Melkor dan Fëanor: Tak Sama Tapi Serupa


Saya ingat membaca sebuah manga ketika SMP, dimana ada dua karakter murid sekolah yang sama-sama mati gara-gara saling membenci dan selalu bersaing untuk segala hal, mulai dari peringkat di sekolah hingga masalah cowok. Karakter gaib yang mereka temui setelah kematian mereka justru tertawa mendengar cerita itu dan berkata: “manusia memang aneh, cenderung membenci seseorang yang justru sangat mirip dengannya.” Bertahun-tahun kemudian, saya ingin tertawa ketika membaca The Silmarillion dan menyadari bahwa hal ini terulang lagi dalam wujud dua karakter yang nampaknya saling berlawanan: Melkor dan Fëanor.

800px-Joel_Kilpatrick_-_Morgoth_and_Fingolfin

Morgoth and Fingolfin, oleh Joel Kilpatrick

Sepintas, walau memiliki “kekurangan” masing-masing, Melkor dan Fëanor adalah dua sosok yang saling berlawanan. Jika Anda berada di depan keduanya dan bilang “wah, kalian mirip ya?” Mungkin keduanya akan langsung melipat lengan di depan dada dan pasang muka ngambek sambil bilang “enak aja!” Secara bersamaan. Tapi, pemilihan kata-kata dalam deskripsi dan penggambaran mereka sebenarnya sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa dua sosok ini sebenarnya jauh lebih mirip dari yang mereka kira.

Melkor dan Fëanor: Jenius Penyendiri, Berapi-api

Sejak awal dideskripsikan, Melkor dan Fëanor sudah ditunjukkan sebagai dua individu dengan karakteristik khusus: memiliki kemampuan atau kekuatan spesial yang melebihi kaumnya, namun merasa terasing karenanya, persis para karakter jenius penyendiri dalam berbagai karya literatur dan film. Pertama-tama, lihat deskripsi awal Melkor ini:

“To Melkor among the Ainur had been given the greatest gifts of power and knowledge… mighty are the Ainur and mightiest among them is Melkor… He had gone often alone into the void places seeking the Imperishable Flame; for desire grew hot within him to bring into Being things of his own…” (The Silmarillion: bab Ainulindalë, hal. 4)

Bandingkan dengan Fëanor:

“Fëanor was the mightiest in skill of word and of hand, more learned than his brothers… Fëanor was driven by the fire of his own heart only, working ever swiftly and alone.” (The Silmarillion: bab Of Eldamar, hal. 60)

Perhatikan bahwa Tolkien menggunakan kata “mighty” untuk menggambarkan keduanya; dalam bahasa Inggris, “mighty” adalah satu kata yang memiliki makna yang lebih menonjol daripada “strong,” sehingga dengan mudah membuat kedua sosok ini jauh lebih menonjol daripada yang lain di antara kaum mereka sendiri. Akan tetapi, di saat yang sama, Melkor dan Fëanor cenderung lebih suka bekerja sendiri, mengejar hasrat yang hanya mereka sendiri yang bisa memahaminya.

Tetapi, seperti layaknya api hasrat yang berkobar dalam sosok pucat dan kurus Herbert West dalam seri Herbert West: Reanimator karya Lovecraft, di dalam jiwa para jenius penyendiri selalu ada ketidaksabaran dan kegelisahan yang meledak-ledak. Kegelisahan Melkor terhadap Kehampaan menimbulkan hasratnya untuk mencipta:

“…and it seemed to him that Ilúvatar took no thought for the Void, and he was impatient of its emptiness.” (The Silmarillion: bab Ainulindalë, hal. 4)

Hal yang sama dirasakan Fëanor, yang digambarkan tidak pernah bisa diam:

“Seldom were the hands and mind of Fëanor at rest.” (The Silmarillion: bab Of Fëanor, hal. 65)

Hal ini bahkan diturunkan kepada anak-anaknya:

“Fëanor and his sons abode seldom in one place for long, but travelled far and wide upon the confines of Valinor, going even to the borders of the Dark and the cold shores of the Outer Sea, seeking the unknown…”  (The Silmarillion: bab Of Eldamar, hal. 62)

Semua deskripsi awal ini sebenarnya sudah cukup untuk membuat para pembaca novel menjadi lebih “waspada” terhadap mereka berdua, dan mengharapkan sesuatu yang besar segera terjadi gara-gara mereka. Tetapi, jika merujuk dalam dunia di The Silmarillion,  kita akan tahu bahwa akar segala kekacauan dan kehancuran di Arda adalah “disharmony,” sesuatu yang dipicu oleh persamaan sifat keduanya, sebagai jenius penyendiri yang merasa tidak dipahami, sehingga memiliki hasrat yang menyala-nyala ingin menonjol di antara kaum yang lain. Ini membuat keduanya menjadi karakter yang pandai menanamkan pengaruh demi kepentingan mereka sendiri; berkuasa, namun dengan cara yang halus, setidaknya di awal.

Misalnya, ketika menemui kaum Noldor, Melkor menggunakan pesonanya dengan cerdik, sehingga para Elf salah menduga dirinya sebagai sosok bijak. Dia akan menanamkan pengaruh dengan begitu licinnya sehingga orang yang dipengaruhi bahkan tidak menyadarinya:

“Melkor would often walk among them, and amid his fair words others were woven, so subtly that many who heard them believed in recollection that they arose from their own thought.” (The Silmarillion: bab Of the Silmarils and the Unrest of the Noldor, hal. 69)

Dan, sama seperti Melkor, kemampuan persuasi Fëanor membuatnya mampu memengaruhi kaumnya untuk mengikutinya dan melakukan kejahatan mengerikan: membunuh kaum Elf Teleri yang menolak memberikan kapal-kapal mereka. Begitu banyak Elf Noldor yang rela mengikuti Fëanor karena pengaruhnya, sehingga Finarfin harus menjadi raja dadakan untuk sebagian kecil rakyatnya yang memilih tinggal, sementara yang lainnya dijatuhi Kutukan Mandos.

800px-Jenny_Dolfen_-_The_Oath_of_Feanor

The Oath of Fëanor, oleh Jenny Dolfen

Saking hebatnya kemampuan persuasi ini, Melkor bahkan berhasil meyakinkan para Valar bahwa dia bertobat, dan dengan cerdik menyembunyikan hasratnya hingga mendapat momen yang tepat. Sama seperti Fëanor yang, ketika “berbaikan” dengan Fingolfin setelah perseteruan keduanya, menjabat tangan saudaranya itu dalam diam dan dengan nada suara dingin, walaupun Fingolfin tak menyadarinya dan mengira masalah sudah usai. Melkor dan Fëanor menunjukkan sikap yang menerima rekonsiliasi, namun pikiran mereka berkata lain, karena mereka sebenarnya hanya menunggu waktu yang tepat untuk memulai lagi rencana mereka.

“Tapi bagaimana dengan tindakan Melkor mencuri permata Silmaril dan membunuh ayah Fëanor?” Begitu mungkin pikir Anda. Yah, walau wajar Fëanor merasa marah karena itu, namun jangan lupa bahwa dia pada akhirnya melakukan hal yang sama seperti Melkor. Melkor terobsesi pada permata Silmaril sehingga merampas benda yang sangat berharga bagi Fëanor sembari menumpahkan darah. Sebagai gantinya, Fëanor terobsesi balas dendam sehingga dia mengancam kaum Elf Teleri untuk menyerahkan benda yang sangat berharga bagi mereka demi memburu Melkor: kapal-kapal mereka. Ingat bahwa Elf Teleri adalah pecinta laut! Ketika mereka menolak, Fëanor tak ragu menumpahkan darah mereka. Dalam upaya balas dendam, nampaknya Fëanor mudah sekali melupakan bahwa dirinya pun perlahan berubah menjadi “monster” yang dibencinya.

burning-of-ships

The Burning of the Ships, oleh Ted Nasmith

Bicara soal “menyala,” Anda tentu tak asing lagi dengan deskripsi mereka yang kerap dikaitkan dengan elemen api. Hal ini bisa dilihat dalam salah satu deksripsi Melkor ini:

“And he descended upon Arda in power and majesty greater than any other of the Valar, as a mountain that wades in the sea and has its head above the clouds and is clad in ice and crowned with smoke and fire; and the light of the eyes of Melkor was like a flame that withers with heat and pierces with a deadly cold.” (The Silmarillion: bab Ainulindalë, hal. 11-12)

Melkor memiliki kemampuan ekstra dalam menguasai segala sesuatu yang berapi-api: dia membiakkan naga, mengelilingi dirinya dengan monster berapi seperti Balrog, dan membunuh banyak musuhnya dengan api; masih ingat semburan api mematikan dalam Dagor Bragollach? Dan tentu saja, kita tidak perlu melakukan analisis terlalu mendalam untuk melihat bahasa “berapi-api” yang digunakan Tolkien untuk mendeskripsikan Fëanor. Bahkan namanya sendiri mengandung makna “api!” Itulah nama kedua yang diberikan ibunya, yang lebih menyadari sifat anaknya. Dalam The Silmarillion versi bahasa Inggris, Tolkien menggunakan banyak kata yang berkaitan dengan api untuk mendeskripsikan Melkor dan Fëanor: “fire,” “burn,” “flame,” “fierce,” “hot,” “kindled,” dan berbagai variasinya. Dan tentu saja, kita tahu kematian dramatis Fëanor, dimana tubuhnya terbakar hebat sehingga hanya menyisakan abu.

Memang mudah menganggap alasan kita membenci seseorang adalah bahwa orang tersebut berbeda dengan kita dalam segala hal.  Akan tetapi, pernahkah Anda merasakan membenci seseorang yang mirip dengan diri sendiri? Pernah berpikir kenapa itu terjadi? Mungkinkah karena kita melihat refleksi diri kita sendiri dalam diri orang itu? Itu bukan tema yang asing dijelajahi dalam karya sastra. Contoh mudah: sejak buku pertama, Harry Potter sudah kerap kali digambarkan memiliki banyak kemiripan dengan musuh bebuyutannya, Voldemort; mulai dari bulu phoenix dalam tongkat sihir mereka yang berasal dari burung yang sama, hingga riwayat mereka yang hampir mirip. Hal ini pun berkali-kali disebutkan oleh Dumbledore kepada Harry, dan membuat Harry merasa tak nyaman.

Kalau diperhatikan, sebenarnya periode “kejayaan” Fëanor di Aman hampir sama dengan saat Melkor mulai menunjukkan dirinya di sana-sini kepada kaum Elf, dan mulai pelan-pelan menanamkan pengaruhnya. Walaupun dendam Fëanor terhadap Melkor dimulai ketika yang terakhir ini membunuh ayahnya serta mencuri permatanya, benih-benih kebencian ini sudah tertanam sejak lama sebelumnya. Dan bukankah lebih dari kebetulan bahwa Melkor nampaknya menaruh perhatian ekstra terhadap Fëanor sejak awal?

Kedua sosok ini adalah representasi api; api adalah elemen yang hangat dan bermanfaat bila kecil, namun dengan mudah meluas dan menghancurkan segalanya bila tak dikendalikan. Fëanor dan Melkor adalah dua sosok dengan kekuatan, hasrat dan kecerdikan melebih rata-rata kaum mereka, dan ketika obsesi serta keinginan untuk menonjol semakin berkembang, “api” mereka semakin berkobar hingga pada akhirnya menghancurkan segalanya, termasuk diri mereka sendiri. Mungkin dalam hati, mereka tahu bahwa justru karena mereka sangat mirip, tidak boleh ada dua sosok yang sama di dunia. Tidak mungkin mereka berbagi tempat! Dan akhirnya, bahkan ketika mereka menemui akhir yang bisa dibilang tragis, benih-benih kehancuran dan ketidakharmonisan yang mereka tanamkan terus hadir dan berkembang di dunia.

Sumber:

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: HarperCollins.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s