Kucing dalam Sejarah Militer Modern


cat

Prajurit Inggris dan anak kucing di Neulette, 1917. Foto oleh John Warwick Brooke

Cat lovers… repudiate the idea that cringing subservience and sidling companionship to man are supreme merits, and stand free to worship aristocratic independence, self-respect, and individual personality joined to extreme grace and beauty as typified by the cool, lithe, cynical, and unconquered lord of the housetops. 

H. P. Lovecraft: Cats and Dogs

Bapak horor kosmik H. P. Lovecraft pernah menulis esai yang menyanjung kucing sebagai peliharaan yang “bagaikan rekan serumah setara”; bahwa memelihara kucing itu sama dengan memiliki teman untuk bicara dan berdiskusi, bukan teman serba penurut. Walaupun saya tidak tahu apakah Lovecraft memang seratus persen serius atau ini hanya soal gaya bahasanya yang tinggi, tapi Lovecraft memang pecinta kucing, dan beberapa kucing yang disebut dalam esai tersebut hadir dalam hidupnya serta koleganya (dalam esai itu, Lovecraft memuji kemampuan kucing untuk menghibur diri sendiri, menyebutnya sebagai “(a) limber elf, singing, dancing to itself.”) Akan tetapi, walaupun kucing dan anjing adalah peliharaan populer, kucing kerap “menderita” akibat prasangka. Film-film aksi menyanjung anjing dan menempatkan kucing sebagai hewan peliharaan tokoh antagonis atau pemain kelas dua. Bahkan film Disney Cats and Dogs terang-terangan mengadu anjing dan kucing, dengan anjing sebagai para jagoan dan kucing sebagai penjahat calon penguasa dunia. 

Dalam esainya, Lovecraft mengkritik koleganya yang menyebut kucing sebagai parasit. Anggapan ini mungkin karena anjing memang kerap dibahas dalam sejarah; anjing menunjukkan peran yang lebih gamblang karena ukurannya serta sifatnya yang bisa dilatih, misalnya dalam kepolisian, perburuan, dan dunia militer. Kucing cenderung “ditugaskan” manusia sebagai pemburu tikus di gudang makanan serta pelipur lara karena sifatnya yang lebih tenang, namun gesit dan cenderung tidak penurut seperti anjing. Akhirnya, sejarah kucing dalam berbagai aktifitas manusia pun tenggelam, dan sifatnya yang cenderung mandiri membuatnya tidak disukai.

Ada banyak cerita kucing yang berjasa bagi manusia, namun untuk menyeimbangkan ketidakadilan opini ini, saya memutuskan untuk menghadirkan kisah-kisah para kucing yang terlibat dalam aktifitas manusia yang ekstrem: perang.

1024px-A_cat_on_HMAS_Encounter

Kucing peliharaan di HMAS Encounter, kapal perang Australia. Koleksi Australian War Memorial

Jasa Kucing dalam Perang Modern

Kucing memiliki catatan sejarah yang berakar dari jaman kuno. Pertama kali dijinakkan sekitar 9.500 tahun silam, bangsa Mesir Kuno adalah yang pertama tercatat membawa kucing di atas perahu-perahu di Sungai Nil untuk tujuan khusus, yaitu menghalau tikus agar tidak merusak persediaan makanan serta tambang. Para pedagang kemudian melanjutkan praktik ini dengan membawa kucing ke kapal mereka, dan praktik ini menyebar ke seluruh dunia. Kucing cenderung gesit namun tenang, dan tubuhnya lincah, lentur serta mampu menyelip disela ruang-ruang sempit, sehingga ideal untuk tugas tersebut tanpa mengganggu para pelaut. Akan tetapi, peran kucing dalam perang dicatat dengan sangat detail pada masa Perang Dunia I dan II.

ab9690a92adf61c48fe99571da7e63e9

Aircrew, kucing maskot sekolah penerbangan RAAF di Cressy Victoria, Australia. Koleksi Australian War Memorial

Hingga sekitar tahun 1970-an, berbagai kesatuan tentara di Amerika, Eropa dan Australia, baik itu angkatan darat, laut dan udara, mengadopsi kucing untuk berbagai tujuan, di antaranya:

  • Sebagai pengendus gas beracun. Pada masa Perang Dunia I, militer Inggris “mempekerjakan” sekitar 500,000 kucing untuk menjadi pengendus keberadaan gas beracun di dalam parit perlindungan. Kucing juga membantu menangkap tikus yang ada di dalam parit, sehingga tikus-tikus itu tidak menyebarkan wabah atau menggigiti prajurit yang terluka.
  • Sebagai pengusir tikus dari gudang makanan, terutama di kapal dimana ransum makanan sudah diatur sangat ketat untuk perjalanan panjang di laut, sehingga tidak boleh sampai rusak. Pada masa Perang Dunia II, Inggris menerapkan program Cats for Europe, dimana kucing-kucing terlatih dijadikan penjaga gudang-gudang makanan tempat menyimpan jatah ransum untuk seluruh penduduk setelah perang. Kucing-kucing ini banyak yang merupakan sumbangan dari para pemiliknya, yang ingin berkontribusi untuk pemulihan pasca perang.
  • Mencegah agar tikus tidak merusak tambang, tali layar, kabel listrik dan komponen lainnya. Kucing ideal untuk tugas ini karena dapat menyusup ke tempat-tempat sempit. Ini sebabnya kucing kemudian tidak hanya dibawa ke kapal, tapi juga ke kapal selam.
  • Mencegah penyebaran wabah di atas kapal dengan cara menangkap tikus-tikus. Hal ini bukan hanya mencegah pelaut menjadi sakit, namun juga mencegah penyebaran wabah di wilayah baru. Ketika pelaut yang terinfeksi kemudian berlabuh, mereka akan menularkan wabah ini ke penduduk daratan.
  • Sebagai maskot. Berbagai kesatuan tentara biasanya punya maskot sendiri, dan tujuannya adalah meningkatkan rasa kesatuan di kalangan pasukan sehingga lebih kompak dalam misi.
  • Sebagai pembangkit moral di antara prajurit, serta menghindari stres dan kebosanan, yang bisa berakibat fatal bagi kinerja serta kecepatan reaksi prajurit terutama di tengah-tengah misi panjang di lokasi yang jauh.
  • Sebagai bagian dari terapi penyembuhan untuk mengurangi rasa sakit prajurit yang terluka. Sifat kucing yang kalem dan ukurannya yang kecil (sehingga bisa tidur di ranjang yang sama dengan pasien tanpa membebani) bisa mengurangi rasa sakit serta stres akibat luka parah pada prajurit yang dirawat di atas kapal atau kapal selam, sehingga membantu mempercepat pemulihan

Pelaut jaman dulu juga cenderung percaya pada takhayul, dan akan melakukan apa saja untuk mencegah bencana mendatangi kapal mereka. Di berbagai negara Eropa, kucing dianggap sebagai pengusir bala, serta dianggap jauh lebih efektif mendeteksi badai daripada barometer mereka. Hal ini kemudian dianggap sebagai efek dari kemampuan indra kucing dalam mendeteksi perubahan kecil cuaca serta tekanan, sehingga kucing kerap bertingkah tak biasa saat badai mendekat (hal ini masih terus diteliti, sehinga belum ada kesimpulan pasti), dan akhirnya mengembangkan takhayul bahwa kucing mendatangkan nasib baik. Takhayul ini begitu kuat sehingga pelaut Polandia jaman dulu kadang menolak berangkat jika perwira kapal tidak membawa kucing ke atas kapal itu (yang, kalau melihat situasinya, tentu wajar. Kalau Anda berada dalam situasi genting seperti perang, Anda akan melakukan apa saja untuk merasa aman).

Kucing-kucing Terkenal dalam Sejarah Perang Modern

Ada banyak kisah tentang kucing yang berpartisipasi dalam perang modern; banyak yang tak diketahui namanya, tapi ada juga yang menjadi begitu terkenal sehingga mendatangkan kekaguman, publisitas, rasa hormat, bahkan hadiah medali. Berikut beberapa kucing paling terkenal dalam sejarah perang modern:

Sevastopol Tom

Ini adalah kucing yang diadopsi Kapten William Gair dari The 6th Dragoon Guards, salah satu bagian dari koalisi Inggris-Prancis dalam Perang Krimea melawan Rusia di akhir abad ke-19. Namanya diambil dari Pelabuhan Sevastopol, tempat dimana pasukan Inggris dan Prancis melakukan operasi pengepungan panjang. Gair menemukan Sevastopol Tom di antara reruntuhan di tengah musim dingin panjang. Saat itu, pasukan Inggris-Prancis mengalami kemerosotan moral karena jumlah makanan semakin merosot sementara cuaca sangat dingin. Sevostopol Tom menjadi pembangkit moral para prajurit, dan ketika sudah cukup sehat untuk berburu, dia membuat kejutan dengan menuntun para prajurit itu ke arah tumpukan reruntuhan bangunan. Di tempat dimana dia berhenti dan mengeong-ngeong, para prajurit akhirnya menggali, dan menemukan gudang makanan yang terkubur namun isinya tetap utuh. Sevostopol Tom pun dipuji sebagai penyelamat. Setelah mati, tubuhnya diawetkan dan diserahkan ke Royal United Service Institution.

05sevastopol-tom-bw

Tubuh Sevastopol Tom yang diawetkan, koleksi Royal United Service Institution

Trim

Trim adalah “kucing kapal” sejati; dia lahir di atas HMS Reliance, kapal penjelajahan angkatan laut Inggris yang saat itu sedang berlayar dari Afrika Selatan ke Australia. Saat masih kecil, Trim sempat terlempar ke laut, namun dia berhasil berenang dan memanjat naik ke kapal dengan menyusuri tali. Matthew Flinders, navigator dan kartografer kapal itu, mengagumi naluri bertahan hidup dan kekuatan si kucing, sehingga mengadopsinya sebagai peliharaan kapal. Trim kemudian ikut dalam pelayaran keliling Australia bersama Flinders, dan ketika Flinders ditangkap serta dipenjara oleh tentara Prancis di Mauritius karena disangka mata-mata, Trim menemani Flinders di dalam selnya. Trim kemudian dibunuh oleh budak-budak tentara Prancis, serta dijadikan makanan. Selama dipenjara, Flinders menulis biografi Trim, dan menggambarkannya sebagai teman yang setia.

Kini, patung Trim didirikan bersama patung Matthew Flinders di Mitchell Library di Sydney bersama sebuah plakat, dan satu patung lagi di Donnington, Inggris.

Trim,_the_cat,_in_Donington,_Lincs_-_geograph.org.uk_-_218735

Patung Trim di Donnington, di belakang kaki patung Matthew Flinders

Mrs. Chippy

Mrs. Chippy adalah kucing yang dipelihara di atas Endurance, kapal yang digunakan kru penjelajah kutub Sir Ernest Shackleton dalam Ekspedisi Trans Antartika yang berlangsung antara 1914 dan 1917. Mrs. Chippy pertama diadopsi oleh Harry McNish, tukang kayu yang bertugas di atas kapal. Kucing tersebut terbukti tangguh dan berhasil menghadapi kondisi ekstrem di lingkar kutub. Dia bahkan mampu berjalan di atas pagar dek kapal saat kondisi laut sedang buruk. Akan tetapi, pada tanggal 29 Oktober 1915, Endurance terjebak di antara es dan mengalami kerusakan parah. Shackleton memerintahkan agar semua hewan yang ada di kapal ditembak mati, termasuk Mrs. Chippy. Hal ini membuat berang McNish dan dia kerap bersitegang dengan Shackleton, sehingga walaupun McNish berjasa membangun perahu yang menyelamatkan seluruh kru, dia menjadi satu-satunya anggota kru yang tidak diberi penghargaan Polar Medal, karena dianggap tidak patuh.

mrs-chippy1

Mrs. Chippy bersama kru Endurance, Perce Blackborow. Foto oleh Frank Hurley

Blackie

Blackie adalah pengusir tikus serta peliharaan kru kapal perang Inggris, HMS Prince of Wales. Blackie selamat dari dua pertempuran laut antar Inggris dan Jerman di Selat Denmark dan Laut Mediterania pada tahun 1941. Ketika pulang, Blackie menjadi terkenal setelah menghampiri dan akhirnya difoto bersama Winston Churchill, yang saat itu baru menandatangani Perjanjian Atlantik bersama Franklin D. Roosevelt. Nama Blackie kemudian diganti menjadi Churchill untuk merayakan kesuksesan pertemuan itu.

Blackie_and_Churchill

Winston Churchill dan Blackie. Foto oleh Capt. Horton, fotografer resmi War Ofice

Convoy

Convoy adalah kucing yang dipelihara oleh kru kapal perang Inggris, HMS Hermione. Convoy secara resmi tercatat dalam jadwal tugas anggota kru, dan dia bahkan memiliki “perlengkapan” pelayaran sendiri (termasuk tempat tidur gantung kecil). Pada tanggal 16 Juni 1942, kapal selam Jerman U-205 menembakkan torpedo ke HMS Hermione, dan Convoy tewas bersama 87 awak kapal.

774px-Convoy_cat

Convoy dikelilingi kru HMS Hermione. Foto oleh S. J. Beadell, fotografer resmi Royal Navy

Pooli

Pooli adalah kucing yang menyertai para kru di atas kapal pengangkut Amerika selama Perang Dunia II. Pooli selamat dalam semua misi yang dilakukan kapal ini, dan mendapat penghargaan tiga pita misi serta empat tanda jasa.

Pooli_(cat)

Pooli dan seragamnya saat merayakan ulang tahun ke-15. Dari arsip LA Times (1959)

Pyro

Pyro adalah kucing yang diadopsi oleh Bob Bird, penerbang dan fotografer militer yang bertugas di Marine Aircraft Experimental Establishment di Skotlandia. Mulanya, Pyro hanya berkeliaran di markas selama menunggu Bob pulang, namun karena terlihat bosan, Bob lalu mulai membawa Pyro di dalam saku jaket penerbangnya saat bertugas. Pada tahun 1943, saat Bob sedang terbang di ketinggian 20.000 kaki, es menyelimuti permukaan pesawat. Ketika dia membuka sarung tangan untuk mengganti lensa kamera, jari-jemarinya mulai mengalami pembekuan (frostbite), namun tubuh Pyro membantu menghangatkan jari-jemarinya ketika Bob menggenggam tubuhnya yang terbungkus jaket. Jari-jemari Bob  pun berhasil sembuh tanpa diamputasi.

Pyro juga membantu menaikkan moral prajurit dan penerbang di markas Bob. Karena misi yang mereka jalani sangat berbahaya dan sudah banyak memakan korban, kehadiran Pyro menjadi penyemangat. Pyro terus menjadi rekan Bob, hingga akhirnya dia tewas tertabrak truk militer saat menunggu Bob pulang di markas. Pada tahun 2011, People’s Dispensary of Sick Animal Charity menganugrahi mendiang Pyro penghargaan atas keberaniannya.

article-2057197-0EA739C900000578-755_468x452

Pyro, foto koleksi Bob Bird

Andrew

Andrew adalah maskot dari Allied Forces Mascot Club, sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 1943 sebagai dedikasi untuk hewan-hewan yang membantu upaya perang dan pertahanan. Andrew ditempatkan di markas organisasi di London, dan terkenal karena mampu mendeteksi jatuhnya bom dari serangan udara mendadak. Ketika Andrew berlari dan merunduk di bawah naungan suatu benda, semua orang akan segera berlari dan berlindung, sehingga mengurangi risiko jatuhnya korban akibat bom udara.

Kitty

Kitty si kucing menjadi terkenal karena fotonya yang diambil pada tahun 1944 memperlihatkan dirinya di dalam kokpit pesawat pengebom B-25 Amerika, yang dipiloti oleh Ole Griffith dari 91st Photographic Mapping Squadron. Kitty menjadi satu-satunya kucing yang diketahui pernah menyertai pilot pesawat pengebom dalam misi penerbangan di tengah perang, walaupun ini tentu saja sebenarnya melanggar aturan. Menurut Griffith, dia saat itu tak tega meninggalkan Kitty, namun dia bersyukur bahwa foto itu baru beredar luas lebih dari lima tahun kemudian, yang berarti dia tak bisa lagi dikenai hukuman karena jangka waktu pelanggarannya sudah kadaluwarsa.

IRVhgan

Kitty, foto oleh Ole C. Griffith (USAF)

Sinbad

Sinbad adalah kucing hitam yang diadopsi oleh Kolonel Fred J. Christensen, penerbang top dan flying ace Perang Dunia II yang sepanjang karirnya berhasil menembak jatuh 22 pesawat Jerman (termasuk enam pesawat yang ditembaknya secara beruntun hanya dalam sehari di tahun 1944). Christensen mengadopsi Sinbad saat kucing itu masih kecil, dan selalu membawanya di kokpit saat dia sedang terbang rendah dan tidak dalam misi perang. Menurut putri sang kolonel, Diane, melihat kedatangan ayahnya yang melompat keluar dari pesawat bersama Sinbad menjadi penyemangat dan pendukung moral para pilot lainnya, dan mereka menyebut Sinbad sebagai jimat keberuntungan. Setelah perang berakhir, dia tetap dipelihara oleh Christensen, namun tewas ditabrak mobil pada tahun 1950.

Simon

Ini mungkin kucing paling terkenal dalam sejarah perang modern, yang jasa-jasanya membuatnya dianugrahi tiga macam penghargaan. Simon ditemukan pada tahun 1948 oleh George Hickinbottom, kelasi HMS Amethyst, sebuah kapal perang fregat yang ditempatkan di Stonecutter’s Island, Hong Kong, untuk melindungi pasukan Inggris dalam perang sipil di Cina. Simon segera menjadi primadona di kalangan kru kapal, menangkapi tikus-tikus yang mengancam penyimpanan makanan serta tambang, dan bahkan terkenal suka meninggalkan “hadiah” tikus mati untuk para kru. Dia juga terkenal suka iseng; keisengannya yang terkenal adalah mengais es batu dari dalam teko minuman. Simon juga menjadi penghilang stres, seperti pengakuan salah satu kru dalam wawancara dengan BBC:

“We had Simon on board because people liked him, he kept people company. It’s the same reason you have one at home: Hearing a cat purr, and the like — its very comforting to people. It’s someone you can talk to. If you’re in a stressful situation, an animal is attractive.”

ScreenShot2014-09-29at3.23.57PM

Simon dan kru HMS Amethyst

Pada tanggal 20 April 1949, ketika Amethyst berlabuh di Sungai Yangtze, Pasukan Pembebasan Rakyat melakukan serangan beruntun terhadap HMS Amethyst. Serangan yang berlangsung selama 3 jam itu memakan korban 25 orang, dan Simon menghilang. Akan tetapi, 8 hari kemudian, Simon muncul dalam keadaan basah, dehidrasi, dan terluka. Wajah, sisi kiri tubuh dan punggungnya terluka akibat serpihan mortar. Simon menolak pengobatan dan memilih mencabuti sendiri serpihan mortar yang melekat di tubuhnya. Selama dia sakit, kapal yang  terdampar dan porak poranda itu menghadapi masalah hama; tikus-tikus menyerbu persediaan makanan yang sudah disegel, merusak tambang dan ruang mesin, dan lari di sela-sela ventilasi serta kipas, mengganggu para prajurit di tempat tidur mereka serta mengancam keselamatan prajurit yang terluka dan tak bisa bangun. Segera setelah sehat, Simon segera beraksi, membersihkan kapal itu dari tikus dalam waktu seminggu.

ScreenShot2014-09-29at3.16.40PM

Simon ketika dikarantina untuk dirawat setelah kapalnya diselamatkan

Kedatangan Simon membuat moral pasukan meningkat, dan setelah 101 hari terdampar, kru HMS Amethyst akhirnya berani merencanakan pelarian dari sungai ke laut. Pelarian itu berhasil, kapal itu diselamatkan oleh angkatan laut Inggris, dan berita tentang Simon menyebar ke seluruh penjuru Inggris. Selama dikarantina untuk kesehatan, Simon menerima banyak kunjungan dan hadiah dari para pengagumnya. Raja George VI memberi Simon penghargaan berupa pita kampanye militer Amethyst, dan akhirnya Dickin Medal serta Blue Cross Ribbon. Sayang, Simon tak berhasil menerima kedua medali yang terakhir itu, karena dia mengalami demam dan peradangan usus sehingga mati di usia 3 tahun. Dia dikuburkan di pemakaman East London, di dalam peti berlapis kain katun dan dibalut bendera Inggris, dan menerima pemakaman yang diiringi upacara militer.

ScreenShot2014-09-29at3.19.47PM

Makam Simon

Ekstra: Kucing Antartika dan Kucing Angkasa

Setelah Perang Dunia II, Inggris terlibat dalam British Antarctic Survey, ekspedisi ilmiah di Antartika yang dimulai pada tahun 1962. Dalam berbagai ekspedisi, beberapa anjing dan kucing disertakan dalam perjalanan serta masa tinggal para kru. Salah satu kucing paling terkenal dalam ekspedisi ini adalah Ginge, kucing yang diadopsi oleh Robert Burton, yang menjadi anggota ekspedisi di tahun 1963. Menurutnya, kehidupan di pos sempit di Antartika yang dingin dan tandus mendatangkan dampak bagi kondisi psikologis krunya. Ada saat-saat dimana mereka menjadi mudah marah dan emosi, mengacaukan program dimana mereka harus bekerjasama. Akan tetapi, Ginge selalu bisa menjadi penenang, dan membantu kru melewati masa-masa sulit. Ginge juga biasa menemani kru yang melakukan tugas meteorologi, yang kerap memakan waktu sepanjang malam. Sayangnya, British Antarctic Survey kini tak lagi mengijinkan kehadiran anjing dan kucing, karena mereka menjadi ancaman bagi fauna lokal.

ginge2

Ginge, foto koleksi British Antarctic Survey 1963

Kucing juga berpartisipasi dalam studi penerbangan luar angkasa. Pada tahun 1963, 9 tahun setelah misi naas Laika si anjing di Uni Sovyet, Prancis mengirim seekor kucing untuk misi penelitian angkasa. Félicette, nama si kucing, dikirim ke ketinggian 100 mil (160) km dalam kapsul di roket Véronique AG1, mengudara selama 15 menit, sebelum kapsul itu terpisah dari roket dan jatuh ke bumi dengan parasut mengembang. Selama penerbangan, elektroda yang dipasang di kepalanya mengirimkan sinyal aktifitas otaknya ke pusat penelitian French Centre d’Enseignement et de Recherches de Médecine Aéronautique (CERMA), memberi kontribusi terhadap penelitian aktifitas otak selama di luar angkasa. Pers Inggris memberinya julukan “Astrocat,” dan Félicette dipelihara di laboratorium CERMA selama 3 bulan untuk penelitian lebih lanjut. Akan tetapi, setelahnya, dia disuntik mati.

felicette-spacecat_1024x1024

Félicette dan liputan dirinya di media Inggris

Setelah tahun 1970-an, kucing tak lagi menjadi bagian dari kapal perang modern, namun berbagai angkatan perang di atas masih menggunakan kucing sebagai maskot, mengingat jasa-jasa hewan ini yang tak terhitung di masa lalu serta simbol keberuntungan dan firasat baik yang dilambangkannya. Kini, tentu saja, kucing tetap menjadi sahabat manusia walau tak lagi turun ke medan perang.

Catatan Pribadi

Ada beberapa hal yang saya harap bisa berhenti di jaman modern ini, seperti prasangka rasial, ketimpangan gender, dan pertengkaran penyuka anjing lawan kucing. Selain karena itu bukan perbandingan yang setara (mereka dua jenis hewan yang sangat berbeda), saya sering gemas dengan alasan di balik itu. Salah satunya, yang kerap terdengar adalah “anjing lebih banyak gunanya daripada kucing; kucing tidak ada gunanya.”

Saya sendiri berpikir bahwa walaupun kita, sebagai manusia, sudah memanfaatkan banyak hewan untuk kepentingan kita, orang yang mengadopsi hewan untuk dipelihara serta menjadi anggota keluarga baru biasanya punya pertimbangan yang lebih rumit daripada sekadar “apa manfaatnya” (saya di sini mengecualikan orang yang memang membutuhkan jasa anjing untuk berburu, menjaga properti, atau membantu kerja kepolisian. Jelas lebih mudah daripada menyewa cheetah atau macan tutul, dan lebih legal juga). Kalau bicara manfaat, saya sudah jelaskan panjang lebar di atas. Sejujurnya, pada akhirnya, tak ada yang bisa mengendalikan alasan seseorang untuk memelihara anjing atau kucing. Selain pertimbangan seperti waktu, uang dan tempat, Anda semua orang yang berbeda, dan Anda harus cocok dengan hewan peliharaan Anda agar bisa hidup bersama.

Sama seperti jika Anda punya dua orang teman dengan kepribadian berbeda: yang satu cenderung terbuka dan banyak bicara, menunjukkan emosi atau kasih sayangnya, dan sangat aktif, sedangkan yang satu lagi cenderung kalem, tidak menunjukkan kasih sayang dengan cara gamblang, serta menyukai aktifitas yang cenderung halus atau kalem. Jika Anda menyayangi mereka berdua, Anda pasti tahu bagaimana menyikapi mereka, dan paham bagaimana mereka mengisi hidup Anda dengan cara masing-masing, walau mungkin akan ada sahabat yang kedudukannya cenderung “menonjol” dalam hidup Anda karena tingkat kecocokannya memang lebih tinggi. Jika mereka sama-sama sahabat yang baik, mengapa harus sinis pada salah satunya? Mengapa harus memaksa mereka untuk jadi “bermanfaat” atau ditendang dari persahabatan? Jadikan anjing atau kucing sebagai peliharaan karena Anda memang ingin sahabat yang bisa mengisi hidup Anda.

Akhirnya, entah Anda lebih condong ke kucing atau anjing sebagai sahabat, saya yakin Anda jauh lebih baik dari peracun anjing atau penembak kucing yang dengan bangga memamerkan korban-korbannya di jejaring sosial. You are able to share your love, time and efforts to care for different creatures, and that should be enough reason.

Peebles_the_cat

Peebles, kucing peliharaan di atas kapal perang Inggris HMS Western Isles, bermain bersama Letnan Komandan R. H. Palmer (1944). Foto koleksi Ministry of Information.

Sumber:

A Gallery of Cats Who Served in World War I

Cats in the Sea Services

The Most Decorated Cat in Military History

2 thoughts on “Kucing dalam Sejarah Militer Modern

  1. mulyasaadi berkata:

    Keren, tenyata kucing punya sejarah kepahlawanan juga ya.
    Saya suka kucing, juga anjing. Jadi, cengengesan sendiri baca artikel ini.
    Thanks infonya (^_^)/

    • Putri Prihatini berkata:

      Sama-sama🙂 Betul, harus agak sedikit kerja keras nyarinya, tapi saya pun perasaan campur aduk saat bikinnya. Antara gemes dan kasian. Dan kesal setiap liat debat “mana hewan yang lebih baik,” yang menurut saya sih nggak ada gunanya. Mereka semua unik dengan cara masing-masing, tidak seharusnya hanya dinilai dari “apa manfaatnya buat kita.”

Komentar ditutup.