Tentang Naga-naga Middle Earth: Lebih dari Sekadar “Monster”


738px-j-r-r-_tolkien_-_dragon

Ilustrasi naga oleh J. R. R. Tolkien, dibuat sekitar tahun 1927/1928

Naga adalah makhluk yang muncul di berbagai cerita rakyat dan mitologi, namun sebagai orang Timur, saya tumbuh dengan dua macam naga dalam cerita-cerita rakyat dan fantasi yang saya baca: yang satu naga-naga Timur yang menyimbolkan kebijaksanaan, kesuburan serta berbagai kualitas positif lainnya, dan yang satu lagi naga-naga dari kisah-kisah Barat yang membakar desa, menculik putri raja, membunuh manusia dengan napas apinya, dan akhirnya dibunuh sang pahlawan. Jadi, saya agak geli sekaligus takjub ketika membaca The Hobbit untuk pertama kalinya dan melihat deskripsi Smaug, serta adegan percakapannya dengan Bilbo, yang rasanya “kok bukan naga banget.”

Ini bisa dipahami kalau kita menelisik naga-naga yang diciptakan Tolkien sebagai bagian dari Middle Earth legendarium. Sesuai dengan embel-embel legendarium tersebut, Tolkien menciptakan sebuah dunia dimana legenda memiliki legenda, dan berbagai tokoh, tempat serta makhluk hidup hanya berupa gaung yang separuh diingat oleh para karakter dalam buku-bukunya. Naga muncul dalam The Silmarillion dan The Hobbit, namun naga-naga dalam The Silmarillion adalah bagian dari legenda masa lalu, sedangkan Smaug dibahas dengan detail karena dia adalah satu dari yang terakhir; naga yang muncul di Abad Ketiga, dan oleh para pembaca The Hobbit serta tokoh seperti Bilbo Baggins dianggap sebagai “naga kontemporer.” Keunikan naga dalam dunia rekaan Tolkien justru karena kisah mereka cenderung tersamar, dan ada pengaruh unik dari legenda serta mitos Nordik, yang juga menjadi minat akademis Tolkien. 

Naga di Middle Earth muncul pada Abad Pertama, diciptakan oleh Morgoth, Dark Lord pertama. Morgoth menciptakan naga karena merasa bahwa pasukan Orc saja tak cukup untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Tidak ada rincian mendetail tentang bagaimana Morgoth menciptakan naga-naganya, tapi mereka bisa dideskripsikan sebagai makhluk besar yang berumur panjang, dengan kepala mirip reptil, bersisik sangat keras sehingga sulit ditembus senjata (namun bagian di bawah sisik tersebut lunak dan bisa menjadi titik kelemahan naga), dan ada yang bersayap maupun tidak. Naga bisa mengeluarkan api yang sangat panas sehingga bahkan bisa melelehkan Cincin-cincin Kekuatan. Akan tetapi, ini hanya berlaku untuk jenis yang disebut Urulokë (fire-drake), sedangkan yang disebut cold-drake tidak bisa mengeluarkan api.

Naga-naga Paling Terkenal dalam Sejarah Middle Earth

Naga api pertama yang muncul di Middle Earth adalah Glaurung, yang kerap disebut sebagai Father of Dragons, The Worm of Morgoth, dan The Great Worm of Angband (worm di sini mengacu pada sebutan untuk naga tak bersayap, bukan cacing secara harfiah, dan berasal dari bahasa Inggris Kuno wyrm serta Nordik Kuno ormr).  Dia muncul pertama kali di tengah Siege of Angband, 400 tahun pengepungan panjang kaum Elf Noldor terhadap benteng Morgoth pada Abad Pertama. Saat itu, Glaurung yang masih belum tumbuh sepenuhnya keluar dari benteng dan berhasil mendesak pasukan Elf hingga mundur dari wilayah Ardgalen, yang kemudian dia porak-porandakan, sebelum pasukan Elf mendesaknya mundur kembali. 200 tahun setelahnya, Glaurung yang telah tumbuh dewasa memimpin pasukan Orc dan Balrog dalam The Battle of Sudden Flame yang mengakhiri pengepungan panjang itu, memorak-porandakan pasukan Elf serta membakar area sepanjang Sungai Gelion. Dia baru berhasil didesak mundur dan kabur kembali ke Angband setelah dikepung pasukan Dwarf.

768px-j-r-r-_tolkien_-_glaurung_sets_forth_to_seek_turin

Glaurung Sets Forth to Seek Turin, ilustrasi Glaurung yang dibuat Tolkien (1927)

The strength and terror of the Great Worm were now great indeed, and Elves and Men withered before him; and he came between the hosts of Maedhros and Fingon and swept them apart.

J.R.R. Tolkien: The Silmarillion: Of the Fifth Battle: Nirnaeth Arnoediad.

Morgoth juga melepaskan naga-naga saat menyerang kerajaan Elf tersembunyi, Gondolin, dalam peristiwa yang disebut sebagai Kejatuhan Gondolin (The Fall of Gondolin). Salah satu di antara naga-naga ini adalah makhluk yang disebut sebagai Naga Api Gondolin. Naga tak bersayap ini begitu besar hingga bisa mengangkut Balrog di punggungnya, dan ketika kakinya ditikam pedang oleh Tuor, dia memekik hingga ekornya menggelepar-gelepar dan membunuh banyak Elf maupun Orc yang bertempur di sekitarnya.

515px-roger_garland_-_fall_of_gondolin

The Fall of Gondolin oleh John Garland

Jika Glaurung adalah naga pertama yang muncul di Middle Earth, maka Ancalagon adalah naga api bersayap pertama. Ukurannya yang spektakuler menjadikannya naga terbesar dalam sejarah Arda. Ancalagon adalah senjata terakhir Morgoth dalam upaya terakhirnya menguasai Arda, sebelum dirinya dikalahkan dalam War of Wrath, perang besar terakhir antara Valar dan Morgoth. Begitu besar tubuhnya, sehingga ketika akhirnya dijatuhkan oleh Eärendil, tubuh Ancalagon menghancurkan ketiga puncak Thangorodrim, gunung-gunung berapi yang dijadikan benteng Morgoth (sebagai gambaran, Tolkien mendeskripsikan puncak-puncak Thangorodrim setinggi 35.000 kaki, serta membentang sepanjang 150 hingga 200 mil atau sekitar 240 hingga 322 km). Akan tetapi, harus diingat bahwa pernyataan “menghancurkan puncak Thangorodrim” ini bisa diartikan sebagai gaya bahasa hiperbola, yang kerap digunakan dalam bahasa kisah legenda, mitologi dan fiksi fantasi Abad Pertengahan, dan Tolkien tidak pernah benar-benar mendeskripsikan sebesar apa Ancalagon ini. Tapi dari cara penggambarannya, kita bisalah sepakat bahwa naga yang satu ini “was motherf*cking huge.”

jenny_dolfen_-_ancalagon_the_black

Ancalagon the Black oleh Jenny Dolfen

Ada juga naga tak bersayap bernama Scatha, yang muncul pada Abad Ketiga. Tak banyak yang diketahui tentang Scatha, kecuali bahwa dia hidup di Pegunungan Kelabu di Utara, menjaga gunung harta rampasan dari kaum Dwarf. Naga ini kemudian dibunuh oleh Fram, salah satu leluhur kaum Manusia di Utara dan moyang bangsa Rohan. Gunung harta ini menjadi bahan rebutan antara kaum Dwarf dan Manusia, hingga Fram mengirimkan salah satu gigi Scatha kepada kaum Dwarf disertai pesan bahwa “harta seperti ini (gigi Scatha) jauh lebih berharga daripada gunung harta karunmu, karena lebih sulit mendapatkannya.” Kaum Dwarf yang tersinggung kemudian membunuh Fram, namun sebagian hartanya dibawa kaum Manusia ke Rohan. Horn of the Mark, sebuah terompet perang perak buatan Dwarf yang diberikan Eowyn pada Merry setelah Perang Cincin konon berasal dari gunung harta rampasan Scatha.

433px-wouter_florusse_-_the_slaying_of_scatha

The Slaying of Scatha oleh Wouter Florusse

Akhirnya, tentu saja ada Smaug, naga terbesar di Abad Ketiga. Smaug menghancurkan Lonely Mountain dan Kota Dale, lalu berdiam menjaga gunung harta milik kaum Dwarf, memaksa Thorin dan kaumnya untuk pergi. Smaug tidak hanya ganas dan serakah, namun juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, intelegensi, dan keangkuhan. Kesombongan Smaug akan kekuatan dirinya sendiri inilah yang akhirnya menghancurkannya, ketika Bard menembakkan panah ke bagian tubuhnya yang tidak tertutup lapisan keras, dan tubuhnya jatuh ke dalam danau.

424px-alan_lee_-_smaug_the_magnificent

Smaug the Magnificent oleh Alan Lee

Tidak ada penjelasan lebih lanjut terhadap keberadaan naga-naga di Middle Earth; Tolkien nampaknya memang sengaja tidak memberikan rincian terlalu banyak tentang riwayat para naga, karena mereka adalah bagian dari legenda dalam legenda yang menjadi ciri khas karyanya, dan mempertahankan kekosongan informasi dalam buku-bukunya adalah cara agar legenda ini tetap hidup. Riwayat akhir para naga pun tidak jelas, walaupun ada kemungkinan bahwa naga sebenarnya masih ada di wilayah Utara, hanya saja mereka dalam keadaan dorman, tidak aktif, dan tak lagi menjadi sumber ketakutan kaum Manusia, Elf dan Dwarf, tidak seperti Abad Pertama hingga era Smaug. Dalam LOTR, Gandalf berkata pada Frodo bahwa tidak ada lagi naga yang apinya cukup panas untuk melelehkan Cincin Kekuatan, yang bisa saja diartikan sebagai “ya, masih ada naga, tapi mereka sudah tidak sekuat dulu.” Hal ini dijelaskan Tolkien dalam salah satu suratnya:

“Some stray answers. Dragons. They had not stopped; since they were active in far later times, close to our own. Have I said anything to suggest the final ending of dragons? If so it should be altered. The only passage I can think of is Vol. I p. 70 : ‘there is not now any dragon left on earth in which the old fire is hot enough’. But that implies, I think, that there are still dragons, if not of full primeval stature….”

Surat J. R. R. Tolkien nomor 144, 25 April 1954

Kutukan Naga: Sumber Inspirasi Naga Tolkien dari Mitologi Nordik

Kita boleh saja bertanya-tanya tentang bagaimana Morgoth bisa “membiakkan” naga, karena Tolkien tak pernah memberikan rincian tentang itu. Yang membuat saya lebih tertarik adalah fakta bahwa karakteristik naga Tolkien yang unik, dengan gabungan antara kebuasan monster dan sifat-sifat seperti kerakusan, keangkuhan dan kecerdasan, plus unsur kutukan yang nampaknya selalu menyertai siapapun yang berinteraksi dengan naga tersebut, adalah ciri khas dari naga-naga yang muncul dalam mitologi Nordik.

Fafnir adalah naga paling terkenal dalam mitologi Nordik. Fafnir tadinya adalah seorang ksatria, yang bersama saudaranya, Regin, membunuh ayah mereka sendiri lantaran kutukan cincin Andvarianur, yang membuat mereka gelap mata akibat menginginkan harta karun ayah mereka. Kekuatan kutukan itu membuat Fafnir mampu berubah wujud menjadi naga demi menjaga harta rampasan dari sang ayah untuk dirinya sendiri, namun Regin diam-diam melatih seorang ksatria bernama Sigurd yang kelak membunuh Fafnir. Akan tetapi, kutukan saudaranya yang menjalar ke Regin membuatnya hendak membunuh Sigurd juga, namun karena Sigurd tanpa sengaja menjilat darah Fafnir saat memasak jantung sang naga untuk Regin, dia mendapat kemampuan memahami bahasa burung, yang memperingatkannya akan niat jahat Regin. Sigurd pun akhirnya membunuh Regin.

800px-siegfried_and_the_twilight_of_the_gods_p_022

Fafnir guarding the hoard of gold oleh Arthur Rackham

Apakah selesai sampai di situ? Tidak! Sigurd menjadi seorang ksatria yang disegani, namun hidupnya terus dipenuhi serangkaian peristiwa tragis, termasuk percintaannya dengan Brynhild si Valkyrie dan pernikahannya dengan putri bernama Gudrun, yang berujung serangkaian peristiwa tragis, hingga berbuntut pada terbunuhnya dirinya di tangan kerabat Gudrun, dan bunuh dirinya Brynhild pada pemakaman Sigurd. Tolkien menjabarkan legenda ini dalam puisi narasi karyanya yang diterbitkan setelah kematiannya: The Legend of Sigurd and Gudrun.

Ada juga naga laut raksasa bernama Jörmungand, anak dari Loki bersama raksasa wanita Angrboda, yang muncul dari dalam laut pada peristiwa Kiamat para Dewa alias Ragnarok. Naga ini digambarkan begitu besar sehingga mampu melingkari bumi dan mencengkeram ujung ekornya sendiri. Pertempuran antara naga ini dan Thor menjadi titik puncak Ragnarok, dimana setelahnya, Thor berhasil membunuh sang naga, namun kemudian mati setelah berjalan sembilan langkah karena racun naga tersebut. Pertempuran kolosal antar naga raksasa dan pahlawan ini seolah mencerminkan pertempuran antara Ancalagon dan Eärendil, yang juga terjadi para perang final besar-besaran antar Morgoth dan para Valar.

800px-johann_heinrich_fc3bcssli_011

Thor in Hymir’s Boat Battling the Midgard Serpent, oleh Henry Fuseli

Kita bisa melihat banyak elemen dari kisah ini yang diramu ulang dalam buku-buku Tolkien: kutukan cincin, naga yang memiliki keangkuhan dan kecerdasan layaknya manusia, gunung harta yang dijaga, serta kematian naga yang membawa kutukan bagi mereka yang terlibat. Benda-benda atau harta yang berasal dari naga dikisahkan masih membawa dampak tersendiri bagi orang yang mengambilnya. Sigurd menjilat setitik darah ketika memasak jantung naga untuk Regin dan mendapat kemampuan memahami bahasa burung, yang menyelamatkan nyawanya. Dalam buku Children of Hurin, Helm Naga Dor-lomin legendaris milik Turin Turambar membuatnya menjadi petarung ganas di medan pertempuran, karena siapapun yang mengenakannya konon dilindungi oleh kekuatan gaib yang membuatnya ditakuti oleh musuh yang melihatnya.

alan_lee_-_the_dragon_helm_of_dor-lomin

Ilustrasi Dragon Helm of Dor-lomin, oleh Alan Lee, dengan naga Glaurung di atasnya.

Akan tetapi, “kutukan naga” adalah sisi lain dari kekuatan gaib tersebut. Sama seperti kutukan Fafnir yang membuatnya membantai ayahnya sendiri demi hartanya sebelum berubah menjadi naga, yang mengakibatkan kematian saudaranya, Sigurd, dan kemudian Brynhild, naga-naga dalam Tolkien legendarium memiliki kualitas yang sama. Fram dibunuh oleh para Dwarf setelah membunuh Scatha karena perebutan harta yang dimiliki naga tersebut. Hal yang sama tercermin dalam The Hobbit ketika Thorin menolak permintaan kaum Elf Mirkwood dan penduduk Kota Dale untuk membagi harta, dan kemudian menjadi paranoid karena takut Arkenstone dari gundukan harta itu dicuri. Thorin kemudian menemui akhir tragis. Dalam Children of Hurin, Glaurung menyihir Nienor agar hilang ingatan dan tanpa diketahuinya menikahi saudara lelakinya sendiri, Turin. Ketika Glaurung mati, mantranya terlepas, dan mengakibatkan bunuh dirinya Nienor serta Turin; kehancuran yang dibawanya tak berhenti walau napasnya telah tumpas. Ini mencerminkan kisah Sigurd yang, setelah menikahi Gudrun karena dimantrai oleh ibu Gudrun, mendadak kembali teringat kepada Brynhild ketika Valkyrie itu hadir di upacara pernikahannya dengan raut wajah penuh kemarahan.

the_death_of_glaurung_by_ekukanova-d4lx6j1

The Death of Glaurung oleh Elena Kukanova

Bahkan dalam buku bernada “ceria” seperti The Hobbit, masih ada paragraf yang sedikit banyak menggambarkan aspek ini dari Smaug. Ketika Bard si pemanah menjatuhkan Smaug dengan panahnya, tubuh Smaug jatuh ke dalam danau dan tenggelam, dan tak ada orang yang pernah berani mendekatinya untuk mengambil batu-batu permata yang rontok dari tubuhnya, walaupun bangkai Smaug bisa terlihat dari permukaan kalau permukaan danau sedang tenang; tempat itu seolah dikutuk.

Adegan percakapan antara Smaug dan Bilbo juga menunjukkan kualitas naga dalam mitologi Barat yang lebih dari sekadar monster. Smaug mungkin ganas dan serakah, namun dia juga cerdas, penuh rasa ingin tahu, sangat teliti (sampai ke tahap bisa mendeteksi hilangnya benda berharga yang terhitung sangat kecil dari sebuah gunung harta besar), dan bahkan mampu menanamkan keraguan dalam hati Bilbo terkait misinya bersama para Dwarf. Hal yang sama juga terlihat pada Chrysophylax, karakter naga yang diciptakan Tolkien untuk cerita Farmer Giles of Ham (bisa ditemukan dalam buku kompilasi Tales from the Perilous Realm, diterjemahkan oleh Gramedia sebagai Kisah-kisah dari Negeri Penuh Bahaya). Walaupun ini bisa dibilang parodi untuk kisah-kisah kepahlawanan, Chrysophylax berbagai banyak karakteristik dengan Smaug dan Glaurung; serakah akan harta, namun cerdas dan pandai menilai situasi. Chrysophylax malah bisa dibilang bernegosiasi dengan Petani Giles agar tidak dibunuh dan bisa hidup dengan nyaman namun tanpa menjatuhkan reputasinya sebagai naga yang menakutkan (Chryshophylax bahkan sempat membawa harta untuk Giles dan tinggal di bawah jembatan di desanya, walau kemudian dilepas pergi oleh Giles karena biaya makannya lumayan mahal).

590px-alan_lee_-_farmer_giles_of_ham

Farmer Giles of Ham and Chrysophylax, oleh Alan Lee

Setelah Smaug mati, tak ada lagi naga yang sepertinya, dan kematian Smaug mungkin saja membawa dampak terhadap kekalahan Sauron. Mengapa demikian? Kita bisa beranggapan bahwa, setelah kematian para “dedengkot” naga seperti Scatha dan Glaurung, para naga perlahan mundur kembali ke wilayah tandus di Utara, dan tak pernah ada lagi catatan kerusakan akibat perbuatan naga seperti di abad sebelumnya. Kematian Scatha dan kepergian Smaug dari Utara (yang juga berujung pada kematiannya) membuat kekuatan kolektif para naga melemah, dan mereka semakin tidak berani melakukan serangan dan kerusakan ke tempat-tempat yang dihuni para Manusia, Elf dan Dwarf. Membiakkan naga mengerikan lainnya yang sekelas Ancalagon dan Glaurung pastinya merupakan tugas besar yang melelahkan, sesuatu yang Sauron (sebagai Dark Lord berikutnya) mungkin belum bisa lakukan dalam kapasitas yang sama seperti Morgoth. Sauron mungkin saja menyambut gembira penaklukan Smaug akan Dale dan Lonely Mountain, karena bisa mendukung rencana penaklukannya.

797px-john_howe_-_smaug_destroys_lake-town

Smaug Destroys the Lake Town oleh John Howe

Jika kita asumsikan demikian, kematian Smaug mungkin bisa dibilang mengacaukan rencana Sauron begitu drastisnya. Sama seperti kisah penguasa Romawi, Augustus Caesar, yang ketika mendengar kabar kekalahan tiga legiunnya yang dikomandani Quintillus Varus terhadap orang-orang Jerman, mengamuk dan berteriak “Varus! Kembalikan legiunku!” Kekuatan kaisar Romawi terletak pada gabungan kekuatan kolektif legiunnya, yang dikirimkan untuk melakukan penaklukan. Mungkin saja Sauron merasakan hal yang sama ketika mendengar kematian Smaug, karena tak ada lagi naga-naga kuat yang bisa menjadi legiunnya, sama halnya dengan Morgoth yang memiliki Glaurung, Ancalagon, dan naga-naga api yang menyerbu Gondolin. Dan kita tahu, kurang dari seabad kemudian, Sauron akhirnya dikalahkan.

Apakah ini sekadar spekulasi? Bisa jadi. Tapi ini sesuatu yang wajar. Pada akhirnya, tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan para naga, dan bahkan kaum bijak di Middle Earth tak ada yang pernah benar-benar bisa menjelaskan berbagai aspek tentang para naga (catatan tentang naga di kalangan kaum Elf pun sangat sedikit).

Saya pernah membaca di sebuah buku mitologi bahwa naga sejatinya bisa dijelaskan sebagai perwujudan semua hal yang ditakuti manusia: reptil berbahaya seperti ular, api, binatang buas bertaring, serta segala sesuatu yang berukuran besar, masif, misterius, dan bisa membuat manusia merasa kecil sekaligus tidak aman, seperti gunung berapi. Hal-hal tersebut diracik di alam bawah sadar dan di”keluarkan” sebagai kisah-kisah tentang naga. Akan tetapi, siapa yang pernah benar-benar melihatnya? Inilah yang dilakukan Tolkien saat menciptakan naga-naganya. Tolkien menciptakan sebuah legenda modern, dan para naganya adalah legenda di dalam dunia legenda tersebut; misterius sejak awal kelahiran mereka, meninggalkan jejak-jejak kehancuran yang begitu besar sehingga hanya sedikit yang hidup di hadapan mereka, sebelum mendadak menghilang kecuali hanya sebagai ingatan samar.

Sumber:

Cotterell, Arthur. Storm, Rachel. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Mythology. London: Anness Publishing.

Humphrey, Carpenter. 2000. The Letters of J.R.R. Tolkien. Boston: HoughtonMiffin.

Tolkien. J. R. R. 1992. The Book of Lost Tales part 2. Christopher Tolkien (ed). New York: Del Rey.

Tolkien, J. R. R. 2002. The Hobbit. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Tolkien, J. R. R. 2009. The Legend of Sigurd and Gudrun. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

Tolkien, JRR. 1986. The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings. Montana: Turtleback Books.

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. Christopher Tolkien (ed). London: HarperCollins.

Tolkien. J. R. R. 2008. Tales from the Perilous Realm. Christopher Tolkien (ed). HarperCollins.

2 thoughts on “Tentang Naga-naga Middle Earth: Lebih dari Sekadar “Monster”

  1. Ahmad D. Rajiv berkata:

    Fantastis. Memang menarik memikirkan naga-naga dengan berbagai kemungkinannya. Saya selalu berimajinasi bahwa nun jauh di sana, di daerah-daerah tandus Middle Earth yang tidak terjamah, naga-naga masih hidup. Hanya saja tidak lagi ada suatu kekuatan yang mampu mengendalikan mereka seperti Morgoth.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s