Heroik lawan Praktis: Faramir sebagai Wajah Prajurit Perang Modern


Ketika membaca esai Faramir and the Heroic Ideal of Twentieth Century oleh S. Brett Carter, saya seketika teringat pada potongan-potongan percakapan dengan teman kuliah saat kami maraton nonton DVD sewaan di tempat kos: The Two Towers dan Return of the King, diikuti dengan Troy-nya Brad Pitt. Saat itu, teman saya mendadak berkomentar: “aku lebih suka Aragorn daripada Faramir, kalo Faramir itu lembek.” Dan kemudian, waktu melihat Orlando Bloom alias Paris menembakkan panah di Troy, dia berkomentar lagi “Orlando Bloom ini kenapa yang kalau main jadi ksatria jaman dulu selalu pakai busur panah? Itu senjata pengecut.”

Saya tidak pernah melanjutkan percakapan itu lebih jauh (sebagian karena masih mau nangis gara-gara lihat adegan kematian Haldir di Helm’s Deep), tapi ada pola di sini: Faramir yang gaya berjuangnya lebih sembunyi-sembunyi dibandingkan Aragorn dan Boromir, atau Paris yang menggunakan busur panah (Faramir juga menggunakan senjata yang sama), keduanya dianggap lembek. Dengan kata lain, mereka pengecut karena tidak memenuhi imaji seorang ksatria dari jaman kuno: dia yang menunggang kuda, menenteng pedang, bertarung dengan gagah berani di depan musuh yang mengancamnya dengan senjata mengerikan.

Di sinilah kata kuncinya: “kuno.” 

Bagi Anda yang sudah terbiasa dengan gambaran khas ksatria di fiksi fantasi yang mengambil setting somewhere in old Europe, memang karakter Faramir ini cenderung tidak mirip dengan karakter-karakter ksatria gagah berani sejenis. Dia cenderung “beroperasi” secara sembunyi-sembunyi, mengenakan baju yang membuatnya membaur dengan hutan  di sekitarnya alih-alih baju perang berkilau, memilih busur panjang alih-alih pedang sebagai senjata utama, dan cenderung kalem serta serius ketimbang menunjukkan kegagahan sembrono khas ksatria jaman kuno. Jika itu kedengaran aneh, harap diingat bahwa LOTR adalah karya yang dibuat setelah Perang Dunia I, dan hal ini memberi dimensi ekstra terhadap karakternya. Apa yang dilakukan Faramir bukanlah bentuk kepengecutan dalam kisah kepahlawanan di dunia fiksi fantasi (masih ingat Frodo dan Sam? Mereka bukan pengecut, ‘kan?). Dalam cakupan yang lebih luas, Faramir adalah karakter yang mendobrak konsep kuno kepahlawanan, dan menjungkirbalikkan mitos ksatria sebagai mereka yang hanya mencari keagungan dan menerjang tiap pertarungan dengan gagah berani.

faramir

Tolkien dan Gambaran Prajurit Perang Dunia I

Tolkien mungkin tidak menyukai gagasan bahwa karyanya adalah alegori untuk apapun, namun Perang Dunia I meninggalkan jejak-jejak yang tak bisa diabaikan dalam karyanya, dan hal ini bahkan sempat dijelaskan satu-dua kali dalam biografi resminya. Misalnya, Tolkien sempat menyebut bahwa Sam Gamgee adalah gambaran akan prajurit-prajurit biasa yang kerap ditemuinya di parit perlindungan. Jika Sam adalah imaji prajurit dan rekan senegara, Faramir yang merupakan karakter dengan sifat unik ini tidak boleh diabaikan. Menurut Janet Brennan Croft dalam buku War and the Works of J.R.R. Tolkien, Faramir justru adalah karakter yang sangat realistis; seseorang yang memiliki pemikiran dan sikap sangat modern terhadap perang, walau dirinya ditempatkan dalam setting yang kuno.

Mengapa demikian? Kita harus melihat bahwa Perang Dunia I adalah perang yang bisa dibilang membentuk wajah baru perang modern. Hadirnya persenjataan modern seperti senapan mesin yang bisa membabat banyak prajurit infantri dalam waktu singkat membuat taktik serbuan langsung oleh prajurit jalan kaki mustahil dilakukan. Berlari menyerbu langsung ke arah pasukan yang memiliki senjata macam ini bukan gagah berani, tapi sembrono. John Garth, jurnalis dan pakar sejarah militer yang menulis buku Tolkien and the Great War, juga mengungkapkan bahwa Tolkien, walaupun seseorang yang sangat imajinatif dan romantis, tidak menganggap perang sebagai sebuah petualangan atau proses mencari keagungan, melainkan sebuah horor yang tak manusiawi. Karena persenjataan pasukan Jerman, para prajurit Inggris ini seringkali hanya bisa meringkuk berlindung di dalam parit perlindungan, bertanya-tanya kapan sebuah bom akan menjatuhi mereka. Belum lagi keadaan parit yang kerapkali basah, dingin di malam hari, dan dipenuhi mayat bergelimpangan. Melihat hal semacam ini setiap hari pasti cukup untuk meredupkan semangat dan imaji romantis siapapun tentang peperangan.

Ketika dihadapkan pada situasi peperangan semacam ini, strategi perang tentu harus beradaptasi. Setiap strategi harus didasarkan pada konsep “meminimalisir risiko untuk pasukan sambil menimbulkan kerusakan sebanyak mungkin terhadap pasukan musuh.” Diperlukan kemampuan intelektual untuk merancang rencana yang rumit demi mencapai sasaran itu, tentunya sambil mengkaji ulang konsep “ksatria atau pengecut” yang digadang-gadang konsep kepahlawanan kuno, dan metode yang dilakukan Faramir bisa dibilang mencerminkan strategi modern seperti itu. Misalnya, coba lihat deskripsi Faramir dan pasukannya saat bertemu Frodo dan Sam untuk pertama kali:

Four tall Men stood there. Two had spears in their hands with broad bright heads. Two had great bows, almost of their own heights, and great quivers of long green-feathered arrows. All had swords at their sides, and were clad in green and brown of various hues, as if the better to walk unseen in the glades of Ithilien.

J.R.R. Tolkien: The Two Towers

451px-Anke_Eißmann_-_On_the_way_to_Henneth_Annûn

Frodo, Sam dan Faramir, oleh Anke Eissman

Deskripsi Faramir dan pasukannya, yang mengenakan seragam sederhana yang menyamarkan sosok mereka di hutan, plus senjata utama yang dengan manisnya disebut teman saya sebagai “senjata pengecut,” sama sekali tidak mencerminkan jiwa kepahlawanan ksatria kuno, namun cara berpikir yang bisa dibilang modern untuk masanya. Sama seperti Bronn dalam Game of Thrones yang cuek saja ketika diteriaki oleh para ksatria Eyrie karena dia bertarung dengan “pengecut” alih-alih “gagah berani” melawan ksatria berbaju zirah lengkap (karena Bronn menyadari dia bisa mengambil keuntungan dari gaya berpakaian dan bertarungnya), Faramir dan pasukannya memilih penampilan serta senjata yang meminimalisir bahaya sembari meningkatkan keuntungan dari gaya bertarung yang memungkinkan serangan mendadak.

Dari sini, mudah membayangkan bahwa Faramir mungkin akan cocok dengan para Elf; masih ingat ketika Frodo dan kawan-kawan mendapat hadiah dari Lady Galadriel ketika hendak meninggalkan Lothlorien? Bukannya senjata spektakuler atau apalah (walaupun Legolas mendapat busur), mereka masing-masing justru mendapat jubah yang mampu menyamarkan pemakainya. Faramir memahami pentingnya strategi sembunyi-sembunyi seperti itu, sangat berkebalikan dengan kepongahan Boromir. Dalam The Fellowship of the Ring versi novel, Boromir memamerkan terompet perangnya di tengah-tengah kaum Elf Imladris. Ketika Elrond mengingatkannya agar tidak sembarangan meniup terompet itu, Boromir justru berkata bahwa dia sengaja meniupnya agar musuhnya tahu di mana dia berada, dan dia tak akan mengendap-endap seperti pencuri di malam hari. Jadi, kalau menuruti logikanya, ksatria yang seperti Faramir cuma sekelas pencuri. Dan coba lihat siapa yang mati duluan.

Memilih seragam yang tak menyolok alih-alih baju zirah atau seragam spektakuler berwarna-warni juga cerminan dari seragam yang diadopsi pasukan Inggris pada masa Perang Dunia I. Hingga awal abad ke-20, pasukan Inggris kerap menggunakan seragam dengan warna menyolok, terutama tunik merah mereka yang terkenal. Akan tetapi, pada Perang Dunia I, pasukan Inggris mengenakan seragam warna khaki yang tak menyolok, sehingga mudah menyamarkan prajurit dengan tanah dan lumpur. Kurang spektakuler, tapi jelas lebih bermanfaat.

Akan tetapi, cerminan taktik militer modern yang ditunjukkan Faramir bukan cuma soal seragam, tetapi juga dinamika hubungan antara pemimpin dan bawahannya.

Faramir-faramir-30153016-900-598

Cerminan Pemimpin Pasukan Perang Modern

Pemimpin yang mementingkan strategi ketimbang keberanian mentah seperti Faramir juga menampilkan perubahan dinamika kepemimpinan yang diterapkan militer Inggris pada Perang Dunia I. Militer Inggris merekrut banyak kaum intelektual dan pemuda-pemuda lulusan universitas untuk dijadikan perwira, sehingga mereka diharapkan bisa menjadi pemimpin yang bukan sekadar menginspirasi keberanian mentah, namun juga mampu menggunakan kecerdasan mereka untuk menemukan strategi cerdas yang menguntungkan. Contohnya Tolkien, yang jelas-jelas bukan “tipe prajurit” dan direkrut saat baru lulus kuliah, langsung bisa menduduki pangkat Letnan Dua.

tolkien_1916

Tolkien usia 24 sebagai Second Lieutenant of Lancashire Fusiliers

Dinamika kepemimpinan modern lainnya yang ditunjukkan Faramir adalah hilangnya perbedaan kelas antara dirinya dan pasukannya. Mereka menggunakan seragam yang sama, dan pasukan Faramir jelas-jelas menunjukkan gabungan antara rasa hormat sekaligus kedekatan terhadapnya. Dinamika ini nampak sangat jelas pada novel. Salah satu karakter bernama Beregond bahkan terang-terangan membandingkan antara Faramir dan Boromir:

“He (Faramir) is bold; more bold than many deem; for in these days men are slow to believe that a captain can be wise and learned in scrolls of lore and song, as he is, and yet a man of hardihood and swift judgement in the field. But such is Faramir. Less reckless and eager than Boromir, but no less resolute.”

J.R.R. Tolkien: The Return of the King

Beregond dengan ringkas mendeskripsikan kecenderungan pemimpin-pemimpin militer yang dia tahu selain Faramir: banyak yang tidak percaya bahwa ksatria berpendidikan yang menggemari hal-hal halus seperti seni bisa menjadi pemimpin militer. Nyatanya, Faramir dan pasukannya justru bisa beberapa kali melakukan serangan mendadak yang mengacaukan rencana Sauron berkat strateginya yang masih terhitung tidak biasa. Alih-alih keberanian sembrono seperti Boromir, Faramir justru sukses dalam metodenya yang “ala pengecut” itu. Selain itu, Faramir juga sangat dipercaya oleh para prajuritnya, dan beberapa deskripsi tentang hubungan antara Faramir dan pasukannya menunjukkan eratnya hubungan pemimpin-bawahan yang, kalau saya bilang, tidak ditunjukkan secara gamblang pada karakter lainnya di LOTR. Sampai-sampai, ketika Faramir diutus dalam misi penyerbuan ke Osgiliath yang sebenarnya menjurus bunuh diri itu (dan mustahil dia tidak tahu itu!), para prajuritnya setia di sampingnya. Sekali lagi, hal ini juga menunjukkan model kepemimpinan modern yang mulai nampak pada militer Inggris saat Perang Dunia I.

Akhirnya, Faramir menunjukkan kemampuan refleksi yang jauh ke depan, bahkan dalam situasi perang, menunjukkan kebijaksanaannya. Alih-alih memandang sisi keagungan dan kehormatan dalam perang, Faramir mengungkapkan bahwa dia berusaha untuk tidak membunuh jika tidak perlu. Salah satu prinsipnya dalam perang adalah tidak membunuh lawan maupun hewan (dan ya, bahkan Orc! Dia bilang begitu, di depan Frodo) jika tidak perlu, dan bahkan jika dia harus melakukannya, dia tidak merasa senang. Jujur, saya bahkan tidak ingat pernah membaca refleksi macam ini pada Aragorn atau ksatria bangsa Elf. Faramir memahami bahwa terkadang perang tak bisa dihindari, namun bukan berarti dia menikmati hal itu. Saat berada di medan perang, Tolkien dan sahabatnya, Rob Gilson, kerap menghabiskan malam-malam berdiskusi soal etika dan konsekuensi perang, dan Faramir juga kerap melakukan ini dengan bawahannya. Jika Anda membaca novelnya dengan seksama, akan terlihat betapa reflektifnya kalimat-kalimat yang dilontarkan Faramir dalam dialognya.

Jadi, bagi Anda yang berpikir bahwa Faramir “kurang gagah,” I beg to differ. Faramir adalah prajurit dan pemimpin yang berpikiran jauh ke depan di masanya, dan memiliki kebijaksanaan yang mencerminkan perubahan makna kepahlawanan serta kepemimpinan dalam perang modern, di dunia nyata.

Sumber:

Carpenter, Humphrey. 2000. The Letters of J. R. R. Tolkien. Boston: Houghton Mifflin Harcourt.

Carter, S. Brett. 2012. “Faramir and the Heroic Ideal of the Twentieth Century.” Baptism of Fire: The Birth of the Modern British Fantastic in World War I. Janet Brennan Croft (ed). California: Mythopoeic Press.

Garth, John. 2003. Tolkien and the Great War. Boston: Houghton Miffin.

Tolkien, JRR. 1991. The Two Towers. London: HarperCollins.

Tolkien, JRR. 1991. The Return of the King. London: HarperCollins.

6 thoughts on “Heroik lawan Praktis: Faramir sebagai Wajah Prajurit Perang Modern

  1. Ren berkata:

    Hai Mbak Putri. Nemu artikel ini gara- gara temen FBku ngelike artikel yang dishare sama Mbak Poppy (hehe, panjang jalannya). Suka banget baca essay ini, runtut, enak dibaca dan very thought provoking. Memang kalau di LOTR, aku sukanya Aragorn, mungkin karena selain terlihat heroik, juga faktor Viggo Mortensen😛. Setelah baca essay ini, aku jadi ingat kalau aku juga sebenarnya suka karakter Faramir. Apalagi adegan saat Faramir dan pasukannya melawan Orc hanya untuk membuktikan dirinya pada ayahnya, Denethor. Itu, sedih banget lihatnya😦. Mungkin kalau dari segi sifat, Faramir ini introvert ya, dibandingkan sama kakaknya Boromir yang ekstro.

    Thanks to pointing about Faramir’s personality. Jadi bisa buat bahan bikin karakter yang mirip Faramir. Yang lebih mengedepankan strategi dan taktik, serta memiliki kemampuan leadership yang bagus🙂.

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai, Ren, makasih sudah mampir ya. Iya sih, sebenarnya dari segi tertentu, karakter Aragorn dan Boromir menarik juga dengan cara masing2 (plus, saya pun pengagum Viggo Mortensen; one of the most idealistic actors I’ve ever known about). Ini ceritanya membidik kecenderungan orang untuk menyebut karakter macam Faramir sebagai “lemah” hanya karena dia memilih gaya berjuang seperti dirinya itu. Apalagi kalau bicara dari konteks fiksi fantasi Barat, karena kalau di wuxia, justru “jagoan” biasanya malah punya sifat kayak Faramir itu. Cenderung halus, gak sangar, tapi pintar dan bijak (ini komentar teman yang suka baca wuxia, karena pengetahuan saya soal fiksi silat Cina cuma terbatas film2 tahun 90-an ke atas dan Judge Bao🙂 ). Diskusi karakter untuk karya2 Tolkien sebenarnya menarik buat dijelajahi lebih lanjut, karena buat saya, tiap karakter Tolkien tidak sekedar “seseorang yang dikasih nama dan ditempeli beberapa sifat serta kepribadian,” tapi sebuah konsep berjalan yang membentuk unsur-unsur penting dalam dunia Middle Earth legendarium. Jadi Middle Earth legendarium seolah dibentuk oleh “jaring-jaring konsep” ini. Semuanya saling mengisi.

  2. Ratri berkata:

    I COULDN’T AGREE MORE! Justru ke “realistis”an pada tokoh Faramir ini yang mempesona dan bisa dicontoh di dunia nyata, diantaranya kepemimpinan dimana dia nggak membangun batasan dan justru belajar dari para bawahannya soal strategi perang, makanya dia dihormatin dan pasukannya kompak. Dan sempet-sempetnya lho dia memperhitungkan etika berperang dengan nggak membunuh hewan atau orc jika nggak perlu.
    IMHO, justru jagoan realistis begini nih (gak cuma untuk kisah medieval Barat sih, Timur juga) lebih charming daripada pangeran/ksatria berbaju zirah menunggangi kuda sembrani.

    Salam kenal yaa!

    • Putri Prihatini berkata:

      Salam kenal juga! Wah ramai nih🙂 Iya, refleksi Faramir akan “tidak membunuh jika tidak perlu, bahkan Orc” itu adalah cara berpikir yang sangat modern. Di dunia nyata, prinsip etika perang saat ini diatur oleh perjanjian Hague Convention (terkait perangnya) dan Geneva Convention (terkait orang2 yang terlibat dalam perang, termasuk tahanan perang, pengungsi, dan sipil). Hague Convention diadakan setelah Perang Dunia I, Geneva Convention setelah Perang Dunia II. Jadi apa yang diungkapkan Faramir bisa dibilang cerminan sejarah etika perang modern juga.

  3. jordi berkata:

    ane juga demen sama karakter satu ini, karena selain sebagai cerminan prajurit modern, nih orang baik hati dan tidak sombong, beda sama turin yang baru menang pertempuran kecil aja udah sombong, makannya nasibnya suka ngenes, hehehe……

    • Putri Prihatini berkata:

      Makasih udah mampir ya. Hehe, sebenarnya dua orang ini esensinya hampir sama; sama-sama haus akan pembuktian diri namun ingin melakukannya dengan cara mereka sendiri, tapi caranya beda jauh. Tapi Faramir, sebagai tokoh yang diciptakan belakangan oleh Tolkien, mungkin menjadi semacam karakter refleksi berdasarkan kenangannya akan perang. Apalagi, walaupun nama Tolkien biasanya tidak dimasukkan dalam daftar “lost generation writers” (istilah untuk penulis-penulis, sebagian besar Amerika namun ada juga yang Eropa, yang tumbuh atau ikut berperang dalam Perang Dunia I sehingga tercermin dalam karya2 mereka), tapi Tolkien sudah cukup memenuhi syarat; pernah ikut perang, dan sangat terpengaruh akan pengalaman tersebut, sehingga cukup banyak yang tertuang ke karya2nya, kalau dianalisis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s