Idril, Harriet Tubman dan Lozen: Pahlawan Wanita yang Membantu Pelarian


Happy International Women’s Day!

Saya mengawali hari ini dengan membaca ulang salah satu buku favorit saya, Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J. R. R. Tolkien. Seperti yang sudah pernah saya ocehkan sebelumnya, buku ini berupaya menjabarkan peran-peran subtil namun penting yang dilakukan pada karakter wanita Tolkien, yang membuat mereka mampu menjadi para pemahat sejarah Middle Earth lewat tindakan-tindakan mereka, bukan sekadar trofi pemanis dalam petualangan fiksi fantasi. Ada beberapa wanita yang berjasa karena menjadi pejuang, seperti Haleth of Haladin dan Eowyn. Ada yang berjasa karena pengorbanan serta kemampuan membaca peta politik, seperti Arwen. Yang lainnya dengan kebijaksanaan serta kekuatan tersembunyi seperti Galadriel. Ada juga yang membantu pelarian dan pengungsian, seperti Idril Celebrindal. 

Pelarian? Nggak salah? Apa nggak kurang keren tuh? Begitu mungkin pikir Anda. Bagaimanapun, definisi populer terhadap penyandang julukan “pahlawan” dalam novel fantasi dan buku-buku cerita relatif masih dipandang dengan kacamata cukup sempit, yaitu mereka yang berjuang dengan senjata. Bahkan sampai sekarang, saya kadang masih bertemu orang yang menggemari Aragorn tetapi meremehkan mereka yang memilih Frodo atau Sam, dengan alasan “Aragorn pemberani,” dan Frodo atau Sam nampaknya tidak karena keberanian mereka tidak terletak pada jalan pedang. Setiap kisah kepahlawanan menunjukkan gegap-gempita keberanian yang ditunjukkan lewat pedang terhunus dan dada yang dibusungkan serta teriakan pembangkit semangat sekelas “THIS IS GRYFFINDOR!” Eh, salah! Maksud saya, “THIS IS SPARTA!” Ngaku saja, kalau Anda main kuis semodel Dari Asrama Manakah Anda di Harry Potter?, kebanyakan pasti kepingin masuk Gryffindor, dengan Ravenclaw sebagai alternatif, dan Hufflepuff hanya dipilih dengan alasan “yah, daripada Slytherin?” Lah, Eowyn versi film saja nyaris ngambek kok ketika dilarang Theoden untuk ikut bertempur dan disuruh menjaga anak-anak serta wanita yang hendak berlindung di Helm’s Deep (di buku, ketika Theoden dan pasukannya hendak bertempur, Eowyn justru menjadi orang yang dipilih oleh rakyat Rohan untuk melindungi mereka mewakili sang raja, dan dia menerima tugasnya dengan mantap).

Jadi, ketika membaca The Silmarillion untuk pertama kali dan akhirnya menginjak bab Of Tuor and The Fall of Gondolin yang kesohor itu, saya senang sekali ketika Tolkien menyelipkan rincian kecil tapi bermakna: seorang wanita bernama Idril menjadi penyelamat bagi para pengungsi perang dari kerajaan Elf bernama Gondolin, yang nampaknya sudah tak punya harapan ketika kota bertembok tinggi yang terletak di dasar lembah itu terbakar dan dikepung dari mana-mana. Dia tak ikut berperang, namun kebijaksanaannya yang sudah ditunjukkan sejak sebelum perang terjadi kelak akan menyelamatkan banyak nyawa.

415px-ebe_kastein_-_idril

Idril oleh Ebe Kastein

Idril adalah putri raja Gondolin, Turgon, yang menikah dengan seorang bangsa Manusia bernama Tuor (dan mereka menjadi pasangan Elf-Manusia kedua yang akhirnya menikah, setelah Beren dan Luthien). Idril dicintai oleh sepupunya, Maeglin, yang merupakan putra Eöl the Dark Elf dan Aredhel, saudara perempuan Turgon. Setelah ayahnya dieksekusi oleh Turgon karena melarikan dan akhirnya tanpa sengaja membunuh ibunya, Maeglin pun diterima oleh Turgon di Gondolin dan menjadi bangsawan. Walaupun dia menikmati hidup penuh kehormatan di Gondolin, tak ada yang menyadari bahwa Maeglin menginginkan Idril sekaligus tahta Gondolin, dan dia kelak akan bekerjasama dengan Morgoth, Dark Lord pertama, untuk menyerang Gondolin, dan melakukan pengkhianatan terbesar dalam sejarah kaum Elf.

Idril adalah satu-satunya orang yang menyadari kegelapan hati Maeglin, serta merasa bahwa suatu saat akan terjadi sesuatu yang buruk pada Gondolin, sehingga walaupun Turgon, Tuor dan semua orang yakin bahwa Morgoth tak akan pernah bisa menemukan lokasi Gondolin, Idril memutuskan untuk memerintahkan pembangunan jalan rahasia di bawah kota yang akan menjadi sarana pelarian jika kelak firasat buruknya terjadi. Akhirnya, ketika firasat buruknya terbukti dan Gondolin diserang, Idril bersama Tuor berhasil membawa para pengungsi melewati jalan rahasianya, menyelamatkan mereka dari kehancuran dan pembakaran kota (ngomong-ngomong, Elf yang berjalan paling depan sebagai pelacak dalam rombongan pengungsi itu namanya Legolas juga loh🙂 ).

356px-john_howe_-_the_fall_of_gondolin

The Fall of Gondolin oleh John Howe

Sisi yang menarik sekali dari salah satu bab paling epik dan paling bikin gregetan dalam bukunya Tolkien, walau tentu saja orang yang jasanya seperti Idril relatif kurang dikenal dalam sejarah dunia nyata dibanding pahlawan perang, kecuali mungkin Oskar Schindler (itu juga mungkin karena Stephen Spielberg sudah membuat film tentangnya). Tapi tidak juga, kok. Harriet Tubman, salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarah kaum kulit hitam Amerika, adalah karakter yang serupa dengan Idril; menjadi pahlawan dan bahkan buronan di kalangan pemilik budak karena membantu pelarian, dalam hal ini pelarian para budak. Dia pun kini menjadi salah satu tokoh yang banyak disebut, dipuji dan didiskusikan setiap Black History Month (Februari di Amerika Serikat dan Kanada, dan Oktober di Inggris).

Harriet Tubman

Harriet Tubman, emak-emak badass

Harriet Tubman adalah seorang budak ladang di Maryland yang, pada tahun 1849, melarikan diri dari kehidupan keras penuh siksaan dan penghinaan di ladang majikannya, namun bolak-balik sekitar 19 kali lagi untuk membantu budak-budak lain melarikan diri. Dia adalah seorang “konduktor,” istilah untuk orang yang membantu pelarian budak melalui jalur-jalur yang dikenal sebagai Underground Railroad; bukan karena ini adalah jalur kereta api bawah tanah, melainkan karena jalur yang harus dilewati para budak ini berliku-liku, berbahaya, dan dilalui pada malam hari. Tubman membekali dirinya dengan pistol dan senapan, bahkan menggunakan kereta kuda yang sudah diakali dengan menambahkan tempat sembunyi, untuk membantu para budak melarikan diri ke Kanada. Aktifitas ini membuat Tubman menjadi buronan di kalangan pemilik budak, dan para pemburu hadiah dijanjikan uang imbalan sebesar 40.000 Dolar untuk menangkapnya, hidup atau mati. Akan tetapi, Tubman selalu berhasil lolos, dan dia tak pernah sekalipun gagal menyelundupkan budak menuju kebebasan mereka.

tumblr_ma9trvmzac1rd3evlo1_1280

Lukisan karya Paul Collins yang menggambarkan Harriet Tubman (depan) meloloskan budak

Bagi Anda yang menggemari sejarah Indian Amerika, jangan lupakan Lozen. Dia dikenal dalam sejarah tertulis pribumi Amerika sebagai satu-satunya wanita Apache yang mengambil peran sebagai ksatria dalam sukunya, sejajar dengan pria. Salah satu jasanya adalah membantu pelarian sukunya setelah dipaksa masuk ke Reservasi San Carlos oleh pemerintah Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 (penduduk pribumi Amerika tidak menyukai reservasi karena itu hanyalah bentuk lain dari penjara; lokasinya kerap kali sempit, kotor, dan menjadi tempat penyebaran penyakit). Selama tiga tahun, dia mendampingi Chief Victorio dalam menghindari kejaran pemerintah. Dia membantu mencari jejak dan berburu, dan ketika Chief Victorio beserta para ksatrianya dihadang pasukan gabungan Amerika-Meksiko dalam Perang Tres Castillos, Lozen melarikan dan menyelamatkan seorang wanita hamil, memulangkan si wanita dengan selamat ke kampung halamannya di New Mexico.

050c50552b6dadf9c41e1d948a4b0af11

Lozen

Walaupun saya mengagumi wanita yang berani bertempur dan mengangkat senjata, terutama untuk membela yang benar, namun definisi pahlawan bisa jadi adalah mereka yang menggunakan akal sehat, keberanian, kecerdasan dan kebijaksanaan demi menyelamatkan banyak nyawa. Dan tentu saja, tidak perlu malu untuk mengagumi keberanian seorang Frodo, Sam, Idril, Harriet Tubman, Oskar Schindler, atau tokoh bukan-ksatria lainnya, karena mereka pun berani dengan cara mereka sendiri.

 Sumber:

Tolkien, J.R.R. 1999. The Silmarillion. London: Harper Collins.

A to Z of American Indian Women

Black History: Harriet Tubman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s