian yang terus ditulisi ini kemudian bertambah menjadi beberapa volume. Pada akhirnya, volume yang lebih lengkap bernama Thain’s Book pun dibuat di Minas Tirith, dan diberi koreksi serta penambahan oleh Raja Elessar, Barahir cucu Faramir, serta Findegil, penulis yang mengabdi pada Kerajaan Gondor. Buku itu kemudian dikembalikan ke Shire dan disimpan di hunian besar milik keluarga Took, The Great Smials.

Akhirnya, Tolkien menyampaikan pada para pembaca bahwa dari Buku Merah Westmarch inilah dia “mengetahui” kisah-kisah yang kemudian dituangkannya dalam The Hobbit dan The Lord of the Rings.

red-book-4

Buku Merah Westmarch memiliki posisi yang unik dalam dunia legendarium Tolkien. Tolkien menjadikan buku ini tidak hanya sebagai sebuah obyek dalam ceritanya, namun sebuah manuskrip sejarah. Dalam kisahnya, Buku Merah Westmarch adalah upaya Bilbo menuangkan memorinya ke dalam catatan untuk dibaca generasi berikutnya. Dalam tataran yang lebih luas, Tolkien menembus batas antara dunia dalam buku dan dunia pembaca (kita), lantas mempersatukan keduanya, dengan menyatakan bahwa dari manuskrip itulah dirinya mendapat inspirasi untuk menulis The Hobbit dan The Lord of the Rings. 

Dulu saya sering bilang ke orang-orang bahwa membaca legendarium Tolkien rasanya seperti membaca rekaman catatan sejarah yang hilang lalu ditemukan, dan hal ini mungkin menjelaskannya. Sebagai seorang filolog dan orang yang minatnya mencakup perkembangan bahasa, puisi serta mitologi kuno, Tolkien tidak asing dengan manuskrip dan catatan sejarah; tokoh-tokoh dalam buku-bukunya kerap digambarkan menekuni manuskrip sejarah untuk mencari solusi. Setiap lokasi geografis dan bentang alam dideskripsikan dengan ketepatan seorang penulis naskah dokumentasi. Tetapi, sebagai orang yang hidup di Inggris pada masa-masa penuh gejolak saat Perang Dunia dimana kegelisahan, paranoia dan propaganda merajalela, Tolkien tahu betapa pentingnya menjelaskan kengerian masa lalu pada generasi mendatang yang mungkin beruntung tak mengalaminya, atau malah di ambang bahaya mengulang sejarah muram tersebut. Dalam hal ini, memori personal bisa menjelma menjadi catatan sejarah, bahkan alat pemersatu.

Catatan Sejarah: Pemersatu, Inspirasi, atau yang Terlupakan

Dalam Imagined Community, Benedict Anderson menjelaskan bahwa sebuah negara sesungguhnya adalah sebuah “komunitas yang dibentuk secara sosial.” Masyarakat suatu negara adalah orang-orang yang tak pernah menemui semua anggota komunitas lainnya (seperti layaknya sebuah komunitas), namun mereka dipersatukan oleh suatu identitas nasional yang disetujui bersama, demi kepentingan sosial politik bersama. Ada beberapa instrumen penting yang dibutuhkan untuk mempertahankan rasa persatuan alias “nasionalisme” dalam komunitas (negara) ini, salah satunya adalah catatan sejarah.

Catatan sejarah menjadi instrumen penting untuk membentuk suatu identitas sosial, memperkuat rasa persatuan komunitas, dan memberikan warisan untuk generasi selanjutnya dalam meneruskan kehidupan dengan cara yang dipandang ideal untuk komunitas tersebut. Manuskrip sejarah juga menjadi cara anggota komunitas untuk mendapat sense of belonging, merasa ada di antara komunitas-komunitas lainnya di dunia, walau berada dalam kekacauan atau tercerai-berai karena suatu alasan.

Hal ini nampak menonjol dalam The Hobbit, di adegan dimana 12 Dwarf yang terusir dari Erebor berkumpul di rumah Bilbo. Di sana, mereka menyanyikan lagu Far Over the Misty Mountain Cold, sebuah lagu yang menggambarkan kehancuran kampung halaman mereka akibat serangan naga (Smaug), dan berakhir dengan tekad untuk merebut kembali “harpa dan emas mereka” dari naga tersebut (dan harus saya akui, diinterpretasikan dengan sangat brilian di film). Lagu ini, yang dinyanyikan bersama-sama oleh para Dwarf yang tadinya hidup tercerai-berai itu, menjadi semacam “artifak sejarah” yang memersatukan mereka; sebuah simbol komunitas dan tekad untuk bersatu mencapai tujuan yang sama. Lagu ini bahkan mampu menggerakkan hati Bilbo, “orang luar” yang sebenarnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan para Dwarf. Profesor Verlyn Flieger, dalam buku Interrupted Music: The Making of Tolkien Mythology, menyamakan hal ini dengan “tradisi pujangga yang bertujuan untuk menjaga memori akan sejarah komunal.”

bilbo_dwarves

Bilbo and the dwarves, oleh Hildebrandt Brothers.

Hal yang berbeda justru terjadi pada Kerajaan Gondor. Ketika Isildur menolak menghancurkan Cincin Kekuatan demi menjadikannya pusaka kerajaan, hal itu berdampak pada rentetan peristiwa yang mengakibatkan terbunuhnya dirinya dan hilangnya cincin tersebut. Dan apa yang terjadi kemudian? Sejarah kelam itu perlahan-lahan dilupakan oleh masyarakat Gondor, walaupun kemudian membawa dampak yang besar. Hal itu nampak dari ucapan Boromir ketika Elrond menceritakan kisah Isildur di Rivendell, tepat sebelum misi penghancuran Cincin dimulai:

“So that is what become of the Ring!” he cried. “If ever such a tale was told in the South, it has long been forgotten.”

J. R. R. Tolkien: The Fellowship of the Rings, chapter The Council of Elrond.

Kegagalan Isildur menghancurkan Cincin Kekuatan, serta rentetan peristiwa yang berujung pada tewasnya dirinya, harusnya menjadi sebuah peringatan. Isildur sendiri bahkan menulis manuskrip yang menggambarkan bagaimana dirinya mendapatkan cincin tersebut, serta kemunculan ukiran khas di sekitar Cincin, yang hanya muncul ketika dalam kondisi panas terbakar api. Manuskrip itu, seperti yang sudah kita ketahui, membantu Gandalf mengidentifikasi cincin yang diwariskan Bilbo kepada Frodo sebagai Cincin Kekuatan, yang kemudian mendorong dibentuknya Persaudaraan Pembawa Cincin serta misi penghancuran yang terkenal itu.

Reaksi Boromir menunjukkan betapa manuskrip yang sesungguhnya penting itu menjadi bukti sejarah yang terlupakan; terkubur di antara manuskrip-manuskrip lainnya di Minas Tirith. Dalam satu dialog, Gandalf bahkan menyebut bahwa tidak ada seorangpun nampaknya yang membaca manuskrip itu, kecuali dirinya dan…Saruman. Ketika masyarakat Gondor berjuang mencapai stabilitas nasional pasca Perang Aliansi Terakhir, sejarah kelam akibat tindakan raja mereka sendiri menjadi sesuatu yang terlupakan. Atau mungkin, justru karena keinginan mencapai stabilitas nasional inilah maka sejarah kelam apapun terkait sang raja perlahan dilupakan. Ketika sejarah terulang kembali, rakyat Gondor sebenarnya memiliki apa yang mereka perlukan untuk mengantisipasinya (manuskrip Isildur), namun benda itu tak menjadi perhatian hingga Gandalf dan Saruman sama-sama membacanya.

Hal ini tentu kontras dengan apa yang dilakukan Bilbo. Walaupun Hobbit sejatinya adalah kaum yang tak suka menonjol, suka hidup tersembunyi, dan tidak ingin melibatkan diri dengan urusan dunia, Bilbo yang telah merasakan petualangan penuh makna di Erebor berniat menuangkan kisah itu ke dalam catatan untuk dibaca generasi selanjutnya. Bilbo tadinya sama seperti para Hobbit lainnya; tidak suka melibatkan diri dengan apapun di luar sana, yang penting hidup tenang. Tapi, petualangannya rupanya membuatnya punya pendapat berbeda

Ahli sejarah Prancis, Pierre Nora, yang melakukan studi terhadap memori dan identitas kebangsaan, berpendapat bahwa “sejarah adalah catatan, tetapi memori mendiktekan isinya.” Memori Bilbo menjadi sebuah catatan sejarah, menjadi kisah yang dapat menyentuh hati sekaligus memberi pelajaran untuk generasi di era baru, terutama karena Zaman Ketiga dalam legendarium Tolkien resmi berakhir ketika Cincin Kekuatan akhirnya dihancurkan.

Dengan menulis Buku Merah Westmarch, Bilbo menciptakan manuskrip yang menempatkan para Hobbit dalam panggung sejarah Arda. Ketika Frodo, Raja Elessar, Merry dan Pippin terus menambahkan atau mengoreksi isinya, catatan sejarah ini menjadi semakin luas, rinci, dan akurat. Samwise Gamgee menjaga dan mewariskan buku ini kepada Elanor dan anak-anak Elanor, menjadikan mereka generasi penerus penjaga sejarah. Dengan berakhirnya era kaum Elf, yang tadinya mengawali sejarah tertulis Arda, Hobbit dalam dunia Tolkien menjadi kaum yang memiliki peran penting, sekaligus menjaga catatan sejarah dari masa-masa itu agar sampai “ke tangan kita.”

Ada ucapan yang menarik dari Frodo kepada Sam terkait Buku Merah Westmarch: “You will read things out of the Red Book, and keep alive the memory that is gone, so that people will remember the Great Danger and so love their beloved land all the more.” Kalau mau diinterpretasikan dengan agak (sok) serius, ini kalimat yang sebenarnya sedikit berbau “nasionalisme.” Sebagai warga suatu komunitas (negara), kita harus sama-sama mengingat apa yang sesungguhnya menjadi ancaman bersama, yang sudah dibuktikan lewat catatan sejarah, sebagai ajakan agar kita terus bersatu. Anda mungkin sudah familiar dengan kata-kata semacam ini, dan mungkin malah pernah menjadikannya sumber perdebatan, terutama dalam kaitannya dengan kasus-kasus diskriminasi dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan dengan alasan “nasionalisme,” yang terjadi di berbagai negara. Akan tetapi, saya tidak akan terlalu jauh bermain interpretasi, karena seperti yang dikatakan Tolkien dalam salah satu suratnya, tujuannya menulis adalah ingin “menulis cerita yang bisa menyentuh hati.”

jrrtolkien-donato

J. R. R. Tolkien, oleh Donato Giancola

Bilbo, Frodo dan Tolkien sama-sama pernah menjadi saksi kengerian masa lampau, dan mereka tak ingin hal yang sama terulang kembali. Catatan sejarah yang mereka tinggalkan menjadi ajakan bagi generasi selanjutnya agar selalu mengingatnya, lewat kisah personal yang disampaikan lewat baris-baris teks tersebut. Mungkin, buku-buku seperti The Hobbit dan LOTR yang memajang para “pahlawan kecil” seperti Bilbo, Frodo dan Sam pada akhirnya dengan lembut menyentuh kecemasan samar kita: “jika aku berada dalam situasi yang sama seperti mereka, pilihan apa yang akan kuambil? Jika aku sudah memilih, sanggupkah aku melakukannya? Apakah aku akan gagal, atau berhasil?” Ini adalah pertanyaan yang sama yang ditanyakan mereka, para pelaku utama di panggung sejarah, yang pilihan-pilihannya membentuk berbagai peristiwa penting yang mungkin kita ingat, tahu atau pelajari.

Saat kita berada di persimpangan sejarah, atau menghadapi dilema dimana setiap pilihan kita akan mendatangkan dampak besar, apa yang akan kita lakukan? Bilbo, Frodo dan Tolkien sudah menghadapi pertanyaan itu, dengan cara mereka masing-masing. Mereka mungkin tidak memberi semua jawaban yang kita inginkan, tapi pengalaman personal mereka, yang disadur dari memori dan dituangkan dalam catatan sejarah, memberi kita gambaran apa yang terjadi ketika suatu pilihan telah diambil dan dilaksanakan. Dan mereka berharap kita belajar darinya.

Catatan: saya membuat artikel ini untuk merayakan tiga hal: tanggal penerbitan pertama The Hobbit pada tahun 1937, yang kebetulan sama dengan International Day of Peace yaitu tanggal 21 September, serta Hobbit Day yang jatuh pada tanggal 22 September. What a pleasant coincidence!

Sumber:

Anderson, Benedict. 2006. Imagined Communities: Reflections of the Origin and Spread of Nationalism (revised edition). London: Verso Book.

Carpenter, Humphrey. 2000. The Letters of J.R.R. Tolkien. Boston: HoughtonMiffin.

Flieger, Verlyn. 2005. Interrupted Music: The Making of Tolkien’s Mythology. Kent: Kent State UP.

Nora, Pierre. Between Memory and History: Les Lieux de Mémoire. Marc Roudebush (translator). Representations 26. Special Issue: Memory and Counter-Memory (1989). 7-25.

Tolkien, J. R. R. 2002. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Tolkien, JRR. 1986. The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings. Montana: Turtleback Books.

Tolkien, JRR. 1991. The Return of the King. London: HarperCollins.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s