“Ini Bukan Eat, Pray, Love”: Reportase Suki Kim di Korea Utara, dan Masalah Setelahnya

Catatan: Saya menemukan artikel ini di situs The New Republic tanggal 27 Januari 2016 dengan judul The Reluctant Memoirist. Artikel ini berkisah tentang jurnalis dan novelis Amerika berdarah Korea Selatan, Suki Kim, yang melakukan jurnalisme investigasi di Korea Utara, membawa hasilnya pulang untuk dibuat buku berjudul Without You, There Is No Us: My Time with the Sons of North Korea’s Elite. Akan tetapi, kisahnya tidak berjalan mulus justru ketika dia berurusan dengan penerbitnya di Amerika. Plus, dia harus berhadapan dengan keadaan tak mengenakkan akibat statusnya sebagai jurnalis wanita kulit berwarna. Menurut saya sangat menarik, jadi saya putuskan untuk menerjemahkannya di sini, seperti yang pernah saya lakukan pada wawancara Tolkien dengan The Telegraph. Tautan ke artikel asli saya sertakan di akhir.

Artikel oleh Suki Kim.

Ilustrasi oleh Dadu Shin. 

sukikim

Saat itu bulan Desember di Miami. Aku sedang menjadi panelis di sebuah pameran buku internasional, dan mencoba menyusun kepingan-kepingan peristiwa yang telah membuatku terdampar di tempat asing ini.

Aku memikirkan ketiga penulis yang duduk di sampingku; tiga wanita yang menulis memoar tentang hal-hal yang dekat di hati mereka–kisah tentang kehilangan, keluarga, pencapaian diri. Pertanyaan-pertanyaan dari para pengunjung kepada mereka, yang kebanyakan juga wanita, semua berkisar soal perkembangan dan kesadaran emosional. Bagaimana perasaan kita tentang perjalanan spiritual yang telah mereka lalui? Pelajaran apa yang bisa kita ambil?

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Alasannya sederhana: bukuku bukan memoar. Sebagai jurnalis investigasi, aku telah meneliti dan mengunjungi Korea Utara selama satu dekade. Pada tahun 2011, berbekal kontrak penulisan buku, aku menyamar sebagai guru ESL di universitas evangelis di Pyongyang. 270 orang mahasiswaku–para elit Korea Utara, anak-anak pejabat tinggi–sedang dididik untuk menghadapi perubahan rezim yang akan segera terjadi di bawah pemerintahan Kim Jong-un.

Sebagai negara penjara virtual, Korea Utara adalah tempat di mana jurnalisme hampir mustahil dilakukan. Bicara dengan penduduk hanya akan membuatmu mendengar kata-kata dari partai, dan kebanyakan informasi tentang Korea Utara berasal dari jurnalis Barat, yang entah sekadar mampir ke negara tersebut untuk kunjungan pers singkat, atau merekam dan mengemas ulang informasi sepotong-sepotong yang tidak meyakinkan dari para pembelot. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Korea Selatan, aku akrab dengan bahasa dan budaya Korea, yang membuatku mampu memahami apa yang tersirat di bawah permukaan, tanpa upaya sensor dari penerjemah resmi.

Selama mengajar, aku tinggal di sebuah lokasi terkunci dengan pengawasan ketat. Setiap ruang disadap, setiap kelas direkam. Aku harus buru-buru mencatat setiap percakapan dan menyembunyikannya di antara lembar-lembar program kuliah. Aku mengetik di malam hari, menghapus tiap salinan dari laptopku, menyimpan semuanya di USB sticks yang kutenteng setiap hari. Aku menyalin data cadangan dalam SD card, yang rutin kusembunyikan di tempat-tempat berbeda dalam kamar, dan selalu dalam keadaan lampu dimatikan, siapa tahu ada kamera pengawas. Setelah enam bulan, aku pulang dengan 400 halaman catatan, dan mulai menulis.

Saat mengenang situasi pelik yang menakutkan di masa lalu, orang kadang bisa dengan mudah mengingat saat ketika semuanya mulai berantakan. Selama investigasiku selama satu dekade, aku selalu takut hal yang sama akan terjadi padaku di Korea Utara, dan aku tidak akan punya kendali akan nasibku. Akan tetapi, hal itu justru terjadi di New York. Enam bulan sebelum penerbitan, editorku mengirim desain sampul bukuku. Sesuatu menarik perhatianku. Di bawah judul Without You, There Is No Us: My Time with the Sons of North Korea’s Elite, ada kata-kata ini: Sebuah Memoar.

Aku segera mengirim surel ke editorku. “Aku keberatan bukuku disebut memoar,” kataku. “Menyebutnya memoar mengecilkan makna penyelidikanku.” Kata memoar mengandung makna memori–sesuatu yang tidak terpecahkan di masa lalu, yang dikaji lewat pengalaman pribadi penulisnya. Bukuku, walaupun di beberapa bagian terkesan personal, adalah tulisan naratif tentang sebuah laporan jurnalistik. Aku tidak sekadar menyampaikan pandanganku terhadap dunia. Aku melaporkan bagaimana rasanya hidup bersama pihak lain.

Editorku bergeming. Dia melihat bukuku ditulis dari sudut pandang orang pertama–metode yang sudah digunakan oleh banyak jurnalis–untuk membentuk kerangka naratif laporanku. Menurutnya, menyebutnya jurnalisme akan menyempitkan potensi jumlah pembacanya. Waktu itu aku belum tahu kalau keputusan ini sepenuhnya soal pemasaran. Baru kemudian aku tahu kalau memoar cenderung lebih laris dibandingkan jurnalisme investigasi.

Aku masih berkeras. “Ini bukan Eat, Pray, Love,” tukasku pada editor dan agenku lewat telepon.

“Maumu begitu,” agenku tertawa.

Itulah masalahnya. Aku tidak mau bukuku menjadi Eat, Pray, Love. Sebagai satu-satunya jurnalis yang pernah hidup menyamar di Korea Utara, aku mengambil risiko dipenjara karena menceritakan kisah penting bagi dunia internasional lewat satu-satunya cara yang mungkin. Melabeli bukuku sebagai kisah personal dan bukan profesional–memasarkanku sebagai wanita yang melakukan perjalanan untuk menemukan jati diri dan bukannya jurnalis dengan tugas mahapenting–berarti melucuti statusku sebagai ahli dalam subyek yang kukenal. Kelihatannya sepele, tetapi hal ini sudah umum di kalanga wanita yang memiliki karir profesional. Aku digeser dari posisi sebagai pemegang kewenangan (Apa yang Kau Ketahui?) menjadi seseorang yang emosional (Bagaimana Perasaanmu?).

Jelas sudah, itu adalah perang yang tak bisa kumenangkan, jadi aku menyerah. Isi bukuku yang penting, aku meyakinkan diriku. Tidak peduli bagaimanapun labelnya, hasil reportaseku yang akan bercerita.

*****

Menjelang penerbitan, aku sangat gugup. Universitas evangelis di Korea Utara mengirimiku surel mengancam, menuntutku menyerahkan naskahku dan membatalkan penerbitan. Itu tidak aneh. Jurnalis investigasi yang menyamar demi mendapat akses ke berbagai institusi yang terlarang bagi penduduk sipil–seperti penjara dan rumah sakit jiwa–tidak akan mendapat sambutan hangat dari institusi yang mereka susupi. Organisasi evangelis ingin melindungi koneksinya dengan rezim Korea Utara serta para calon pemimpinnya. Tapi aku memasuki negara itu dengan nama asliku, dan mendapat pekerjaan mengajar berdasarkan kualifikasi asliku.

Kode Etik Society of Professional Journalists menyatakan bahwa jurnalis harus “Menghindari penyamaran atau metode tersembunyi lainnya dalam rangka mengumpulkan informasi, kecuali jika metode terbuka atau tradisional tidak akan memberikan informasi vital untuk publik.” Susah membayangkan informasi yang lebih vital dari Korea Utara, yang serba rahasia sekaligus memiliki senjata nuklir. Bicara tentang pelanggarannya terhadap hak asasi manusia, PBB menyatakan bahwa “Negara tersebut tidak ada kesamaannya dengan dunia kontemporer.” Kekhawatiran utamaku adalah terhadap para mahasiswaku, dan aku memastikan untuk mengikuti semua praktik jurnalisme yang sah, untuk menghindarkan mereka dari ancaman.

Akan tetapi, ketika bukuku diterbitkan pada tahun 2014, komentar sumir bukan datang dari Korea Utara, tetapi dari sumber yang sama sekali tak kuduga: para jurnalis lainnya. Ketika penerbitku mempromosikan bukuku, beberapa jurnalis mengecamku di internet. Mereka menyebutku “tidak jujur” karena menyamar. Mereka mengecamku sebagai “orang egois” yang menggunakan akses ke universitas untuk menulis “memoar tentang eksploitasi hubungan rahasia (kiss-and-tell).” Mereka menuduhku “menempatkan sumberku dalam bahaya,” tapi tanpa bukti apapun. Di mata mereka, aku adalah penulis memoar yang ikut-ikutan tren jurnalisme. Guru sekolah Korea yang menjual murid-muridnya demi uang cepat.

Serangan-serangan itu kebanyakan mengabaikan inti tulisanku–hasil investigasiku–dan berfokus pada metodeku. “Apa yang dilakukannya bukan hal baru,” tulis salah satu cuitan yang dialamatkan padaku. “Dia berbohong dan membahayakan hidup orang lain demi keuntungan finansial.” Ketika aku diwawancari radio BBC, si pembawa acara membacakan keras-keras surat kecaman yang mereka peroleh dari universitas di Korea Utara, dan menuduhku membahayakan pihak yang mempekerjakanku. Di Facebook, orang-orang menuduhku pergi ke Korea Utara semata untuk “mendapat pengalaman dan meraih uang cepat dari menulis buku,” yang mungkin terkait fakta bahwa bukuku masuk daftar buku terlaris New York Times. Kotak surelku mulai dibanjiri pesan-pesan dari orang yang tak kukenal: “Kau tidak tahu malu, menempatkan orang-orang tak bersalah dalam bahaya demi kepentingan pribadi.” Suatu pagi, aku dibangunkan oleh pesan Twitter yang berbunyi, “Persetan kau.”

Ketika Kirkus menerbitkan ulasan pertama untuk bukuku, aku terkejut ketika melihat kata-kata menipu (deceive)” dan “kebohongan (deception)” disebut tiga kali dalam paragraf pertama. Chicago Tribune mempertanyakan etikaku: “Bukunya menimbulkan berbagai pertanyaan sulit tentang apakah informasi ini seharga dengan risiko besar yang dialami para individu tak bersalah, yang tak seorangpun mengetahui alasannya berada di sana.” Los Angeles Review of Books bahkan berpendapat lebih jauh: “Ketidakjujurannya telah membuatnya rentan terhadap kritik, dan seharusnya demikian. Aspek etika dari pilihannya menimbulkan keraguan terhadap kredibilitasnya (bahaya lain dari karya memoar), dan ketakutannya akan ditemukan telah mewarnai kesan dan deskripsinya dengan paranoia dan kejijikan.”

Bukuku diabaikan dari segi berbagai unsur yang biasanya mendatangkan penghargaan bagi catatan naratif jurnalisme investigasi. Ketika Ted Conover, penulis buku pemenang penghargaan Newjack, menyamar sebagai sipir untuk menyelidiki sistem penjara, dia dipuji oleh New York Times, yang menyebutnya “menggali lebih dalam dari permukaan,” dan “sungguh-sungguh menyelidiki.” Barbara Ehrenreich, penulis buku laris Nickel and Dimed, dipuji karena penulisnya menyamar sebagai pramusaji, pembantu hotel, dan staf penjualan, demi menyingkap kondisi kehidupan masyarakat miskin. Di kalangan jurnalis, tugas menyamar biasanya dianggap sebagai lencana kehormatan, bukan lambang memalukan. (Keliru mengategorikan bukuku sebagai memoar jelas membuatnya terdiskualifikasi dari penghargaan jurnalisme apapun).

Kecaman itu berimbas hingga ke luar lingkaran media. Di setiap acara promosi bukuku, aku selalu melihat paling tidak satu orang–seringkali berkulit putih, pria, dan kasar–yang mengangkat tangan dan menyangkal isi bukuku. Kata-katanya selalu mirip: dia sudah pernah ke Korea Utara, atau kenal seseorang yang pernah ke sana, dan tidak seburuk atau berbahaya seperti yang kukatakan, jadi kenapa aku berbohong dan membahayakan orang lain hanya untuk menjual buku?

Kecaman semacam itu membuatku termenung. Kenapa orang-orang ini, yang tidak pernah punya pengalaman hidup di Korea Utara, merasa berhak mengabaikan reportaseku dan malah mati-matian membela salah satu diktator paling haus darah di muka bumi? Bukuku sepertinya entah bagaimana membuat mereka sakit hati. Mungkin karena kebanggaan mereka sebagai pria terusik; perasaan bahwa mereka ahli dalam masalah dunia, walaupun kenyataannya tidak. Mungkin mereka merasa terusik karena dianggap rekan sekongkol Korea Utara, dan mengubah rasa bersalah itu menjadi penyangkalan, sebuah naluri bertahan hidup mendasar. Apapun motifnya, mereka merasa perlu mengangkat harga diri mereka di depanku. Beberapa bahkan menganggapku, seorang wanita Korea Selatan, sebagai seseorang yang sekadar “pulang” ke Korea Utara. Bagi mereka, aku tidak menyamar. Itu adalah cara lain untuk menyebut bahwa bukuku adalah catatan personal, dan tidak memiliki unsur kewenangan apapun.

*****

Hanya ada dua jenis buku di Korea Utara: buku-buku yang ditulis jurnalis kulit putih di bawah pengawasan negara, dan “memoar” yang konon berdasarkan cerita para pembelot. Hirarki intelektual yang tergambar di sana sangat jelas–otoritas adalah milik orang kulit putih. Orientalisme berkuasa.

Tindakan pengabaian sistematis terhadap area keahlianku telah dipompa oleh New York Times. Bukan soal ulasan negatifnya yang menggangguku, tetapi proses pemilihan pengulas bukunya; seorang mantan kolumnis TV Korea, yang satu-satunya karya nonfiksinya hanyalah soal budaya pop Korea Selatan. Selain etnisnya, sulit memahami mengapa si editor menganggap bahwa pakar budaya pop memiliki kualifikasi untuk mengulas karya investigasi serius tentang pemerintahan diktator. Tapi aku tidak terkejut, karena setiap kali aku diminta surat kabar ternama untuk mengulas buku, buku itu hampir pasti karya penulis Asia, terlepas dari isinya.

Sebagai wanita Asia, aku sering melihat orang yang tidak percaya kalau aku adalah jurnalis investigasi. Kalaupun aku bilang, mereka seringkali cepat lupa. Setelah menghabiskan masa kanak-kanak di Amerika tanpa berbicara bahasa Inggris, aku tahu rasanya menjadi bisu; aksenku sering membuat orang mengira aku bodoh. Aku pandai menghilang, tapi aku tahu kesan lemah itu dapat menjadi keuntungan. Semakin kau dianggap tidak mengancam, semakin mudah orang-orang mengungkapkan rahasianya padamu, yang membuatku mudah menyusup ke dalam sebuah lingkungan tanpa menyolok. Dalam buku Slouching Towards Bethlehem, Joan Didion mengungkapkan hal yang sama: “Satu-satunya keuntunganku sebagai reporter adalah aku bertubuh mungil, temperamenku tenang, dan bicaraku kurang lancar, sehingga orang-orang kerap lupa bahwa keberadaanku sebenarnya merugikan mereka.”

Diskriminasi gender seperti itu bisa berdampak positif atau negatif. Sebagai reporter, kebanyakan orang yang suka berinteraksi denganku adalah pria, dan pria suka menjelaskan hal-hal pada wanita. Jadi kubiarkan. Aku mendengarkan dengan seksama. Aku tak pernah bicara tentang diriku sendiri karena aku memang serba rahasia, dan juga karena aku sangat tertarik pada setiap rincian yang mereka sampaikan. Bagaimanapun juga, mereka bagian dari pekerjaanku.

Aku baru-baru ini bicara dengan Nicole LeBlanc, penulis Random Family, yang mengisahkan kehidupan keluarga orangtua tunggal di Bronx selama satu dekade. Dia memberitahuku bahwa ketika bukunya diterbitkan, yang mendapat pujian adalah gambaran ikatan emosional yang dibaginya  dengan para subyeknya, bukan reportasenya yang terperinci. “Seandainya aku menulis buku tentang hidup bersama para tentara, pekerjaan yang sesungguhnya baru akan dipuji.” Tetapi, dia juga percaya bahwa jurnalisme yang baik justru menggabungkan otak dengan hati. “Aku tidak bisa membayangkan menulis reportase seandainya aku bukan wanita. Kau adalah dirimu, dan itu termasuk saat kau bertugas.”

*****

Aku ingin bilang bahwa aku menerima reaksi terhadap bukuku dengan ringan; bahwa aku berhasil menjawab setiap tuduhan dengan sabar, bahwa aku memahami sebabnya.

Tapi aku tidak bisa.

Kemarahan yang kurasakan melebihi emosi apapun yang pernah kualami, seolah aku telah mehanannya sejak lama, bukan sepanjang satu tahun tur bukuku yang kebanyakan kuhabiskan di kamar hotel yang suram sambil menenggak anggur murahan dari bar mini, melainkan sejak aku tiba di Amerika pertama kali sebagai orang asing berusia 13 tahun, bisu dan tak berdaya. Di komplek perumahan kumuh kaum imigran, aku belajar bahwa di rumah adopsiku, kulitku dideskripsikan sebagai “kuning,” kulit yang warnanya sama dengan bunga forsythia yang tumbuh di sekitar rumah masa kecilku di Korea Selatan. Setelah bertahun-tahun, rasanya seolah semua pencapaianku tak berarti. Aku masih gadis kecil itu. Dan sekarang, gadis yang sama ini bukannya bisu, tetapi dibisukan.

Ketika aku berjuang dengan segala perasaanku ini, aku menyadari bahwa kemarahanku sesungguhnya adalah hal yang mendorongku untuk menulis: untuk meredakan gejolak dalam diriku, yang hadir setiap kali aku menghadapi halaman kosong, memanggil-manggil hati yang merasa takut terhadap dunia luar. Ketika aku tidur, aku jarang bermimpi; aku sendirian dalam kegelapan, dan di tepi kesadaranku, lolongan tangis tertahan dari dunia luar menyeruak. Aku menulis untuk memahami dunia yang menakutkan ini, dari dalam ke luar, dan untuk menyelamatkan hidup; hidupku sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya aku menyusup ke Korea Utara; karena aku tidak bisa tenang melihat ketidakadilan yang menimpa 25 juta orang tak berdaya, yang terperangkap dalam gulag modern yang masih menjadi bagian dari masyarakat kita. Meremehkan laporanku yang terperinci adalah gejala yang kutakuti pada Amerika.

Aku memahami ironinya setelah menggali ingatanku untuk memahami apa yang menjadikan karyaku dipandang sebagai memoar. Bukuku adalah tentang Korea Utara, tapi tulisan di dalamnya adalah tentangku, dan bagiku, tak ada yang lebih memalukan daripada obsesi berlebihan terhadap diri sendiri. Aku menulis pada Anda, para pembaca, untuk meminta pengakuan. Aku jurnalis investigasi, tolong anggap aku serius. Aku telah disingkirkan dari dunia eksklusif kaum jurnalis; kemarahanku adalah reaksi dari hal itu. Sebagai wanita kulit berwarna yang memasuki profesi yang masih didominasi pria kulit putih, aku kerap terpaksa menulis topik yang bukan pilihanku sendiri atau untuk meneliti kompleksitas dunia, melainkan sebagai cara untuk memeroleh pengakuan.

Suki Kim adalah editor kontributor untuk New Republic, jurnalis investigasi, dan novelis. Buku larisnya adalah narasi nonfiksi berjudul Without You, There Is No Us: My Times with the Sons of North Korea’s Elite, mengisahkan pengalamannya menyamar di Pyongyang di antara para calon pemimpin Korea Utara. Artikel asli bisa dibaca di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s